Anda di halaman 1dari 17

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
1.

Konsep Humidifier
1.1. Definisi
Humidifier adalah alat pelembab udara (Smeltzer & bare, 2008).
Prose penambahan air ke gas (oksigen) yang merupakan humidifikasi
(Perry & Potter, 2006). Tucker, Canobbio, Paquette, dan Wells (2000)
menyebutkan

humidifier

merupakan

alat

yang

digunakan

untuk

memberikan kelembapna dengan gelembung-gelembung udara pada saat


terapi

oksigen.

Jadi

humidifier

merupakan

alat

humidikasi

atau

penambahan kadar air dalam udara (Oksigen) sehingga dicapai kelebaban


tertentu.
Penggunaan humidifier dalam terapi oksigen merupakan tambahan
yang pentng karena selain sebagai pelembab oksigen juga sebagai
konektor selang oksigen (nasal/ masker) yang ke pasien. Selang nasal /
masker tidak dapat langsung disambungkan dengan sumber oksigen
(Penny & Potter, 2006).
1.2. Tujuan Pemakaian Humidifier
Humidifier merupakan alat humidifikasi, diperlukan saat pemberian
oksigen sebagai pelembab udara. Kelembapan udara dapat mencegah
mukosa saluran pernafasan atas mengalami kekeringan dan iritasi.
Humidifikasi juga sangat bermanfaat sebagai ekspektoran yang mudah
mempertahankan sekresi. Humidifikasi dibutuhkan karena oksigen dari
sentral maupun tabung bersifat kering (Kozier, Erb, Berman& Snyder,
2004). Pasien yang mengalami gangguan pelembaban seperti dilakukan
bypass dapat memakai humidifier kering bila oksigen yang diberikan
kurang dari 4 jam (Hilton, 2004)
1.3. Jenis Humidifier
Sebagai alat pelemba udara/ oksigen, humidifier mempunyai
beberapa jenis humidifier. Humidifier dibagi menjadi humidifier aktif yaitu
humidifier yang mengeluarkan gelembung udara tabung yang berisi air
teraliri oksigen dan humidifier pasif merupakan pelembab udara yang
menggunakan alat pemanas (Saraswat, 2008). Sedangkan Hilton (2004)
membagi humidifier menjadi dua, yaitu humidifier hangat dan humidifier

dingin. Pembagian humidifier menurut Saraswat dengan Hilton secara


umum sama yaitu humidifier aktif sama dengan humidifier dingin dan
humidifier pasif dengan humidifier hangat.
Humidifier hangat merupakan alat

pelembab

udara

dengan

melepaskan uap air atau embun dari air hangat. Pemanasan air dilakukan
dengan mesin listrik sehingga uap akan keluar dari air yang mendidih.
Humidifier tipe ini digunakan pada terapi oksigen dengan cara closed
system yang digunakan pada ventilator.
Humidifier dingin adalah pelembab udara fengan suatu alat akan
melepaskan uap/ droplet air yang dingin. Humidifier tipe ini diberikan pada
terapi oksigen yang alirannya dapat bernafas spontan lewat jalan nafas
atas. Humidifier ini, secara konvensional dengan teknik menglairkan
oksigen melalui air yang ahirnya akan timbul gelembung-gelembung udara
yang akan mendorong uap air ke udara (Rita, 2001). Kelembaban yang
dihasilkan kurang lebih 72,5% sampai 79% pada suhu ruangan (Waugh &
Granger, 2004). Weber, Palmer, Jaffar, dan Mulholland (1998) menyatakan
bahwa didaerah cuaca tropis kelembaan akan mengalami penurunan, yang
didapat hanya 34-56%.
Humidifier dingin secara luas menggunakan humidifier yang dapat
digunakan berulang-ulang. Penggunaan humidifier ini perlu diperhatikan
beberapa hal antara lain reservoir (tabung humidifier) harus dalam kondisi
bersih, air dalam humidifier harus air setril dan diganti setiap 24 jam, dan
reservoir harus diisi segera sebelum dipakai, bila cairan hendak
ditambahkan sisa cairan harus dibuang dahulu (Panmed Dalin Nosok RSU
dr. Soetomo Surabaya, 2000).
Kemajuan tekonologi memunulkan penemuan baru yaitu humidifier
yang sekali pakai (aquapak). Yamashita, Nishivama, Yokoyama, Abe,
Manabe (2005) menyebutkan bahwa dengan aquapak penggunaan selama
58 hari secara terus menerus tidak ditemukan pertumbuhan bakteri.
Pemakaian aquapak ini perlu dipertimbangkan efisiensinya karena
pemakaian pada klien yang mobilitas tinggi sangat membebani biaya klien.
Kondisi tersebut kurang sesuai dengan ruangan jantung dan ruang
observasi intensif yang rata-rata pemakaian humidifier 1-7 hari (buku
laporan ruang jantung dan ROI RSU Dr. Soetomo Surabaya, 2008).

Penggunaan humidifier penting pada terapi oksigen, tetapi beberapa


buku menyebutkna bahwa terapi oksigen yang menggunakan nasal kanul
dengan kcepatan aliran oksigen kurang dari 4 LP tidak perlu memakai
humidifier (Perry & Potter, 2006). Hilton (2004) menyebutkan bahwa
pemberian non humidifier tidak boeh lebih dari 4 jam. Kenji (2004)
melakukan penelitian dengan demonstrasi matematika. Menyimpulkan
bahwa pemakaian oksigen 4-5 LPM tidak membutuhkan humidifier karena
aliran oksigen 4-5 LPM dengan menggunakan alat nasal kanul atau simple
masker, masih dipengaruhi oleh udara ruangan. Kelembapan udara
ruangan masih mencukupi untuk membantu kelembapan terapi oksigen
yang diberikan.
Campbell, Baker, dan Crites (1998) melakukan penelitian bahwa
pemakaian humidifier dengan diisi air atau tidak diisi aiar, dengan aliran
oksigen kurang dari 5 liter per menit selama perawatan, setiap harinya
masih ditemukan keluhan kekeringan pada mukosa hidung. Non humidifier
masih dapat menjadi pilihan terapi karena dapat mengurangi biaya dan
mempermudah tugas perawat pada waktu perawatan tabung (Campbell,
Baker, & Crites, 1998).
1.4. Pemeliharaan Humidifier
Masalah keamanan utama pada humidifier adalah kontaminasi
bakteri. Dalam suatu studi, reservoar sekali pakai yang telah diisi
sebelumnya terbebas dari patogen sampai dengan 3 hari. Akan tetapi pada
studi lain ditemukan bahwa humidifier ambulans dengan botol yang telah
digunakan berulang kali memiliki bakteri pada 22 dari 30 reservoir.
Humidifier yang menggunakan air keran maupun air steril memiliki
kemungkinan yang sama untuk terkontaminasi, namun hal ini tidak berlaku
untuk semua fasilitas kesehatan; di beberapa rumah sakit air, keran
mungkin terkontaminasi dan meningkatkan risiko infeksi nosokomial.
Peralatan humidifier harus dicuci dan didesinfeksi secara teratur
untuk mencegah kolonisasi bakteri. Pemeliharaan humidifier sangat
penting. Pemeliharaannya meliputi:
1. Air harus diganti setiap hari.
2. Sebelum digunakan kembali, petugas harus mengganti air,
termasuk mencuci humidifier, tabung air dan kateter dalam air

sabun, membilas dengan air bersih dan mengeringkannya di


udara.
3. Sekali seminggu (atau setiap kali pasien berhenti terapi oksigen),
semua komponen humidifier harus direndam dalam larutan
antiseptik ringan selama 15 menit, dibilas dengan air bersih dan
dikeringkan di udara. Biarkan humidifier ini kering sepenuhnya
untuk mencegah kolonisasi bakteri.
Sebuah humidifier yang bersih dan terisi dengan air bersih harus
selalu

tersedia,

sehingga

terapi

oksigen

tidak

terganggu

saat

humidifieryang sedang dipakai harus dibersihkan.


2.

Konsep Asam Asetat


2.1

Sejarah dan Perkembangan Asam Asetat


Asam asetat yang lebih sering dikenal sebagai asam cuka

merupakan salah satu golongan asam karboksilat yang telah dikenal sejak
lama dari zaman dahulu dan masih banyak digunakan sampai saat ini.
Penggunaan asam asetat sebagai pereaksi kimiasudah dimulai sejak lama.
Pada

abat ke-3 Sebelum Masehi, Filsuf

Yunani kuno Theophrastos

menjelaskan bahwa cuka bereaksi dengan logam-logam

membentuk

berbagai zat warna, misalnya timbal putih (timbal karbonat), dan verdigris,
yaitu

suatuzat

hijau

campuran

dari

garam-garam

tembaga

dan

mengandung tembaga (II) asetat. Bangsa Romawi menghasilkan sapa,


sebuah

sirup

yang

amat

manis,

dengan mendidihkan anggur yang

sudah asam. Sapa mengandung timbal asetat, suatu zatmanis yang


disebut juga gula timbal dan gula Saturnus. Akhirnya hal ini berlanjut
kepada peracunan dengan timbal yang dilakukan oleh para pejabat
Romawi.
Pada zaman dahulu asam setat telah dapat dibuat dengan proses
yang secara ilmiah
pertama

yang

oksidasi

pada

dari

udara

disebut

digunakan
minuman

memanfaatkan

Proses

Orkana.

oleh Schutzenbach
yang

berisi

bantuan

Ini

adalah

dengan

proses

melakukan

alkohol menggunakan oksigen

bakter-bakteri.

Eksperimen

ini

mengawali pembuatan asam asetat pada zaman sekarang dengan


menggunakan proses destilasi kayu kering dengan menggunakan katalis

H2SO4. Proses inilah yang nantinya akan menghasilkan asam asetat biasa
yang disebut dengan asam cuka kayu(wood acetic acid). Ilmu yang lebih
sempurna untuk proses pembuatan asam asetat diantaranya
Oksidasi

Asetaldehid

yang

dilakukan

pada

kondisi

adalah

tekanan

15

atmosfir (15 atm) dan temperatur 200oC dengan adanya penambahan


katalis. Proses lain yaitu Oksidasi Butana. Proses ini dilakukan pada
tekanan 3,5 atmosfir (3,5 atm) dan temperatur 120 oC. Proses ini juga
menggunakan bantuan katalis dan berlangsung dalam fase gas.Proses lain
yaitu Oksidasi Etana. Proses ini merupakan proses yang cukup baru
dikembangkan dalam proses pembuatan asam asetat. Proses ini
mereaksikan etana dengan oksigen pada reaktor multitubular pada 1-50
bar dan temperatur 150-500oC dengan penambahan katalis. Selain itu,
asam asetat juga dpat dibuat melalui proseskarbonilasi metanol yang
pertama kali diaplikasikan pada tahun 1963 dengan proses BASF dan
proses Mosanto pada tahun 1968.
Asam asetat telah diketahui manusia selama berabad-abad.
Kemungkinan besar bahwa itu ditemukan tidak sengaja selama proses
pembuatan anggur. Ketika proses fermentasi adalah jus buah dibiarkan
terlalu lama, anggur spontan bentuk cuka, encer bentuk asam asetat.
Akibatnya, asam asetat namanya berasal dari acetum kata Latinyang
berarti cuka.Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa
kimia asam organikyang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma
dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini
seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H.
Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis
tak berwarna, dan memiliki titik beku 16,7C. Asam asetat merupakan salah
satu

asam

karboksilat

Larutanasam asetat

paling

dalam air

sederhana,

setelah

merupakan sebuah

asam

format.

asam lemah,

artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam


asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting.
Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena
tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam
serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan
sebagai pengatur keasaman. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam

asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari
hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari
sumber hayati.
Asam asetat merupakan salah satu produj industri yang banyak
dibutuhkan di Indonesia. Asam asetat dapat dibuat dari substrat yang
mengandung alkohol, yang diperoleh dari berbagai macam bahan seperti
buah buahan, kulit nanas, pulp kopi, dan air kelapa. Hasil dari fermentasi
asam asetat sering disebut sebagai vinegar yang berarti sour wine. Vinegar
berasal dari bahasa Perancis, vindiger (vin=wine, digger=sour). Pada saat
ini cuka atau vinegar dibuat dari bahan kaya gula seperti buah anggur apel,
nira kelapa, malt, gula sendiri seperti sukrosa dan glukosa, dimana
pembuatannya melibatkan proses fermentasi alokohol dan fermentasi
asetat secara berimbang.
Komposisi vinegar tergantung dari bahan baku, proses fermentasi
menjadi alkohol dan fermentasi alkohol menjadi asam cuka, pengeraman,
serta penyimpanan. Dari Food and Drugs Administrator (FDA) USA, definisi
vinegar sebagai berikut: vinegar, cider vinegar, aplle vinegar dibuat dari
juice apel yang difermentasikan menjadi alkohol dan difermentasikan lebih
lanjut menjadi asam cuka. Asam cuka mengandung 4 gr vinegar dalam 100
ml, 20 0C. Wine vinegar, grape vinegar sama dengan diatas hanya bahan
bakunya dari anggur. Selain itu, ada yang disebut malt vinegar, sugar
vinegar dan glukosa vinegar.
2.2

Pengertian Starter Asetat


Dalam proses fermentasi asetat memerlukan pembiakan murni

Acetobacter yang disebut juga dengan starter. Starter adalah populasi


mikroba dalam jumlah dan kondisi fisiologis yang siap diinokulasikan
dengan biakan murni. Starter baru dapat digunakan 8 hari setelah
diinokulasikan dengan biakan murni. Pemakaian starter tidak diizinkan
terlalu banyak karena tidak ekonomis.
2.3

Mekanisme Reaksi Asam Asetat


Asam asetat dapat dihasilkan dari senyawa C2H5OH (etanol) atau

buah buahan yang mengandung senyawa tersebut melalui proses oksidasi

biologis yang menggunakan mikroorganisme. Etanol dioksidasikan menjadi


acetaldehid dan air. Asetaldehid dihidrasi yang kemudian dioksidasi
menjadi asam asetat dan air. Mekanisme pembentukan asam asetat yaitu:
Bakteri asam asetat dapat menggunakan oksigen sebagai penerima
elektron, urutan reaksi oksidasi biologis mengikuti pemindahan hidrogen
dari substrat etanol. Enzim etanol dehidrogenase dapat melakukan reaksi
ini karena mempunyai seistem sitokhrom yang menjadi kofaktornya. Bakteri
bakteri

asam

asetat,

mikroorganisme
berhubungan

khususnya

aerobik

dengan

yang

sistem

dari

genus

mempunyai
bioksidasi

Acetobacter

enzim

intraselular

mempergunakan

adalah
yang

sitokhrom

sebagai katalisatornya.
Reaksi:

2.4

Oraganisme Asam Asetat


1. Klasifikasi Acetobacter
Spesies ini dapat digunakan dalam generator vinegar kecuali A.
Xylinum dan beberapa spesies lain yang dapat mengoksidasi
asam asetat menjadi CO2 dan air. Lebih dari 200 spesies dari
varian genus Acetobacter dapat menghasilkan asam asetat.
2. Teknik Laboratorium dan Biakan Acetobacter
a. Start Culture
Agar start dari jus tomat dalam tabung tertutup. Medium ini
diletakkan dalam autoclave kemudian didinginkan dalam posisi
miring kemudian spesial both starter ditambahkan untuk
menutupi kira kira sepertiga dari slant both. Slant both
merupakan larutan nitrogen dari dekstrosa, etanol, asam
asetat, diphospor. Inokulasi dibuat dari culture stock atau
vinegar dengan menggunakan kawat yang digesekkan pada

agar

slant,

inkubasikan

pada

30

oC

sehingga

terjadi

perkembangan yang baik. Setelah itu disimpan pada suhu 5- 10


oC. Biakan ini diambil tiap bulan untuk mempertahankan
kelangsungan hidup.
b. Pemurnian Bahan
Agar juice tomat diletakkan dalam petridish dan ditandai.
Biakkan ini dimasukkan dalam plate dengan menggunakan
batang glass steril yang dibengkokkan dengan gerakan
melingkar 5 kali putaran meliputi seluruh plate. Plate lalu
diletakkan dalam keadaan terbalik dalam wadah polyetilen dan
diikat dengan karet dan diinkubasikan pada suhu 28 oC selama
48 jam atau sampai kelihatan perkembangan koloninya. Jenis
koloni yang dapat tersebar dengan baik diumpankan pada slant
dan diinkubasikan 48 jam.
c. Pemilihan Culture
Walaupun bakteri vinegar dapat hidup pada kondisi alami dari
kebun buah, biakkan pada kondisi ini cenderung mati lebih
cepat, bahkan pendinginan 5-10 0C bakteri tidak dapat hidup.
Biakan normal akan diambil tiap bulan. Perkembangan diproses
typyle zaration, biakan dapat dijaga selama beberapa waktu
tanpa harus dipindahkan. Biakan ini dapat hidup 2-5 tahun
walau ada biakan yang tahan 20 tahun.

2.5

Jenis Jenis Vinegar


Badan urusan makanan dan obat di Amerika menggolongkan
vinegar menurut bahan baku:
a. Vinegar, cider vinegar, apple vinegar dibuat dari alkohol hasil
fermentasi buah apel
b. Wine vinegar, grape vinegar, produk ini dibuat dari alkohol hasil
fermentasi buah anggur
c. Malt vinegar dibuat dari fermentasi larutan glukosa
d. Vinegar yang dibuat dengan mencampur spirit vinegar dengan
perbandingan tertentu

e. Vinegar yang dibuat dari dried apple, apple cores, dan apple
peels.
f. White destilled vinegar dan grain vinegar dibuat dengan alkohol
yang terdestilasi.
Jenis jenis vinegar yang populer:
a. White destilled vinegar (etanol yang telah didestilasi sebagai
bahan baku)
b. Cider vinegar (dibuat dari apple yang telah difermentasi)
c. Wine vinegar (dibuat dari anggur kualitas rendah)
d. Malt vinegar (dibuat dari fermentasi alkohol dann aseton terhadap
mult mush atau malt yang mengandung corn atau barley yang
ditambahkan pada malt)
2.6

Processing Vinegar
a. Filtrasi dan klasifikasi
Vinegar hasil destilasi dari tricking generator lebih besar dari
bahan bahan yang tidak larut sehingga filter yang digunakan
mempunyai lubang kecil. Namun vinegar lain memerlukan filter
untuk mendapatkan vinegar yang jernih. Filter dengan kapasitas
besar dengan klasifikasi bila ada zat aditif yang digunakan.
b. Pembotolan
Bertujuan untuk mencegah bakteri maka harus dipasteurisasi.
Botol beisi ditutup rapat lalu dipanaskan pada suhu 60-65 oC.
Kadang vinegar dipanaskan hingga suhu 65-70 oC dan dengan
segera botol dengan vinegar panas ditutup.
c. Konsentrasi vinegar
Vinegar dapat dikosentrasikan dengan proses freezing. Vinegar
didinginkan untuk mengetahui kadar alkohol. Sistem ini dapat
dipakai tutup sp 0,2% dan lalu 25% produk diambil. Waktu cycle
12% vinegar masing masing 335 jam, vinegar yang dihasilkan dari
submerged proses sangat keruh karena berisi bakteri. Untuk
filtrasi kapasitas besar diperlukan filter agent dengan tangki
filtering, sebaliknya jika digunakan dalam sharing vinegar tidak
mengandung mikroorganisme karena telah tersaring.

2.7

Faktor Faktor yang Diperhatikan dalam Pembuatan Vinegar


(Asam Asetat)

a. Pemilihan mikroba
Bakteri yang dapat memenuhi syarat yaitu yang produktivitasnya
tinggi dan mempunyai rasa enak. Sebagai contoh Bacterium
schutzen bachil / Baterium cuvrum biasanya dipakai untuk
memproduksi asam cuka biasanya dipakai asam cuka dari etanol
dengan quick vinegar process, sedang Bacteruim orleanense pada
proses Orleans (proses lambat)
b. Kualitas bahan dasar
Sebagai bahan dasar adalah

semua

bahan

yang

dapat

difermentasikan menjadi alkohol.bisa dari jus buah buahan seperti


buah apel, anggur, jeruk, bahan bahan bergula , beer, anggur/
wine.
c. Fermentasi oleh yeast
Sebelum fermentasi asam cuka, gula yang berasal dari bahan
dasar difermentrasikan menjadi alkohol, sehingga yeast yang
dipakai harus diseleksi, demikian juga faktor faktor yang
mempengaruhi

selama

fermentasi

menjadi

alkohol

harus

diperhatikan.
d. Keasaman
Kadar alkohol terbaik dan dapat segera difermrntasikan 10-13%.
Bila kadar alkohol 14% atau lebih maka oksidasi alkohol menjadi
asam cuka tidak atau kurang sempurna sebab perkembangan
bakteri asam cuka terhambat. Sedang bila kadar alkohol rendah
mungkin akan banyak vinegar yang hilang bahkan pada
konsentrasi alkohol 1-2% ester dan asam cuka akan dioksidasi
yang mengakibatkan hilangnya aroma dan flavor( aroma dan
flavor menjadi jelek).
e. Oksigen
Proses fermentasi asam cuka menjadi alkohol adalah proses
oksidasi maka perlu diaerasi.

f. Supporting medium/ bahan penyangga


Bahan penyagga ini dimaksudkan untuk memperluas permukaan
yang berhubungan dengan udara serta tempat melekatnya koloni

bakteri bakteri asam cuka sehingga proses fermentasinya menjadi


lebih cepat. Sebagai bahan penyangga dapat dipakai chips/
pasahan/ tatal kayu, arang, ranting anggur, tongkol jagung, dan
sebagainya. Bahan penyangga tersebut tidak boleh bersifat racun,
serta tidak boleh mengandung besi, tembaga, sulfur, atau ion ion
lainnya yang mempengaruhi vinegar.
g. Suhu Suhu selama fermentasi mempengaruhi pertumbuhan dari
bakteri asam cuka. Bila suhu:
12-15 oC : pertumbuhan bakteri lambat, sel selnya menjadi
gemuk, pendek.
42-45 oC : sel bakteri akan memanjang membentuk semacam
mycelium yang tidak bersekat
15-34 oC : pertumbuhan sel normal dan cepat
Untuk fermentasi asam cuka suhu yang paling sesuai 26,7-29,4
oC, sebab bila suhu rendah fermentasi akan berjalan lambat
sedang bila suhu tinggi akan banyak alkohol yang menguap
bersama-sama dengan bahan bahan volatile yang membentuk
flavor dan aroma dari asam cuka, sehingga asam cuka yang
dihasilkan akan mempunyai flavor ataupun aroma yang kurang
sedap/ enak.
2.8

Kegunaan Asam Asetat


a.
b.
c.
d.
e.

2.9

Penambah rasa pada makanan dalam industri makanan


Memperbaiki flavor pada pembuatan mayonaise
Memperbaiki flavor dan pengawet pada pembuatan acar
Antiseptic
Mencegah tumbuhnya jamur pada roti

Macam Macam Acetobacter


a. Acetobacter aceti
Kelompok bakteri yang mengoksidasi alkohol dari anggur/ apel
menjadi asam asetat
b. Acetobacter xylinum
Mengandung selulosa yang identik dengan selulosa kapas dalam
mengabaikan sinar X. Hal ini biasanya untuk mengadakan
oksidasi. Adanya makanan dapat dibuktikan dengan sejenis asam
organik dan senyawa lain dalam medium murni yang mengandung

substrat zat organik seperti selulosa, bakteri notrogen bebas.


Genus Acetobacter termasuk organisme aerob.
c. Acetobacter sub-oxydans
Bakteri asam asetat dipakai untuk oksidasi asam gula sorbitol
untuk sarbose yang dipakai pada produksi vitamin C dan oksidasi
gliserol

untuk

dehidrasi

aseton.

Bakteri

ini

mempunyai

kecenderungan kecil kecil untuk proses yang lebih cepat.

3.

Konsep Deterjen
3.1 Pengertian
Deterjen merupakan salah satu kebutuhan primer dalam kehidupan
karena peranannya sebagai produk pembersih serba guna yang dapat
digunakan untuk membersihkan bahan kain, alat dapur dari bahan kaca,
keramik, metal bahkan lantai. Deterjen adalah senyawa dengan ujung
hidrokarbon hidrofobik dan ujung ion sulfat. Sifat dari deterjen adalah
memperkecil tegangan permukaan dan menjaga agar kotoran teremulsi
dalam pelarut air. Ujung hidrofobik deterjen terikat dengan pengotor
sedangkan ujung ion akan tercelup dalam air sehingga kotoran diikat
deterjen dan dibebaskan dari bendanya (Yuni, 2012).
3.2

Klasifikasi
Menurut kandungan gugus aktif maka deterjen diklasifikasikan

sebagai berikut (Yuni,2012) :


1. Deterjen Keras
Deterjen jenis keras sukar dirusak mikroganisme meskipun bahan
tersebut dibuang akibat zat tersebut masih aktif.
2. Deterjen lunak
Deterjen jenis lunak mudah dirusak oleh mikroganisme sehingga tidak
aktif lagi bila dipakai.
Sedangkan deterjen menurut keperluannya dibedakan atas :
1. Deterjen dalam bentuk serbuk
Deterjen ini biasanya mempunyai kadar air rendah.

2. Deterjen dalam bentuk padat/batangan


Seperti halnya detergen bubuk deterjen ini juga mempunyai kadar air
rendah.
3. Deterjen dalam bentuk krim
Deterjen ini mempunyai kadar air tinggi namun biasanya deterjen ini
relatif lebih murah daripada deterjen bubuk dan padatan. Deterjen ini
juga merupakan bahan pembersih untuk produk shampo dan pasta gigi.
Berdasarkan

senyawa

organik

yang

dikandungnya,

detergen

dikelompokkan menjadi :
a. Detergen anionik (DAI) Merupakan detergen yang mengandung
surfaktan anionik dan dinetralkan dengan alkali. Detergen ini akan
berubah menjadi partikel bermuatan negatif apabila dilarutkan dalam air.
Biasanya digunakan untuk pencuci kain. Kelompok utama dari detergen
anionik adalah : Rantai panjang (berlemak) alkohol sulfat Alkil aril
sulfonat Olefin sulfat dan sulfonat
b. Detergen kationik Merupakan detergen yang mengandung surfaktan
kationik. Detergen ini akan berubah menjadi partikel bermuatan positif
ketika terlarut dalam air, biasanya digunakan pada pelembut (softener).
Selama proses pembuatannya tidak ada netralisasi tetapi bahan-bahan
yang mengganggu dihilangkan dengan asam kuat untuk netralisasi.
Agen aktif permukaan kationik mengandung kation rantai panjang yang
memiliki sifat aktif pada permukaannya. Kelompok utama dari detergen
kationik adalah : Amina asetat (RNH3)OOCCH3 (R=8 sampai 12 atom
C) Alkil trimetil amonium klorida (RN(CH3))3+ (R=8 sampai 18 atom
karbon) Dialkil dimetil amonium klorida (R2N(CH3)2) +Cl- (R=8 sampai
18

atom

karbon)

Lauril

dimetil

benzil

amonium

klorida

(R2N(CH3)2CH2C2H6)Cl
c. Detergen nonionik Merupakan senyawa yang tidak mengandung
molekul ion sementara, kedua asam dan basanya merupakan molekul
yang sama. Detergen ini tidak akan berubah menjadi partikel bermuatan
apabila dilarutkan dalam air tetapi dapat bekerja di dalam air sadah dan
dapat mencuci dengan baik hampir semua jenis kotoran. Kelompok
utama dari detergen nonionik adalah : Etilen oksida atau propilen oksida

Polimer polioksistilen HO(CH2CH2O)a(CHCH2O)b(CH2CH2O)cH CH3


Alkil amida HOCHCH3NH2-HOOCC17O38 R
d. Detergen Amfoterik Detergen jenis ini mengandung kedua kelompok
kationik dan anionik. Detergen ini dapat berubah menjadi partikel positif,
netral, atau negatif bergantung kepada pH air yang digunakan. Biasanya
digunakan untuk pencuci alat-alat rumah tangga.
Kelompok utama dari detergen ini adalah : Natrium lauril sarkosilat
( CH3(CH2)10CH2NHCH2CH2CH2COONa) dan natrium mirazol.
Berdasarkan kegunaannya jenis-jenis deterjen adalah sebagai berikut :
1. Detergen pencuci kain, mengandung alkohol etoksilat dan alkil
fenoletoksilat
2. Detergen pencuci piring mengandung zat seperti detergen pencuci
tangan
3. Detergen pembersih peralatan rumah tangga yang mengandung
heksa dekiltrimetil amonium klorida
4. Detergen pembersih industri mengandung zat seperti detergen
pembersih rumah tangga
5. Detergen pembersih gigi yang mengandung natrium lauril sarkosionat
6. Detergen pelembut kain yang mengandung diokta dekildimetil
amonium klorida
3.3

Kegunaan Deterjen
Deterjen merupakan salah satu kebutuhan primer dalam kehidupan

karena peranannya sebagai produk pembersih serba guna yang dapat


digunakan untuk membersihkan bahan kain, alat dapur dari bahan kaca,
keramik, metal bahkan lantai. Awalnya bahan pembersih terbuat dari air,
minyak, dan bahan kasar seperti pasir basah atau clay basah. Deterjen
mempunyai kemampuan untuk menghilangkan berbagai kotoran yang
menempel pada kain atau objek lain, mengurangi keberadaan kuman dan
bakteri yang menyebabkan infeksi (Yuni, 2012).
Proses pembersihan oleh surfaktan terdiri atas tiga tahap, yaitu:
1. pembahasan (wetting) kotoran oleh larutan deterjen
2. lepasnya kotoran dari permukaan bahan
3. pembentukan suspensi kotoran yang stabil
Menurut Showell (2006) mekanisme pembersihan

kotoran

( umumnya berupa tanah) terdiri beberapa tahapan, yaitu:


1. perpindahan surfaktan ke interfase. Hal ini terjadi pada kondisi surfaktan
dalam bentuk monomer, dimana kinetika perpindahannya sangat cepat

(10-5 cm2/ detik) atau juga terjadi pada kondisi surfaktan berbentuk
agregat atau micelle dimana kinetika perpindahannya relatif lambat (107 cm2/detik). Kinetika perpindahan surfaktan dan adsorbsi pada
permukaan dapat diukur dengan teganngan permukaan dinamik.
2. Adsorbsi surfaktan pada interfase air-atanah, interfase air-udara, dan
interfase permukaan-air. Tahapan ini terjadi dengan menurunkan
tegangan permukaan pada masing-masing interfase tersebut.
3. Membentuk kompleks surfaktan-tanah. Hal ini menunjukkan bahwa
surfaktan akan menyelimuti tanah yang akan dipisahkan dalam satu
lapisan atau pada konsentrasi surfaktan yang tinggi akan menghasilkan
dua lapisan. Pada tahapan ini surfaktan dapat mendorong padatan
tanah menjadi lunak dan berbentuk cairan. Tahapan ini merupakan
tahapan yang kritis untuk menuju proses emulsi yang dapat terjadi jika
tanah berbentuk cairan.
4. Desorpsi kompleks surfaktan-tanah. Untuk tanah yang berminyak,
proses ini dapat terjadi melalui mekanisme penggulungan atau melalui
pelarutan minyak menjadi agregat micelle dari surfaktan.
5. Perpindahan kompleks surfaktan-tanah menjauh dari permukaan. Pada
tahapan ini tanah yang mengandung minyak dengan massa jenis yang
leih rendah dari air akan mengapung di permukaan. Padahal dibutuhkan
energi

mekanik

atau

pengadukan

surfaktan-tanah dari permukaan.


6. Stabilisasi tanah ayang terdispersi

untuk
untuk

menjauhkan

kompleks

mencegah

terjadinya

redeposisi.
3.4

Sifat Deterjen
Molekul deterjen terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang bersifat

hidrofilik dan yang bersifat hidrofobik. Bagian hidrofilik adalah bagian yang
menyukai air atau bersifat polar. Adapun bagian hidrofobik adalah bagian
yang tidak suka air atau bersifat nonpolar. Kotoran yang bersifat polar
biasanya larut dalam air, sehingga kotoran jenis ini tidak perlu dibersihkan
dengan menggunakan sabun. Kotoran yang bersifat nonpolar, seperti
minyak atau lemak tidak akan hilang jika hanya dibersihkan menggunakan
air. Oleh karena itu, diperlukan deterjen sebagai

pembersihnya. Ujung

hidrofob deterjen yang bersifat nonpolar mudah larut dalam minyak atau
lemak dari bahan cucian. Ketika menggosok atau memeras pakaian

membuat minyak atau lemak menjadi butiran-butiran lepas yang dikelilingi


oleh lapisan molekul deterjen. Gugus polarnya berada diluar lapisan
sehingga butiran itu larut di air (Ratna,2010).
3.5

Komposisi Deterjen
Bahan-bahan

kimia

yang

terdapat

pada

deterjen

adalah

(Arifin,2008) :
1. Surfaktan
Surfaktan merupakan zat aktif permukaan yang termasuk bahan kimia
organik yang bersifat kotionik, anionik, maupun non ionoik. Surfaktan
memiliki dua gugus molekul yang berbeda kepolarannya, satu jenis
hidrofilik (suka air) dan lipofilik (suka lemak). Surfaktan bekerja dengan
menurunkan tegangan air untuk mengangkat kotoran yang menempel
pada pakaian.
Menurut struktur kimia, molekul surfaktan dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Rantai bercabang (alkil benzen sulfanat atau ABS);
b. rantai lurus (Linear alkil sulfanat atau ALS).
Sifat deterjen ABS merupakan jenis surfaktan yang ditemukan dan
digunakan secara luas sebagai bahan pembersih yag berasal dari
minyak bumi. Jenis ini mempunyai sifat yang tidak diuraikan oleh
bahan-bahan

alami

seperti

mikroganisme,

matahari

dan

air.

Sedangkan ALS merupakan jenis surfaktan yang lebih murah


diuraikan oleh bakteri. Akan tetapi bahan poliposfat dalam deterjen
menghasilkan

limbah

yang

mengandung

fosfor

sehingga

menyebabkan eutrofikasi.
2. Buildier (Pembetuk)
Builder (Pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci surfaktan
dengan cara menon-aktifkan mineral penyebabkan kesadahan air.
Senyawa pembentuk tersebut adalah:
a. Garam-garam fosfat, seperti natrium tripolipfosfat;
b. senyawa-senyawa asetat, seperti Nitril TriasEtat (NTA), Etilena
Diamina TetraAsetat (EDTA);
c. senyawa-senyawa sitrat, seperti asam sitrat.

3. Filler (Bahan Pengisi)

Filler (Bahan Pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak


meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas, contoh Natrium
Sulfat.
4. Additives (Bahan Tambahan)
Additives adalah bahan tambahan untuk pembuatan produk lebih
menarik,

misalnya

pewangi,

pelarut,

pemutih,

pewarna,

tidak

berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen, contoh enzim,


boraks, Natrium Klorida, dan Karboksi Methil Selulosa (CMC).

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, MS.Phd. Diktat Mikrobiologi Industri . Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro : Semarang
Alba, S. Humpey NE and Miks.1973. Biochemical Engineering 2nd. Accademy
Press : New York
Shakhashiri . 2008. Acetic Acid & Acetic Anhydride. General Chemistry.