Anda di halaman 1dari 11

BAB II

PEMBAHASAN
A. Persalinan Prematur dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Persalinan ibu hamil secara normal pada usia kehamilan antara 37 sampai 42
minggu (259-293 hari) disebut usia kehamilan aterm. Usia kehamilan lebih dari 42
minggu (294 hari) disebut postterm. Persalinan prematur adalah persalinan pada
usia kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari) atau usia kehamilan preterm. Bayi
prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu
(preterm). Bayi yang lahir prematur berat badan lahir rendah (BBLR), tumbuh
kembang organ vital terhambat, belum mampu untuk hidup di luar kandungan, dan
mortalitas perinatal rate tinggi (65-75%). Sepertiga persalinan prematur disebabkan
ketuban pecah dini (KPD), komplikasi kehamilan yang meliputi kehamilan multi
janin, hidramnion, inkompetensi serviks, plasenta lepas secara prematur dan infeksi
seperti polinefritis dan korioamnionitis. Namun 50% etiologi kelahiran prematur tidak
diketahui. Faktor risiko prematur adalah faktor iatrogenik atas indikasi medis pada
ibu dan janin, faktor maternal (umur ibu, paritas ibu, trauma, riwayat premature
sebelumnya, plasenta previa dan inkompetensi serviks), infeksi intra amnion,
hidramnion, faktor janin (gemelli, IUFD, kelaianan congenital) dan faktor perilaku
(merokok dan minum alkohol, NAPZA).
BBLR adalah bayi yang baru lahir dengan berat badan saat lahir lebih kecil
2500 gr, yang terbagi menjadi dua golongan yaitu prematuritas murni (bayi dengan
kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai kehamilan, sering disebut
neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan/NKB-SMK) dan dismaturitas
(neonatus dengan kehamilan kurang bulan dan berat badan kurang dari berat
badan seharusnya untuk kehamilan: NKB-KMK, neonatus cukup bulan dengan
berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk kehamilan: NCB-KMK,
neonatus lebih bulan dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya
untuk kehamilan sesuai masa kehamilan: NLB-KMK).
Prevalensi BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan
batasan 3,3% - 38% dan lebih sering terjadi di negara berkembang dan angka
kematiannya 35% kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat badan lahir
normal. Dari 17 juta BBLR setiap tahunnya, 16% diantaranya lahir di negara
berkembang, dimana sekitar 80% di Asia. Di Indonesia, BBLR masih merupakan
penyebab utama tingginya AKB, khususnya pada masa perinatal dengan angka
kejadian sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain. Berdasarkan
SDKI 2007, Angka Kematian Bayi 34/1000 kelahiran hidup dengan penyebab
kematian BBLR 12,8%. Target MDGs sampai tahun 2015 mengurangi angka
kematian bayi dan balita sebesar dua pertiga dari tahun 1990 yaitu sebesar 20 per
1000 kelahiran hidup. Saat ini angka kematian bayi masih tinggi yaitu sebesar 67
per 1000 kelahiran hidup.

BBLR juga berdampak serius terhadap kualitas generasi mendatang, karena


terjadi penurunan kecerdasan (IQ), dan memperlambat pertumbuhan dan
perkembangan mental anak.
Penyebab terjadinya BBLR secara umum bersifat multifaktorial, sehingga
kadang mengalami kesulitan untuk melakukan pencegahan. Faktor yang berkaitan
dengan ibu adalah umur ibu, umur kehamilan, paritas, berat badan dan tinggi
badan, status gizi, anemia, kebiasaan minum alkohol dan merokok dan penyakit
waktu hamil (anemia, perdarahan), jarak kehamilan, kehamilan kembar, riwayat
keguguran. Faktor pada janin meliputi kehamilan kembar dan kelainan kongenital.
Faktor pada bayi, seperti jenis kelamin dan ras. Serta faktor lingkungan yaitu
pendidikan dan pengetahuan ibu, pekerjaan dan status sosial ekonomi dan budaya,
serta faktor pelayanan kesehatan yaitu pemeriksaan selama kehamilan (ANC).
B. Faktor Determinan Kesehatan Ibu dan Anak
Determinan dan faktor penentu kematian ibu dikelompokkan dalam
determinan proksi/dekat, determinan antara dan determinan kontekstual/jauh.
Determinan proksi/dekat dipengaruhi oleh determinan antar lain, kejadian
kehamilan, komplikasi kehamilan dan persalinan. Kedua adalah determinan antara
dipengaruhi oleh determinan kontekstual meliputi status kesehatan, status
reproduksi dan akses terhadap pelayanan kesehatan, perilaku sehat serta faktorfaktor yang tidak diketahui atau tidak terduga misalnya kontraksi uterus yang
adekuat, ketuban pecah dini dan persalinan macet. Yang ketiga adalah determinan
kontekstual atau jauh (sosial, ekonomi, budaya) meliputi status perempuan dalam
keluarga dan masyarakat, status keluarga dalam masyarakat, dan status
masyarakat.
1. Status gizi ibu hamil
Ibu hamil memerlukan makanan zat gizi yang jauh lebih banyak, karena ada
janin dalam kandungannya yang memerlukan makanan bergizi cukup dan
seimbang untuk pertumbuhan. Keadaan gizi ibu hamil berhubungan erat dengan
Berat Badan Lahir Rendah pada bayinya. Apabila keadaan gizi ibu hamil kurang
maka besar kemungkinan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dan
konsekuensinya 17 kali lebih tinggi meninggal dibanding bayi lahir normal. Ibu
hamil cukup bulan secara normal akan mengalami kenaikan berat badan
sebesar 9 kg. Tiap bulannya pada kehamilan 10 minggu, naik 1-2 kg perbulan.
Penilaian status gizi iIbu hamil dapat dilakukan secara klinis, biokimia,
biofasik dan pengukuran antropometri. Penilaian secara klinis sangat penting
karena dapat memberikan gambaran masalah gizi secara nyata. Penilaian
biokimia dengan melakukan pemeriksaan Hb untuk mengetahui anemia
defisiensi

besi

pada

ibu

hamil.

Penilaian

biofasik

dengan

melakukan

pemeriksaan fisik berdasar gejala dan tanda-tanda kurang gizi yang ditemukan.
Penilaian antropomerti dengan pengukuran berat badan, tinggi badan dan
Lingkar Lengan Atas (LLA) pada ibu hamil.

Status gizi ibu hamil yang buruk akibat kurang energi protein kronis dan
defisiensi nutrisi menyebabkan persalinan prematur dan Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR). Status gizi ibu hamil buruk disebabkan:
a. Mitos pantangan makanan dan minuman tertentu karena terdapat ancaman
bahaya terhadap yang melanggarnya. Ada kekuatan mistik yang akan
menghukum orang-orang yang melanggar pantangan atau tabu tersebut.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa pantangan ibu hamil merupakan
faktor risiko terhadap BBLR. Untuk mencegahnya, dibedakan pantangan yang
berdasar agama dan tidak berdasar agama. Pantangan yang belum menjadi
keyakinan agama atau kepercayaan yang merugikan, agar diusahakan untuk
dikurangi, bahkan dihapuskan. Pantangan yang menguntungkan kondisi
kesehatan ibu hamil, sebaiknya diperkuat dan dilestarikan. Sedangkan
pantangan yang tidak ada pengaruhnya agar dibiarkan saja.
b. Kebiasaan yang menjadi kepercayaan dan budaya setempat, menjadi faktor
determinan kesehatan ibu hamil dan bayi dalam kandungannya. Suku Asmat,
Papua mempunyai adat bahwa isteri melayani suami, mencari makan dan
memelihara anak, meskipun dalam keadaan hamil. Hal ini merugikan kondisi
gizi dan kesehatan ibu hamil, akhirnya berdampak dampak BBLR. Kebiasaan
minum jamu juga merupakan salah satu kebiasaan yang berisiko bagi ibu
hamil dan janin, terutama pada trimester pertama kehamilan. Jamu dari herbal
maupun bahan lain yang tidak teregistrasi BPOM tidak aman bagi ibu hamil
dapat menyebabkan terjadinya toksemia gravidarum, gagal organ jantung dan
ginjal, syok dan abortus. Sedangkan bagi janin, dapat membahayakan tumbuh
kembang, menimbulkan kecacatan, BBLR, prematur, kelainan organ, asfiksia
neonatorum dan sampai keamtian janin dalam kandungan. Kebiasaan minum
jamu pada ibu hamil mempunyai risiko 1,28 kali melahirkan dengan BBLR.
Jamu yang diperbolehkan dan dibenarkan dengan persyaratan bahwa zat-zat
atau bahan yang dipergunakan sudah terbukti efektif dan bermanfaat serta
tidak membahayakan kehamilan. Dan juga sudah teregistrasi oleh BPOM.
Pantangan ibu hamil tidak boleh melakukan hubungan sex selama kehamilan.
Hubungan seksual suami isteri bergantung kepada kondisi ibu hamil, karena
tidak mengganggu pertumbuhan bayi.
c. Kehamilan tidak diinginkan (KTD) dengan berbagai sebab
Kehamilan tidak diinginkan (KTD) adalah suatu kondisi pasangan yang tidak
menghendaki adanya kehamilan yang merupakan suatu akibat dari perilaku
seksual baik secara sengaja maupun tidak sengaja (Nurjanah, 2011).
Pregnancy Risk Assesment Monitoring System (PRAM) di Maryland,
mendefinisikan KTD adalah kehamilan yang tidak tepat pada waktunya atau
tidak diinginkan kehadirannya oleh pasangan. KTD biasanya dialami oleh
remaja yang belum menikah, pasangan suami isteri dikarenakan kegagalan
alat kontrasepsi atau belum siap, penolakan jenis kelamin bayi, atau akibat
pemerkosaan. KTD mempunyai risiko 3,8 kali melahirkan anak BBLR.

2. Penggunaan zat berbahaya (alkohol, obat dan napza, rokok)


Alkohol,

rokok dan

narkotika

adalah

zat teratogenik

yang

bisa

menyebabkan kelainan kongenital bayi yang lahir, pertumbuhan janin


terlambat, retardasi mental, kecacatan dan karsinoma. Ibu hamil, terutama
pada trimester pertama yang konsumsi alkohol minimal 28,5 ml per har terjadi
efek tidak normal dan bisa terjadi abortus. Alkohol yang dikonsumsi ibu hamil
dapat membahayakan jantung ibu hamil dan merusak janin, termasuk
menimbulkan kecacatan dan kelainan pada janin dan menyebabkan kelahiran
prematur.
Pengaruh obat terhadap janin tidak hanya tergantung dari macam obat,
tetapi juga pada saat obat tersebut diberikan. Hampir semua obat yang
diberikan pada wanita hamil dapat melalui plasenta dan mencapai janin dan
beberapa diantaranya dapat mengganggu pertumbuhan janin. Beberapa jenis
obat antibiotik dan penghilang rasa nyeri memiliki efek gangguan pada janin.
Obat

kemoterapi

umumnya

bersifat

teratogenik.

Obat-obatan

yang

menimbulkan efek seperti narkotik dan obat psikotropika bila dikonsumsi


dalam dosis besar, dapat menimbulkan efek serupa dengan efek alkohol
pada janin. Obat terlarang, seperti ganja, morfin, heroin, pethidin, jenis
barbiturat sangat mempengaruhi ibu maupun janinnya, terutama pada masa
konsepsi dan trimester 1 kehamilan, karena tahap ini merupakan tahap
organogenesis atau pembentukan organ. Wanita hamil yang mengkonsumsi
obat terlarang tersebut akan mengalami gangguan ketergantungan obat dan
janinnya akan mengalami cacat fisik, kelahiran prematur dan BBLR serta
cacat mental dan sosial.
Masalah rokok menjadi perhatian semua negara karena kecenderungan
negatif situasi saat ini, yakni perokok aktif usia makin muda, semakin banyak
wanita dan kecenderungan peningkatan di negara sedang berkembang. Dan
akibat yang ditimbulkan pada perokok aktif dan pasif dari kandungan rokok
yang mengandung zat karsinogen, dan ribuan zat lainnya pada asap rokok
yang mengandung komponen gas: karbon monooksida, hydrogen, sianida
amoniak, oksida dari nitrogen dan senyawa hidrokarbon, serta komponen
partikel terdiri dari tar, nikotin, benzopiren, fenol dan kadmiun terjadinya
penyakit kanker paru-paru, pankreas, leher rahim, ureter dan ginjal. Banyak
literatur membuktikan kaitan antara rokok dengan terjadinya BBLR. Hasil
penelitian EPA, 30 wanita dengan suami perokok, 24 diantaranya berisiko
tinggi terserang kanker paru-paru. Penelitian FK. Universitas New York,
wanita perokok lebih dari 10 batang per hari memiliki peluang memasuki
menopause dini 40% lebih besar dibanding wanita yang tidak merokok. Dan
bayi dan anak-anak yang hidup di sekitar perokok lebih muda terkena flu,
batuk, infeksi telinga, penyakit bronchitis dan pneumonia.
Merokok adalah perilaku berisiko yang berdampak buruk terhadap
kehamilan, berpengaruh terhadap ibu, janin dan bayi baru lahir. Asap rokok

berdampak pada pertumbuhan janin melalui beberapa mekanisme, beberapa


bahan dalam asap rokok misalnya nikotin, CO dan Polycyclic aromatic
hydrocarbons, diketahui dapat menembus plasenta. Zat karsinogen pada
rokok (cadmium, cotinin, dan benzo a pyrene) dapat menyebabkan
kerusakan DNA atau kromosom. Transmisi zat karsinogen ini dapat
menyebabkan kegagalan implantasi, kelahiran prematur dan gangguan
perkembangan postnatal. Ibu hamil yang merokok selama kehamilan
berpengaruh terhadap terjadinya BBLR, selain abortus dan SIDS (sudden
infant death syndrome). Nikotin berpengaruh terhadap spermatogenesis atau
terjadinya pembelahan sperma pada pria. Dampak dari suami perokok,
pembelahan sel-sel akan mengalami gangguan karena nikotin yang masuk
ke dalam darah, sehingga menghambat pertumbuhan janin. Akibatnya akan
terjadi keguguran, bayi lahir cacat, hidung pipih atau BBLR.
3. Olahraga selama kehamilan
Olahraga merupakan salah satu faktor penting agar ibu hamil sehat dan
nyaman. Manfaat olahraga selama kehamilan yaitu meningkatkan stamina
dan kebugaran (jantung dan paru) ibu hamil, akan meningkatkan kehamilan
persalinan normal melalui vagina. Ibu hamil mampu mengejan lebih lama.
Selain itu juga mempercepat kembali ke bentuk badan semula setelah
persalinan. Jenis olahraga yang aman bagi ibu hamil anatara lain: jalan kaki,
renang, senam hamil, sepeda statis dan yoga.
4. Komplikasi kehamilan
Dampak komplikasi kehamilan adalah abortus, intra uterin fetal death
(IUFD), anemia berat, infeksi transplasenta, partus prematur, dismaturitas,
syok, perdarahan, serta bayi asfiksia neonatarum dan BBLR, yang
menyebabkan kematian ibu hamil dan bayi.
Ada 2 klasifikasi dasar penyakit/komplikasi selama kehamilan:
a. Penyakit/komplikasi akibat langsung kehamilan: hiperemesis gravidarum,
pre eklampsi dan eklampsi, kelainan lamanya persalinan, kehamilan
ektopik terganggu, kelainan plasenta atau selaput janin, perdarahan
antepartum dan gemelli.
b. Penyakit/komplikasi yang tidak berhubungan dengan kehamilan: penyakit
alat kandungan, seperti varices vulva, kongenital, oedema vulva,
hematoma vulva, gonore, bartholinitis, trikomonas vaginalis, kista vagina,
kelainan letak uterus, kista dan mioma uteri. Penyakit kardiovaskuler,
seperti penyakit jantung, hipertensi, stenosis aorta, mitral isufiensi, jantung
rematik, endokarditis. Penyakit darah, seperti anemia dalam kehamilan,
leukimia, hemostatis dan kelainan pembekuan darah, trombositopeni.
Penyakit saluran napas, seperti influensa, bronchitis, pneumonia, asma
bronkial,

TB

Paru.

Penyakit

saluran

pencernaan,

seperti

hernia

diafragmatika, gastritis, ileus. Penyakit hepar dan pancreas, seperti


hepatitis, sirosis hepar, ikterus atrofi hepar, pancreatitis. Penyakit ginjal

dan saluran kemih, seperti ISK, sistitis, pielonefritis, glomerulonephritis.


Penyakit endokrin, seperti diabetes dalam kehamilan, kelainan kelenjar
gondok dan hipofisis. Penyakit saraf, seperti epilepsi, tumor otak,
miastenia gravis. Penyakit menular, seperti IMS, AIDS, kondiloma
akuminata, tifus, dan tetanus.
5. Mekanisme seluler dan molekuler BBLR
Saat ini ilmu genetika dasar semakin berkembang, khususnya penerapan
genetika molekular untuk memahami penyakit yang diturunkan. Cakupan
genetik molekuler meluas dari struktur gen hingga produk-produknya dalam
sel. Proses patofisiologis yang terjadi secara seluler dan molekuler dalam
terhambatnya pertumbuhan janin masih belum diketahui dengan jelas.
Namun banyak studi yang menggambarkan faktor genetik yang berpengaruh
secara signifikan terhadap berat janin. Polimorphism dari cytochrome P450
1A1 (gen CYP1A1) dan GSTT1 ditemukan berhubungan dengan BBLR pada
wanita yang merokok. Terdapat interaksi metabolisme gen dan faktor
lingkungan.

Selama

beberapa

tahun

terakhir

Cytochrome

P4502A6

(CYP2A6;coumarin 7-hydroxylase) telah mendapat perhatian cukup besar


sebab telah ditemukannya prinsip-prinsip C-oxydase nikotin pada manusia.
Enzim ini mengaktifasi prekarsinogen yang tidak berhubungan secara
struktural meliputi nitrosamine dan aflatoksin B1, metabolisme penggunaan
obat yang digunakan secara pasti. Hal ini menggema karena variasi antar
individu dan antar etnik terhadap tingkat dan aktivitas CYP2A6, dan banyak
hal menjadi bukti polymorphisme gen CYP2A6,

dimana beberapa mutasi

seperti delesi gen telah dijelaskan. Frekuensi inaktivasi alela yang rendah
pada populasi Eropa dan metabolisme yang sangat rendah terhadap obat
coumarin telah digambarkan pada populasi tersebut. Sebaliknya frekuensi
alela yang relatif tinggi (15-20%) dari delesi gen CYP2A6 telah ditemukan
pada orang Asia, hasilnya secara umum mereduksi aktivitas pada populasi
tersebut. Sebab CYP2A6 sangat penting dalam metabolisme nikotin.
6. Determinan epidemiologi prematur
Secara umum faktor risiko penyebab kejadian kelahiran prematur antara
lain faktor idiopatik, iatrogenik, sosial, demografik, faktor maternal dan janin,
infeksi dan genetik. Faktor psikososial adalah kecemasan, depresi, stress,
respon

emosional,

support

sosial,

pekerjaan,

perilaku

minum

kopi,

keterpaparan asap rokok dan aktivitas sosial. Dalam studi epidemiologik,


wanita hamil dengan kafein aktif dalam tubuh hingga 11 jam, tetapi pada janin
selama 100 jam.
7. Pola-pola kematian anak.
Anak-anak dalam rumah tangga termiskin umumnya memiliki angka
kematian balita lebih dari dua kali lipat dari angka kematian balita di kelompok
kuantil paling sejahtera. Angka kematian anak di daerah-daerah miskin di
pinggiran perkotaan jauh lebih tinggi daripada rata-rata angka kematian anak

di perkotaan. Anak-anak dari ibu yang kurang pendidikan umumnya memiliki


angka kematian yang lebih tinggi daripada mereka yang lahir dari ibu yang
lebih berpendidikan.
C. Sintesa Determinan BBLR
Ada korelasi yang positif antara kelahiran prematur dan BBLR dengan status
sosial ekonomi yang rendah. Insiden lebih tinggi pada kasus-kasus dengan ibu
hamil kurang gizi, anemia, perawatan pranatal yang tidak adekuat, adiksi obat,
komplikasi obstetrik, insufisiensi reproduksi ibu. Faktor-faktor terkait lain seperti
keluarga dengan orang tua tunggal, kehamilan umur belasan tahun, jarak waktu
kehamilan yang dekat, ibu telah melahirkan sebelumnya lebih dari 4 anak, urutan
kelahiran, berat badan saudara-saudara kandung, ibu hamil perokok aktif dan pasif,
tinggi dan berat badan ibu hamil, pemeriksaan ANC, variasi genetik CYP2A6.
Sedangkan pendidikan ibu hamil dan jenis kelamin bayi tidak berpengaruh
terhadap kejadian BBLR.
Dampak lain yang ditimbulkan akibat faktor determinan sosial ekonomi
rendah, selain meningkatnya BBLR, juga terjadi diet tidak sehat sehingga timbul
obesitas, kebiasaan merokok dan stress, akhirnya menimbulkan penyakit jantung
koroner.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian BBLR, bisa digambarkan
sebagai berikut: penyebab dasar/tidak langsung BBLR adalah sumberdaya
manusia, faktor ekonomi dan organisasi yang berakibat pendidikan kurang, dan
pola asuh tidak memadai pada pra hamil dan selama hamil. Sehingga akses pada
makanan dan pelayanan kesehatan serta lingkungan tidak memadai. Yang
berakibat asupan gizi tidak adekuat dan terjadinya penyakit infeksi (sebab
langsung)

sehingga

berakibat

terjadinya

BBLR.

Bayi

berat

lahir

rendah

pertumbuhannya terganggu, IQ rendah (turun 10-13 poin), dan kematian bayi. Jika
hidup bisa terjadi stroke, hipertensi, DM type 2, respiratory distress syndrome
(RDS), gangguan fungsi pendengaran, retardasi mental dan cerebral palsy.
D. Pencegahan dan Penanganan Persalinan Prematur dan BBLR
Pencegahan kelahiran bayi prematur dilakukan secara primer, sekunder dan
tersier. Pencegahan primer, yaitu meningkatkan ANC (pemeriksaan kehamilan) dan
gizi ibu hamil serta melakukan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) dan KB.
Pencegahan sekunder dengan pembatasan aktivitas (kerja, perjalanan dan coitus)
dan stress pada ibu hamil dengan riwayat persalinan prematur dan hamil kembar.
Melakukan pemeriksaan USG dan amniosintesis. Pencegahan tersier adalah upaya
untuk menghentikan kelahiran bati prematur, dengan mempertahankan kehamilan
sampai cukup bulan dan mengurangi lama waktu perawatan intensif pada bayi.
Penanganan bayi prematur dengan mempertahankan suhu, mencegah
terjadinya infeksi sekunder dan pemberian nutrisi dan ASI, serta penimbangan.
Penanganan BBLR sama dengan penanganan bayi prematur.

E. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak


Bayi sebelum kelahiran, mengalami pertumbuhan dan perkembangan
somatik, yang terbagi atas masa embrional, masa janin, perkembangan neurologis,
dan perilaku. Masa embrional dalam usia 6 hari setelah pembuahan sampai minggu
ke-8, sistem-sistem organ besar yang belum sempurna telah berkembang, dengan
rata-rata berat embrio 9 gram dan panjang 5 cm. Masa janin dimulai minggu ke-9
terjadi perubahan sel dan proporsi tubuh, pada minggu ke-10 wajah dapat dikenali
sebagai manusia, minggu ke-12 gender genitalia eksterna dapat dibedakan, dan
minggu ke-20 terbentuk alveoli primitive yang memproduksi surfaktan. Pada akhir
trimester kedua kehamilan terjadi pertambahan puncak berat janin. Selama trimester
ke-3 berat menjadi 3 kali lipat dan panjang 2 kali lipat. Perkembangan neurologis
selama minggu ke-3 dengan terbentuk lempengan neural pada permukaan
ektodermal dan tiga lapisan embrio dan lanjut mielinisasi sampai usia 2 tahun.
Perkembangan perilaku janin, selama trimester ke-3 tampak jelas. Yakni gerakan
mata dan variasi frekuensi jantung (pasif), lalu gerakan mata terus menerus dengan
ledakan aktivitas tubuh dan percepatan frekuensi jantung, kemudian gerakan mata
dan tubuh terus menerus dengan jantung takikardia. Pada BBLR karena prematur,
retardasi pertumbuhan intrauterin terjadi gangguan proses pertumbuhan dan
perkembangan tersebut di atas.
Mengetahui perubahan sel tunggal menjadi bayi, perkembangan perilaku dan
psikologi pada janin dan orang tua sangat penting. Pertumbuhan anak (bertambah
besar dalam aspek fisik) dapat dengan pemeriksaan kesehatan medis (medical
health examination) dan pemeriksaan kesehatan perkembangan (development
health examination).
Masa pertumbuhan sebelum dewasa terbagi dalam masa prenatal (0-280
hari), masa neonatal (0-4 minggu sesudah lahir), masa bayi (1-2 tahun), masa
prasekolah (2-6 tahun), masa sekolah (wanita: 6-10 tahun;pria: 6-12 tahun) dan
masa adolesensi (wanita 10-18 tahun; pria: 12-20 tahun).
Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi beberapa faktor yaitu
heredokonstusionil dan lingkungan. Faktor heredokonstusionil yaitu jenis kelamin,
rasa tau bangsa, keluarga dan umur. Faktor lingkungan pada prenatal yaitu gizi
(defisiensi vitamin, iodium), mekanis (amniotik, KET, trauma, oligohidroamnion),
toksin kimia (obat PTU, aminopterin, obat kontrasepsi), gangguan endokrin
(penyakit DM pada ibu, hormonal, usia tua), radiasi (sinar rontgen, radium), infeksi
TORCH, kelainan imunitas (eritroblastosis fetalis, kernikterus) dan gangguan fungsi
plasenta (anoreksia embrio).

Pada pascanatal yaitu gizi yang tidak seimbang,

penyakit kronis dan kelainan kongenital, keadaan sosial ekonomi dan pendidikan,
musim, pengawasan medis, sanitasi, dan faktor psikologis.
Pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal dengan melakukan
deteksi dini tumbuh kembang anak dan memenuhi kebutuhan dasar anak yaitu
kebutuhan fisik biomedis (ASUH) yang meliputi pemberian gizi seimbang dengan

pengolahan dan penyimpanan makanan yang baik,

imunisasi, pemberian ASI

eksklusif dan makanan pendamping ASI (MP-ASI), penimbangan dan pengobatan


anak jika sakit, perumahan sehat, hygiene perorangan, sanitasi lingkungan,
sandang, kesegaran jasmani dan rohani. Dan kebutuhan emosi/kasih sayang
(ASIH), serta kebutuhan stimulasi mental (ASAH).
F. Analisis Kematian Bayi
1. Kekuatan
a.

Kebijakan umum pembangunan kesehatan nasional, upaya penurunan


angka kematian bayi dan balita merupakan bagian penting dalam Program
Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) yang dijabarkan dalam visi anak
Indonesia 2015 untuk menuju anak Indonesia yang sehat.

b.

Regulasi: Propenas 2000-2014, upaya penurunan angka kematian bayi dan


balita merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan kesehatan dan
UU nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, kesempatan anak
untuk hidup sehat, tumbuh, dan berkembang secara optimal menjadi
semakin terbuka.

c.

Program jaring pengaman sosial bidang kesehatan: Jaminan Kesehatan


Nasional (JKN) berupa pelayanan kesehatan dasar dan rujukan gratis bagi
ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi untuk keluarga miskin, serta
bantuan pembangunan saran kesehatan.

2. Kelemahan
a. Masih tingginya kematian ibu akibat persalinan atau kelahiran
b. Negara sedang berkembang
3. Peluang
a. Manfaat ASI eksklusif
b. Kebijakan umum pembangunan kesehatan nasional, upaya penurunan angka
kematian bayi dan balita merupakan bagian penting dalam Program Nasional
Bagi Anak Indonesia (PNBAI) yang dijabarkan dalam visi anak Indonesia
2015 untuk menuju anak Indonesia yang sehat.
4. Ancaman
a. Masih tingginya Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), komplikasi
perinatal dan diare.
b. Faktor ibu: masa kehamilan yang rentan (ANC, infeksi ibu hamil, gizi ibu
hamil, karakteristik ibu hamil), persalinan (partus macet/lama, pertolongan
nakes)
c. Faktor janin: BBLR, asfiksia, pneumonia, diare, tetanus
d. Ketersediaan dan akses sarana pelayanan kesehatan, seperti RS
e. Asupan gizi yang kurang
f. Pencemaran lingkungan
g. Faktor sosio-ekonomi
h. Tenaga kesehatan yang kurang memadai jumlah dan mutunya

G. Hambatan KIA
1. Belum adanya kesamaan persepsi antara pemerintah pusat dan daerah, dan
stakeholder yang menangani permasalah AKI di Indonesia.
2. Belum adanya komitmen dari pemerintah pusat dan daerah untuk menjalankan
amanat Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan untuk
mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar 5% APBN dan 10% APBD di luar
gaji.
3. Dari anggaran kesehatan yang ada, hamper semua daerah tidak memiliki alokasi
khusus untuk penanganan masalah kematian ibu.
4. Belum ada semangat memberikan pelayanan kesehatan reproduksi sebagai
upaya mencegah terjadinya kematian ibu.
5. Implementasi dan monitoring pelaksanaan kebijakan untuk mengurangi AKI
masih sangat kurang maksimal.
6. Kebutuhan alat kontrasepsi masih belum dapat dipenuhi serta angka unmet
need masih cukup tinggi.
7. Kurangnya sosialisasi dan melibatkan masyarakat terhadap upaya penurunan
AKI, khususnya di daerah terpencil.
8. Belum meratanya fasilitas kesehatan di daerah terpencil, sekalipun ada fasilitas
kesehatan tidak selalu memiliki tenaga kesehatan yang memadai.
9. Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pencegahan
AKI, ditambah sebagian besar daerah terpencil masih mengalami masalah
kelaparan dan kurang gizi.
H. Solusi Menekan Laju Kematian Bayi dan Ibu
Secara konseptual, masalah kesehatan Ibu dan anak di Indonesia sangat
rumit, selain terdiri dari berbagai penyebab masalah yang saling berinteraksi serta
faktor penentu masalah kesehatan yang berbeda-beda pada setiap unit sosial baik
perorangan, pada keluarga, maupun masyarakat. Adanya kesenjangan dalam faktor
penentu sosial pada kesehatan seperti tingkat pendidikan, pendapatan, gender,
kesulitan medan geografis, tersedianya air bersih, kebersihan dan kesehatan
lingkungan.
Sumber daya manusia tenaga kesehatan yang terkait dengan pelayanan ibu,
selain belum merata distribusinya, kompetensi belum seperti yang diharapkan, juga
kerjasama antar SDM yang terkait belum terkoordinir dengan baik.
Dari segi pembiayaaan, proporsi anggaran kesehatan pemerintah maupun
pemerintah daerah masih jauh dari alokasi yang diamanatkan dalam UndangUndang. Belanja kesehatan yang dikeluarkan pemerintah maupun masyarakat atau
subsidi lebih banyak dinikmati oleh orang kota dan mereka yang berpenghasilan
tinggi. RS kelas B dan A tersedia di kota besar, sehingga pembiayaan kesehatan
melalui BPJS, lebih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yang berpenghasilan
tinggi berada di kota-kota. Sedangkan masyarakat yang tinggal di desa dan miskin

berada pada posisi yang kurang menguntungkan untuk menikmati subsidi


pemerintah yang diberikan melalui pelayanan RS. Belanja program kesehatan yang
ada masih difokuskan untuk mengobati ketimbang mencegah. Alokasi terbesar
program kesehatan dalam lima tahun terakhir, untuk kesehatan yang sifatnya kuratf
seperti kesehatan perorangan, obat dan kesehatan masyarakat atau Puskesmas.
Sementara belanja-belanja kesehatan yang bersifat preventif masih belum
memadai.
Pemetaan fasilitas kesehatan berdasarkan kondisi geografis setempat belum
baik sehingga akses pelayanan kesehatan yang belum merata.
Sistem rujukan pelayanan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat
belum berjalan dengan baik.
Untuk itu solusi percepatan penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka
Kematian Bayi adalah kebijakan kesehatan KIA dengan fokus pada pembiayaan
(financing), regulasi dan kebijakan meningkatkan perilaku masyarakat. Dengan
pendekatan sistem kesehatan, yaitu suatu jaringan penyedia pelayanan kesehatan
(supply side) dan orang-orang yang menggunakan pelayanan tersebut (demand
side) di setiap wilayah, serta negara dan organisasi yang melahirkan sumber daya
tersebut, dalam bentuk manusia maupun dalam bentuk material agar mencakup
sektor-sektor lain seperti pertanian, dan lainnya. Yang selama ini belum memenuhi
keinginan masyarakat dan belum efisien/efektif penggunaan anggarannya dan
kecenderungan berpahaman pada rumah sakit, komersil dan terkotak-kotak menjadi
sistem kesehatan dengan paradigma sehat. Upaya promotif dan preventif menjadi
pilar utama upaya kesehatan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan untuk
mencapai kemampuan hidup sehat secara mandiri. Pemberdayaan masyarakat,
agar masyarakat sadar, mau dan mampu hidup sehat. Penguatan pada pelayanan
kesehatan dengan peningkatan akses, optimalisasi sistem rujukan dan peningkatan
mutu pelayanan. Penerapan pendekatan continuum of care (1000 hari pertama
kehidupan), dan intervensi berbasis risiko kesehatan (health risk). Pembiayaan
kesehatan dengan jaminan sosial universal coverage, dan kendali mutu dan biaya.