Anda di halaman 1dari 9

Memahami Badai Pop Korea; Etika

Konfuisus dalam Budaya Pop Korea


Tulisan ini menjelaskan mengenai merebaknya fenomena gelombang Korea di beberapa
negara Asia. Banyak faktor yang menyebabkan diterimanya produk budaya populer Korea di
negara negara di Asia. Tulisan ini mengambil kajian mengenai sentuhan etika Konfusius
dalam budaya populer Korea sehingga ia bisa diterima luas dinegara negara di Asia. Kajian
ini menjelaskan bagaimana sejarah dan keadaan konfusianisme di Korea serta sentuhan
etika Konfusius dalam produk budaya populer Korea. pada bagian penutup penulis
mengambil kesimpulan bahwa sentuhan etika Konfusius dalam tatanan kehidupan sehari
hari masyarakat modern Korea yang dipertunjukan melalui produk budaya populernya
menjadi salah satu contoh representasi ideal kondisi Asia di abad ini. Faktor kedekatan
budaya, nilai nilai kehidupan dan hubungan sosial inilah yang menyebabkan dengan mudah
gelombang Korea menyapu hampir sebagian besar negara negara di Asia, terutama Asia
Timur.
Dalam beberapa tahun terahir terjadi peningkatan budaya popular Korea diberbagai negara di
Asia. Hal ini terlihat dengan populernya serial tv, film, music , fashion maupun selebriti
Korea diberbagai negara Asia. Pada dasawarsa pertama abad ke 21 drama televisi korea
selatan merajai siaran televisi di Indonesia dan banyak negara Asia maupun luar Asia,
menggeser dominasi Jepang. Lagu lagu pop dan musikus pria korea mengisi rongga terdalam
fantasi perempuan , remaja, ibu ibu muda di Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Thailand dan
Singapura[1].Jepang yang pada dasawarsa sebelumnya budaya popnya memberikan pengaruh
luas di Asia juga terkena pengaruh budaya pop Korea. Banyak remaja Jepang yang
menggandrungi lagu lagu dan film film Korea.
Untuk pertama kalinya sejak masa kolonialisme Eropa, dunia hiburan kelas menengah di
Indonesia banyak di negara Asia lainya- kini dikuasai budaya pop negara Asia lain, jauh
mengungguli dominasi budaya pop barat, khususnya Amerika Serikat[2].Walaupun paruh
2010 dan 2011 sudah tidak sekencang awal 2000an tapi sisa sisa euforianya masih terasa. Hal
ini terasa didaerah penulis, Yogyakarta. Ada beberapa komunitas penggemar selebriti Korea,
seperti ELFjoy fandom-komunitas fans- Super Junior, Aike komunitas ini sering menarikan
tarian boyband ataupun girls band Korea bahkan untuk Aike mereka mempunyai online
shop.
Fenomena meluasnya budaya popular Korea diberbagai negara di Asia sering disebut Korean
wave atau gelombang Korea. Istilah ini juga popular disebut Hallyu. Hallyu dikenalkan
oleh media China pertama kali tahun 2001 untuk menunjukan fenomena kegilaan para remaja
dan wanita China terhadap segala sesuatu yang berbau Korea. Mereka meniru apa yang
mereka lihat, dari model rambut sampai pakaian para selebriti Korea. Tidak hanya Asia,
bahkan Pihak kementerian menyuplai sinetron Korea ke stasiun-stasiun televisi di Rusia,
kawas an Timur Tengah dan bahkan Amerika Selatan setelah menyeleksi sinetron yang sesuai
dengan kawasan tersebut. Tujuan tunggalnya adalah untuk menyebarkan Hallyu ke kawasan
selain Asia.

Banyak spekulasi yang menjelaskan tentang factor meluasnya budaya pop Korea di berbagai
negara Asia. Untuk menjawab mengapa fenomena ini bisa terjadi sangatlah tidak mudah.
Bahkan bisa jadi tidak ada jawaban yang sempurna. Namun ada beberapa faktor yang dapat
dijadikan cerminan untuk melihat fenomena ini.
Pertama , sokongan pemerintah yang kuat pada masalah ekspor kebudayaan. Presiden Korea
Kim Dae-Jung (1998-2004) yang telah mencanangkan basic law for cultural industry
promotion tahun 1999 dengan menggelontorkan $148.8 juta untuk proyek tersebut. Melalui
proyek tersebut, industri hiburan dan seni Korea berkembang dengan pesat . Selain itu
sokongan kuat dari pengusaha dan media , telah berhasil menghasilkan seni dan hiburan
korea yang bermutu.(Jian Cai, The First Taste of Korean Wave in China ).
Hampir seluruh media massa memberitakan keberhasilan dan meluasnya fenomena Hallyu .
Tiada hari tanpa pemberitaan yang menyinggung hal ini. Didukung oleh lebih dari 100
stasiun televisi kabel dalam negeri dan televisi siaran internasional seperti Arirang (Kim,
Kyu.,1994) yang setiap hari menyiarkan apa saja yang terjadi di Korea ke hampir seluruh
pelosok dunia, Hallyu seperti mendapat dukungan nasional yang kompak[3]. Dukungan
media massa ini merupakan salah satu efek dari liberalisasi media yang terjadi di Korea akhir
1980an sampai pada pertengahan 1900an.[4]
Kedua, budaya popular Korea mampu memadukan unsur budaya local dengan budaya barat.
Hal ini terlihat dari produk drama televisi, film ataupun music yang dihasilkan. Walaupun
gaya hidup mereka dikatakan mengikuti gaya hidup barat tetapi mereka masih memegang
prinsip hidup local. Di sini ada istilah yang dipakai oleh Kim Song Hwan, seorang pengelola
sindikat siaran televisi Korea Selatan, yaitu Asian Values-Hollywood Style[5]. Istilah ini
mengacu pada cerita-cerita yang dikemas bernuansakan kehidupan orang Asia, namun
pemasarannya memakai cara pemasaran internasional yang menge depankan penjualan nama
seorang bintang atau menjual style.
Bagi masyarakat Asia Timur, budaya barat dikritik karena tidak realistik bagi masyarakat
Asia Timur yang kukuh berpegang pada nilai-nilai ketimuran. Seperti halnya di China, apa
yang terjadi di Korea kini membangkitkan memori terdalam orang China pada masa kini
tentang kejayaan zaman nenek moyang mereka[6].
Adanya pertemuan budaya antara barat dan timur,dalam konteks transnasional pertemuan
antara pinggiran dan pusat menunjukan adanya hibridasi budaya. Hibriditas mengungkapkan
dirinya sebagai praktek-praktek baru ekspresi budaya dan performatif. Misalnya, penduduk
setempat yang sesuai secara barang barang global, konvensi dan gaya, termasuk musik,
masakan, bioskop, fashion dan sebagainya, dan menuliskan makna sehari-hari mereka ke
dalamnya(Bhabha, 1994; Young, 2003)[7]. Begitu juga dengan budaya popular korea, masih
terasa sentuhan etika konfusius dalam konten produk budaya populernya.Dalam prosesnya,
hibridisasi budaya telah terjadi sebagai agen dan aktor budaya lokal berinteraksi dan
bernegosiasi dengan bentuk global, menggunakan mereka sebagai sumber daya dimana
Korea membangun ruang budayanya sendiri, sebagaimana dicontohkan dalam kasus music
rap[8].
Dalam konteks Asia terutama Asia Timur, berbicara kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari
pengaruh konfusius. Begitu juga Pembahasan tentang Korea tidak dapat dilepaskan begitu
saja dari paham Konfusius.Setiap sudut kehidupan masyarakat Korea dipengaruhi oleh ajaran

moral ini (Yang dan Masoed, 2003: 41-45; Kwon, 2004: 548 ; Song, Hale dan Rao, 2005:
314-317)[9].
Tulisan ini akan menjelaskan bagaimana pengaruh konfusius di Korea sehingga turut serta
mempengaruhi budaya populernya. Percampuran etika konfusius dengan budaya global
merupakan salah satu factor yang membuat budaya pop Korea dapat diterima luas dinegara
negara Asia, terutama Asia Timur.
Konfusianisme di Korea
Konfusianisme diperkenalkan beserta contoh-contoh awal tulisan-tulisan dari Cina kira-kira
pada masa awal perkembangan agama Kristen. Tiga Kerajaan Goguryeo, Baekje, dan Silla
meninggalkan catatan-catatan yang menunjukkan keberadaan awal mulanya pengaruh
Konfusianisme[10].
Perkembangan pesat paham yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat
Korea Selatan ini, terjadi pada masa Dinasti Chosen. Suatu masa dimana pada saat itu,
pemerintahan dari Dinasti Chosen menetapkan kebijakan penggunaan sistem ujian sipil
nasional (Kwa-Keo) untuk memilih pegawai-pegawai birokrasi pemerintahan, dan pendirian
Akademi Konfusius Nasional (Seongkyunkwan) (Lee, 2000: 35-36)[11].
Konfusianisme bukan merupakan agama. Ia adalah ajaran moral yang mengatur relasi
hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan
negaranya. Tidak ada istilah Tuhan dalam ajaran moral ini (Lee, 2000: 76), seperti dalam
ajaran-ajaran agama yang ada di dunia. Oleh karena itu, Konfusianisme lebih disebut sebagai
ajaran moral[12]. Karakteristik lain yang khas dari Konfusianisme adalah ajaran ini
menekankan sekali pada nilai-nilai pendidikan dan keharmonisan atupun keseimbangan.
Seseorang akan dinilai memiliki sifat dan watak baik, apabila ia memiliki nilai-nilai
Konfusius dalam dirinya.
Ada dua macam Konfusianisme di Korea Selatan yang terbagi menurut periode waktunya,
yakni: Konfusianisme Klasik dan Neo-Konfusianisme. Berikut ini akan dijabarkan mengenai
kedua Konfusianisme tersebut.
1. Konfusianisme Klasik
Konfusianisme tradisional adalah paham Konfusius yang diadopsi dan dipelajari secara murni
dari Cina. Paham Konfusius awal ini tidak diketahui kapan tepatnya ia masuk ke
Semenanjung Korea. Pada masa awal ini, paham Konfusius diadopsi oleh pemerintahan yang
berkuasa saat itu, Kerajaan Shilla dan Paekche, sebagai suatu prinsip panduan pegawai di
pemerintahan. Oleh karena itu, ujian pelayanan sipil pemerintahan menggunakan buku-buku
pedoman Konfusius, Analects dan Hyogyong, sebagai materi belajar terpentingnya (Keum,
2000: 36). Paham Konfusius semakin berkembang di kalangan pemerintahan Kerajaan
Koryo. Raja yang berkuasa memerintahkan pendirian institusi-institusi pendidikan di setiap
propinsi. Pada masa ini, seorang ahli Konfusius Korea muncul, Choe Chung (984-1068).
2. Neo-Konfusianisme
Neo-Konfusianisme merupakan paham Konfusius yang muncul pada Era Chosen. Pada masa
ini, Neo-Konfusianisme diterapkan dengan ketat pada kehidupan masyarakat Chosen. Selain

itu, pelajar-pelajar Konfusianisme bermunculan dengan pemikiran-pemikiran baru. Pelajarpelajar Konfusius yang mengenalkan dan mengembangkan paham Konfusius baru di
Semenanjung Korea, yakni: Cho Kwang-cho, So Kyong-tok, Yi On-chok, Cho Sik, Kim Inhu, Yi Hwang dan Yi I. Sementara itu, Yi Hwang dan Yi I adalah dua pelajar Korea yang
memiliki kontribusi besar pada perkembangan Neo-Konfusianisme di Semanjung Korea.
Paham baru yang lahir pada Era Dinasti Song di Cina ini, dikembangkan menyesuaikan
persoalan kontemporer yang terjadi pada masa itu di Semenanjung Korea (Keum, 2000: 99100). Marisa latifa dalam tulisanya yang berjudul Reinvetering our body plastic surgery
trend in south korea menjelaskan mengenai salah satu konsep utama harus diketahui dalam
Neo-Konfusianisme adalah konsep tentang Asal atau Pokok (Ultimate). Ada enam istilah lain
tentang Asal atau Pokok ini, yakni:
1.Tai-chi sebagai poros dari semua ciptaan dan pondasi dari semua hal
2.Li sebagai dasar dari eksistensi segala sesuatu
3.Tian sebagai puncak dari semua eksistensi yang ada
4.Shangdi sebagai aturan tertinggi
5.Shen sebagai sebuah kekuatan dan fungsi misterius
6.Tao sebagai wujud Pokok dalam waktu dan ruang
Neo-konfusianisme menjadi ajaran moral yang dianut oleh sebagian besar masyarakat di
Semenanjung Korea, dan paham ini hanyalah pengembangan dari paham Konfusianisme
Klasik. Kedua paham Konfusius tadi sama-sama menekankan pada pengembangan diri (selfcultivation) individu manusia, yakni: agar individu manusia mampu untuk mengharmonikan
dirinya dengan Sang Asal atau Pokok. Oleh karena itu, ada dua aturan kode etika yang harus
dilakukan oleh manusia untuk dapat mencapai harmonisasi tadi. Pertama, Samgang atau Tiga
Ikatan, berupa:
1) ikatan rakyat dengan pembuat aturan,
2) ikatan anak laki-laki dengan ayahnya, dan
3) ikatan istri dengan suaminya.
Kedua, Oryun atau Lima Hubungan , terdiri atas:
1) Puja yuchin atau hubungan antara ayah dan anak laki-lakinya harus didasarkan pada
kedekatan dan cinta
2) Kunsin yuui atau hubungan antara raja dan rakyatnya dalam keadilan
3) Pubu Yubyol atau hubungan antara suami dan istri dalam perbedaan
4) Changyu yuso atau hubungan antara senior (generasi tua) dengan yunior (generasi muda)
dalam kepatuhan

5) Pungu yusin atau hubungan teman dengan teman dalam kepercayaan (Joe, 2000: 611).
Dua kode etika tersebut mempengaruhi interaksi sosial yang ada dalam kehidupan
masyarakat Korea, khususnya Korea Selatan. Perilaku dan tindakan individu dalam
masyarakat Korea Selatan tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kedua kode etika
tersebut[13].
Orang Korea seringkali disebut sebagai penganut paham Konfusius yang lebih kuat dari
orang Tionghoa sendiri. Mereka menyelenggarakan berbagai festival dan hari-hari penting
berdasarkan cara Konfusius seperti ulang tahun, upacara akil balik, pernikahan, kematian,
peringatan kematian dan sebagainya.
Tradisi konfusianisme yang ketat mempengaruhi hubungan sosial antar individu di Korea
sehingga formalisasi sangat diperlukan bagi interaksi individu yang umurnya berbeda jauh.
Contohnya orang Korea jika bertemu tamu, pasti menanyakan usia untuk menciptakan
formalisasi jikalau ia lebih tua atau lebih muda. Upacara Konfusius terbesar di Korea
diselenggarakan setiap tahunnya di bulan Mei yaitu Jongmyo Jerye atau Jongmyo
Daeje untuk menghormati para raja/ratu Joseon terdahulu . Di acara ini diadakan upacara
persembahan dan tari-tarian. Upacara ini berasal dari Tiongkok, sekarang hanya bisa
disaksikan di Korea[14].
Pengaruh Konfusianisme dalam Budaya Popular Korea
Produk budaya popular seperti drama televisi, film, music yang dieksport Korea keluar negeri
inilah yang memantik gelombang Korea. Melalui budaya popular Korea, penonton dapat
mengamati bagaimana rakyat Korea mampu mengekalkan nilai-nilai tradisi sementara
menggabungkan elemen elemen barat ke dalam budaya mereka. Budaya popular Korea telah
meminjam budaya popular barat dan menciptakanya kembali berdasarkan citarasa orang
Korea.
Percampuran elemen budaya dalam konteks transnasional sering disebut hibridisasi. Nuansa
budaya popular Korea kental akan percampuran elemen elemen budaya ini. Korean
Wave yang menggabungkan budaya industri Barat dan Konfusianisme menjadi satu model
dan ide yang baik dalam mengimbangi faham barat dan tradisinya. Atas faktor faktor sejarah,
Korea yang dipengaruhi oleh budaya Konfusian tetapi juga mengadaptasi budaya Amerika.
(Jian Cai ,The First Taste of Korean Wave in China).
Banyak penggemar drama TV Korea berbicara tentang fisik menarik dan keatraktifan aktor
dan aktris Korea, busana yang modern dan glamor , make-up, dan gaya rambut. Mereka juga
menunjuk pada produksi yang mewah, termasuk editing, sinematografi yang indah,alur cerita
yang aksesibel. Berkat perkembangan teknologi informasi dan media digital, versi drama ini
tersedia untuk sedikit atau tanpa biaya dengan pilihan berbagai subtitle, termasuk Inggris,
Jepang, Thailand, Indonesia, Turki, Spanyol, dan beberapa dialek Cina(Jung,Eun-young ,
2009:72).
Selain hal yang disebutkan diatas, adanya kedekatan budaya, nilai nilai keluarga dan
hubungan sosial dalam produk drama merupakan salah satu factor yang mempengaruhi
diterimanya gelombang korea secara luas. Seperti yang dituturkan Alice Chen seorang
penggemar berat Korean Wave mengatakan bahwa drama serial Korea mengikuti aturan
tradisional hubungan antara pria dan wanita lebih baik daripada produk Asia yang

lain(Yoen,sung sang:2008). Banyak penonton yang menyatakan bahwa serial drama korea
lebih mudah diterima daripada drama barat atau Jepang karena nilai nilai konfusius dan
sentimen nyata kehidupan orang Asia, selain itu budaya populer Korea juga
merepresentasikan sentimen nilai nilai Asia dengan keadaan yang modern seperti dalam hal
fashion dan gaya hidup[15].
Salah satu drama televisi Korea yang meledak dipasaran Asia sekitar tahun 2004 adalah
Jewel in the Palace (Daejanggeum). Drama ini berkisah tentang seorang gadis istana yang
bernama Janggeum yang menjadi chef istana kemudian menjadi dokter istana sangat sarat
akan budaya tradisional korea. Serial tv yang berlatar belakang zaman kerajaan ini juga
memeperlihatkan hubungan kekeluargaan, ataupun relasi social yang lain yang masih kuat
berpegang pada ajaran konfusius.
Serial drama yang berjudul What on Earth Is Love? Yang tayang pada tahun 1997 juga
mengambil pendekatan ajaran moral konfusius dengan isu patriakhi dan perbedaan budaya
yang diperlihatkan dengan konflik antara generasi muda dan tua. Drama ini memiliki
penekanan kuat pada nilai nilai keluarga(Jung, eun young,2009:73). Serial its okay dady
daughter produksi tahun 2010 yang menceritakan tentang perjuangan seorang anak untuk
membahagiakan ayahnya yang sudah tua walaupun dengan setting kehidupan modern inti
ceritanya tetap memiliki sentuhan etika konfusius, yaitu rasa penghormatan dan pengabdian
diri pada orang tua.
Selain drama televisi produk budaya populer lainya seperti musik juga turut dipengaruhi oleh
nilai niali konfuisus. Contohnya adalah boyband G.o.d dalam lagu yang berjudul To My
Mother, lagu rap yang menceritakan tentang pengorbanan seorang ibu terhadap anaknya.
Berikut liriknya :
Mother, I miss you.
My family was too poor to eat out.
While mother went to work, I used to cook instant noodles by myself.
Sick and tired of them, I once pestered mother to eating out.
She had to use emergency fund to go to a Chinese restaurant.
Mother ordered Jajangmyon11 but curiously she didnt eat.
She simply said, I dont like it. Eat more.
She simply said, I dont like it. Eat more.
She simply said, I dont like it. Eat more.
...
Mother I love you.
I regret that I havent said this to you before.

I love you. May you rest in peace.


Petikan lagu diatas menceritakan bagaimana seorang ibu yang rela berkorban demi anaknya.
Hubungan antara orang tua dan anak juga salah satu representasi dari ajaran moral konfusius.
Rasa sayang kepada keluarga, setia kawan, hormat pada guru, bekerja keras, setia pada
pekerjaan, ekspresi hormat dengan cara meninggikan lawan bicara dan merendah kan diri
sendiri dan karakter-karakter lainnya merupakan pengejawantahan masih melekatnya nilainilai konfusianisme pada budaya Korea.
KESIMPULAN
Fenomena gelombang korea yang menyapu hampir sebagian besar negara negara di asia
beberapa tahun yang lalu merupakan suatu fenomena yang menarik. Untuk pertama kalinya
dalam sejarah modern Asia, negara negara Asia menggemari budaya populer negara Asia
yang lainya jauh menggeser dominasi popularitas budaya populer barat terutama Amerika.
Beberapa tokoh mulai merumuskan, menganalisis bagaimana fenomena gelombang Korea
dapat terjadi.
Banyak spekulasi dengan berbagai sudut pandang yang dilontarkan dalam melihat fenomena
ini. Namun ada salah satu faktor yang dianggap penulis merupakan hal mendasar mengapa
produk produk budaya populer Korea ini mudah diterima di negara negara asia yang lain,
nilai nilai konfusius.
Penduduk Asia, terutama Asia timur yang kebanyakan adalah etnis Cina atau Tionghoa yang
juga menyebar di Asia tenggara dan berbagai belahan dunia rata rata adalah penganut ajaran
moral konfusius. Akan tetapi akhir akhir ini nilai nilai moral ataupun etika itu mulai
ditinggalkan. Hal ini juga terjadi di China, bagaimana proyek modernitas China malah
menggusur segala hal yang dianggap tradisional. Contohnya,China begitu mudah menerima
gelombang Korea karena merasa memiliki persamaan latar belakang budaya , etika,
kebudayaan, falsafah, nilai dan struktur sosial Korea menyerupai rakyat China. Kedekatan
budaya, nilai nilai kehidupan serta hubungan sosial inilah yang membuat produk budaya
popular Korea mudah diterima.
Produk produk budaya pouler yang didalamnya masih memperlihatkan suatu tatanan
masyarakat yang terlihat modern-dengan gaya hidup ala barat- tetapi masih menjaga nilai
nilai ajaran moral Konfusius dalam perilaku sehari harinya menjadi contoh ideal representasi
kondisi Asia di abad ini.
DAFTAR PUSTAKA
Cai, Jian.http://www.korea.net/korea/G08_board_view.asp?board_no=167&page=5. The First
Taste of Korean Wave in China. Diakses tanggal 5 juli 2011.
Fakta fakta tentang korea. 2008. Pelayanan kebudayaan dan informasi Korea, kementrian
Kebudayaan, pariwisata dan olahraga.pdf. Diakses tanggal 1 juli 2011
Heryanto, Ariel. 2009. Budaya Pop Indonesia: Kehangatan Seusai Perang Dingin. Dalam
Prisma vol.28, no. 2

http://www.ourorient.com/articles/relations/koreanwave.htm. Why Is Korean Wave Popular


In China?.Diakses tanggal 1 juli 2011.
http//www.confucianme.com./profiles/blog/listuser=117bwspaohuv. Orang Korea Lebih
Konfusian daripada Tionghoa . Diakses 1 juli 2011.
Jung, Eun Young . 2009. Transnational Korea: A Critical Assessment of the Korean Wave in
Asia and the United States. Dalam southest Review of Asian Studies vol.31
Latifa, Marissa. Reinvetering our body plastic surgery trend in south korea. Pdf. Diakses
pada tanggal 1 juli 2011
Shim, Doobo. 2006. Hibridity and Rise of Korean Popular Culture in Asia. Dalam Media,
Culture & Society SAGE Publications (London, Thousand Oaks and New Delhi), Vol. 28,
no.1
Tae, Keum Jang.2000. Confucianism and Korean Thoughts . dalam Korean Studies
Series No.10. Jimoondang Publishing Company
Yeon, Sang-Sung. Why do Asian fans prefer Korean pop culture?. The Korea Herald edisi 4
februari 2008, diunduh dari www.myspace.com/myspaceClaudia. diakses tanggal 5 Juli 2011.

[1] Ariel heryanto.budaya pop Indonesia: kehangatan seusai perang dingin.Jakarta:prisma no.
2 vol.28, 2009:17
[2] Ibid, 18
[3] Suray agung nugroho. Hallyu Gelombang Korea di Asia dan Indonesia, Trend
Merebaknya Budaya Pop Korea dalam Kumpulan Makalah Lokakarya tentang Korea IV
Menjelajah Wajah Negeri Ginseng 8-10 April 2008. Yogyakarta: Korea Foundation dan
Pusat Studi Korea UGM
[4] Doobo shim.Hibridity and rise of Korean popular culture in asia. National University of
Singapure: media culture and society,2006:28
[5] Suray agung nugroho. Hallyu Gelombang Korea di Asia dan Indonesia, Trend
Merebaknya Budaya Pop Korea dalam Kumpulan Makalah Lokakarya tentang Korea IV
Menjelajah Wajah Negeri Ginseng 8-10 April 2008. Yogyakarta: Korea Foundation dan
Pusat Studi Korea UGM
[6] http://www.ourorient.com/articles/relations/koreanwave.htm. Why Is Korean Wave
Popular In China?.Diakses tanggal 1 juli 2011.
[7] Doobo shim.Hibridity and rise of Korean popular culture in asia. National University of
Singapure: media culture and society,2006:27
[8] Ibid, 31-35

[9] Marisa latifa. Reinvetering our body plastic surgery trend in south korea. Pdf. Diakses
pada tanggal 1 juli 2011
[10] Fakta fakta tentang korea. Pelayanan kebudayaan dan informasi Korea, kementrian
Kebudayaan, pariwisata dan olahraga. 2008. Hal 190. Diakses tanggal 1 juli 2011
[11] Marisa latifa. Reinvetering our body plastic surgery trend in south korea. Pdf. Diakses
pada tanggal 1 juli 2011
[12] Fakta fakta tentang korea. Diterbitkan oleh pelayanan kebudayaan dan pariwisata
Korea, kementrian kebudayaan, pariwisata dan olahraga. 2008: 176
[13] Marisa latifa. Reinvetering our body plastic surgery trend in south korea. Pdf. Diakses
pada tanggal 1 juli 2011
[14] Kristan.orang korea lebih konfusian daripada
tionghoa.http//www.confucianme.com./profiles/blog/listuser=117bwspaohuv. Dikases 1 juli
2011
[15] Sung sang yeon.why do asian fans prefer korean popular?. The korea herald, senin 4
februari 2008. Diunduh dari http://www.myspace.com/myspaceclaudia.Diakses tanggal 1 juli
2011