Anda di halaman 1dari 95

Filsafat Logika

dalhar Shodiq

TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mengetahui asas-asas
berpikir
2. Mahasiswa mampu menerapkan asasasas berpikir dalam kegiatan berpikir
3. Mahasiswa dapat berpikir logis dan kritis

MATERI KULIAH
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pengertian Filsafat
Pengertian logika
Asas-Asas berpikir
Pengertian (concept)
Klasifikasi
Definisi
Putusan (Statement)
Penyimpulan
Kesesatan berpikir

METODE
Ceramah
2. Tanya jawab
3. Latihan / Praktek
1.

BUKU BACAAN
1. Alex Lanur, 1983, Logika Selayang
Pandang, Yogyakarta: Kanisius
2. Poespoprodjo dan Gilarso, 1985, Logika
Ilmu Menalar, Bandung: Remaja Karya

PENGERTIAN FILSAFAT
Filsafat philosophia
philos cinta
sophia kebijaksanaan

PENGERTIAN FILSAFAT
1. Kumpulan sikap dan kepercayaan terhadap
kehidupan yang diterima secara tidak kritis
2. Suatu proses kritik (pemikiran) terhadap
kepercayaan dan sikapyang dijunjung tinggi
3. Usaha untuk mendapatkan gambaran
keseluruhan.
4. Sebagai analisa logis dan bahasa serta
penjelasan arti kata dan konsep
5. Kumpulan problema yang mendapat perhatian
dari manusia dan dijawab oleh ahli filsafat

BAGIAN-BAGIAN FILSAFAT
1.
2.
3.
4.
5.

Metafisika
Epistemologi
Etika
Estetika
Logika

PENGERTIAN LOGIKA
Logika logos (Yunani)

Ucapan, Kata, Pengertian,


Pikiran, Ilmu
Logika Ilmu dan kecakapan berpikir
dengan tepat

Obyek materialberpikir
(penalaran)
Obyek formalketepatan
berpikir

PENALARAN ialah proses akal


budi manusia yang berusaha
sampai pada suatu keterangan
baru (kesimpulan) dengan bertolak
dari satu atau beberapa keterangan
yang sudah diketahui (premis), dan
keterangan baru itu mestilah
merupakan urutan kelanjutan dari
sesuatu atau beberapa keterangan
semula

ASAS-ASAS BERPIKIR (1)


1. Asas-Asas Primer
A. Principium identitatis = tiap-tiap hal
itu sama dengan dirinya sendiri
B. Principium contradictionis = Tiap-tiap
hal itu tidak dapat positif dan negatif
dalam waktu bersamaan.

ASAS-ASAS BERPIKIR (2)


1. Asas-Asas Primer
C. Tertii exclusi = tiap-tiap hal itu
haruslah positif atau negatif
D. Principium Rationis Sufficientis =
Tiap-tiap hal yang ada itu mempunyai
alasan yang cukup untuk adanya.

ASAS-ASAS BERPIKIR (3)


1. Asas-Asas Sekunder
A.
B.
C.
D.

Principium Convenientiae
Principium Inconvenientiae
Principium Dictum De Omni
Principium Dictum De Nullo

UNSUR-UNSUR PENALARAN
1. Mengerti kenyataan (menangkap obyek)
mis: mobil, membeli, mahal, baru
2. Menyatakan adanya atau tidak adanya
hubungan
harga mobil keadaan keuangan

harga mobil mahal


3. Menyimpulkan aku tidak jadi beli mobil baru
karena mahal

UNSUR-UNSUR PENALARAN
1. Pengertian / Concept / Idea
2. Putusan / Penyataan / Statement /
Judgement / Proposition
3. Penyimpulan / Penalaran / Reasoning

PENGERTIAN / KONSEP / IDE


1. Mengerti berarti menangkap inti (gambaran
yang ideal) tentang sesuatu.
2. Pengertian = makna yang dikandung suatu
obyek
3. Concept concipere (Latin)
conceptus = tangkapan
4. Ide eidos (Yunani)
representasi (wakil) benda yang
terdapat dalam intelek
5. Ide bersifat umum dan abstrak

PENGERTIAN
KATA
TERM

PEMBAGIAN KATA /TERM


1. Menurut jumlah kata
Term tunggal, mis. manusia
Term majemuk, mis. ruang belajar
2. Menurut arti kata
Term univok, mis. manusia
Term ekuivok, mis. bulan
Term analog, mis. sehat

3. Menurut luas term


Term singular, mis. Amri, buku itu
Term partikular, mis. beberapa buruh
Term universal, mis. setiap korban

LATIHAN-LATIHAN
Sebutkan contoh-contoh term ekuivok dan
analog
Buatlah 2 kalimat dalam arti yang
berbeda, kemudian sebutkan apakah
perbedaan tersebut dalam arti ekuivok
atau analog.

ISI DAN LUAS


PENGERTIAN
Isi

/ Komprehensi / Konotasi
semua unsur yang termuat dalam
pengertian.
MAHASISWA manusia
yang belajar
di perguruan tinggi
memiliki KTM

Luas / Ekstensi / Denotasi


Lingkungan realitas yang dapat
dinyatakan oleh pengertian tertentu
MAHASISWA mahasiswa Unsoed
mahasiswa UMP

HUBUNGAN ISI DAN LUAS


PENGERTIAN
Semakin banyak isinya, semakin kecil
luasnya (daerah lingkupnya)
Semakin sedikit isinya, semakin besar
luasnya (daerah lingkupnya)

Ma
Isi
kin
Hewan berakal
semp
it
Hewan+berakal+
terdidik

Ma
kin
luas

Term

Luas

Manusia

Buruh, petani, guru


dll, dokter, pengacara

Manusia
terdidik

Guru SD, Guru SMP,


Dosen, dokter,
pengacara

Hewan+berakal+
terdidik+mengajar

Guru

Guru SD, Guru SMP,


Dosen,

Hewan+berakal+
terdidik+mengajar+di
SD

Guru SD Guru SD

KLASIFIKASI
Klasifikasi=kegiatan akal menguraikan,
membagi, menggolongkan dan menyusun
pengertian dan barang menurut
kesamaan dan perbedaannya
Klasifikasi penting karena untuk
mengupas suatu persoalan kita harus
mampu menangkap bagian-bagianya dan
menguraikan unsur-unsurnya

ATURAN KLASIFIKASI
1.
2.
3.
4.

Lengkap
Sungguh-sungguh memisahkan
Menggunakan dasar yang sama
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai

DEFINISI

definisidefinitio (Latin)
pembatasan
suatu kata yang tepat, jelas dan
singkat untuk menentukan batas
pengertian yang tertentu
2 unsur dalam definisi
a. Definiendum (yang didefinisikan)
b. Definiens (yang mendefinisikan)

MACAM-MACAM DEFINISI
A. Definisi nominal = definisi menurut
katanya
1. Menguraikan asal-usuk kata (etimologi)
2. Melihat arti kata dalam kamus.
3. Menggunakan sinonim

MACAM-MACAM DEFINISI
B. Definisi real = definisi yang memperlihatkan hal
yang dibatasi dengan menyajikan unsurunsur / ciri-ciri yang menyusunnya
1. Definisi esensial terdiri dari genus terdekat dan
diferensia spesifik,
manusia adalah binatang yang berpikir

genus terdekat diferensia spesifik

MACAM-MACAM DEFINISI
2.

3.
4.

Definisi deskriptif = definisi yang dibuat dengan


menggunakan ciri-ciri khas yang didefinisikan
Burung gagak adalah burung yang berbulu hitam
Definisi final = definisi yang menunjukkan tujuan
baju adalah barang yng dibuat untuk menutup aurat
Definisi kausal = definisi yang dibuat dengan
menunjukkan sebab musabab sesuatu
stroke adalah penyakit yang terjadi akibat
penyempitan pembuluh dara yang ke otak

ATURAN DEFINISI
1. Definiendum harus dapat dibolakbalikan
dengan definiens dengan luas keduanya
haruslah sama
2. Definiens tidak boleh negatif kalau dapat
dirumuskan secara positif
3. Definiendum tidak boleh masuk dalam
definiens (circulus in definiendo)
4. Definiens tidak boleh dinyatakan dalam
bahasa yang kabur, kiasan, atau medua arti
(ignotum per ignotius)

PUTUSAN
1. Mengakui atau memungkiri kesatuan
atau hubungan antara dua hal,
misalnya: buruh adalah manusia
2. Putusan dinyatakan dalam kalimat berita
3. Putusan dapat dinyatakan benar atau
salah

UNSUR-UNSUR PUTUSAN
1. Subyek = sesuatu yang diberi
keterangan
2. Predikat = sesuatu yang menerangkan
tentang subyek
3. Copula (kata penghubung) = pernyataan
yang mengakui atau
memungkiri hubungan antara
subyek dan predikat

MACAM-MACAM PUTUSAN
Putusan
Kategoris

Tunggal

Tersusun

Hipotetis
Kondisional

Konyungtif

Disyungtif

PUTUSAN BERDASARKAN
MATERINYA
1. Putusan analitis = P menyebutkan sifat hakiki
yang pasti terdapat pada S.
Ayah adalah laki-laki
2. Putusan sintetis = P menyebutkan hal yang
tidak hakiki, tetapi dapat dihubungkan dengan
S karena pengalaman.
Ayah adalah guru

PUTUSAN BERDASARKAN
KUALITAS (COPULA)
1. Putusan afirmatif = putusan yang menyatakan
pengakuan adanya hubungan antara S dan P.
Penduduk desa rajin bekerja
2. Putusan negatif = putusan yang memungkiri
adanya hubungan antara S dan P.
Ada mahasiswa yang tidak lulus
Tidak benar mahasiswa lulus ujian

PUTUSAN BERDASARKAN
LUAS SUBYEK
1. Putusan universal = P menerangkan seluruh
luas S.
Setiap perusahaan membayar pajak
2. Putusan partikular = P menerangkan sebagian
dari luas S.
Ada mahasiswa nakal
3. Putusan singular = P menerangkan satu barang
yang ditunjuk dengan tegas
Muhammad adalah pengusaha yang sukses

PUTUSAN BERDASARKAN
BENTUK DAN LUASNYA
1. Putusan afirmatif universal (A)
Setiap perusahaan membayar pajak
2. Putusan afirmatif partikular (I)
Ada mahasiswa nakal
3. Putusan negatif universal (E)
Semua tindak kejahatan tidak baik
4. Putusan negatif partikular (O)
Ada manusia yang bukan dokter

LUAS PREDIKAT
1. Dalam putusan afirmatif (A dan I),
predikat partikular (tidak distributif)
masing-masing pemenang dapat hadiah
sebagian petani gagal panen
2. Dalam putusan negatif (E dan O),
predikat universal
semua mahasiswa tidak lulus
mayoritas buruh tidak sejahtera

Jenis Proposisi

Subyek

Predikat

A
E
I
O

Distributif
Distributif
Tidak Distributif
Tidak Distributif

Tidak Distributif
Distributif
Tidak Distributif
Distributif

PENYIMPULAN
Penyimpulan adalah kegiatan manusia,
yang dari pengetahuan yang telah dimiliki
dan berdasarkan pengetahuan itu
bergerak ke pengetahuan yang baru.
Titik pangkalpengetahuan tentang fakta,
suatu asas umum,
suatu anggapan (hiptesis)

CONTOH
1. Semua yang melanggar hukum
harus diadili.
Koruptor harus diadili.
2. Rumah A terbuat dari bambu,
berlantai tanah, dia tidak sekolah, B
pengemis tidak sekolah, C anak
petani gurem tidak sekolah juga.
Orang-orang miskin tidak sekolah

1. Premis/antecedent=hal dari mana


disimpulkan sesuatu
2. Kesimpulan (consequens)=pengetahuan
baru yang diperoleh berdasarkan premis
3. Konsekuensia=hubungan antara premis
dan kesimpulan serta merupakan dasar
untuk kesimpulan
4. Kesimpulan yang sah adalah kesimpulan
yang sungguh-sungguh dapat dan harus
diambil dari premis-premis
5. Sah atau tidak sahnya kesimpulan
tergantung ada-tidaknya hubungan atau
lurus tidaknya jalan pikiran

2 MACAM PENYIMPULAN
1. Penyimpulan langsung yakni langsung
menyatakan S=P atau S#P, atau tanpa
pembuktian
2. Penyimpulan tidak langsung yakni
penyimpulan dengan menggunakan term
antara (M).

PENYIMPULAN LANGSUNG
1.
2.
3.
4.

Konversi
Oposisi
Obversi
Kontraposisi

KONVERSI
Konversi dilakukan dengan mengganti S dan P,
sehingga yang dulunya P menjadi S, dan yang
dulunya S menjadi P tanpa mengurangi
kebenaran putusan.
Setiap mahasiswa bayar SPP (convertend)
Yang bayar SPP itu mahasiswa (convers)
A dikonversi menjadi I
E dikonversi menjadi E atau O
I dikonversi menjadi I
O tidak dapat dikonversi

OPOSISI
Kontraris
A.Semua mhs lulus

E. Semua Mhs tidak lulus

s
s
u
u
b
b
a
kontradiktoris a
l
t
t
e
e
r
r
n
n
I. Sebagian mhs lulus

O. Sebagian mhs tidak lulus


Subkontaris

OPOSISI
1. Kontradiktoris = oposisi karena
perbedaan kualitas dan kuantitas
putusan (AO: EI)
2. Kontraris = oposisi karena perbedaan
kualitas putusan, tetapi universal (AE)
3. Subkontraris = oposisi karena perbedaan
kualitas putusan, tetapi partikular (IO)
4. Subaltern = oposisi karena perbedaan
kuantitas putusan, (AI: EO)

HUKUM KONTRADIKSI
AO:E-I
1. Jika yang satu benar, yang lain tentu
salah.
2. Jika yang satu salah, yang lain tentu
benar.
3. Tidak ada kemungkinan yang ketiga .

HUKUM KONTRARIS
A-E
1. Jika yang satu benar , yang lain tentu
salah.
2. Jika yang satu salah, yang lain dapat
benar, tetapi juga dapat salah
3. Ada kemungkinan yang ketiga,
keduanya sama-sama salah .

HUKUM SUBKONTRARIS
I-O
1. Jika yang satu salah, yang lain tentu

benar.
2. Jika yang satu benar, yang lain dapat
salah, tetapi dapat juga benar.
3. Ada kemungkinan yang ketiga, tidak
dapat keduanya sama-sama salah,
keduanya dapat sama-sama benar.

HUKUM SUBALTERN
AI:E-O
1.
2.
3.
4.

Jika yang universal benar, yang partikular


juga benar.
Jika yang universal salah, yang partikular
dapat benar, tetapi juga dapat salah.
Jika yang partikular benar, yang universal
dapat salah, tetapi juga dapat benar.
Jika yang partikular salah, yang universal
juga salah.

TABEL KEBENARAN
Premis
A benar
E benar
I benar
O benar
A salah
E salah
I salah
O salah

E salah
A salah
E salah
A salah
O benar
I benar
A salah
A benar

Konklusi
I benar
I salah
Ab/s
Ib/s
Ib/s
Ab/s
E benar
I benar

O salah
O benar
Ob/s
Eb/s
Eb/s
Ob/s
O benar
E salah

OBVERSI
Kualitas proposisi diganti,
(afirmatif menjadi negatif atau
sebaliknya), kemudian term
predikat diganti dengan
komplemennya
Jujur itu baik (obverten)
Jujur itu bukan tidak-baik
(obvers)

obverten

obvers

KONTRAPOSISI
Term S dan P diganti dengan
komplemennya masing-masing
Term yang sudah berubah, kemudian
dikonversikan
Hanya proposisi A dan O yang memiliki
kontraposisinya
Semua anggota DPR adalah WNI
Semua yang bukan WNI bukan anggota
DPR

SILOGISME
KATEGORIS
TUNGGAL
MAJEMUK
Epicherema
Enthymema
Polysilogisme
Sorites

HIPOTETIS
KONDISIONAL
DISYUNGTIF
KONJUNGTIF

SILOGISME KATEGORIS TUNGGAL


Setiap orang ingin dihormati
M=P
Tukang becak itu juga orang
S=M
Tukang becak itu ingin dihormati
S=P
Premis yang terdapat P kesimpulan disebut
mayor
Premis yang terdapat S kesimpulan disebut
minor
Term yang terdapat dalam kedua premis disebut
Term Antara (M), tidak boleh masuk dalam
kesimpulan

CARA MENJABARKAN KE
DALAM BENTUK SILOGISME
STANDAR

1. Tentukan dahulu kesimpulan yang


ditarik
2. Mencari alasan yang diberikan (M)
3. Susunlah silogisme berdasarkan S = P
(kesimpulan) serta M
Kamu sih pasti lulus ujian, ndak usah
takut, karena kamu mahasiswa yang
pandai.

HUKUM SILOGISME (1)


1. Silogisme tidak boleh mengandung lebih
atau kurang dari 3 term
Semua warganegara wajib membayar
pajak,
Gelandangan juga warganegara.
Berarti ia wajib membayar pajak.
2. Term antara (M) tidak boleh terdapat
dalam kesimpulan

HUKUM SILOGISME (2)


3.

4.

5.

Term S dan P dalam kesimpulan tidak boleh lebih luas


daripada term S dan P dalam premis
Kambing adalah makhluk hidup
Manusia itu bukan kambing.
Manusia bukan makhluk hidup
Term antara (M) harus sekurang-kurangnya satu kali
universal
Kambing adalah makhluk hidup
Manusia juga makhluk hidup
Manusia itu kambing
Jika kedua premis afirmatif, maka kesimpulan harus
afirmatif.

HUKUM SILOGISME (3)


6.

7.

8.

Kedua premis tidak boleh negatif


Batu bukan binatang
Kambing bukan batu
Kambing bukan binatang
Kedua premis tidak boleh partikular
Ada orang kaya yang tidak pandai
Banyak orang miskin yang pandai
Banyak orang miskin bukan orang kaya
Kesimpulan harus sesuai dengan premis yang paling
lemah.

4 MACAM SUSUNAN M
I.

M=P
S=M
S=P
subyek-predikat

II.

P=M
S=M
S=P
predikat-predikat

III. M = P
M=S
S=P
subyek-subyek

IV. P = M
M=S
S=P
predikat-subyek

Susunan Silogisme Yang Lurus


I.
M=P
S=M
S=P

1. babara
2. celarent
3. darii
4. ferio

barbara
Setiap demonstran memakai atribut
Semua mahasiswa ikut demo
Semua mahasiswa memakai atribut
celarent
Setiap demonstran tidak boleh merusak
Semua mahasiswa ikut demo
Semua mahasiswa tidak boleh merusak

darii
Setiap peserta demo mematuhi aturan
Sebagian mahasiswa adalah peserta demo
Sebagian mahasiswa mematuhi aturan
ferio
Setiap peserta demo tidak boleh anarkhis
Sebagian mahasiswa peserta demo
Sebagian mahasiswa tidak boleh anarkhis

Susunan Silogisme Yang Lurus


II.
P=M
S=M
S=P

1. camestres
2. cesare
3. baroco
4. festino

camestres
Semua manusia memiliki hak asasi
Semua binatang tidak memiliki hak asasi
Semua binatang bukan manusia
cesare
Seluruh koruptor tidak disenangi rakyat
Setiap pemimpin yang jujur disenangi
rakyat
Setiap pemimpin yang jujur bukan koruptor

baroco
Semua reformis disenangi rakyat
Sebagian pemimpin tidak disenangi rakyat
Sebagian pemimpin bukan reformis
festino
Seluruh diktator tidak disenangi rakyat
Ada mahasiswa yang disenangi rakyat
Ada mahasiswa yang bukan diktator

Susunan Silogisme Yang Lurus


III.
M=P
M=S
S=P

1. darapti
2. felapton
3. datisi
4. fresison
5. disamis
6. bocardo

darapti
Seluruh mahasiswa lulus ujian
Seluruh mahasiswa calon pemimpin
Sebagian calon pemimpin lulus ujian
felapton
Semua orang bukan binatang
Semua orang makhluk bernyawa
Sebagian makhluk bernyawa bukan binatang

datisi
Setiap perbuatan baik mendapat ganjaran
Perbuatan baik yaitu bertindak adil
Yang bertindak adil mendapat ganjaran
fresison
Semua tindak kekerasan tidak disenangi orang
Sebagian tindak kekerasan itu melanggar hukum
Pelanggar hukum tidak disenangi orang

disamis
Ada pejabat yang senang menyanyi
Semua pejabat adalah pemimpin
Ada pemimpin yang senang menyanyi
bocardo
Ada pejabat tidak mau korupsi
Semua pejabat adalah pemimpin
Ada pemimpin tidak mau korupsi

Susunan Silogisme Yang Lurus


IV.
P=M
M=S
S=P

1. bramantis
2. camenes
3. fesapo
4. ferison
5. dimaris

bramantis
Semua orang kaya senang plesir ke luar negeri
Semua yang senang plesir ke luar negeri suka shopping
Yang suka shopping adalah orang kaya

camentes
Setiap orang yang berprestasi adalah pekerja keras
Setiap pekerja keras tidak menyerah terhadap tantangan
Setiap orang yang menyerah terhadap tantangan bukan
orang berprestasi

fesapo
Semua pelanggaran HAM tidak diperbolehkan
Semua yang diperbolehkan adalah perbuatan bermoral
Perbuatan bermoral bukan pelanggaran HAM
ferison
Setiap aturan tidak boleh dilanggar
Yang boleh dilanggar yang membelenggu kreativitas
Yang membelenggu kreativitas bukan aturan

dimaris
Beberapa konglomerat licik
Semua yang licik adalah manusia
Sebagian manusia adalah
konglomerat

SILOGISME TERSUSUN
1. Epicherema=silogisme yang salah satu
premisnya atau keduanya disambung
dengan pembuktiannya
Setiap koruptor harus diadili karena
tindak korupsi itu melanggar hukum.
Ada pejabat orba yang korupsi
Ada pejabat orba yang harus diadili

SILOGISME TERSUSUN
2. Enthymema=silogisme yang salah satu
premisnya atau kesimpulannya
dilampaui.
Joni adalah mahasiswa
Jadi dia harus bayar SPP

SILOGISME TERSUSUN
3. Polysilogisme=deretan silogisme,
kesimpulan silogisme yang satu menjadi
premis silogisme yang lain.
Semua pelanggar hukum harus diadili
Ada pemimpin yang melanggar hukum
Ada pemimpin harus diadili
Beberapa pejabat orba itu pemimpin
Beberapa pejabat orba harus diadili
Badu itu pejabat orba
Badu harus diadili

SILOGISME TERSUSUN
4. Sorites
Semua negara demokratis ditandai
penegakan supremasi hukum
Semua yang menegakan supremasi hukum
menghargai HAM
Semua yang menghargai HAM termasuk
bangsa yang beradab
Bangsa yang beradab menganut kebebasan
berpendapat
Semua negara demokratis menganut
kebebasan berpendapat

SILOGISME KONDISIONAL
Jika hujan deras, kota banjir. A
benar
Hujan deras,
A
Kota banjir
salah

C benar
S dapat
benar tetapi
dapat salah

C
benar

A dapat
salah tetapi
dapat benar

C
salah

A salah

SILOGISME DISYUNGTIF
1.
a.

b.

Disyungtif dalam arti sempit hanya mengandung 2


kemungkinan, tidak mungkin keduanya benar, pasti
yang satu salah
Modus ponendo tollens
Korban gempa meninggal atau hidup
Korban meninggal
Korban tidak meninggal
Modus tollendo ponens
Korban gempa meninggal atau hidup
Korban tidak meninggal
Korban hidup

SILOGISME DISYUNGTIF
2. Disyungtif dalam arti luas juga memiliki 2
kemungkinan, tetapi kedua kemungkinan
itu dapat sama-sama benar.
Yang pergi ke seminar dia atau saya
Dia yang pergi
(tidak dapat disimpulkan) saya tidak
pergi

SILOGISME KONYUNGTIF
1. Afirmatif negatif
Tidak ada orang yang duduk dan berdiri pada
waktu yang sama
Sartono sedang duduk, Jadi dia tidak berdiri
2. Negatif - afirmatif
Tidak ada orang yang duduk dan berdiri pada
waktu yang sama
Sartono tidak duduk, Jadi dia berdiri .
3. Hukum konjungtif tergantung jenis
perlawanannnya

INDUKSI
Kegiatan akal budi, dimana kita
menyimpulkan bahwa apa yang kita
ketahui benar untuk kasus atau
kasus-kasus, juga akan benar untuk
semua kasus yang serupa dengan
yang tersebut tadi dalam hal-hal
tertentu.

2 MACAM INDUKSI
1. Generalisasi induktif
Apel 1 keras, hijau manis rasanya
Apel 2 keras, hijau manis rasanya
Apel 3 keras, hijau manis rasanya
Apel 4 keras, hijau manis rasanya
Semus Apel yang keras, hijau manis
rasanya

2. Analogi Indukti
Apel 1 keras, hijau manis rasanya
Apel 2 keras, hijau manis rasanya
Apel 3 keras, hijau manis rasanya
Jadi Apel 4 ini keras, hijau manis rasanya

Catatan:
1. Konklusi analogi induktif tidak selalu
berupa proposisi universal, akan tetapi
tergantung dari subyeknya yang
diperbandingkan dalam analogi.
2. Analogi induktif dapat digunakan untuk
mendeterminasikan apakah suatu obyek
atau fakta itu, dan sifat-sifat apakah yang
dapat diharapkan padanya, sedangkan
generalisasi induktif digunakan untuk
menemukan hukum, menyusun teori atau
hipotesa

Ciri-ciri Induksi
1. Premis induksi adalah proposisi empirik
(basic statement)
2. Konklusi penalaran induktif lebih luas
daripada apa yang dinyatakan di dalam
premisnya
3. Konklusi induktif memiliki kredibilitas
rasional, atau disebut probabilitas.

3 SYARAT GENERALISASI
INDUKTIF
1. Generalisasi harus tidak terbatas secara
numerik (jumlah tertentu)
2. Generalisasi tidak harus terbatas secara
spasio-temporal (berlaku dimana saja
dan kapan saja)
3. Generalisasi harus dapat dijadikan dasar
pengandaian.

FAKTOR PROBABILITAS DALAM


INDUKSI
1. Semakin besar jumlah fakta yang
dijadikan dasar penalaran induktif,
semakin tinggi probabilitas konklusinya,
dan sebaliknya.
2. Semakin besar jumlah fakta analogi di
dalam premis, semakin rendah
probabilitas konklusinya, dan sebaliknya

3. Semakin besar jumlah fakta yang


disanaloginya di dalam premis, semakin
tinggi probabilitas konklusinya, dan
sebaliknya
4. Semakin luas konklusinya semakin
rendah probabilitas, dan sebaliknya.
.