Anda di halaman 1dari 12

ULKUS VARKOSUM

A. Definsi
Ulkus adalah ekskavasi yang berbentuk lingkaran maupun ireguler
akibat dari hilangnya epidermis dan sebagian atau seluruh dermis. Ulkus lebih
dalam daripada ekskoriasi (ekskoriasi mencapai stratum papilare). Ulkus
sering menyerang ekstremitas bawah maupun ekstremitas atas karena
beberapa sebab seperti infeksi, gangguan pembuluh darah, kelainan saraf dan
keganasan. Ulkus yang terdapat pada tungkai disebut dengan ulkus kruris.
Ulkus kruris dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu ulkus neurotrofik, ulkus
venosum, ulkus arteriosum dan ulkus tropikum.
Ulkus varikosum merupakan sekuel dari insufisiensi vena kronis dan
hipertensi vena. Ulkus varkosum adalah ulkus pada tungkai bawah yang
disebabkan oleh gangguan aliran darah vena.
B. Etiologi
Penyebab gangguan aliran darah balik pada tungkai bawah secara garis
besar dapat dibagi menjadi dua yaitu, berasal dari pembuluh darah seperti
trombosis atau kelainan katup vena dan yang berasal dari luar pembuluh darah
seperti bendungan di daerah proksimal tungkai bawah oleh karena tumor di
abdomen, kehamilan atau pekerjaan yang dilakukan dengan banyak berdiri.
Bila terjadi bendungan di daerah proksimal atau terjadi kerusakan
katup vena tungkai bawah maka tekanan vena akan meningkat. Akibat
keadaan ini akan timbul edema yang dimulai dari sekitar pergelangan kaki.
Tekanan kapiler juga akan meningkat dan sel darah merah keluar ke jaringan
sehingga timbul perdarahan di kulit, yang semula terlihat sebagai bintik-bintik
merah lambat laun berubah menjadi hitam. Vena superfisialis melebar dan
memanjang berkelok-kelok seperti cacing (varises). Keadaan ini akan lebih
jelas terlihat ketika pasien berdiri. Bila hal ini berlangsung lama, jaringan
yang semula sembab akan digantikan jaringan fibrotik, sehingga kulit teraba

kaku atau mengeras. Hal ini akan mengakibatkan jaringan mengalami


gangguan suplai darah karena iskemik, lambat laun terjadi nekrosis.
C. Patofisiologi
1. Proses Terjadinya Ulkus
Komposisi jaringan lunak bervariasi pada satu anggota tubuh
dengan anggota tubuh lainnya sehingga pada aktivitas normal dapat
melakukan adaptasi pada tekanan yang beragam tanpa terjadi kerusakan.
Kolagen dan elastin merupakan dua komponen yang memperkuat
jaringan lunak. Secara fisiologis, jaringan mengalami tekanan yang
berlebihan maka akan memicu sel saraf untuk mengirimkan impuls ke
otak. Tekanan yang berlebihan akan diartikan sebagai nyeri sehingga
tubuh akan berespon untuk mengistirahatkan daerah tersebut.7
Respon lokal yang terjadi di jaringan tersebut berupa pelepasan
fibrin, neutrofil, platelet, dan plasma beserta peningkatan aliran darah
yang menyebabkan edema. Edema ternyata dapat menekan pembuluh
kapiler yang menyuplai nutrisi sehingga jaringan dapat mengalami
kematian. Kematian jaringan ini justru akan semakin meningkatkan
pelepasan mediator inflamasi. Kulit memberikan tekanan internal untuk
mengeluarkan akumulasi sel-sel debris dan radang tersebut
2. Patofisiologi Ulkus Varkosum
Hipotesis Browse-Burnand 1982
Hipotesis perikapiler fibrin
Hipertensi vena pelebaran vena + kebocoran fibrinogen menuju
jaringan subkutan di ekstraseluler fibrinogen mengalami
polimerisasi membentuk jaringan fibrin yang menutupi kapiler
sehinnga menghambat difusi oksigen dan nutrisi ke jaringan lunak
yang menyebabkan kematian sel dan ulkus
Hipotesis Falanga-Eaglstein 1992
Hipotesis growth faktor yang terjebak

Hipertensi vena pelebaran vena dan kebocoran fibrinogen


disertai makromolekul lain ke dermis. Makromolekul tersebut
membuat growth factor dan protein matriks terperangkap
menghambat proses penyembuhan jaringan membentuk formasi
jaringan tidak sempurna ulkus.
Hipotesis Coleridge-Smith (yang dipakai sekarang)
Hipotesis perangkap leukosit (white cell trapping)
- Hipertensi vena reduksi aliran darah kapiler terjadi
akumulasi dan terjebaknya leukosit menghambat aliran
-

oksigen di dalam darah iskemia jaringan.


Leukosit terakumulasi menghasilkan enzim proteolitik, ROS
(radikal bebas), dan sitokin ke jaringan sekitarnya inflamasi
kronis kerusakan jaringan dan pembentukan ulkus.

Gambar 1. Varises
Aliran vena : vena superfisial vena perforantes vena profunda,
bila katup perforantes rusak setiap otot kontraksi insufisiensi
beban tekanan hidrostatik ke vena superfisial vena profunda
mulai tidak kompeten aliran berubah menjadi proximal ke distal
(ke vena superfisial) vena menjadi lebar, panjang dan berkelokkelok mengumpulnya darah di vena superfisial oedem, stasis

vena hipoksemia jaringan kutis dan subkutis + peningkatan


tekanan kapiler sehingga darah keluar ke jaringan (bercak-bercak
merah menjadi hitam) timbul thrombosis, gangguan
penyembuhan luka ulkus pada akhirnya.

Gambar 2. Patofisologi Ulkus Vericosum


D. Gejala Klinis
Tanda yang khas dari ekstrimitas dengan insufisiensi vena menahun
adalah edema. Penderita sering mengeluh bengkak pada kaki yang semakin
meningkat saat berdiri dan diam, dan akan berkurang bila dilakukan elevasi
tungkai. Keluhan lain adalah kaki terasa pegal, gatal, rasa terbakar, tidak
nyeri dan berdenyut. Biasanya terdapat riwayat trombosis vena, trauma
operasi dan multiparitas. Juga adanya riwayat obesitas dan gagal jantung
kongestif. Ulkus biasanya memilki tepi yang tidak teratur, ukurannya
bervariasai, dan dapat menjadi luas. Di dasar ulkus terlihat jaringan granulasi
atau bahan fibrosa. Dapat juga terlihat eksudat yang banyak. Kulit sekitarnya

tampak merah kecoklatan akibat hemosiderin. Kelainan kulit ini dapat


mengalami perubahan menjadi lesi eksema (dermatitis statis). Kulit sekitar
luka mengalami indurasi, mengkilat, dan fibrotik.
Daerah predileksi yaitu daerah antara maleolus dan betis, tetapi
cenderung timbul di sekitar maleolus medialis. Dapat juga meluas sampai
tungkai atas. Sering terjadi varises pada tungkai bawah. Ulkus yang telah
berlangsung bertahun-tahun dapat terjadi perubahan pinggir ulkus tumbuh
menimbul, dan berbenjol-benjol. Dalam hal ini perlu dipikirkan kemungkinan
ulkus tersebut telah mengalami pertumbuhan ganas. Perubahan keganasan
pada ulkus tungkai biasanya sangat jarang.
Kelainan

kulit

berupa;

ulkus

dikelilingi

oleh

eritema

dan

hiperpigmentasi. Ulkus soliter tetapi dapat pula multipel. Bentuk ulkus bulat
atau oval, kadang-kadang berbentuk tidak teratur. Tepi luka lunak dan
meninggi oleh karena radang akut dan dasar kotor. Pada umumnya ulkus tidak
terasa nyeri, kecuali bila disertai selulitis atau infeksi sekunder lainnya

Gambar 2
Ulkus Vericosum
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium : tidak dibutuhkan, kecuali ada infeksi sekunder
2. Biopsi : Pada pinggir ulkus yang mengeras dan menonjol
3. Flebografi : untuk mengetahui lokasi vena mana yang bermasalah

F. Penatalaksanaan
1. Umum
Tinggikan letak tungkai saat berbaring untuk mengurangi hambatan aliran
vena, sementara untuk varises yang terletak di proksimal dari ulkus diberi
bebat elastin agar dapat membantu kerja otot tungkai bawah memompa
darah ke jantung.
2. Penatalaksanaan Khusus
a.

Pengobatan Sistemik
Seng Sulfat 2x200 mg/hari

b. Pengobatan Topikal
Bila terdapat pus kompres dengan larutan permanganas kalikus
1:5000 atau larutan perak nitrat 0,5% atau 0,25%. Teriosum

ULKUS ANTRAKS
A. Pengertian
Antraks atau anthrax adalah penyakit menular akut yang disebabkan
bakteria Bacillus anthracis dan sangat mematikan dalam bentuknya yang
paling ganas. Antraks paling sering menyerang herbivora-herbivora liar dan
yang telah dijinakkan, namun juga dapat menjangkiti manusia karena
terekspos hewan-hewan yang telah dijangkiti, jaringan hewan yang tertular,
atau spora antraks dalam kadar tinggi. Meskipun begitu, hingga kini belum
ada kasus manusia tertular melalui sentuhan atau kontak dengan orang yang
mengidap antraks. Antraks bermakna "batubara" dalam bahasa Yunani, dan
istilah ini digunakan karena kulit para korban akan berubah hitam.
Infeksi antraks jarang terjadi namun hal yang sama tidak berlaku
kepada herbivora-herbivora seperti ternak, kambing, unta, dan antelop.
Antraks dapat ditemukan di seluruh dunia.Penyakit ini lebih umum di negaranegara berkembang atau negara-negara tanpa program kesehatan umum untuk
penyakit-penyakit hewan. Beberapa daerah di dunia (Amerika Selatan dan
Tengah, Eropa Selatan dan Timur, Asia, Afrika, Karibia dan Timur Tengah)
melaporkan kejadian antraks yang lebih banyak terhadap hewan-hewan
dibandingkan manusia.

B. Etiologi
1. Faktor Agent
Faktor Agent merupakan factor yang menyebabkan penyakit atau masalah
kesehatan. Dalam penyakit Antrax factor agent yng mempengaruhi adalah
bakteri Bacillus Antrhacis
2. Faktor Host

Faktor Host adalah yang melekat pada Host.Faktor host yang


mempengaruhi adalah manusia dan hewan.
3. Faktor Environment
Faktor Environment merupakan factor yang mempengaruhi Host dan
Agent.Faktor environment yang mempengaruhi tersebarnya penyakit
antrax adalah peternakan.
4. Port of Entry and Exit
Potral of entry ialah pintu masuk Agent ke dalam host sedangkan port of
exit ialah pintu keluarnya agent dari host.Port of entry dari penyakit antrax
ialah mulut,kulit,hidung sedangkan port of exit dari penyakit antrax ialah
mulut dan anus.

C. Pencegahan
Cara pencegahan penyakit anthrax adalah dengan menghindari kontak
langsung dengan binatang atau benda-benda yang membawa bakteri penyakit
ini. Ternyata bakteri ini memiliki kemampuan yang unik .Jangkitan yang
disebabkan oleh penyakit ini tidak mudah untuk di musnahkan, karena bakteri
ini memiliki kecenderungan untuk merubah bentuknya menjadi spora yang
amat stabil. Saat berubah menjadi spora bakteri ini dapat masuk kedalam
tanah dan mampu bertahan selama lima puluh sampai enam puluh tahun di
dalam tanah. Uniknya bila tanah tempat ia tinggal tergenang air, kuman ini
dapat tumbuh kembali dan menyerang hewan ataupun manusia yang ada di
sekitamya. Selain itu saat terjadi musim kemarau biasanya ternak menaik
rumput sampai ke akarnya ,inilah yang membuat penyakit ini akan terus
terulang di daerah yang pernah terkena antrax.
Kuman ini dapat terserap oleh akar tumbuh-tumbuhan, bahkan hingga
dapat masuk ke dalam daun dan buah, hingga mampu menginfeksi tenak
maupun manusia yang mengkonsumsinya. Bahkan serangga, burung, anjing,
dan binatang-binatang lain juga dapat menjadi perantara penularan penyakit

ini, apabila telah mengalami kontak langsung dengan bakteri penyebab


penyakit ini.
Namun pencegahan dapat di lakukan dengan cara mencuci tangan
sebelum makan, menghindari kontak dengan hewan atau manusia yang sudah
terjangkit anthrax, membeli daging dari rumah potong hewan yang resmi,
memasak daging dengan sempurna, menghindari menyentuh cairan dari luka
anthrax, melaporkan secepat mungkin bila ada masyarakat yang terjangkit
anthrax. Bagi peternak atau pemilik hewan ternak, upayakan untuk
menvaksinkan hewan ternaknya. Dengan Pemberian SC ,untuk hewan besar 1
ml dan untuk hewan kecil 0,5 ml. Vaksin ini memiliki daya pengebalannya
tinggi berlangsung selama satu tahun.
D. Pemberantasan
Disamping pengobatan, perlu cara-cara pengendalian khusus untuk
menahan penyakit dan mencegah perluasannya. Seperti dilakukannya
tindakan mengasingkan hewan -hewan yang menderita anthrax, hewan ternak
yang sakit dilarang disembelih karena ada kemungkinan hewan tersebut
terkena penyakit antrhax , bangkai hewan yang mati karena anthrax harus
segera dibinasakan dengan dibakar habis atau dikubur dalam-dalam, untuk
mencegah perluasan penyakit melalui serangga dipakai obat-obat pembunuh
serangga, hewan yang mati karena anthrax dicegah agar tidak dimakan oleh
hewan pemakan bangkai , dan tindakan sanitasi umum terhadap orang yang
kontak dengan hewan penderita penyakit dan untuk mencegah perluasan
penyakit.
Selain itu, penyembelihan hewan di laksanakan di RPH resmi dibawah
pengawasan dokter hewan dan Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan hewan
sebelum penyembelihan (ante mortem) yaitu pemeriksaan kesehatan daging,
karkas, jeroan dan kepala setelah penyembelihan (post mortem) oleh dokter

hewan atau para medis kesehatan hewan dibawah pengawasan dokter hewan
pun juga perlu di lakukan.
E. Penatalaksanaan
Pemberian antibiotik intravena direkomendasikan pada kasus antraks
inhalasi, gastrointestinal dan meningitis.Pemberian antibiotik topikal tidak
dianjurkan pada antraks kulit.Antraks kulit dengan gejala sistemik, edema
luas, atau lesi di kepala dan leher juga membutuhkan antibiotic
intravena.Walaupun sudah ditangani secara dini dan adekuat, prognosis
antraks inhalasi, gastrointestinal, dan meningeal tetap buruk.
Anthracis alami resisten terhadap antibiotik yang sering dipergunakan
pada penanganan sepsis seperti sefalosporin dengan spektrum yang diperluas
tetapi hampir sebagian besar kuman sensitif terhadap penisilin, doksisiklin,
siprofloksasin, kloramfenikol, vankomisin, sefazolin, klindamisin, rifampisin,
imipenem, aminoglikosida, sefazolin, tetrasiklin, linezolid, dan makrolid. Bagi
penderita yang alergi terhadap penisilin maka kloramfenikol, eritromisin,
tetrasikilin, atau siprofloksasin dapat diberikan.Pada antraks kulit dan
intestinal yang bukan karena bioterorisme, maka pemberian antibiotik harus
tetap dilanjutkan hingga paling tidak 14 hari setelah gejala reda.
Oleh karena antraks inhalasi secara cepat dapat memburuk, maka
pemberiaan antibiotik sedini mungkin sangat perlu.Keterlambatan pemberian
antibiotik sangat mengurangi angka kemungkinan hidup.Oleh karena
pemeriksaan mikrobiologis yang cepat masih sulit dilakukan maka setiap
orang yang memiliki risiko tinggi terkena antraks harus segera diberikan
antibiotik sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Lesi kulit pada antraks berkembang melalui tahap skar, bahkan bila
segera diberi terapi antibiotik. Perkembangan lesi cutaneus terjadi meskipun
dengan pengobatan antibiotik karena nekrosis jaringan dan ulserasi terjadi

akibat toksin, yang tidak dapat dinetralkan dengan terapi antibiotik. Meskipun
antibiotik tidak berpengaruh pada perkembangan lesi kulit, antibiotik dapat
mensterilkan ulkus. Kombinasi beberapa antibiotik dapat digunakan, termasuk
penisilin, kuinolon, atau doxycycline. Untuk terapi awal digunakan antibiotik
intravena. Antibiotik oral mulai digunakan apabila pasien menunjukkan
perbaikan klinis. Durasi terapi selama 60 hari. Debridement dari lesi kulit
merupakan kontraindikasi karena risiko penyebaran infeksi. Meskipun 80%
sampai 90% dari lesi sembuh secara spontan, 10% sampai 20% kasus yang
tidak diobati dapat berkembang menjadi edema maligna, septikemia, syok,
gagal ginjal, dan kematian.
Cutaneus

anthrax

tanpakomplikasiditerapidenganantibiotikempirisselama

sampai

10

haribaikdengan oral ciprofloxacin maupun doxycycline.Padapasien yang


terpapar

aerosol

anthrax

disarankanpemberianantibiotikselama

60

hari.Terapiempirispadacutaneus anthrax dengangejalasistemikdiberikan IV


ciprofloxacin

(Cipro

IV)

atau

doxycycline

(Vibramycin

IV)

dikombinasikandengan 1 atau 2 antibiotiktambahan. Kombinasi yang


disarankangolongankuinolon

(ciprofloxacin

[Cipro

IV]),

clindamycin

(Cleocin) dan rifampin (Rifadin).Antibiotik yang diberikandisesuaikandengan


strain yang menginfeksi. Rifampin danvancomycinatau chloramphenicol
diberikanjikadicurigai

meningitis.Antibiotik

jikakondisipasienmembaik,

IV

dapatdiganti

oral

melanjutkanpemberianantibiotikhingga

60

hari.Pasiendengangejalasistemikdapatdiberikanterapisugestifsepertiresusitasic
airan, agenvasopresordantatalaksanajalannafas (Bopedan Kellerman, 2015).

Sampai saat ini belum ada studi klinis terkontrol mengenai pengobatan
antraks inhalasi. Untuk kasus antraks inhalasi Food and Drug Administration
(FDA) menganjurkan penisilin, doksisiklin, dan siprofloksasin sebagai

antibiotik pilihan.hewan tersangka sakit dapat dipilih salah satu dari perlakuan
sebagai berikut :
a. Penyuntikan antiserum dengan dosis pencegahan (hewan besar 20-30
ml, hewan kecil 10-1 ml)
b. Penyuntikan antibiotika
c. Penyuntikan kemoterapetika
d. Penyuntikan antiserum dan

antibiotika

atau

antiserum

dan

kemoterapetika.
Cara penyuntikan antiserum homolog ialah IV atau SC, sedangkan
untuk antiserum heterolog SC. Dua minggu kemudian bila tidak timbul
penyakit, disusul dengan vaksinasi

DAFTAR PUSTAKA

1.

Dewan Redaksi Hamparan Dunia Ilmu. 2008. Penyakit Anthrax. Jakarta : Tiara

Pustaka.
2.

Prawirahartono, Slamet. 2008. Cara Penyakit Anthrax. Jakarta : Bumi Aksara.

3. Wolfe SW, Hotchkiss RN, William C. 2010. Greens operative hand surgery ,
sixth edition. Department HSS MRI : United States of America.