Anda di halaman 1dari 6

A.

Kesehatan Masyarakat dalam Kehidupan Sehari-hari


1. Orientasi bukan kesehatan
Berawal dari pembuangan limbah di rumah yang menimbulkan bau tidak enak,
kemudian dijauhkan dari rumah yaitu ke luar pemukiman untuk pembuangan
limbahnya.
2. Penggunaan air bersih di Indonesia
Persediaan air bersih di Jawa khususnya di Jakarta yang semakin berkurang dikarenakan
penduduk yang semakin padat dan pembangunan yang semakin banyak sehingga stok
air bersih di Jakarta semakin berkurang dan susah untuk mendapatkannya.
3. Mengenai tempat duduk (kursi)
Jaman dahulu pembuatan kursi tidak memperhatikan posisi postur tubuh si pengguna
kursi saat duduk maupun melihatnya dari sisi kesehatan sehingga banyak orang yang
tidak nyaman dalam duduk, jaman sekarang pembuatan kursi benar-benar
memperhatikan posisi nyaman (ergonomi) dan dari sisi kesehatannya.
B. Sejarah Kesehatan Masyarakat
Menurut cerita mitos Yunani, Asclepius (Asculapius) adalah orang yang pertama kali
berhasil mengobati penyakit, bahkan telah melakukan bedah menurut prosedur-prosedur
tertentu. Higeia, seorang asistennya (diceritakan kemudian sebagai istrinya), juga telah
melakukan upaya-upaya kesehatan. Tetapi berbeda dengan suaminya, ia melakukan upaya
pencegahan sebelum terjadinya penyakit (menu seimbang, menghindari makanan dan
minuman beracun, olah raga serta kebersihan diri). Apabila orang sudah jatuh sakit, Higeia
menganjurkan lebih baik memperkuat tubuhnya dengan makanan yang baik, dibandingkan
dengan pengobatan. Dari kedua tokoh itulah akhirnya muncul dan berkembang 2 ilmu
kesehatan yang berbeda, meskipun saling melengkapi, yakni:
Dari tokoh Asclepius berkembang ilmu kedokteran (pengobatan dan pemulihan atau
kuratif dan rehabilitatif)
Dari tokoh Hegiea berkembang ilmu kesehatan masyarakat (pencegahan dan
peningkatan atau preventif dan promotif)
1. Periode Sebelum Ilmu Pengetahuan
a) Zaman Romawi dan Yunani:
Ditemukan dokumen tertulis yang mengindikasikan:

Adanya upaya penanggulangan penyakit

Adanya peraturan tertulis tentang pemukiman, pembuangan air limbah dan


sistem drainase, air minum, pembuangan tinja, dan sebagainya, walaupun
bukan kerena alasan kesehatan, melainkan untuk estetika.

Adanya keharusan dari pemerintah kerajaan untuk peninjauanan warungwarung minuman (public bar), rumah makan, dan sebagainya.
b) Zaman Pertengahan
Abad 1-7 :
Beberapa penyakit menular mulai menyerang penduduk dunia (typhus, kolera,
pes)
Penyakit-penyakit ini cenderung endemis diberbagai kelompok masyarakat
atau negara (Asia, Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika)
Lepra menyebar mulai dari Mesir, Asia, dan Eropa melalui para emigran
Upaya-upaya penanggulangan dimulai dengan perbaikan sanitasi lingkungan,
hygiene, utama pembuangan kotoran (latrin), penyediaan air bersih, ventilasi,
dan sebagainya.

Abad 8-18 :
Tahun 1340 terjadi wabah pes paling dahsyat di Cina, India dan Mesir. Tercatat
13.000.000 orang meninggal karena wabah pes, dan 60.000.000 orang
meninggal untuk seluruh dunia. Sehingga masa itu disebut The Black Death.
Sementara itu wabah kolera, typhus dan disentri masih berlangsung sampai
abad ke 18.
Upaya penanggulangan penyakit menular secara menyeluruh dan sistematis
hampir dikatakan belum ada.
2. Periode Ilmu Pengetahuan
a) Abad 18-19
Abad bangkitnya ilmu pengetahuan dimulai pada akhir abad ke 18 dan awal
abad ke 19, termasuk ilmu kesehatan (kedokteran dan kesehatan masyarakat).
Apabila sebelumnya masalah kesehatan, utamanya penyakit hanya dilihat
sebagai fenomena biologis, kemudian bergeser ke fenomena sosial yang
kompleks.
Apabila sebelumnya pendekatan terhadap masalah kesehatan hanya dari satu
segi (sektor) saja, kemudian bergeser ke pendekatan yang multisektoral.
Ditemukannya vaksin pencegah cacar oleh Louis Pasteur, asam karbol (asam
karbol) untuk sterilisasi ruang operasi oleh Joseph Lister, dan eter sebagai
anestesi oleh Wiliam Marton.
Tahun 1832 terjadi epidemi kolera di Inggris, terutama didaerah perkotaan.
Kemudian Edwin Chardwich seorang ilmuwan sosial melakukan penyelidikan.
Hasil penyelidikannya menyimpulkan bahwa penyebab wabah kolera ini
adalah karena sanitasi lingungan penduduk kota yang sangat buruk, pekerja
perkotaan yang upahnya sangat rendah, dan gizi masyarakat rendah. Hasil
penyelidikan Chardwich ini dianalisis dan disajikan dengan baik.
Berdasarkan laporan Charwich ini akhirnya Parlemen Inggris mengeluarkan
UU yang mengatur tentang sanitasi lingkungan, sanitasi tempat kerja (pabrik),
sanitasi tempat umum, dan sebagainya.
Tahun 1848, Jons Simon diangkat sebagai menteri untuk menangani kesehatan
penduduk (masyarakat).
Pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, di Inggris dan negara-negara Eropa
lainnya, dan Amerika mulai dibuka pendidikan bagi tenaga-tenaga kesehatan
untuk kesehatan masyarakat.
Pada tahun 1894 John Hopkins seorang pedagang wiski mempelopori
mendirikan Universitas, yang didalamnya terdapat program studi kedokteran
dan public health.
1855 pemerintah Amerika membentuk Kementerian Kesehatan yang pertama
kali, yang didalamnya terdapat bagian yang menangani kesehatan masyarakat.
Tahun 1872 dibentuk asosiasi dari para akademisi dan praktisi Kesehatan
Masyarakat, yang disebut American Public Health Association.
b) Abad 20

Pada tanggal 6-12 September 1978 di Alma Ata (dulu USSR) diadakan
konferensi joint konferensi antara WHO dan UNICEF yang dihadiri oleh 140
negara.
Konferensi itu mengahasilkan kesepakatan bersama yang dituangkan dalam
deklarasi Alma Ata tentang Primary Health Care dalam pencapaian Health
for all by the year 2000
Semua negara, termasuk Indonesia menyepakati dalam rangka mencapai
kesehatan untuk semua (tahun 2000) harus melaksanakan pelayanan kesehatan
primer (primary health care).
Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia :
Abad ke-16 Pemerintahan Belanda mengadakan upaya pemberantasan cacar dan
kolera yang sangat ditakuti masyarakat pada waktu itu. Sehingga berawal dari wabah
kolera tersebut maka pemerintah Belanda pada waktu itu melakukan upaya-upaya
kesehatan masyarakat.
Tahun 1807 Pemerintahan Jenderal Daendels, telah dilakukan pelatihan dukun bayi
dalam praktek persalinan. Upaya ini dilakukan dalam rangka upaya penurunan angka
kematian bayi pada waktu itu, tetapi tidak berlangsung lama, karena langkanya tenaga
pelatih.
Tahun 1888 Berdiri pusat laboratorium kedokteran di Bandung, yang kemudian
berkembang pada tahun-tahun berikutnya di Medan, Semarang, surabaya, dan
Yogyakarta. Laboratorium ini menunjang pemberantasan penyakit seperti malaria,
lepra, cacar, gizi dan sanitasi.
Tahun 1925 Hydrich, seorang petugas kesehatan pemerintah Belanda
mengembangkan daerah percontohan dengan melakukan propaganda (pendidikan)
penyuluhan kesehatan di Purwokerto, Banyumas, karena tingginya angka kematian
dan kesakitan.
Tahun 1927 STOVIA (sekolah untuk pendidikan dokter pribumi) berubah menjadi
sekolah kedokteran dan akhirnya sejak berdirinya UI tahun 1947 berubah menjadi
FKUI. Sekolah dokter tersebut punya andil besar dalam menghasilkan tenaga-tenaga
(dokter-dokter) yang mengembangkan kesehatan masyarakat Indonesia.
Tahun 1930 Pendaftaran dukun bayi sebagai penolong dan perawatan persalinan.
Tahun 1935 Dilakukan program pemberantasan pes, karena terjadi epidemi, dengan
penyemprotan DDT dan vaksinasi massal.
Tahun 1951 -Diperkenalkannya konsep Bandung (Bandung Plan) oleh Dr.Y. Leimena
dan dr Patah (yang kemudian dikenal dengan Patah-Leimena), yang intinya bahwa
dalam pelayanan kesehatan masyarakat, aspek kuratif dan preventif tidak dapat
dipisahkan. konsep ini kemudian diadopsi oleh WHO. Diyakini bahwa gagasan inilah
yang kemudian dirumuskan sebagai konsep pengembangan sistem pelayanan
kesehatan tingkat primer dengan membentuk unit-unit organisasi fungsional dari Dinas
Kesehatan Kabupaten di tiap kecamatan yang mulai dikembangkan sejak tahun
1969/1970 dan kemudian disebut Puskesmas.
Tahun 1952 dilaksanakan pelatihan intensif dukun bayi.
Tahun 1956 Dr.Y.Sulianti mendirikan Proyek Bekasi sebagai proyek
percontohan/model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat dan pusat

pelatihan, sebuah model keterpaduan antara pelayanan kesehatan pedesaan dan


pelayanan medis.
Tahun 1967 Seminar membahas dan merumuskan program kesehatan masyarakat
terpadu sesuai dengan masyarakat Indonesia. Kesimpulan seminar ini adalah
disepakatinya sistem Puskesmas yang terdiri dari Puskesmas tipe A, tipe B, dan C.
Tahun 1968 Rapat Kerja Kesehatan Nasional, dicetuskan bahwa Puskesmas adalah
merupakan sistem pelayanan kesehatan terpadu, yang kemudian dikembangkan oleh
pemerintah (Depkes) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Puskesmas disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan
pelayanan kuratif dan preventif secara terpadu, menyeluruh dan mudah dijangkau,
dalam wilayah kerja kecamatan atau sebagian kecamatan di kotamadya/kabupaten.
Tahun 1969 Sistem Puskesmas disepakati dua saja, yaitu tipe A (dikepalai dokter)
dan tipe B (dikelola paramedis). Pada tahun 1969-1974 yang dikenal dengan masa
Pelita 1, dimulai program kesehatan Puskesmas di sejumlah kecamatan dari sejumlah
Kabupaten di tiap Propinsi.
Tahun 1979 Tidak dibedakan antara Puskesmas A atau B, hanya ada satu tipe
Puskesmas saja, yang dikepalai seorang dokter dengan stratifikasi puskesmas ada 3
(sangat baik, rata-rata dan standar). Selanjutnya Puskesmas dilengkapi dengan piranti
manajerial yang lain, yaitu Micro Planning untuk perencanaan, dan Lokakarya Mini
(LokMin) untuk pengorganisasian kegiatan dan pengembangan kerjasama tim.
Tahun 1984 Dikembangkan program paket terpadu kesehatan dan keluarga berencana
di Puskesmas (KIA, KB, Gizi, Penaggulangan Diare, Immunisasi) Posyandu
Awal tahun 1990-an Puskesmas menjelma menjadi kesatuan organisasi kesehatan
fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga
memberdayakan peran serta masyarakat, selain memberikan pelayanan secara
menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk
kegiatan pokok.

C. Pengertian Kesehatan Masyarakat


1. Kesehatan masyarakat adalah Ilmu dan seni untuk pencegahan penyakit,
memperpanjang kehidupan dan mempromosikan kesehatan melalui upaya dari
masyarakat yang terorganisir.
2. Kesehatan masyarakat adalah upaya mempromosikan dan melindungi manusia dan
masyarakat dimana mereka tinggal, belajar, bekerja dan bermain.
3. Kesehatan masyarakat mengacu pada semua tindakan yang terorganisir (umum atau
pribadi) untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, dan memperpanjang
hidup antara penduduk secara keseluruhan.
D. Ruang Lingkup Determinan Kesehatan
1. Perilaku
Perilaku menyiratkan tindakan yang meningkatkan paparan faktor-faktor yang
menghasilkan penyakit atau melindungi individu dari penyakit.
2. Infeksi
4

3.

4.

5.

6.

7.

Sering menjadi penyebab langsung dari penyakit. Selain itu, kita semakin menyadari
bahwa eksposur awal untuk menular dapat berkontribusi pada perkembangan
penyakit atau bahkan perlindungan terhadap penyakit.
Genetika
Revolusi dalam genetika memfokuskan perhatian kita pada peran bahwa faktor
genetika memainkan peran dalam perkembangan penyakit. Faktor genetik ini hanya
sesekali sebagai penentu yang paling penting dari penyakit.
Geografi
Lokasi geografis mempengaruhi frekuensi dan bahkan adanya penyakit. Penyakit
menular seperti: malaria, penyakit Chagas, schistosomiasis yang terjadi diwilayah
geografis tertentu.
Lingkungan
Faktor lingkungan menentukan penyakit dan perjalanan penyakit dalam berbagai
cara. Dunia sekitar kita dapat menghasilkan kecacatan dan kematian dari bencana
alam secara tiba-tiba, seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi, kekurangan
yodium karena kandungan yodium yang rendah di tanah penghasil pangan.
Lingkungan fisik yang berubah dihasilkan oleh campur tangan manusia termasuk
eksposur pada zat-zat beracun dalam pengaturan kerja. Lingkungan fisik yang
dibangun untuk digunakan oleh manusia lingkungan binaan, menghasilkan penentu
mulai dari polusi udara dalam ruangan, rumah, dan terhadap bahaya di jalan raya.
Pelayanan kesehatan
Akses dan kualitas pelayanan kesehatan dapat menjadi penentu penyakit. Ketika
persentase yang tinggi dari individu yang dilindungi oleh vaksinasi, individu yang
tidak divaksinasi dalam populasi dapat dilindungi juga. Upaya berhenti merokok
dapat membantu perokok untuk berhenti, dan pengobatan penyakit menular dapat
mengurangi penyebaran kepada orang lain. Bagaimanapun pelayanan kesehatan,
sering memiliki dampak yang besar pada perjalanan penyakit dengan mencoba untuk
mencegah atau meminimalkan kecacatan dan kematian setelah penyakit berkembang.
Sosial ekonomi dan budaya
Di Amerika Serikat, faktor sosial-ekonomi telah didefinisikan sebagai pendidikan,
pendapatan, dan status pekerjaan. Langkah-langkah ini semuanya telah terbukti
sebagai penentu penyakit beragam seperti kanker payudara, paru, dan kecelakaan
kerja. Faktor budaya dan agama yang semakin diakui sebagai faktor penentu penyakit
karena keyakinan kadang-kadang mempengaruhi keputusan tentang perawatan, pada
gilirannya mempengaruhi hasil penyakit. Sementara sebagian besar penyakit yang
lebih sering pada kelompok sosial ekonomi rendah yang lain seperti kanker payudara
sering kali lebih sering terjadi pada kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
5

Alhamda, Syukra. 2013. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Yogyakarta: Deepublish.


American Public Health Association. APHA History and Timeline. Available at:
http://www.apha.org/about/news/presskit/aphahistory.htm. Diakses pada tanggal 21
September 2015.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka
Cipta.
Riegelman, Richard. 2010. Public Health 101:Healthy People-Healthy Populations.
Canada: Jones & Bartlett Learning.
http://www.who.int/trade/glossary. Diakses pada tanggal 21 September 2015.