Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Kolitis merupakan suatu peradangan akut atau kronik yang terjadi pada kolon.
Dapat diketahui bshwa, kolon memiliki berbagai fungsi, dimana yang terpenting
adalah absorbsi air dan elektrolit.
Terdapat klasifikasi colitis ditinjau berdasarkan penyebabnya, yakni kolitis
infeksi dan non-infeksi. Colitis infeksi, misalkan: 1) shigelosis, 2) colitis tuberkulosa,
3) colitis amebic, 4) colitis pseudomembranosa. Sedangkan, colitis non-infeksi,
seperti: 1) colitis ulseratif, 2) penyaikt Chrons, 3) colitis radiasi, 4) colitis iskemik, 5)
colitis mikroskopik. Jenis colitis yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah
colitis infeksi.
Untuk menegakkan diagnosis colitis perlu dilakukan anamnesis terlebih
dahulu. Anamnesis dilakukan dengan terperinci dan dengan cermat, selanjutnya
dilakukan dengan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Namun,
jika berbicara mengenai gejala dari penyakit colitis sebenarnya tidak jauh berbeda
dengan penyakit Crohns ataupun colitis ulseratif. Maka dari itu, pemeriksaan
penunjang sangatlah perlu dilakukan untuk mendiagnosis penyakit colitis.
Selanjutnya, akan dibahas mengenai colitis ulseratif dan colitis iskemik.

BAB II
ISI

A.

Kolitis Ulseratif
Kolitis ulseratif merupakan bagian dari colitis non-infeksi, dimana colitis

ulseratif merupakan penyakit peradangan kronis yang terjadi pada


gastrointestinal, dan disebut juga sebagai penyakit radang usus
(IBD)

(National

Digestive

Diseases

Information

Clearinghouse,

2014). Dimana, kolitis ulseratif hanya terjadi pada usus besar


(kolon) dan rektum. Peradangan yang terjadi hanya pada lapisan
paling dalam dari lapisan usus, biasanya dimulai dari rektum dan
usus besar yang lebih rendah, akan tetapi dapat menyebar terus
menerus dari waktu ke waktu untuk melibatkan seluruh bagian
kolon (Chrons & Colitis Foundation of America. 2014) sehingga akan
memperburuk perjalanan penyakit ini (National Digestive Diseases
Information Clearinghouse, 2014).
Gejalanya mulai dari ringan sampai berat. Kebanyakan orang
memiliki periode remisi saat ketika gejala hilang dan dapat
berlangsung

selama

beberapa

minggu

atau

tahun

(National

Digestive Diseases Information Clearinghouse, 2014). Berdasarkan


hasil tinjauan di negara maju di dunia bahwa kolitis ulseratif
merupakan penyakit berkepanjangan yang timbul melalui interaksi
antara faktor genetik dan lingkungan. Etiologi colitis ulseratif belum
diketahui

dengan

pasti,

sehingga

terapi

yang

tepat

untuk

menyembuhkan penyakit ini pun belum tersedia (Dignass A.,et al.,


2012).
Di Amerika Serikat, dperkirakan sekitar satu sampai dua juta
orang mengalami colitis ulseratif dengan insidensi kurang lebih
sekitar 70-150 kasus/100.000 individu. Di Eropa, kurang lebih
insidennya sekitar 7,3 kasus/100.000 penduduk. Sedangkan, di
Indonesia sampai saat ini belum didapatkannya studi epidemiologi

mengenai angka kejadian inflammatory bowel disease (IBD), dan


masih atas dasar laporan dari rumah sakit (hopital based). Pada
tahun 2002 di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, dilaporkan terdapat
5,2 kasus penyakit corhns dan colitis ulseratif. Secara global
dikatakan bahwa insidensi IBD adalah 10 kasus/100.000 penduduk
dan untuk colitis ulseratif sekitar 2,2-14,3 kasus/100.000 penduduk.
Kolitis ulseratif banyak dijumpai di Asia Selatan dengan faktor
genetik (ras Kaukasia). Di India, angka kejadiannya kurang lebih
hanya 6/100.000 orang tiap tahunnya dengan prevalensi sekitar 4244/100.000 orang tiap tahun. Kolitis ulseratif lebih banyak dijumpai
di Asia seperti Jepang dan Korea dibandingkan dengan India, dan juga
lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki (Puri A.S. 2013).
Faktor

resiko

(National

Digestive

Diseases

Information

Clearinghouse, 2014)
- Umur: kolitis ulseratif dapat terjadi pada semua kalangan umur,
meskipun ada puncak pada usia 15 sampai 30 tahun, dan lebih
dari 60 tahun.
- Riwayat penyakit IBD pada keluarga
- Ras : kolitis ulseratif adalah lebih sering terjadi pada kulit putih
dibandingkan dengan kulit hitam.
Penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, akan tetapi penyakit ini
merupakan penyakit multifaktorial dan polygenic. Faktor keturunan (genetik), faktor
lingkungan dan respon sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif di usus, diduga
berperan dalam terjadinya kolitis ulseratif. Faktor infeksi dan psikologis sampai saat
ini masih dalam tahap penelitian.

Respon sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif di usus


Para ilmuwan yakin salah satu penyebab colitis ulseratif ialah

reaksi sistem

tersebut melindungi tubuh dari infeksi dengan

cara mengidentifikasi dan

Para peneliti percaya bahwa bakteri

atau virus pada usus khususnya dapat

memicu sistem kekebalan

tubuh untuk menyerang lapisan dalam dari usus

besar

Apabila, sistem kekebalan yang terjadi sangat aktif atau

(kolon).
bahkan

terlalu aktif maka akan terjadi peradangan pada usus tersebut


(National Digestive Diseases Information Clearinghouse, 2014).
Reaksi sistem kekebalan tubuh yang abnormal ini terjadi pada
orang
yang telah mewarisi gen yang membuat mereka rentan
untuk IBD (Chrons & Colitis Foundation of America. 2014).

Genetik
Kolitis

ulseratif

menderitanya.

diduga
Studi

didapat
penelitian

dari

keluarga

yang

telah

yang

juga

dilakukan

menunjukkan bahwa gen abnormal tertentu dapat ditemukan


pada penderita kolitis ulseratif. Akan tetapi, peneliti belum
dapat menunjukkan atau menjelaskan hubungan pasti antara
gen yang abnormal dengan kolitis ulseratif. Penyakit ini lebih sering
dijumpai pada orang kulit putih daripada orang kulit hitam, oleh karena itu hal
ini yang dapat juga genetik berperan terhadap perkembangan penyakit ini.

Faktor lingkungan
Ada hubungan terbalik antara operasi apendiktomi dan penyakit colitis ulseratif
berdasarkan analisis bahwa insiden penyakit colitis ulseratif menurun secara
signifikan pada pasien yang menjalani operasi apendiktomi pada decade ke-3.
Beberapa penelitian sekarang menunjukkan penurunan risiko penyakit colitis
ulseratif di antara perokok dibandingkan dengan yang bukan perokok.
Disamping

itu,

mengonsumsi

obat

obat

anti-inflamasi,

antibiotik, dan obat kontraseosi oral dapat meningkatkan


terjadinya kolitis ulseratif. Diet tinggi lemak juga diduga dapat
sedikit

menyebabkan

colitis

ulseratif

(National

Diseases Information Clearinghouse, 2014).

Digestive

Mengenai patofisiologinya, penyebab kolitis ulseratif tidak diketahui,


namun faktor keturunan dan respon sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif di usus,
diduga berperan dalam terjadinya kolitis ulseratif. Kolitis ulseratif merupakan proses
peradangan pada lapisan mukosa dan submukosa kolon. Atropi mukosa dan abses
pada kripta sering ditemukan. Kolitis ulseratif dapat mengenai rektum, kolon sigmoid,
dan seluruh bagian kolon, namun tidak mengenai intestinal. Pada stadium ringan
ditemukan mukosa eritem, edem dan mengalami granulasi. Pada stadium sedang dan
berat kolon tampak mengalami ulserasi, erosi, friability dan perdarahan spontan
(Bamias G., et al. 2005).
Sistem kekebalan tubuh innate adalah sistem pertahanan tubuh nonspesifik
terhadap patogen. Dimana, tubuh akan merespon segera atau dalam beberapa jam
pertama setelah bereaksi dengan patogen yang ada. Hal ini dianggap baris pertama
reaksi pertahanan tubuh terhadap patogen dan termasuk barier fisik seperti kulit dan
mukosa usus serta sel-sel kekebalan yang mengidentifikasi patogen dalam tubuh
(Bamias G., et al. 2005).
Kolitis ulseratif dihubungkan dengan meningktanya produksi IgG1 (oleh
limfosit Th2) dan IgG3, sub tipe yang respon terhadap protein dan antigen T-cell
dependent. Ada juga peningkatan produksi sitokin proinflamasi (IL-1, IL-6, IL-8 dan
tumor necrosis factor- (TNF- ), terutama pada aktivasi makrofag di lamina propria.
Sitokin yang lain (IL-10, TGF-) menurunkan imun respon. Defek produksi sitokin
ini menghasilkan inflamasi yang kronis (Bamias G., et al. 2005).
Manifestasi klinis dari colitis ulseratif, ditinjau dari lapisan usus yang meradang
dan mengalami ulserasi, maka usus akan kehilangan kemampuannya untuk
memproses makanan ataupun menyerap air, sehingga akan menyebabkan diare dan
pada akhirnya akan didapatkan penurunan berat badan pada kasus berat. Kebanyakan
pada pasien colitis ulseratif maupun penyakit Corhns, akan mengalami urgensi dan

nyeri pada abdomen. Peradangan yang terjadi dapat menimbulkan luka kecil pada
usus dan rektum. Hal ini dapat terjadi bersamaan dan menjadi bisul yang bersar serta
berdarah, sehingga feses yang dihasilkan akan disertai dengan darah, tetapi dapat pula
disertai dengan lendir maupun pus pada feses. Kehilangan darah tersebut akan
berdampak pada terjadinya anemia. Dimana, gejala utama colitis ulseratif adalah diare
berdarah dan nyeri abdomen, seringkali dengan demam dan penurunan berat badan
pada kasus berat (Chrons & Colitis Foundation of America. 2014).
Disamping adanya anemia, diare, dan penurunan nafsu makan, gejala lain yang dapat
ditemukan pada penyakit ini adalah adanya rasa mual dan pasien akan mudah merasa
lelah yang dapat disebabkan oleh anemia (National Digestive Diseases
Information Clearinghouse, 2014)
Derajat klinik colitis ulseratif dapat dibagi atas berat, sedang dan ringan,
berdasarkan frekuensi diare, ada/tidaknya demam, derajat beratnya anemia yang
terjadi. Perjalanan penyakit colitis ulseratif dapat dimulai dengan serangan pertama
yang berat ataupun dimulai ringan yang bertambah berat secara gradual setiap
minggu. Berat ringannya serangan pertama sesuai dengan panjangnya kolon yang
terlibat. Pada colitis ulseratif, terdapat reksi radang yang secara primer mengenai
mukosa kolon. Secara makroskopik,, kolon tampak berulserasi, hiperemik, dan
biasanya hemoragik. Gambaran mencolok dari radang adalah bahwa sifatnya seragam
dan kontinu dengan tidak ada daerah tersisa mukosa yang normal. Perjalanan klinis
colitis ulseratif bervariasi. Mayoritas pasien akan mendertia relaps dalam waktu 1
tahun dari serangan pertama, mencerminkan sifat rekuren dari penyakit. Namun
demikian, bisa terdapat periode remisi yang berkepanjangan hanya dengan gejala
minimal. Didapatkan sekitar 48% pasien colitis ulseratif mengalami
remisi, 30% dengan manifestasi ringan, 20% mederate, dan 1-2%
berat (Chrons & Colitis Foundation of America. 2014).
Temuan fisik pada colitis ulseratif biasanya nonspesifik, bisa terdapat distensi
abdomen atau nyeri sepanjang perjalanan kolon. Pada kasus ringan, pemeriksaan fisik
umum akan normal. Demam, takikardia dan hipotensi postural biasanya berhubungan
dengan penyakit yang lebih berat.
Didalam menegakkan diagnosis, perlu dilakukan beberapa hal. Gold standard
untuk menegakkan diagnosis penyakit ini tidak tersedia. Diagnosis harus ditetapkan

melalui anamnesis dengan cermat terlebih dahulu, meliputi kapan timbulnya gejala
yang dirasakan pasien, apakah sebelumnya pernah mengalami keluhan serupa, jika iya
ditanyakan lebih dalam mengenai kapan timbulnya gejala sebelumnya tersebut. Lalu
ditanyakan pula apakah pasien mengalami diare dan bagaiaman warna dari fesesnya,
berlendir atau tidak, atau apakah disertai pus. Ada nyeri perut atau tidak. riwayat
sosisal (kebiasaan merokok, mengonsumsi obat-obatan, riwatat operasi) dan riwayat
keluarga juga perlu ditanyakan. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik, meliputi: 1)
kesadaran umum pasien 2) tanda vital; tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu tubuh,
berat badan, dan tinggi badan untuk mengetahui status gizi pasien 3) pemeriksaan
abdomen; mengetahui adanya nyeri tekan pada abdomen dan adanya distensi 4)
pemeriksaan rectal touche untuk mengetahui keadaan rektum pasien dan melihat
apakah terdapat darah, melena, pus, maupun lendir. Pasien dengan penyakit
yang

berat

akan

didapatkan

demam,

takikardia,

hipotensi,

penurunan berat badan, nyeri kolon, distensi abdomen, atau bising


usus yang kurang dari normal. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan
penunjang, meliputi : (Dignass A., et al., 2012)
Pemeriksaan Radiologi
1. Foto polos abdomen
Pada foto polos abdomen, cenderung terfokus pada kolon. Gambaran kolon
sendiri terlihat memendek dan struktur haustra menghilang. Sisa feses pada daerah
inflamasi tidak ada, sehingga, apabila seluruh kolon terkena maka materi feses tidak
akan terlihat di dalam abdomen yang disebut dengan empty abdomen. Kadangkala
usus dapat mengalami dilatasi yang berat (toxic megacolon) yang sering
menyebabkan kematian apabila tidak dilakukan tindakan emergensi. Apabila terjadi
perforasi usus maka dengan foto polos dapat dideteksi adanya pneumoperitoneum,
terutama pada foto abdomen posisi tegak atau left lateral decubitus (LLD) maupun
pada foto toraks tegak.
Terdapat kelainan lain yang sering menyertai penyakit ini, seperti batu ginjal,
sakroilitis, spondilitis ankilosing dan nekrosis avaskular kaput femur. Foto polos
abdomen merupakan pemeriksaan awal untuk melakukan pemeriksaan barium enema.
Jika didapatkan tanda-tanda perforasi pada pemeriksaan foto polos abdomen, maka
pemeriksaan barium enema tidak boleh dilakukan (kontra indikasi).

2. Barium enema
Barium enema merupakan pemeriksaan rutin jika didapatkan kelainan pada
kolon. Sebelumnya, persiapan saluran cerna sangat penting dilakukan, persiapan
tersebut adalah mengonsumsi makanan rendah serat atau rendah residu, ditambah
banyak minum air putih. Persiapan ini dilakukan selama 2 hari berturut-turut. Apabila
diperlukan maka dapat diberikan laksatif peroral.
Setelah persiapan saluran cerna telah dilakukan, barulah kita dapat melakukan
pemeriksaan barium enema.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan teknik kontras

tunggal (single contrast) maupun dengan kontras ganda (double contrast) yaitu
barium sulfat dan udara. Teknik double contrast cukup sulit, tetapi sangat baik untuk
menilai mukosa kolon dibandingkan dengan teknik single. Barium enema juga
merupakan kelengkapan pemeriksaan endoskopi atas dugaan pasien dengan colitis
ulseratif.
Gambaran yang didapat pada kasus dengan kolitis ulseratif adalah mukosa
kolon yang granuler dan hilangnya kontur haustra, serta kolon tampak menjadi kaku
seperti tabung. Perubahan mukosa terjadi secara difus dan simetris pada seluruh
kolon. Lumen kolon menjadi lebih sempit akibat spasme. Dapat ditemukan
keterlibatan seluruh kolon. Jika ditemukan lesi yang segmental, maka rektum dan
kolon kiri (desendens) selalu terlibat, karena awalnya colitis ulseratif ini mulai terjadi
di rectum dan menyebar ke arah proksimal secara kontinyu. Sehingga, rektum akan
selalu terlibat, walaupun rectum dapat mengalami inflamasi lebih ringan pada bagian
proksimalnya.
Pada colitis ulseratif kronis, perubahan terjadi pada mukosa ileum terminal yang
menjadi dilatasai dan granuler difus, sekum berbentuk kerucut (cone-shaped caecum)
dan katup ileosekal terbuka sehingga terjadi refluks, yang disebut backwash ileitis.
Pada kasus kronis, terbentuk ulkus yang khas yaitu collar-button ulcers. Pasien
dengan colitis ulseratif juga memiliki potensi menjadi adenokarsinoma kolon.
3. Ultrasonografi
Sebenarnya, pemeriksaan USG untuk kasis IBD sampai saat ini belum
merupakan modalitas pemeriksaan. Terkecuali, merupakan pemeriksaan alternatif
untuk evaluasi keadaan intralumen dan ekstralumen.

Sebelum dilakukan pemeriksaan USG pasien diminta untuk makan makanan


rendah residu dan banyak minum air putih. Persiapan dilakukan selama 24 jam
sebelum pemeriksaan. Sesaat sebelum pemeriksaan sebaiknya kolon diisi dulu dengan
air.
Pada pemeriksaan USG, hasil yang didapatkan ialah penebalan dinding usus
yang simetris dengan kandungan lumen kolon yang berkurang. Mukosa kolon yang
terlibat tampak menebal dan berstruktur hipoekhoik akibat dari edema. Usus menjadi
kaku, berkurangnya gerakan peristalsis dan hilangnya haustra kolon. Dapat ditemukan
target sign atau pseudo-kidney sign pada potongn transversal atau cross-sectional.
Dengan USG Doppler, pada colitis ulseratif selain dapat dievaluasi penebalan dinding
usus dapat pula dilihat adanya hypervascular pada dinding usus tersebut.
4. CT-Scan dan MRI
Kelebihan CT-Scan dengan MRI adalah mampu untuk mengevaluasi keadaan
intralumen dan ekstralumen secara langsung, serta mengevaluasi sampai sejauh mana
komlikasi ekstralumen kolon yang telah terjadi. Sedangkan kelebihan MRI dengan
CT-Scan adalah mengevaluasi jaringan lunak karena terdapat perbedaan intensitas
(kontras) yang cukup tinggi antara jaringan lunak satu dengan yang lain.
Gambaran CT Scan ialah terlihat dinding usus menebal secara simetris dan
kalau terpotong secara cross-sectional maka terlihat gambaran target sign.
Komplikasi di luar usus dapat terdeteksi dengan baik, seperti adanya abses atau fistula
atau keadaan abnormalitas yang melibatkan mesenterium. MRI dapat dengan jelas
memperlihatkan fistula dan sinus tract-nya.
Pemeriksaan Endoskopi
Pada colitis ulseratif, ditemukan hilangnya vaskularitas mukosa, eritema difus,
kerapuhan mukosa, dan seringkali eksudat dengan mukus, darah maupun nanah.
Kerapuhan mukosa merupakan karakteristik penyakit ini. Ulserasi landai, bisa kecil
atau konfluen namun selalu terjadi pada segmen dengan colitis aktif. Pemeriksaan
kolonoskopik penuh dari kolon pada colitis ulseratif tidak diindikasikan pada pasien
akut. Biopsi rectal bisa memastikan adanya radang pada mukosa. Pada penyakit yang
lebih kronik, didapatkan mukosa granuler dan bisa terdapat pseudopolip.
Pemeriksaan Histopatologi

Kriteria histopatologik adalah perubahan pada mukosa, epitel dan lamina


propria. Pada kolon normal, permukaan datar, kripta tegak, sejajar, bentuknya sama,
jarak antar kripta sama, dan dasar dekat muskularis mukosa. Sel-sel inflamasi,
predominan terletak di bagian atas lamina propria.
Perlu diperhatikan perubahan epitel seperti berkurangnya musin dan metaplasia
sel Paneth serta permukaan viliform. Perubahan lamina propria meliputi penambahan
dan perubahan distribusi sel radang. Granuloma dan sel-sel berinti banyak biasanya
ditemukan.
Gambaran mikroskopik

berhubungan dengan stadium penyakit (akut,

resolving atau kronik/menyembuh). Gambaran khas untuk colitis ulseratif adalah


adanya abses kripti, distorsi kripti, infiltrasi sel mononuclear dan polimorfonuklear di
lamina propria. Tsang dan Rotterdam (1999), membagi gambaran histologik penyakit
colitis ulseratif menjadi kriteria mayor dan minor. Sekurang-kurangnya dua kriteria
mayor harus dipenuhi untuk diagnosis colitis ulseratif.
Kriteria mayor colitis ulseratif :

Infiltrasi sel radang yang difus pada mukosa

Basal plasmositosis

Netrofil pada seluruh ketebalan mukosa

Abses kripta

Kriptitis

Distorsi kripta

Permukaan viliformis

Kriteria minor colitis ulseratif :

Jumlah sel goblet berkurang

Metaplasia sel Paneth


Pemeriksaan

laboratorium

juga

perlu

dilakukan

sebelum

melakukan

pemeriksaan penunjang diatas. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk membantu


menegakkan diagnosa colitis ulseratif. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan darah
untuk melihat kadar hari Hb pasien yang nantinya akan mengarah ke kondisi pasien
apakah anemia atau tidak. Disamping itu juga melihat adanya peradangan atau
infeksi, melihat kadar dari albumin apakah rendah atau tidak, lalu melihat apakah
terdapat protein dalam darah. Jika ditemukan adanya proteim, biasanya hal tersebut

menunjukkan kondisi kolisitis yang parah/berat. Selain pemeriksaan darah,


pemeriksaan tinja dengan memeriksa sample tinja pasien. pemeriksaan ini dilakukan
untuk menyingkirkan penyakit-penyakit gastrointestinal yang disebabkan oleh infeksi
(National Digestive Diseases Information Clearinghouse, 2014).
Penatalaksanaan colitis ulseratif; meninjau dari etiopatogenesis IBD dan colitis
ulseratif yang masuk didalamnya belumnya, sehingga tidak didapatkan regimen
standard untuk menatalaksanai penderita IBD. Penambahan zat besi bisa
menyembuhkan anemia yang disebabkan oleh hilangnya darah dalam tinja. Faktor
untuk menentukan pengobatan yang akan diberikan, yaitu: 1) keparahan penyakit, 2)
letak anatomi penyakit, 3) respon terhadap pengobatan sebelumnya, 4) efek samping
obat, 5) komorbiditas (penyakit lain yang menyertainya).
Pengobatan dari penyakit ini lebih ditekankan pada penghambatan kaskade
proses inflamasi. Oleh karena terdapat dugaan bahwa adanya agen proinflamasi yang
mencetuskan proses inflamasi kronik pada individu yang rentan terinfeksi maka
dilakukan

oemberian

antibiotik

untuk

mengeliminasi

agen

tersebut

serta

mengistirahatkan kerja usus. Obat lini pertama mengandung komponen 5-acetil


salicylic acid (5-ASA) dan obat kortikosteroid (baik sistemik maupun topikal). Bila
gagal, maka diberikan obat lini kedua yang pada umumnya bersifat imunosupresif
(seperti 6-merkaptopurin, azatriopin, siklosporin dan metotreksat), anti-TNF
(infliximab). Pada kasus tertentu atau terjadi komplikasi perforasi, perdarahan masif,
ileus karena stenosis, megatoksik kolon, maka diperlukan intervensi surgical. Terdapat
lima kategori golongan obat yang dapat digunakan untuk menatalaksanai IBD :
1.

Aminosalisilat
Merupakan senyawa anti-inflamasi yang mengandung 5-ASA, contohnya
adalah

sulfasalazine, balsalazide, mesalamine, dan olsalazine. Obat-obat ini

diberikan

secara rektal atau rektal, bekerja untuk mengurangi peradangan

yang terjadi

pada usus. Obat-obat ini terutama digunakan untuk mengobati

colitis ulseratif dengan mengurangi gejala dan mempertahankan remisi.


Sulfasalazine mempunyai efek anti-inflamasi, bekerja dengan mempertahankan
remisi dan untuk menginduksi remisi pada serangan ringan, serta mengobati
colitis ulseratif ringan-sedang. Bekerja secara lokal pada kolon untuk
menurunkan respon inflamasi dan secara sistemik menghambat sintesis
prostaglandin (Chrons & Colitis Foundation of America. 2014). Efek

samping dari obat ini adalah nyeri perut, diare, sakit kepala, dan mual
(National Digestive Diseases Information Clearinghouse. 2014).
2.

Kortikosteroid
Preparat dari golongan obat ini yang dapat digunakan ialah prednisone,
prednisolon, dan budesonide. Obat-obat ini mengurangi aktivitas sistem imun
yang berlebihan di usus dan mengurangi peradangan yang terjadi. Efektif
penggunaan jangka pendek, dan kurang efektif untuk penggunaan jangka
panjang karena dapat menimbulkan efek samping (infeksi, katarak, kerapuhan
kulit, keropos pada tulang, gangguan tidur, dan perubahan suasana hati)
(Chrons & Colitis Foundation of America, 2014). Dokter meresepkan
kortikosteroid pada penderita dengan gejala yang lebih berat dan dengan orang
yang tidak berespon dengan aminosalisilat (National Digestive Diseases
Information Clearinghouse, 2014)

3.

Immunomodulator
Golongan obat ini memodifikasi aktivitas sistem kekebalan tubbuh shingga
tidak dapat menyebabkan peradangan yang berkelanjutan. Contoh preparatnya
adalah azathioprone, 6-merkaptopurin (6-MP), dan methotrexate. Obat-obat ini
biasanya digunakan untuk mempertahankan remisi pada pasien yang tidak
berespon dengan obat lain atau hanya merespon steroid.

4.

Antibiotik
Temuan klinis pada colitis ulseratif yang berat berhubungan dengan nekrosis
luas pada mukosa kolon dan perforasi dengan sepsis. Antibiotik intravena
diberikan pada pasien yang diduga atau berpotensi terjadi sepsis. Namun, tidak
ada bukti ilmiah yang dapat mendukung penggunaan antibiotik dalam
pengobatan colitis ulseratif.

5.

Terapi Biologis
Terapi ini merupakan pengobatan baru untuk kasus IBD. Terapi biologis ini
diindikasikan pada pasien dengan gejala sedang sampai berat/aktif, serta pada
pasien yang tidak berespon dengan pengobatan lain. Terapi ini termasuk
adalimumab, golimumab, infliximab, dan vedolizumab, yang menargetkan
protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh yang dikenal dengan tumor
necrosis factor (TNF). Obat-obat ini mengurangi peradangan pada kolon
dengan cara menetralisir TNF. Terapi anti-TNF ini bekerja dengan cepat dan

mempertahankan remisi. Infliximab dan vedolizumab diberikan secara IV,


sedangkan adalimumab dan golimumab diberikan secara injeksi (Chrons &
Colitis Foundation of America, 2014). Efek samping dari terapi ini
adalah

resiko terkena infeksi seperti tuberkulosis atau infeksi jamur lebih

tinggi,

kanker kulit, dan psoriasis (National Digestive Diseases

Information Clearinghouse, 2014).


Berdasarkan Crohns and Colitis Foundation of America, diet bukan
merupakan faktor utama dalam proses inflamasi. Namun beberapa makanan spesifik,
dapat mempengaruhi gejala dari colitis ulseratif dan ikut berperan dalam proses
inflamasi

(Chrons

&

Colitis

Foundation

of

America,

2014).

Penatalaksanaan diet pada colitis ulseratif, serat yang insoluble (tinggi serat) tidak
baik untuk pasien, contohnya : kubis, brokoli, jagung manis, kulit buah seperti apel
dan anggur), karena jenis serat ini melewati seluruh traktus digestivus tanpa dicerna,
dan dapat menempel pada dinding colon ketika inflamasi, semakin mengiritasi kolon
dan memperparah colitis. Serat yang soluble sangat baik untuk pasien karena akan
dicerna dalam kolon, menghasilkan feses yang lunak dan pergerakan usus yang bagus,
tidak menempel pada dinding usus dan tidak menyebabkan inflamasi. Contoh serat
yang soluble adalah buah-buahan dan sayur-sayuran yang sudah dikupas, bubur, dan
nasi putih (Collitis UK, 2011).

Rekomendasi penatalaksanaan colitis ringan-sedang


Pasien dengan penyakit ringan-sedang dapat diobati dengan aminosalisilat

secara oral, mesalamine atau steroid topical. Mesalamine topical lebih unggul
dibandingkan dengan steroid oral maupun aminosalisilat oral. Kombinasi dari
aminosalisilat oral dan topical lebih efektif daripada diberikan secara tunggal. Pasien
yang tidak membaik dengan pengobatan diatas dengan dosis maksimal mungkin dapat
diberikan prednisone oral dengan dosis 40 60 mg/hari atau infliximab 5 mg/kgBB
pada minggu 0, 2, dan 6 meskipun belum ada studi spesifik yang membuktikannya.
Aminosalisilat oral dengan dosis yang efektif berbeda pada setiap preparat
(Kornbluth A., et al. 2010).

Rekomendasi penatalaksanaan colitis berat

Pasien dengan refraktori kolitis parah pengobatan oral dengan prednison, obat
aminosalicylate oral, dan obat topikal dapat diobati dengan infliximab 5 mg / kgBB.
Infliximab diberikan jika pasien rawat jalan tapi gejala yang berat tetap berkelanjutan.
Apabila dalam 3-5hari keadaan pasien tidak membaik, maka perlu dilakukan
kolektomi (indikasi kolektomi) atau dapat diberikan cyclosporine secara IV
(Kornbluth A., et al. 2010).

Rekomendasi Pembedahan
Kolitistoksik merupakan suatu keadaan gawat darurat.Segera setelah terditeksi

atau bila terjadi ancaman megakolon toksik, semua obat anti-diare dihentikan,
penderita dipuasakan, selang dimasukan ke dalam lambung atau usus kecil dan semua
cairan, makanan dan obat-obatan diberikan melalui pembuluh darah. Pasien diawasi
dengan ketat untuk menghindari adanya peritonitis atau perforasi. Bila tindakan ini
tidak berhasil memperbaiki kondisi pasien dalam 24-48 jam, segera dilakukan
pembedahan, dimana semua atau hampir sebagian besar usus besar diangkat. Jika
didiagnosis kanker atau adanya perubahan pre-kanker pada usus besar, maka
pembedahan dilakukan bukan berdasarkan kedaruratan. Pembedahan non-darurat juga
dilakukan karena adanya penyempitan dari usus besar atau adanya gangguan
pertumbuhan pada anak-anak. Alasan paling umum dari pembedahan adalah penyakit
menahun yang tidak sembuh-sembuh, sehingga membuat penderita tergantung kepada
kortikosteroid dosis tinggi. Pengangkatan seluruh usus besar dan rektum, secara
permanen akan menyembuhkan kolitis ulserativa. Penderita hidup dengan ileostomi
(hubungan antara bagian terendah usus kecil dengan lubang di dinding perut) dan
kantong ileostomi. Prosedur pilihan lainnya adalah anastomosa ileo-anal, dimana usus
besar dan sebagian besar rektum diangkat, dan sebuah reservoir dibuat dari usus kecil
dan ditempatkan pada rektum yang tersisa, tepat diatas anus.
Komplikasi yang dapat terjadi 30 hari paska pembedahan, antara lain sekitar
12% mengalami abses, 8% sepsis, dan 4% fistula (Kornbluth A., et al. 2010).
Dalam perjalanan penyakit ini, dapat terjadi komplikasi : (National
Digestive Diseases Information
- Perforasi usus yang terlibat
- Stenosis usus akibat proses fibrosis

Clearinghouse, 2014).

Megakolon

komplikasi

toksik:

serius

yang

terjadi

ketika

peradangan menyebar ke lapisan jaringan dalam usus besar.


Megakolon dapat menjadi komplikasi yang mengancam jiwa
dan

paling

sering

membutuhkan

operasi.

Megacolon

merupakan komplikasi yang jarang dari kolitis ulseratif.


- Perdarahan pada rektum
-

Degenerasi maligna; diperkirakan risiko terjadinya kanker pada IBD kurang


lebih 13%. Dapat terjadi jika penderita colitis ulseratif berat yang tidak kunjung
sembuh (8 tahun).

Dehidrasi dan malabsorpsi oleh karena usus tidak mampu menyerap cairan dan
nutrisi karena diare dan peradangan yang terjadi, sehingga pada beberapa orang
memerlukan cairan IV untuk menggantikan nutrisi dan cairan yang hilang.

Tulang menjadi keropos, seperti osteoporosis oleh karena penggunaan obat


kortikosteroid jangka panjang; pelayanan kesehatan akan memantau
pasien

dengan

osteoporosis

dengan

suplemen kalsium dan vitamin D

merekomendasikan

dan obat-obatan untuk

membantu mencegah terjadinya osteoporosis.


Kematian akibat kolitis ulseratif atau komplikasinya juga jarang.
Kebanyakan pasien kolitis ulseratif tidak memiliki risiko tinggi
terhadap kematian. Namun, jika peradangan yang dialami tersebut
luas pada kolon maka resiko kematian akan menjadi lebih tinggi
(Chrons & Colitis Foundation of America, 2014).
B.

Kolitis Iskemik
Kolitis iskemik adalah inflamasi kolon yang disebabkan oleh inadekuat suplai

darah ke kolon. Meskipun tidak umum, kolitis iskemik banyak terjadi pada usia muda.
Insiden pasti kolitis iskemik sulit ditentukan karena pasien dengan iskemia ringan
jarang mencari pengobatan medis.
Kolitis iskemik melibatkan suplai darah ke kolon tidak memadai. Pada kasus
akut, penyebab paling sering adalah bekuan darah dalam arteri yang memasok darah

ke usus. Sedangkan pada kasus kronis biasanya berhubungan dengan penumpukan


simpanan lemak (aterosklerosis) dalam pembuluh darah yang menuju ke usus. Pada
beberapa orang, kolitis iskemik dapat disebabkan oleh atau berhubungan dengan
kondisi medis lainnya, termasuk:
peradangan (vaskulitis) pembuluh darah
penonjolan organ atau jaringan ke jaringan sekitarnya (hernia),

berhubungan dengan suplai darah arteri serta suplai darah vena ke usus
peningkatan gula (glukosa) dalam darah (diabetes)
mudah terjadi pembekuan darah (hiperkoagulasi)
radiasi abdomen
kanker colon
pembedahan perut, terutama ketika menyangkut perbaikan dinding

arteri yang menggembung (aneurisma) di wilayah tersebut


infeksi, seperti shigella, Escherichia coli dan Clostridium difficile
dehidrasi
Faktor risiko untuk kolitis iskemik meliputi:
Umur : lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua. Jika itu
terjadi pada orang dewasa muda, mungkin menjadi tanda kelainan
pembekuan darah atau suatu peradangan pembuluh darah (vaskulitis).
Riwayat pernah di operasi sebelumnya, gagal jantung, tekanan darah rendah
dan syok.
Berbicara mengenai patofisiologi penyakit ini, kolitis iskemik dapat
disebabkan karena aliran sistemik yang kurang atau faktor lokal berupa vasokonstriksi
pembuluh darah usus dan trombus. Sehingga penyebab kolitis iskemik dibedakan atas
oklusif dan non oklusif. Pada banyak kasus, penyebab non spesifik banyak ditemukan.
Kolon didarahi oleh arteri mesenterika superior dan arteri meesenterika inferior.
Terbentuk kolateral dari hubungan kedua arteri ini. Namun fleksura splenikus dan
kolon ascenden memiliki sedikit kolateral dari kedua arteri ini sehingga iskemia lebih
mudah terjadi pada daerah ini. Sedangkan rektum mendapat suplai darah dari arteri
mesenterika inferior & arteri iliaka interna sehingga pada rektum jarang terjadi
iskemia. Kolon menerima 10-35% dari total cardiac output. Jika aliran darah ke kolon
menurun lebih dari 50% maka akan terjadi iskemia. Arteri pada kolon sensitif
terhadap vasokonstriktor seperti kondisi stres dan obat-obat vasikonstriktor seperti

ergotamin, kokain atau vasopresin. Kondisi patologis yang bisa ditemukan pada
kolitis iskemik berupa perdarahan dan edem mukosa dan submukosa, nekrosis dan
ulserasi. Pada kondisi yang berat dapat ditemukan gambaran ulserasi kronik, abses
kripta dan pseudopolip serta infark transmural.
Manifestasi dari colitis iskemik adakah nyeri pada abdomen yang biasanya
terlokalisasi ke sisi kiri bawah perut dan dapat secara bertahap, perdarahan saluran
cerna bawah, diare, demam lebih tinggi dari 38oC. Resiko komplikasi berat dari colitis
iskemik meningkat ketika peradangan mengenai sisi kanan usus sehingga bagian dari
usus halis juga tidak menerima suplai darah yang cukup. Nyeri yang dirasakan pasien
cenderung lebih parah. Dimana, terhambatnya aliran darah ke usus halus cepat
mengakibatkan kematian pada jaringan usus (infark atau nekrosis). Akibatnya, dapat
mengancam

jiwa

pasien

sehingga

pembedahan

sangat

diperlukan

untuk

membersihkan sumbatan serta menghilangkan bagian dari usus yang telah hancur.
Diagnosis dini serta penatalaksanaan yang cepat dan tepat dapat mencegah terjadinya
komplikasi yang berta. Secara umum, fase kolitis iskemik progresif dibagi 3, yaitu:
1. Fase hiperaktif, ditandai dengan nyeri perut dan BAB berdarah
2. Fase paralitik, terjadi jika iskemia berlanjut. Pada fase ini neri perut
meluas dan lebih nyeri jika disentuh, motilitas usus berkurang,
kembung, bunyi bising usus berkurang sampai tidak ada.
3. Fase syok, akibat perforasi kolon.
Untuk mendiagnosis penyakit ini sama seperti penyakit lainnya, yaitu dimulai
dari anamnesis dengan cermat, pemeriksaan fisik, pemeriksaan lanjutan. Hasil
laboratorium menunjukkan leukositosis (>15.000/mm3) dan penurunan kadar
bikarbonat <24 mmol/L. Endoskopi berupa kolonoskopi atau fleksibel sigmiodoskopi
merupakan prosedur pilihan jika diagnosis masih belum jelas. Biopsi melalui
endoskopi

bermanfaat

menyediakan

lebih

banyak

informasi.

Visible

light

spectroscopic catheter ditempatkan di usus menggunakan endoskopi, berguna untuk


menganalisis kadar oksigen. Spesifitas alat ini adalah 90% atau lebih untuk iskemia
kolon akut dan 83% untuk iskemia mesenterika kronik.
Penatalaksanaan kolitis iskemik yakni berupa terpai suportif : 1) IVFD
(Intravenous fluid drift) untuk mengatasi dehidrasi yang terjadi, 2) puasa, 3)
pemberian antibiotik, 4) Analgesik untuk mengurangi nyeri yang ditimbulkan, 5)

pembedahan; dilakukan jika didapatkan leukositosis berat, demam serta nyeri perut
dan perdarahan yang memburuk. Komplikasi yang dapat terjadi dari penyakit ini
berupa sepsis, gangren intestinal, perforasi kolon, dan dapat pula striktur.

BAB III
PENUTUP

Kolitis dapat diklasifikasikan menjadi kolitis infeksi dan non


infeksi. Kolitis infektif terdiri dari kolitis amebik, shigelosis, kolitis
tuberkulosa, kolitis pseudomembran dan kolitis oleh parasit serta
bakteri lain seperti E. coli. Kolitis noninfektif antara lain berupa kolitis
ulseratif,

penyakit

Crohn, kolitis radiasi, kolitis iskemik, kolitis

mikroskopik, maupun kolitis nonspesifik. Pemeriksaan endoskopi


dapat membantu dalam menegakkan diagnosis masing-masing
kolitis.
Pada kasus ini, evaluasi terhadap kondisi pasien kolitis perlu
dilakukan dengan rutin guna untuk mencegah komplikasi-komplikasi
yang serius. Disamping itu pula, masih perlu dilakukan penelitian
epidemiologi mengenai insidensi dari berbagai macam kolitis
khususnya di Indonesia untuk menemukan etiologi dan patofisiologi
yang pasti, sehingga penatalaksanaan terhadap pasien kolitis pun
menjadi pasti.

DAFTAR PUSTAKA

Bamias G., Myce M.R., Sarah A., et al. 2005. New Concepts in the
Pathophysiology of Inflammatory Bowel Disease. Vol. 143. No.
12.

American College of

Physicians Internal Medicine

Chrons & Colitis Foundation of America. 2014. The Facts About


Inflammatory

Bowel Disease. New York

Colitis UK. 2011. The Effects of Diet on Ulcerative Colitis. Available at:
http://www.ulcerativecolitis.org.uk/dietarychanges.htm. Diakses tanggal 17
April 2012. Jam 22.00 WIB.
Dignass A., Eliakim R., Magro F., et al. 2012. Second European
Evidenced-Based

Consensus

Management of Ulverative Colitis:

on

the

Diagnosis

and

Definitions and Diagnosis. No of

pages 26. Journal of Crohns and Colitis:

Departement of Medicine

Kornbluth A., Sachar D.B., et al. 2010. Ulcerative Colitis Practice


Guidelines in

Adults: American College of Gastroenterology,

Practice Parameters

Committe. Vol. 105. The American Journal of

Gastroenterology
Koutroubakis I.E., editors. 2008. Ischemic colitis: Clinical practice in
diagnosis and

treatment. Vol. 14. Np. 48. World Journal of

Gastroenterology
National

Digestive

Diseases

Information

Clearinghouse.

2014.

Ulcerative Colitis. No. 14. National Institute of Diabetes and


Digestive and Kidney

Disease

Puri A.S. 2013. Epidemiology of Ulcerative Colitis in South Asia.


Departement of

Gastroenterology, GB Pant Hospital : New Delhi,

India

PENUGASAN JURNAL
Colitis

OLEH :
A.A.A. LIE LHIANNA M.P.
H1A013001

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM


NUSA TENGGARA BARAT
2015

Anda mungkin juga menyukai