Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan masih belum
menggembirakan. Berbagai program yang dilancarkan belum optimal dalam
memberi efek kepada masyarakat, yakni perubahan perilaku masyarakat
dalam memelihara kesehatannya secara mandiri. Gambaran perilaku
masyarakat tersebut dapat dilihat dari dampak yang ditimbulkannya, yakni
masih tingginya angka-angka berbagai indikator yang merepresentasikan
masih rendahnya kualitas kesehatan masyarakat Indonesia

seperti masih

rendahnya status gizi (Baliwati,2006).


Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi
nasional status gizi penduduk umur 6-14 tahun (usia sekolah) kategori kurus
menurut jenis kelamin adalah laki-laki 13,3% dan perempuan 10,9%. Bila
dilihat dari konsumsi energi dan protein, secara nasional persentase rumah
tangga dengan konsumsi energi rendah sebesar 59,0% dan konsumsi protein
rendah sebesar 58,5%. Di provinsi Sulawesi Selatan, status gizi penduduk
usia 6-14 tahun kategori kurus adalah laki-laki 15,5% dan perempuan 13,4%,
lebih tinggi di atas prevalensi nasional, dan termasuk pula di antara 21
provinsi dengan persentase konsumsi energi dan protein rendah lebih tinggi di
atas angka nasional, yaitu sebanyak 71,7% dan 61,7%.

Bila dilihat per kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, prevalensi status


gizi penduduk umur 6-14 tahun kategori kurus di atas prevalensi nasional,
yaitu untuk laki-laki sebanyak 16 kabupaten/kota, termasuk kabupaten Barru,
dan prevalensi anak perempuan kurus terdapat di 14 kabupaten/kota. Dilihat
dari konsumsi energi dan protein, persentase RT dengan konsumsi energi
rendah di atas persentasi nasional sebanyak 20 kabupaten/kota dan konsumsi
protein rendah sebanyak 14 kabupaten/kota. Kabupaten Barru termasuk salah
satu kabupaten dengan persentase konsumsi energi dan protein kurang di atas
persentase nasional, di mana persentasi rumah tangga dengan konsumsi
energi kurang sebanyak 77,9% dan protein kurang sebanyak 64,2%.6
Terdapat kaitan yang sangat erat antara status gizi dengan konsumsi
makanan. Tingkat status gizi yang optimal akan tercapai apabila memenuhi
kebutuhan zat gizi. Namun demikian, status gizi seseorang dalam suatu masa
tidak hanya ditentukan oleh konsumsi zat gizi pada saat itu, tetapi lebih
banyak ditentukan oleh konsumsi zat gizi pada masa lampau, bahkan jauh
sebelum masa itu. Ini berarti bahwa konsumsi zat gizi masa kanak-kanak
memberi andil terhadap status gizi setelah dewasa.
Posyandu merupakan salah satu Upaya Kesehatan Bersumber Daya
Masyarakat (UKBM) yang paling dikenal oleh masyarakat. Kegiatan yang
ada di posyandu terdapat lima kegiatan yaitu Keluarga Berencana (KB),
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), gizi, imunisasi dan penanggulangan diare
dapat digunakan sebagai upaya untuk menurunkan angka kematian bayi dan
balita. Posyandu merupakan tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang

dapat mencapai masyarakat dengan perekonomian yang rendah. Posyandu


sebaiknya dilakukan secara rutin kembali seperti pada masa orde baru karena
posyandu dapat mendeteksi permasalahan gizi dan kesehatan di berbagai
daerah Indonesia. Permasalahan gizi buruk pada anak balita, kekurangan gizi,
busung lapar, dan masalah kesehatan lainnya termasuk kesehatan ibu dan
anak dapat dicegah apabila posyandu dapat diaktifkan kembali melalui lima
program kegiatan di posyandu secara menyeluruh di berbagai daerah
Indonesia (Depkes RI,2006).
Dalam melaksanakan program posyandu diperlukan dukungan
partisipasi

masyarakat

terutama

ibu

balita.

Partisipasi

sebagaimana

diungkapkan Adi,dkk (2008), adalah suasana dimana orang dalam (insider)


aktif berinisiatif, merencanakan dan melaksanakan yang bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, dan orang luar (outsider) lebih banyak
berperan sebagai pendamping dan penasehat karenanya pendekatan
partisipasi haruslah bertujuan mendukung inovasi lokal menghargai
perbedaan dan kesulitan pihak lain, serta mengutamakan peningkatan
kemampuan lokal. Untuk dapat membentuk posyandu yang dapat bertahan
kelangsungannya diperlukan juga dukungan sosial sehingga masyarakat
terutama ibu balita terdorong aktif ikut serta dalam perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan dan dapat menikmati hasil dari program posyandu tersebut.
Menurut Adi, dkk (2008) dengan adanya partisipasi masyarakat
perencanaan program posyandu diupayakan menjadi lebih terarah, artinya
rencana atau program yang disusun sesuai dengan yang dibutuhkan oleh

masyarakat, berarti dalam penyusunan program ditentukan prioritas, dengan


demikian pelaksanaan program tersebut akan terlaksana secara efektif dan
efisien. Salah satu indikasi pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah
keaktifan kedatangan masyarakat ke pusat pelayanan kesehatan yang dalam
hal ini khususnya pemanfaatan posyandu. Kehadiran ibu di posyandu dengan
membawa balitanya sangat mendukung tercapainya salah satu tujuan
posyandu yaitu meningkatkan kesehatan ibu dan balita.
Tetapi kenyataannya, tidak semudah dan sesederhana seperti yang
diperkirakan. Partisipasi masyarakat merupakan hal yang kompleks dan
sering

sulit

diperhitungkan

karena

terlalu

banyak

faktor

yang

mempengaruhinya. Faktor sosial budaya di masyarakat kita di mana peranan


bapak/suami sangat dominan dalam proses pengambilan keputusan, maka
umumnya anggota keluarga lainnya sangat kecil inisiatifnya. Hal ini juga
terlihat pada kader setempat agar dapat melakukan semua kegiatan di
posyandu, sehingga dalam pelaksanaannya saling membantu dan dapat
memberikan motivasi kepada ibu yang mempunyai balita agar senatiasa
patuh/mau dalam melakukan kunjungan ke posyandu.
Menurut Buchori (1993) faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi
masyarakat yaitu faktor sosial yaitu dilihat dari adanya ketimpangan sosial
masyarakat untuk berpartisipasi, adanya dukungan sosial terhadap individu.
Menurut Kartini dkk (2005), dukungan kepada ibu balita dapat diberikan oleh
keluarga/suami, kader dan petugas kesehatan dalam bentuk-bentuk dukungan
emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dukungan

informasi dan dukungan penilaian agar ibu balita mau berpartisipasi dalam
kegiatan posyandu dan dapat menikmati hasil dari program posyandu
tersebut. Faktor budaya yaitu adanya kebiasaan atau adat istiadat yang
bersifat tradisional statis dan tertutup terhadap perubahan. Faktor politik yaitu
apabila proses pembangunan yang dilaksanakan kurang melibatkan
masyarakat pada awal dan akhir proses pembangunan sehingga terkendala
untuk berpartisipasi dan pengambilan keputusan.
Menurut Azwar (2005), dalam upaya peningkatan partisipasi
masyarakat, pengetahuan dan sikap merupakan hal yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang. Menurut Hemas (2007), kenyataan
beberapa tahun terakhir ini, di beberapa daerah kinerja dan partisipasi kader
posyandu dirasakan menurun, hal ini disebabkan antara lain: krisis ekonomi,
kejenuhan kader karena kegiatan rutin, kurang dihayati peran sebagai kader
posyandu sehingga tugas di posyandu kurang menarik atau karena jarang
dikunjungi ibu-ibu balita. Penurunan kinerja posyandu ini dapat dilihat dari
data pada tahun 2005 dari 245.154 posyandu di Indonesia hanya 3,1 yang
mandiri, pada tahun 2006 kader yang aktif hanya 43,3% dan posyandu yang
buka setiap bulan dan cakupan penimbangan 43,3%. Program Posyandu juga
kurang berkembang, hal ini disebabkan karena para petugas lapangan sebagai
motivator

dari

program

tersebut

kurang

atau

tidak

memberikan

dorongan/motivasi kepada masyarakat khususnya kepada ibu balita


kesehatannya secara terus menerus. Faktor dari masyarakat yaitu kader juga
dapat memberikan dukungan/dorongan kepada masyarakat agar dapat

mempengaruhi peran serta masyarakat, apabila kader aktif mengajak ibu


balita untuk ikut dalam kegiatan posyandu maka diharapkan ibu balita pun
akan tertarik untuk ikut serta.
Berdasarkan Riset Kesehatan Daerah tahun 2010, tingkat prevalensi gizi
buruk nasional menurun dari 5,4 % tahun 2007 menjadi 4,9 % tahun 2010.
Kendati demikian masih ada kesenjangan angka antar propinsi. Sebanyak 18
propinsi di Indonesia memiliki prevalensi gizi buruk yang tinggi, misalnya
Sulawesi Selatan 6,4 %, Nusa Tenggara Barat 10,6 % dan Nusa Tenggara
Timur 9 % (Jahari,2000).
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kasus gizi buruk. Menurut
UNICEF dalam Katitira, 2008, ada dua penyebab langsung terjadinya kasus
gizi buruk. Pertama, kurangnya asupan yang berasal dari makanan. Hal ini
disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya
tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi
yaitu kemiskinan. Kedua, akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan
infeksi. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh
sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik. Rendahnya status
gizi jelas berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Oleh karena status
gizi mempengaruhi kecerdasan, daya tahan tubuh terhadap penyakit,
kematian bayi, kematian ibu, dan produktivitas kerja.
Sudah banyak program penanggulangan gizi buruk yang dilakukan
oleh pemerintah sejak krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998.
Upaya intervensi dilakukan pada umumnya secara langsung. Kegiatan

intervensi secara langsung dilakukan dengan program suplementasi gizi


seperti memberikan makanan tambahan pendamping ASI (MP-ASI) berupa
PMT-lokal, pemberian susu formula, pemberian suplementasi zat gizi mikro
berupa taburia dan pemberian multivitamin, disamping itu dilakukan
pemeriksaan klinis dan pengobatan penyakit serta dilakukan juga asuhan
perawatan. Upaya peningkatan partisipasi ibu dalam membina pertumbuhan
dan perkembangan anak balita dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan
kelompok bina keluarga balita (BKB).
Di samping itu, kegiatan posyandu terus ditingkatkan melalui kegiatan
perbaikan gizi keluarga (UPGK), dan penyuluhan tentang pentingnya
imunisasi bagi balita dan pentingnya air susu ibu (ASI) bagi pertumbuhan dan
perkembangan balita. Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan antara lain
melalui wadah PKK, KB, dan posyandu. Melalui gerakan PKK, wanita
berperan aktif dalam membina kesejahteraan keluarganya. Posyandu
hendaknya tidak hanya menjadi tempat anak untuk ditimbang, diberikan
makanan tambahan dan dipulangkan.
Pemberian makanan tambahan atau PMT bagi seseorang terhadap
tambahan makanan

sehari hari (suplementation) untuk mengurangi

kebutuhan gizinya. Dengan demikian makanan yang diberikan berbentuk


jajan atau makanan kecil, jumlahnya sekelas untuk memenuhi kekurangan
makanan seseorang terhadap kebutuhan yang dianjurkan. PMT sebagai sarana
penyuluhan merupakan salah satu cara penyuluhan gizi, khususnya untuk

meningkatkan keadaan gizi anak balita, ibu hamil dan ibu menyusui
(Depkes,2000).
Tujuan

umumnya

adalah

memberikan

pengetahuan

dan

menumbuhkan kesadaran maasyarakat ke arah perbaikan cari pembagian


pemberian makanan anak balita, ibu hamil dan ibu menyusui, tujuan
khususnya.Adalah memperluas jangkauan pelayanan program UPGK serta
mengumumkan kesadaran

masyarakat

untuk

menggunakan bahan

makanan setempat dan dapat diusaahakan secara swadana. (Depkes, 2000).


PMT sebagai sarana pemulihan diberikan setiap hari, sampai keadaan
gizi penerima makanan tambahan TN menunjukkan perbaikan PMT sebagai
sarana penyususnan diberikan setiap hari, tetapi harus secara periodik agar
dapat mencapai tujuan PMT tersebut. (Depkes,2000)
Disadari atau tidak, program suplementasi gizi hanya mampu
mengatasi masalah dalam jangka pendek, atau ketika program itu masih
berlangsung. Ketika program itu sudah berakhir, maka prevalensi gizi buruk
akan kembali meningkat. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran
masyarakat akan keberlangsungan program karena menganggap bahwa
program tersebut milik kesehatan. Masyarakat tidak merasa bertanggung
jawab bahkan cenderung tidak meneruskan apa yang telah dirintis oleh
program gizi dalam menanggulangi gizi buruk.
Angka kunjungan ibu ke posyandu di Kecamatan Tanralili pada tahun
2013 adalah 97.7 % dan pada tahun 2014 sebesar 85,4 % meskipun menurun

dari tahun sebelumnya keadaan ini masih lebih tinggi dari target nasional
sebesar 80 % (Profil Puskesmas Tanralili,2015).
Dari data diatas memberi gambaran bahwa kunjungan ibu balita ke
posyandu sudah baik. Demikian pula program upaya perbaikan gizi keluarga
di posyandu melalui pemberian makanan tambahan sudah dilaksanakan tetapi
masih terdapat kasus gizi buruk Kecamatan Tanralili. Atas dasar
permasalahan tersebut penulis ingin melalukan penelitan tentang pengaruh
Pemberian Makanan Tambahan Terhadap Partisipasi Ibu di Posyandu di
Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dan latar belakang tersebut di atas dapat
dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: Apakah ada pengaruh antara
pemberian makanan tambahan penyuluhan terhadap partisipasi ibu di
posyandu di Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros.
C. Tujuan Penelitian
Untuk

mengetahui

pengaruh

pemberian

makanan

tambahan

penyuluhan terhadap tingkat partisipasi ibu di Posyandu di Kecamatan


Tanralili Kabupten Maros.

D. Manfaat Penelitian
1.

Sebagai masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Maros

untuk

meningkatkan cakupan program kesehatan berbasis masyarakat


2.

Sumber informasi kepada Petugas Kesehatan tentang cara meningkatkan


cakupan kegiatan gizi di puskesmas melalui peningkatan partisipasi ibu
ke posyandu.

3.

Penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dalam menambah wawasan dan


menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya.

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Penyuluhan


Makanan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak,
karena anak yang sedang tumbuh kebutuhannya berbeda dengan orang
dewasa. Kekurangan makanan yang bergizi akan menyebabkan retardasi
pertumbuhan anak dan makanan yang berlebihan juga tidak baik karena
menyebabkan obesitas. Kecukupan pemberian makanan pada anak sangat
penting sebab kekurangan energi/zat gizi dapat mengganggu pertumbuhan
yang optimal, dan dapat pula menimbulkan penyakit gangguan gizi, baik
yang dapat disembuhkan ataupun tidak.
Pemberian makanan pada anak tergantung dari beberapa hal sebagai
berikut : pertama, jenis dan jumlah makanan yang diberikan. Jenis dan jumlah
makanan tambahan yang diberikan pada anak tergantung dari kemampuan
pencernaaan dan penyerapan saluran pencernaan. Kedua, kapan saat yang
tepat pemberian makanan. Waktu yang tepat pemberian makanan pada anak
tergantung pada beberapa faktor yaitu kemampuan pencernaan dan
penyerapan saluran pencernaan serta kemampuan mengunyah dan menelan.
Ketiga, umur anak pada saat makanan padat tambahan dini biasa diberikan.
Pada umur berapa makanan padat tambahan biasanya diberikan kepada anak
tergantung kebiasaan dan sosiokulltural masyarakat tersebut (Wiryo, 2002).

11

Makanan tambahan merupakan makanan yang diberikan kepada balita


untuk memenuhi kecukupan gizi yang diperoleh balita dari makanan seharihari yang diberikan ibu. Makanan tambahan yang memenuhi syarat adalah
makanan yang kaya energi, protein dan mikronutrien (terutama zat besi, zink,
kalsium, vitamin A, vitamin C dan fosfat), bersih dan aman, tidak ada bahan
kimia yang berbahaya, tidak ada potongan atau bagian yang keras hingga
membuat anak tersedak, tidak terlalu panas, tidak pedas atau asin, mudah
dimakan oleh si anak, disukai, mudah disiapkan dan harga terjangkau.
Makanan tambahan diberikan mulai usia anak enam bulan, karena pada usia
ini otot dan syaraf di dalam mulut anak sudah cukup berkembang untuk
mengunyah, menggigit, menelan makanan dengan baik, mulai tumbuh gigi,
suka memasukkan sesuatu kedalam mulutnya dan suka terhadap rasa yang
baru (Wiryo, 2002).
Karena kebutuhan zat gizi tidak bisa dipenuhi hanya dengan satu jenis
bahan makanan. Pola hidangan yang dianjurkan harus mengandung tiga unsur
gizi utama yakni sumber zat tenaga seperti nasi, roti, mie, bihun, jagung,
singkong, tepung-tepungan, gula dan minyak. Sumber zat pertumbuhan,
misalnya ikan, daging, telur, susu, kacang-kacangan, tempe dan tahu. Serta
zat pengatur metabolisme, seperti sayur dan buah-buahan. Pola pemberian
makanan pada bayi dan anak sangat berpengaruh pada kecukupan gizinya.
Gizi yang baik akan menyebabkan anak bertumbuh dan berkembang dengan
baik pula (Depkes RI, 2005).

12

Makin bertambahnya usia anak makin bertambah pula kebutuhan


makanannya,

secara

kuantitas

maupun

kualitas.

Untuk

memenuhi

kebutuhannya tidak cukup dari susu saja. Di samping itu anak mulai
diperkenalkan pola makanan dewasa secara bertahap dan anak mulai
menjalani masa penyapihan. Adapun pola makanan orang dewasa yang
diperkenalkan pada balita adalah hidangan yang bervariasi dengan menu
seimbang (Waryana, 2010).
Masa balita merupakan awal pertumbuhan dan perkembangan yang
membutuhkan

zat

gizi.

Konsumsi

zat

gizi

yang berlebihan

juga

membahayakan kesehatan. Misalnya konsumsi energi dan protein yang


berlebihan akan menyebabkan kegemukan sehingga beresiko terhadap
penyakit. Oleh karena itu untuk mencapai kesehatan yang optimal disusun
Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan (Achadi, 2007).
Dasar perhitungan AKG tahun 2004 dilakukan dengan cara : (1)
Menetapkan berat badan untuk berbagai golongan umur. (2) Menggunakan
rujukan WHO/FAO (2002) dimana AKG untuk energi dan protein disesuaikan
dengan ukuran berat dan tinggi badan rata-rata penduduk sehat di Indonesia
(Almatsier, 2009).

13

Pola makan yang diberikan yaitu menu seimbang sehari-hari, sumber


zat tenaga, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur. Jadwal
pemberian makanan bagi bayi dan balita adalah tiga kali makanan utama
(pagi, siang dan malam) dan dua kali makanan selingan (diantara dua kali
makanan utama).
Berbagai kebijakan dan strategi telah diterapkan untuk mengurangi
prevalensi terjadinya kekurangan gizi. Untuk itu masyarakat perlu diberi
penyuluhan yaitu petunjuk dan ilmu pengetahuan tentang cara mengolah
makanan dari bahan yang ada di sekitar (lokal) untuk bayi, balita, ibu hamil
dan menyusui. Petunjuk tersebut harus disosialisasikan dengan lebih baik
pada masyarakat (Wiryo, 2002).
Di Indonesia upaya yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi
permasalahan gizi adalah dengan program PMT. Dimana yang menjadi
sasaran adalah penderita gizi kurang, baik itu balita, anak usia sekolah, ibu
hamil dan pada penderita penyakit infeksi, misalnya penderita TB Paru.
Dalam program ini memerlukan dana yang tidak sedikit dan sangat
diperlukan kerjasama pihak terkait (lintas program dan lintas sektor) dan yang
terpenting adalah kesadaran masyarakat itu sendiri dalam melakukan upayaupaya penanggulangan masalah gizi.

14

PMT ada 2 (dua) macam yaitu PMT Pemulihan dan PMT Penyuluhan.
PMT Penyuluhan diberikan satu bulan sekali di posyandu dengan tujuan
disamping untuk pemberian makanan tambahan juga sekaligus memberikan
contoh pemberian makanan tambahan yang baik bagi ibu balita. PMT
Pemulihan adalah PMT yang diberikan selama 60 hari pada balita gizi kurang
dan 90 hari pada balita gizi buruk dengan tujuan untuk meningkatkan status
gizi balita tersebut. Dalam hal jenis PMT yang diberikan harus juga
memperhatikan kondisi balita karena balita dengan KEP berat atau gizi buruk
biasanya mengalami gangguan sistim pencernaan dan kondisi umum dari
balita tersebut.
Program PMT bertujuan untuk pemulihan berat badan balita gizi
buruk dan gizi kurang menjadi membaik dalam satu periode 60 s/d 90 hari
sesuai dengan kebijakan pemerintah setempat. Pelaksana adalah Dinas
Kesehatan dalam hal ini Puskesmas yang diawali dengan penimbangan berat
badan balita di posyandu. Pada anak usia 6 bulan s/d 11 bulan diberi makanan
tambahan berupa bubur susu, pada anak usia 12 s/d 23 bulan dan pada anak
usia 25 s/d 59 bulan diberi susu formula. PMT pada prinsipnya adalah untuk
menambah kekurangan kalori dan protein dalam makanan si balita seharihari. Sebagai pedoman pelaksanaan distribusi asupan makan dalam kelompok
umur di bawah ini ditampilkan tabel dari klasifikasi tersebut.

15

Untuk usia 6-11 bulan diberi Cerelac dimana takaran saji 5 sendok
makan (50 gr). Nilai gizi persajian adalah Energi Total 210 kkal, Lemak
4,5gr, Protein 8gr, Natrium 65mg. Untuk usia 12-24 bulan diberi SGM
Eksplor dimana takaran saji 1 sendok makan (35gr). Nilai gizi persajian
adalah Energi Total 160 kkal, Lemak 5gr, Protein 6 gr, Karbohidrat 21gr.
Untuk usia 25-59 bulan diberi SGM Aktif dimana takaran saji 3 sendok
makan (32,5gr). Nilai gizi persajian adalah Energi Total 140 kkal, Energi dari
lemak 35 kkal, Protein 5gr, Natrium 100gr dan Karbohidrat total 21gr.
Pemerintah Kabupaten Maros di dalam menindak lanjuti kerawanan
gizi masyarakat khususnya balita gizi kurang memanfaatkan Sistim
Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Dalam SKPG ditekankan perlunya
kerjasama dengan pemerintah pusat khususnya program yang ditujukan bagi
masyarakat miskin seperti Jaminan pemeliharaan Kesehatan bagi Masyarakat
miskin (Jamkesmas), antara lain : memberi pelayanan kesehatan dasar
melalui Puskesmas dan Rumah Sakit sebagai pusat rujukan. Penatalaksanaan
perbaikan gizi melalui pembentukan Tim Kewaspadaan Pangan dan Gizi,
komitmen Pemda, peningkatan kemampuan teknis dan pemantauan.
Intervensi pangan dan gizi berupa PMT bagi balita penderita gizi
buruk dan gizi kurang serta Pemberian PMT penyuluhan yang dilakukan di
posyandu setiap bulannya. Kegiatan PMT tersebut di atas didasarkan atas
pendapat yang menyatakan bahwa penyuluhan gizi bagi golongan tidak
mampu akan efektif jika disertai bantuan pangan berupa makanan tambahan.
Makanan tambahan merupakan makanan bergizi yang diberikan kepada

16

seseorang untuk mencukupi kebutuhannya akan zat - zat gizi agar dapat
memenuhi fungsinya di dalam tubuh manusia (Depkes RI, 2000).
Untuk mencapai keberhasilan program PMT, sangat diperlukan peran
serta masyarakat, agar hasil yang diperoleh dapat maksimal. Kegiatan ini
memerlukan kerja sama baik antar lintas sektoral (Rumah Sakit, PKK,
Dinsos, LSM dll) dan lintas program, yang sejak tahun 2006 Pemerintah
Kabupaten Maros sudah melaksanakan PMT dalam penanggulangan
kekurangan gizi pada balita (Profil Dinkes Kab.Maros,2012).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian makanan
tambahan balita gizi buruk/kurang adalah : (a) Apabila anak belum mancapai
umur 2 tahun maka ASI tetap diberikan, (b) Balita gizi buruk/kurang perlu
diperhatikan dan pengamatan secara terus menerus terhadap kesehatan dan
gizi antara lain dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai, (c) Anak
yang menderita gizi buruk/ kurang terkadang mempunyai masalah pada
fungsi alat pencernaan, hingga pemberian makanan tambahan memerlukan
perhatian khusus.
Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) diberikan kepada
bayi/anak selain ASI. MP-ASI diberikan mulai umur 6-24 bulan, merupakan
makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Pemberian MP-ASI harus
dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlah. Hal ini dimaksudkan
untuk menyesuaikan kemampuan alat cerna bayi dalam menerima MP-ASI
(Depkes RI, 2005).

17

Menurut Nasution (2009), dalam penelitiannya tentang PMT pada


anak balita gizi kurang di Puskesmas Mandala Medan Sumatera Utara
mendapatkan hasil bahwa PMT selama 90 hari memberikan hasil positif yaitu
peningkatan dari status gizi kurang menjadi gizi baik sebanyak 70 %,
sementara sisanya 30 % tetap bertahan di status gizi kurang. Ada dibuat suatu
rekomendasi berdasarkan kesimpulan penelitian di atas agar upaya PMT terus
dilakukan untuk menanggulangi masalah gizi kurang.
Menurut Taopan (2005), menyatakan intervensi penanganan kasus
gizi buruk yang melanda anak balita di Nusa Tenggara Timur (NTT), ternyata
tidak cukup hanya dengan program PMT selama 90 hari. Alasannya adalah
bahwa anak balita setelah diintervensi PMT selama 90 hari, kondisi gizi
buruk anak tetap saja terjadi karena dalam keluarga tidak ada lagi makanan
bergizi yang tersedia untuk dikonsumsi. Cara efektif untuk menangani kasus
gizi buruk di NTT adalah memperbaiki kondisi ketahanan pangan masyarakat
dengan cara mengubah pola tanam. Gagal panen kelihatannya memiliki
hubungan kuat dengan kondis gizi buruk pada balita. Ia menambahkan kalau
persediaan pangan masyarakat cukup maka kemungkinan munculnya kasus
gizi buruk bisa ditekan. Ini yang bisa kita harapkan,
B. Partisipasi Ibu
Menurut Depkes RI (2000), Partisipasi masyarakat atau sering disebut
peran serta masyarakat, diartikan sebagai adanya motivasi dan keterlibatan
masyarakat

secara

aktif

dan

terorganinsasi

dalam

seluruh

tahap

pembangunan, mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pengendalian,

18

monitoring dan evaluasi serta pengembangan. Perilaku masyarakat yang


berpengaruh besar terhadap derajat kesehatan menuntut partisipasi aktif
masyarakat menciptakan derajat kesehatan yang optimal baginya. UndangUndang nomor 9 tahun 1960 tenteng pokok pokok kesehatan, Garis Besar
Haluan Negara (GBHN) dan juga Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah
dinyatakan arti pentingya partisipasi masyarakat mutlak diperlukan
(Depkes,1985).
Bentuk partisipasi masyarakat yang dikemukakan pada SKN adalah
partisipasi perorangan dan keluarga, partisipasi masyarakat umum, partisipasi
masyarakat penyelengara upaya kesehatan, partisipasi masyarakat profesi
keshatan. Partisipasi masyarakat adalah keadaan dimana individu, keluarga
maupun masyarakat umum ikut serta bertanggung jawab terhadap kesehatan
diri, keluarga ataupun masyarakat lingkungannya. Tahap-tahap partisipasi
masyarakat dikelompokkan menjadi (1) partisipasi dalam tahap pengenalan
dan penentuan perioritas masalah; (2) Partisipasi dalam tahap penentuan cara
pemecahan masalah; (3) Partisipasi dalam tahap pelaksanaan termasuk
penyediaan sumber daya ; (4) Partisipasi dalam dalam tahap penilaian dan
pemantapan.
Suhendra (2006), partisipasi ditafsirkan sebagai pendekatan dan
tekhnik-tekhnik pelibatan masyarakat dalam proses-proses pemikiran yang
berlangsung selama kegiatan-kegiatan perencanaan dan pelaksanaan, serta
pemantauan dan evaluasi program pembangunan masyarakat.

19

Dalam metode partisipasi dikenal lima dasar program yaitu :


a.

Penjajakan atau pengenalan program

b.

Perencanaan kegiatan

c.

Pelaksanaan atau pengorganisasian kegiatan

d.

Pemantauan kegiatan

e.

Evaluasi kegiatan
Partisipasi masyarakat pada umumnya bersifat mandiri, dimana

individu dalam melakukan kegiatan diatas inisiatif dan keinginan dari yang
bersangkutan,

karena

rasa

tanggung

jawab

untuk

mewujudkan

kepentingannya, ataupun kepentingan kelompoknya dan ada juga partisipasi


yang dilakukan bukan karena kehendak individu sendiri, tetapi karena
diminta atau digerakkan oleh orang lain atau kelompoknya. Depkes RI (2000)
menyebutkan bahwa dalam kegiatan posyandu, tingkat partisipasi masyarakat
disuatu wilayah dapat diukur dengan melihat perbandingan antara jumlah
anak balita didaerah kerja posyandu (S) dengan jumlah balita yang ditimbang
pada setiap kegiatan posyandu

yang ditentukan (D). Angka D/S

menggambarkan kecakupan anak balita yang ditimbang, ini merupakan


indikator tingkat partisipasi masyarakat untuk menimbangkan anak balitanya.
Sedangkan anggota masyarakat yang menjadi kader, merupakan peran serta
masyarakat atau partisipasi dalam kegiatan posyandu. Kader merupakan
motor penggerak kegiatan posyandu.
Menurut Green (1980), perilaku seseorang dipengaruhi 3 faktor utama
yaitu

faktor-faktor

predisposisi

(predisposing

factors),

faktor-faktor

pemungkin (enabling factors), dan faktor-faktor penguat (reinforcing factors).

20

Faktor-faktor predisposisi mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat


terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat
pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya. Hal di atas dapat
dijelaskan dengan contoh yaitu pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil dimana
diperlukan pengetahuan dan kesadaran ibu tersebut tentang pemanfaatan
pemeriksaan hamil, baik bagi kesehatan ibu sendiri dan janinnya.
Disamping itu, kadang-kadang kepercayaan, tradisi dan system nilai
masyarakat juga dapat mendorong atau menghambat ibu untuk periksa
kehamilan ke petugas kesehatan. Sebagai contoh perilaku ibu mengunjungi
posyandu membawa anak balitanya, akan dipermudah jika ibu tahu apa
manfaat membawa anak ke posyandu. Demikian juga, perilaku tersebut akan
dipermudah jika ibu yang bersangkutan mempunyai sikap yang positif
terhadap posyandu. Kepercayaan, tradisi sistem, nilai dimasyarakat setempat
juga dapat mempermudah (positif) atau mempersulit (negatif) terjadinya
perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2005).
Faktor-faktor pemungkin mencakup ketersedian sarana dan prasarana
atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya air bersih, tempat
pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan makanan yang
bergizi dan sebagainya, termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti
Puskesmas, Rumah Sakit, Poliklinik, Posyandu, Polindes, Pos Obat Desa,
dokter atau bidan praktek swasta, dan sebagainya. Untuk perilaku sehat,
masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung, misalnya perilaku

21

pemeriksaan kehamilan. Ibu hamil yang periksa kehamilan ke tenaga


kesehatan tidak hanya karena ia tahu dan sadar manfaat pemeriksaan
kehamilan saja, melainkan ibu hamil tersebut dengan mudah harus dapat
memperoleh fasilitas atau tempat pemeriksaan kehamilan, misalnya
Puskesmas, Polindes, bidan praktek ataupun Rumah Sakit.
Fasilitas ini pada hakekatnya mendukung atau memungkinkan
terwujudnya perilaku kesehatan, maka faktor-faktor ini disebut faktor
pendukung atau faktor pemungkin. Faktor-faktor penguat meliputi faktor
sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku para
petugas termasuk petugas kesehatan dan undang-undang, peraturan-peraturan
baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan.
Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu
pengetahuan dan sikap positif, dan dukungan fasilitas saja, melainkan
diperlukan perilaku contoh dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, para
petugas terutama petugas kesehatan. Di samping itu undang-undang juga
diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut. Misalnya
perilaku pemeriksaan kehamilan serta kemudahan memperoleh fasilitas
pemeriksaan kehamilan, juga diperlukan peraturan atau perundang-undangan
yang mengharuskan ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan.
Menurut Suharto (2005), dalam penelitiannya yang berjudul
Hubungan Antara Karakteristik Ibu dan Keaktifan Menimbangkan Anak di
Posyandu Desa Jendi Kecematan Selogiri Kabupaten Wonogiri, faktor yang
berhubungan dengan keaktifan ibu dalam menimbangkan anaknya di

22

posyandu adalah faktor pendidikan ibu, faktor pengetahuan ibu, faktor status
pekerjaan dan faktor jumlah tanggungan keluarga. Menurut Supraisa (2002),
dalam penelitiannya faktor yang berhubungan dengan keikutsertaan ibu balita
pada kegiatan di posyandu adalah faktor umur balita, faktor jarak ke rumah ke
posyandu, faktor dukungan keluarga, dan faktor dukungan tokoh masyarakat
seperti kepala desa. Sedangkan faktor kelengkapan sarana posyandu dan
pengetahuan ibu tidak ada hubungan dengan keikutsertaan ibu ke posyandu.
Menurut Wijayanti(2005) dalam faktor yang berhubungan dengan partisipasi
ibu balita dalam kegiatan penimbangan di posyandu adalah faktor usia ibu,
faktor pendidikan, faktor pengetahuan, faktor jumlah tanggungan keluarga
dan faktor penghasilan keluarga.
C. Posyandu
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang dikelola dan
diselenggarakan dari, oleh, dan untuk masyarakat dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan, yang berguna untuk memberdayakan masyarakat
dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh
pelayanan kesehatan dasar, terutama untuk mempercepat penurunan angka
kematian ibu dan bayi (Depkes RI, 2000).
Menurut

Briawan

(2012),

sasaran

posyandu

adalah

seluruh

masyarakat, utamanya yaitu: bayi, anak balita, ibu hamil, ibu nifas dan ibu
menyusui serta Pasangan Usia Subur (PUS). Pelayanan posyandu pada hari
buka dilaksanakan dengan menggunakan 5 (lima) tahapan layanan yang biasa
disebut sistem 5 (lima) meja. Kelompok sasaran yang selama ini dilayani

23

dalam kegiatan yang ada di posyandu, yaitu 3 (tiga) kelompok rawan yaitu di
bawah dua tahun (baduta), di bawah lima tahun (balita), ibu hamil dan ibu
menyusui, dengan mempertimbangkan terhadap urgensi adanya gangguan
gizi yang cukup bermakna yang umumnya terjadi pada anak baduta yang bila
tidak diatasi dapat menimbulkan gangguan yang tetap, maka diberikan
perhatian yang khusus bagi anak baduta agar dapat tercakup dalam
pemantauan pertumbuhan di posyandu (Hartono, 2008).
Menurut Agustian (2009) tujuan penyelenggaraan posyandu yaitu:
1.

menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), dan angka kematian ibu (ibu
hamil, melahirkan dan nifas);

2.

membudayakan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS);

3.

meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk

4.

mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB serta kegiatan lainnya yang


menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat dan sejahtera;

5.

berfungsi sebagai Wahana Gerakan Reproduksi Keluarga Sejahtera,


Gerakan Ketahanan Keluarga dan Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera.
Menurut Briawan (2012), pelaksanaan posyandu dikenal dengan

sistem 5 (lima) meja yang terdiri dari:


1.

meja pertama
Kader mendaftar balita dan menulis nama balita pada satu lembar
kertas kecil dan diselipkan pada KMS. Peserta yang baru pertama kali
datang ke posyandu, maka dituliskan namanya, kemudian diselipkan satu
lembar kertas kecil yang bertuliskan nama bayi atau balita pada KMS.

24

Kader juga mendaftar ibu hamil dengan menulis nama ibu hamil pada
formulir atau register ibu hamil. Ibu hamil yang datang ke posyandu,
langsung menuju meja 4 sedangkan ibu hamil baru atau belum
mempunyai buku KIA, maka diberikan buku KIA.
2.

meja kedua
Kader melakukan penimbangan balita dengan menggunakan timbangan
dacin, dan selanjutnya menuju meja 3.

3.

meja ketiga
Kader mencatat hasil timbangan yang ada pada satu lembar kertas kecil
dipindahkan ke dalam buku KIA atau KMS. Cara pengisian buku KIA
atau KMS yaitu sesuai petunjuk petugas kesehatan.

4.

meja keempat
Menjelaskan data KMS (keadaan anak) yang digambarkan dalam grafik,
memberikan penyuluhan, pelayanan gizi dan kesehatan dasar. Meja 4
dilakukan rujukan ke puskesmas pada kondisi tertentu, yaitu:
a.

balita dengan berat badan di bawah garis merah;

b.

berat badan balita 2 bulan berturut-turut tidak naik;

c.

sakit (diare, busung lapar, lesu, badan panas tinggi, batuk 100 hari
dan sebagainya);

d.

ibu hamil (pucat, nafsu makan berkurang, gondok, bengkak di kaki,


pusing terus menerus, pendarahan, sesak nafas, muntah terus
menerus dan sebagainya).

25

5.

meja kelima
Khusus di meja 5, yang memberi pelayanan adalah petugas
kesehatan atau bidan. Pelayanan yang diberikan yaitu: imunisasi;
keluarga berencana; pemeriksaan ibu hamil; dan pemberian tablet tambah
darah, kapsul yodium dan lain-lain.

D. Keaktifan Ibu ke Posyandu


Menurut Mikklesen (2003), partisipasi adalah keterlibatan masyarakat
secara sukarela atas diri mereka sendiri dalam membentuk perubahan yang
diinginkan. Partisipasi juga dapat diartikan Mikkelsen sebagai keterlibatan
masyarakat dalam upaya pembangunan lingkungan, kehidupan, dan diri
mereka sendiri.
Tingkat kehadiran ibu dikategorikan baik apabila garis grafik berat
badan pada KMS tidak pernah putus (hadir dan ditimbang setiap bulan di
posyandu), sedangkan apabila garis grafik tersambung dua bulan berturutturut, dan kurang apabila garis grafik pada KMS tidak terbentuk atau tidak
hadir dan tidak ditimbang setiap bulan di posyandu (Madanijah & Triana,
2007).
Setiap anak umur 12-59 bulan memperoleh pelayanan pemantauan
pertumbuhan setiap bulan, minimal 8 kali dalam setahun yang tercatat di
kohort anak balita dan prasekolah, buku KIA atau KMS, atau buku pencatatan
dan pelaporan lainnya. Ibu dikatakan aktif ke posyandu jika ibu hadir dalam
mengunjungi posyandu sebanyak 8 kali dalam 1 tahun, sedangkan ibu

26

dikatakan tidak aktif ke posyandu jika ibu hadir dalam mengunjungi


posyandu < 8 kali dalam 1 tahun (Departemen Kesehatan RI, 2008).

27

BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Dasar Penelitian Variabel yang Diteliti


Partisipasi masyarakat, diartikan sebagai adanya motivasi dan
keterlibatan masyarakat secara aktif dan terorganinsasi dalam seluruh tahap
pembangunan, mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pengendalian,
monitoring dan evaluasi serta pengembangan. Perilaku masyarakat yang
berpengaruh besar terhadap derajat kesehatan, dalam hal ini peneliti ingin
mngungkapkan permasalahan tentang hubungan pemberian makanan
tambahan (PMT) penyluhan siap saji dengan partisipasi ibu ke posyandu di
Desa Purnakaraya Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros , dikarenakan
partisipasi ibu

ke posyandu merupakan salah satu faktor penentu gizi

balitanya dapat terpenuhi.

B. Skema Kerangka Konsep


Berdasarkan konsep pemikiran seperti yang telah dikemukakan di atas
maka di susunlah kerangka konsep variabel yang diteliti sebagai berikut :

Penilaian Status Gizi


Penyuluhan Pengolahan
Makanan Tambahan

Partisipasi Ibu dan


anak balita di
Posyandu Pelangi

Pemberian Makanan
Tambahan

28

Keterangan :
Variable independen
Variable dependen
B. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
1. Penilaian Status Gizi
Definisi

Operasional

Penilaian

Status

gizi

adalah

suatu

keseimbangan asupan seseoarang yang merupakan suatu indikator baik


tidaknya ketersedian makanan sehari hari.
Kriteria Objektif
a. Gzi baik bila BB/U dan TB/U Normal
b. Gizi buruk bila BB/U dan TB/U Tidak Normal
2. Penyuluhan PMT Pemulihan
Definisi Operasional Penyuluhan PMT Pemulihan merupakan
makanan tambahan disamping makanan sehari-hari, berbentuk makanan
lengkap porsi kecil,. Diberikan oleh puskesmas kepada semua balita, yang
merupakan keluarga miskin dan mempunyai kartu Askeskin yang
mendapat PMT dari puskesmas, dalam penelitian ini peneliti menyediakan
PMT penyulhan siap saji berupa makanan lengkap porsi kecil diantaranya
Sup, Bubur Ayam dan Telur ayam rebus serta memberikan penyuluhann
tentang bagaimana mengolah makanan tambahan yang baik.

29

3. Pemberian Makanan Tambahan (PMT)


Definisi OperasionalStatus PMT adalah Pemberian Makanan
Tambahan yang berupa makanan Tinggi Kalori Tinggi Protein dengan
syarat mengandung 360-430 kkal energi dan 9-11 gram protein.
Kriteria Objektif dengan skala nominal yaitu :
a. (0), tidak mendapat PMT yang memenuhi standar energi dan protein
b. (1), mendapat PMT yang memenuhi standar energi dan protein
4. Partisipasi Ibu ke Posyandu
Definisi OperasionalPartisipasi ibu di posyandu adalah jumlah
kehadiran ibu di posyandu tiap bulan untuk menimbang anak balitanya.
Kriteria Objektif, dengan skala rasio:
a. Dikatakan aktif bila jumlah kehadiran ibu di posyandu 3 kali dalam
sebulan
b. Dikatakan tidak aktif bila jumlah kehadiran ibu di posyandu3 kali
dalam sebulan
B. Hipotesis
1.

Hipotesis Null (Ho)


a.

Tidak ada hubungan status gizi balita dengan partisipasi ke posyandu


Pelangi di Desa Purnakarya Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros

b.

Tidak ada

hubungan pengolahan makanan tambahan (PMT)

penyuluhan siap saji dengan partisipasi ibu ke posyandu Pelangi di


Desa Purnakarya Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros.

30

c. Tidak ada

hubungan pemberian makanan tambahan (PMT)

penyluhan siap saji sup, telur ayam rebus dan bubur kacang hijau
dengan partisipasi ibu ke posyandu Pelangi di Desa Purnakarya
Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros.
2. Hipotesis Alternative (Ha)
a.

Ada hubungan status gizi balita

makanan tambahan (PMT)

penyluhan siap saji dengan partisipasi ke posyandu Pelangi di Desa


Purnakarya Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros.
b.

Ada hubungan pengolahan makanan tambahan (PMT) penyuluhan


siap saji dengan partisipasi ibu ke posyandu Pelangi di Desa
Purnakarya Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros.

c.

Ada hubungan pemberian makanan tambahan (PMT) penyluhan siap


saji sup, telur ayam rebus dan bubur ayam dengan partisipasi ibu ke
posyandu Pelangi di Desa Purnakarya Kecamatan Tanralili
Kabupaten Maros.

31

BAB IV
METODE PENELETIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif untuk mengetahui
hubungan antara variabel Penyuluhan Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
siap saji, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) serta pengetahuan ibu
mengolah bahan makanan tambahan siap sajiterhadap partisipasi ibu balita
dalam kegiatan di posyandu Pelangi desa Purnakarya Kecamatan tanralili
Kabupaten Maros.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di posyandu Pelangi Desa
Purnakarya pada wilayah Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros pada bulan
Mei 2015.
C. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Keseluruhan ibu yang mempunyai

balita di wilayah kerja

posyandu Pelangi desa Purnakarya Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros.

b. Sampel
Dalam penelitian ini sampel yaitu seluruh ibu yang mempunyai
balita di wilayah kerja posyandu Pelangi Desa Purnakarya Kecamatan
Tanralili Kabupaten Maros.

32

c. Responden
Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang membawa balita
nya ke posyandu pelangi yang mendapat PMT penyuluhan siap saji.
D. Cara pengambilan sampel
Adapun teknik pengambilan sampel yang dilakukan yaitu dengan cara
purposive samplingyaitu teknik menentukan sampel dengan pertimbangan
tertentu sesuai dengan tujuan yang dikehendaki (Sugiyono, 2011).
E. Metode pengumpulan data
1. Data primer
Data primer diperoleh dengan wawancara secara langsung dengan
instrument kuisioner terhadap ibu yang membawa balita nya ke posyandu
untuk memperoleh PMT penyuluhan siap saji.
2. Data sekunder
Data sekunder diperoleh melalui catatan bagian gizi diwilayah kerja
posyandu pelangi Desa Purnakarya KecamatanTanralili Kabupaten Maros.
F. Instrumen Penelitian.
1. Kuisioner
2. Timbangan Bayi
G. Pengolahan data dan penyajian data
1.

Pengolahan Data
Data yang telah diperoleh dari kuisiopner kemudian diolahmenggunakan
software SPSS Versi 18,0.

33

2.

Penyajian dan analisa data


Data-data yang telah diolah dan dianalisis disajikan dalam bentuk
tabel frekuensi dan narasi dengan menggunakan uji chi-squareterutama
untuk menguji hipotesis yaitu :
1.

Apabila nilai p <a, maka Ho ditolak;

2.

Apabila nilai p a, maka Ho diterima;


Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu

penghasilan

orangtua

baduta

terhadap

pemberian

MP-ASI,

serta
data

dimasukkan dalam table silan 2x2 kemudian dihubungkan dengan rumus


chi-kuadrat pada a = 0,05.
H. Personalia Penelitian
1.

Pembimbing I

: Prof. Dr. Ir. H. Jalil Genisa, M.S

2.

Pembimbing II

: Ir. H. Rusdi, M.Kes

3.

Peneliti

a.

Nama

: Rosmiati

b.

NIM

: 1320013

34