Anda di halaman 1dari 17

VARIASI INTRA POPULASI

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Romdoni
: B1J013097
: II
:4
: Dewi Saroh

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengelompokan individu yang diperoleh dari suatu lokasi berdasarkan
persamaan dan perbedaan morfologi yang dimiliki masing-masing individu tersebut
dinamakan taksonomi klasik yang tergolong dalam metode tradisional. Beberapa
phena yang berbeda yang berasal dari populasi suatu hewan, sebagai hasil dari
beberapa proses seperti variasi umur, variasi seksual, variasi musiman, polimorfisme
dan sebagainya. Variasi yang tidak mengalami keberhasilan akan berakibat pada
kesalahan dalam penentuan suatu species dan kategori tertentu. Oleh karena itu,
pemahaman mengenai variasi yang terjadi pada populasi hewan sangat penting
dalam taksonomim (Djuhanda, 1982).
Penyebab terjadinya variasi terbagi menjadi dua macam yaitu variasi non
genetik dan variasi genetik. Variasi non genetik dapat terjadi karena adanya variasi
umur, variasi musiman pada suatu individu, variasi musiman pada beberapa
keturunan, variasi sosial, variasi habitat, variasi karena induksi kondisi iklim
temporer, variasi yang ditentukan oleh inang, variasi tergantung kepadatan, variasi
alometrik, variasi neurogenik, variasi traumatik dan variasi induksi parasit serta
perubahan pasca kematian yang tidak tergantung pada genetik suatu individu. Variasi
genetik terjadi karena adanya seksual dimorfisme seperti nperbedaan sek primer dan
sek sekunder, gynadromorfi dan intersek, strain seksual dan uniparental serta variasi
diskontinyu dan variasi kontinyu. Variasi ini dapat terjadi pada bermacam hewan
sebagai contoh pada katak maupun kadal (Djuhanda, 1982).
Menurut Mahardono (1980), katak merupakan hewan peralihan antara hewan
air dan hewan darat. Oleh karena itu, awal dari kehidupannya dimulai di perairan
kemudian pindah ke daratan. Habitat katak sangat bervariasi dari rawa sampai ke
pegunungan. Kebanyakan hidup di daerah yang berhutan karena katak membutuhkan
tempat yang lembab untuk melindungi diri dari kekeringan. Tingkatan taksonomi
pada katak dapat dikertahiui dengan memperlihatkan karakter morfologinya sebagai
acuan untuk identifikasi dan determinasi (Mayr, 1982). Tubuh katak sawah
(Fejervarya cancrivora) terdiri dari tiga bagian yaitu caput (kepala), truncus (tubuh)
dan anggota gerak (ekstrimitas). (Mahardono, 1980).

B. Tujuan
Tujuan praktikum variasi intra populasi kali ini, antara lain :
1. Mengenali berbagai variasi (umur, seksual, musiman, polimorfisme, dsb) pada
suatu populasi hewan.
2. Menentukan spesies hewan berdasarkan berbagai variasi yang terdapat pada suatu
populasi hewan.
3. Menggunakan software aplikasi komputer dalam penelitian tentang variasi intra
atau inter populasi.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Variasi intra populasi merupakan variasi yang dapat terjadi dalam suatu
populasi, terjadi pada spesies yang sama, tetapi memiliki phena yang berbeda.
Macam- macam variasi intra populasi terdiri atas dua macam yaitu variasi genetik
dan non genetik. Variasi non genetik dapat terjadi karena adanya variasi umur, variasi
musiman pada suatu individu, variasi musiman pada beberapa keturunan, variasi
sosial, variasi habitat, variasi karena induksi kondisi iklim temporer, variasi yang
ditentukan oleh inang, variasi tergantung kepadatan, variasi alometrik, variasi
neurogenik, variasi traumatik dan variasi induksi parasit serta perubahan pasca
kematian. Variasi genetik terjadi karena adanya seksual dimorfisme seperti perbedaan
sek primer dan sek sekunder, gynandromorfi dan intersek, strain seksual dan
uniparental serta variasi diskontinyu dan variasi kontinyu (Brotowidjoyo, 1990).
Variasi intra populasi menurut Walbot (1987) dapat digolongkan sebagai
berikut :
1. Variasi umur
Suatu spesies hewan dapat memiliki variasi dalam proses perkembangannya
dan berbeda dengan dewasanya. Hewan akan melewati fase juvenil atau larva yang
sangat berbeda dari fase dewasa. Contoh variasi ini pada katak yang mengalami
perubahan morfologi dan fisiologi selama metamorfosis.
2. Variasi musiman pada satu individu
Hewan yang hidupnya melalui beberapa musim dapat memperlihatkan variasi
individu. Contoh pada burung akan memiliki warna yang lebih cerah pada musim
kawin dan pucat, pada beberapa spesies perubahan warna bulu hanya terjadi pada
individu jantan. Contoh lain pada Daphnia yang dapat memiliki bentuk kepala
mancung yang berubah menjadi membulat pada setiap pergantian musim kemarau
dan penghujan, atau karena pengaruh faktor ekologi yang dikenal sebagai
siklomorfosis. Daphnia sering digunakan sebagai pakan hidup untuk kultur larva ikan
air tawar (beberapa spesis ikan carp), juga beberapa jenis ikan hias (guppy, sword
tail, black molly, platy, koi carp, dsb.) (Pangkey, 2009).
3. Variasi seksual
Variasi ini dikenali dengan adanya perubahan pada organ seks primer,
sekunder, gynandromorfi, dan interseksnya. Contohnya pada spesies kadal yang

mempunyai perbedaan morfologi pada organ seksualnya antara jantan dan betina
(Walbot, 1987).
Contoh jenis-jenis variasi intra populasi non genetik adalah variasi umur,
variasi kepadatan, variasi musiman pada suatu individu, variasi musiman pada
beberapa keturunan, variasi traumatik, variasi sosial, variasi neurogenik, variasi
habitat, variasi allometrik, variasi inang, dan variasi iklim temporer. Variasi umur
adalah variasi dalam satu populasi yang menyebabkan perbedaan morfologi akibat
umur yang berbeda, contoh siklus hidup katak sawah (Fejervarya cancrivora).
Variasi kepadatan adalah variasi dalam satu populasi yang disebabkan oleh
kepadatan pada suatu habitat, contoh ikan yang berada di akuarium. Variasi musiman
pada suatu individu adalah variasi dalam satu populasi yang disebabkan oleh musim
yang berbeda dan hanya terjadi pada satu individu, contoh burung cenderawasih saat
musim kawin. Variasi musiman pada beberapa keturunan adalah variasi dalam satu
populasi yang disebabkan oleh musim yang berbeda dan terjadi pada beberapa
keturunan, contoh kupu-kupu. Variasi traumatik adalah variasi dalam satu populasi
yang disebabkan oleh induksi parasit, contoh lebah Andrena sp. yang terserang
parasit Stylops sp..Variasi sosial adalah variasi dalam satu populasi yang disebabkan
oleh perbedaan aktivitas karena adanya perbedaan kasta, contoh koloni lebah. Variasi
neurogenik adalah variasi dalam satu populasi yang disebabkan oleh adanya perintah
dari syaraf, contoh perubahan warna pada bunglon. Variasi habitat adalah variasi
dalam satu populasi yang disebabkan oleh perbedaan habitat, contoh warna kulit
manusia pada habitat yang berbeda. Variasi inang adalah variasi dalam satu populasi
yang disebabkan oleh perbedaan inang yang ditempati, contoh tungau Lacomium
cornii. Variasi iklim temporer adalah variasi dalam satu populasi yang disebabkan
oleh perbedaan iklim, contoh warna kulit manusia pada iklim yang berbeda (Stearns
and Hoekstra, 2003).
Phena merupakan suatu penggambaran dari berbagai karakter yang dimiliki
spesies yang masih sama atau suatu istilah untuk menunjuk perbedaan bentuk atau
fenotip yang terjadi dalam satu populasi (morfologi berbeda namun masih dalam satu
spesies). Spesies sibling merupakan spesies yang memiliki morfologi sama namun
karena terisolasi reproduktif menjadi spesies yang berbeda. Contoh jenis-jenis variasi
intra populasi genetik adalah seksual dimorfisme, gynandromorfi, interseks,
uniparental, strain seksual, variasi kontinyu, variasi diskontinyu, dan polimorfisme.
Seksual dimorfisme merupakan suatu individu yang memiliki kelamin yang berbeda

seperti perbedaan sek primer dan sekunder (yang merupakan perbedaan paling
nyata), contoh perbedaan morfologi kadal jantan dan betina. Gynandromorfi ialah
suatu penampakan morfologi genetik pada satu individu memiliki sebagian karakter
jantan dan sebagian lagi karakter betina, contoh pada sayap kupukupu tertentu
terdapat karakter jantan pada sayap bagian anterior sementara pada sayap bagian
posterior memiliki karakter betina. Interseks merupakan suatu individu yang
memiliki alat reproduksi campuran baik jantan maupun betina sehingga tidak dapat
diketahui (dilihat), contoh penderita sindrom klinefelter. Uniparental adalah individu
yang merupakan keturunan dari satu parental dan memiliki karakter yang identik
dengan parentalnya, contoh cacing pita (Abbott, 2011). Strain seksual adalah suatu
galur atau varietas yang berbeda pada suatu spesies, contoh lalat buah (Drosophila
sp.). Variasi kontinyu adalah kemiripan antar spesies yang terjadi karena perubahan
evolusi. Variasi diskontinyu adalah variasi yang disebabkan oleh satu morfologi yang
diatur oleh satu genotip, contoh perbedaan warna itik jantan dan betina.
Polimorfisme adalah variasi morfologi yang bermacam-macam yang terdapat pada
satu spesies, contoh ikan mas koki (Carassius auratus auratus) (Buwono, 2011).
Spesies allopatrik adalah spesies yang terbentuk karena terjadinnya isolasi secara
geografis dari seluruh karakter sehingga dapat menghalangi pertukaran gen antara
spesies simpatrik. Populasi yang terpisah secara geografis dapat terisolasi oleh
kemandulan atau perbedaan perilaku dibandingkan dengan populasi yang berdekatan.
Populasi yang terisolasi mungkin tidak dapat melakukan interbreeding jika mereka
bertemu, karena bentuknya sangat menyimpang (divergent) dan kemudian masuk ke
dalam simpatrik tetapi tidak terjadi interbreeding. Spesiasi alopatrik merupakan
mekanisme isolasi yang terjadi gradual (Stearns and Hoekstra, 2003).
Spesies simpatrik merupakan spesies yang terbentuk karena adanya suatu
polimorfisme seimbang bersama dengan perkawinan asortatif dan terpisah secara
geografik namun masih ke dalam habitat yang sama. Spesiasi simpatrik meliputi
spesiasi gradual dan spontan. Jika bastar antara dua spesies diploid membentuk
tetraploid akan dapat memperbesar isolasi reproduktif dari tetua yang diploid.
Keturunan triploid akibat backcross mempunyai proporsi aneuploidi yang tinggi,
karena gamet membawa cacat bawaan. Pembatasan interbreeding diantara bentuk
diploid dan tetraploid dapat muncul, tetapi tidak pada poliploidi (Campbell et al.,
2000).

Arlequin ver 3.0 adalah sebuah paket software yang mengintegrasi beberapa
metode dasar dan lanjut untuk analisis data populasi genetik, seperti komputasi dari
diversitas genetik indices standar, estimasi dari frekuensi alel dan halotipe, tes untuk
penyimpangan dari hubungan keseimbangan, penyimpangan dari keadaan netral
yang selektif dan keseimbangan demografik, estimasi atau parameter dari ekspansi
populasi yang lalu, dan melalui analisis dari populasi subdivisi didalam struktur
AMOVA (Excoffier, 2005).
DnaSP adalah sebuah paket software untuk analisis polimorfism data DNA.
Versi terkini mengenalkan beberapa modul baru dan fitur, yang diantaranya opsi
membolehkan: (1) menangani set data yang besar (~5 Mb per sequens); (2)
melaksanakan tes yang berdasarkan penggabungan dalam jumlah yang besar oleh
simulasi komputer Monte Carlo; (3) analisis yang luas dari diferensiasi genetik dan
aliran gen ditengah-tengah populasi; (4) menganalisis pola evolusioner dari codon
yang diinginkan dan tidak diinginkan; (5) menghasilkan keluaran grapikal untuk
visualisasi yang mudah dari hasil (Rozas, 2003). DnaSP versi 5 digunakan untuk
mengkalkulasikan polimorfisme yang dibagi dan perbedaan yang tetap, dan Arlequin
versi 3.11 digunakan untuk mengkalkulasikan nilai fixation index (FST) (Bennett et.
al., 2012).

III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam acara praktikum ini adalah gloves, bak
preparat, pinset, kaca pembesar, mikroskop, kamera, software Arlequin 3.5, software
dnaSP, komputer, dan alat tulis.
Bahan yang digunakan dalam acara praktikum ini adalah spesimen pada setiap
tahapan hidup katak sawah (Fejervarya cancrivora), kadal (Mabouya multifasciata)
jantan dan betina, jangkrik (Gryllus sp.) jantan dan betina, koloni lebah (Apis sp.),
ikan mas koki (Carrasius auratus auratus), sequens nukleotida beberapa spesimen
hewan, dan chloroform.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain:
1. Tahapan hidup katak digambar, difoto, dan didefinisikan jenis variasi yang
terjadi.
2. Jangkrik jantan dan betina serta organ reproduksi kadal jantan dan betina
digambar, difoto, dan didefinisikan jenis variasi yang terjadi.
3. Awetan koloni lebah diamati dan didefinisikan jenis variasi yang terjadi.
4. Polimorfisme dari ikan mas koki diamati dan didefinisikan jenis variasi yang
terjadi.
5. Laporan sementara dibuat dari hasil praktikum.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Tabel 1. Deskripsi Karakter Morfologi Ikan Mas Koki
No

Jenis Ikan

Deskripsi Karakter

.
1

Mutiara

Memiliki kepala yang bulat, badan yang membulat, mata yang


rata dan memiliki warna tubuh putih dengan bercak oranye di

Tiger

sekitar kepala.
Memiliki kepala yang bulat, badan yang bulat, mata yang rata,
tonjolan pada kepala, warna tubuh putih dengan bercak oranye

Komet

kemerahan dan sirip dorsal yang besar.


Memiliki kepala yang lonjong, badan yang pipih, mata yang
rata, warna tubuh putih dengan bercak oranye atau merah

Penser

muda dan sirip ekor yang indah seperti kipas.


Memiliki kepala yang bulat, badan yang membulat, mata yang
rata, tonjolan pada kepala, warna tubuh oranye dan sirip ekor

Tosa

yang indah seperti kipas.


Memiliki kepala yang bulat, badan yang membulat, mata yang
rata, dan warna tubuh oranye dengan hitam di bagian

Lowo

dorsalnya.
Memiliki kepala yang bulat, badan yang membulat, mata yang
menonjol, dan warna tubuh hitam.

Tabel 2. Perbedaan Karakter Morfologi Ikan Mas Koki


No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Karakter
Kepala lonjong
Kepala bulat
Badan membulat
Badan pipih
Mata menonjol
Mata rata
Tonjolan kepala
Warna tubuh
Sirip dorsal
Sirip ekor

Jenis Ikan
Komet Penser

Mutiara

Tiger

Tosa

Lowo

B. Pembahasan
Hasil

pengamatan

pada

katak,

terjadi

perubahan

morfologi

sesuai

perkembangan usia. Tiap fase hidup katak ini mengalami perubahan baik morfologi
maupun fisiologi yang disebut dengan metamorfosis. Metamorfosis ini dimulai dari
telur hingga menjadi katak dewasa. Saat masih telur berbentuk bulat layaknya telur
dan berukuran kecil kemudian berkembang menjadi berudu yang bernapas dengan
insang dan memiliki usus melingkar serta bersifat herbivora. Selanjutnya tumbuh kaki
(ekstrimitas) belakang dan menjadi berudu berkaki yang masih tetap bernafas dengan
insang dan bersifat herbivora kemudian tumbuh kaki depan menjadi katak berekor.
Setelah itu ekor mulai memendek dan berubah menjadi katak muda sampai
berkembang menjadi dewasa, pada saat itu katak bernapas dengan paru-paru dan
ususnya memendek serta berubah menjadi bersifat karnivora karena jenis makanan
berubah menjadi serangga yang tadinya tumbuhan. Katak dewasa memiliki ukuran
tubuh yang lebih besar dibandingkan katak muda dan sistem metabolisme tubuh
sudah terbentuk dengan baik. Pernafasan kadal dewasa selain dengan menggunakan
paruparu juga dapat bernafas melalui kult yang lembab. Ketika dalam tahap larva
dalam kitaran hidup, seekor berudu bernafas melaui insang. Berudu mempunyai ekor
bersirip yang digunakan untuk berenang melalui alunan sisian atau aliran air, seperti
kebanyakan

ikan.

Selama

berkembang,

berudu

bermetamorfosis

dengan

menumbuhkan kaki perlahan-lahan, kemudian menyerap ekornya melalui proses


apoptosis. Paru-paru terbentuk serentak dengan perkembangan katak, dan pada
perkembangan lebih lanjut berudu akan berenang ke permukaan air untuk mengambil
udara. Tingkat akhir proses metamorfosis ini, mulut berudu berubah dari bentuk bulat
kecil di depan kepala menjadi mulut yang ukurannya lebih besar yang sama lebarnya
dengan kepalanya, ususnya pun ikut menyesuaikan untuk dapat menampung makanan
yang dimakan oleh katak tersebut menjadi lebih pendek karena bersifat karnivora.
Metamorfosis katak ini termasuk ke dalam variasi umur yang tergolong dalam variasi
non genetik.
Hasil pengamatan terhadap anatomi kadal menunjukan bahwa adanya
perbedaan organ urogenital pada kadal jantan dan betina. Kadal jantan memiliki
hemipenis, vas defferens, dan sepasang testis, sedangkan pada kadal betina tidak
memiliki sepasang hemipenis namun memiliki organ ovarium, oviduct, kandung

kemih, dan kloaka. Sistem urogenital kadal terdiri dari sepasang ginjal, dari ginjal
keluar ureter yang bermuara di kloaka. Pangkal ureter terdapat vesica urinaria. Ginjal
bertipe metanephros, berwarna merah coklat, masing-masing terdiri atas lobus
anterior dan lobus posterior. Kedua ureter pada jantan sebelum bermuara di kloaka
bersatu dulu dengan vas defferens, tetapi betina bermuara lansung ke dalam kloaka.
Organ urogenital jantan terdiri atas sepasang testis (berbentuk oval, kecil agak
keputih-putihan), epidermis, vas deferens, dan sepasang hemipenis. Hemipenis
merupakan alat kopulasi yaitu untuk memasukkan sperma dalam tubuh kadal betina,
sehingga kadal jantan mengadakan fertilisasi internal. Variasi pada kedua kadal baik
jantan maupun betina termasuk dalam variasi genetik karena adanya seksual
dimorfisme.
Variasi pada populasi hewan kadal dapat terjadi karena adanya seksual
dimorfisme seperti perbedaan sek primer dan sek sekunder yang dimilikinya. Ciri sek
primer sendiri adalah merupakan organ yang berhubungan langsung dengan
reproduksi yaitu testis dan salurannya pada kadal jantan dan ovarium dan salurannya
pada kadal betina. Sementara sek sekunder berguna untuk membedakan jenis kadal
berdasarkan tanda-tanda dari luar tubuh kadal, ciri sek sekunder terdiri dari dua jenis
yaitu pertama yang tidak mempunyai hubungan dengan kegiatan reproduksi secara
keseluruhan, misalnya bentuk morfologi dari organ reprodusinya yaitu testis lebih
kecil di bandingkan ovarium. Ciri yang kedua merupakan alat bantu atau organ
tambahan waktu reproduksi.
Selain pengamatan terhadap anatomi reproduksi kadal jantan dan kadal betina
juga dilakukan pengamatan terhadap morfologi kedua kadal. Jika dilihat dari warna
sisik, bentuk warna sisik pada tubuhnya tergantung dari umur, jenis kelamin, dan
keadaan fisiologis tubuhnya. Kadal jantan memiliki pola warna sisik atau permukaan
luar bagian dorsal yang berwarna hijau agak tua dan bercorak monoton (kurang
memiliki ciri khas) sedangkan pada kadal betina memiliki corak kulit bagian dorsal
yang khas atau berpola tertentu sehingga warna yang terdapat pada kulitnya tidak
hanya satu macam warna namun adanya kombinasi warnawarna tertentu dan
membentuk corak tertentu. Ukuran tubuh kadal jantan lebih kecil dibandingkan
dengan kadal betina. Selain itu, jika kadal betina sedang memiliki telur dalam
perutnya maka ukuran perut atau abdomennya dapat dua kali lebih besar dibanding

kadal jantan. Ekor kedua kadal secara khas mirip cambuk dan bentuknya bulat dan
panjang meruncing ke ujungnya dan mudah putus.
Perbedaan morfologi karena adanya seksual dimorfisme juga terdapat pada
jangkrik (Gryllus sp.). Jangkrik jantan memiliki sayap punggung yang bermotif
bergelombang, kasar, dan tidak rata. Jangkrik jantan juga berbunyi lebih nyaring dari
jangkrik betina. Jangkrik betina memiliki sayap punggung bermotif lurus dan
bunyinya kurang nyaring bila dibandingkan dengan jangkrik betina. Perbedaan yang
paling jelas adalah adanya ovipositor pada jangkrik betina yang tempatnya ada
dibawah ekor, sedangkan jangkrik jantan tidak memiliki ovipositor. Ovipositor ini
berfungsi untuk mengeluarkan telur.
Perbedaan morfologi karena adanya variasi sosial bisa dilihat pada koloni
lebah (Apis sp.). Variasi sosial adalah variasi dalam satu populasi yang disebabkan
oleh perbedaan aktivitas karena adanya perbedaan kasta. Terdapat tiga kasta pada
koloni lebah yaitu ratu, pejantan, dan pekerja. Ratu memiliki tubuh yang paling besar
jika dibandingkan dengan kasta lain. Ratu adalah betina fertil yang berperan untuk
bertelur dan menghasilkan keturunan. Ratu dapat hidup selama 3-5 tahun. Pejantan
berperan untuk membuahi ratu dan dapat hidup selama 2 bulan. Pejantan akan
dibunuh oleh pekerja setelah membuahi betina karena dapat dianggap merugikan bagi
koloni. Pekerja memiliki tubuh yang paling kecil dibandingkan dengan kasta lain.
Pekerja adalah betina fertil yang berperan untuk mencari makan, membangun sarang,
dan menjaga koloni lebah. Pekerja dapat hidup selama 1,5 bulan. Pekerja merupakan
betina fertil karena adanya pengaruh dari hormon feromon yang dikeluarkan ratu.
Perbedaan morfologi karena adanya polimorfisme bisa dilihat pada ikan mas
koki (Carassius auratus auratus). Ikan mas koki jenis mutiara memiliki morfologi
sebagai berikut memiliki kepala yang bulat, badan yang membulat, mata yang rata,
dan memiliki warna tubuh putih dengan bercak oranye disekitar kepala. Ikan mas
koki jenis komet memiliki morfologi sebagai berikut memiliki kepala yang lonjong,
badan yang memanjang, mata yang rata, warna tubuh putih dengan bercak oranye
atau merah muda dan memiliki sirip ekor yang indah seperti kipas. Ikan mas koki
jenis tiger memiliki morfologi sebagai berikut memiliki kepala yang bulat, badan
yang membulat, mata yang rata, tonjolan pada kepala, warna tubuh putih dengan
bercak oranye kemerahan dan sirip dorsal yang besar. Ikan mas koki jenis penser
memiliki morfologi sebagai berikut memiliki kepala bulat, badan yang membulat,

mata rata, ada wen, memiliki sisik, sirip caudal, dan sirip dorsal. Ikan mas koki jenis
tosa memiliki morfologi sebagai berikut memiliki kepala bulat, badan yang
membulat, mata rata, tidak ada wen, memiliki sisik, sirip caudal, dan sirip dorsal.
Ikan mas koki jenis lowo memiliki morfologi sebagai berikut memiliki kepala bulat,
badan yang membulat, mata menonjol, tidak ada wen, memiliki sisik, sirip caudal,
dan sirip dorsal.
Arlequin digunakan untuk analisis data variasi populasi genetik. Prosedur yang
digunakan pada acara praktikum ini adalah:
1. Open project, file yang digunakan adalah t_crocea-struktur.arp. file tersebut
adalah hasil analisis project peneliti lain.
2. Buka Stucture Editor, di jendela sebelah kiri, semua sample populasi yang
ditemukan pada project didaftarkan pada jendela sebelah kanan. Bila tidak ada
Genetic Struucture maka akan tampak 0 pada jendela. Disini kita dapat
menambahkan populasi baru.
3. Analisi yang berbeda dapat diatur pada bagian setting. Tergantung kebutuhan
yang digunakan dalam project. Lalu tekan save.
4. Tekan tombol start pada pojok kanan atas untuk memulai analisis.
5. Akan keluar jendela baru yang menampilkan hasil analisis. Nama project akan
berekstensi *.res.
AMOVA (Analysis of Molecular Variance) design result adalah hasil analisis yang
menggunakan aplikasi Arlequin untuk mengevaluasi jumlah struktur genetik
dalam populasi dan tugasnya menyajikan data berdasarkan metode yang
digunakan dalam analisis. Biasanya hasil data AMOVA menggunakan ekstensi
*.res. Fixation indices dan significance indices adalah ukuran pasti dari variasi
dalam populasi karena struktur genetik. Hal ini dihasilkan dengan gabungan data
polimorfisme genetik, seperti SNP atau mikrosatelit. Populasi Tridacna crocea
pada project menunjukan polimorfisme pada daerah-daerah yang dikunjungi.
Hewan-hewan ini tetap dalam satu spesies namun variasinya polimorfisme.
Dengan bantuan DnaSP untuk memasukan sequens DNAnya dapat diperkirakan
seberapa besar variasi genetiknya.

V. KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulan bahwa :
1. Metamorfosis katak sawah (Fejervarya cancrivora) termasuk variasi non genetik
yaitu variasi umur.
2. Perbedaan morfologi pada kadal (Mabouya multifasciata) jantan dan betina
termasuk ke dalam variasi genetik karena adanya seksual dimorfisme dengan
perbedaan seks primer dan seks sekunder.
3. Perbedaan morfologi pada jangkrik (Gryllus sp.) jantan dan betina termasuk ke
dalam variasi genetik karena adanya seksual dimorfisme dengan perbedaan seks
primer dan seks sekunder.
4. Perbedaan morfologi pada koloni lebah (Apis sp.) termasuk variasi non genetik
yaitu variasi sosial karena adanya perbedaan kasta.
5. Perbedaan morfologi pada ikan mas koki (Carassius auratus auratus) termasuk
variasi genetik karena adanya polimorfisme.
B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini yakni :
1. Penjelasan menggunakan software Arlequin 3.5 dan dnaSP sebaiknya jangan
terlalu cepat agar praktikan mampu memahaminya dengan baik.

DAFTAR REFERENSI
Abbott, J.K. 2011. Intra-locus Sexual Conflict and Sexually Antagonistic Genetic
Variation in Hermaphroditic animals. Proc. R. Soc. B. Vol 278: 161169.
Bennett, Julia S., Keith A. Jolley, Sarah G. Earle, Craig Corton, Stephen D. Bentley,
Julian Parkhill dan Martin C. J. Maiden. 2012. A Genomic Approach to
Bacterial Taxonomy: An Examination and Proposed Reclassification of Species
within The Genus Neisseria. Microbiology. 158: 1570-1580.
Brotowidjoyo. 1990. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta.
Buwono, I.D. 2011. Potensi Genetik Induk Belut Sawah (Monopterus albus) Berdasar
Uji Polimorfisme Menggunakan Marker RAPD (Random Amplified
Polymorphic DNA). Jurnal UNPAD. Vol 2 (2): 1-12.
Campbell, Neil A., Jane B. Reece dan Lawrence G. Mitchell. 2000. Biologi Edisi
Kelima Jilid 2. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Djuhanda, T. 1982. Anatomi dari Empat Spesies Hewan Vertebrata. Armico,
Bandung.
Excoffier, L., Guillaume Laval, dan Stefan Schneider. 2005. Arlequin (Version 3.0):
An Integrated Software Package for Population Genetics Data Analysis.
Evolutionary Bioinformatics Online. 47-50.
Mahardono, A. 1980. Anatomi Katak. PT Intermasa, Jakarta.
Mayr, Ernest. 1962. Principles Of Systematic Zoologi. New Delhi, Tata McGraw-Hill
Publishing Company Radiopoetro. 1986. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Pangkey, H. 2009. Daphnia dan penggunaannya. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Vol
5 (3): 33-36.
Stearns, Stephen dan Hoekstra Rolf. 2003. Evolution an introduction. Oxford, New
York.
Walbot, V., & N. Holder. 1987. Developmental Biology. Random House, New York.