Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH TOKSIKOLOGI

BAHAYA RHODAMIN B PADA MAKANAN

PENYUSUN :
Oktaviana P N

(G1F011052)

Ellisa Mahardhika

(G1F014034)

Ristra Putri A

(G1F014038)

Ainul Mardziyati A (G1F014042)


Siskha Novi N

(G1F014046)

Puspa Juanega S

(G1F014066)

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN


JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2015

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Rhodamine B termasuk salah satu zat pewarna yang dinyatakan sebagai
zat pewarna berbahaya dan dilarang digunakan pada produk pangan. Namun
demikian, Rhodamine B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering terjadi
di lapangan. Para pedagang makanan menggunakan zat pewarna tekstil tersebut
karena faktor keuntungan, dengan biaya yang murah mereka akan mendapat
keuntungan yang lebih. Meskipun, makanan tersebut berdampak buruk bagi orang
lain.
Di Indonesia banyak terjadi permasalahan konsumen pada bidang pangan
khususnya, Diantaranya adalah kasus kasus tentang masalah penyalahgunaan
bahan berbahaya pada produk pangan ataupun bahan yang diperbolehkan tetapi
melebihi

batas

yang

telah

ditentukan.

Para

produsen

biasanya

lebih

mangutamakan keuntungan yang didapat daripada memperhatikan kebaikan


produk makanan yang mereka jual bagi kesehatan. Banyak faktor yang dapat
menunjang nilai jual suatu produk makanan. Tidak hanya faktor cita rasa, faktor
warna juga sangat penting guna menunjang daya jual produk makanan. Selain
menambah mutu makanan, warna juga menambah rasa ketertarikan konsumen
pada makanan tersebut. Oleh karena itu, tidak sedikit para produsen yang
meningkatkan mutu produk makanan mereka melalui ketajaman warna yang
menarik selain rasa yang lezat. Disamping kemudahan atau keuntungan yang kita
dapatkan dari penggunaan zat pewarna sintetik tentu saja pewarna tersebut tidak
baik bagi kesehatan. Zat pewarna sintetik tersebut dapat mengganggu kesehatan
bahkan menimbulkan penyakit.
Salah satu contoh bahan kimia berbahaya yang digunakan produsen
makanan yang perlu diwaspadai konsumen adalah zat pewarna merah rhodamin
B. Berdasarkan hasil penelitian banyak ditemukan zat pewarna rhodamin B pada
produk industri rumah tangga. Rhodamin B adalah bahan kimia yang digunakan
untuk pewarna merah pada industri tekstil plastik dan kain. Kelebihan dosis
rhodamin B bisa menyebabkan kanker, keracunan, iritasi paru-paru, mata,
tenggorokan, hidung, dan usus. Penggunaan rhodamin B dalam pangan tentunya

berbahaya bagi kesehatan. Adanya produsen pangan yang masih menggunakan


rhodamin B pada produknya mungkin dapat disebabkan oleh pengetahuan yang
tidak memadai mengenai bahaya penggunaan bahan kimia tersebut pada
kesehatan dan juga karena tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah.
Selain itu, rhodamin B sering digunakan sebagai pewarna makanan karena
harganya relatif lebih murah daripadapewarna sintetis untukpangan, warnayang
dihasilkan lebih menarik dan tingkat stabilitas warnanya lebih baik daripada
pewarna alami

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Definisi Rhodamin B
Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang berasal dari metanlinilat dan
dipanel alanin yang berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah
keunguan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah
terang pada konsentrasi rendah.
Rhodamin B adalah salah satu zat pewarna sintetis yang biasa digunakan
pada industri tekstil dan kertas. Zat ini ditetapkan sebagai zat yang dilarang
penggunaannya pada makanan melalui Menteri Kesehatan (Permenkes)
No.239/Menkes/Per/V/85. Namun penggunaan Rhodamin dalam makanan masih
terdapat di lapangan. Rhodamin B ini juga adalah bahan kimia yang digunakan
sebagai bahan pewarna dasar dalam tekstil dan kertas.
Rhodamin B memiliki nama lain, di antaranya acid butirat pink B. ADC
rhodamin B, brilliant pink B, calcozine rhodamin BL, aizen rhodamin BH, aizen
rhodamin BHC, akiriku rhodamin B, calcozine rhodamin BX, calcozin rhodamin
BXP, cerise toner, certiqual rhodamin, cogilor red 321.10, cosmetic briliant pink
bluish D conc, edicol supra rose B, elcozine rhodamin B, geranium lake N,
hexacol rhodamin B extra, rheonin B, symulex magenta, takaoka rhodamin B,
tetraetil rhodamin.
Rumus Molekul dari Rhodamin B adalah C 28H31N2O3Cl dengan berat
molekul sebesar 479.000. Zat yang sangat dilarang penggunaannya dalam
makanan ini berbentuk kristal hijau atau serbuk ungu kemerah-merahan, sangat
larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru-biruan dan
berfluorensi kuat. Rhodamin B juga merupakan zat yang larut dalam alkohol,
HCl, dan NaOH, selain dalam air. Di dalam laboratorium, zat tersebut digunakan
sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th dan titik leburnya
pada suhu 1650C.

B.

Ciri-Ciri Makanan yang Mengandung Rhodamin B

Efek berbahaya dari rhodamin B memang tidak muncul seketika setelah


pemaparan, namun pengonsumsian dalam jangka panjang/berulang-ulang dapat
menyebabkan senyawa tersebut terakumulasi dalam tubuh. Efeknya tergantung
daerah yang terpapar paling banyak, misalnya iritasi saluran cerna, iritasi kulit,
iritasi pada mata, keracunan, kanker, gangguan fungsi hati, jika terhirup
menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan. Selain itu, kumulasi rhodamin B
dalam tubuh menyebabkan penumpukan lemak, jika terus terjadi lemak tubuh
semakin bertambah banyak. Dampaknya baru terasa setelah beberapa tahun,
bahkan puluhan tahun kemudian.
Oleh karena itu perlu diketahui ciri-ciri makanan yang mengandung
rhodamin B sehingga dapat mencegah terpaparnya senyawa ini. Ciri-ciri makanan
yang kemungkinan mengandung rhodamin B :
- Warna terlihat sangat cerah, biasanya merah terang/mencolok. Pewarna alami
biasanya lebih redup, kurang menarik, tidak stabil, dsb.
- Memberikan rasa pahit.
- Harga terlalu murah (tidak rasional)
- Warna tidak pudar akibat pemanasan (akibat digoreng atau direbus).
- Banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada
kerupuk, es puter).
- Bau makanan tidak alami atau tidak sesuai dengan jenisnya.
C.

Gejala yang Timbul terkena rhodamin B


Penggunaan zat pewarna ini dilarang karena rhodamine B termasuk
karsinogen yang kuat. Efek negatif lainnya adalah menyebabkan gangguan fungsi
hati atau bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati (Syah et al. 2005).
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa zat pewarna tersebut memang
berbahaya bila digunakan pada makanan. Hasil suatu penelitian menyebutkan
bahwa pada uji terhadap mencit, rhodamine B menyebabkan terjadinya perubahan
sel hati dari normal menjadi nekrosis dan jaringan di sekitarnya mengalami
disintegrasi. Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan adanya piknotik (sel

yang melakukan pinositosis) dan hiperkromatik dari nukleus, degenerasi lemak


dan sitolisis dari sitoplasma.
Secara kimia adanya ikatan dengan klorin (-Cl) pada struktur molekulnya
menyebabkan rhodamin B berbahaya jika dikonsumsi. Hal ini dikarenakan klorin
merupakan senyawa anorganik sangat reaktif, toksik, dan bersifat karsinogenik
(memicu kanker).
Mekanisme dari rhodamin b termasuk mekanisme intrasel dikarenakan
terjadi dalam sel.Dilihat dari efek yang terjadi yaitu memicu kanker yang
disebabkan adanya ikatan klorin sehingga efek rhodamin b dapat dikatakan efek
tak terbalikkan. Efek tak terbalikkan dapat dilihat dari ada tidaknya reaksi kimia
senyawa toksik (rhodamin b) dalam tubuh dangangguan fungsional organ tubuh.
Bahaya rhodamin B seperti menyebabkan iritasi bila terkena mata,
menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit hampir mirip dengan
sifat dari Klorin yang seperti disebutkan di atas berikatan dalam struktur rhodamin
B. Ganguan fungsi hati atau kanker hati. Rhodamin B bisa menumpuk dilemak
sehingga lama lama jumlahnya akan terus bertambah. Rhodamin B bisa memicu
kanker jika di produksi tahunan.
Ditemukannya bahaya yang sama antara Rhodamin B dan Klorin membuat
adanya kesimpulan bahwa atom Klorin yang ada pada rhodamin B yang
menyebabkan terjadinya efek toksik bila masuk ke dalam tubuh manusia. Atom Cl
yang ada sendiri adalah termasuk dalam halogen, dan sifat halogen yang berada
dalam senyawa organik akan menyebabkan toksik dan karsinogen.
Penyebab lain senyawa ini begitu berbahaya jika dikonsumsi adalah
senyawa tersebut adalah senyawa yang radikal. Senyawa radikal adalah senyawa
yang tidak stabil. Dalam struktur rhodamin B kita ketahui mengandung klorin
(senyawa halogen), sifat halogen adalah mudah bereaksi atau memiliki reaktivitas
yang tinggi maka dengan demikian senyawa tersebut karena merupakan senyawa
yang radikal akan berusaha mencapai kestabilan dalam tubuh dengan berikatan
dengan senyawa-senyawa dalam tubuh kita sehingga pada akhirnya akan memicu
kanker pada manusia.

Rhodamin B memiliki toksisitas yang rendah, namun pengkonsumsian


dalam jumlah yang besar maupun berulang-ulang dapat mengakibatkan dampak
negatif bagi tubuh, antara lain :
Sifat kumulatif yaitu iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit, iritasi pada mata,
iritasi pada saluran pencernaan, keracunan, dan gangguan hati/liver.
Jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Dampak yang terjadi
dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata,
iritasi saluran pencernaan dan bahaya kanker hati Jika terkena mata dapat
menimbulkan iritasi pada mata, mata kemerahan, pada kelopak mata.
Jika tertelan dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan dan air seni akan
berwarna merah atau merah muda. Penyebarannya dapat menyebabkan gangguan
fungsi hati dan kanker hati.
Jika sudah masuk dalam tubuh kita dia akan mengendap pada jarigan hati dan
lemak,tidak dapat di keluarkan. dalam jangka waktu lama bisa bersifat
karsinogenik (penyebab kanker).
Bila dikonsumsi bisa menyebabkan gangguan pada fungsi hati, bahkan kanker
hati. Bila mengonsumsi makanan yang mengandung rhodamin B, dalam tubuh
akan terjadi penumpukan lemak, sehingga lama-kelamaan jumlahnya terus
bertambah. Dampaknya baru akan kelihatan setelah puluhan tahun kemudian.
D.

Cara Menangani Apabila Terpapar Rhodamin B


a.Bila terkena kulit, lepaskan pakaian perhiasan, sepatu penderita yang
terkontaminasi/terkena rhodamin B. Cuci kulit dengan sabun dan air mengalir
sampai bersih dari rhodamin B, selama kurang lebih 15 s/d 20 menit, bila perlu
hubungi dokter.
b. Bila terkena mata, bilas dengan air mengalir atau larutan garam fisiologis, mata
dikedip-kedipkan sampai dipastikan sisa Rhodamin B sudah tidak ada lagi/bersih,
bila perlu hubungi dokter.
c. Bila terhirup segera pidahkan korban dari lokasi kejadian, pasang masker
berkatup atau perlatan sejenis untuk melakukan pernapasan buatan, bila perlu
hubungi dokter.

d. Bila tertelan dan terjadi muntah, letakkan posisi kepala lebih rendah dari
pinggul untuk mencegah terjadinya muntahan masuk ke saluran pernafasan.
e. Bila korban tidak sadar, miringkan kepala ke samping atau ke satu sisi, bila
perlu hubungi dokter.

Batas kadar maksimum menurut BPOM, Rhodamin B dilarang

NAMA BAHAN

BATAS
KETERANGAN
KADAR
MAXIMUM
Formaldehyde
0,2%
Biasanyadigunakansebag
(kecual
aipengawetpadaproduk
iuntuks
cat kuku, pengawet kuku
ediaan
danprodukkosmetiklainn
hygiene
ya.
mulut)
Umumnyadapatmenimb
0,1%
ulkanreaksi yang
(untuks
tidakdiinginkanpadakulit
ediaan
.
hygiene
Jangandigunakanpadased
mulut)
iaan aerosol (spray)
Imidazolidinyl Urea
0,6%
Digunakansebagaipenga
wet
Umumnyadapatmenimb
ulkanreaksi yang
tidakdiinginkanpadakulit
Parabens (Metil, Etil,
0,4%
Umumnyadigunakanseb
Butil, Propil, Isobutil)
(dalam
agaipengawet.
bentukt
Dapatmenimbulkaniritas
unggal)
ikulit
0,8%
(dalam
bentukc
ampura
n)
Rodamin B
Dilarang
Digunakansebagaipewar
napadaproduktekstil
Methylisothiazolinone&M 0,0015%
Pengawet
etylkloroisotiazolinone
(denganperban
Dapatmenimbulkanreaks
(Katon CG)
dingan 1:3)
ialergidaniritasi.
Metanil Yellow
Dilarang
Digunakansebagaipewar

napadaproduktekstil
Dapatmenimbulkanefekk
arsinogenik

BAB III
PENUTUP

1.

A. KESIMPULAN
Rhodamin B adalah salah satu zat pewarna sintetis yang biasa digunakan pada

industri tekstil dan kertas.


2. Ciri-ciri makanan yang kemungkinan mengandung rhodamin B :
- Warna terlihat sangat cerah, biasanya merah terang/mencolok. Pewarna alami
biasanya lebih redup, kurang menarik, tidak stabil, dsb.
- Memberikan rasa pahit.
- Harga terlalu murah (tidak rasional)
- Warna tidak pudar akibat pemanasan (akibat digoreng atau direbus).
- Banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada
kerupuk, es puter).
- Bau makanan tidak alami atau tidak sesuai dengan jenisnya.
3. Rhodamin B dapat merusak kesehatan apabila dikonsumsi karena dapat
menyebabkan kanker, keracunan, iritasi paru-paru, mata, tenggorokan, hidung,
dan usus.
4. Cara menangani apabila terpapar rhodamin B :
a. Bila terkena kulit, lepaskan pakaian perhiasan, sepatu penderita yang
terkontaminasi/terkena rhodamin B. Cuci kulit dengan sabun dan air mengalir
sampai bersih dari rhodamin B, selama kurang lebih 15 s/d 20 menit, bila perlu
hubungi dokter.
b. Bila terkena mata, bilas dengan air mengalir atau larutan garam fisiologis, mata
dikedip-kedipkan sampai dipastikan sisa Rhodamin B sudah tidak ada lagi/bersih,
bila perlu hubungi dokter.
c. Bila terhirup segera pidahkan korban dari lokasi kejadian, pasang masker
berkatup atau perlatan sejenis untuk melakukan pernapasan buatan, bila perlu
hubungi dokter.
d. Bila tertelan dan terjadi muntah, letakkan posisi kepala lebih rendah dari
pinggul untuk mencegah terjadinya muntahan masuk ke saluran pernafasan.
e. Bila korban tidak sadar, miringkan kepala ke samping atau ke satu sisi, bila
perlu hubungi dokter.

Pertanyaan
1.Bagaimana cara mengetahui jika seseorang terpapar oleh rhodamin b ?
2.Dimana tempat penimbunan (metabolisme) rhodamin b jika tertelan ?
3.Apa yang terjadi apabila pembungkus makanan mengandung rhodamin b ?
Jawaban
1. Cara yang harus dilakukan adalah dengan mengenali gejala-gejala awal jika
terpapar rhodamin b seperti mual dan muntah, untuk memastikan bahwa orang
tersebut benar-benar terpapar oleh rhodamin b adalah dengan memeriksakan ke
dokter
2. Pada dasarnya metabolisme yang terjadi utamanya di hati, tetapi tempat
penimbunan dari rhodamin b tergantung dari daerah yang terpapar paling banyak
oleh rhodamin b
3. Jika pembungkus makanan mengandung rhodamin b maka akan berefek toksik,
namun kadar ketoksikan kita perkirakan rendah dikarenakan rhodamin b hanya
menempel pada permukaan makanan

DAFTAR PUSTAKA

Anonim a. 2014. http://catatankimia.com/catatan/rhodamin-b.html.diakses 16 september


2015
Anonim b. 2014. http://apotekerbercerita.wordpress.com/2011/07/02/rhodamin-danpewarna-makanan-berbahaya/ .diakses 16 september 2015
Anonim c. 2014. https://wanibesak.wordpress.com/tag/rhodamin-b/ .diakses 16
september 2015
Anonim d. 2014. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17486/4/Chapter
%20II.pdf.diakses 16 september 2015
Anonim e. 2014. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17486/4/Chapter
%20II.pdf.diakses 16 september 2015
BPOM.2008. Vol. III/No. 9 http://www.pom.go.id/ . Diakses tanggal 16 september 2015
Syah et al. 2005. Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor: Himpunan
Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB