Anda di halaman 1dari 11

ARAH DAN KEBIJAKAN PEMANFAATAN KEKAYAAN ALAM INDONESIA

(SAEFUL ZAFAR / P.056081661.42)


03 Nopember 2009

A. Pendahuluan

Setelah era reformasi yang ditandai dengan berakhirnya kekuasaan Presiden


Soeharto melalui gerakan mahasiswa, seolah-olah membawa harapan dan angin segar
untuk menjadikan Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.
Salah satu hal yang segera dilakukan oleh pemerintahan baru pada era reformasi
adalah melakukan otonomi daerah yang seluas-luasnya, sehingga seolah-olah pemerintah
pusat hanya berperan sebagai pembuat kebijakan saja dengan kewenangan pelaksanaan
kebijakan sepenuhnya menjadi hak dari pemerintah daerah propinsi dan kabupaten/kota.
Hal ini bisa dimaklumi karena selama era orde baru yang sangat sentralistik
sehingga segala kebijakan yang ada harus melalui persetujuan dari pemerintah pusat,
termasuk segala pemanfaatan kekayaan alam dari daerah hasilnya lebih banyak dinikmati
oleh pusat-pusat kekuasaan di Jakarta.
Produk peraturan perudang-undangan yang paling memberikan perubahan
sangat signifikan dalam hal pemanfaatan kekayaan alam di Indonesia pada masa reformasi
adalah Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 yaitu tentang Pemerintahan Daerah dan
Undang-undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat Daerah.
Dalam kedua Undang-undang tersebut diatur tentang batas kewenangan yang
harus dijalankan oleh pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah propinsi dan
kabupaten/kota, serta alokasi pembagian porsi keuangan antara pusat daerah, yang bisa
dikatakan kebalikan dari masa orde baru dulu dimana sekarang pemerintah Pusat hanya
memperoleh porsi yang jauh lebih kecil dibanding bagian dari pemerintah daerah.
Maksud dari pembagian porsi tersebut tentunya sangat baik yaitu agar
kesejahteraan masyarakat setempat yang memiliki berbagai kekayaan alam dapat lebih
baik, karena hasil yang mereka dapatkan lebih besar sehingga dapat membantu
menggerakan roda perekonomian daerah setempat.
Namun pada kenyataannya banyak permasalahan yang muncul dalam rangka
pengalihan (devolusi) kewenangan dari pusat ke daerah termasuk dalam bidang
pengelolaan kekayaan alam, apalagi seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa
pemanfaatan kekayaan alam merupakan areal yang sangat menjanjikan dari nilai ekonomi,
sehingga banyak kepentingan yang terlibat didalamnya.
Untuk itulah kiranya perlu dipertanyakan lagi bagaimanakah arah dari kebijakan
pemanfaatan kekayaan alam pada era otonomi daerah sekarang ini apakah sudah sesuai
dengan apa yang dicita-citakan dalam jiwa dan semangat reformasi yang telah berusaha
diimplementasikan oleh para pemimpin kita dengan berbagai peraturan yang lebih
mengarah kepada desentralisasi kewengangan.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mencoba mengangkat permasalahan yang
timbul dari deregulasi pemanfaatan kekayaan alam dalam era otonomi, khususnya dalam
hal pemanfaatan hasil hutan di Kalimantan Tengah serta tata niaga hasil tambang timah di
Pulau Bangka sebagai salah satu contoh kasus dari keruwetan pelaksanaan pemanfaatan
kekayaan alam Indonesia yang seharusnya ditujukan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat.

B. Tarik Ulur Kewenangan Pengelolaan Kekayaan Hutan Kalimantan Tengah

1. Era Orde Baru

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kekayaan hutan Indonesia sangat


melimpah, disisi lain kebutuhan dunia akan kekayaan hutan Indonesia khususnya kayu
semakin lama semakin meningkat, hal ini menjadikan industri perkayuan menjadi hal
yang sangat menguntungkan.

2
Kalimantan Tengah sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki areal
hutan yang cukup luas tentunya sudah cukup lama menjadi daerah eksploatasi
pemanfaatan kayu sebagai salah satu pemasok kebutuhan industri yang memerlukan
kayu sebagai bahan bakunya, baik untuk industri dalam negeri maupun luar negeri.
Sebelum era otonomi yang dimulai pada awal tahun 1990-an, pengelolaan hutan
sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat, hal ini mengakibatkan daerah-
daerah yang memiliki areal hutan seperti tidak memperoleh manfaat yang sepadan
dengan jumlah kekayaan alam yang diambil dari wilayah mereka.
Meski kalo dicermati tidak hanya oknum-oknum pusat yang menikmati
keuntungan dari penjualan kayu di daerah seperti Kalimantan Tengah, namun oknum-
oknum di daerah juga ikut bermain dalam menikmati hasil dari eksploatasi hasil hutan
tersebut, khususnya dari berbagai pungutan-pungutan liar yang wajib disetor oleh para
pengusaha kayu. Belum lagi jika para pihak di daerah tersebut ikut bermain dalam
“illegal logging” maka bisa dibayangkan berapa jumlah kekayaan yang diperoleh.
Perebutan kepentingan dalam hal pemanfaatan kekayaan hutan sebenarnya
sudah mulai terlihat ketika pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 5 tahun
1967 tentang Kehutan Dasar yang tidak mengacu kepada Undang-Undang No. 5 tahun
1960 tentang Pokok-pokok Agraria, sehingga memisahkan antara area Agraria dengan
kawasan hutan.
Dimana dengan adanya undang-undang kehutanan maka pejabat-pejabat yang
mempunyai akses ke pusat kekuasaan dapat dengan mudah mempereloh ijin-ijin
konsesi hutan yang berupa Hak Pengelolaan Hutan (HPH), sehingga mulailah muncul
pengusaha-pengusaha yang terkenal sebagai “raja kayu”
Kalimantan Tengah waktu itu dikenal sebagai “dapur” dari sistem HPH tersebut
dimana di daerah tersebut Departemen Kehutanan telah mengeluarkan 108 HPH
dengan jangka waktu masing-masing 20 tahun untuk mengeksploatasi daerah-daerah
hutan di Kalimantan Tengah yang menurun data yang ada hasil produksi hutan di
daerah ini memasok sekitar 40 % dari suplai kayu glondongan nasional setiap tahun
(Kompas 18-6-2001).
Sistem eksploatasi besar-besaran itu berjalan dibawah mata buta para pejabat
lokal yang setia pada rezim penguasa. Ketika sistem itu berjalan, mereka berkembang

3
menjadi jaringan pertukaran dan akomodasi yang mencakup staf kehutanan, personil
tentara dan pejabat-pejabat lokal kunci lainnya. Dalam banyak hal bos-bos lokal yang
mempunyai akses ke modal dan kontak-kontak serta hubungan-hubungan kekerabatan
dalam lembaga-lembaga negara, dengan agen-agen dari para operator konsensi yang
tersentralisir, dan para pejabat polisi serta militer lokal memaikan peranan kunci dalam
pengaturan-pengaturan ini. Sementara sanksi-sanksi negara legal tidak akan diterapkan
terhadap mereka yang mematuhi sistem pengaturan timbal balik ini.

2. Era Awal Otonomi Daerah

Sebelum undang-undang tentang Pemerintahan Daerah (Undang-Undang No.


22 tahun 1999) diberlakukan sebenarnya telah ada peraturan yang memberikan
kewenangan lebih kepada daerah kabupaten untuk mengeluarkan suatu ijin pengelolaan
hutan skala kecil.
Bahkan pemerintah Kabupaten di wilayah Kalimantan Tengah sudah sejak
tahun 1999 menerbitkan lisensi-lisensi kayu hutan pada orang-orang lokal yang
beroperasi atas nama mereka sendiri atau atas nama sebuah komunitas kelompok yang
diorganisir dalam sebuah koperasi atau kelompok tani. Para wiraswastawan juga mulai
menformalkan usaha mereka dengan memperoleh lisensi-lisensi yang lebih luas untuk
pabrik-pabrik pengolahan kayu yang dulunya beroperasi secara ilegal.
Dibawah sistem ini peranan Departemen Kehutanan menjadi kehilangan
kapasitasnya sebagai lembaga yang beroperasi secara terintegrasi vertikal sebagai
penanggung jawab pengelolaan hutan secara nasional. Karena pada kenyataannya
otonomi daerah telah mengakibatkan perubahan yang signifikan dalam kaitannya
mereka-mereka yang masih berkepentingan untuk melakukan usaha di bidang
kehutanan. Dalam hal ini tentunya berkaitan dengan akses yang harus dilalui agar bisa
berinvestasi dengan tenang serta jalur-jalur pungutan ataupun fee yang harus disiapkan
tentunya mengalami perubahan.
Namun pada awalnya kondisi ini secara umum masih menguntungkan pihak
pemilik modal yang berasal dari Jakarta sehingga kesempatan dari para elit lokal untuk

4
ikut menikmati keuntungan dari pengurasan sumber-sumber kekayaan alam tersebut
tidak menjadi lebih baik. Akhirnya para elit lokal menggunakan isu ”sentimen putra
daerah” untuk melegitimasi keputusan-keputusan yang dipandang menguntungkan
kepentingan-kepentingan lokal. Elit-elit kabupaten yang merasa mereka belum pernah
menikmati bagian yang adil dari pengurasan sumber alam selama Orde Baru, kini
melihat telah tiba giliran mereka untuk menangguk keuntungan.
Dengan cara-cara ini maupun lainnya, bupati-bupati bisa memberikan tekanan
pada para konglomerat untuk merundingkan akses via pemerintah kabupaten . Di
Kalimantan Tengah dengan bekerjasama dengan pengusaha-pengusaha lokal, banyak
konsesioner mulai berinvestasi dengan strategi pengurasan lain. Dengan memperluas
sistem yang telah berjalan, para konglomerat bekerjasama dengan para pengusaha dan
pialang lokal dengan dukungan informal dari bupati-bupati dan gubernur
Sistem ini memiliki keuntungan secara besar-besaran meningkatkan pajak-pajak
kabupaten (Pendapatan Asli Daerah) yang menguntungkan pemerintahan daerah.
Dengan adanya korupsi dan kolusi dalam bagaimana sistem ini dijalankan, secara tidak
resmi sistem ini juga memperkaya orang-orang yang menduduki posisi-posisi kunci
dalam pemerintahan kabupaten.
Di pihak lain para anggota DPRD yang seharusnya menjadi lembaga yang
mengontrol kebijakan pemerintah daerah malah banyak yang terlibat langsung dalam
jaringan perdagangan kayu, dengan memanfaatkan status mereka dalam jaringan-
jaringan imbalan dan akomodasi yang mencakup eksekutif untuk memberikan operasi-
operasi yang bebas dari penegakan hukum. Anggota-anggota DPRD memberikan
rekomendasi agar kayu bisa lewat kabupaten mereka atau mendukung pernyataan-
pernyataan dari kepentingan-kepentingan kayu atas nama DPRD. Secara langsung
diperkirakan lebih dari 60 anggota DPRD di Kalimantan Tengah terlibat secara
langsung dalam usaha-usaha kayu. Ini menunjukkan pada realita bahwa mekanisme –
mekanisme formal partisipasi dan keterwakilan publik sedikit sekali menyerupai
partisipasi dan keterwakilan yang sebenarnya dalam menetapkan siapa saja yang
mendapatkan akses menuju sumber-sumber dan bagaimana mereka melakukan hal itu.

5
3. Era Deregulasi Otonomi Daerah

Perubahan mengenai pemanfaatan hutan di Kalimantan Selatan mulai


mengalami perubahan sejak pemerintahan Megawati berkuasa, dimana ketika itu
Megawati mulai memperkuat kembali kontrol Jakarta atas propinsi-propinsi yang jauh.
Khusus untuk menegaskan kontrol atas sumber-sumber hutan pada bulan Juli 2002
pemerintah pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 34 / 2002 tentang sektor
kehutanan. Sebelum itu, otoritas departemen kehutanan telah dipecah-pecah. Dengan
adanya pergulatan politis yanb terjadi di pusat, undang-undang yang menyangkut
pemanfaatan sumber dan otonomi daerah tetap tidak terkoordinasi, inkonsistensi dan
kontradiktif. Selama ini terjadi pertikaian-pertikaian serius dalam kabupaten-kabupaten
dan diantara para pejabat propinsi dan pusat atas pengambilan keputusan mengenai
sumber-sumber alam.
Akhirnya Departemen Kehutanan menarik kembali kontrol atas sistem
perizinan, lisensi pengangkutan kayu dan penarikan pajak-pajak atas aktivitas
kehutanan, sehingga secara efektif membatasi kewenangan kabupaten hanya pada
pemberian izin eksploatasi 100 hektare dan menaikkan pajak-pajak kabupaten di sektor
itu. Meskipun pemerintah pusat tidak secara langsung mencabut peraturan daerah yang
bertentangan dengan peraturan baru itu, bupati-bupati yang meneruskan kebijakan-
kebijakan lama menghadapi sanksi-sanksi hukum.
Dengan adanya kampanye nasional menentang ”illegal logging”, polisi mulai
mengambil langkah-langkah penegakan hukum yang juga mengincar konsumsi publik
yang bagus sekali. Serbuan-serbuan polisi dipusatkan pada pabrik-pabrik penggergajian
dan pengiriman-pengiriman kayu skala kecil yang dikelola oleh para wiraswasta dan
pialang lokal, juga operasi-operasi kayu besar dan beberapa ekspedisi yang beroperasi
tanpa dokumen legal. Lama-lama polisi dan pengadilan mulai bertindak secara agresif
dalam memerangi illegal logging.
Namun terlepas dari tindakan yang tegas tersebut, maka mulai juga muncul
sindikat-sindikat baru yang ironisnya didalangi oleh oknum-oknum dari polisi sendiri,
bahkan menurut seorang pejabat kehutanan di Sungai Barito, jika kayu lewat dengan

6
membawa ”bendera Kapolda” tidak ada orang yang berani menyentuhnya. ”Polisi bisa
menahan kami” katanya, ”tapi mereka tidak bisa mengusik kayu-kayu ini”.
Hanya sindikat-sindikat kayu yang memberikan pembayaran pada pialang
dengan restu Kapolda yang masih bisa terus beroperasi. Hal itu mengarah pada jaringan
”seleksi alam” yang lain dan aktor-aktor yang tidak mempunyai hubungan kerja yang
bagus dengan penjaga pintu gerbang, atau tidak mampu melakukan pembayaran yang
cepat dan memadai akan menghadapi sanksi-sanksi hukum.
Dampak dari hal-hal tersebut tentunya membuat daerah-daerah mulai
kehilangan lagi sumber pendapatan yang bisa diandalkan karena akses yang telah
diambil lagi oleh pemerintah pusat, sehingga praktik-praktik administratif untuk
meningkatkan PAD dan mencuci kayu tidak bisa lagi digunakan. Karena itu pendapatan
kabupaten dari sektor kehutanan merosot. Dan lebih jauh lagi otonomi daerah disektor
kehutanan juga mengalami pasang surut.

C. Tata Niaga Timah Di Pulau Bangka

1. Rezim penambangan timah lama


Sejak masa kolonial Belanda timah di Pulau Bangka sudah menjadi komoditas
yang menjanjikan, kemudian dalam era orde baru dan orde lama kebijakan yang
ditempuh masih mengacu juga pada era kolonial dimana timah masih dianggap sebagai
komoditi strategis yang harus diawasi oleh negara baik dalam hal eksploatasi maupun
perdagangannya (Erman 1994).
Berbagai macam kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan timah telah
dilakukan silih berganti sampai pada akhirnya pada masa periode kejatuhan harga
minya (1982-1985) pemerintah tidak mempunyai dana untuk mensubsidi berbagai
perusahaan negara sehingga mengambil kebijakan memprivatisasinya.
Namunn karena kebijakan dari rejim orde baru yang tetap memperlakukan
timah sebagai komoditi yang vital, sehingga dalam pengelolaannya terlalu birokratis
dan sentralistik yang berakibat prosedur untu investasi swasta masuk begitu rumit,
karena memerlukan persetujuan Menteri Pertambangan dan Energi, BKPM, DPR dan
Presiden. Pemerintah daerah tidak mempunyai kekuasaan apa-apa, apalagi

7
mengeluarkan lisensi penambangan, sementara kontribusi timah untuk Bangka lebih
banyak diberikan ke pusat dan ke Palembang dibanding ke pulau ini. Posisi pemda
yang lemah, sedangkan posisi PT Tambang Timah yang hanya merupakan
perpanjangan tangan pusat menjadi lebih kuat sehingga kedua pulau yaitu Bangka-
Belitung tetap sebagai pulau yang dikuasai oleh perusahaan baik pada masa kolonial
dan pasca kolonial (Sommers Heidhues 1991)

2. Era Desentralisasi dan Rezim Penambangan Timah Baru


Setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997 yang kemudian diikuti dengan
masa otonomi daerah yang luas membuat daerah mempunyai kekuasaan dalam
mengeluarkan izin penambangan kepada pihak swasta ataupun juga mengelola timah
dibawah perusahaan daerah.
Dari sudut fiskal era reformasi memberikan pembagian fiskal yang lebih baik
kepada daerah, walaupun wewenangnya masih tetap di pusat, meski pada kenyataannya
pemerintah pusat dalam hal ini Departemen Pertambangan dan Energi masih ingin
mempertahankan otoritasnya dengan mengatakan bahwa industri pertambangan akan
tetap dibawah kontrol Jakarta untuk lima tahun kedepan.
Bangka termasuk daearah yang responsif terhadap aturan tersebut dimana disaat
yang bersamaan mereka juga berjuang pembentukan propinsi Bangka Belitung lepas
dari propinsi Sumatera Selatan. Dimana Bupati Bangka pada saat itu dengan gigihnya
meminta jumlah bagian saham untuk Pemerintah Kabupaten Bangka di PT Timah
dinaikkan, namun hal ini tidak disetujui oleh pemerintah pusat, namun Bupati Bangka
mencari jalan lain dengan menaikan putra daerah untuk diangkat sebagai Direktur PT
Timah dan ini berhasil dengan diangkatnya Thobrani Alwi sebagai direktur PT. Timah
Hal ini didukung lagi dengan adanya deregulasi dalam tata niaga yang
dikeluarkan oleh Menteri Perdagangan dalam Keputusan Menteri Perdagangan dan
industri Nomor 146 tahun 1999 dimana timah tidak lagi diangap sebagai komoditi
strategis yang perdagangan dan pertambangannya harus diawasi oleh pemerintah pusat
Deregulasi ini membawa implikasi pada pengelolaan penambangan dan bisnis
timah di Bangka, berbagai kebijakan dibuat oleh Bupati Bangka dengan dalih untuk
meningkatkan PAD dari komoditi timah. Dimana pada akhirnya memicu munculnya

8
para penambang timah rakyat atau yang biasa disebut sebagai penambang Timah
Inkonvensional (TI) yang dimodali oleh para cukong dari Singapura dan Jakarta,
dimana jumlah produksi penambang TI ini jauh lebih besar dari yang dihasilkan oleh
PT Timah yang pada akhirnya ini menjadi cikal bakal runtuhnya kejayaan PT Timah.
Melihat kejadian tersebut pemerintah pusat kemudian merasa bahwa dampak
lingkungan yang ditimbulkan oleh para penambang TI sangat bunruk, dan pada
akhirnya sampai pada keluarnya keputusan larangan ekspor pasir timah hitam ke luar
negeri oleh Menteri Perdagangan dan Industri pada tanggal 17 April 2002, jadi pasir
timah harus dicairkan dulu sebelum dikeluarkan dari pulau tersebut..
Namun seperti sudah diduga keputusan itu tidak bisa bertahan lama, karena
dengan berbagai dalih khususnya penyataan yang menyebutkan ribuan masyarakat di
Bangka Belitung yang menggantungkan hidupnya sebagai penambang TI sehingga
akan menimbulkan penggangguran yang sangat besar apabila kebijakan tersebut
dilanjutkan.
Dalam perkembangan selanjutnya silih berganti muncul para penguasa komoditi
timah di daerah Bangka dan Belitung bahkan sampai muncul istilah Raja Timah 1 dan
Raja Timah 2 yang memiliki akses ke kekuasaan sangat besar, sampai-sampai saat
dilakukan penangkapan karena pelanggaran kasus hukum banyak demonstrasi yang
menuntut agar mereka dibebaskan.
Semakin bertambahnya penambang TI sebenarnya juga tiga lebih
mensejahterakan mereka, karena kerusakan lingkungan yang ditimbulkan jauh lebih
parah bahkan sudah mencemari wilayah laut diakibatkan dari sisa-sisa hasil tambang
(tailing) yang mencemari sungai dan laut mengakibatkan berkurangnya jumlah
tangkapan bagi para nelayan.
Selain masalah lingkungan yang parah, pemerintah daerah juga menghadapi
berbagai masalah yang muncul di kalangan masyarakat penambang sendiri sehubungan
dengan maraknya penambangan TI. Masalah minuman keras, judi dan perempuan tidak
bisa dielakkan. Sebagian uang yang diperoleh penambang dibelanjakan untuk hal-hal
semacam itu, sebuah gejala uang sama seperti masa kolonial, sungguh ironi.

9
D. Arah dan Kebijakan Pemanfaatan Kekayaan Alam

Dari kasus yang ditampilkan diatas secara garis besar sudah bisa dilihat bahwa
orientasi atau yang diambil oleh pembuat kebijakan baik pada masa sebelum otonomi
daerah maupun setelah otonomi daerah lebih kepada eksploatasi sebesar-besarnya
kekayaan alam yang ada guna keuntungan sekelompok orang atau golongan.
Dampak-dampak negatif yang mungkin ditimbulkan dari kegiatan seperti kerusakan
alam dan berbagai bencana alam yang mungkin bisa timbul , hanya sebatas disampaikan
dalam lampiran syarat pada saat pengajuan perijinan, yang setelah itu tidak pernah lagi
diperhatikan. Jadi tidak heran jika hutan-hutan kita sekarang menjadi rusak parah dana
berbagai bencana banjir melanda di daerah-daerah yang bertahun-tahun yang lalu tidak
pernah ada yang kebanjiran.
Selain itu juga tidak aneh jika para nelayan di Bangka Belitung harus mengeluarkan
biaya ekstra dengan melaut lebih jauh dari bibir pantai untuk memperoleh hasil yang lebih
baik karena tingkat pencemaran dari residu penambangan timah yang sudah jauh
mencemari aliran sungai sampai di bibir pantai.
Melihat ini semua maka cita-cita Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan
bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat menjadi jauh panggang dari api,
baik itu pake model sentralististik maupun model desentralistik, jadi sebenarnya bukan
polanya yang harus diubah, tapi motivasi dari para pengambil kebijakan itu yang haru
diperbaiki sehingga semua itu hanya untuk satu tujuan yaitu untuk kemakmuran bersama.

10
E. DAFTAR PUSTAKA

Eva Wollenberg dan Hariadi Kartodihardjo, 2003. Devolusi dan Undang-Undang Kehutanan
Baru Indonesia (Ke Mana Harus Melangkah ? Masyarakat, Hutan dan Perumusan
Kebijakan di Indonesia). Yayasan Obor Indonesia

Ida Aju Pradnja Resosudarmo dan Ahmad Dermawan, 2003. Hutan dan Otonomi Daerah :
Tantangan Berbagi Suka dan Duka (Ke Mana Harus Melangkah ? Masyarakat,
Hutan dan Perumusan Kebijakan di Indonesia). Yayasan Obor Indonesia

John F. McCarthy, 2009. Dijual ke Hilir : Merundingkan Kembali Kekuasaaan Publik Atas
Alam di Kalimantan Tengah (Politik Lokal di Indonesia). Yayasan Obor Indonesia

Erwiza Erman, 2009. Deregulasi Tata Niaga Timah dan Pembuatan Negara Bayangan
Lokal : Studi Kasus Bangka (Politik Lokal di Indonesai). Yayasan Obor
Indonesia

11

Anda mungkin juga menyukai