Anda di halaman 1dari 4

BUDAYA TRADISI: HARTA YANG TERABAIKAN

Malang, 02 Oktober 2012 Belakangan ini berkembang konsep budaya baru di


tengah gejolak pergulatan ekonomi, politik, dan sosial di kalangan umat manusia.
Budaya baru yang tidak memiliki pijakan identitas tetap karena selalu mengikuti
kemana dan dimana minat konsumen pergi. Budaya populer, yang dikenal juga
dengan istilah Pop-Culture, budaya baru yang seolah-olah telah melucuti satupersatu nilai leluhur Rakyat Indonesia.
Budaya populer memiliki potensi besar dalam memengaruhi pandangan hidup
masyarakat. Melalui keramahannya dalam menyapa minat pasar, masyarakat
secara sadar maupun tidak sadar ditarik ke dalam zona nyaman bentukan budaya
populer. Contoh nyata penerapan budaya populer di Indonesia dapat dilihat dari
fenomena di belantika musik tanah air. Masyarakat Indonesia saat ini cenderung
melihat musik-musik yang sedang populer saja. Semisal lagu-lagu yang dibawakan
oleh boyband yang memiliki personel berparas tampan, yang saat ini sedang
menjamur karena reputasinya yang tinggi. Padahal, sebelumnya lagu-lagu
persembahan grup band beraliran pop melayu memiliki reputasi yang tinggi pula,
sehingga sempat mendominasi belantika musik tanah air.
Inilah budaya populer, budaya yang masih menjerat masyarakat Indonesia. Budaya
populer membuat mata masyarakat hanya melihat sesuatu yang sedang populer
saja. Selain itu, budaya populer membuat mata masyarakat tidak dapat memandang
sesuatu yang tidak populer, seperti budaya-budaya tradisi peninggalan nenek
moyang. Itu berarti, budaya populer mengancam keberadaan budaya tradisi di
Indonesia. Bayangkan saja, boyband-boyband Korea saja
Indonesia adalah bangsa yang kaya. Tidak hanya di sektor sumber daya alamnya,
Indonesia juga merupakan bangsa yang kaya akan budaya tradisi. Ketika sumber
daya alam telah terkeruk oleh negara asing, budaya tradisi adalah harta yang harus
dipertahankan. Namun, hingga saat ini kesadaran akan pentingnya budaya tradisi di
masyarakat masih kurang. Masih banyak manusia Indonesia, dari strata atas hingga
bawah, yang memakai kacamata populer untuk merujuk fenomena di negaranya.
Padahal garis sejarah bangsa Indonesia dengan negara-negara pembawa budaya
tersebut berbeda jauh. Yang lebih memprihatinkan, wabah populer juga menjangkit
generasi muda, generasi yang disebut-sebut sebagai penerus bangsa, tunas dan
harapan bangsa.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, budaya tradisi sudah
seharusnya dianggap sebagai harta warisan turun-temurun yang diberikan oleh

nenek moyangnya sebagai modal untuk kelanjutan hidup anak cucunya. Karena
budaya tradisi adalah sesuatu yang kaya akan nilai, baik secara historis maupun
filosofis. Mulai norma, tari-tarian, perayaan hari besar, hingga artefak-artefak seperti
pakaian, rumah adat, serta senjata-senjatanya, pasti memiliki makna tersirat yang
masih relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia kini.
Misalnya saja Reog Ponorogo, Secara historis, reog adalah salah satu cara seorang
abdi kerajaan untuk menarik massa agar dapat membantunya melakukan
perlawanan terhadap salah satu raja Majapahit, Kertabumi, yang dianggapnya tidak
becus dalam menjalani kerajaan. Bentuk perlawanan yang dilakukan abdi kerajaan
ini merupakan salah satu bukti relevansi antara zaman dulu dan sekarang, yaitu
kebobrokan pemerintah mengundang perlawanan rakyatnya. Bukti lain terdapat
pada

pagelaran wayang.

Seringkali kisah dalam pagelaran

wayang

juga

menggambarkan kondisi masyarakat indonesia hari ini. Tidak jarang pula ditemukan
orang-orang yang menggunakan pagelaran wayang sebagai media untuk mengkritisi
kondisi sosial dan politik Indonesia. Mirisnya, popularitas reog dan pementasan
wayang kalah dengan tawaran bangsa barat, seperti demonstrasi dan film.
Jika dianalogikan, budaya tradisi di Indonesia telah menjadi harta yang terabaikan.
Aset yang semestinya dapat meningkatkan kepercayaan diri bangsa dalam
berinteraksi dengan bangsa luar namun ditinggalkan demi mendapatkan harta orang
lain. Ketika bangsa barat maju dengan kemajuan teknologinya,

seharusnya

Indonesia dapat menyusul kemajuan bangsa barat dengan warisannya yang kaya
akan nilai positif.
Peningkatan eksistensi nilai-nilai yang terkandung dalam budaya tradisi adalah jalan
keluar untuk meredam efek yang ditimbulkan oleh budaya populer yang telah melilit
mental bangsa Indonesia. Dengan pelestarian kebudayaan tradisi, setidaknya
masyarakat telah diberi rangsangan untuk mengangkat dan memahami lebih jauh
nilai-nilai yang terkandung dalam setiap kebudayaan yang bangsanya miliki.
Penyadaran bahwa budaya tradisi adalah harta Indonesia yang terabaikan sudah
harus dimunculkan.
Disinilah peran media massa bermain. Gerakan media massa yang saat ini
berorientasi pada profit, sudah seharusnya diidealisasikan ke arah pembangunan
karakter bangsa melalui penanaman nilai-nilai budaya tradisi. Zaman sekarang,
media massa sebagai penyebar informasi, merupakan aktor yang memiliki kekuatan
besar dalam membentuk visi masyarakat. Hal ini disebabkan kebutuhan masyarakat
akan informasi. Dalam bukunya yang berjudul Kebebasan Semu : Penjajahan Baru

di Jagat Media, Agus Sudibyo menjelaskan bahwa media bukan lagi sebagai
pelengkap, melainkan telah menjadi faktor determinan dalam kehidupan sosial,
ekonomi dan budaya Indonesia pascareformasi.
Saat media massa di Indonesia menjadikan tayangan dengan unsur tradisi sebagai
tayangan utama, dan menomorduakan tayangan-tayangan barat, diharapkan rasa
memiliki sedikit banyak akan tercipta dalam benak masyarakat. Tidak lagi
menampilkan isu-isu kebudayaan hanya saat kebudayaan Indonesia direbut oleh
bangsa lain, karena nantinya hanya sebatas melahirkan rasa kepemilikan yang
sesaat.
Perlu adanya usaha yang komprehensif dari media demi terciptanya kecintaan
masyarakat kepada budaya tradisinya. Dalam membangkitkan semangat budaya
tradisi, media dapat sedikit mengikuti arus budaya populer. Langkah awal yang pasti,
dengan memperbanyak intensitas penayangan tayangan berjenis kebudayaan,
seperti yang telah dilakukan beberapa stasiun televisi swasta. Saat reputasi budaya
tradisi berada di pucuk, indoktrinasi nilai-nilai tradisi dilakukan dibarengi dengan
upaya meminimalisir tayangan-tayangan berbasis asing.
Media hanyalah salah satu cara untuk mengangkat nilai-nilai tradisi asli Indonesia,
masih banyak cara lain yang dapat digunakan. Melalui pendampingan orang tua,
kebijakan pemerintah, dan sebagainya. Namun semua upaya yang dilakukan akan
sia-sia saat perasaan primordial terhadap suku dan budayanya masih menjadi
penyakit yang menjangkit masyarakat indonesia yang terdiri dari berbagai ras dan
suku yang masing-masing memiliki tradisinya sendiri. Toleransi adalah kuncinya.
Dengan toleransi, manusia Indonesia akan menyadari kesamaan dari masingmasing budayanya. Kesamaan yang merupakan identitas bangsa, yaitu moralitas.
Bagaikan pelangi, Indonesia merupakan bangsa yang berwarna-warni, namun tetap
indah.
Pelestarian budaya Indonesia adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh
setiap Individu maupun organ yang menjadi bagian dari Indonesia. Sudah lelah
tubuh ibu pertiwi dijajah, sudah bosan alam bangsa terkeruk, jangan biarkan warisan
budaya si atas kuasa bangsa asing. Jika perlu rebut kembali harta-harta yang
pernah terenggut. Menjadi negara kaya, dengan hati yang mulia, tanpa niat
berkuasa. Memang tak mudah, mungkin saat tiba waktunya, manusia-manusia
Indonesia saat ini tidak lagi dapat merasakan hasil upayanya. Tapi setidaknya, anak
cucunya tidak harus ikut merasakan penderitaan. Bukankah banyak pejuang
kemerdekaan yang mati tanpa merasakan kemerdekaan? Dan merekalah pahlawan.

Daftar Pustaka
Sudibyo, Agus. 2009. Kebebasan Semu: Penjajahan Baru di Jagat Media. Jakarta:
PT Kompas Media Nusantara.