Anda di halaman 1dari 8

8 Tips Atasi Nyeri Saraf Karena Diabetes

Nyeri saraf karena diabetes disebabkan oleh kerusakan saraf. Kerusakan ini
merupakan efek kadar gula darah yang tinggi serta sirkulasi darah yang kurang baik.
Gejala yang umumnya ditemukan pada diabetes adalah baal pada kaki dan tungkai.
Selain itu, saraf yang rusak juga bisa salah menerjemahkan sinyal. Sentuhan biasa saja
dapat dianggap oleh saraf yang rusak sebagai nyeri. Nyeri yang dirasakan dapat
berupa nyeri terbakar, kesetrum, atau seperti ditusuk-tusuk pada tungkai, lengan, atau
tangan.

Berikut 8 tips untuk mengatasi nyeri saraf yang menganggu ini:


1. Kontrol gula darah.
Hal ini merupakan faktor yang paling penting. Menjaga kadar gula darah dalam
batas normal dapat mencegah kerusakan saraf lebih lanjut.

2. Rawat kaki.
Baal dapat menyebabkan kejadian luka yang tidak disadari. Luka tersebut dapat
terinfeksi yang sulit sembuh.
a. Jaga kebersihan kaki dan periksa setiap hari.
b. Gunakan sepatu yang nyaman.
c. Gunakan kaus kaki dengan pelapus pada bagian depan dan tumit kaki.
d. Potong kuku kaki lurus.

3. Jalan kaki teratur.


Olahraga memperbaiki aliran darah ke saraf di tungkai dan kaki sehingga dapat
memperbaiki saraf yang rusak. Olahraga juga menolong mengurangi kadar gula
darah secara umum dan meningkatkan ambang nyeri saraf.

4. Mandi air hangat.


Air hangat membantu aliran darah ke kulit tungkai dan kaki.

5. Konsumsi vitamin B kompleks.


Vitamin B (B1, B12, B6, dan asam folat) penting untuk kesehatan saraf.
Konsumsi vitamin B1 25 miligram, B2 200 mikrogram, B6 25 miligram, dan
asam folat 1 miligram setiap hari.

6. Gunakan obat anti nyeri bila perlu.

7. Gunakan krim capsaicin untuk mengurangi nyeri saraf.

8. Kurangi konsumsi alkohol


Jika Anda terbiasa meminum minuman beralkohol, kurangi menjadi maksimal 4
kali per minggu. Atau lebih baik, berhenti sekalian mengkonsumsi minuman
beralkohol.

Diskusikanlah dengan dokter Anda bila akan mencoba aktivitas baru atau
mengkonsumsi suplemen baru. Ingatlah bahwa hal yang paling penting dalam
menangani nyeri saraf ini adalah mempertahankan gula darah dalam batas normal.
Karena itu, minumlah obat secara teratur dan perbaiki gaya hidup serta kontrol ke
dokter.

7 Tips Mengurangi Risiko Komplikasi Diabetes

Diabetes menduduki peringkat kelima sebagai penyebab kematian tertinggi di seluruh


dunia.
Sebagian besar komplikasi diabetes cukup parah dan dapat memengaruhi kualitas
hidup.
Beberapa komplikasi diabetes yang utama adalah penyakit jantung koroner, penyakit
cerebrovascular, retinopathy, nephropathy, dan neuropathy.
Pasien diabetes jarang ada yang meninggal karena diabetes itu sendiri, melainkan
lebih sering meninggal akibat komplikasi diabetes.
Jadi, setelah seseorang didiagnosis diabetes, sebaiknya berusaha mencegah terjadinya
komplikasi diabetes.
Berikut tips mencegah terjadinya komplikasi diabetes:
1. Mengendalikan kadar glukosa darah
Uji klinis yang dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan bahwa pasien
dengan kadar glukosa lebih rendah memiliki komplikasi diabetes yang lebih sedikit
daripada pasien yang memiliki kadar glukosa lebih tinggi.
Untuk memngendalikan kadar glukosa darah, pasien harus terus memantau glukosa
darahnya dengan alat pemantau glukosa darah.
Pada beberapa pasien, modifikasi gaya hidup melalui diet dan olahraga cukup untuk
menurunkan kadar glukosa darah.
Tapi, banyak juga pasien diabetes yang harus menggunakan insulin untuk menurunkan
kadar glukosa darahnya.

Saat ini, sudah ada alat yang tidak hanya berfungsi memantau kadar glukosa darah,
tetapi juga mampu mengatur insulin ke dalam aliran darah.
Alat ini lebih mahal daripada pompa insulin dan diabetes meter yang standar. Tapi,
alat ini terbukti mampu mengatur kadar glukosa darah dengan sangat efektif.
2. Berhenti merokok
Studi menunjukkan bahwa penderita diabetes yang merokok akan mengalami
peningkatan risiko mengalami komplikasi diabetes, termasuk penyakit jantung dan
amputasi kaki.
3. Periksa kaki setiap hari
Neuropati diabetes merupakan kerusakan saraf yang terjadi pada penderita diabetes
dan bisa mengakibatkan berbagai komplikasi pada kaki, yang pada akhirnya bisa
menyebabkan amputasi kaki.
Penderita diabetes harus memeriksa tanda-tanda kerusakan kulit, bisul, atau lecet pada
kaki. Area kulit diantara jari kaki juga harus diperhatikan.
Pada pemeriksaan kesehatan tahunan, dokter akan memeriksa apakah sensasi di kaki
penderita diabetes masih pada tingkat normal atau tidak. Penderita diabetes sebaiknya
menghindari kegiatan yang bisa merusak kaki.
4. Melakukan pemeriksaan mata
Penderita diabetes harus memeriksakan mata secara teratur untuk mendeteksi lebih
dini adanya retinopati diabetes. Jika retinopati bisa terdeteksi secara dini dan
mendapatkan pengawasan yang ketat, maka penanganan bisa dilakukan
dengan efektif.
Sebaliknya, jika retinopati baru terdeteksi pada tahap lanjut, ujungnya bisa
mengakibatkan kehilangan penglihatan dan kebutaan.
5. Melakukan pemeriksaan urin
Diabetes dapat menyebabkan nefropati atau gagal ginjal. Oleh kerena itu, penderita
diabetes harus melakukan pemeriksaan urin secara rutin untuk memeriksa apakah
kadar protein (albumin) dalam urin masih normal atau tidak.
Uji klinis menunjukkan bahwa penggunaan obat untuk tekanan darah seperti
penghambat reseptor angiotensin atau ACE inhibitor memiliki efek pencegahan
terhadap terjadinya penyakit ginjal pada pasien diabetes.

6. Gunakan obat untuk mengontrol tekanan darah


Pasien diabetes harus menggunakan obat pengontrol tekanan darah jika tekanan
darahnya sudah melebihi 130/80. Hipertensi pada pasien diabetes dapat meningkatkan
risiko penyakit kardiovaskuler, retinopati diabetik, dan nefropati.
Pasien diabetes harus memeriksakan kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah.
Jika kadar kolesterol dan trigliserida terlalu tinggi, maka pasien diabetes harus
mengubah diet harian mereka dan meminum obat penurun kolesterol, seperti statin.
Pasien diabetes juga bisa menanyakan pada dokter tentang penggunaan aspirin. The
American Diabetes Association merekomendasikan penggunaan aspirin utnuk pasien
diabetes yang berusia 40 tahun atau lebih setiap hari.
7. Mengunjungi dokter secara teratur
Mengunjungi dokter secara teratur akan memungkinkan deteksi dini dan pencegahan
komplikasi diabetes.
Jadwal pemeriksaan kesehatan biasanya ditetapkan berdasarkan lamanya
menderita diabetes dan perkembangan kompliksai diabetes, sehingga jadwal masingmasing pasien diabetes akan berbeda.

4 Tips Mencegah & Memperlambat Kerusakan Ginjal

Penderita diabetes yang sudah lama, biasanya akan mengalami berbagai komplikasi.
Salah satu komplikasi diabetes yang sering muncul adalah kerusakan ginjal.
Secara umum, kerusakan ginjal terjadi setelah 15-25 tahun, dan jarang terjadi dalam 10 tahun
pertama diabetes.
Seseorang yang mengalami kerusakan ginjal karena diabetes pada awalnya akan mengalami
kebocoran protein darah (albumin) dalam jumlah kecil melalui urin.
Tahap pertama disebut mikroalbuminuria CKD (Chronic Kidney Disease). Fungsi
penyaringan ginjal biasanya tetap normal selama periode ini.
Selang beberapa tahun kemudian, akibat progres dari penyakit, kebocoran albumin dalam
urin akan lebih banyak. Tahap ini disebut macroalbuminuria atau proteinuria.
Seiring jumlah albumin yang meningkat dalam urin, fungsi penyaringan ginjal biasanya
mulai menurun. Akibat dari kerusakan ginjal yang semakin parah, tekanan darah akan ikut
naik.
Tips Mencegah dan Memperlambat Kerusakan Ginjal

Berikut adalah 4 tips yang bisa dilakukan untuk mencegah dan memperlambat kerusakan
ginjal:
1. Obat Tekanan Darah
Para ilmuwan telah membuat kemajuan besar dalam pengembangan metode yang
memperlambat onset dan progres penyakit ginjal pada penderita diabetes.
Obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah dapat memperlambat perkembangan
penyakit ginjal secara signifikan.

Dua jenis obat, angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin receptor
blocker (ARB), telah terbukti efektif dalam memperlambat perkembangan penyakit ginjal.
Beberapa orang mungkin memerlukan dua atau lebih obat untuk mengontrol tekanan darah
mereka. Selain penghambat ACE atau ARB, obat diuretik juga dapat berguna.
Beta blockers, calcium channel blockers, dan obat-obatan tekanan darah lainnya mungkin
diperlukan juga.
Contoh dari ACE inhibitor efektif adalah lisinopril (Prinivil, Zestril). Dokter biasanya
memberikan resep ini untuk mengobati penyakit ginjal yang terjadi karena diabetes.
Selain untuk menurunkan tekanan darah, lisinopril juga dapat melindungi glomerulus ginjal,
sedangkan ACE inhibitor berfungsi menurunkan proteinuria dan memperlambat penurunan
fungsi ginjal.
Contoh dari ARB efektif adalah losartan (Cozaar), yang berguna untuk melindungi fungsi
ginjal dan menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.
2. Diet Rendah Protein
Pada penderita diabetes dan gagal ginjal, konsumsi protein yang berlebihan akan berbahaya.
Para ahli merekomendasikan penderita gagal ginjal harus mengonsumsi protein sesuai dengan
diet yang direkomendasikan dan sebaiknya menghindari diet tinggi protein.
Untuk orang dengan fungsi ginjal yang sudah sangat berkurang, diet rendah protein dapat
membantu menunda gagal ginjal.
Namun, siapapun yang melakukan diet rendah protein harus berkonsultasi dengan ahli gizi
untuk memastikan nutrisi yang cukup.
3. Manajemen Intensif Glukosa Darah
Obat anti hipertensi dan diet rendah protein dapat memperlambat munculnya CKD. Alternatif
pengobatan ketiga dikenal sebagai manajemen intensif glukosa darah atau kontrol glikemik.
Metode ini cukup menjanjikan bagi penderita diabetes, terutama bagi mereka yang berada
pada tahap awal CKD.
Tubuh manusia yang normal akan mengonversi makanan menjadi glukosa, gula sederhana
yang merupakan sumber utama energi untuk sel-sel tubuh.
Untuk masuk ke dalam sel, glukosa memerlukan bantuan insulin, hormon yang diproduksi
oleh pankreas.

Ketika seseorang tidak cukup memproduksi insulin atau tubuh tidak merespon insulin yang
ada, maka tubuh tidak dapat memroses glukosa, sehingga akan menumpuk dalam aliran
darah. Tingginya kadar glukosa akan mengakibatkan terjadinya diabetes.
Manajemen intensif glukosa darah adalah pengobatan yang bertujuan untuk menjaga kadar
glukosa darah mendekati normal.
Hal ini mencakup cek glukosa darah secara rutin, menggunakan insulin berdasarkan asupan
makanan dan aktivitas fisik, mengikuti diet, melakukan aktivitas fisik, dan berkonsultasi
dengan tim perawatan kesehatan secara teratur.
Beberapa orang menggunakan pompa insulin untuk menyuplai insulin sepanjang hari.
Sejumlah penelitian telah menunjukkan efek menguntungkan pengelolaan intensif glukosa
darah.
Penelitian yang dilakukan selama beberapa dekade terakhir telah menetapkan bahwa program
apapun yang berfungsi dalam menurunkan kadar glukosa darah akan bermanfaat bagi pasien
yang berada pada tahap awal CKD.
4. Dialisis dan Transplantasi
Penderita diabetes yang mengalami gagal ginjal harus menjalani dialisis atau bisa saja
melakukan transplantasi ginjal.
Pada tahun 1970-an, dokter umumnya enggan merekomendasikan penderita diabetes untuk
melakukan dialisis maupun transplantasi, karena mereka merasa kerusakan yang disebabkan
oleh diabetes akan mengurangi manfaat dari perawatan ini.
Saat ini, karena kontrol dan tingkat ketahanan hidup yang lebih baik setelah pengobatan
diabetes, dokter tidak lagi ragu untuk menawarkan dialisis maupun transplantasi ginjal bagi
penderita diabetes.
Saat ini, tingkat harapan hidup transplantasi ginjal yang dilakukan pada penderita diabetes
hasilnya sama dengan tingkat harapan hidup transplantasi ginjal pada orang tanpa diabetes.

Anda mungkin juga menyukai