Anda di halaman 1dari 8

Saat Anak Atau Adikmu Main iPad, Anak-Anak Bos Google dan Apple Asyik Main

Tanah di Sekolah
Nabila Inaya | Des 4, 201489,413 shares

Di Indonesia, mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)


adalah salah satu muatan lokal yang umum ditemui. Banyak juga sekolah yang
mengizinkan murid-muridnya membawa laptop untuk kepentingan mencatat
atau browsing informasi saat di kelas. Selesai sekolah, anak-anak ini pun bukannya
pulang ke rumah untuk istirahat; mereka justru kembali akrab dengan iPad
atau game konsol mereka dengan alasanrefreshing setelah seharian belajar. Saking
sudah umumnya, sebagian dari kita mungkin menganggap fenomena ini sah-sah
saja.
Tapi tunggu! Mari sejenak jalan-jalan ke Silicon Valley, sebuah kawasan di Amerika
dimana perusahaan-perusahaan teknologi top dunia berkantor. Di tempat ini
terdapat fakta yang akan membuat kita berpikir ulang,
Apakah keputusan mengenalkan komputer pada anak sejak usia dini itu tepat?

Para petinggi Google, Apple, Yahoo, HP hinggaeBay mengirim anak-anaknya ke


sekolah yang sama sekali tak punya komputer

petinggi perusahaan teknologi mengirim anak-anaknya ke sekolah tanpa


komputer viagalleryhip.com
Ketika sekolah-sekolah lain memasukkan komputer dalam kurikulum dan berlomba
membangun sekolah digital, Waldorf School of the Peninsula justru melakukan
sebaliknya. Sekolah ini dengan sengaja menjauhkan anak-anak dari perangkat
komputer.

Sekolah Waldorf justru fokus pada aktivitas fisik, kreativitas, dan kemampuan
ketrampilan tangan para murid. Anak-anak tak diajarkan mengenal perangkat tablet
atau laptop. Mereka biasa mencatat dengan kertas dan pulpen, menggunakan jarum
rajut dan lem perekat ketika membuat prakarya, hingga bermain-main dengan
tanah setelah selesai pelajaran olahraga.
Guru-guru di Waldorf percaya bahwa komputer justru akan menghambat
kemampuan bergerak, berpikir kreatif, berinteraksi dengan manusia, hingga
kepekaan dan kemampuan anak memperhatikan pelajaran.

Para petinggi di dunia IT ini membela keputusan sekolah Waldorf untuk tak
memperkenalkan komputer ke anak-anak mereka

Waldorf, mengenalkan metode belajar tanpa komputer


via www.nymetroparents.com
Banyak yang menganggap bahwa kebijakan yang dibuat Waldorf itu keliru. Meski
metode pembelajaran yang mereka gunakan sudah berusia lebih dari satu abad,
perdebatan soal penggunaan komputer dalam proses belajar-mengajar masih terus
berlanjut.
Menurut para pendidik dan orangtua murid di Sekolah Waldorf, sekolah dasar yang
baik justru harus menghindarkan murid-muridnya dari komputer. Ini disetujui oleh
Alan Eagle (50), yang menyekolahkan anaknya Andie di Waldorf School of the
Peninsula:

[Anak

saya

baik-baik

saja,

meskipun]

tak

tahu

bagaimana

caranya

menggunakan Google. Anak saya yang lain, yang sekarang di kelas dua SMP, juga
baru saja dikenalkan pada komputer, tutur Eagle, yang bekerja untuk Google.
Eagle tak mempermasalahkan ironi antara statusnya sebagai staf ahli di Google dan
kondisi anak-anaknya yang gaptek.
Misalkan saja saya seorang sutradara yang baru menelurkan sebuah film
dewasa. Meski film itu didaulat sebagai film terbaik yang pernah ada di dunia
sekalipun, saya toh tak akan membiarkan anak-anak saya menonton film itu kalau
umur mereka belum 17 tahun.

Tanpa perangkat komputer atau kabel, kelas-kelas di Waldorf punya tampilan klasik
dengan papan tulis dan kapur warna-warni

Waldorf punya tampilan klasik nan unik via chicagowaldorf.org


Sekolah Waldorf tampil dengan gaya ruangan kelas yang klasik. Tak banyak
perangkat elektronik, layar-layar komputer, atau kabel-kabel yang menghiasi
ruangan. Berhias dinding-dinding kayu, kamu hanya akan menemukan papan tulis
penuh coretan kapur warna-warni. Ada rak-rak penuh berbagai jenis ensiklopedia
hingga meja-meja kayu dengan tumpukan buku-buku catatan dan pensil.
Andie yang duduk di kelas 5 mendapat pelajaran membuat kaos kaki. Ketrampilan
merajut dipercaya membantu anak-anak belajar memahami pola dan hitungan.
Menggunakan jarum dan benang bisa mengasah kemampuan memecahkan masalah
dan belajar koordinasi. Saat pelajaran bahasa di kelas 2, anak-anak akan diajak
berdiri melingkar. Mereka diminta mengulang kalimat yang diucapkan guru secara

bergiliran. Gilirannya ditentukan dengan melempar penghapus atau bola. Ternyata,


metode belajar ini bisa jadi salah satu cara untuk mensinkronkan tubuh dan otak.
Guru kelas Andie, Cathy Waheed, mengajarkan anak-anak mengenal pecahan
dengan metode yang sangat sederhana. Yup, Waheed menggunakan buah apel, kue
pai, atau roti yang dipotong-potong lalu dibagikan pada murid-muridnya.
Saya yakin dengan cara ini mereka bisa lebih mudah mengenal hitungan
pecahan, ujar Waheed, yang merupakan lulusan Ilmu Komputer dan sempat
bekerja sebagai teknisi

Menurut guru-guru Waldorf, mengajarkan siswa memakai komputer tak akan


membuat mereka bertambah pintar. Sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa
menjelaskan kaitan keduanya.

belum ada fakta yang mengaitkan penggunaan komputer dan prestasi siswa
viawww.bacwtt.org
Selain dari pengajar dan orang tua murid, para ahli pendidikan pun menegaskan:
Penggunaan komputer di ruang kelas sebenarnya tidak ada alasan ilmiahnya.
Sampai saat ini toh belum ada penelitian yang membuktikan bahwa keterampilan
menggunakan komputer akan berpengaruh pada nilai tes atau prestasi mereka.
Nah, apakah belajar hitungan pecahan dengan memotong apel atau merajut jauh
lebih baik? Bagi Waldorf, pertanyaan ini sulit dibuktikan. Sebagai sekolah swasta,
Waldorf tak berpedoman pada tes-tes dasar yang serupa dengan sekolah-sekolah
lain. Mereka pun memang mengakui bahwa murid-muridnya tak akan dapat nilai
setinggi anak-anak sekolah negeri jika diminta mengerjakan soal-soal tes umum.

Bukan karena mereka bodoh, namun karena murid-murid Waldorf memang tak
dijejali teori-teori matematika dasar sesuai kurikulum.
Namun, ketika diminta membuktikan efektivitas pendidikan di Waldorf,Association
of Waldorf School di Amerika Utara menayangkan hasil penelitian yang tak mainmain:
94% siswa lulusan SMA Waldorf di Amerika Serikat di antara tahun 1994 sampai
2004 berhasil masuk di berbagai jurusan di kampus-kampus bergengsi seperti
Oberlin, Berkeley, dan Vassar.
Selain faktor minimnya teknologi, kualitas pengajar yang baik di Waldorf juga dinilai
berpengaruh pada keberhasilan sekolah tersebut mengirim anak-anaknya ke
universitas-universitas bergengsi di Amerika. Waldorf memang tak sembarangan
dalam memilih guru. Selain berpendidikan tinggi, mereka harus memiliki jam
terbang yang mumpuni. Wajar saja jika Waldorf kemudian berhasil mengembangkan
anak didik mereka menjadi hebat dan berprestasi.
Kualitas inilah yang kemudian membuat para orangtua percaya pada metode
pengajaran Waldorf. Salah satu orangtua tersebut adalah Pierre Laurent (50),
pendiri startup yang sebelumnya bekerja di Intel dan Microsoft. Bahkan saking
terkesannya dengan metode Waldorf, Monica Laurent, istri Pierre, bergabung
menjadi guru di sekolah ini sejak tahun 2006.

Waldorf memegang filosofi bahwa belajar-mengajar bukan perkara sederhana. Ini


tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia.

belajar adalah pengalaman yang berharga via www.erziehungskunst.de

Sebenarnya menurut Waldorf, memilih menggunakan teknologi komputer atau tidak


bisa jadi sifatnya subyektif atau perkara pilihan. Terserah saja, menurut kebijakan
sekolah masing-masing. Namun yang harus dicatat: ketika anak sudah dibiarkan
lekat dengan komputer sejak dini, bisa saja ia akan ketergantungan dan
sulit melepaskan gawai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Ann Flynn petinggi National School Boards Association yang
membawahi sekolah-sekolah negeri di Amerika tetap bersikeras bahwa pelajaran
komputer itu penting. Sementara Paul Thomas, mantan guru dan profesor
pendidikan yang sudah menulis lebih dari 12 buku tentang metode pendidikan
publik, lebih setuju pada Waldorf. Baginya, pendekatan yang minim teknologi di
dalam kelas justru sangat bermanfaat.
Mengajar adalah pengalaman manusia. Teknologi justru bisa jadi gangguan
ketika mengenal huruf dan angka, belajar hitungan, dan berpikir kritis, ungkap
Thomas.

Keahlian di bidang IT adalah modal untuk bersaing di dunia kerja. Tapi, haruskah
itu menjadi alasan untuk mengenalkan komputer pada anak sejak dini?

apakah mengenalkan komputer sejak dini itu tepat? via www.thecityschoolla.org


Komputer itu sangat mudah. Kami di Google sengaja membuat perangkat yang
ibaratnya bisa digunakan tanpa harus berpikir. Anak-anak toh tetap bisa
mempelajari komputer sendiri jika usia mereka sudah dewasa.
Alan Eagle.

Singkatnya, Eagle menjelaskan bahwa komputer itu mudah dan bisa dipelajari lewat
kursus kilat sekalipun. Jadi buat apa membunuh kreativitas alami anak dengan
memaksa mereka mempelajari komputer sejak dini?
Bukan berarti anak-anak di Waldorf dan Silicon Valley sama sekali tak melek
teknologi. Siswa-siswa kelas V di Waldorf mengaku sering menghabiskan waktu
mereka dengan menonton film di rumah. Seorang siswa yang ayahnya bekerja
sebagai teknisi di Apple mengaku sering diminta mencoba game baru ciptaan sang
ayah. Sementara seorang murid biasa berkutat dengan flight control system di akhir
pekan bersama orang tuanya.
Justru anak-anak ini sudah mendapat pengetahuan teknologi dalam porsi yang pas,
mengingat kebanyakan orangtua mereka adalah penggiat industri teknologi. Berkat
didikan di Waldorf, anak-anak Silicon Valley mengaku tak nyaman saat melihat
orang-orang di sekitarnya sibuk dengan gadget mereka.
Aku

lebih

suka

menulis

dengan

kertas

dan

pulpen.

Ini

membuatku

bisa membandingkan tulisanku saat kelas I dengan yang sekarang. Kalau aku
menulis di komputer kan gaya tulisannya sama semua. Dan kalau komputermu
tiba-tiba rusak atau mendadak mati listrik, pekerjaanmu jadi tak selesai
kan? ungkap Finn Heilig, yang ayahnya bekerja di Google.
Sekali lagi, metode pendidikan tanpa komputer bukannya bermaksud menutup akses
anak untuk mengenal teknologi. Kelak, di usia tertentu mereka tetap punya
kesempatan untuk mempelajarinya. Sementara di masa kanak-kanak, mereka
berhak mendapat kesempatan menjadi sebenar-benarnya anak-anak.

Bagaimana nasib adik-adikmu atau anak-anakmu sendiri kelak? Apakah lebih baik
mereka dikenalkan dengan gadget dan perangkat teknologi sejak dini, atau lebih
baik menunggu sampai saat yang benar-benar tepat?
Artikel kali ini diadaptasi dari laman New York Times. Artikel asilinya bisa
dilihat disini.