Anda di halaman 1dari 24

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Ileus obstruktif merupakan penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi

karena adanya daya mekanik yang bekerja atau mempengaruhi dinding usus
sehingga menyebabkan penyempitan/penyumbatan lumen usus (Nobie, 2015).
Ileus obstruktif merupakan kegawatan di bidang bedah digestive yang sering
dilaporkan. Gangguan saluran cerna ini menduduki 20% dari seluruh kasus nyeri
akut abdomen yang tidak tergolong appendisitis akut. Sekitar 60% penyebab
obstruksi ileus disebabkan oleh adhesi yang terjadi pasca operasi regio abdominal
dan operasi di bidang obstetri ginekologik. Isidensi dari ileus obstruksi pada tahun
2011 diketahui mencapai 16% dari populasi dunia yang diketahui melalui studi
besar pada banyak populasi (Cagir, 2015).
Gangguan yang terjadi pada ileus obstruktif bisa meliputi sumbatan
sebagian (partial) atau keseluruhan (complete) dari lumen usus,

sehingga

mengakibatkan isi usus tak dapat melewati lumen itu sendiri. Hal ini dapat
disebabkan oleh berbagai macam kondisi, paling sering dikarenakan oleh adhesi,
hernia, bahkan tumor (Beauchamp et al, 2001).
Ileus obstruktif tidak hanya dapat menghasilkan perasaan yang tidak
nyaman, seperti : keram perut, nyeri perut, kembung, mual, dan muntah, bila tidak
diobati dengan benar,

ileus obstruktif dapat menyebabkan sumbatan dan

menyebabkan kematian jaringan usus. Kematian jaringan ini dapat ditunjukkan


dengan perforasi usus, infeksi ringan, hingga kondisi shock (Beauchamp et al,
2001).
Adhesi merupakan suatu jaringan parut yang sering menyebabkan organ
dalam atau jaringan tetap melekat setelah pembedahan. Adhesi dapat membelit
dan menarik organ dari tempatnya dan merupakan penyebab utama dari obstruksi
usus, infertilitas (bidang ginekologik), dan nyeri kronis pelvis (Beauchamp et al,
2001).

1.2.

Tujuan
Makalah ini disusun dengan harapan, setiap pembaca khususnya kalangan

medis, lebih mengetahuai tentang fraktur mandibula

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Definisi
Ileus obstruktif merupakan penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi

karena adanya daya mekanik yang bekerja atau mempengaruhi dinding usus
sehingga menyebabkan penyempitan/penyumbatan lumen usus. Hal tersebut
menyebabkan pasase lumen usus terganggu (Nobie, 2015).
2.2.

Etiologi
Ileus obstruktif sering dijumpai dan merupakan penyebab terbesar

pembedahan pada akut abdomen. Hal ini terjadi ketika udara dan hasil sekresi tak
dapat melewati lumen intestinal karena adanya sumbatan yang menghalangi.
Obstruksi mekanik dari lumen intestinal biasanya disebabkan oleh tiga
mekanisme ; 1. blokade intralumen (obturasi), 2. intramural atau lesi intrinsik dari
dinding usus, dan 3. kompresi lumen atau konstriksi akibat lesi ekstrinsik dari
intestinal. Berbagai kondisi yang menyebabkan terjadinya obstruksi intestinal
biasanya terjadi melalui satu mekanisme utama.
Tabel 2.1. : Beberapa Penyebab Obstruksi Mekanik dari Intestinal (Whang et al.,
2005) (Thompson, 2005)
Obturasi Intraluminal
Lesi Ekstrinsik
Lesi Intrinsik
Benda Asing
Adhesi
Kongenital
Benda Asing
- Iatrogenik
- Atresia, stenosis,
Hernia
dan webs
- Tertelan
- Eksternal
- Divertikulum
- Batu Empedu
- Internal
Meckel
- Cacing
Intususepsi
Massa
Inflamasi
Pengaruh Cairan
- Anomali
organ
- Divertikulitis
- Barium
atau
pembuluh
- Drug-induced
- Feses
darah
- Infeksi
- Meconium
- Coli ulcer

Organomegali

Akumulasi Cairan

- Neoplasma
Post Operatif
Volvulus

Neoplasma
-

Tumor Jinak

Karsinoma

Karsinoid

Limpoma

- Sarcoma
Trauma
-

Intramural
Hematom

2.3.

Patofisiologi
Obstruksi lumen menyebabkan perubahan besar dari fisiologi usus normal.

Patofisiologi obstruksi usus masih belum dimengerti sepenuhnya. Distensi usus,


berkurangnya absorpsi, hipersekresi intralumen, dan perubahan motilitas
merupakan gejala yang dijumpai secara universal, meskipun mekanisme yang
bertanggungjawab terhadap patofisiologi ini belum jelas. Mekanisme pengaturan
saraf dan hormon, flora bakteri endogen, dan imunitas alami usus juga terganggu
(Zinner dan Ashley, 2007).
Literatur

lama

menyatakan

patofisiologi

obstrusksi

usus

karena

berkurangnya aliran darah. Sedangkan penelitian baru-baru ini menyatakan bahwa


justru perubahan patofisiologi yang terjadi berhubungan dengan meningkatnya
aliran darah pada fase awal obstruksi usus yang berhubungan dengan reaksi
inflamasi intramural. Memang, bukti kuat menyatakan bahwa reaksi inflamasi
memainkan peran kunci dalam patofisiologi respon usus terhadap obstruksi. Data
terbaru menunjukkan bahwa mukosa memprodusi reactive oxygen species (ROS),
mediator penting yang diduga menyebabkan beberapa perubahan penting pada
obstruksi tertelan. Gas intralumen terdiri dari sekitar 75% nitrogen, gas lain
berasal dari fermentasi gula, produksi karbon dioksida yang berasal dari interaksi
asam lambung dan bikarbonat-dari sekresi pancreas dan bilier, dan difusi oksigen
dan karbon dioksida dari darah. Dilatasi dan inflamasi dinding usus dapat
menyebabkan neutrofil dan makrofag yang teraktivasi berakumulasi dalam lapisan

muscular dinding usus, menghambat atau menyebabkan kerusakan terhadap


proses sekretorik dan motorik dengan melepaskan enzim proteolitik reaktif,
sitokin, dan substansi aktif lokal lainnya. Respon inflamasi ini menyebabkan
peningkatan pelepasan lokal nitric oxide, yang merupakan penghambat poten
tonus otot polos, menyebabkan dilatasi usus, dan menghambat aktivitas kontraksi.
Data penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara distensi dan produksi
intramural metabolit oksigen reaktif yang tidak hanya mengganggu motilitas
tetapi juga permeabilitas usus (Zinner dan Ashley, 2007).
Selama 12 jam pertama obstruksi usus halus, air dan elektrolit
berakumulasi dalam lumen dikarenakan penurunan absorpsi. Dua puluh empat
jam kemudian, air dan elektrolit intralumen berakumulasi lebih cepat dikarenakan
penuruan lebih lanjut flux absorpsi seiring dengan peningkatan sekresi usus (flux
secretory) dikarenakan injuri mukosa dan terjadi peningkatan permeabilitas,
kebocoran intralumen plasma, elektrolit dan cairan ekstraselular (Zinner dan
Ashley, 2007).
Toksin bakteri intralumen, asam empedu, prostaglandin, polipeptida usus
vasoaktif, dan radikal bebas oksigen yang berasal dari mukosa, berakumulasi dan
semuanya mengeksaserbasi sekresi cairan ke dalam lumen usus yang mengalami
obstruksi. Penurunan kapasitas absorpsi dan peningkatan sekresi menyebabkan
kehilangan cairan bermakna yang dapat menyebabkan dehidrasi jika tidak dikenali
dan ditangani. Meskipun dinding usus distal terhadap obstruksi memiliki fungsi
yang normal, ketidakmampuan konten lumen untuk mencapai usus yang tidak
mengalami obstruksi merupakan komponen penting yang menyebabkan dehidrasi
(Zinner dan Ashley, 2007).

2.3.1. Motilitas Usus


Pada fase awal obstruksi usus, aktivitas kontraksi usus meningkat sebagai
usaha untuk mendorong isi lumen melewati obstruksi (Tavakkoli, Ashley, dan
Zinner, 2015). Jika obstruksi tidak teratasi, usus menjadi berdilatasi menyebabkan

pengurangan dalam kekuatan peristaltic, yang akhirnya berujung pada flaksiditas


dan paralisis. Hal ini meruapakan fenomena protektif untuk mencegah kerusakan
vascular akibat peningkatan tekanan intralumen (Williams, Bulstrode, dan
Oconnell, 2008).
Aktivitas kontraksi yang kemudian menurun juga dihubungkan dengan
hipoksia dinding usus dan inflamasi intramural, akan tetapi mekanisme pasti
belum dimengerti penuh. Beberapa peneliti menduga perubahan motilitas usus
disebabkan gangguan persarafan splanknik parasimpatis (vagal) dan simpatis
(Zinner dan Ashley, 2007).
2.3.2. Perubahan Sirkulasi
Iskemia dinding usus dapat terjadi dengan beberapa mekanisme berbeda.
Kompresi ekstrinsik mesenteric oleh karena adhesi, fibrosis, massa, atau defek
hernia; terpuntir aksial dari mesenteri, tekananan serosa kronik pada segmen
dinding usus (contoh: pita fibrosa); atau distensi progresif pada obstruksi usus
closed-loop dapat menyebabkan gangguan vascular atau strangulasi (Zinner dan
Ashley, 2007).
Distensi progresif lumen usus bersama-sama dengan peningkatan tekanan
intralumen menyebabkan peningkatan tekanan transmural pada aliran darah
kapiler dinding usus. Pada obstruksi sederhana (non-closed-loop), hal ini jarang
terjadi karena usus yang obstruksi dapat dekompresi ke arah proksimal.
Sebaliknya, kemungkinan iskemia dinding usus sangat menjadi perhatian pada
obstruksi usus besar, ketika katup ileosekal kompeten dan kolon yang distensi
tidak dapat dekompresi retrograde ke usus halus. Hal ini menyebabkan obstruksi
usus besar lebih emergensi dibanding obstruksi usus halus. Iskemia usus ini
menyebabkan gangguan lebih lanjut obstruksi usus dengan peningkatan sekresi,
peningkatan permeabilitas mukosa yang tidak teregulasi, dan produksi intramural
ROS dengan mengaktivasi leukosit, menyebabkan peroksidasi komponen lemak
membrane sel, pelepasan sitokin dan mediator inflamasi lainnya, dan toksisitas
sistemik. Dengan strangulasi dapat terjadi kehilangan darah dari usus yang
mengalami infark, bersama-sama dengan kehilangan cairan menyebabkan

ketidakstabilan hemodinamik lebih lanjut, yang mengeksaserbasi aliran darah


yang sudah terganggu (Zinner dan Ashley, 2007).
2.3.3. Mikrobiologi dan Translokasi Bakteri
Di usus halus banyak terdapat flora resident dan transient yang terdiri
terutama dari organisme fakultatif gram positif dalam jumlah kecil, biasanya <10 6
koloni/mL. Lebih distal, jumlah bakteri meningkat sekitar 108 koloni/mL di ileum
distal dan flora berubah menjadi organism coliform dan anaerob. Akan tetapi,
dengan adanya obstruksi, proliferasi cepat bakteri terjadi pada titik proksimal
obstruksi, yang terutama terdiri dari organism tipe feses. Flora feses berproliferasi
setara dengan lamanya obstruksi, mencapai puncak 1091010 koloni/mL setelah
12-48 jam mengalami obstruksi. Dengan obstruksi, flora lumen dari usus halus
yang biasanya steril berubah, dan beragam organism dapat dikultur dari isinya
(Schwartz). Usus yang distal terhadap obstruksi cenderung menjaga flora
bakterialnya yang biasa, sampai terjadi ileus generalized yang menyebabkan usus
ikut memproliferasi bakteri. Toksin bakteri memiliki peran yang penting dalam
respon mukosa terhadap obstruksi usus (Zinner dan Ashley, 2007).
Pada obstruksi usus persisten, penelitian pada hewan pengerat menujukkan
bahwa translokasi bakteri dapat terjadi sekunder terhadap gangguan fungsi sawar
mukosa usus. Gangguan sawar mukosa mulai terjadi 4 jam setelah onset obstruksi
usus. Reticulum endoplasma berdilatasi 4 jam setelah obstruksi usus. Edema
mitokondria, nekrosis epitel fokal, pembengkakan intraseluler, dan lesi
degeneratif pada nukleus sel epitel (apoptosis) terjadi 6-12 jam setelah obstruksi
usus. Reduksi perfusi dinding usus mengganggu pertahanan mukosa. Ketika
integritas mekanik mukosa hilang, bakteri lumen menginvasi submukosa dan
memasuki sirkulasi sistemik melalui vena porta dan system limpatik. Beberapa
substansi bakteri dapat ditemukan di cairan peritoneal dan kanal limpatik, bahkan
jika tidak terjadi perforasi. Pada hewan pengerat, bakteri dapat dikultur dari
spleen, liver, dan KGB mesenteric, menunjukkan peningkatan translokasi bakteri
(Zinner dan Ashley, 2007).

2.4.

Diagnosis

1. Anamnesis
Pasien dengan dugaan mengalami ileus obstrutif harus digali informasi
mengenai riwayat neoplasia intraabdomen (terutama keganasan kolon dan
ovarium), hernia atau perbaikan hernia, dan inflammatory bowel disease, karena
kondisi-kondisi ini meningkatkan risiko obstruksi (Jackson and Raiji, 2011).
a.

Obstruksi Usus Halus


Pasien dengan obstruksi di usus halus biasanya datang dengan keluhan nyeri

perut, dengan sifat kram dan intermiten. Sering, gambaran gejala memberikan
petunjuk mengenai perkiraan lokasi dan asal obstruksi. Biasanya, nyeri yang
berlangsung singkat dan bersifat kolik disertai muntah bilier kemungkinan letak
obstruksi proksimal. Sedangkan, nyeri yang berlangsung beberapa hari, progresif,
dan disertai distensi abdomen menunjukkan tipikal obstruksi letak rendah.
Perubahan karakter nyeri menunjukkan proses komplikasi yang serius (misalnya
nyeri konstan pada usus yang strangulasi atau iskemik) (Nobie, 2014).
Pasien juga mengeluhkan gejala-gejala berupa mual, muntah (berhubungan
dengan obstruksi proksimal), diare (temuan awal), konstipasi (temuan lambat,
dengan bukti tidak adanya flatus atau pergerakan usus), demam dan takikardi
(temuan lambat, berhubungan dengan strangulasi) (Nobie, 2014)..
b.

Obstruksi Usus Besar


Dapatkan infromasi mengenai riwayat pergerakan usus, flatus, obstipasi

(misalnya tidak ada gas atau pergerakan usus), dan gejala-gejala yang
berhubungan. Usahakan untuk membedakan obstruksi total dari parsial, yang
berhubungan dengan pasase gas atau feses (Hopkins, 2014).
Keluhan utama pasien dengan obstruksi usus besar adalah distensi abdomen,
mual, muntah, dan nyeri abdomen kram. Onset gejala yang tiba-tiba merupakan
pertanda dari kondisi obstruktif (misalnya volvulus sekum atau sigmoid). Riwayat
konstipasi kronik, penggunakan pencahar terus menerus, dan mengedan saat BAB
menunjukkan divertikulitis atau karsinoma. Divertikulitis, striktur divertikel atau

kondisi serupa juga ditandai dengan nyeri abdomen kuadran kiri bawah yang
berulang dalam beberapa tahun (Hopkins, 2014).
Perubahan kaliber feses pasien sangat kuat dugaan karsinoma. Ketika
bersamaan dengan penurunan berat badan, kemungkinan obstruktif neoplasia
semakin meningkat. Tanda-tanda obstipasi berupa pasien yang mengeluhkan tidak
nyaman menggunakan celana atau ikat pinggang. Riwayat operasi aorta
meningkatkan kemungkinan terjadinya striktur iskemia (Hopkins, 2014).
Obstruksi total digambarkan dengan kegagalan pasase feses atau flatus
dengan ampula rekti yang kosong (kecuali obstruksi di rektum). Sedangkan pasien
dengan obsturksi parsial, menunjukkan gejala obstipasi, namun masih terdapat
pasase feses dan flatus (Hopkins, 2014).
Obstruksi usus besar karena abnormalitas anatomi menyebabkan distensi
kolon, nyeri abdomen, dan gambaran lambatnya berupa muntah yang
mengandung feses. Muntah persisten menyebabkan dehidrasi dan gangguan
elektrolit.Tanda-tanda dehidrasi dinilai bila dijumpai hipotensi dan takikardi
(Jackson and Raiji, 2011).
Pneumaturia, mucinura, atau fekaluria dapat terjadi bila terdapat fistulasi
dari kolon sigmoid ke kandung kemih. Hal ini biasanya terjadi pada kondisi
divertikulits atau kanker (Hopkins, 2014).
2.

Pemeriksaan Fisik

a.

Obstruksi usus halus


Pada inspeksi dijumpai adanya distensi abdmen. Obstruksi di duodenal

atau usus halus proksimal menyebabkan distensi yang lebih ringan dibanding
obstruksi distal. Suara usus hiperaktif juga dapat didengar pada awal-awal
obstruksi, karena isi usus ingin melewari obstruksi; suara usus hipoaktif terjadi
kemudian (Nobie, 2014).
Singkirkan hernia inkarserata di paha, segitiga femoral, dan foramen
obturator. Pemeriksaan genitourinari dan pelviks yang benar merupakan suatu
keharusan. Perhatikan hal-hal berikut pada pemeriksaan colok dubur:

10

Gross or occult blood, yang menunjukkan kecurigaan strangulasi atau


keganasan

Massa, yang mengarahkan pada hernia obturator.

Pemeriksaan pada tanda-tanda ini diyakini dapat memberikan nilai diagnostik


iskemia usus, yaitu:
-

Demam > 100oF

Takikardia > 100 kali permenit

Tanda-tanda peritoneal (Nobie, 2014)..

Tidak ada pemeriksaan fisik khusus yang dapat membedakan obstruksi yang
sederhana atau strangulasi. Pemeriksaan abdomen serial sangat dibutuhkan dan
dapat mendeteksi perubahan secara cepat (Nobie, 2014).
b. Obstruksi Usus Besar
Meskipun pemeriksaan fisik lengkap dibutuhkan, tetapi elemen kunci pada
pemeriksaan fisik adalah menfokuskan pada pemeriksaan abdomen, paham dan
rektum.
-

Pemeriksaan Abdomen
Distensi abdomen biasanya signifikan pada pasien dengan obstruksi usus
besar. Suara usus dapat normal pada awal peyakit, tetapi kemudian akan
menghilang, dan abdomen menjadi hiperresonan pada perkusi (Hopkins,
2014).
Palpasi abdomen dapat didapati tegangan pada perut. Demam, tegang
abdomen berat, dan kekakuan abdomen merupakan tanda penting pada
peritonitis yang disebabkan perforasi. Sekum merupakan area yang paling
sering mengalami perforasi (sesuai hukum Laplace, pada pipa panjang
yang lunak, tempat dengan diameter terbesar membutuhkan tekanan yang
lebih kecil untuk mengalami distensi), sehingga pada onsturksi usus besar
disral, dengan katup iliosekal intak, sekum merupakan tempat perforasi
paling sering (Hopkins, 2014).

11

Adanya proteksi dari tanda-tanda peritoneal mengindikasikan proses


intraabdominal lain, seperti abses. Rebound tenderness paling baik
ditunjukkan apabila pasien batuk atau menggoyangkan tempat tidur.
Massa rektal atau sigmoid letak rendah dapat dipalpasi pada colok dubur.
Massa abdomen atau rasa penuh dapay dinilai apabila tumor berada di
sekum (Hopkins, 2014).
-

Pemeriksaan regio inguinal dan femoral


Pemeriksaan infuinal dan femoral juga harus dilakukan pada pasien
dengan dugaan obstruksi usus besar. Hernia inkarserata sering terlupa
sebagai penyebab obstruksi usus besar. Biasanya, obstruksi kolon sering
disebabkan hernia inguinalis kiri dengan kolon sigmoid terinkarserata pada
hernia tersebut (Hopkins, 2014).

Pemeriksaan colok dubur


Pemeriksaan colok dubur untuk memastikan patensi anus terutama pada
neonatus. Pemeriksaan berfokus untuk menilai patologi rektum yang dapat
menyebabkan obstruksi dan menentukan isi dari rongga rektum. Feses
keras menunjukkan impaksi; feses lembut menunjukkan obstipasi. Rongga
rektum yang kosong mengindikasikan obstruksi di proksimal yang dapat
dicapai jari (Hopkins, 2014).

3.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan sinar-X dan foto abdomen yang tegak dan berbaring sangat
bermanfaat dalam mendiagnosa ileus obstruktif. Jika penderita tidak dapat duduk
selama 15 menit, maka posisi dekubitus lateral kiri dapat dilakukan untuk foto
abdomen (Patrick, Jackson, dan Manish, 2011)
Adanya gelung usus yang terdistensi dengan batas udara-cairan (Air-Fluid
Level)

dalam

pola

anak

tangga

(Stepping

Ladder)

pada

foto

tegak

menggambarkan bahwa penderita menderita ileus obstruktif. Hal ini karena fakta
bahwa udara biasanya tidak terlihat pada usus halus dan hanya terbukti pada usus
yang terdistensi. Informasi dari foto juga dikumpulkan sebagai bahan diagnosa.

12

Pada foto abdomen, gelung usus berbeda pada usus halus dan kolon. Usus
halus ditandai dengan posisinya yang berada di dalam abdomen sentral dan
adanya valvulae conniventes yang muncul sebagai garis yang melintasi
keseluruhan lebar lumen. Kolon teridentifikasi dengan posisinya di sekeliling
abdomen dan dibatasi oleh adanya tanda haustra yang hanya sebagian melintasi
diameter lumen (Patrick, Jackson, dan Manish, 2011).
Pada obstruksi mekanik sederhana lanjut pada usus halus, tak ada gas yang
terlihat di dalam kolon. Obstruksi kolon dengan valva ileocaecalis kompeten,
maka distensi gas dalam kolon merupakan satu-satunya gambaran penting. Jika
valva ileocaecalis inkompeten, maka distensi usus halus dan kolon ada. Pada
obstruksi strangulasi, perjalanan klinik lebih cepat dan harus segera dilakukan
pemeriksaan. Distensi usus (jika ada) pada obstruksi strangulasi lebih sedikit
dibandingkan pada obstruksi mekanis sederhana (Patrick, Jackson, dan Manish,
2011).

Gambar : Foto Abdomen Spine dan Lateral Dekubitus


Pemeriksaan Penunjang

HB (hemoglobin), PCV (volume sel yang ditempati sel darah merah) :


meningkat akibat dehidrasi.

Leukosit : normal atau sedikit meningkat ureum + elektrolit, ureum


meningkat, Na+ dan Cl- rendah.

Rontgen toraks : diafragma meninggi akibat distensi abdomen.

13

Enema kontras tunggal (pemeriksaan radiografi menggunakan suspensi


barium sulfat sebagai media kontras pada usus besar) : untuk melihat
tempat dan penyebab.

CT Scan pada usus halus : mencari tempat dan penyebab, sigmoidoskopi


untuk menunjukkan tempat obstruksi.

2.5.

Penatalaksanaan
Dasar pengobatan ileus obstruktif adalah koreksi keseimbangan elektrolit

dan cairan, menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi,


mengatasi peritonitis dan syok bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk
memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal (Brunicardi, 2001).
1. Persiapan penderita
Persiapan penderita berjalan bersama dengan usaha menegakkan diagnosis
obstruksi usus secara lengkap dan tepat. Sering dengan persiapan yang
baik, obstruksinya berkurang atau hilang. Persiapan penderita adalah
sebagai berikut : (Brunicardi, 2001).
a.
b.
c.
d.

Dekompresi usus dengan menggunakan NGT


Pemasangan kateter untuk memantau jumlah urin yang keluar
Koreksi elektrolit dan kesimbangan asam basa
Atasi dehidrasi

2. Operatif

14

Tindakan operatif dibutuhkan apabila tindakan dekompresi dengan NGT


tidak memberikan perbaikan atau diduga adanya kematian jaringan. Pada
umumnya dikenal 4 macam cara tindakan bedah yang dikerjakan pada
ileus obstruksi (Brunicardi, 2001).
a. Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan
bedah sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya
hernia incarcerate non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada
volvulus ringan.
b. Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang melewati
bagian usus yang tersumbat, misalnya tumor intralurlinal, chron
disease.
c. Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat
obstruksi, misalnya pada Ca stradium lanjut
Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung
ujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada
carcinoma colon, invaginasi, strangulate, dan sebagainya. Pada beberapa ileus
obstruktif, kadang kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik oleh
karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya Ca
sigmoid obstruktif, mula mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari
dilakukan reseksi usus dan anastomosis. (Brunicardi, 2001).
2.6.

Komplikasi dan Prognosis


Komplikasi ileus obstruktif dapat meliputi : gangguan elektrolit,

pneumonia aspirasi, malnutrisi, dehidrasi, infeksi, jaundice, perforasi, sepsis dan


meninggal. Pada obstruksi kolon dapat terjadi dilatasi progresif pada sekum yang
berakhir dengan perforasi sekum sehingga terjadi pencemaran rongga perut
dengan akibat peritonitis umum. Apabila obstruksi memblok suplai darah ke usus,
hal ini dapat menyebabkan infeksi dan kematian jarigan (gangrene). Risiko
kematian jaringan dikaikan dengan sumbatan dan berapa lama hal itu terjadi.
Hernia, volvulus, dan invaginasi merupakan risiko tinggi untuk terjadinya
gangrene. Pada bayi baru lahir, apabila yang terjadi ileus paralitik, yang kemudian
akan menghancurkan dinding usus (necrotizing enterocolitis) merupakan suatu

15

keadaan yang mengancam jiwa karena dapat menyebabkan infeksi pada darah
(sepsis). (Sjamsuhidajat,2003)
Mortalitas ileus obstruktif ini dipengaruhi banyak faktor seperti umur,
etiologi, tempat dan lamanya obstruksi. Jika umur penderita sangat muda ataupun
tua maka toleransinya terhadap penyakit maupun tindakan operatif yang dilakukan
sangat rendah sehingga meningkatkan mortalitas. Pada obstruksi kolon
mortalitasnya lebih tinggi dibandingkan obstruksi usus halus.
(Sjamsuhidajat,2003)

BAB 3

16

LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
Nama (Inisial) : LS
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 52 tahun
Alamat : Dusun IX, Jl. Suka Setia, Pematang Johor, Kel. Deli Serdang
Pendidikan Terakhir : SD
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Menikah
Tanggal Masuk : 7 April 2015

Anamnesis
Keluhan Utama : Tidak bisa BAB
Telaah : Hal ini dialami os sejak 8 hari ini. Riwayat BAB berdarah dijumpai
sekitar 1 tahun yang lalu. Riwayat BAB seperti kotoran kambing dijumpai, mual
dan muntah dijumpai. Sebelumnya pasien pernah berobat ke RSUD Pirngadi dan
dianjurkan untuk operasi namun pasien menolak.

Riwayat Penyakit Terdahulu : tidak jelas


Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat Pengobatan : tidak jelas

17

Riwayat Alergi : tidak jelas


Riwayat Operasi : -

Status Pasien
Sensorium : CM
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Denyut Nadi : 100 x/i
Laju Pernapasan : 26 x/i
Temperatur : 36.80C

PEMERIKSAAN FISIK
Kepala
-

Mata : Konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflex pupil

(+/+), pupil isokor 3 mm kiri dan kanan


T/H/M : dalam batas normal
Leher : Pembesaran Kelenjar Getah Bening (-) Pembesaran Tiroid (-)

Thorax :
-

Inspeksi : Simetris fusiformis


Palpasi : SF ka=ki
Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi : SP : vesikuler, ST : (-)

Abdomen :
-

Inspeksi : Distensi (+), Dam contour (+)


Palpasi : Defans musculare (-), nyeri (+)
Perkusi : hipertimpani
Auskultasi : Hiperperistaltik, metallic sound (+)

Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2, Edema (-)

18

Digital Rectal Examination:


Perineum dalam batas normal, tonus spinchter ani longgar, teraba massa ekstra
lumen 7 cm dari anal verge, sirkumferensial, terfiksir, ampula rekti kosong, ST :
feses (-), lendir (-), darah (+).

Diagnosa Kerja : Mechanical Bowel Obstruction d/t Rectal Tumor sug. Malignant

Tatalaksana Awal di IGD :


-

Puasa
Pasang NGT no 18
IVFD RL 20 gtt/i
Pasang kateter
Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj. Ranitidine 50mg/12 jam
Inj. Ketorolac 30mg/8 jam
Foto Thorax PA erect
Foto Abdomen 2 posisi
Cek DL, HST, KGD, Albumin, Elektrolit, RFT

Laboratorium
-

Hb : 11.3 g%
Leukosit : 10.050 /mm3
Trombosit : 442.000/mm3
Ht : 34%
PT : Pasien (14,5) Kontrol (14)
INR : 1,04
APTT : Pasien (24,8) Kontrol (33,7)
TT : Pasien (18,3) Kontrol (17,5)
Albumin : 2,2 gr/dL
KGD : 148 mg/dL
Ureum : 47,10 mg/dL
Kreatinin : 0,50 mg/dL
Natrium : 116 mEq/L
Kalium: 6,5 mEq/L

19

Klorida: 88 mEq/L

Foto Abdomen 3 posisi:


Tampak multiple air fluid level. Tampak penebalan pada dinding lumen usus dan
dilatasi usus.

Laporan Operasi
-

Diagnosis Pra Bedah : mechanical bowel obstruction d/t rectal tumor sug.
malignant
Indikasi Operasi: Teurapeutik dan Diagnostik
Nama operasi: Sigmoidostomy + Insisional Biopsy
Laporan operasi:
1. Dalam posisi supine, GA ETT, prosedur aseptic dan antiseptik.
2. Identifikasi lokasi insisi di kontra Mc. Burney 1/3 lateral dari
umbilicus ke SIAS.
3. Insisi transversum kutis, subkutis, fascia, otot, peritoneum dibuka,
keluar cairan peritoneum 50 cc.
4. Identifikasi sigmoid, tampak sigmoid kemudian dikeluarkan keatas
kulit dan ditegel dengan menggunakan kateter no 12, sigmoid di
spurs di dua tempat.
5. Dilakukan penjahitan di delapan penjuru mata angina, kemudian
difiksasikan ke sigmoid.
6. Sigmoid di diversikan bagian proksimal di bagian bawah dan
bagian distal di atas.
7. Sigmoid di maturisasi.
8. Dilakukan kontrol perdarahan.
9. Operasi dilanjutkan dengan melakukan insisional biopsi dari

rectum.
10. Pasien diposisikan litotomi.
11. Dilakukan insisional biopsi dari tumor rektum.
12. Kontrol peradarahan.
13. Dilakukan tampon 1 kassa.
14. Operasi selesai.
Diagnosis Pasca Bedah : Mechanical Bowel Obstruction d/t rectal tumor
sug. Malignant

20

BAB 4
KESIMPULAN

Perempuan, usia 52 tahun. Datang dengan keluhan tidak bisa buang air
besar. Hal ini dialami os sejak 8 hari ini. Riwayat BAB berdarah dijumpai sekitar
1 tahun yang lalu. Riwayat BAB seperti kotoran kambing dijumpai, mual dan
muntah dijumpai. Sebelumnya pasien pernah berobat ke RSUD Pirngadi dan
dianjurkan untuk operasi namun pasien menolak.
Dari pemeriksaan fisik abdomen didapati inspeksi dijumpai distensi dan
dam contour, pada palpasi tidak didapati defans musculare, nyeri dijumpai,
perkusi hipertimpani, auskultasi hiperperistaltik dan didapati metallic sound (+).
Dari pemeriksaan colok dubur didapati perineum dalam batas normal,
tonus spinchter ani longgar, teraba massa ekstra lumen 7 cm dari anal verge,
sirkumferensial, terfiksir, ampula rekti kosong, pada sarung tangan: dijumpai
darah dan tidak dijumpai feses dan lendir.

21

Dari pemeriksaan laboratorium didapati kesan hipoalbumin, hiponatremi,


hipokalemi, hipoklorida. Dari hasil foto abdomen 3 posisi didapati kesan multiple
air fluid level.
Tatalaksana Awal di IGD :
-

Puasa
Pasang NGT
IVFD RL 20 gtt/i
Pasang kateter
Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj. Ranitidine 50mg/12 jam
Inj. Ketorolac 30mg/8 jam
Foto Thorax PA erect
Foto Abdomen 2 posisi
Cek DL, HST, KGD, Albumin, Elektrolit, RFT
Kemudian dilakukan tindakan sigmoidostomy + insisional biopsy. Setelah

operasi keluar feses lebih kurang 800 cc dengan konsistensi encer.

22

DAFTAR PUSTAKA
Beauchamp, Evers, Mattox, Sabiston, Textbook of Surgery, 16th edition,
W.B.Saunders, Philadelphia, 2001, hal 887-888
Brunicardi, F.C., Schwartzs Principles of Surgery, volume II, 8 th edition, W.B.
saunders, Philadelphia, 2001, hal 887-888
Cagir, B, MD, FACS. Ileus. [Online]. 2015 April 15 [cited 2014 Dec 14].
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/2242141-overview
Hopkins

C,

2014.

Large-Bowel

Obstruction.

Available

at:

http://emedicine.medscape.com/article/774045-overview [cited at 20 April


2015].
Jackson PG, Raiji M, 2011. Evaluation and Management of Intestinal Obstruction.
Am Fam Physician, 83(2): 159-165
Nobie A. B. 2015. Small Bowel Obstruction. Retrieved April 21, 2015. Available
at Emedicine : http://emedicine.medscape.com/article/774140-overview
Nobie

BA,

2014.

Small-Bowel

Obstruction.

Available

at:

http://emedicine.medscape.com/article/774140-overview [cited at 20 April


2015].
Patrick G. Jackson, MD, and Manish R, MD (2011) 'Evaluation and Management
of Intestinal Obstruction', American Family Physician, 83(2), pp. 159-165

23

[Online].
at: http://www.aafp.org/afp/2011/0115/p159.pdf (Accessed:

Available
20th

April

2015).
Sjamsuhidajat, R. dan De Jong, Wim. 2003. Buku Ajar Ilmu Bedah . Edisi 2.
Jakarta : EGC. Hal: 623.
Tavakkoli A, Ashley SW & Zinner MJ. Small Intestine. In: Brunicardi FC,ed.
Schwartzs Principles of Surgery, 10th ed. United States: McGraw-Hill
Education; 2015. p. .1147
Thompson, J. S. 2005. Intestinal Obstruction, Ileus, and Pseudoobstruction. In R.
H. Bell, L. F. Rikkers, & M. W. Mulholland (Eds.), Digestive Tract Surgery
(Vol. 2, p. 1119). Philadelphia: Lippincott-Raven Publisher
Williams NS, Bulstrode CJK & Oconnell PR. Bailey & Loves Short Practice of
Surgery, 25th ed. London : Edward Arnold (Publishers) Ltd. 2008. p.1188-9.
Zinner MJ, Ashley SW. Maingot's Abdominal Operations, 11th ed. McGraw-Hills.
2007

24