Anda di halaman 1dari 9

Good Mining Practice

Peradaban manusia sekarang ini tak lepas dari peran input hasil sumber daya
alam terutama pertambangan, dan pertambangan erat dengan peningkatan
kesejahteraan manusia. Tambang dan sumberdaya mineral tidak dapat
dilepaskan dari lingkungan pembentukannya di bumi. Daerah dengan tatanan
geologis tertentu akan menghasilkan cadangan mineral yang ekonomis. Dan bagi
daerah yang kaya, kehadiran cadangan ini dapat menjadi tulang punggung
pendapatan asli daerah.
Pertambangan memang berpotensi menjadi agen perubahan (development
agent) karena umumnya tambang berlokasi di daerah remote yang akhirnya
dapat membuka akses dan meningkatkan infrastruktur.Lebih jauh pertambangan
haruslah dijalankan secara berkelanjutan karena sifatnya yang temporary dan
mengambil sumber daya yang tak pulih (un renewable resources).Oleh
karenanya pemulihan lahan yang terganggu harus dioptimalkan sehingga
menjadi lahan yang produktif. Selain itu, manfaat dari aktivitas pertambangan
perlu di konversi ke dalam bentuk lain (transformasi manfaat) agar
pembangunan tetap dapat berlanjut dan tetap memberikan kesejahteraan di
daerah sekitarnya.

PT. Freeport Indonesia, salah satu tambang di daerah remote


Lantas apa maksud dari keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam
pertambangan? Pemanfaatan yang berkelanjutan adalah memanfaatkan
seefisien mungkin sumber daya mineral melalui peningkatan dan konversi nilal
tambah dengan mengedepankan nilai lingkungan dan keadilan sosial dan tetap
memberikan kesempatan pada generasi mendatang untuk menikmati sumber
daya mineral tersebut.
Kemudian konsep pemanfaatan mineral berkelanjutan ini akan berlandaskan
pada isu demokrasi, keadilan dan pemerataan yang sifatnya lintas generasi.
Suatu konsep yang melibatkan seluruh stake holders. Ini juga konsep yang
menekankan pentingnya pengelolaan keteknikan, sosial kemasyarakatan,
pendekatan lingkungan yang terpadu dan kesemua hal ini dapat dilebur untuk

diterapkan dalam praktek pengelolaan tambang yang benar (Good Mining


Practice).

Pembuatan jenjang dan reklamasi lahan eks tambang, implementasi good


mining practice
Good Mining Practice dapat dijelaskan secara gamblang sebagai aktivitas
pertambangan yang memenuhi kriteria, kaidah maupun norma-norma
menambang yang tepat sehingga pemanfaatan mineral memberikan hasil
optimal dan mengurangi dampak negatif yang terjadi. Beberapa ciri Good
Mining Practice antara lain:
1. Penerapan prinsip konservasi dan nilai lindung lingkungan
2. Kepedulian terhadap K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) terutama bagi
pekerjanya
3. Meciptakan nilai tambah bagi pengembangan wilayah dan masyarakat sekitar
4. Kepatuhan terhadap hukum dan perundangan yang berlaku
5. Menggunakan standarisasi keteknikan dan teknologi pertambangan yang
tepat dalam aktivitasnya
6. Pengembangan potensi dan kesejahteraan masyarakat setempat terutama
dari optimalisasn dan konversi pemanfaatan mineral
7. Menjamin keberlanjutan kegiatan pembangunan setelah periode pasca
tambang (mine closure)
8. Memberikan benefit yang memadai bagi investor

Keselamatan dan Kesehatan Kerja, menjadi penting dalam aktivitas tambang


Kemudian siapa yang harus melaksanakan Good Mining Practice ini..?Seharusnya
seluruh perusahaan tambang wajib melakukan Good Mining Practice sebagai
inisiatif global. Karena ini akan menjadi parameter kepatuhan dan integritas
perusahaan sebagai operator pertambangan. Implementasi Good Mining
Practice ini juga merupakan repectivitas tehadap lingkungan, masyarakat serta
Negara.
Penghargaan Lingkungan dan Pasca Tambang
Tak ada yang menolak anggapan bahwa aktivitas dasar pertambangan itu
sifatnya destruktif, merubah lanskap lahan, memotong vegetasi di permukaan,
pembuangan tailing, melakukan countouring hingga penggalian jenjang.Tekanan
aktivitas pertambangan yang begitu besar terhadap lingkungan untuk beberapa
hal dan kondisi memang patut dikoreksi terlebih mengingat masih adanya
persepsi kuno tentang tambang terkait dengan sifat eksploitatifnya (baca
kolonialisme) yang diturunkan oleh pemerintah Hindia Belanda.Masyarakat juga
awam terhadap aktivitas pertambangan secara keseluruhan.

Penambangan timah zaman Belanda


Persepsi yang keliru inilah yang menimbulkan penolakan atau ketidaksukaan
publik. Diakui atau tidak, kesalahanpersepsian ini turut mempengaruhi
kebijakan di sektor lain. Padahal sebagai aktivitas utama manusia,
pertambangan justru mampu menjadi pengerak ekonomi masyarakat di daerah
terpencil mengingat karakteristik usaha pertambangan yang memang berada di
lokasi remote dan sifatnya membuka akses infrastruktur.Pertambangan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat berperan sebagai agen penggerak
utama (prime mover) pembangunan local.
Terkait dengan hal ini, segala aktivitas pertambangan yang dapat menyebabkan
keresahan, termasuk kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi bahkan
potensi masyarakat tergantung pada aktivitas tambang setelah tambang
berakhir harus dicegahdan ditanggulangi.Penghargaan terhadap lingkungan dan
masyarakat atas aktivitas tambang sudah bergulir dan harus menjadi trend
terbaru dalam mewujudkan sustainable development.
Permasalahan lingkungan di pertambangan sebenarnya sdah diantisipasi dengan
sangat baik melalui kewajiban perusahaan untuk melakukan AMDAL sebelum
aktivitas eksploitasi berjalan. AMDAL adalah dokumen perencanaan lingkungan
yang terdiri dari dokumen Studi Amdal, Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL),
Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), Dokumen ANDAL yang kesemuanya itu
harus mendapat legitimasi dari pemerintah pusat, daerah, perusahaan dan
instansi terkait langsung. Sebenarnya tujuan utama dari penyusunan dokumen
AMDAL ini adalah untuk membuat keputusan operasional bagaimana aktivitas
tambang saat disusun, saat beroperasi dan saat pasca tambangnya.Dan AMDAL
bukanlah kitab suci yang sacral dan tak dapat diubah. AMDAL seharusnya
bersifat open source sehingga publik berhak tahu bagaimana dan apa yang akan
terjadi di aktivitas tambangnya.
Selain itu, perusahaan diwajibkan membuat Rencana Tahunan Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkungan (RTPKL) yang harus mendapat persetujuan dari
pemerintah. Dan terkait dengan reklamasi, perusahan menyerahkan dana
jaminan reklamasi sebagai kepastian akan perbaikan atas perubahan lanskap
yang terjadi sehingga dampak negatif dapat dieliminasi bahkan peningkatan

kualitas lingkungan. Komitmen ini merupakan bentuk integrasi tambang dengan


lingkungan.
Proses reklamasi juga dapat dikawal oleh public. Banyak perusahaan sekarang
ini yang justru memunculkan reklamasi mereka untuk dikonsumsi umum.Selain
bentuk kepatuhan terhadap aturan lingkungan ini dapat juga berperan untuk
pencitraan.Lingkungan sudah menjadi isu global sekarang ini, sehingga
perusahan yang peduli terhadap lingkungan adalah perusahaan yang memiliki
visi kedepan dan etika bisnis yang baik.

Reklamasi, penghargaan lingkungan oleh tambang


Gencar-gencarnya isu sustainable development belakangan ini juga turut
memacu menaiknya kebijakan pasca tambang, yaitu kebijakan untuk
memastikan setiap kegiatan pertambangan memiliki konsep penutupan tambang
sejak awal dimulainya aktivitas tambang.Konsep ini memastikan penataan lahan
eks tambang tetap aman dan memiliki fungsi lingkungan.Konsep pasca tambang
ini adalah hasil kesepakatan tiga stakeholders, pemerintah masyarakat dan
operator tambang dan harus memenuhi criteria konservasi mineral, prinsip K3
dan prinsip lingkungan.
Ada satu hal yang juga sangat perlu dicermati dalam rencana penutupan
tambang, yaitu sosial kemasyarakatan.Perlu dipastikan dalam dokumen rencana
pasca tambang tentang status dan kesejahteraan masyarakat.Masyarakat harus
dipastikan tidak tergantung pada aktivitas perusahaan setelah penutupan
tambang.

Nilai Tambah
Kekayaan alam khususnya sumber daya mineral sesungguhnya adalah anugerah
Tuhan yang menjadi keuntungan bagi bangsa ini. Keuntungan dalam konteks
pemanfaatan aset strategis secara optimal .Bagaimana bangsa ini dapat
mentransformasi kekayaan alam yang belum termanfaatkan menjadi kekayaan

alam yang dapat memberikan kesejateraan dalam konversi peningkatan


infrastruktur, pendidikan, kontribusi ekonomi dan pemerataan keadilan.
Ada pula pandangan yang menyatakan bahwa kekayaan alam justru menjadi
kutukan (curse) karena ketidakmampuan pengelolaan sehinga menimbulkan
kerusakan dan bencana.John Tilton (2002) menyatakan bahwa muncul persepsi
global dalam 4 dasawarsa terakhir yang menyatakan industry pertambangan
adalah industry ekstraktif yang merusak lingkungan serta minim kontribusi
terhadap kesejahteraan amsyarakat alias hanya memikirkan profit (bukan
benefit).Pandangan ini juga muncul di Indonesia terlebih masih adanya persepsi
tambang dekat dengan system kolonialisme.
Ada banyak nilai tambah yang sebenarnya dihasilkan dari hadirnya industry
tambang.Nilai tambah ini bergulis layaknya bola salju, dapat makin besar ke
arah hulunya.Multiplier effect atau efek berganda adalah istilah yang cocok
untuk mengisyaratkan hal ini.Multiplier effect ini mutlak untuk diusahakan
terlebih bila mengacu pada masyarakat di sekitar tambang.
Nilai tambah yang dihasilkan seperti:
a. Pengembangan inovasi dan pengembangan teknologi (baca transfer
teknologi). Tambang identik dengan teknoloig modern dan saintik, yang
kebanyakan untuk memenuhi kebutuhan ini, awalnya mendatangkan tenaga ahli
dari luar negeri. Dengan bergulirnya waktu, harus terjadi konversi ilmu dan
transfer teknologi antara tenaga ahli asing kepada tenaga ahli Indonesia. Telah
banyak transfer teknologi yang berhasil dilakukan di Indonesia, sehinga jumlah
tenaga ahli asing dapat dikurangi. Perencanaan tambang bawah tanah,
perencanaan open pit, penggunaan alat berat non konvensional atau bahkan
konsultan tambang. Bahkan secara ekstrem, apabila tidak terjadi transfer
teknologi di suau perusahaan, maka kita mampu untuk mencuri dan
mengadopsi teknologi tersebut.
b. Peningkatan penggunaan produk domestic. Dapat betapa besarnya
pengeluaran tambang untuk menggunakan produk luar negeri.Untuk produk
yang dapat dibuat dan disupply domestic, maka saat ini pemerintah telah
menyusun kebijakan penggunaan produk domestic (local content) dalam
indsutri tambang.Kebijakan ini juga untuk mensinkronisasikan arah industry hilir
dengan industry hulu untuk peningkatan local content dan nilai tambah.
c. Upaya untuk mengptimalkan pengolahan mineral dan batubara di dalam
negeri. Selama ini Indonesia mengekspor beberapa jenis mineral dalam bentuk
bahan mentah atau setengah jadi. Tentunya produk ini kurang memiliki nilai
tambah, untuk meningkatkan peran maka mineral dan batubara tersebut harus
diolah di dalam negeri karena akan menciptakan perputaran ekonomi dari
industry pengolahannya.

Smelter, memberikan nilai tambah pengolahan mineral


Contoh, jika bijih bauksit hanya diekspor, maka nilai jualnya rendah. Namun
jika diolah di dalam negeri menjadi alumina bahkan alumunium dan produk
ikutannya, akan ada efek ekonomi dari pembangunan pabrik pengolahan,
penyerapan tenaga kerja atau nilai jual produk lanjutan yang lebih tinggi.
Begitu pula untuk mineral lainnya.Dengan good mining practice, Indonesia
harus mampu menghapuskan penjualan bahan tambang mentah, jangan sampai
kita menjual tanah air saja. Kita harapkan sesuai yang diamanatkan UU
Mineral No. 4 than 2009, di akhir tahun 2014, Indonesia mampu menghapuskan
penjualan produk mentah pertambangan.
d. Pengembangan pertumbuhan ekonomi, khususnya ekonomi local. Hadirnya
perusahaan tambang yang bersinggungan dengan masyarakat local tentunya
akan memanfaatkan tenaga local, artinya perusahaan telah membangun system
kerjasama untuk mengoptimalkan peran putra daerah. Selain itu, banyak
aktivitas ekonomi local yang bsia dibangkitkan, misalnya supply makanan dan
penyewaan akomodasi untuk tenaga kerjanya.Penyediaan sarana transportasi
penunjang dan tvale agent. Supply daging dari peternak local maupun buahbuahan.

Masih banyak nilai tambah yang dapat dihasilkan dari hadirnya aktivitas
pertambangan di suatu daerah.Optimalkanlah peran pemerintah pusat dan
pemerintah daerah untuk mampu mensinergiskan peran dan merangkul industry
pertambangan untuk melaksanakan peningkatan nilai tambah seperti yang
diamanatkan dalam UU Minerba No. 4/99 ini.
Konservasi
Keseluruhan sumberdaya mineral maupun batubara adalah renewable resources
atau sumber daya alam yang tak terbarukan dan habis sekali pakai. Artinya
tidak akan ada sumber daya yang terbentuk kembali setelah sumberdaya ini
digunakan. Kalaupun terbentuk akan memakan wakt jutaan tahun lagi. Karena
sifatnya yang tak terabarukan, maka penambangan, pengolahan dan
pengusahaannya mau tak mau harus optimal dengan memberi benefit bagi
perusahaan, Negara, masyarakat maupun lingkungannya.

Jadi mau tak mau dalam pengelolaan sumber daya mineral harus
mengutamakan prinsip konservasi.segala bentuk pemborosan sumberdaya
mineral harus dihindari. Dengan mengedepankan prinsip konservasi artinya
menghindari terbuangnya mineral secara percuma (rudenden) dan memberikan
jaminan usia pemanfaatan sumberdaya yang lebih lama.
Tentunya dapat dibayangkan, Indonesia adalah Negara yang menjadi peringkat
15 dalam cadangan batubara (6,7 milyar ton cadangan dan 61,3 milyar ton
sumberdaya), No 7 dalam cadangan emas dunia (6.981 ton),cadangan tembaga
terbesar ke 7 (41.473 juta ton)no 5 dan 8 masing-masing untuk cadangan logam
timah (482.402 ton) dan nickel (627,8 juta ton) (sumber: DESDM, 2009) adalah
Negara yang sangat kaya akan sumberdaya mineral. Sedikit sekali Negara yang
dianugerahi kekayan seperti Indonesia. Memang terkesan lama dalam
pemanfaatannya, namun tanpa konservasi, nilai diatas hanya akan menjadi
angka apabila pemanfaatannya tidak mengacu pada azas konservasi.

Cadangan Mineral dan Batubara Indonesia


Penerapan prinsip konservasi mineral dapat dilakukan dengan banyak metode,
mulai dari penggunaan teknologi untuk menambang cadangan yang marjinal,
optimalisasi mineral ikutan (accessories mineral), proses mixing dan blending
mineral berkadar rendah dengan kadar tinggi, penerapan cut off grade dan
stripping ratio yang lebih efisien dan banyak metode lainnya.
Dulu hanya cadangan yang berkadar tinggi saja yang diusahakan sehingga
cadangan yang berkadar marjinal didiamkan saja (dormant). Dengan
peningkatan teknologi, kadar yang marjinal pun dapat diusahakan secara lebih
ekonomis. Contohnya, saat ini telah banyak teknlogi pengolahan untuk emas
berkadar rendah sehingga dapat diusahakan (heap leach method, cyanide

leaching method), hydrometalurgi untuk mengoptimasi nickel kadar rendah


juga telah berhasil dilaksanakan.
Pemanfaatan
kembali
tailing
juga
merupakan
bentuk
konservasi
cadangan.Umumnya tailing masih memiliki kandungan mineral berharga
meskipun dalam konsentrasi rendah.tailing yang dihasilkan 20 tahun lalu
memiliki konsentrasi logam sebesar x gram/ton. Namun tailing saat ini
seharusnya memiliki konsentrasi di bawah X gram/ton sehingga tailing masa lalu
dapat dioptimasi dengan teknologi tertentu untuk mendapatkan logamnya
secara ekonomis.
Nilai dan harga jual produk pertambangan saat ini menunjukkan trend yang
fluktuatif karena dipengaruhi oleh permintaan dan pasokan (supply and
demand) pasar dunia. Kondisi ini menyebabkan tingkat kelayakan pengusahaan
menjadi bervariasi sesuai harga jual dan mempengaruhi nilai dari cut off grade
(COG) dan stripping ratio (SR) proses penambangan. Peningkatan nilai tersebut
dapat membuat nilai SR dan COG menjadi lebih kecil dan optimasi sumberdaya
dapat lebih diterapkan.
Dalam rangka konservasi mineral dan batubara, maka seluruh cadangan yang
telah diketahui kuantitas dan kualitasnya harus terdata dengan sangat baik
sehingga apabila terjadi perubahan harga di pasar dunia, antisipasi dapat
dilakukan terencana dan tetap menghasilkan output yang efisien.