Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia


untuk
berinteraksi dengan sesamanya. Tanpa bahasa tidak diketahui
bagaimana manusia akan berhubungan satu sama lainnya. Bahasa
Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, seperti yang
tercantum dalam ikrar sumpah pemuda 1928 yang berbunyi Kami Putra
Putri Indonesia Menjunjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia.
Bahasa indonesia merupakan bahasa nasional indonesia. Bahasa
indonesia berasal dari bahasa melayu yang sampai saat ini masih kita
gunakan. Dalam bahasa Indoneia ada sub-sub yang akan dibahas
seperti:Kelas kata, Frasa, Klausa, dan Kalimat
1.2.
2.
3.
4.
5.
1.3.

Rumusan Masalah
Apa konsep dan contoh kelas kata?
Apa konsep dan contoh frasa?
Apa konsep dan contoh dari klausa?
Apa konsep dan contoh dari kalimat?
Maksud dan Tujuan
Maksud dan Tujuan kami dalam membuat makalah ini adalah agar

kita dapat mengetahui konsep-konsep serta contoh dari kelas kata,


frasa, klausa dan kalimat agar dapat memahami lebih lanjut mengenai
Bahasa Indonesia. Dalam bahasa banyak sekali kata ataupun kalimat
yang kita tidak ketahui. Jadi dengan kami membuat makalah ini kita
dapat melatih dalam memahami berbagai jenis kata dalam Bahasa
Indonesia.

BAB II
ISI
1.1

Kelas Kata

Kelas kata (jenis kata) adalah golongan kata dalam satuan bahasa
berdasarkan bentuk, fungsi, dan makna adalam sistem gramatikal.
Untuk menyusun kalimat yang baik dan benar, pemakai bahasa harus
mengenal jenis dan fungsi kata.
Fungsi kelas kata:
1. Melambangkan pikiran atau gagasan yang abstrak menjadi konkret
2. Membentuk bermacam-macam struktur kalimat
3. Memperjelas makna gagasan kalimat
4. Membentuk satuan makna sebuah frasa, klausa, atau kalimat
5. Membentuk gaya pengungkapan sehingga menghasilkan karangan
yang dapat dipahami dan dinikmati oleh orang lain
6. Mengungkapkan berbagai jenis ekspresi, antara lain: berita, perintah,
penjelasan, argumentasi, pidato, pidato, dan diskusi
7. Mengungkapkan berbagai sikap, misalnya: setuju, menolak, dan
menerima.
Secara umum kelas kata terdiri atas 5 macam, yakni:
1. Kata Kerja (Verba)
Kata kerja adalah kata kata yang menyatakan perbuatan atau
tindakan. Kata kerja biasanya berfungsi sebagai predikat. Suatu kata
dapat di golongkan ke dalam kelas kata kerja apabila memenuhi
persyaratan berikut.
a. Dapat diikuti oleh gabungan kata (frasa) dengan + kata sifat
Contoh:tidur(tidur dengan nyenyak)
b. Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang, dan telah
Contoh:(telah) pergi
c. Dapat diingkari dengan kata tidak
Contoh:(tidak) mandi
d. Berawalan me- dan berContoh:Melatih,Berdua
2. Kata Sifat (Adjektif)
2

Kata sifat adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau
keadaan sesuatu, misalnya keadaan orang, binatang, benda. Kata
sifat berfungsi sebagai pengikat.
Suatu kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata sifat apabila
memenuhi persyaratan berikut.

a. Dapat diawali dengan kata sangat, paling dan diakhiri dengan


kata sekali
Contoh:

Indah (indah sekali/sangat indah)

Tinggi (tinggi sekali/ sangat tinggi)

Baik (baik sekali/ sangat baik)

b. Dapat diberi awalan se- dan terContoh:

Luas (terluas/seluas)

Buruk (terburuk/seburuk)

c. Dapat diingkari dengankata tidak


Contoh:

Sulit (tidak sulit)

Mahal (tidak mahal)

3. Kata Keterangan (Adverbia)


Kata keterangan atau kata adverbial ialah kata yang member
keterangan pada verba, adjektiva, nomina, predikatif, atau kalimat.
Berikut adalah macam-macam adverbial.

Adverbia dasar bebas, misal: alangkah, agak, akan, amat, nian,


niscaya, tidak, paling, pula, pernah, saling, saja.

Adverbia turunan terbagi atas 3 bentuk.


3

o Adverbia reduplikasi, misal: agak-agak, lebih-lebih, lagi-lagi


o Adverbia gabungan, misal: belum pernah, belum boleh,
atau tidak bias
4. Kata Benda (Nomina), Kata Ganti (Pronomina), Kata Bilangan
(Numeralia)
a. Kata Benda
Kata benda adalah kata yang mengacu pada benda, orang, konsep
ataupun pengertian yang berfungsi sebagai objek dan subjek.
Suatu kata dapat digolongkan kedalam kelas kata benda apabila
memenuhi persyaratan berikut.
1. Dapat diikuti dengan frasa yang + sangat
Contoh:

Mobil (mobil yang sangat bagus)

Pemuda (pemuda yang sangat baik)

2. Berimbuhan pe-, -an, pe-/-an, per-/-an, ke-/-an


Contoh:

Kesehatan

Pertunjukan

Permainan

3. Dapat diingkari dengan bukan


Contoh:

Roti (bukan roti)

Dia (bukan dia)

b. Kata Ganti (Pronmina)


Ialah kata yang digunakan untuk mengacu pada nomina lain.
Pronomina berfungsi sebagai pengganti kata benda atau nomina.
Contoh:

Aku sudah mencoba mengajaknya


4

Saya sangat menginginkan kalian

c. Kata Bilangan (Numeralia)


Ialah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya orang, benda
atau binatang.
Contoh:
Saya mendapat peringkat pertama dikelas
5. Kata Tugas
Kata tugas dapat dirinci menjadi 4 (empat) jenis kata, yaitu 1. (kata
depan), 2. (kata sambung), 3. (kata sandang), 4. (kata seru).
a. Kata Depan (Preposisi)
Kata yang menghubungkan dua kata atau dua kalimat.
Contoh:Pada hari senin=menunjuk waktu
b. Kata Sambung (Konjungsi)
Kata yang menghubungkan dua satuan bahasa yang menderajat:
kata dengan kata, klausa dengan klausa, frasa dengan frasa.
Contoh:Budi meletkan bukunya, lalu ia membuka bukunya
c. Kata Sandang (Artikula)
Kata tugas yang membatasi makna nomina
Contoh:Si ganteng (ia bermakna netral)

d. Kata Seru (Interjeksi)


Yang dipakai untuk mengungkapkan seruan hati.
Contoh.Aduh, tanganku sakit sekali.
1.2.
FRASA
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat
nonpredikatif, misalnya: bayi sehat, pisang goreng,sangat enak, sudah
lama sekali, dan dewan perwakilan rakyat. Klausa adalah kelompok kata
yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan
berpontensi menjadi kalimat, mislanya: mereka bicara, dosen mengajar,
mereka bertanya, dan mereka tidak puas.
Frasa dapat dibeda-bedakan berdasarkan kelas katanya , yaitu: frasa
ferbal, frasa adjektival, frasa nominal, frasa pronomi-nal, frasa
adverbial, frasa numeralia, frasa koordinativa koordina-tif, frasa
demonstrativa koordinatif, dan frasa preposisional koordinatif.
Perhatikan contoh-contoh sebagai berikut:
1. Frasa Verbal
5

Frasa verbal adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata


kerja, terdiri atas 3 macam, yaitu:
a. Frasa verbal modifikatif (pewatas); terdiri atas
1) Pewatas belakang, misalnya:
Ia bekerja keras sepanjang hari.
Orang itu berjalan cepat setiap pagi.
Siswa itu menulis kembali pekerjaan rumahnya.
2) Pewatas depan, misalnya:
Mereka dapat mengajukan kredit di BRI.
Mereka akan mendengarkan lagu kebangsaan.
Kami pasti menyukai pekerjaan itu.
b. Frasa verbal koordinatif adalah dua verba yang disatukan dengan
kata penghubung dan atau atau.
Mereka menangis dan meratapi nasibnya.
Kita pergi atau menunggu ayah.
c. Farba verbal apositif yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan
atau diselipkan, misalnya:
Pulogadung, tempat tinggalnya dulu, kini menjadi terminal
modern.
Usaha Pak Ali, berdagang kain, kini menjadi grosir.
Mata pencaharian orang itu, bertani dan berternak, sekarang
telah maju.
2. Frasa Adjektval
Frasa adjektival adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata
sifat atau keadaan sebagai inti (diterangkan) dengan menambahkan
kata lain yang berfungsi menerangkan, seperti: agak,dapat, harus,
kurang, lebih, paling, dan sangat.
agak baik
harus baik
akan tenang
kurang pandai
amat pandai
lebih baik
belum baik
paling tinggi
dapat palsu
selalu rajin
Frasa adjektival mempunyai tiga jenis:
a. Frasa adjektival modifikatif (membatasi), misalnya: cantik sekali,
indah nian, hebat benar;
b. Frasa adjektival koordinatif (mengabungkan), misalnya: tegap
kekar, aman tentram,makmur dan sejahtera, aman sentausa;
c. Frasa adjektival apositif, misalnya:Srikandi cantik, ayu rupawan,
diperistri oleh Arjuna.
.
3. Frasa Nominal
Frasa nominal adalah kelompok kata benda yang dibentuk
dengan memperluas sebuah kata benda ke kiri dan ke kanan; ke kiri
menggolongkan, misalnya: dua buah buku, seorang teman,
6

beberapa butir telur, ke kanan sesudah kata (inti) berfungsi


mewatasi (membatasi), misalnya: buku dua buah, teman seorang,
telur beberapa butir.
a.
Frasa nominal modifikatif (mewarisi), misalnya: rumah mungil,
hari Minggu, buku dua buah, pemuda kampus, dan bulan
pertama.
b.
Frasa nominal koordinatif (tidak saling menerangkan), misalnya:
hak dan kewajiban, sandang oangan, dunia akhirat, lahir batin,
serta adil dan makmur.
c.
Frasa nominal apositif,misalnya;Anton, mahasiswa teladan itu, kini
menjadi dosen di universitasnya.
4. Frasa Adverbial
Frasa adverbial adalah kelompok kata yang dibentuk dengan
keterangan kata sifat. Frasa ini bersifat modifikatif (mewatasi),
misalnya: sangat baik, kata baik merupakan inti dan sangat
merupakan pewatas. Frasa adverbial yang termasuk jenis ini: agak
besra, kurang pandai, hampir baik, begitu kuat, pandai sekali, lebih
kuat, dengan bangga, dan dengan gelisah. Frasa adverbial yang
bersifat koordinatif (tidak saling menerangkan), misalnya: lebih
kurang, kata lebih tidak menerangkan kurang dan kurang tidak
menerangkan lebih.
5. Frasa Pronomial
Frasa Proniomial adalah frasa yang dibentuk dengan kata ganti.
Frasa ini terdiri atas tiga jenis:
a. modifikatif, misalnya: kami semua, kalian semua, anda semua,
mereka semua, mereka itu, mereka berdua, dan mereka itu.
b. koordinatif, misalnya: engkau dan aku, kami dan mereka, serta
saya dan dia,
c. positif,misalnya:Kami, bangsa Indonesia, menyatakan perang
melawan korupsi.
6. Frassa Numerialia
Frasa numeralia adalah kelompok kata yang dibentuk dengan
kata bilangan. Frasa jenis ini terdiri atas dua jenis, yaitu
a. Modifikasi
Mereka memotong dua puluh ekor sapi kurban.
Orang itu menyumbang pembangunan jalan kampung dua juta
rupiah.
b. Koordinaasi
Lima atau enam orang bertopeng melintasi kegelapan pada
gang itu.
Entah tiga, entah empat kali saya makan obat hari itu.

7. Frasa Interogativa Koordinatif


Frasa interogativa Koordinatif adalah frasa yang berintikan pada kata
tanya.
Jawaban apa atau siapa merupakan ciri subjek kalimat.
Jawaban mengapa atau bagaimana merupakan penanda
predikat.
8. Frasa Demonstrativa Koordinatif
Frasa ini dibntuk dengan dua kata yang tidak saling menerangkan.
Saya bekerja di sana atau sini sama saja.
Saya memakai baju ini atau itu tidak masalah.
9. Frasa Proposisional Koordinatif
Frasa ini dibentuk dengan kata depan dan tidak saling menerangkan.
Perjalanan kami dari dan ke Bandung memerlukan waktu enam
jam.
Koperasi dari, oleh dan untuk anggota.
1.3.

Klausa
Klausa adalah Satuan gramatikal yang berupa kelompok kata,
sekurang;kurangnya terdiri atas subjek dan predikat yang berpotensi
menjadi kalimat.
Klausa di bagi menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Klausa Kalimat Majemuk Setara
Klausa adalah kelompok kata yang berpotensi menjadi kalimat.
Dalam kalimat majemuk setara, setiap klausa mempunyai
kedudukan yang sama namun tidak saling menerangkan. Kalimat
majemuk setara dibangun dengan dua atau lebih klausa, misalnya:
Rima membaca Kompas, dan adiknya bermain catur.
2. Klausa Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang
berfungsi menerangkan klausa lainnya, misalnya:
Orang itu pindah ke Jakarta setelah suaminya bekerja di Bank
Indonesia.
3. Klausa Kalimat Majemuk Setara dan Kalimat Majemuk
Bertingkat
Gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga
klausa atau lebih, misalnya:
Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal dan ibunya
kawin lagi.

1.4.
Kalimat
1. Pengertian Kalimat
8

Kalimat adalah satuan bahasa yang merupakankesatuan pikiran.


Kalimat disusun berdasarkan unsur-unsur yang berupa kata, frasa,
dan/ atau klausa. Unsur-unsur tersebut mempunyai fungsi dan
pengertian tertentu yang disebut bagian kalimat. Ada bagian kalimat
yang tidak dapat dihilangkan, dan ada pula yang dapat dihilangkan.
Bagian kalimat yang dapat dihilangkan disebut inti kalimat,
sedangkan bagian yang dapat dihilangkan merupakan bukan inti
kalimat. Bagian inti dapat membentuk kalimat dasar, dan bagian
bukan inti dapat membentuk kalimat luas.
Contoh:
Menulis ilmiah itu mudah.
Kemudahan menulis dapat dirasakan oleh setiap orang yang
mempelajarinya secara serius.
Kemudahan menulis itu dapat dikelompokkan ke dalam tiga hal,
yaitu:
menentukan
ide,
mengorganisasikan
ide,
dan
mengekresikan ide tersebut dengan kalimat efektif sehingga
menjadi sebuah karangan yang utuh.
Paragraf tersebut terdiri atas tiga buah kalimat.
Kalimat (1) berupa kalimat dasar yang terdiri atas du bagian kalimat
inti.
Kalimat (2) berupa kalimat luas terdiri atas dua bagian inti dan satu
bagian bukan inti. Kalimat (3) berupa kalimat luas yang terdiri dari
dua bagian inti dan dua bagian bukan inti.
Ciri-ciri dari kalimat, yaitu:
a. Dalam bahasa lisan diawali dengan kesenyapan dan diakhiri
dengan kesenyapan. Dalam bahas tulis diawali dengan huruf
kapital dan diakhiri dengan titik, tanda seru, atau tanda tanya,
b.
Kalimat aktif sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan
predikat,
c. Predikat transitif disertai objek, predikat intransitif dapat disertai
pelengkap,
d. Mengandung pikiran yang utuh,
e. Menggunakan urutan logis, setiap kata-kata atau kelompok kata
yang mendukung fungsi(subjek, predikat, objek, dan keterangan)
disusun dalam satuan menurut fungsinya,
f. Mengandung satuan makna, ide,atau pesan yang jelas,
g. Dalam paragraf yang terdiri dua kalimat atau lebih, kalimatkalimat disusun dalam satuan makna pikiran yang saling
berhubungan, hubungan dijalin dengan konjungsi, pronomina atau
kata ganti, repetisi, atau struktur sejajar.
2. Unsur-unsur Kalimat
a. Subjek
9

Subjek atau pokok kalimat merupakan unsur utama kalimat.


Subjek menentukan kejelasan kalimat. Penempatan subjek yang
tidak tepat dapat menghamburkan makna kalimat. Subjek dapat
berupa kata dan dapat pula frasa. Keberadaan subjek dalam
kalimat berfungsi:
Membentuk kalimat dasar, kalimat luas, kalimat tunggal,
kalimat majemuk,
Memperjelas makna,
Menjadi pokok pikiran,
Menegaskan (memfokuskan) makna,
Memperjelas pikiran ungkapan, dan
Membentuk kesatuan pikiran.
Sedangkan ciri-ciri dari subjek, yaitu:
Jawaban apa atau sifat,
Didahului kata bahwa,
Berada kata atau frasa benda (nomina),
Disertai kata ini, atau itu,
Disertai pewatas yang,
Kata sifat didahului kata si atau sang,
Tidak didahului preposisi: di, dalam, pada, kepda, bagi, untuk,
dari, menurut, berdasarkan, dan lain-lain, dan
Tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat
dengan kata bukan.
Contoh:
Saya sudah mulai mengantuk.
Air sungai kecil itu terus menerus menggericik.
b. Predikat
Seperti halnya subjek, predikat kebanyakan muncul secara
eksplisit. Predikat dapat berupa kata dan dapat pula frasa.
Keberadaan predikat dalam kalimat berfungsi:
Membentuk kalimat dasar, kalimat tunggal, kalimat luas,
kalimat majemuk,
Menjadi unsur penjelas, yaitu memperjelas pikiran atau
gagasan yang diungkapkan dan menentukan kejelasan makna
kalimat,
Menegaskan makna,
Membentuk keastuan makna, dan
Sebagai sebutan.
Sedangkan ciri-ciri dari predikat yaitu:
Jawaban mengapa, bagaimana,
Dapat diinkarkan dengan tidak atau bukan,
10

Dapat didahului keterangan aspek: akan, sudah, sedang,


Dapat didahului keterangan modalitas: sebaiknya, seharusnya,
seyogyanya, mesti, selayaknya dan lain-lain
Tidak didahului dengan kata yang, jika didahului kata yang
predikat berubah fungsi menjadi perluasan subjek,
Didahului kata adalah, ialah, yaitu, yakni, dan
Predikat dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja, atau
bilangan.

Contoh :
Pengusaha itu menemukan peluang bisnis barunya
c. Objek
Subjek dan predikat cenderung muncul secara eksplisit dalam
kalimat, namun objek tidaklah demikian halnya. Kehadiran objek
dalam kalimat bergantung pada jenis predikat kalimat serta ciri
khas objek itu sendiri. Dalam kalimat objek berfungsi sebagai:
Membentuk kalimat dasar pada kalimat berpredikat transtif,
Memperjelas makna, dan
Membentuk kesatuan atau kelengkapan pikiran.
Ciri-ciri dari objek, yaitu:
Berupa kata benda,
Tidak didahului kata depan,
Mengikuti langsing di belakang predikat transitif,

Jawaban apa atau siapa yang terltak di belakang predikat


transitif, dan
Dapat menduduki fungsi subjek apabila kalimat itu dipasifkan.
Contoh:
Kalimat yang benar: Mahasiswa itu menerangkan kerangka
berfikirnya.
Kalimat yang salah: Mahasiswa itu menerangkan tentang
kerangka berfikirnya.
d. Pelengkap
Pelengkap adalah unsure kalimat yang berfungsi melengkapi
informasi,

mengkhususkan

objek,

dan

melengkapi

struktur

kalimat.
Ciri-ciri pelengkap:

Bukan unsur utama , tapi tanpa pelengl\kap kalimat itu tidak


jelas dan tidak lengkap informasinya.
11

Terletak di belakang predikat yang bukan kata kerja transitif,


misalnya:
a)

Melengkapi struktur:

Negara Republik Indonesia / berdasarkan / Pancasila.


S

Pel

Ia / menjadi / rektor.
S
b)

Pel

Mengkhususkan makna objek, misalnya:

Ibu /membawakan / saya / oleh-oleh.


S

Pel

e. Keterangan
Keterangan kalimat berfungsi menjelaskan atau melengkapi
informasi

pesan-pesan

kalimat.

Tanpa

keterangan,

informasi

menjadi tidak jelas. Hal ini dapat dirasakan kehadirannya terutama


dalam surat undangan, laporan penelitian, dan informasi yang
terkait dengan tempat, waktu, sebab. Dan lain-lain.
Ciri-ciri Keterangan

Bukan unsur utama kalimat, tetapi kalimat tanpa keterangan,


pesan menjadi tidak jelas, dan tidak lengkap, misalnya surat

undangan, tanpa keterangan tidak komunikatif,


Tempat tidak terikat posisi, pada awal, tengah, atau akhir

kalimat,
Dapat berupa: keterangan waktu, tujuan, tempat, senan,

akibat, syarat, cara, posesif, dan pengganti nomina.


Contoh penempatan keterangan:
Pada awal kalimat, Kemarin rector berangkat ke Tokyo.
Pada tengah kalimat,Rektor kemarin berangkat ke Tokyo.
Pada akhir kalimat,Rektor berangkat ke Tokyo kemarin.
Dapat berupa keterangan tambahan dapat berupa aposisi;
misalnya:

keterangan

menggantikan

tambahan

subjek,

subjek,

sedangkan

tidak

aposisi

dapat
dapat

menggaentukntikan subjek
12

Megawati, yang menjabat Presiden RI 2001-2004, adalah putra


Bung Karno. (keterangan tambahan)
Megawati, Presiden Ri 2001-2004, adalah putra Bung Karno.
(aposisi)
f. Konjungsi
Konjungsi

adalah

bagian

kalimat

yang

berfungsi

menghubungkan (merangkai) unsur-unsur kalimat dalam sebuah


kalimat

(yaitu

subjek,

predikat,

objek,

pelengkap,

dan

keterangan), sebuah kalimat dengan kalimat lain, dan (atau)


sebuah paragraph dengan paragraf yang lain.
Kunjungsi dibagi menjadi dua, yakni perangkai intrakalimat dan
perangkai

antarkalimat.

Pengkai

intrakalimat

berfungsi

menghubungkan unsur atau bagian kalimat dengan unsure atau


bagian kalimat yang lain di salam sebuah kalimat. Adapun
perangkai antarkalimat berfungsi menghubungkan kalimat atau
paragrafyang satu dengan kalimat atau paragraf yang lain.
Bagian perangkai antarkalimat ini sering juga disebut dengan
istilah kata transisi. Kata-kata transisi ini sangat membantu dalam
menghubungkan

gagasan

sebelum

dan

sesudahnya

baik

antarkalimat maupun antar paragraf.


Contoh bentuk perangkai yang sering ditemukan dalam
karangan antara lain: adalah, andaikata, apabila, atau, bahwa,
bilamana, daripada, di samping itu, sehingga, ialah, jika, kalau,
kemudian, melainkan, meskipun, misalnya, padahal, seandainya,
sedangkan, seolah-olah, supaya, umpamanya, bahkan, tetapi,
karena itu, oleh sebab itu, jadi, maka, lagipula, sebaliknya,
sementara itu, selanjutnya, dan tambah pula.
Contoh penggunaan konjungsi.

Presiden beserta rombongan segera meninjau lokasi bencana


alam

13

Di samping itu harus hati-hati mengahadapi orang itu, kamu


juga harus waspada terhadap kemungkinan serangan anak

buahnya.
Semua soal ujian dapat kukerjakan dengan baik. Dengan

demikian, harapan lulus semakin besar bagiku


g. Modalitas
Modalitas dalam sebuah kalimat sering disebut keterangan
predikat. Modalitas dapat mengubah keseluruhan makna sebuah
kalimat. Dengan modalitas tertentu makna kalimat dapat berubah
menjadi sebuah pernyataan yang tegas, ragu, lembut, pasti, dan
sebagainya. Contoh penggunaan modalitas.
Adik saya kemungkinan besar seorang politikus.
Fungsi modalitas dalam kalimat:

Mengubah nada: dari nada tegas menjadi ragu-ragu atau


sebaliknya, dari nada keras menjadi lembut atau sebaliknya.
Ungkpan yang dapat digunakan antara lain: barangkali, tentu,

mungkin, sering, sungguh


Ia sungguh beruntung mendapat pekerjaan itu.
Ia sering menyatakan syukurnya atas karunia itu.
Menyatakan sikap. Jika ingin mengungkapkan kalimat dengan
nada kepastian dapat digunakan ungkapan: pasti, pernah,
tentu, sering, jarang, kerapkali.

3. Struktur Kalimat
Kalimat

merupakan

sarana

komunikasi

untuk

menyampaikan pikiran atau gagasan kepada orang lain agar


dapat dipahami dengan mudah. Komunikasi berlangsung baik dan
benar jika menggunakan kalimat yang baik dan benar, yaitu
kalimat yang dapat mengekspresikan gagasan secara jelas dan
14

tidak menimbulkan keraguan pembaca atau pendengarnya. Untuk


itu, kalimat harus disusun berdasarkan struktur yang benar,
pengungkapan gagasan secara baik, singkat, cermat, tepat, jelas
maknanya, dan santun.
Contoh :
Dalam rapat menegaskan bahwa bisnis adalah usaha komersial
untuk mendapatkan uang, barang, dan pelanggan. (salah)
Kalimat ini salah karena induk kalimat berbentuk aktif tetapi
tanpa subjek, subjek kalimat tersebut didahului kata depan
dalam. Perbaikan dapat dilakukan dengan mengubah kalimat
tersebut menjadi bersubjek atau mengubah struktur kalimat
menjadi pasif.

Rapat menegaskan bahwa bisnis adalah usaha komersial untuk

mendapatkan uang, barang, dan pelanggan.


Dalam rapat ditegaskan bahwa bisnis adalah usaha komersial
untuk mendapatkan uang, barang, dan pelanggan.

a. Pola kalimat
Kalimat yang jumlah dan ragamnya begitu banyak, pada
hakikatnya disusun berdasarkan pola-pola tertentu yang amat
sedikit jumlahnya. Penguasaan pola kalimat akan memudahkan
pemakai bahasa dalam membuat kalimat yang benar secara
gramatikal. Selain itu, pola kalimat dapat menyederhanakan
kalimat sehingga mudah dipahami oleh orang lain.
Kemudahan itu dapat dirasakan oleh pemakai bahasa
dalam

mengekspresikan

ide-idenya

dan

dalam

memahami

informasi yang diungkapkan oleh orang lain sehingga dapat


memperkecil kesalahpahaman dalam berkomunikasi
b. Pola Kalimat Majemuk
Kalimat Majemuk Setara
15

Pola kalimat majemuk terdiri dari kalimat majemuk setara


dan bertingkat. Masing-masing mempunyai karakter berbeda.
Kalimat majemuk setara bersifat koordinatif, tidak saling
menerangkan. Kalimat majemuk setara ada 4 macam,yaitu:
-setara gabungan menggunakan kata gabungan dan, serta;
-tara pilihan menggunakan kata atau;
-setara urutan menggunakan kata lalu, lantas, dan kemudian;
dan
-setara perlawanan menggunakan tetapi.
Cermati perbedaan dan kesamaan kalimat majemuk setara
berikut ini.
Kalimat majemuk setara gabungan menggunakan: dan, serta
Dosen
menerangkan
kalimat
majemuk
dan
mahasiswa
mendengarkannya dengan cermat.
Dosen serta mahasiswa bekerja secara kreatif dan inovatif
Kalimat majemuk setara pilihan menggunakan atau
Anda pergi ke kampus atau menghadiri seminar?
Anda harus kuliah dengan nilai yang tinggi atau tidak usah kuliah.
Kalimat majemuk setara urutan menggunakan lalu, lantas,
kemudian,
Contoh:
Ia pulang lalu pergi menjemput anaknya
Kami menyelesaikan kuliah lantas bekerja
Kalimat majemuk setara perlawanan menggunakan tetapi,
melainkan,sedangkan
Mahasiswa itu mengharapkan nilai ujian yang tinggi, tetapi malas
belajar.
Ia bukan pandai melainkan rajin.
Orang itu giat bekerja, sedangkan adiknya malas.
Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat disusun berdasarkan jenis
anak kalimatnya.
Kalimat majemuk bertingkat ada 8 macam, dibedakan berdasrkan
jenis anak kalimat (AK).
AK keterangan waktu menggunakan kata ketika, waktu, saat,
setelah, sebelum;
Mereka segera mencari peluang kerja setelah menyelesaikan
studinya.
Waktu diangkat menjadi pejabat, ia belum menunjukan
kewibawaannya.
AK keterangan sebab menggunakan kata sebab, lantaran,
karena

16

Lalu lintas macet karena karyawan di sekitar jalan itu pulang


bersamaan.
Orang itu meninggal karena serangan jantung.
AK keterangan hasil (akibat) menggunakan kata hingga,
sehingga, akhirnya;
Tsunami itu dating tiba-tiba akibatnya puluhan ribu penduduk
tewas.
Pengusaha itu bekerja keras sehingga berhasil mendapatkan
untung besar.
AK keterangan syarat menggunakan kata jika, apabila, kalau,
andaikata;
Andaikata engkau memenangkan lomba itu, bagaimana
perasaanmu?
Saya akan santuni orang miskin apabila mendapatkan uang
sebanyak itu.
AK keterangan tujuan menggunakan kata agar, supaya, demi,
untuk, guna;
Agar rakyat makmur, kita harus memberikan penyuluhan kerja
yang kreatif
Kita harus bekerja keras demi masa depan yang gemilang
AK keterangan cara menggunakan kata dengan, dalam;
contoh:
Dosen itu menerangkan masalah dengan pendekatan ilmiah.
Dalam menghadapi kesulitan tersebut ia menerima dengan
kesabarab.

AK keterangan posesif menggunakan kata meskipun,


walaupun, biarpun;
Biarpun baru pukul setengah enam, saya sudah berangkat ke
kantor.
Saya akan berupaya meningkatkan kualitas kerja meskipun sulit
di wujudkan.
AK keterangan pengganti nomina menggunakan kata bahwa;
contoh:
Bahwa ia menjadi presiden sudah mereka maklumi.
Presiden menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus menegakan
hokum.

Kalimat Majemuk Gabungan Setara dan Bertingkat


Bangsa Indonesia bekerja keras mengejar ketinggalan
ekonomi setelah krisis politik berkepanjangan dan krisis
keamanan mulai membaik.

17

Kinerja bisnis mulai membaik dan perkembangan ekonomi


mulai stabil setelah berhasil menlangsungkan pemilu secara
demokratis

4. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang singkat, padat, jelas, lengkap,
dan dapat menyampaikan informasi secara tepat. Kalimat dikatakan
singkat karena hanya menggunakan unsure yang yang diperlukan
saja. Setiap unsur kalimat benar-benar berfungsi. Sedangkan sifat
padat menggunakan makna sarat dengan informasi yang terkandung
di dalamnya. Dengan sifat ini tidak terjadi pengulangan-pengulangan
pengungkapan. Sifat jelas di tandai dengan kejelasan struktur kalimat
dan makna yang terkandung didalamnya. Sifat lengkapmengandung
makna kelengkapan struktur kalimat secara gramatikal, dan
kelengkapan konsep atau gagasan yang terkandung dalam tersebut.
Kalimat efektif dapat mengomunikasikan pikiran atau perasaan
penulis atau pembicara kepada pembaca atau pendengar secara
tepat. Dengan kalimat efektif, komunikasi penulis dan pembaca atau
pembicara dan pendengar tidak akan menghadapi keraguan, salah
komunikasi, salah informasi, atau salah pengertian.
Ciri-ciri kalimat efektif:
Keutuhan, kesatuan, kelogisan, atau kesepadanan makna dan
struktur,
Kesejajaran bentuk kata, dan (atau) struktur kalimat secara
gramatikal,
Kefokusan pikiran sehingga mudah di pahami,
Keematan penggunaan unsure kalimat,
Kecermatan dan kesantunan, dan
Kevariasian kata, dan struktur sehingga menghasilkan
kesegaran bahasa.
a. Keutuhan
Kesatuan kalimat ditandai adanya kesepadanan struktur dan
makna kalimat. Kalimat secara gramatikal mungkin benar, tetapi
maknanya salah.
Misalnya:
Saya saling memaafkan. (salah)
Kami saling memaafkan. (benar)
b. Kesejajaran
Kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan
secara konsisten, misalnya: kesatuan, kemakmuran, kedamaian,
kesejahteraan; pertanian, perikanan, perkebunan, perdamaian;
mengerjakan, membawakan, menertawakan.
Misalnya:

18

Polisi segera menangkap pencuri itu karena sudah diketahui


sebelumnya.(salah)
Seharusnya:
Polisi segera menangkap pencuri itu karena sudah mengetahui
sebelumnya.(benar)
c. Kefokusan
Kalimat efektif harus memfokuskan pesan terpenting agar
mudah dipahami maksudnya. Jika tidak, makna kalimat akan sulit di
tangkap dan menghambat komunikasi.
Sulit ditingkatkan kualitas dan kuantitas produk holtikultura ini.
(tidak efektif)
Produk holtikultura ini sulit ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya.
(efektif)
Pandai bergaul, pandai berbicara, dan pandai membujuk orang
adalah modalutama pemasaran produk, (tidak efektif)
Pandai bergaul, berbicara, dan membujuk orang adalah modal
utama pemasaran produk. (efektif)
d. Kehematan
Untuk menjamin kehematan kalimat, setiapn unsur kalimat
harus berfungsi dengan baik, unsur yang tidak mendukung makna
kalimat harus dihindarkan.untuk itu hindarkanlah:
Subjek ganda, misalnya: Buku itu saya sudah baca. Seharusnya
Saya sudah membaca buku itu.
Penjamakan kata yang sudah berbentuk jamak, misalnya:
data (jamak)
- data-data (jamak)
fakta (jamak)
- fakta-fakta (jamak)
mengambili buku-buku
- mengambili buku atau engambil
buku-buku
mengambili (jamak), buku-buku
(jamak)
Menggunakan bentuk singkat
Kalimat singkat bukan berarti kalimat itu harus pendekpendek. Akan tetapi, kalimat itu harus menggunakan unsur
kalimat yang benar-benar berfungsi dan menghilangkan kata
atau ungkapan yangtidak mendukung makna.
Pimpinan memberikan peringatan kepada karyawan agar rajin
bekerja. (benar tetapi tidak singkat)
Pimpinan memperingatkan karyawan agar rajin bekerja. ( benar
dan singkat)
Meskipun benar, kalimat ini dapat diubah lebih singkat dengan
mengubah memberikan peringatan menjadi memperingatkan.
Perhatikan kata-kata berikut ini:
Memberikan teguran menegur
19

Mengambil tindakan menindak


Memberikan peringatan memperingatkan
Menggunakan kata aktif bertenaga:
Ia berdiri lalu pergi.(aktif tetapi kurang betenaga)
Ia bangkit lalu pergi (aktif dan bertenaga)
Mereka memperhatikan penjahat itu. (aktif tetapi
bertenaga)
Mereka mengamati penjahat itu. (aktif dan bertenaga)

kurang

e. Kecermatan dan Kesantunan


Kecermatan dan kesantunan terkait dengan ketepatan memilih
kata sehingga menghasilkan komunikasi baik, tepat, tanpa
gangguan emosional pembaca atau pendengar. Kalimat dikatakan
baik jika pesan yang disampaikan dapat diterima orang lain.
Sedangkan santun mengandung makna halus dan baik, dan sopan.

Kecermatan
Kecermatan kata dalam kalimat ditentukan ketepatan pilihan kata.
Pilihan bukan karena enak didengar atau merdu jika diucapkan
melainkan daya ekspresinya yang eksak (pasti). Banyak kata dalam
bahasa kita yang hamper sama maknanya. Bahkan, seringkali
dianggap sebagai kata bersinonim. Akan tetapi, hanya satu yang
paling tepat mengungkapkan maksud secara cermat.
Misalnya:
Karena sudah diketahui sebelumnya, mahasiswa itu bisa menjawab
tes dengan mudah. (salah)
Karena sudah mengetahui sebelumnya, mahasiswa itu bisa
menjawab tes dengan mudah. (benar)

Kesantunan
Kesantunan kalimat mengandung makna bahwa gagasan yang
dikspresikan dapat mengembangkan suasana yang baik, hubungan
yang harmonis, dan keakraban. Kalimat yang baik dan santun
ditandai sifat-sifat: singkat, jelas, lugas, dan tidak berbelit-belit.
Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini:
Sebagaimana telah ditetapkan, pekerjaan itu biasanya dikerjakan
dua kali seminggu. (salah)
Aspek lain yang perlu dipertimbangkan ialah segi hubungan
masyarakat. (salah)
Sebagaimana telah ditetapkan, pekerjaan itu biasanya dilakukan
dua kali seminggu. (benar)
Telah ditetapkan bahwa pekerjaan itu dilakukan dua kali seminggu.
(benar)

20

Kata biasanya pada kalimat (1) tidak perlu karena makna


kata itu sudah tersirat dalam ungkapan sebagaimana telah
ditetapkan. Tanpa kata itu, makna kalimat sudah cukup jelas.
Jadi,penggunaan kata itu mubazir. Penggunaan kata segi pada
kalimat (2) juga berlebihan karena makna itu sudah dinyatakan
dalam kata aspek. Tanpa kata itu, makna kalimat (2) cukup jelas.
f. Kevariasan
Kevariasian kalimat dapat dilakukan dengan variasi struktur,
diksi, dan gaya asalkan variasi tersebut tidak menimbulkan
perubahan makna kalimat yang dapat menimbulkan salah
pemahaman atau salah komunikasi.
Kalimat berimbang (dalam kalimat majemuk setara)
Kedua orang tuanya bekerja di perusahaan, dan ketiga anak
mereka belajar di sekolah.
Kalimat melepas yaitu melepas (mengubah) fungsi klausa
keduadari klausa koordinat dengan klausa utama (pertama)
menjadiklausa sematan, dalam kalimat berikut ini menjadi anak
kalimat keterangan waktu.
Kedua orang tuanya bekerja di perusahaan ketika ketiga anak
mereka belajar di sekolah.
Kalimat berklimaks yaitu menempatkan klausa sematan (anak
kalimat) pada posisi awal dan klausa utama dibagian akhir.
Ketika ketiga anak itu belajar di sekolah, kedua orang tua
mereka bekerja di perusahaan.

g. Ketepatan Diksi
Kecermatan diksi memasalahkan ketepatan kata.setiap kata
harus mengungkapkan pikiran secara tepat. Untuk itu, penulis harus
membedakan kata yang hamper bersinonim, struktur idiomatik,
kata yang berlawanan makna, ketepatan dankesesuaian, dan
sebagainya.
h. Ketepatan Ejaan
Kecermatan menggunakan ejaan dan tanda baca dapat
enentukan kualitas penyajian data.sebaliknya, kesalahan ejaan
daapat menimbulkan kesalahan komunikasi yang fatal,misalnya: Ia
membayar dua puluh lima ribuan.
(maskudnya: dua-puluh-lima ribuan = 25 X Rp 1.000,00 atau duapuluh lima-ribuan = seratus ribu = 20 X Rp 5.000,00).
Penggunaan tanda baca, bandingkan maknanya:
Paman kami belum menikah.
21

Paman, kami belum menikah.


Paman kami, belum menikah
Paman, kami, belum menikah.
5. Kesalahan Kalimat
Karangan ilmiah, laporan kerja, surat lamaran atau jenis komunikasi
lain, seluruhnya harus menggunakan kalimat yang baik dan benar.
Baik memungkinkan karangan itu diterima oleh siapapun dan benar
artinya sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kesalahan kalimat
dapat berakibat fatal, salah pengertian, salah tindakan, dan
sebagainya.
a.Kesalahan Struktur
kalimat aktif tanpa subjek
1. Menurut ahli hukum menyatakan bahwa ekonomi Indonesia
segera bangkit jika hukum ditegakkan. (salah)
Kalimat tersebut salah karena menempatkan kata depan menurut
di depan subjek. Dengan kata tersebut subjek berubah fungsi
menjadi keterangan. Perbaikkan dilakukkan dengan cara
menghilangkan kata menurut.
(1a) Ahli hukum menyatakan bahwa ekonomi Indonesia segera
bangkit jika hukum ditegakkan. (benar)
Menempatkan kata depan di depan subjek, dengan kata depan ini
subjek berubah fungsi menjadi keterangan, misalhnya:
2. Di Jakarta memiliki pusat perdagangan terbesar di Asean.
(salah)
Perbaikkan dapat dilakukkan dengan menghilangkan kata depan
di atau mengubah struktur kalimat aktif menjadi pasif.
(2a) Jakarta memiliki pusat perdagangan terbesar di Asean.
(benar)
(2b) Di Jakarta terdapat pusat perdagangan terbesar di Asean.
(benar)
Tanpa unsure predikat, menempatkan kata yang di depan predikat,
dengan kata ini berubah fungsi menjadi perluasan objek, misalnya:
Petani yang bekerja di sawah. (salah)
Petani bekerja disawah. (benar)
Menempatkan kata depan di depan obje, seharusnya kata kerja
transitif langsung diikuti objek dan tidak disisipi kata depan,
misalnya:
Mereka mendiskusikan tentang keselamatna kerja. (salah)
Mereka mendiskusikan keselamatan kerja. (benar)

Menempatkan kata penghubung intra kalimat pada awal kalimat,


misalnya:
Ia pandai. Sehingga selalu mendapat beasiswa. (benar)
Ia pandai sehingga selalu mendapat beasiswa. (salah)
22

Berupa anak kalimat atau klausa, atau penggabungan kalimat


Meskipun sudah kaya raya, tetapi ia tetap bekerja keras.
(salah)
Meskipun sudah kaya raya, ia tetap bekerja keras. (benar)
Salah urutan
Buku itu saya sudah baca. (salah)
Saya sudah membaca buku itu. (benar)
Ia menulis laporan, mengamati data, dan menyerahkan
laporan itu. (salah)
Ia mengamati data, menulis laporan, dan menyerahkan
laporan itu. (benar)
b.Kesalahan Diksi
Diksi kalimat salah jika:
-Menggunakan dua kata bersinonim dalam satu frasa: agar
supaya, adalah merupakan, baik untuk, demi untuk, naik ke atas,
turun ke bawah, dan lain-lain,
Ia selalu bekerja keras agar selalu mampu membiayai ketiga
anaknya yang kuliah di perguruan tinggi. (salah)
Ia selalu bekerja keras agar mampu membiayai ketiga anaknya
yang kuliah di perguruan tinggi. (benar)
Ia selalu bekerja keras supaya mampu membiayai ketiga
anaknya yang kuliah di perguruan tinggi. (benar)
-Menggunakan kata tanya yang tidak menanyakan sesuatu: di
mana, yang mana, bagaimana, mengapa, dan lain-lain.
Kampung di mana kami bertempat tinggal sepuluh tahun yang
lalu, kini telah menjadi kota. (salah)
Kampung tempat kami bertempat tinggal sepuluh tahun yang
lalu, kini telah menjadi kota. (benar)
-Menggunakan kata berpasangan yang tidak sepadan: tidak
hanya tetapi seharusnya tidak tetapi atau tidak hanya tetapi
juga, bukan hanya tetapi juga seharusnya bukan hanya
melainkan juga
Ia tidak hanya pandai melainkan juga rajin. (salah)
Ia bukan hanya pandai melainkan juga rajin. (benar)
Ia tidak hanya pandai tetapi juga rajin. (benar)
-Menggunakan kata berpasangan yang tidak idiomatik yang tidak
bersesuaian. Misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan,
membicarakan tentang seharusnya berbicara tentang atau
membicarakan sesuatu.
Pekerjaan itu sesuai bagi minat orang tersebut. (salah)
Pekerjaan itu sesuai dengan minat orang tersebut. (benar)

Diksi atau kalimat kurang baik. (kurang santun)


23

-Menonjolkan akunya dalam suasana formal, misalnya: aku dan


saya.
-Pilihan kata yang mengekspresikan data secara subjektif,
misalnya: menurut pendapatsaya, sebaiknya menggunakkan
data menunjukkan bahwa,penelitian membuktikan bahwa,
pengalaman membuktikan bahwa
-Menggunakan kata yang tidak jelas maknanya
-Diksi tidak sesuai dengan situasi yang dihadapi
-Penolakan dan pembuktian tnapa makna kata yang pasti (eksak).

c.Kesalahan Ejaan
Kesalahan ejaan berpengaruh terhadap kalimat efektif,
bukan hanya memperkecil kualitas kalimat melainkan juga dapat
mengakibatkan kesalahan kalimat. Oleh karena itu, penggunaan
ejaan perlu diperhatikan dalam keseluruhan penulisan.
Jenis kesalahan ejaan:
-Penggunaan huruf kapital, huruf kecil, huruf miring, huruf tebal,
-Pemenggalan kata,
-Penulisan kata baku,
-Penulisan unsure serapan,
-Penulisan kata asing tidak dicetak miring,
-Penggunaan kata baca: titik, koma, tanda petik, titik dua, titik
koma, tanda petik satu (), tanda penyingkatan (), dan lainlain,
-Penulisan kalimat atau paragraph: induk kalimat dan anak
kalimat, kutipan langsung, kutipan tidak langsung.
-Penulisan keterangan tambahan, penulisan aposisi,
-Penulisan judul buku, judul makalah, skripsi, disertasi, tesis,
surat kabar, majalah, jurnal,
-Penulisan judul bab, subbab, bagian, subbagian,
-Penulisan: daftar pustaka dalam teks, catatan kaki, bibliografi

24

25