Anda di halaman 1dari 6

6 Tips Mengontrol Kadar Gula Darah dengan Diet

Gula darah tinggi yang juga dikenal sebagai hiperglikemia merupakan ancaman bagi
kesehatan yang sangat serius.
Seseorang yang bermasalah dengan kadar gula darah yang tinggi rentan terhadap
masalah ginjal, penyakit jantung, dan penyakit lainnya.
Gula darah tinggi bisa dikontrol dengan melakukan perubahan pada diet harian.
Perubahan diet akan membantu mencegah kadar gula darah semakin tinggi di luar
kendali.
Berikut tips mengontrol kadar gula darah dengan diet:
1. Gantilah jus, soda, soft drink, atau minuman lain yang mengandung kadar
gula tinggi dengan air putih.
Dengan lebih banyak minum air putih dibandingkan minuman manis yang
mengandung banyak gula, ini akan membantu membatasi asupan gula sepanjang hari.
Minum lebih banyak air putih juga dapat membantu mengelola berat badan dan tetap
merehidrasi tubuh. Paling tidak setiap hari Anda harus minum 8 gelas air.
2. Belajar mengontrol porsi makan.
Salah satu penyebab tingginya kadar gula darah adalah karena terlalu banyak makanan
yang dikonsumsi setiap harinya.
Hindari makan malam secara berlebihan, makanlah dalam porsi kecil.Makanlah snack
yang sehat seperti buah atau sayuran diantara waktu makan.
Kondisi dan kadar gula darah setiap orang berbeda, oleh karena itu disarankan untuk
berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi mengenai berapa banyak makanan yang
harus dikonsumsi dalam sehari.
3. Tambahkan makanan yang tinggi serat untuk diet.
Sereal gandum utuh dan roti merupakan makanan yang kaya serat sama halnya seperti
sayuran.

Makanan tersebut bisa menjaga kadar gula darah agar tidak terlalu tinggi dan
membuat lebih cepat kenyang, sehingga membantu juga dalam mengontrol porsi
makan.
4. Makanlah karbohidrat yang sehat.
Banyak orang yang memiliki kadar gula tinggi percaya bahwa mereka harus
menghindari karbohidrat sama sekali.
Namun, tidak mendapat asupan karbohidrat sama sekali akan membuat kadar gula
darah menurun secara drastis dan bisa menyebabkan kehilangan kesadaran atau
pingsan.
Karbohidrat yang sehat, seperti pasta gandum dan buah-buahan merupakan pilihan
yang baik bagi seseorang yang sedang mengontrol kadar gula darahnya.
Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan jumlah yang tepat
yang harus dikonsumsi setiap harinya.
5. Batasi konsumsi lemak.
Makanan yang tinggi akan lemak dan kalori bisa meningkatkan kadar gula darah dan
resiko terkena penyakit jantung.
Kacang-kacangan, olive oil (minyak zaitun), dan lemak tak jenuh lainnya merupakan
pilihan yang lebih sehat. Makanlah makanan yang mengandung lemak dalam jumlah
yang moderat.
6. Pilihlah makanan yang rendah kolesterol.
Sama halnya seperti makanan tinggi lemak, makanan yang tinggi kolesterol bisa
meningkatkan kadar gulah darah dan resiko terkena penyakit jantung. Makanlah
daging yang rendah lemak dan pilihlah susu skim daripada susu yang lain.

Perawatan Kaki Penderita Diabetes dengan Ballooning atau Stent


Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang merupakan
problem kesehatan masyarakat di Indonesia terutama di kota-kota besar,
yang meningkat disertai perubahan pola hidup masyarakat. Jika tidak dikelola
dengan baik DM dapat mengakibatkan komplikasi kronik, baik kompikasi
pembuluh darah kecil yang dapat mengenai mata dan ginjal, maupun
komplikasipembuluh darah besar yang terutama mengenai pembuluh darah
jantung, otak, dan pembuluh darah tungkai bawah.
Penyebab terbanyak penyakit sumbatan pada pembuluh darah pada usia
diatas 40 tahun adalah atherosclerosis (kekakuan pembuluh darah akibat
timbunan lemak seiring bertambahnya usia). Awal gangguan pembuluh darah
tepi ditandai oleh beberapa gejala, seperti nyeri ketika berjalan, perasaan
baal, kesemutan, terasa dingin padahal suhu kaki hangat, hingga neuropathi/
tidak merasakan apa-apa sama sekali.
Pemeriksaan fisik yang terpenting pada penyakit di pembuluh darah tepi,
adalah penurunan atau hilangnya perabaan nadi padaujung jari kaki,
terdengar getaran pada daerah arteri yang menyempit dan atrofi otot
(mengecil). Jika lebih berat dapat terjadi bulu rontok, kuku menebal, kulit
menjadi licin dan mengkilap, suhu kulit menurun, pucat/ sianosis merupakan
penemuan fisik yang tersering. Kemudian dapat terjadi gangrene (luka
menahun, jaringan mati) dan ulkus (luka). Jika tungkai diangkat/ elevasi dan
dilipat, pada daerah betis dan telapak kaki, akan menjadi pucat.

Secara garis besar faktor yang


berpengaruh terhadap tingkat kejadian
penyulit DM dapat dibagi menjadi:
faktor genetik, faktor vascular
(pembuluh darah) dan faktor metabolik
(faktor glukosa darah dan metabolik
lain yang abnormal).
Bila dibiarkan, gangguan pembuluh darah tepi dapat menyebabkangangrene.
Dari beberapa pusat penelitian di Indonesia rerata lama perawatan ulkus/
gangrene diabetes adalah 28-40 hari.
Prevalensi/ kaitannya penyakit atherosclerosis perifer(kekakuan pembuluh
darah tepi) meningkat pada kasus penderita diabetes mellitus, kolesterol
tinggi, hipertensi, perokok dan penyakit sumbatan pada pembuluh darah.
Kaki Diabetes
Diperkirakan sebanyak 15% pada pasien DM akan mengalami persoalan kaki suatu
saat dalam kehidupannya bersama DM. Keberhasilan pengelolaan luka diabetes
berkisar antara 57-94%, bergantung pada besarnya luka tersebut. Kebanyakan pasien,
sedikit atau pun banyak kemudian akan memerlukan tindakan bedah dari yang kecil
sampai amputasi.
Banyak faktor terkait saling berpengaruh pada timbulnya ulkus/ gangrene diabetes
antaranya, yang dianggap terpenting adalah neuropathi, infeksi, dan kelainan
pembuluh darah. Demikian pula faktor pembuluh darah, dipengaruhi oleh tekanan
darah, pengendalian glukosa darah, umur dan derajat kegiatan kegiatan jasmani.
Sedangkan faktor infeksi dipengaruhi oleh respons imun pasien dan jenis kuman. Di
klinik, dengan dilakukannya penyuluhan dan pendekatan terpadu kasus kaki diabetes,
angka kematian dan laju amputasi para pasien kaki diabetes dapat diturunkan sampai
50% dibandingkan sebelumnya.

Kaki diabetik merupakan komplikasi diabetes yang paling ditakuti para penyandang
diabetes akibat tingginya resiko terjadinya amputasi yang dapat mengancam jiwa. Bila
luka kaki ditangani dengan baik dapat mencegah infeksi, sehingga risiko amputasi
bisa dihindari. Disarankan penderita diabetes yang mengalami luka pada kaki untuk
segera membersihkan luka menggunakan air steril, lalu membubuhkan obat luka
sebagai tindakan pencegahan. Tingginya kadar gula dalam darah penyandang diabetes
merupakan sarana bagi kuman dan dapat menyebabkan memburuknya infeksi
tersebut. Saat ini dunia kedokteran telah melakukan upaya-upaya penyembuhan luka
(wound healing) sehingga menurunkan resiko amputasi sampai 85%.
Upaya perawatan kaki diabetik harus dilakukan secara multidisiplin, yang
membutuhkan kerjasama dengan beberapa ahli atau spesialis, seperti bidang
endokrinologi, mikrobiologi, bedah vaskular, radiologi, rehabilitasi, orthosis (kaki
palsu), bedah plastik, bedah tulang serta psikologi. Angka amputasi pada penyandang
diabetes 15 kali lebih besar dibandingkan yang bukan penyandang. Beberapa tindakan
medis yang bisa dilakukan untuk menekan kemungkinan amputasi kaki diabetik,
termasuk tindakan endovaskuler dan by pass.
Kaki diabetik disebabkan sumbatan pada pembuluh darah yang menyuplai darah ke
kaki. Karenanya, penanganan kaki diabetik meliputi upaya membuka sumbatan itu.
Hal itu bisa dilakukan dengan metode ballooning atau mengembangkan pembuluh
yang tersumbat dengan balon khusus seperti layaknya pada operasi membuka
sumbatan pembuluh darah jantung. Jika pembuluh tersebut dirasa tidak cukup kuat
setelah ballooning, akan dilakukan pemasangan ring untuk memperlancar aliran
darah.Sirkulasi darah yang buruk jelas akan semakin memperparah luka yang ada.
Dengan tindakan balloning maka salah satu masalah yang menghambat proses
penyembuhan luka pada kaki diabetis dapat diperbaiki. Bila aliran darah sudah mulai
lancar, luka basah pada diabetesganggreneakan mengering dan tertutup.Disarankan
penyandang diabetes yang mengalami luka pada kaki untuk segera membersihkan
luka menggunakan air steril, lalu membubuhkan obat luka sebagai tindakan
pencegahan sebelum observasi lebih lanjut. "Kalau lukanya kering berarti ringan. Tapi
kalau tidak,sebaiknya langsung ke dokter.

Penanganan luka secara dini bisa mengurangi kemungkinan kaki penderita DM harus
diamputasi. Di masa datang akan semakin rendah angka amputasi dengan adanya
kemajuan di bidangkateterisasi pembuluh darah. Bagi penyandang diabetes kami
menyarankan untuk selalu melakukan kontrol rutin ke dokter. Jangan memakai sepatu
yang sempit, bertumit tinggi, ujung sepatu runcing ke depan, serta menerapkan pola
hidup sehat.
Artikel ditulis oleh : Dr Ronald Winardi Kartika, Sp.BTKV,FIHA Bagian Bedah
Jantung Paru dan Pembuluh Darah RS Husada

Anda mungkin juga menyukai