Anda di halaman 1dari 22

Pengguguran Kandungan

Dura Tulain Binti Shabinin


NIM: 10.2009.283
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl.Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510
Email: bahashah_za@yahoo.com

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ilmu kedokteran forensik disebut juga ilmu kedokteran kehakiman, merupakan salah satu
mata ajaran wajib dalam rangkaian pendidikan kedokteran di Indonesia, dimana peraturan
perundangan mewajibkan setiap dokter baik dokter, dokter spesialis kedokteran forensik,
spesialis klinik untuk membantu melaksanakan pemeriksaan kedokteran forensik bagi
kepentingan peradilan bilamana diminta oleh polisi penyidik. Dengan demikian, dalam
penegakan keadilan yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, bantuan dokter
dengan pengetahuan Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal yang dimilikinya amat
diperlukan. 1
Kecuali alasan medis, Indonesia termasuk salah satu negara yang tidak mengijinkan
pengguguran kandungan dengan teknik apapun. Hal ini memang banyak dilatar belakangi oleh
pendapat agama tenang cara menggugurkan kandungan baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu,
Budha maupun kepercayaan yang lain. Terlepas dari pada itu di negara lain seperti Amerika
ternyata terdapat satu buah kubu yang mendukung pengguguran kandungan dan satu buah kubu
lain
yang
menentang
cara
menggugurkan
kandungan.
Kubu yang mendukung pengguguran kandungan beralasan bahwa semua kehidupan ini
berdasarkan atas azas pilihan (choice), karena itu seorang ibu berhak memilih apa yang baik
untuk dirinya. Sedangkan kubu yang menentang cara pengguguran kandungan lebih condong
pada agama dimana semua berhak untuk hidup termasuk janin di dalam kandungan.
Pengguguran kandungan sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara. Metode
pengguguran kandungan tersebut dibagi sesuai dengan umur kandungan itu sendiri sehingga tata
cara pengguguran kandungannya pun berbeda-beda. Berikut adalah cara menggugurkan

kandungan yang dilaksanakan dengan tindakan medis tertentu :


Metode Penyedotan (Suction Curettage)
Cara Aborsi/menggugurkan kandungan dengan menggunakan mesin penyedot dengan
ujung tajam untuk membunuh janin dan memotong janin menjadi bagian kecil. Bersama dengan
bagian kecil tersebut plasenta kemudian disedot hingga terkumpul dalam satu wadah khusus
berupa botol.
Metode D&C - Dilatasi dan Kerokan
Cara Aborsi/menggugurkan kandungan dengan menggunakan pisau tajam terbuat dari
baja yang digunakan untuk memotong-moting tubuh kecil janin hingga menjadi serpihanserpihan kemudian diakhiri dengan pembersihan menggunakan alat keruk untuk mengerok
plasenta yang tertanam di dinding rahim
Menggunakan PIL RU 486
Cara Aborsi/menggugurkan kandungan dengan cara mengkonsumsi PIL berisi hormon
yang menekan pertumbuhan janin dan menghambat alur makanan dari plasenta ke janin sehingga
janin tidak berkembang hingga mati dan keluar dengan sendirinya dari tubuh wanita.
Suntikan Methotrexate (MTX)
Cara Aborsi/menggugurkan kandungan dengan cara memberi suntikan MTX yang
bersifat racun kepada wanita dengan tujuan meracuni janin di dalam rahim sehingga janin mati di
dalam rahim dan keluar dari tubuh wanita.
Metode Dilatasi dan Evakuasi (D&E)
Cara Aborsi/menggugurkan kandungan dengan menggunakan pisau baja tajam dan alat
berupa tang untuk memotong dan menghancurkan tulang-tulang janin hingga berkeping-keping
kemudian diangkat satu demi satu hingga bersih dari dalam rahim wanita.
Metode Racun Garam (Saline/Salt Poisoned)

Cara Aborsi/menggugurkan kandungan dengan cara mengganti sebagian air ketuban


wanita dengan larutan garam yang bersifat racun dengan tujuan meracuni organ janin hingga
tampak seperti terbakar dan berwarna hitam.
Kami ingatkan cara menggugurkan kandungan seperti yang kami ulas diatas merupakan
hal-hal yang memiliki efek samping baik dari segi fisik maupun mental. Untuk itu
pertimbangkan terlebih dahulu dengan dokter anda mana yang baik untuk anda dan keluarga.
Karena banyaknya resiko pengguguran kandungan inilah, Indonesia hanya mengijinkan aborsi
bila ditemukan indikasi medis serius yang mengharuskan dilakukan pengguguran kandungan.
Cara untuk mencegah kehamilan masih lebih baik daripada melakukan tindakan aborsi
yang hanya melukai ibu secara fisik dan mental. Masyarakat beragama tidak hanya Islam,
Kristen, Katolik, Hindu dan Budha menentang praktek aborsi/pengguguran kandungan
dimanapun di Indonesia. Bila ada klinik aborsi/pengguguran kandungan yang melakukan praktek
ini maka hal itu dapat dipastikan ilegal dan resiko yang harus ditempuh oleh wanita sangat tinggi
dari mulai pengangkatan rahim sampai pendarahan hebat yang berakibat pada kematian pada
wanita.
Tujuan :
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mempelajari mengenai ilmu kedokteran forensic
dari dan adalah untuk memahami tentang abortus kriminalis, aspek hukum dan medikolegal
abortus kriminalis, serta pemeriksaanforensik pada kasus abortus kriminalis.
Skenario
Skenario PBL 4

Anda kebetulan sedang berdinas jaga di laboratorium di sebuah rumah sakit tipe B.
Seorang anggota polisi membawa sebuah botol ukuran 2 liter yang disebutnya sebagai botol dari
sebuah alat suction curret milik seorang dokter di kota anda. Masalahnya adalah bahwa
dokter tersebut disangka telah melakukan pengguguran kandungan yang ilegal dan didalam botol
tersebut terdapat campuran darah dan jaringan hasil suction. Polisi menerangkan dalam surat
permintaannya, bahwa darah dan jaringan dalam botol berasal dari tiga perempuan yang saat ini
sedang diperiksakan ke bagian kebidanan di rumah sakit anda. Penyidik membutuhkan
pemeriksaan laboratorium yang dapat menjelaskan apakah benar telah terjadi pengguguran
kandungan dan apakah benar bahwa ketiga perempuan yang sedang diperiksa di kebidanan
adalah perempuan yang kandungannya digugurkan oleh dokter tersebut. Hasil pemeriksaan
tersebut penting agar dapat dilanjutkan ke proses hukum terhadap dokter tersebut.
Anda tahu bahwa harus ada komunikasi antara anda dengan dokter kebidanan yang
memeriksa perempuan - perempuan diatas, agar pemeriksaan medis dapat memberi manfaat
yang sebesar- besarnya bagi penyidikan dan penegakan hukum.

BAB II
PEMBAHASAN ISI
Klasifikasi abortus :
1.Abortus Spontan
Abortus spontan adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahuluifaktor-faktor mekanis
ataupun medisinalis, semata-mata disebabkanfaktor alamiah.
2.Abortus provokatus
Abotus provokatus merupakan abortus yang sengaja dilakukan, baik dengan menggunakan alatalat maupun obat-obatan. Abortus provokatus ini terbagi lagi menjadi:
a.Abortus provokatus medisinalis. Abortus ini merupakan abortus yang dilakukan dengan alasan
bila kehamilan dilanjutkan , dapat membahayakan nyawa ibu. Syarat dilakukan abortus
provokatus medisinalis :
o Dilakukan oleh tenaga kesehatan yeng memilii keahlian dankewenangan untuk
melakukannya ( dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai dengan
tanggungjawab profesi
o Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama,hukum, psikologi)
o Harus ada persetujuan tertulis dari pendeerita atau suaminyaatau keluarga terdekat.
o Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/peralatanyang memadai.
o Prosedur tidak dirahasiakan
o Dokumen medik harus lengkap
b.Abortus provokatus kriminalisYaitu tindakan abortus yang tidak mempunyai alasan medis yang
dapat dipertanggungjawabkan atau tanpa mempunyai arti medis yang bermakna. Jelas tindakan
penguguran kandungan di sini semata-mata untuk tujuan yang tidak baik dan melawan hukum.
Tindakan abortus tidak bisadipertanggungjawabkan secara medis, dan dilakukan hanya untuk
kepentingan sipelaku,walaupun ada kepentingan juga dari si-ibu yang malu akan kehamilannya.
Kejahatan jenis ini sulit untuk melacaknya oleh karena kedua belah pihak menginginkan agar
abortus dapat terlaksana dengan baik (crime without victim, walaupun sebenarnyakorbannya ada
yaitu bayi yang dikandung).
Abortus kriminal dapat dilakukan oleh wanita itu sendiri atau dengan bantuan orang lain
(dokter, bidan, perawat, dukun beranak dan lain-lain). Tindakan ini biasanya dilakukan sejak
yang bersangkutan terlambat datang bulan dan curiga akibat hamil. Biasanya kecurigaan ini
datang pada minggu ke-5 sampai minggu ke-10. Pada waktu ini mungkin disertai gejala mual di
pagi hari. Sekarang kecurigaan adanya kehamilan dapat diketahui lebih dini karena sudah ada
alat tes kehamilan yang dapat mendiagnosa kehamilan secara pasti.
Jenis-jenis Tindakan Abortus Kriminalis

Terdapat berbagai metode yang sering dipergunakan dalam abortuskriminalis yang perlu
diketahui karena berkaitan dengan komplikasi yang terjadidan bermanfaat dalam melakukan
penyidikan serta pemeriksaan mayat untuk menjelaskan adanya hubungan antara tindakan
abortus itu sendiri dengankematian yang terjadi dengan si-ibu.
1.Kekerasan mekanik
Dapat dilakukan dari luar maupun dari dalam. Kekerasan ini dapatdilakukan oleh ibu
sendiri atau dengan bantuan orang lain. Kekerasanini terdiri dari: a.UmumMetode ini dilakukan
secara langsung pada uterus atau tidak langsung dengna menyebabkan kongesti dari organ-organ
pelvisdan menyebabkan perdarahan diantara uterus dan membran pelvis.Metode yang dilakukan
seperti penekanan pada abdomen seperti pemukulan, pengurutan dan melompat-lompat. Aktifitas
yang berlebihan seperti mengendarai sepeda, mengangkat benda berat.Cupping : meletakkan
sumbu api pada daerah hipogastrium danmenutupmya dengan sebuah mangkuk yang
menimbulkan penarikan oleh mangkuk yang menyebabkan separasi dari plasenta dibawahnya.
b.LokalYaitu kekerasan yang dilakukan dari dalam dengan manipulasi vagina dan uterus.
Misalnya, dengan penyemprotan air sabun atauair panas pada porsio, pemasangan laminaria stif
atau kateter kedalam serviks, manipulasi serviks dengan jari tangan, manipulasi uterus dengan
melakukan pemecahan selaput amnion atau penyuntikan ke dalam uterus. Penyuntikan ini dapat
menyebabkan emboli udara.
2.Obat-obatan
Dalam masyarakat, penggunaan obat tradisional seperti nanas muda, jamu peluntur dan
lain-lain sudah lama dikenal. Abortivum, obat yangsering dipakai di masyarakat awam untuk
pengguguran dapat diabagidalam beberapa golongan.
a.Emmenogogues : obat yang merangsang atau meningkatkanaliran darah menstruasi (peluruh
haid) seperti apiol, minyak pala,oleum rutae.
b.Ecbolics : obat ini membuat kontraksi uterus seperti derivat ergot,kinina, ekstrak
pituitary, estrogen sintetik dan strychine. Obat jenis ini harus digunakan dalam
dosis besar untuk pengguguransehingga dapat menimbulkan bahaya.
c.Obat yang bekerja pada gastrointestinal yang menyebabkanmuntah (emetikum)
seperti asam tartar, obat ini menyebabkaneksitasi uterus untuk berkontraksi
dengan adanya kontraksi paksadari lambung dan kolon serta dapat menyebabkan
hiperemia.
d.Obat-obat yang bekerja melalui tarktus digestivus bekerja sebagai pencahar
seperti, castor oil, croton oil, magnesium sulphate danlain-lain, menyebabkan
peredaran darah di pelvik meningkat,sehingga mempengaruhi hasil konsepsi
e.Obat-obat yang bersifat iritan pada traktus genitourinarius yangmemepngaruhi
refleks kontraksi uterus seperti tansy oil,turpentine oil, ekstrak chantaridium

(dalam dosis besar menyebabkan inflamsi ginjal dan albuminuria), kalium


permanganas menyebabkan inflamasi dan perdarahan karena erosi pembuluh
darah
f.Obat-obat iritan yang bersifat racun, seperti iritan inorgancmetalik (timah,
antimony, arsenik, fosforus, mercury), iritanorganik ( pepaya, nanas muda, akar
Plumago roseadan juscalatropis).
1. Aspek Hukum2

Diatur dalam pasal 346 s/d 349 KUHP :

Pasal 346 KUHP :


Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh
orang lain untuk itu diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347 KUHP :
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita tanpa persetujuannya diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
(2) Jika mengakibatkan kematian lima belas tahun
Pasal 348 KUHP :
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita dengan persetujuannya diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
(2) Jika perbuatan ini mengakibatkan matinya wanita tersebut dikenakan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
Pasal 349 KUHP :
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang diatur
dalam pasal 346, 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu ditambah
dengan 1/3 dan dapat dicabut izin prakteknya.
Strafuitsluitingsgrond / penghapus pidana:
o Pasal 48 KUHP
Tidak dapat dipidana barangsiapa berbuat karena daya paksa (overmacht)
o Pasal 49 KUHP
Tidak dapat dipidana barangsiapa berbuat karena daya lawan (noodweer)

2. Etik Profesi

Dokter harus menolak untuk melakukan aborsi yang illegal. Dan sekiranya aborsi itu
bisa dilakukan sesuai indikasi, seseorang dokter itu bisa melakukannya. Namun, sekiranya
dokter itu tidak yakin mampu melakukannya, dia juga bisa menolak untuk melakukannya
dan merujuk pada yang lebih pakar.
3. Medikolegal

Prosedur medikolegal adalah tatacara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai


aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum.Secara garis besar
prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika
kedokteran.Lingkup prosedur medikolegal ::

Pengadaan visum et repertum


Tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka
Pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan ahlidi
dalam persidangan
Kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran
Tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik
Tentang fitness / kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik.
Dasar pengadaan visum et repertum3-6

Pasal 133 KUHP


(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka,keracunan atau mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakimanatau
dokter dan atau ahli lainya.
(2) Permintaan keterangan ahli seperti yang dimaksudkan dalam ayat (1) dilakukan
secaratertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakitharus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan pada mayat tersebut
dandiberi label yang memuat identitas mayat, dilakukan dengan diberi cap jabatan
yangdiletakkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.Permintaan Visum et
Repertum Menurut Pasal 133 KUHP :
-Wewenang penyidik
-Tertulis (RESMI)
-Terhadap korban, bukan tersangka
-Ada dugaan akibt peristiwa pidana
-Bila mayat:
i.Identitas pada label
ii.Jenis pemeriksaan yang diminta

iii.Ditujukan kepada SpF dan Dokter RS


1.Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
Pasal 216 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang

dilakukanmenurut UU oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat
berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksatindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam
dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau denda paling banyak Rp
9.000,00.
(2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undangundang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan
jabatanumum.
(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaanyang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya
dapat ditambahsepertiga.Pasal 222 KUHP. Barang siapa sengaja mencegah, menghalanghalangi atau menggagalkan pemeriksaanmayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana
penjara paling lama 9 bulan atau pidanadenda paling banyak Rp 4.500,00.
2.Permintaan sebagai Saksi Ahli (masa persidangan)
Pasal 179 KUHAP
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter
atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

Pasal 224 KUHAP


Barang siapa dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau juru
bahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut UU ia
harusmelakukannya:
1.Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan
2.Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan.
3.Pemeriksaan Tersangka
Pasal 66 KUHAP
Tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian

Pasal 37 KUHAP
(1) Pada

waktu menangkap tersangka atau dalam hal tersangka sebagaimana


dimaksudkandalam pasal (1) dibawa kepada penyidik, penyidik berwenang menggeledah
pakain danatau menggeledah badan tersangka.

Pasal 53 UU Kesehatan
(3) Tenaga kesehatan, untuk kepentingan pembuktian, dapat melakukan tindakan medisterhadap
seseorang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan
4. Pembuat Visum et Repertum bagi Tersangka (misal: VeR Psikis)
Pasal 120 KUHAP
(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat orang ahli atau

orangyang memiliki keahlian khusus


Pasal 180 KUHAP
(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, Hakim ketua sidang dapat meminta keterangan ahli dan dapat pula mintaagar
diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
5. Keterangan Ahli
Pasal 1 Butir 28 KUHAP
Keterangan Ahli adalah keterangan yang diberikan seorang yang memiliki
keahliankhusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana
gunakepentingan pemeriksaan agar dapat diajukan ke sidang pengadilan sebagai upaya
pembuktian, harus dikemas dalam bentuk alat bukti sah.
6. Alat Bukti Sah
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila
dengansekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperolah keyakinan bahwa suatutindak
pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Pasal 184 KUHAP
(1)Alat bukti sah adalah :
a.Keterangan saksi
b.Keterangan ahli

c.Surat
d.Petunjuk
e.Keterangan terdakwa
7.Keterangan Ahli Diberikan secara Lisan
Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan disidang pengadilan.
Penjelasan Pasal 186 KUHAP.
Keterangan ahli ini dapat juga diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau
penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat denganmengingat
sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.
8.Keterangan Ahli Diberikan Secara Bertulis
Pasal 187 KUHAP
(1) Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas smpah jabatanatau
dikuatkan dengan sumpah, adalah :
c. surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannyamengenai suatu hal atau suatu keadaan yang diminta secara resmi
daripadanyaalat bukti sah surat
9.Pejabat Yang Berwewenang Meminta visum et Repertum
Pasal 133 KUHAP
penyidik
Pasal 6 (1) KUHAP
Penyidik :
-Pejabat POLRI
-Pejabat PNS tertentu yang diberi wewenang khusus oleh UU
Yang membutuhkan Visum et Repertumkasus pidana Umumpenyidik harus
PolisiPenyidik PNS tidak berwenang meminta Visum et Repertum
Pasal 2 PP No 27 Thn 1983

(2) Penyidik adalah pejabat polisi NKRI tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat

pembantu letnan dua polisi (Ajun inspektur dua)


Pasal 2 PP No 27 Thn 1983
Penyidik pembantu adalah

Pejabat polisi NRI tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat sersan dua polisi
Pejabat PNS tertentu yang berpangkat pengatur muda (gol II/a) atau yang
disamakandengan itu

Pasal 2 (2) PP No 27 Thn 1983


Dalam hal disuatu sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagaimana
dimaksuddalam ayat (1) huruf a, maka komandan kepolisian yang berpangkat bintara dibawah
pembantu letnan dua polisi, karena jabatannya adalah penyidik.Artinya :
Tidak semua polisi berpangkat pelda keatas adalah penyidik
Tidak semua polisi berpangkat sersan adalah penyidik pembantu
Setiap kapolsek adalah penyidik

Tentang hukum yang membenarkan pengguguran secara medis7 :


i.

pasal 15 uu kesehatan nomor 23 tahun 1992


i. Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu
hamil dan atau
janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
ii. Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) hanya
dapat dilakukan :
a) berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya
tindakan tersebut.
b) Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan
untuk itu dan
dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan
pertimbangan
tim ahli.
c) dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau
keluarganya.
d) pada sarana kesehatan tertentu.
iii. Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana
dimaksud dalam
Ayat (1) dan Ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

ii.

uu no 36 tahun 2009
i. Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.

(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan


berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini
kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang
menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun
yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut
hidup di luar kandungan; atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma
psikologis bagi korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan
setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri
dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang
kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan
perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
ii. Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari
pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan
yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh
Menteri.
iii. Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak
bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan
dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Pemeriksaan tersangka :

Identitas diambil menggunakan metode anamnesis. Pada umumnya anamnesis yang


diberikan oleh orang sakit dapat dipercaya.Sebaliknya anamnsesis yang diperoleh dari korban
tidak selalu benar.Anamnesis terdiri atas bagian yang sifatnya umum dan yangsifatnya khusus.
a.Umum

Umur, tanggal lahir


Status perkawinan
Haid: siklus haid, haid terakhir
Penyakit kelamin dan penyakit kandungan
Penyakit lain
Apakah pernah melakukan abortus sebelum ini.

b. Khusus
Waktu kejadian.
Kalau antara kejadian dan dilaporkannya kejadian pada berwajib terpisah beberapa
hari atau minggu, agak sukar untuk menemukan tanda-tanda pengguguran kandungan.
Dimana terjadinya
Di mana dilakukan pengguguran dapat dicocokkan dengan bahan bukti yang bakal
ditemukan di tempat berkenaan.
Usia kehamilan
Lebih mudah mencocokkannya dengan bahan bukti yang ditemukan dan juga indikasi
adakah itu aborsi legal mahupun illegal.
Pada semua tersangka, telah dilakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan juga pemeriksaan
ginekologis juga. Juga, bagi membuktikan bahawa tersangka melakukan pengguguran atau
tidak, dilakukan uji hubungan genetik ibu-anak. Bisa dilakukan pemeriksaan DNA mitokondria
(mt-DNA) : DNA ibu sama persis dengan anak atau pemeriksaan DNA inti (c-DNA) : separuh
DNA ibu sama dengan separuh DNA anak.
5. Interprestasi hasil.
Tabel 1 :: Identitas tersangka

Nama tersangka umur

Status

Warfira Bt
Adjeng

Menikah

Banyak tanggungan

12 minggu

Stella Angelina 16

Bujang

Malu dan takut dimarahi


orang tua

8 minggu

Christine Ang

bujang

Malu, takut dimarahi orang


tua dan diancam si pacar

10minggu

36

24

Sebab melakukan
pengguguran

Usia

Tabel 2 :: hasil peeriksaan tersangka dan barang bukti

Nama

Pemeriksaan Fisik Ibu Pemeriksaan


Ginekologis

Pemeriksaan
darah ibu dan
sample darah dari
botol (DNA )

Warfira Bt Adjeng- tampak lemah dan


kesakitan sedang
- tiada kelainan fisik
Stella Angelina

tampak lemah dan


kesakitan sedang
- tiada kelainan fisik

Christine Ang

tampak lemah dan


kesakitan sedang
- tiada kelainan fisik

-ditemukan luka lecet di Cocok dengan


sekitar vagina
sample
- mulut rahim
mengeluarkan darah
-ditemukan luka lecet di Cocok dengan
sample
sekitar vagina
- mulut rahim
mengeluarkan darah
-ditemukan luka lecet di Cocok dengan
sekitar vagina
sample
- mulut rahim
mengeluarkan darah

6. Visum et Repertum
a. Warfira Bt. Adjeng

INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKO LEGAL


RUMAH SAKIT UKRIDA
-----------------------------------------------------------------------------------------------VISUM ET REPERTUM
( TERSANGKA PENGGUGURAN KANDUNGAN )
Th.2013
No. KF. 05. 333.
PRO JUSTITIA.
Berhubung dengan surat Saudara.-----------------------------------------------------Nama : Briptu Nor Man, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088.------------------------------Alamat : Kepolisian Sektor Kota Puit, Jln Raya 2, No3, Jakarta Barat 11490.---------------------Jabatan : An. Kepala.Kepolisian Sektor kota Kediri.--------------------------------------------Tertanggal : 9 Januari 2013, -No.Pol:224/09/01/2013.---------------------------------------Yang kami terima pada tanggal ; 9 January 2013, maka saya, Dr. Dura Tuain Shabinin SpF.
Dokter Spesialis Forensik, Dokter pemerintah pada Instalasi Kedokteran Forensik dan Mediko
Legal RS UKRIDA, telah melakukan pemeriksaan luar pada tanggal: 9 January 2013, pukul:
08.00 WIB dan pemeriksaan dalam pada tanggal: 9 January 2013, pukul: 08.30 WIB di rumah
sakit tersebut di atas, atas korban yang menurut surat Saudara
tersebut,----------------------------------------------------------------------------------------

nama: Warfira Bt Adjeng,


Jenis kelamin: perempuan,
Umur: 36Tahun.
Alamat : Jalan Tg Duren Kembang 2, No 3, Gang 4
Bangsa : Indonesia
Dengan dugaan pengguguran kandungan ---------------------------------------------Korban datang ke rumah sakit Ukrida Pada tanggal :9 January 2013, - Pukul : 0700 WIB Oleh :
Briptu Nor Man, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088 , Dengan kendaraan No.Pol.: AG 1234
UA -----------------------------------------------------------------------------------Pada tanggal: 9 January 2013,Pukul :0700----------------------HASIL PEMERIKSAAN-----------------------------------------------------------------------ANAMNESIS :-----------------------------------------------------------------------1. Tersangka mengaku sudah menikah tetapi melakukan pengguguran karena anaknya
sudah ramai dan tidak mampu untuk menampung kehidupan sekiranya anaknya
bertambah.
2. Pada saat itu, katanya kandungannya telah berusia 12 minggu
PEMERIKSAAN FISIK :---------------------------------------------------1. Kepala : tiada kelainan.--------2. Wajah : tiada kelainan------------3. Leher : tiada kelainan.-----------4. Bahu : tiada kelainan.-------------5. Lengan atas : tiada kelainan.-------------6. Dada : tiada kelainan.-------------7. Perut : tiada kelainan-----------------8. Punggung : tiada keainan-----------9. Paha : tiada kelainan.-------------10.
Vagina : tiada kelainan.--------------.
11.Kaki : tiada kelainan-------------------

PEMERIKSAAN GINEKOOGIS :----------------------------------------------------------------1. Ditemukan luka lecet di sekitar vagina.---------2. Mulut rahim mengeluarkan darah.-------------PEMERIKSAAN TAMBAHAN :
1. Hasil ujian DNA ditemukan kecocokan antara Dna tersangka dengan salah satu DNA

jaringan di dalam botol.---------------------------KESIMPULAN :------------------------------------------------------------------------------1. Tersangka datang dan melakukan pengguguran dengan kerelaannya sendiri karena
sudah tidak mampu untuk menampung biaya keluarga yang bertambah.-------2. Pada pemeriksaan fisik, pasien kelihatan lemah dan pucat serta tampak sakit sedang.-3. pada pemeriksaan ginekologis, ditemukan luka lecet di sekeliling vagina sesuai dengan
metode pengguguran iaitu siction dan mulut rahim mengeluarkan darah.------4. pada pemeriksaan DNA, DNA tersangka cocok dengan DNA salah-satu jaringan di
dalam botol.------------

Demikian Visum Et Repertum ini kami buat dengan mengingat sumpah waktu menerima
jabatan sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.-----------Tanda tangan,
( Dr. Dura Tulain, SpF. )
NIP. 102009283

b. Stella Angelina

INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKO LEGAL


RUMAH SAKIT UKRIDA
-----------------------------------------------------------------------------------------------VISUM ET REPERTUM
( TERSANGKA PENGGUGURAN KANDUNGAN )
Th.2013
No. KF. 05. 333.
PRO JUSTITIA.
Berhubung dengan surat Saudara.-----------------------------------------------------Nama : Briptu Nor Man, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088.------------------------------Alamat : Kepolisian Sektor Kota Puit, Jln Raya 2, No3, Jakarta Barat 11490.---------------------Jabatan : An. Kepala.Kepolisian Sektor kota Kediri.--------------------------------------------Tertanggal : 9 Januari 2013, -No.Pol:224/09/01/2013.---------------------------------------Yang kami terima pada tanggal ; 9 January 2013, maka saya, Dr. Dura Tuain Shabinin SpF.
Dokter Spesialis Forensik, Dokter pemerintah pada Instalasi Kedokteran Forensik dan Mediko
Legal RS UKRIDA, telah melakukan pemeriksaan luar pada tanggal: 9 January 2013, pukul:
08.00 WIB dan pemeriksaan dalam pada tanggal: 9 January 2013, pukul: 08.30 WIB di rumah

sakit tersebut di atas, atas korban yang menurut surat Saudara


tersebut,---------------------------------------------------------------------------------------nama: Stella Angelina,
Jenis kelamin: perempuan,
Umur: 16 Tahun.
Alamat : Jalan Tg Duren Kembang 2, No 3, Gang 4
Bangsa : Indonesia
Dengan dugaan pengguguran kandungan ---------------------------------------------Korban datang ke rumah sakit Ukrida Pada tanggal :9 January 2013, - Pukul : 0700 WIB Oleh :
Briptu Nor Man, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088 , Dengan kendaraan No.Pol.: AG 1234
UA -----------------------------------------------------------------------------------Pada tanggal: 9 January 2013,Pukul :0700----------------------HASIL PEMERIKSAAN-----------------------------------------------------------------------ANAMNESIS :-----------------------------------------------------------------------1. Tersangka mengaku belum menikah dan melakukan pengguguran karena berasa malu
dan takut dimarahi orang tua.
2. Pada saat itu, katanya kandungannya telah berusia 8 minggu
PEMERIKSAAN FISIK :---------------------------------------------------1. Kepala : tiada kelainan.--------2. Wajah : tiada kelainan------------3. Leher : tiada kelainan.-----------4. Bahu : tiada kelainan.-------------5. Lengan atas : tiada kelainan.-------------6. Dada : tiada kelainan.-------------7. Perut : tiada kelainan-----------------8. Punggung : tiada keainan-----------9. Paha : tiada kelainan.-------------10.
Vagina : tiada kelainan.--------------.
11.Kaki : tiada kelainan-------------------

PEMERIKSAAN GINEKOOGIS :----------------------------------------------------------------1. Ditemukan luka lecet di sekitar vagina.---------2. Mulut rahim mengeluarkan darah.-------------PEMERIKSAAN TAMBAHAN :
1. Hasil ujian DNA ditemukan kecocokan antara Dna tersangka dengan salah satu DNA

jaringan di dalam botol.---------------------------KESIMPULAN :------------------------------------------------------------------------------1. Tersangka datang dan melakukan pengguguran dengan kerelaannya sendiri karena
berasa malu dan takut dimarahi orang tua.-------2. Pada pemeriksaan fisik, pasien kelihatan lemah dan pucat serta tampak sakit sedang.-3. pada pemeriksaan ginekologis, ditemukan luka lecet di sekeliling vagina sesuai dengan
metode pengguguran iaitu siction dan mulut rahim mengeluarkan darah.------4. pada pemeriksaan DNA, DNA tersangka cocok dengan DNA salah-satu jaringan di
dalam botol.------------

Demikian Visum Et Repertum ini kami buat dengan mengingat sumpah waktu menerima
jabatan sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.-----------Tanda tangan,
( Dr. Dura Tulain, SpF. )
NIP. 102009283

c. Christine Ang

INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKO LEGAL


RUMAH SAKIT UKRIDA
-----------------------------------------------------------------------------------------------VISUM ET REPERTUM
( TERSANGKA PENGGUGURAN KANDUNGAN )
Th.2013
No. KF. 05. 333.
PRO JUSTITIA.
Berhubung dengan surat Saudara.-----------------------------------------------------Nama : Briptu Nor Man, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088.------------------------------Alamat : Kepolisian Sektor Kota Puit, Jln Raya 2, No3, Jakarta Barat 11490.---------------------Jabatan : An. Kepala.Kepolisian Sektor kota Kediri.--------------------------------------------Tertanggal : 9 Januari 2013, -No.Pol:224/09/01/2013.---------------------------------------Yang kami terima pada tanggal ; 9 January 2013, maka saya, Dr. Dura Tuain Shabinin SpF.
Dokter Spesialis Forensik, Dokter pemerintah pada Instalasi Kedokteran Forensik dan Mediko
Legal RS UKRIDA, telah melakukan pemeriksaan luar pada tanggal: 9 January 2013, pukul:
08.00 WIB dan pemeriksaan dalam pada tanggal: 9 January 2013, pukul: 08.30 WIB di rumah

sakit tersebut di atas, atas korban yang menurut surat Saudara


tersebut,---------------------------------------------------------------------------------------nama: Christine Ang,
Jenis kelamin: perempuan,
Umur: 24 Tahun.
Alamat : Jalan Tg Duren Kembang 2, No 3, Gang 4
Bangsa : Indonesia
Dengan dugaan pengguguran kandungan ---------------------------------------------Korban datang ke rumah sakit Ukrida Pada tanggal :9 January 2013, - Pukul : 0700 WIB Oleh :
Briptu Nor Man, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088 , Dengan kendaraan No.Pol.: AG 1234
UA -----------------------------------------------------------------------------------Pada tanggal: 9 January 2013,Pukul :0700----------------------HASIL PEMERIKSAAN-----------------------------------------------------------------------ANAMNESIS :-----------------------------------------------------------------------1. Tersangka mengaku belum menikah dan melakukan pengguguran karena berasa malu
dan takut dimarahi orang tua.
2. Pada saat itu, katanya kandungannya telah berusia 10 minggu
PEMERIKSAAN FISIK :---------------------------------------------------1. Kepala : tiada kelainan.--------2. Wajah : tiada kelainan------------3. Leher : tiada kelainan.-----------4. Bahu : tiada kelainan.-------------5. Lengan atas : tiada kelainan.-------------6. Dada : tiada kelainan.-------------7. Perut : tiada kelainan-----------------8. Punggung : tiada keainan-----------9. Paha : tiada kelainan.-------------10.
Vagina : tiada kelainan.--------------.
11.Kaki : tiada kelainan-------------------

PEMERIKSAAN GINEKOOGIS :----------------------------------------------------------------1. Ditemukan luka lecet di sekitar vagina.---------2. Mulut rahim mengeluarkan darah.-------------PEMERIKSAAN TAMBAHAN :
1. Hasil ujian DNA ditemukan kecocokan antara Dna tersangka dengan salah satu DNA

jaringan di dalam botol.---------------------------KESIMPULAN :------------------------------------------------------------------------------1. Tersangka datang dan melakukan pengguguran dengan kerelaannya sendiri karena
berasa malu, diancam pacarnya dan takut dimarahi orang tua.-------2. Pada pemeriksaan fisik, pasien kelihatan lemah dan pucat serta tampak sakit sedang.-3. pada pemeriksaan ginekologis, ditemukan luka lecet di sekeliling vagina sesuai dengan
metode pengguguran iaitu siction dan mulut rahim mengeluarkan darah.------4. pada pemeriksaan DNA, DNA tersangka cocok dengan DNA salah-satu jaringan di
dalam botol.------------

Demikian Visum Et Repertum ini kami buat dengan mengingat sumpah waktu menerima
jabatan sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.-----------Tanda tangan,
( Dr. Dura Tulain, SpF. )
NIP. 102009283

BAB 3
PENUTUP
Penutup
Abortus adalah terminasi kehamilan sebelum mencapai umur 20 minggu dan
kurang dari 500g, biasanya bayi mengalami kematian. Tindakan terminasi kehamilan
dengan aborsi merupakan pilihan yang diambil untuk mengatasi kehamilan yang tidak
diinginkan, misalnya akibat perkosaan, hubungan seksual yang belum saatnya, keinginan
untuk menunda punya anak, dan berbagai alas an lainnya.

Adalah penting untuk kita mengetahui tentang abortus ini karena kasus ini banyak
di praktek sehari-hari. Dengan itu, kita akan lebih bijak dalam membuat keputusan dan
bijak juga untuk menyelamatkan diri kita dari di pidana.8

Daftar Pustaka
1. Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Hal : 71-94.
2. Hanafiah M.J., Amir A. Etika kedokteran dan hokum kesehatan. Ed. Ke-4. EGC; Jakarta,
2009.
3. Webmaster.

Forensik

Klinik.

Diunduh

pada

tanggal

:7

Januari

2013

dari:http://www.Forensikklinikku.webs.com. [Update : Oktober 2008]


4. Saanin S. Aspek-Aspek Fisik/ Medis Serta Peran Pusat Krisis dan Trauma
dalamPenanganan Korban Tindak Kekerasan. Diunduh padaTanggal :7 Januari 2013
dari:http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/kekerasan.htm. [Update : Januari 2007]
5. Webmaster. Preventing Child Abuse Trough Education and Awereness. Di Sitasi tanggal8
November 2008 dari :Http://www.childabuse.com. [Update : January 2008]6.

6. U.S. Department of Health and Human Services, Childrens Bureau.Child Maltreatment


1998: Reports from the States to the National Child Abuse and Neglect Data System
(NCANDS ).Washington, D.C.: U.S. Government Printing Office. 2000.
7. Amir A. Hanafiah M.J. Etika kedokteran dan hokum kesehatan. Ed. Ke-4. EGC; Jakarta,
1999.
8. Sitepoe M. Corat coret anak desa berfrofesi ganda. Kepustakaan Populer Gramedia;
Jakarta, 2008.