Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Kanker (tumor ganas) merupakan penyakit penyebab kematian kedua yang
memberikan kontribusi 13% kematian dari 22% kematian akibat penyakit tidak
menular utama di dunia. Dampak penyakit tidak menular khususnya penyakit kanker
terhadap ketahanan sumber daya manusia sangat besar karena selain merupakan
penyebab kematian dan kesakitan juga menurunkan produktivitas. Angka kesakitan
dan kematian tersebut sebagian besar terjadi pada penduduk dengan sosial ekonomi
menengah ke bawah5.
Di Indonesia, penyakit kanker merupakan urutan ke 8 dari pola penyakit
nasional. Pada tahun 2008 di rumah sakit seluruh Indonesia, penyakit kanker
menyebabkan 4.332 pasien mati dengan Case Fatality Rate (CFR) 4,70%. Setiap
tahunnya 100 kasus baru terjadi diantara 100.000 penduduk. Meningkatnya pengguna
rokok (57 juta orang), konsumsi alkohol, kegemukan atau obesitas dan kurangnya
aktifitas fisik/olahraga juga berperan dalam peningkatan angka kejadian kanker di
Indonesia 5,6.
Tumor dari seluruh tubuh manusia menurut penelitian Oemiati et al tahun
2011, tumor pada mata, otak, dan Sistem Saraf Pusat (SSP) mempunyai odds ratio
(OR) sedang, yaitu (4,6) dengan 95%C I sebesar 3,8-5,5. Sedangkan tumor ovarium
dan tumor saluran pernapasan mempunyai OR terbesar dan terendah, yaitu (19,3)
dengan 95%C I sebesar 17,8-20,9 dan (0,6) dengan 95%C I sebesar (0,4-0,9)5.
Tumor mata merupakan penyakit dengan multifactor yang terbentuk dalam
jangka waktu lama dan mengalami kemajuan melalui stadium berbeda-beda. Faktor
nutrisi merupakan satu aspek yang sangat penting, komplek, dan sangat dikaitkan
dengan proses patologis tumor. Secara umum, total asupan berbagai lemak (tipe yang
berbeda-beda dari berbagai lemak) bisa dihubungkan dengan peningkatan insiden
tumor mata5. Infeksi virus seperti pada Papilloma dan neoplasia intraepitel pada
konjungtiva juga merupakan penyebab utama. Selain itu radiasi sinar UV juga
menyebabkan terjadinya tumor pada bagian tertentu di mata2.

Tiga jenis tumor mata yang sering terjadi pada anak-anak adalah kista
dermoid, hemangioma, dan rabdomiosarkoma. Sedangkan 3 jenis tumor mata yang
sering terjadi pada dewasa adalah tumor limfoid, hemangioma kavernosa, dan
meningioma. Apabila diagnosis dini dapat ditegakkan, maka angka kejadian dan
mortalitas pada kasus tumor mata dapat diturunkan7.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi dan Fisiologi Mata


Regio orbita adalah sepasang rongga di tulang yang berisi bola mata, otot,
saraf, pembuluh darah, dan sebagian besar apparatus lakrimalis. Lubang orbita
dilindungi oleh dua lipatan tipis yang dapat bergerak, yaitu kelopak mata (palpebra)1,3.
Palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata serta mengeluarkan sekresi
kelenjar yang membentuk film air mata di depan kornea. Pada palpebra terdapat
bagian-bagian: kelenjar sebasea, kelenjar Moll, kelenjar Zeis pada pangkal rambut,
dan kelenjar Meibom pada tarsus. Otot seperti: Muskulus orbikularis okuli untuk
menutup bola mata yang dipersarafi Nervus Fasial. M. levator palpebra yang
dipersarafi N. III yang berfungsi untuk membuka mata. Pembuluh darah yang
mempedarahinya adalah arteri palpebra. Persarafan sensorik kelopak mata atas
didapatkan dari ramus frontal N. V, sedang kelopak mata bawah oleh cabang ke II
saraf ke V1,3.

Gambar 2.14

Apparatus lakrimalis terdiri dari glandula lakrimalis, laku, pungta, kanalikuli,


sakus lakrimalis, dan duktus lakrimalis. Persarafan sekretomotorik parasimpatis
berasal dari nukleus lakrimalis. Glandula lakrimalis akan menghasilkan air mata dan
mengalir ke lakus lakrimal dan masuk ke kanalikuli melalui pungta. Kanalikuli
berjalan ke medial dan bermuara ke sakus lakrimalis dan dan terus berlanjut ke duktus
lakrimalis1,3.
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian
belakang. Bermacam-macam obat dapat diserap melalui konjungtiva. Konjungtiva
mempunyai kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin bersifat
membasahi bola mata terutama kornea. Konjungtiva terdiri atas 3 bagian, yaitu:
konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva bulbi yang menutupi sklera, dan
konjungtiva forniks1,3.
Bola mata berbentuk bulat dengan diameter anteroposterior 24 mm. Bola mata
dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu: sklera, jaringan uvea (yang terdiri dari iris,
badan siliar, dan koroid yang diperdarahi oleh arteri siliaris anterior dan posterior,
sedangkan persarafannya dari ganglion siliar dan retina). Pada iris didapatkan pupil
yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam mata. Badan
siliar menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor) yang dikeluarkan melalui
trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas kornea dan sklera. Badan kaca
mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat gelatin yang hanya menempel papil
saraf optik, makula, dan pars plana. Lensa terletak di belakang pupil yang dipegang di
daerah ekuatornya pada badan siliar melalui Zonula Zinn. Terdapat 6 otot penggerak
bola mata, yaitu : oblik inferior, rektus inferior, rektus medius, dan rektus superior
yang dipersarafi N. III, kemudian oblik superior dan rektus lateral yang dipersarafi N.
IV dan N. VI1,3.
Sklera terdiri atas jaringan fibrosa padat dan berwarna putih. Di posterior,
sklera ditembus oleh N. II dan menyatu dengan selubung dura saraf ini. Lamina
kribosa adalah daerah sklera yang ditembus oleh serabut-serabut N. II. Merupakan
area yang relativ lemah dan dapat menonjol ke dalam bola mata oleh peningkatan
tekanan cairan serebrospinal di dalam tonjolan subaraknoid yang terdapat di sekeliling
N. II. Bila tekanan intraokular meningkat, lamina kribosa akan menonjol keluar dan
menyebabkan diskus menjadi cekung1,3.
4

Kornea (latin cornum= seperti tanduk) adalah selaput bening mata yag dapat
memantulkan cahaya yang masuk ke mata. Terdiri atas 5 lapisan: epitel, membran
bowman, stroma, membran desemen, dan endotel. Kornea dipersarafi oleh saraf siliar
longus cabang N. V dan saraf nasosiliar. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh
kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk ke kornea1,3.
Lensa mata di dalam bola mata terletak di belakang iris yang terdiri dari zat
tembus cahaya berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat
terjadinya akomodasi. Secara patologik, lensa dapat kaku pada orang dewasa yang
akan mengakibatkan presbiopia, keruh atau yang disebut katarak, dan tidak berada di
tempatnya (subluksasi dan dislokasi)1,3.
Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor
yang menerima rangsangan cahaya. Retina terdiri atas lapisan: fotoreseptor (terdiri
atas sel batang dan sel kerucut), membran limitan eksterna, lapis nukleus luar, lapis
pleksiform luar, lapis nukleus dalam, lapis pleksiform dalam, lapis sel ganglion, lapis
serabut saraf, dan membran limitan interna1,3.
2.2

Etiologi
Penyebab dari tumor mata adalah faktor genetik, contohnya pada
retinoblastoma (tumor ganas pada retina) terjadi karena mutasi kromosom 13.
Penyebab lain dari tumor mata adalah faktor nutrisi, secara umum total asupan
berbagai lemak (tipe yang berbeda-beda dari

makanan yang berlemak) bisa

dihubungkan dengan peningkatan insiden tumor mata. Disamping itu obesitas juga
meningkatkan risiko tumor dan aktivitas fisik merupakan determinan utama dari
pengeluaran energi untuk menurunkan risiko tumor mata. Faktor gaya hidup antara
lain merokok, diet, konsumsi alkohol diduga sebagai kontributor utama dalam
pertumbuhan tumor mata. Dari kajian literatur didapatkan bahwa asupan lemak jenuh
dan alkohol akan meningkatkan kejadian penyakit tumor5,8.
Faktor lain yang mempengaruhi tumor mata adalah kesehatan mental. Orang
dengan mental disorder (khususnya yang berkaitan dengan mood seperti depresi klinis
dan bipolar) akan meningkatkan risiko kejadian tumor pada usia muda. Pada wanita
43%

dengan mental disorder akan menjadi sakit kurang dari 2 tahun setelah

didiagnosa menderita masalah dengan mood5.


5

T
z
G
P
k
h
lb
S
d
s
iv
g
n
e
M
t
a
r
o
m
u
j

2.3

Patofisiologi

Bagan 2.2 Patofisiologi tumor mata

2.4

Jenis-jenis tumor mata

Tumor mata bisa terjadi di semua bagian mata yang mengalami pembelahan sel

abnormal dan kematian sel yang menurun. Berdasarkan posisinya, tumor mata
dikelompokkan sebagai berikut9:

1. Tumor eksternal, yaitu tumor yang tumbuh di bagian luar mata seperti tumor palpebra
dan tumor konjungtiva
2. Tumor intraokuler, yaitu tumor yang tumbuh di dalam bola mata
3. Tumor retrobulbar, yaitu tumor yang tumbuh di belakang bola mata

2.4.1 Tumor eksternal

2.4.1.1 Tumor palpebra


2.4.1.1.1 Kalazion

Kalazion merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang

tersumbat. Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan infeksi ringan

yang mengakibatkan peradangan kronis kelenjar tersebut. Kalazion akan memberikan


gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak hiperemi, tidak ada nyeri tekan, dan
adanya pseudoptosis1,2.
Kelenjar preaurikuler tidak membesar. Kadang- kadang mengakibatkan
perubahan bentuk bola mata akibat tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi pada
mata tersebut1.
Pengobatan pada kalazion dengan melakukan kompres hangat, antibiotik
setempat dan sistemik. Untuk mengurangi gejala dilakukan eksklokleasi isi abses dari
dalamnya atau dilakukan ekstirpasi kalazion tersebut. Insisi dilakukan sama seperti
pada hordeolum interna. Bila tidak membaik bisa berkomplikasi menjadi
granuloma1,2.
2.4.1.1.2 Karsinoma sel basal
Karsinoma sel basal adalah tumor ganas yg terjadi pada palpebra. Sembilan
puluh persen kasus tumor palpebra adalah karsinoma sel basal. Daerah palpebra yang
sering terjadi adalah palpebra inferior (70%), diikuti kantus medial, palpebra superior,
dan kantus lateral. Tumor ini bisa kambuh kembali pada tempat semula tumbuhnya,
tidak bermetastasis ke kelenjar limfe dan organ yang jauh. Terlihat adanya nodul
dengan ulserasi di tengahnya serta telangiektasis. Pengobatan dengan eksisi17.
2.4.1.1.3 Karsinoma sel skuamos
Karsinoma sel skuamos adalah tumor ganas yang terjadi pada palpebra. Jarang
terjadi, tetapi lebih agresif dari karsinoma sel basal karena dapat bermetastasis ke
kelenjar limfe dan organ yang jauh. Biasanya terjadi pada daerah yang terpajan sinar
matahari dan lesi yang pernah terjadi sebelumya. Gejalanya adalah adanya lesi dan
masa yang bewarna merah dan terbelah-belah. Ada beberapa staging dari karsinoma
sel skuamos menurut Americant Joint Committee on Cancer (AJCC)17:
T: menjelaskan ukuran tumor primer dan penyebarannya
TX: tumor primer tidak bisa dinilai
T0: tidak ada bukti adanya tumor primer
Tis: karsinoma insitu
7

T1: tumor berukuran < 5 mm, belum menyebar ke bagian tarsal


T2a: tumor berukuran 5-10 mm, sudah menyebar ke bagian tarsal dan margo palpebra
T2b: tumor berukuran 10-20 mm, sudah menyebar ke seluruh palpebra
T3a: tumor berukuran > 20 mm, sudah menyebar ke bagian bola mata
T3b: tumor sudah bisa dilakukan enukleasi atau reseksi tulang
T4: tumor sudah menyebar ke ekstra-orbita
N: menjelaskan ada atau tidak penyebaran ke kelenjar limfe
NX: Kelenjar limfe regional tidak bisa dinilai
N0(c): tidak ada penyebaran ke kelenjar limfe regional berdasarkan pemeriksaan
radiologi
N0(p): tidak ada penyebaran ke kelenjar limfe regional berdasarkan pemeriksaan
biopsi
N1: sudah menyebar ke kelenjar limfe regional
M: menjelaskan ada atau tidaknya penyebaran ke organ yang lain
M0: tidak ada penyebaran ke organ yang lain
M1: ada penyebaran ke organ yang lain
Pengobatannya adalah dengan eksisi, jika tumor tidak bisa diangkat maka
dilakukan radioterapi. Apabila memungkinkan dilakukan tindakan pengangkatan
tumor dan rekonstruksi jaringan jika tumor sudah menyebar ke bagian bola mata dan
sinus18.
2.4.1.1.4 Hemangioma
Hemangioma adalah tumor jinak yang terjadi pada palpebra karena pigmen
yang berlebihan. Biasanya dapat didiagnosis pada saat berumur 6 bulan, mengenai
satu sisi mata, lesi bewarna merah berada di palpebra superior. Biasanya dengan
proptosis pada 38% kasus, ada masa yang rata. Komplikasi yang sering terjadi adalah
gangguan visus, ambliopia, anisometropia, dan strabismus. Pengobatannya adalah
8

dengan pemberian kortikosteroi salep, topikal, infus sub tenon, sistemik, injeksi
interferon,terapi laser, embolisasi selektif pada arteri, dan pembedahan19.
2.4.1.2 Tumor pada konjungtiva
2.4..1.2.1 Nevus
Nevus adalah tumor jinak pada konjungtiva yang disebabkan oleh pewarnaan
yang berlebihan dari melanosit. Biasanya terjadi pada saat lahir dan berkembang
selama 2 dekade setelah kelahiran. Pada ras kaukasia, kasusnya meningkat. Nevus
hampir tidak mempunyai gejala. Gejalanya adalah gangguan pada pertumbuhan
pembuluh darah, silau, gangguan penglihatan, dan bisa menyebabkan ablasio retina.
Nevus bisa menjadi bentuk ganas, sehingga pemeriksaan rutin sangat diperlukan
untuk mencegahnya. Pada nevus tidak perlu dilakukan operasi, tetapi jika ada alasan
kosmetik maka boleh dilakukan tindakan eksisi2.
2.4..1. 2.2 Papilloma
Papilloma di konjungtiva terjadi karena infeksi Human Papilloma Virus
(HPV). Bisa terjadi pada semua umur, biasanya terjadi pada orang yang berumur
dibawah 20 tahun. Papilloma bisa bersifat jinak dan bersifat ganas. Papiloma
berdasarkan klinisnya bisa dibagi menjadi 2, yaitu bentuk pedunkel dan bentuk sesil.
Gejalanya bisa terjadi pada satu atau dua mata, pada bentuk pedunkel biasanya
bilateral, bisa dengan atau tanpa gangguan visus. Penatalaksanaan tergantung besar
lesi, jika lesi kecil bisa sembuh spontan, jika lesinya besar bisa dieksisi. Apabila
penyakitnya kambuh lagi, maka diberikan alpha-interferon atau simetidin oral10.
2.4..1.2.3 Dermolipoma
Dermolipoma adalah tumor yang terjadi pada saat lahir, lesinya bisa meluas
atau tidak tergantung perkembangannya. Gejalanya asimptomatik, bila menimbulkan
gejala dapat berupa kantus yang bewarna merah jambu, lembut, dan dapat digerakkan,
dan ada masa di subkonjungtiva. Terjadi pada satu sisi mata . Pengobatannya adalah
observasi dan tindakan operasi untuk tujuan kosmetik2.

2.4.1.2.4 Granuloma piogenik


Granuloma piogenik adalah tumor jinak pada konjungtiva yang terjadi pada
hemangioma yang tidak aktif. Tidak ada pus, tidak ada giant sel. Bisa terjadi karena
trauma minor, kalazion yang parah, post operasi jaringan granulasi. Adanya pedunkel
yang bewarna merah, dan lesi yang halus. Pengobatannya adalah kortikosteroid
topikal dan eksisi2.
2.4.1. 2.5 Primary Acquired Melanosis (PAM)
Primary Acquired Melanosis (PAM) adalah peningkatan pigmen kecoklatan
pada konjungtiva

dengan penimbunan melanosit pada epitel. Penyebabnya tidak

diketahui. Bisa terjadi pada semua umur, pada PAM dengan atipia terjadi pada orang
yang berusia diatas 45 tahun. Gejalanya adalah konjungtiva bewarna coklat, lesi datar
yang ireguler di konjungtiva. Pengobatannya adalah tergantung besar lesinya, jika lesi
kecil dilakukan eksisi, jika lesinya besar dilakukan sitototerapi atau mitomisin
topikal11.
2.4.1.2.6 Melanoma
Melanoma adalah kelainan konjungtiva sebagai kelanjutan dari PAM dan
nevus. Gejalanya adalah adanya nodul bewarna hitam dan warna abu-abu, biasanya
pada limbus. Tumor yang tidak mempunyai pigmen melanin, warna nodulnya merah
jambu dan halus. Pengobatannya adalah eksisi dan krioterapi11.
2.4.1.2.7 Neoplasia intraepitel pada konjungtiva
Neoplasia intraepitel pada konjungtiva adalah tumor ganas pada konjungtiva
yang terjadi karena infeksi HPV tipe 16, sinar UV, AIDS, dan xeroderma. Kasus
terbanyak terjadi pada pasien AIDS. Gejalanya adalah inflamasi ringan, abnormal
vaskularisasi, mata silau, masa yang bewarna merah jambu . Pengobatannya adalah
eksisi, krioterapi atau kemoterapi topikal12.
2.4.1.2.8 Karsinoma sel skuamos
Karsinoma sel skuamos pada konjungtiva adalah tumor ganas pada
konjungtiva yang terjadi karena radisai sinar UV, infeksi virus, dan faktor genetik.
Biasanya gejalanya lebih agresif pada pasien HIV dan pasien dengan xeroderma.
10

Gejalanya adalah lesi yang luas di dekat limbus, bisa terjadi leukoplakia, jarang
meluas ke sklera, warna

gelap pada daerah pigmentasi, invasi lokal dan bisa

bermetastase. Pengobatannya adalah eksisi lokal, krioterapi, pada penyebaran yang


luas bisa dilakukan terapi radiasi12.
2. 4.1.2.9 Kaposi sarkoma
Kaposi sarkoma adalah tumor ganas yang terjadi pada konjungtiva (endotel
pembuluh darah), bisa mengenai kulit, membran mukosa, dan organ dalam bola mata.
Penyebabnya adalah infeksi HHV-8 dan AIDS. Gejalanya adalah lesi besar yang
bewarna merah, edem palpebra dan edem konjungtiva, dan adanya nodul.
Pengobatannya adalah radioterapi atau eksisi12.
2.4.2 Tumor intraokuler
2.4.2.1 Iris nevus
Iris nevus adalah tumor jinak berupa pigmen kecoklatan yang melewati iris,
bisa berupa daerah yang datar atau daerah yang menonjol. Nevus yang terbentuk bisa
satu atau banyak, dan bisa menjadi nevus yang menyebar yang disebut Cogan-Reese
syndrome. Nevus bisa merusak margin pupil dan merusak permukaan iris. Ada 6 hal
yang membedakan iris nevus dengan iris melanoma13:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ukurannya kurang dari 3 mm diameter iris


Tebal, ukurannya kurang dari 1 mm diameter iris
Tidak ada vaskularisasi permukaan
Tidak ada katarak
Tidak ada glaukoma sekunder
Tidak berkembang menjadi ganas

Pada iris nevus tidak ada pengobatan, hanya dilakukan observasi visus.
2.4.2.2 Iris melanoma
Iris melanoma adalah tumor jinak yang mengenai iris dan mempunyai
prosentase 5% dari melanoma uvea. Rata-rata terjadi pada usia 50-an dan pada orang
kaukasia. Kejadiannya tidak dipengaruhi oleh sinar UV dan faktor lingkungan. Iris
melanoma diawali dari penyakit nevus, adanya pigmen coklat kehitaman di iris,
bentuknya bervariasi dan tajam. Ukurannya

lebih dari 3 mm diameter iris, ada

vaskularisasi permukaan, bisa dengan penyakit penyerta, seperti katarak dan


11

glaukoma. Pengobatannya adalah iridektomi untuk tumor yang kecil, iridosilektomi,


radioterapi untuk tumor yang difus, jika tidak cukup dengan radioterapi maka bisa
dilakukan enukleasi15.
2.4.2.3 Iris metastasis
Iris metastasis adalah gangguan pada iris karena metastasis tumor dari tempat
lain. Iris metastasis bisa bewarna merah jambu, kekuningan, masa yang tumbuh
dengan cepat dan bisa dengan uveitis berupa hifema. Bentuk yang kecil dan banyak,
jarang dijumpai. Tidak ada pengobatan pada iris metastasis2.
2.4.2.4 Iris xantogranuloma
Iris xantogranuloma adalah tumor jinak pada iris yang jarang dijumpai.
Penyebabnya tidak diketahui, melibatkan proliferasi histiosit non-langerhans. Adanya
lesi bewarna kekuningan yang difus, bisa dengan hifema, uveitis anterior, dan
glaukoma. Pengobatannya dengan steroid topikal2.
2.4.3 Tumor retrobulbar
2.4.3.1 Retinoblastoma
Retinoblastoma adalah tumor ganas pada retina yang sering terjadi pada anakanak. Kasus retinoblastoma meningkat dalam 60 tahun terakhir. Ada 1 kasus dari
15.000 kelahiran bayi. Dua ratus lima puluh sampai 350 kasus baru setiap tahun
terjadi di Amerika Serikat, dimana 90% kasus terjadi pada anak dibawah 5 tahun.
Retinoblastoma terjadi pada sel multipoten, mutasi dari kromosom 13 yang
berkembang menjadi bagian dalam dan luar retina. Pada kasus baru, retinoblastoma
dapat didiagnosis pada saat anak berumur dibawah 5 tahun. Pada anak dengan
retinoblastoma bilateral biasanya dapat didiagnosa rata-rata pada umur 13 sampai 15
bulan, sedangkan pada anak dengan retinoblastoma unilateral biasanya dapat
didiagnosa rata-rata pada umur 24 bulan. Tidak ada predileksi jenis kelamin dan ras.
Enam puluh persen kasus terjadi pada bilateral, 40% kasus terjadi unilateral15,16.
Tanda dan gejalanya adalah leukoria (reflek putih pada pupil atu disebut reflek
mata kucing) adalah tanda yang sering terlihat pada retinoblastoma, yaitu 56,1% dari
seluruh kasus yang ada. Kemudian gejala yang lain adalah strabismus yang terjadi
karena gangguan visus, nistagmus (pergerakan bola mata yang abnormal),
12

heterekromia (perubahan warna iris), dan proptosis (penonjolan bola mata) sering
terjadi pada negara tidak berkembang. Retinoblastoma juga bisa menyebabkan
perubahan sekunder pada mata, seperti glaukoma, ablasio retina, dan inflamasi pada
mata (pseudouveitis dan selulitis)15,16.
Pemeriksaan darah rutin, urinalisis, elektrolit, dan tes fungsi hati
(SGOT/SGPT) sangat berguna untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Tes
DNA (darah) pada pasien dan orang tuanya untuk melihat faktor genetik. Penilaian
enzim pada akuos humor

(Lactate Dehidrogenase (LDH)), pada retinoblastoma

enzim ini meningkat dan rasio antara produksi akuos humor dan LDH adalah lebih
besar dari 1. Computed Tomografi (CT-Scan) kepala dan mata bisa dilakukan untuk
melihat anatomi SSP dan nervus optikus serta menilai kalsifikasi. Selain itu, Ultra
Sonografi (USG) juga bisa digunakan untuk menilai kalsifikasi. Pada pemeriksaan
imaging yang lain, MRI bisa digunakan untuk menilai derajat retinoblastoma tetapi
tidak spesifik seperti CT- Scan karena kurang peka dalam mendeteksi kalsium. Foto
rontgen bisa dilakukan pada daerah yang tidak mempunyai fasilitas imaging lain.
Pemeriksaan lain yang bisa dilakukan adalah pemeriksaan imunohistopatologi untuk
melihat sumber sel yang mengalami ganguan dan pemeriksaan biopsi serta aspirasi
tulang belakang sebagai diagnosis awal untuk melihat sejauh mana penyebaran
tumor15,16.
Pengobatan pada retinoblastoma adalah untuk mengontrol tumor dan
memperoleh penglihatan yang bisa terlihat oleh penderita. Tindakan yang bisa
dilakukan adalah enukleasi (pengangkatan bola mata), radioterapi, potokoagulasi
(laser treatment), krioterapi (freezing treatment), dan kemoterapi15,16.
Prognosis pada penderita yang retinoblastoma unilateral adalah bagus pada
mata yang tidak terkena, sedangkan pada penderita yang bilateral prognosisnya
tergantung lokasi yang terkena dan keefektivan pengobatan15,16.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S, Sri RY. Ilmu Penyakit Mata Edisi keempat. 2012. Badan Penerbit FKUI.
Jakarta
2. Kanski JJ. Clinical Ophtalmologi A Sinopsis. 2009. Elsevier. UK

13

3. Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi Keenam. 2006. EGC.
Jakarta
4. Ishihara S. The series of Plates designed As a test for colour deficiency. 2005.
Kanehara Trading Inc. Tokyo
5. Oemiati R, Ekowati R, Antonius YK. Prevalensi tumor dan beberapa faktor yang
mempengaruhi di Indonesia. 2011. Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan.
Jakarta
6. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2008. 2009. Depkes RI. Jakarta
7. Mercandetti M. Orbital tumors. http:/emedicine.medscape com/ article/ 1222849follow up#showall diakses pada tgl. 14 Desember 2012
8. Isidro MA. Retinoblastoma clinical presentation. http:/emedicine.medscape com/
article/ 1222849-follow up#showall diakses pada tgl. 14 Desember 2012
9. Klinik mata nusantara. Tumor mata. http/ Klinik mata nusantara com file/8591. pdf
diakses pada tgl. 14 Desember 2012
10. Eyewiki org. Conjunctival Papilloma. http:/ eyewiki.aao.org/conjunctival papilloma
diakses pada tgl. 14 Desember 2012
11. Forsionusa org. Primary acquired melanosis (PAM). http:/www.images. mission
forsionusa.org/anatomy/2006/03/what is primary-acquired-melanosis of html diakses
pada tanggal 16 Desember 2012
12. Virasch V. Neoplastic disorder of the conjunctiva. 2006. Department of
ophthalmology. UK
13. Eyewiki org. Iris nevus. http:/www.online-eye0info.com/iris-nevus.html diakses pada
tanggal 16 Desember 2012
14. Eye cancer org. Iris melanoma. http:/www.eye cancer.com/patient/condition.asp?
nid=28category diakses pada tanggal 16 Desember 2012
15. Aventura
M,
Kaiser
KP.
Retinoblastoma
clinical
presentation.
http:/emedicin.medscape.com diakses pada tanggal 16 Desember 2012
16. Joan MO, Timothy M. What is retinoblastoma. http:/www.djo.harvard.edu/sitephp?
url=patient/pi/436
17.

American Joint Committee on Cancer. Cancers of the eyelid.


http://www.mdanderson.org/patient-and-cancer-information/cancerinformation/cancer-types/eye-cancer/eyelid-cancers.html diakses pada tanggal 20
Desember 2012

18. Eye
Cancer
org.
Squamous
Carcinoma
http://www.eyecancer.com/patient/Condition.aspx?

of

the

Eyelid.

14

nID=54&Category=Eyelid+Tumors&Condition=Squamous+Carcinoma+of+the+Eyel
id diakses pada tanggal 20 Desember 2012
19. Oculist org. Infantile capillary hemangioma.
http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v2/v2c037.html
diakses pada tanggal 20 Desember 2012

15