Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS KASUS STAN DITINJAU DARI PENDEKATAN

PSIKOANALISA (FREUD)
Paper
disusun guna memenuhi tugas
mata kuliah Model-model Konseling
Dosen Pengampu : Sunawan, Ph.D. dan Zakki Nurul Amin, S.Pd.

oleh :
Sugesti Yoan Ahmad Yani

(1301413080)

BK SD Rombel 1

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

PEMBAHASAN
A. Masalah yang dialami Stan
1. Memiliki sedikit teman, sangat penakut dan rendah diri di hadapan
orang-orang yang seusia dan yang lebih tua.
2. Peminum berat dan sering mabuk.
3. Merasa takut pada orang-orang pada umumnya, tetapi terutama pada
wanita yang kuat dan atraktif.
4. Merasa bukan laki-laki sejati.
5. Memiliki kecemasan yang kuat terutama di malam hari, terkadang
merasa ngeri dan ingin lari tapi tidak bisa bergerak. Serta memiliki
angan-angan untuk bunuh diri.
6. Sering merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya.
B. Pengalaman Masa Lalu
1. Perceraian dengan istrinya merupakan pukulan terberat bagi Stan.
Istrinya yang keras dan dominan dan sering merendahkan dirinya. Hal
yang memicu tersebut salah satunya ialah ketidakpuasan istri Stan ketika
berhubungan seks dengan Stan yang terlalu impoten.
2. Kehidupan keluarganya yang tidak harmonis dimana ibunya selalu
merendahkan ayahnya, yang dilihatnya sebagai seorang yang lemah,
pasif, dan takut kepada ibunya. Selain itu, dalam keluarganya tidak ada
perbincangan tentang agama maupun seks.
3. Selalu dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang sempurnya di mata
orang tuanya, yakni 2 kakaknya merupakan siswa yang berhasil dan
selalu mendapat pujian. Kemudian adiknya yang selalu dimanjakan
secara berlebihan oleh orang tuanya. Sedangkan dirinya dianggap sebagai
anak yang sangat tidak berguna dan bahkan tidak diinginkan
kehadirannya oleh ibu maupun ayahnya.
C. Harapan di Masa Depan
1. Ingin merasa lebih baik tentang dirinya, dengan menyukai dirinya sendiri
ketimbang saat ini.
2. Ingin bisa belajar mencintai setidaknya segelintir orang, dan utamanya
wanita.
3. Ingin menghapus perasaan takut bahwa wanita dapat merusaknya.
4. Ingin merasa setaraf dengan orang lain dan tidak selalu menyesal atas
kehadirannya.

5. Ingin bebas dari rasa kecemasan dan perasaan bersalah.


6. Ingin menerima dirinya sendiri secara positif.
7. Ingin menjadi konselor yang baik bagi anak-anak.
8. Ingin belajar lebih percaya kepada orang lain.
D. Analisis Kasus
Dalam analisis kasus Stan yang ditinjau dari pendekatan konseling
psikoanalisa dapat digambarkan bahwa perilaku yang dimunculkan Stan
terkait dengan psikodinamika tak sadar atau alam ketidaksadaran yang
mempengaruhinya, untuk itu dalam terapi psikodinamika harus terfokus pada
hal tersebut. Perspektif tersebut mengansumsikan adanya pengalaman yang
direpresi ke alam tak sadar dalam diri seseorang.
Pengalaman yang membuat kecemasan Stan

menyebabkan Stan

melakukan banyak represi untuk mengurangi ketegangan dalam dirinya. Dari


sini terlihat dimana Stan merasa takut dengan orang pada umumnya terutama
pada wanita. Ia takut akan dihakimi dan dianggap tidak kompeten atau tidak
memenuhi harapan masyarakat yang menganggap laki-laki sebagai sosok
yang kuat, tegar dan sempurna. Ia juga takut wanita akan merusaknya.
Kasus perceraian ia dengan istrinya juga penyebabnya ialah ketika dia
berhubungan seks ia impoten, sehingga menjadikan istrinya menganggapnya
lemah dan istrinya puas ketika merendahkan dirinya yang notabene istrinya
sangat atraktif. Impoten yang ia rasakan dasarnya ialah pengalaman yang ia
generalisasikan dimana semua wanita sama seperti ibunya yang sangat
dominan, atraktif dan terus menerus merendahkan ayahnya. Pengalaman yang
ia peroleh ketika ia masih kecil inilah yang menstimulasi Stan menikahi
seorang wanita yang ia mirip-miripkan dengan ibunya sehingga muncul
perasaan impoten pada dirinya. Disamping itu gagalnya identifikasi peran
gender yang seharusnya Stan dapatkan dari sosok ayah juga ikut andil dalam
munculnya perasaan impoten tersebut. Perasaan impoten tersebut merupakan
akibat dari kecemasan yang neurotik yang tidak disadari ketika masa kanakkanak karena takut akan penghukuman yang diberikan. Selain tidak ada
perbincangan tentang seks di dalam kehidupan keluarganya, ia juga dengan
susah payah mengendalikan dorongan seksualnya ketika masih kecil, karena
apabila keluar akan mendapat kesulitan. Seorang anak laki-laki yang

mempunyai ketertarikan kepada ibunya dibanding kepada ayahnya, sering


menahan dorongan seksual yang ia alami kepada ibunya karena tidak sesuai
dengan norma yang berlaku selain itu, ibunya yang sangat dominan
membuatnya lebih keras menahan dorongan tersebut.
Dalam masalah tersebut Id yang mendominasi struktur kepribadian Stan
sehingga menyebabkan ia melakukan mekanisme pertahanan ego represi
untuk mengurangi ketegangan dorongan seksual yang belum terpuaskan. Dan
Super Ego dengan kokoh menetapkan standar norma bahwa seorang laki-laki
harus tegas, dan dapat diandalkan serta sebagai sosok yang sempurna.
Hasrat ingin dicintai dan diterima kehadirannya oleh orang lain sangat
tinggi mengingat pengalaman masa kecilnya yang membuatnya merasa
terbuang dan terabaikan. Ia tidak diinginkan kehadirannya oleh orang tuanya
dan selalu dibandingkan dengan kedua kakaknya dan satu adiknya membuat
ego idealnya berkembang bahwa jika ingin dicintai ia harus menjadi seorang
yang sempurna dalam melakukan sesuatu. Standar yang ditetapkan olehnya
lah membuat dirinya selalu merasa bersalah dan depresi serta mengalami
kecemasan. Ego yang melihat realitas bahwa apa yang dilakukannya tidak
pernah berhasil sedangkan superego menuntut tercapainya standar yang
ditetapkan disamping itu Id juga mendorong untuk mencapai kesenangan
dengan diterima dan dicintai dirinya sama seperti yang lain sehingga dia
dapat melakukan apapun yang bermuara pada kepuasan serta dorongan ingin
melakukan penyerangan/agresi kepada orang yang membuatnya terluka.
Konflik antara Id dan Superego inilah yang memaksa ego melakukan
fiksasi (lebih spesifik fiksasi oral) dimana Stan tidak bisa mengungkapkan
kemarahan dan tidak bisa melanggar standar moral menyebabkan ia menyiksa
diri sendiri dengan menggunakan obat-obatan ketika sekolah menengah,
pecandu alkhohol hingga sekarang. Karena perilakunya tersebut membuat
dirinya dimata keluarga semakin tak berguna dan tidak diterima kehadirannya
dalam keluarga. Perasaan terabaikan dari kecil menyebabkan dirinya rendah
diri, dan tidak mempunyai banyak teman (hubungan sosial buruk), sehingga
ia selalu merasa bersalah dan menganggap dirinya tidak berharga (kecemasan
moralistik). Bisa kita lihat hingga usia 25 tahun Stan masih tidak mempunyai

kepercayaan terhadap dirinya bahkan orang lain dan selalu menganggap


dirinya merasa bersalah jika tidak sempurna dalam melakukan sesuatu. Hal
tersebut menguatkan bahwa pembentukan hati nurani (belajar karena adanya
hukuman) yang tidak menyediakan suatu konsep ego ideal yang baik
menyebabkan ia sangat rendah diri dan sering depresi serta sangat menginkan
bunuh diri untuk menyelesaikan kecemasan/kesakitan yang dialaminya
(terlihat dorongan Id yang sangat ditolak superego).
E. Arah dan Tujuan Konseling
Dari deskripsi analisis kasus singkat diatas dapat ditarik benang merah
bahwa kecemasan yang dialami oleh Stan merupakan kecemasan yang tidak
realistik. Hal tersebut diperolehnya dari pengalaman masa lalu yang
diperolehnya yang karena sangat menyakitkan bagi dirinya kemudian dia
represi ke alam ketaksadaran. Namun karena sangat menyakitkan, dan Id
membutuhkan dorongan untuk melakukan agresi hingga menembus beberapa
sensor di ambang ketidaksadaran membuat Stan melakukan mekanisme
pertahanan displacement untuk menduplikasi dorongan id dengan bertindak
destruktif terhadap dirinya sendiri.
Kemudian arah tujuan konseling ialah mengoptimalkan fungsi ego
dengan menghadirkan pengalaman masa lalu yang buruk yang berada di alam
ketaksadaran untuk hadir di alam sadar dan dapat diselesaikan secara rasional.
Metode yang bisa digunakan ialah analisis transferensi, dimana proses
pemindahan emosi-emosi yang terpendam atau direpresi sejak awal masa
kanak-kanak oleh klien kepada terapis. Hal tersebut sangat sesuai mengingat
Stan yang memiliki pengalaman buruk dengan wanita yang ada dalam
hidupnya memilih konselor wanita. Sehingga diharapkan proses tersebut akan
terjadi secara alamiah dan Stan dapat secara sadar mengendalikan tuntutantuntutan yang tidak realistis dari Id maupun Superego.
Sehingga pada akhirnya, konselor berharap bahwa Stan akan melupakan
masa lalu yang berhubungan dengan kejadian yang traumatik. Konselor juga
berharap Stan yang dulu menilai dirinya penuh dengan ketidak mampuan
menjadi Stan yang berhasil dengan menggunakan bakat-bakatnya. Stan
berharap dapat memperoleh ketenangan dan kenyamanan dalam dirinya

dengan menyeimbangkan id dan egonya, yakni bisa meraih harapan yang ia


ingin lakukan dari hidupnya.