Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 3
GIGI TIRUAN LONGGAR

Penyusun :
Jerry Daniel

(131610101018)

Hesti Rasdi Setiawati

(131610101020)

Vita Lukita Sari

(131610101024)

Duati Mayangsari

(131610101039)

Arini Al Haq
Pungky Anggraini
Rachel P W
Fatimatuz Zahroh
Cholida Rachmatia

(131610101040)
(131610101042)
(131610101049)
(131610101051)
(131610101056)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2015
DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Tutor

: drg. H.A. Gunadi, M.S., Ph.D.

Ketua
: Fatimatuz Zahroh
Scriber Meja : Jerry Daniel
Scriber Papan : Cholida Rachmatia

(131610101051)
(131610101018)
(131610101056)

Anggota :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hesti Rasdi Setiawati


Vita Lukita Sari
Duati Mayangsari
Arini Al Haq
Pungky Anggraini
Rachel P.W.

(131610101020)
(131610101024)
(131610101039)
(131610101040)
(131610101042)
(131610101049)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan skenario 3.
Penulisan laporan ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,
oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. drg. H.A. Gunadi, M.S., Ph.D., selaku tutor yang telah membimbing
jalannya diskusi tutorial kelompok VI Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember dan memberi masukan yang membantu bagi
pengembangan ilmu yang telah didapatkan.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis
harapkan demi perbaikan-perbaikan di masa yang akan datang demi
kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita
semua.

Jember, 27 Oktober 2015

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

Daftar Anggota Kelompok .................................................................................. 2


Kata Pengantar ..................................................................................................... 3
Daftar Isi .............................................................................................................. 4
Skenario ............................................................................................................... 5
BAB I Pendahuluan...............................................................................................6
BAB II Tinjauan Pustaka............................................................................. 11
BAB III Diskusi.....................................................................................................14
BAB IV Kesimpulan............................................................................................. 22
Daftar Pustaka ........................................................................................... 23
Lampiran............................................................................................................... 25

Skenario 3
Gigi Tiruan Longgar

Seorang pasien wanita berusia 46 tahun datang ke Klinik Prostodonsia RSGM


UNEJ mengeluhkan gigi tiruannya terasa longgar. Pasien menceritakan bahwa
kalau makan makanan yang halus dan lembut makanan tersebut sering terselip
dibawah gigi tiruannya (food trapped under denture). Gigi tiruan lengkap tersebut
dibuatkan oleh mahasiswa (ko-as) yang praktek di klinik kurang lebih satu
setengah tahun yang lalu. Setelah pasien diperiksa oleh dokter gigi yang jaga
klinik tersebut, didapatkan bahwa keadaan gigi tiruanyya masih baik, tidak ada
keretakan dan keausan gigi (anasir), retensi dan stabilitasinya berkurang,
mukosanya sehat, dimensi vertikalnya tetap. Dokter gigi tersebut memutuskan
merelining gigi tiruan lengkap yang akan dikerjakan oleh ko-as, dn pasien
menyetujuinya.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Usia seseorang akan terus bertambah seiring dengan berjalannya
waktu, keadaan ini dapat meningkatkan resiko kehilangan gigi. Kehilangan
gigi dapat mempengaruhi perubahan-perubahan anatomi jaringan, fisiologi
TMJ maupun fungsi pengunyahan, bahkan tidak jarang menyebabkan trauma
psikologis. Keadaan ini berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan gigi
tiruan.
Gigi tiruan lengkap dapat didefinisikan sebagai protesa gigi lepasan
yang dimaksudkan untuk menggantikan permukaan pengunyahan dan
struktur-struktur yang menyertainya dari suatu lengkung gigi rahang atas dan
rahang bawah. Seseorang yang telah kehilangan semua gigi geliginya,
maka dapat menghambat fungsi pengunyahan, fungsi fonetik, fungsi estetik
dan dapat mempengaruhi keadaan psikis. Tujuan pembuatan GTL adalah
:merehabilitasi seluruh gigi yang hilang sehingga dapat memperbaiki atau
mengembalikan fungsi bicara, pengunyahan, estetis dan psikis, memperbaiki
kelainan, gangguan dan penyakit yang disebabkan oleh keadaan edentulous.
Dalam bidang prostodonsia pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan
bertujuan untuk memperbaiki estetika, fungsi pengunyahan, fungsi bicara
serta melindungi jaringan pendukung di bawah gigi tiruan sebagian lepasan.
Tidak semua pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan berhasil atau berfungsi
dengan baik, karena terdapat banyak ditemui keluhankeluhan pasien antara
lain protesa yang longgar, rasa sakit akibat luka pada jaringan mukosa mulut
yang terlalu menekan, kesalahan oklusi dan adanya basis protesa yang
mengalami fraktur. Salah satu keluhan yang paling sering adalah protesa yang
longgar, yang disebabkan oleh resorbsi residual ridge, sehingga protesa tidak
dapat berfungsi dengan baik.
Relining adalah suatu prosedur untuk menambahkan bahan baru pada
sisi protesa yang menghadap jaringan pendukung untuk mencekatkan kembali
gigi tiruan. Prosedur relining merupakan suatu proses yang dilakukan dengan
6

maksud memperbaiki gigi tiruan sebagian lepasan agar dapat berfungsi


dengan baik tanpa membuat protesa baru.
1.2. Rumusan Masalah
(Step 2 dan 3)
1. Apa saja penyebab dari longgarnya gigi tiruan?
Penyebab longgarnya gigi tiruan ada banyak hal, antara lain:
- Adanya resorbsi tulang alveolar
- Terjadinya kesalahan oklusi yang menyebabkan iritasi jaringan
- Penyakit sistemik, contoh diabetes melitus
- Oklusi berlebih
- Kesalahan saat pembuatan gigi tiruan
- Pemakaina gigi tiruan yang sudah lama
- Pembuatan sayap gigi tiruan yang terlalu pendek
- Resorbsi residual ridge dimana pasien kehilangan banyak berat badan
- Penggunaan gigi tiruan yang tidak tepat, misalnya dipakai secara terus
menerus tidak dilepas
2. Mengapa pada skenario makanan bisa terjebak?
Makanan yang terjebak merupakan salah satu ciri longgarnya gigi tiruan.
Makanan halus dan lembut ini bisa masuk ke celah pada gigi tiruan yang
longgar melalui residual ridge dan sayap gigi tiruan.
3. Mengapa pada skenario dokter gigi memilih tindakan relining?
- Karena pada kasus dalam skenario gigi tiruan pasien belum lama
digunakan (satu setengah tahun)
- Anasir gigi yang ada masih baik
- Mukosa pasien yang sehat
- Dimensi vertikal pasien masih tetap
- Jaringan pendukung pasien masih sehat
- Relining prosesnya lebih cepat
- Proses relining lebih murah (faktor ekonomi)
Tujuan dilakukannya relining adalah untuk:
- Menentukan ulang protesa
- Memperbaiki retensi dan stabilisasi gigi tiruan yang longgar
- Memperbaiki kontur gigi tiruan
- Memperbaiki gigi tiruan yang porus
- Memperbaiki gigi tiruan yang rusak
- Memperbaiki kelonggaran
- Memperbaiki oklusi
- Menjadikan protesa lebih efektif
- Kontak gigi tiruan dengan permukaan jaringan lebih baik
- Mencapai penyusuain gigi tiruan
4. Apakah proses relining pada dimensi vertikal yang tetap dan berubah itu
sama?
Proses relining pada dimensi vertikal yang tetap berbeda dengan yang
dimensi vertikalnya berubah. Pada proses relining yang dimensi
7

vertikalnya bisa dikerjakan dengan lebih sederhana dan cepat. Sedangkan


pada proses relining yang dimensi vertikalnya berubah harus dilakukan
pencetakan ulang untuk memperbaiki dimensi vertikal pasien terlebih
dahulu, setelah itu baru dilakukan perbaikan stabilitas dan retensi gigi
tiruan.
5. Bagaimana prosedur relining?
Prosedur relining bisa dilakukan denga 2 cara, yaitu secara direct dan
indirect.
- Direct relining: Prosesing aklirik dilakukan secara self cure dan langsung
dalam rongga mulut pasien. Oleh karena itu cukup dilakukan dalam satu
kali kunjungan. Akan tetapi gigi tiruan yang dihasilkan mempunyai
tingkat keporusan yang besar, dan waktu proses bersifat panas sehingga
dapat melukai jaringan rongga mulut pasien.
- Indirect relining: Prosesing akrilik dilakukan dengan heat cure dan
dilakukan dalam beberapa kali kunjungan karena melalui proses
laboratoris. Pertama-tama dilakukan pencetakan menggunakan gigi tiruan
yang lama, kemudian di cor dan diproses menjadi akrilik, selanjutnya
dilakukan pemulasan agar akrilik tidak tajam dan halus. Tingkat
keporusan heat cure akrilik ini rendah dan metode ini cocok dilakukan
untuk orang lanjut usia dan keterbelakangan mental karena proses pada
pasien hanya dilakukan sebentar saja, selanjutnya dilakukan di
laboratorium.
6. Hal apa yang perlu diperhatikan untuk proses relining?
- Kontak oklusi, bisa dicek menggunakan artikulating paper
- Dimensi vertikal
- Pemberian tissue conditioner, untuk merelief jaringan
- Penguragan akrilik 1-2 mm
- Menghilangkan under cut
- Insersi (pemeriksaan stabilitas, retensi, kenyamanan pasien)
7. Apa saja dampak relining gigi tiruan?
- Adanya perubahan yang akan dirasakan pasien pada rongga mulutnya
- Iritasi jaringan
- Bau mulut
- Rasa panas di rongga mulut
- Tingkat keporusan tinggi dan berkurangnya estetika
- Manipulasi yang kurang menyebabkan adanya batas antara akrilik lama
dengan akrilik baru
- Menjadi stabil dan retentif
- Membenarkan oklusi
8

1.3. Learning Objective


1. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan
faktor yang menyebabkan gigi tiruan longgar
2. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan

indikasi dan kontraindikasi relining


3. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan
tujuan relining
4. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan

tahapan relining
5. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan

faktor keberhasilan dan kegagalan dari relining

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gigi Tiruan Lengkap
Gigi tiruan lengkap dapat didefinisikan sebagai protesa gigi lepasan
yang dimaksudkan untuk menggantikan permukaan pengunyahan dan
struktur-struktur yang menyertainya dari suatu lengkung gigi rahang atas dan
rahang bawah. Protesa tersebut terdiri dari gigi-gigi tiruan yang dilekatkan
pada basis protesa. Basis protesa memperoleh dukungan melalui kontak yang
erat dengan jaringan mulut dibawahnya (Kenneth, 2003).
Gigi tiruan lengkap dibuat untuk menggantikan semua gigi asli beserta
bagian jaringan gusi yang hilang, merehabilitasi seluruh gigi yang hilang serta
jaringannya sehingga dapat memperbaiki atau mengembalikan fungsi
pengunyahan, bicara, estetis, dan psikis, serta memperbaiki kelainan,
gangguan, dan penyakit yang disebabkan oleh keadaan edentulous.
Gigi tiruan lengkap yang idel harus memiliki retensi dan stabilitasasi
yang baik. Retensi adalah ketahanan dari suatu gigi tiruan terhadap daya lepas
pada saat gigi tiruan dalam keadaan diam. Stabilisasi adalah ketahanan suatu
gigi tiruan terhadap daya lepas pada saat gigi tiruan berfungsi. Menurut
Soelarko dan Wahchijati (1980), retensi didapat dari gravitasi, adhesi, tekanan
atmosfer, dan surface tension, sedangkan faktor stabilisasi GTL didapat dari
pemasangan gigi-gigi pada processus alveolaris, tekanan yang merata,
balanced occlution, relief area, sliding, over jet dan over bite. Faktor retensi
dan stabilisasi adalah faktor yang penting dalam keberhasilan gigi tiruan
lengkap.
2.2. Gigi Tiruan yang Stabil dan Retentif
Menurut Zarb dan Bolender (2004), faktor yang mempengaruhi
retensi gigi tiruan lengkap dikelompokan menjadi dua yaitu faktor fisik dan
faktor muskular. Faktor fisik yang berperan dalam retensi gigi tiruan adalah
perluasan maksimal dari basis gigi tiruan; kontak seluas mungkin dari
membran mukosa dan basis gigi tiruan; kontak yang rapat antara basis gigi
tiruan dan daerah pendukungnya. Faktor muskular dapat digunakan untuk
meningkatkan retensi dan kestabilan gigi tiruan, otot-otot buccinator,
orbikularis oris, serta otototot lidah merupakan kunci dalam aktivitas retensi,
10

sehingga perlu latihan khusus bagi otot-otot mulut untuk meningkatkan


retensi gigi tiruan di dalam rongga mulut.
Mekanisme retensi pada gigi tiruan menurut Zarb dan Bolender
(2004) disimpulkan didapat dengan adanya gaya permukaan dari kedua
permukaan yang berbeda, gaya adhesi, gaya kohesi, tekanan atmosfir,
undercuts, rotational insertion paths, parallel walls, gravity, faktor fisik dan
faktor muskular didalam rongga mulut.
2.3. Gigi Tiruan Longgar
Proses resorbsi tulang menyebabkan protesa menjadi tidak sesuai
antara fitting surface dengan bentuk jaringan mukosa dibawah protesa (Salah
dan Khadija, 2011). Terjadinya perubahan bentuk jaringan lunak dan resorbsi
tulang ditunjukan setelah pemakaian gigi tiruan yang cukup lama. Hal
tersebut mengakibatkan ketepatan gigi tiruan sulit dipertahankan dalam waktu
yang panjang karena gigi tiruan akan longgar dan menurunkan kecekatan
fitting surface gigi tiruan terhadap jaringan mukosa mulut (Christensen, 1995;
Barclay dkk, 1997 ).
Lama pemakaian bahan akrilik sulit ditentukan karena banyak faktor
yang mempengaruhi daya tahan dari bahan tersebut. Sifat dari resin akrilik
yang menyerap dan melepaskan air menyebabkan ketidak stabilan dimensi,
keretakan atau patah karena air berinteraksi dengan rantai polimer, yang dapat
menghasilkan beberapa efek seperti melonggarkan gigi tiruan, pecahnya
struktur, dan melemahkan rangkaian susunan gigi artifisialis. Kondisi ini
mempengaruhi dimensi dan stabilitas gigi tiruan dan sekaligus mengurangi
retensi gigi tiruan sehingga perlu dilakukan relining/ rebasing (Tuna dkk,
2008 ).

2.4. Relining
Relining merupakan salah satu prosedur yang digunakan untuk
menanggulangi permasalahan dengan cara melapisi kembali fitting surface
gigi tiruan yang sudah tidak sesuai lagi atau longgar dengan bahan dasar baru,
menghasilkan lapisan baru yang beradaptasi secara akurat ke area landasan
gigi tiruan (Basker dan Depenport, 2002). Tujuan relining adalah
memperbaiki retensi sehingga gigi tiruan dapat berfungsi kembali, kesehatan
11

pada jaringan lunak dapat diperbaiki, pasien merasa enak dan nyaman dengan
gigi tiruan yang dipakai (Gunadi dkk, 1991).
Menurut Steward (1993) beberapa tujuan relining adalah untuk
menentukan ulang relasi yang tepat pada protesa terhadap basis jaringan;
memperbaiki relasi oklusal dan maxilomandibula yang hilang; memperbaiki
retensi dan stabilisasi; untuk memperbaiki perubahan yang terjadi pada
kontur/ bentuk jaringan pendukung setelah gigi tiruan digunakan; untuk
memperbaiki basis gigi tiruan yang mengalami porus akibat curing yang
salah; untuk memperbaiki protesa yang sudah tidak pas lagi atau longgar.
Relining dibagi menjadi 2 teknik yaitu teknik direct dan indirect.
Teknik direct memungkinkan operator untuk melakukan prosedur relining di
dalam rongga mulut pasien pada saat itu juga. Teknik indirect merupakan
teknik labolatoris dalam merelining gigi tiruan. Masing-masing teknik
memiliki indikasi, kontraindikasi, kelebihan dan kekurangan masing-masing,
sehingga seorang dokter harus mampu menentukan rencana perawatan yang
tepat dan sesuai dengan kebutuhan perawatan.

12

BAB III
DISKUSI
3.1. Mapping

Gigi Tiruan
Faktor Penyebab
Gigi Tiruan
Longgar

Gigi Tiruan
Longgar

Indikasi Relining

Tujuan

Tahapan

Direct

Kontra Indikasi
Relining
Alat dan
Bahan

Indirect

3.2. Pembahasan
Re-insersi
1. Faktor gigi
tiruan longgar
Faktor yang menyebabkan gigi tiruan menjadi longgar antara lain:
- Pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yang lama sehingga terjadi
Kontrol
Faktor
resorbsi prosesus aveolaris
Keberhasilan
- Kesalahankesalahan oklusi yang menyebabkan iritasi jaringan
dan Kegagalan
- Resorbsi Residual Ridge, dimana pasien kehilangan
banyak berat badan
- Penyakit sistemik, misalnya diabetes melitus Relining
- Penyakit kelainan hormonal, misalnya hipertiroid dan hipotiroid
- Peradangan dan terjadi resorbsi
- Pembuatan sayap gigi tiruan yang terlalu pendek
- Usia, pasien dengan usia lanjut mengalami resorbsi tulang alveolar yang

lebih besar
- Pemakaian gigi tiruan yang telah lama
- Bila pembuatan gigi tiruan baru memerlukan beberapa kali kunjungan,
metal stress dan physical stress (pasien tua / pasien dengan penyakit
kronis)
- Pasien yang mempunyai kebiasaan buruk yang dapat mempercepat
boneloss (grinding, gigi tiruan dipakai terus menerus)
2. Indikasi dan kontraindikasi relining
Indikasi dari relining adalah
- Gigi tiruan sudah tidak cekat lagi
13

- Hanya terdapat sedikit saja perubahan oklusi, sehingga oklusi masih


dapat dipertahankan dengan pengasahan permukaan oklusal seperlunya
saja setelah relining dilakukan
- Desain kerangka gigi tiruan baik dan kerangka ini masih mencekat
dengan baik pada permukaan gigi
- Keadaan basis protesa masih baik
- Elemen tidak patah, rusak atau aus yang berlebihan
- Penderita merasa puas dengan penampilannya
- Tepi gigi tiruan masih cukup baik dan tidak perlu perubahan yang besar
- Pasien mempunyai pengertian dan tanggapan yang baik mengenai proses
relining
- Ketika gigi tiruan kehilangan atau kurang adaptasinya terhadap mukosa
pendukungnyasedangkan semua faktor oklusi, estetik, relasi sentrik,
DVO dan material basis gigi tiruan baik
- Hilangnya retensi gigi tiruan
- Ketidakstabilan gigi tiruan
- Food under denture (akumulasi makanan di bawah basis gigi tiruan)
- Sayap gigi tiruan underextended
- Dimensi Vertikal masih baik
- Relasi sentrik = oklusi sentrik
- Tepi-tepi sesuai dengan gaya otot kunyah
- Pengucapan/susunan gigi baik
- Kondisi jaringan tulang dan mukosa sehat
Sedangkan kontraindikasi dilakukannya relining adalah
- Kelainan pada jaringan lunak
- Jaringan mukosa luka
- Kelainan pada sendi rahang
- Estetis gigi tiruan sangat jelek
- Hubungan relasi rahang atas dan rahang bawah tidak baik
- Resorbsi sangat banyak, sehingga hubungan horizontal dan oklusal yang
tidak benar
- Oklusi sentris dan relasi sentris tidak sesuai
- Kelainan TMJ
- Gigi tiruan sudah berulang kali di relining
3. Tujuan Relining
Tujuan dilakukannya relining adalah untuk:
- Memperbaiki relasi oklusal dan maxilomandibula yang hilang
- Menentukan ulang relasi yang tepat pada protesa terhadap basis jaringan
- Memperbaiki retensi dan stabilisasi
- Memperbaiki basis gigi tiruan sebagian lepasan yang mengalami porus
akibat curing yang salah
- Memperbaiki basis gigi tiruan sebagian lepasan yang sudah mengalami
perubahan warna atau rusak.
14

- Memperbaiki protesa yang sudah tidak pas lagi atau longgar.


- Memperbaiki perubahan yang terjadi pada kontur atau bentuk jaringan
pendukung setelah gigi tiruan sebagian lepasan lama digunakan
- Memperbaiki perubahan tulang alveolar yang sangat besar setelah
pencabutan gigi asli
- Memperbaiki hubungan oklusi maupun artikulasi yang tidak seimbang
- Alasan estetik
- Membuat protesa yang lebih efektif
- Agar kontak gigi tiruan dengan permukaan jaringan menjadi lebih cekat
- Agar mencapai penyesuaian terhadap terjadinya resorbsi yang terjadi di
dalam mulut tanpa mengganggu hubungan oklusi yang ada
- Memperbaiki trauma yang ada pada TMJ
4. Tahapan Relining
Sebelum melakukan relining, hendaknya operator menyiapkan alat
dan bahan yang akan digunakan dalam proses relining, seperti:
Alat: spatula, bowl, articulator, scraper / bur, handpiece / lathe mounted
akrilik bur, fissure bur, reline jig, kuas, pressure container
Bahan: jelly petroleum, zinc oxide eugenol pasta, cold curing acrylic, heat
curing acrylic, tissue conditioning, hydocal, pumice
Proses relining dibagi menjadi 2 macam, yaitu direct (langsung)
dan indirect (tidak langsung).
Direct relining:
1. Persiapan pasien:
- Pasien harus melepas gigi tiruan selama 1-2 hari
- Pemberian tissue conditioner bila perlu.
- Bila terdapat hyperplatic tissue yang besar harus dioperasi
2. Persiapan gigi tiruan:
- Permukaan gigi tiruan yang menghadap jaringan pendukung direlief
dengan mengerok akrilik sebanyak 1-2 mm
- Seluruh undercut yang ada dihilangkan
- Tepi- tepi gigi tiruan dipendekkan 1-2 mm
- Pencetakan dilakukan dengan memakai gigi tiruan sebagai sendok cetak
- Batas tepi gigi tiruan lama dikasarkan dengan trimmer tapi tidak
dipendekkan dengan maksud agar lebih baik dalam menahan bahan cetak
- Semua undercut yang menggangu harus sudah dibuang, dan permukaan
basis gigi tiruan yang dipoles dilapisi dengan jelly petroleum untuk
memudahkan pembuangan kelebihan bahan cetak
- Pencetakkan dilakukan dengan menggunakan cold curing acrylic, agar
jaringan lunak rongga mulut tidak teritasi
- Taruhlah campuran bahan diatas permukaan jaringan basis partial
denture yang telah dikeringkan lalu masukan ke dalam mulut pasien,
15

kerangka dipegang kuat dengan menekan pada masingmasing rest


sampai bahan cetak mengeras dan usahakan pasien tidak boleh beroklusi
dan bahan cetak berlebihan dibuang, kemudian partial denture
dikeluarkan dari mulut, protesa dirapikan/dibentuk dengan scapel tajam
3. Selanjutnya denture yang telah selesai direlining dan insersi, dipoles
agar permukaanya tidak ada yang tajam
4. Insersi ke rongga mulut pasien
- Setelah proses pembuatan selesai, sebelum insersi gigi tiruan rendam
dalam air untuk mencegah kontraksi
- Dilihat permukaan gigi tiruan apakah kasar/tidak, tepi tajam/tidak, serta
porus/tidak
- Ujung clasp tidak tajam (bulat)
- Halus/mengkilap (basis tidak boleh dipulas)
- Periksa adaptasi : tekan -tekan tiap bagian gigi tiruan dari arah oklusal.
Apabila terungkit ataupun tergoncang maka adaptasi gigi tiruan tersebut
masih kurang
- Periksa letak komponen retainer maupun oklusal rest, harus berada pada
tempat atau posisi yang seharusnya
- Periksa retensi : lepas gigi tiruan dengan menggunakan tekanan yang
ringan, gerakan otot bibir dan pipi seperti ketika mengunyah
Kekurangan dan kelebihan direct relining adalah
1. Untuk memperbaiki protesa yang tidak mengalami banyak perubahan
2. Dikerjakan dalam satu kali kunjungan
3. Dalam processing bahan self curing acrylic menimbulkan panas
menyebabkan iritasi pada mucosa
4. Penderita sukar untuk menggigit dalam oklusi sentrik, karena terganggu
bau tak enak yang dikeluarkan oleh self curing acrylic
5. Porosity serta warna self curing acrylic yang tidak stabil (mudah
berubah)
Indirect relining:
1. Persiapan pasien:
- Pasien harus melepas gigi tiruan selama 1-2 hari
- Pemberian tissue conditioner bila perlu.
- Bila terdapat hyperplatic tissue yang besar harus dioperasi
2. Persiapan gigi tiruan:
- Permukaan gigi tiruan yang menghadap jaringan pendukung direlief
dengan mengerok akrilik sebanyak 1-2 mm
- Seluruh undercut yang ada dihilangkan
16

- Tepi-tepi gigi tiruan dipendekkan 1-2 mm


- Pencetakan dilakukan dengan memakai gigi tiruan sebagai sendok cetak
- Batas tepi gigi tiruan lama dikasarkan dengan trimmer tapi tidak
dipendekkan dengan maksud agar lebih baik dalam menahan bahan cetak
- Semua undercut yang menggangu harus sudah dibuang, dan permukaan
basis gigi tiruan yang dipoles dilapisi dengan jelly petroleum untuk
memudahkan pembuangan kelebihan bahan cetak
- Periksa oklusi pasien
- Cetak dg alginat
- Buat lubang pada basis
- Mencetak dengan bahan mukostatik (kemudian pasien diperintahkan
untuk oklusi)
- Melepaskan sendok cetak kemudian di isi dengan gips
- Model kerja dan gigi tiruan ditanam dalam kuvet permukaan yang
dipulas tertanam gips, sisakan daerah tepi kurang lebih 2mm
- Diberi separasi
- Kuvet antagonis dipasang dan diisi dengan gips lunak untuk kemudian
dipres
- Kuvet dibuka, gigi tiruan dilepas, bahan cetak dibersihkan
- Kembalikan kedalam kuvet untuk diisi dengan adonan heat cure acrylic
dan dipres kembali
- Setelah setting dibuka, lalu dilepaskan dari model
- Lalu dilakukan pengoreksian, kemudian di pulas
- Insersi ke rongga mulut pasien dengan cara yang sama pada direct
relining
Kekurangan dan kelebihan direct relining adalah
1. Baik digunakan untuk penderita yang berusia lanjut serta dapat
digunakan penderita yang bersikap mental tidak stabil (histerical mind )
2. Keuntungan pemakaian heat curing acrylic resin dihasilkan protesa
yang jauh lebih kuat dari pada protesa yang dibuat dari self curing
acrylic
3. Porosity jauh berkurang.
Relining tanpa perubahan dimensi vertikal
Relining pada protesa dengan dimensi vertical yang tidak berubah,
pembuatannya lebih sederhana bila dibandingkan dengan protesa yang
dimensi vertikalnya berubah
Relining dengan perubahan dimensi vertikal
Untuk melakukan relining pada protesa dengan dimensi vertikal
yang telah berubah, maka terlebih dahulu ditempatkan tiga bulatan kecil
dari impression compound yang hangat di daerah Premolar I kanan dan kiri
17

serta di daerah anterior ridge (tengah). Kemudian cetak ke dalam mulut.


Penderita diminta untuk menutup mulutnya serta dibantu menekan protesa
tersebut sampai dicapai dimensi vertikal yang dikehendaki. Selanjutnya
tambahkan impression compound pada pinggirpinggir protesa dan
lakukan muscle trimming. Kemudian dilakukan pencetakan dengan pasta
zink oxide
5. Faktor keberhasilan dan kegagalan relining
Faktor Keberhasilan:
- Pasien yang kooperatif
- Perubahan yang terjadi tidak terlalu besar
- Skill operator yang baik
- Setelah gigi tiruan direlining pasien merasa nyaman, fungsi mastikasi dan
fungsi bicaranya kembali dan pasien tidak ada keluhan
- Gigi tiruan kembali stabil dan retentif
Faktor Kegagalan:
- Tipe pasien hysterical (banyak menuntut)
- Adanya porus pada gigi tiruan
- Basis tidak bersih dan kurang diasah yang dapat menyebabkan adanya
batas antara resin lama dengan resin yang baru
- Undercut yang tidak dibuang
- Cetakan relining dibuat saat oklusi
- Operator kurang teliti pada saat merilining
- Processing dengan kuvet tidak rapat
- Duplikator tidak tertutup rapat
- Pada saat mencetak jari menekan pada basis gigi

18

KESIMPULAN
Gigi tiruan lengkap adalah protesa gigi lepasan yang dimaksudkan
untuk menggantikan permukaan pengunyahan dan struktur-struktur yang
menyertainya dari suatu lengkung gigi rahang atas dan rahang bawah. Protesa
tersebut terdiri melalui kontak yang erat dengan jaringan mulut dibawahnya.
Relining merupakan prosedur pelapisan kembali protesa gigi tiruan yang
longgar untuk mengembalikan retensi, stabilitas dan kenyamanan pasien.
Relining dapat dilakukan secara direct dan indirect yang disesuaikan dengan
indikasi dari pasien itu sendiri.

19

DAFTAR PUSTAKA

Anusavice, Kenneth. J, Philips. 2003. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi,
Trans, Johan Arif

Budiman, Susi Puwoko, Lilian Juwono, eds. Edisi

10. EGC: Jakarta.


Austin, K. et al. 1957. Partial Dentures. St. Louis: The Mosby.
Basker, R.M. dan Davenport, J.C. 2002. Prosthetic Treatment of the Edentulous
Patient, 4th

ed. Blackwell: Munksgaard.

Christensen, G.J. 1995. Relining, Rebasing Partial and Complete Denture. J. Am.
Dent. Assoc.
Gunadi, HA, dkk. 1994. Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepas, Jilid 2.
Jakarta: Hipokrates.
Henderson, D. et al. 1973. Removable Partial Prosthodontics, Edisi 4. St Louis:
The Mosby.
Kema. D, at al. 1969. Modern Practice in Removable Partial Prosthodontics.
USA: W.B.Saunders.
Knechtel, Mark E and Robert W. Loney. 2007. Improving the Outcome of Denture
Relining. Nova Scotia: JCDA.
Kratochvil, F. 1988. Partial Removable Prosthodontics. USA: W.B. Saunders.
Rudd, K. et al. 1981. Dental Laboratory Procedures Removable Partial Dentures,
Vol 3. St. Louis: The Mosby.
Setiawan, Ricky. 2013. Penatalaksanaan Relining pada Gigi Tiruan Sebagian
Lepasan (GTSL). Jakarta: Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama).
Soelarko dan Herman W. 1980. Diktat Prostodonsia Full Denture. Bandung: FKG
Unpad:
Steward, K. et al. 1993. Clinic Removable Partial Prosthodontics Edisi 2. St.
Louis: The Mosby.
Tuna, S.H., Filiz, K., Hasan, O.G.,, dan Cengiz, U. 2008. The Evaluation of Water
Sorption/Solubility on Various Acrylic Resins. European Journal of Dentistry
Vol. 2

20

Zarb, G., Bolender, C.L. 2004. Prosthodontic Treatment for Edentulous Patients.
St. Louis: The.Mosby

21

LAMPIRAN

Kata-kata sulit dan definisi


1. Relining: Prosedur untuk menambahkan bahan baru pada sisi protesa yang
menghadap mukosa jaringan untuk mengisi ruang antara basis dengan
permukaan jaringan yang telah berubah.
2. Dimensi vertikal: relasi rahang bawah dengan rahang atas dalam arah vertikal.

22