Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

KULTUR JARINGAN TANAMAN


"PEMBUATAN LARUTAN STOK DAN MEDIA VW
(Vacin and Went)"

NOPITA SARI
D1A012072
AGRONOMI H

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kultur jaringan tanaman adalah suatu teknik isolasi bagian-bagian tanaman,
seperti jaringan, organ, ataupun embrio, lalu dikultur pada medium buatan yang steril
sehingga bagian-bagian tanaman tersebut mampu beregenerasi dan berdiferensisi
menjadi tanaman lengkap.
Keberhasilan budidaya jaringan tanaman sangat dipengaruhi oleh media
tanamnya. Selain sebagai tempat tumbuh, media tanam merupakan penyedia unsur hara
dan zat-zat lain yang diperlukan eksplan untuk tumbuh. Seperti halnya dengan tanaman
utuh, jaringan tanaman juga memerlukan unsur hara makro dan unsur hara mikro.
Karena yang ditanam adalah sepotong kecil jaringan atau sekelompok sel, media tanam
haruslah dapat menyediakan bahan-bahan lain yang dapat mendukung pertumbuhan dan
perkembangan jaringan tanaman sehingga tanaman dapat melakukan regenerasi.
Hasil yang lebih baik dapat dijangkau atau diperoleh, bila ke dalam media
tersebut ditambahkan vitamin-vitamin, asam amino solid dan zat pengatur tubuh.
Walaupun sudah diusahakan untuk menghindarkan penggunaan komponen-komponen
yang tidak jelas (komponennya) seperti juice buah-buahan dan tauge, air kelapa, yeast
exstracts dan casein hydrolysate, tetapi kadang-kadang kita bisa memperoleh hasil yang
lebih tinggi dengan penambahan tersebut. Sebagai contoh, air kelapa masih sering
digunakan di laboratorium-laboratorium penelitian, sedangkan pisang masih merupakan
komponen tambahan yang sangat popular pada media anggrek.
Media kultur jaringan merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan
tingkat keberhasilan perbanyakan tanaman secara invitro, dalam hal ini adalah kultur
jaringan. Berbagai formulasi atau komposisi media tanam telah banyak ditemukan
untuk mmengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan.
Media biakan adalah bahan atau campuran bahan yang dapat digunakan untuk
membiakkan mikroorganisme karena memiliki daya dukung yang tinggi terhadap
pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Dalam media semi sintetik selain bahan hasil
pertanian, digunakan pula zat-zat kimia yang komposisinya diketahui dengan tepat.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu diadakan praktikum mengenai cara
pembuatan media kultur jaringan. Hal ini dimaksudkan agar segala hal yang diketahui
tentang kultur jaringan bukan hanya sekedar mengetahui tentang adanya kultur jaringan,
tetapi dapat membuat bibit tanaman melalui kultur jaringan. Agar semua yang diketahui
tentang kultur jaringan bukan sekedar teori, tetapi dapat diaplikasikan dalam praktikum
untuk dijadikan pengabdian kepada masyarakat.

1.2 Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum pembuatan media kultur jaringan ini yaitu untuk
mengetahui sifat dan komposisi pembuatan media, untuk mengetahui teknik aseptic
pembuatan media, untuk mengetahui dan memahami rumus perhitungan larutan stok
dan mengetahui cara pembuatan larutan stok dan media tanam dari stok-stok bahan
kimia terutama untuk media VW (Vacin and Went).
Adapun kegunaannya yaitu sebagai bahan informasi bagi mahasiswa khususnya
mengenai pembuatan media kultur jaringan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Media Tanaman


Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.
Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan
diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan
hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain.
Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya
maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.
Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media
yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf
(Suryowinoto, 1991).
Sebelum membuat media, terlebih dahulu dilakukan pembuatan larutan stok.
Larutan stok dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengambilan bahan-bahan kimia
khususnya yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, tak perlu sering menimbang karena hal
ini kurang praktis. Larutan stok disimpan di dalam lemari pendingin agar tidak mudah
rusak dan mencegah terdegradasinya bahan-bahan kimia oleh mikroba penyebab
kontaminasi. Pembuatan larutan stok harus dilakukan dengan cermat, sebab larutan stok
yang terlalu pekat akan mengalami pengendapan di lemari es, dan larutan stok yang
terkontaminasi tidak boleh digunakan lagi (Anonim2, 2012).
Untuk memenuhi faktor pertumbuhan tanaman, media kultur jaringan yang baik
mengandung (Anonim, 2011) :
1. Hara anorganik
Ada 12 hara mineral yang penting untuk pertumbuhan tanaman dan beberapa
hara yang dilaporkan mempengaruhi pertumbuhan in vitro. Untuk pertumbuhan
normal dalam kultur jaringan, unsur unsur penting ini harus dimasukkan dalam
media kultur.
2. Hara organik
Tanaman yang tumbuh dalam kondisi normal bersifat autotrof dan dapat
mensintesa semua kebutuhan bahan organiknya. Meskipun tanaman in vitro dapat

mensintesa senyawa ini, diperkirakan mereka tidak menghasilkan vitamin dalam


jumlah yang cukup untuk pertumbuhan yang sehat dan satu atau lebih vitamin mesti
ditambahkan ke media. Thiamin merupakan vitamin yang penting, selain itu asam
nikotin, piridoksin dan inositol biasanya ditambahkan. Selain bahan organik tersebut,
bahan kompleks seringkali ditambahkan, termasuk ekstrak ragi, casein hydrolysate,
air kelapa, jus jeruk, jaringan pisang, dan lain lain. Penambahan bahan kompleks
ini menghasilkan media yang tak terdefinisi. Dengan penelitian yang cukup,
semestinya bahan kompleks ini dapat diganti dengan zat tertentu, mungkin tambahan
suatu vitamin atau asam amino.
3. Sumber karbon
Tanaman dalam kultur jaringan tumbuh secara heterotrof dan karena mereka
tidak cukup mensintesa kebutuhan karbonnya, maka sukrosa harus ditambahkan ke
dalam media. Sumber karbon ini menyediakan energi bagi pertumbuhan tanaman dan
juga sebagai bahan pembangun untuk memproduksi molekul yang lebih besar yang
diperlukan untuk tumbuh. Biasanya sukrosa pada konsentrasi 1 5% digunakan
sebagai sumber karbon tapi sumber karbon lain seperti glukosa, maltosa, galaktosa
dan laktosa juga digunakan. Ketika sukrosa diautoklaf, terjadi hidrolisis untuk
menghasilkan glukosa dan fruktosa yang dapat digunakan lebih efisien oleh tanaman
dalam kultur.
4. Agar
Umumnya jaringan dikulturkan pada media padat yang dibuat seperti gel dengan
menggunakan agar atau pengganti agar sperti Gelrite atau Phytagel.Konsentrasi agar
yang digunakan berkisar antara 0.7 1.0%. Pada konsentrasi tinggi agar menjadi
sangat keras, sedikit sekali air yang tersedia, sehingga difusi hara ke tanaman sangat
buruk. Agar dengan kualitas tinggi seperti Difco BiTek mahal harganya tapi lebih
murni, tidak mengandung bahan lain yang mungkin mengganggu pertumbuhan.
5. pH
Media biasanya diatur pada kisaran 5.6 5.8 tapi tanaman yang berbeda
mungkin memerlukan pH yang berbeda untuk pertumbuhan optimum. Jika pH lebih
tinggi dari 6.0, media mungkin menjadi terlalu keras dan jika pH kurang dari 5.2,
agar tidak dapat memadat.
6. Zat Pengatur Tumbuh

Pada media umumnya ditambahkan zat pengatur tumbuh.


7. Air
Distilata biasanya digunakan dalam kultur jaringan, dan banyak lab
menggunakan aquabides (air destilata ganda). Beberapa lab, dengan alasan ekonomi,
menggunakan air hujan, tapi ini menyebabkan sulit mengontrol kandungan bahan
organik dan non-organik pada media.
8. Pemilihan Media
Jika tidak ada informasi awal, biasanya mulai dengan media MS (Murashige dan
Skoog 1962). Media ini mengandung konsentrasi garam dan nitrat yang lebih tinggi
dibandingkan media lain, dan telah sukses digunakan pada berbagai tanaman dikotil.
Untuk inisiasi kalus, 2.4-D ditambahkan ke media dengan konsentrasi 1 5 mgL-1.
Untuk multiplikasi tunas, sitokinin seperti BAP ditambahkan dan juga diberi auksin,
seperti NAA pada konsentrasi yang rendah.Untuk inisiasi akar, IBA pada konsentrasi
1 2 mgL-1 ditambahkan.
Komponen media kultur yang lengkap adalah sebagai berikut :
1. Air destilasi (aquades) atau air bebas ion sebagai pelarut atau solvent
2. Hara-hara makro dan ikro
3. Gula (umumnya sukrosa) sebagai sumber energi
4. Vitamin, asam amino dan bahan organic lain
5. Zat pengatur tumbuh
6. Suplemen berupa bahan-bahan alami
7. Agar-agar atau gelrite sebagai pemadat media

2.2 MediaVacin and Went (VW) (1949)


Media ini dikembangkan khusus untuk kultur anggrek. Tanaman yang ditanam
di kebun dapat tumbuh dengan baik dengan pemupukan yang hanya mengandung N dari
Nitrat. Knudson pada tahun 1922, menemukan penambahan 7.6 mM NH4+ disamping
8.5 mM NO3-, sangat baik untuk perkencambahan dan pertumbuhan biji anggrek.
Penambahan NH4+ ternyata dibutuhkan untuk perkembangan protocorm. Media Nitsch
& Nitsch, menggunakan NO3- dan K+ dengan kadar yang cukup tinggi untuk
mengkulturkan jaringan tanaman artichoke Jerussalem. Penambahan ammonium
khlorida sebanyak 0.1 mM, menghasilkan pertumbuhan jaringan yang menurun.

Pertumbuhan sel dari jaringan suatu organ dibandingkan dengan jaringan tumor
tanaman Venca rosea (Catharanthus roseus), menunjukkan bahwa penambahan
ammonium ke dalam media White yang sudah dimodifikasi, mempunyai pertumbuhan
yang lebih baik. Konsentrasi NO3-, NH4-, K+ dan H2PO4- yang diperoleh, hampir
sama dengan yang dikembangkan oleh Miller.
Seperti halnya peralatan kultur, media yang digunakan juga perlu dilakukan
sterilisasi untuk menciptakan kondisi lingkungan yang aseptic bagi eksplan. Untuk
media kultur yang tidak mengandung bahan-bahan yang Heat-labile, sterilisasi
dilakukan dengan autoklaf pada temperature 121Oc, tekanan antara 15 psi atau 1 atm
dengan waktu antara 20-25 menit tergantung dari volume wadah dan volume media.
Untuk 15-50 ml media dalam tabung reaksi atau botol kecil berukuran 50-100 ml,
sterilisasi dilakukan pada tekanan 15 psi dengan waktu 20 menit.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Pembuatan Media VW ini dilaksanakan pada hari Jum'at tanggal 21
November 2014 pukul 10.00 WIB dan bertempat di Laboratorium Bioteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah gelas ukur, gelas
piala (ukuran 2 L), timbangan digital, hot plate dan termometernya, gelas ukur, stirer,
pH meter, corong, botol kultur, karet dan plastik, dan pipet tetes.
Bahan-bahan yang diperlukan dan digunakan dalam praktikum pembuatan
media antara lain agar-agar, sukrosa, air kelapa dan bahan media VW yang isinya
berupa :
1. (NH4)2NO3
2. KNO3
3. KH2PO4
4. MgSO4 . 7H2O
5. MnSO4 . 4H2O
6. (Ca2)3PO4
7. Fe3-Tartrat

3.3 Prosedur Kerja


1. Pembuatan larutan stok
a. Larutan stok A
1. Menimbang pesenyawaan NH4NO3 sebanyak 37,5 gr
2. Memasukan bahan yang telah ditimbang tersebut ke dalam gelas piala bersih yang
telah berisi aquades atau air bebas ion kurang lebih 250 ml. Selanjutnya
melakukan pengadukan hingga larut merata dengan menggunakan hotplate, jika
berhasil larutan berwarna bening

3. Memindahkan larutan tersebut ke dalam botol dan ditutup dengan plastik dan
diikat dengan karet serta diberi label "A". Selanjutnya menyimpan larutan stok ke
dalam ruangan pendingin.
b. Larutan stok B KNO3 (39,375 gr)
c. Larutan stok C KH2PO4 (75 gr)
d. Larutan stok D merupakan campuran MgSO4 . 7H2O (75 gr) dan MnSO4 . 4H2O
(2,34 gr)
e. Larutan stok E (Ca2)3PO4 (75 gr)
f. Larutan Stok F Fe3-Tartrat
** Untuk langkah kerja larutan stok B, C, D, E dan F hampir sama dengan larutan stok
A hanya berbeda dijumlah senyawa dan pemberian nama label.

2. Pembuatan Medium Kultur VW


a. Menimbang sukrosa (gulaku) sebanyak 30 gr dan agar-agar sebanyak 10,5 gr
b. Menyiapkan gelas piala berukuran 2000 ml (2 liter) lalu dimasukkan sukrosa (30 gr)
dan agar-agar (10,5 gr) serta larutan A (30 ml), larutan B (30 ml), larutan C (7,5
ml), larutan D (7,5 ml), larutan E (7,5 ml) dan Larutan F (7,5 ml)
c. Menambahkan aquades ke dalam gelas piala hingga mencapai volume 1500 ml
(dilebihkan sedikit untuk mengantisipasi larutan yang menguap)
d. Menghomogenkan larutan hingga merata dengan menggunakan Hot Plate dan
Magnetik stirrer dan ditunggu hingga mendidih kemudian diukur pH nya. pH larutan
diukur menggunakan pH meter elektrik hingga mencapai pH yang dibutuhkan yaitu
5,7 5,8. Jika terlalu asam tambahkan NaOH atau KOH 1 M, dan jika terlalu basa
tambahkan HCl 1 M.
e. Selanjutnya larutan tersebut dibagi menjadi 4 bagian dan dimasukkan ke dalam gelas
kimia masing-masing 375 ml (1500 ml : 4 = 375 ml) lalu ditambahkan dengan air
kelapa sesuai dengan perlakuan dan tanpa air kelapa sebagai kontrol.
1. Kontrol ( tanpa ditambahkan air kelapa)
2. 10 % air kelapa (10 % x 375 = 37,5 ml)
3. 20 % air kelapa (20 % x 375 = 75 ml)
4. 30 % air kelapa (30 % x 375 = 112,5 ml)

e. Medium tersebut dituangkan ke dalam botol-botol kultur sesuai dengan perlakuan.


f. Botol kultur ditutup menggunakan plastik dan karet yang telah disterilkan dan diberi
label kemudian disimpan di ruang kultur.

Sterilisasi Media
a. Botol kultur yang sudah berisi medium dimasukkan ke dalam autoclave dengan tekanan
15 - 17,5 psi pada suhu 120 oC selama 20 menit, sampai tiga kali.
b. Botol diangkat dan disimpan dalam ruang inkubasi sampai siap digunakan.
c. Medium siap digunakan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum


a. Pembuatan Larutan Stok
Komposisi Medium Vacin dan Went (VW) (1949) pada pH 5,6 - 5,8
Pemakaian
Stok

Senyawa

per liter stok


Stok

(NH4)2NO3

KNO3

C
D

per liter medium

37,5 gr

30 ml

1125,00 mg

39,375 gr

30 ml

1181,25 mg

KH2PO4

75 gr

7,5 ml

562,50 mg

MgSO4 . 7H2O

75 gr

7,5 ml

562,50 mg

MnSO4 . 4H2O

2,34 gr

17,55 mg

(Ca2)3PO4

75 gr

7,5 ml

562,50 mg

Fe3-Tartrat

4,2 gr

7,5 ml

31,50 mg

Sukrosa

30,00 mg

Agar - agar

10,50 mg

Pembuatan larutan stok


No. Gambar

Keterangan

1.
Senyawa yang digunakan dalam pembuataan
media VW

2.

Proses penimbangan senyawa

3.
Proses pembuatan larutan stok

4.
Larutan stok yang telah selesai dan harus
disimpan di tempat yang dingin (kulkas)

b. Pembuatan Media VW
No. Gambar

Keterangan

1.
Penimbangan sukrosa (gula) sebanyak 30 gram

2.
Penimbangan agar-agar sebanyak 10,5 gram

3.
Memasukkan agar-agar (10,5 gr), sukrosa (30
gr), larutan stok A, B, C, D, E dan F ke dalam
gelas piala ukuran 2 liter lalu ditambahkan
aquades hingga mencapai 1500 ml

4.
Media yang telah mendidih (berwarna bening)

5.
Penambahan air kelapa kemedia VW

6.
Media VW dipindahkan ke botol-botol kultur

7.
Botol kultur ditutup rapat dengan plastik dan
karet lalu disimpan atau disusun di ruang
kultur

4.2 Pembahasan
a. Pembuatan Larutan Stok
Media merupakan suatu bahan yang penting untuk pertumbuhan kultur. Media
untuk pertumbuhan kultur dapat berupa media padat dan media cair. Media padat
biasanya digunakan untuk mengkulturkan kalus kemudian diinduksi menjadi tanaman
lengkap, sedangkan media cair biasanya digunakan untuk kultur sel. Komponen yang
penting dalam suatu media adalah senyawa anorganik, sumber karbon, vitamin, zat
pengatur tumbuh, dan suplemen organik (Yuwono 2008).
Larutan Stok Media merupakan tempat tumbuhnya tanaman. Semua kebutuhan
yang diperlukan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang harus terkandung dalam

media tersebut. Dalam media kultur jaringan (kuljar) telah tersedia unsur makro, unsur
mikro, vitamin, hormon (zat perangsang tumbuh) dan lain-lain. Formula ini memang
memudahkan pekerjaan, tapi untuk suatu penelitian yang memerlukan perubahan
komposisi dalam satu atau beberapa komponen, maka pemisahan komponen-komponen
penyusun media perlu dilakukan. Secara umum kebutuhan nutrisi setiap tanaman sama,
tetapi secara khusus kebutuhannya berbeda. Kesamaannya adalah tanaman memerlukan
hara makro dan mikro, vitamin-vitamin, karbohidrat, asam amino dan N-organik, ZPT,
zat pemadat dan kadang ada penambahan seperti air kelapa, ekstrak ragi, jus tomat,
ekstak kentang, bufer organik maupun arang aktif. Kebutuhan tiap tanaman berbeda
pada hal komposisi dan jumlah yang diperlukan.
Pada praktikum kali ini yaitu pembuatan larutan stok. Diawali dengan
penimbangan media komponen penyusun larutan stok dengan menggunakan timbangan
analitik. Setelah dilakukan penimbangan sesuai dengan kebutuhan yaitu berdasarkan
kepekatan atau konsentrasi yang dinginkan, maka dilakukan proses pelarutan dengan
menggunakan aquades murni yang tidak mengandung ion. Untuk larutan stok yang
terdiri lebih dari satu persenyawaan maka proses pelarutan dilakukan pada tempat yang
berbeda hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya reaksi kimia antara masing-msing
persenyawaan misalnya reaksi penggaraman yang dapat meyebabkan degradasi atau
penurunan dari larutan stok itu sendiri.
Untuk membuat larutan stok A diperlukan (NH4)2NO3 37,5 gr kemudian
memasukkannya ke dalam gelas kimia dan menambahkan akuades sekitar 250 ml,
kemudian sambil diaduk mengunakan magnetic stirrer melarutkannya menggunakan
hot plate. Setelah larutan stok terlarut sempurna, larutan persenyawaan tersebut
dituangkan pada botol yang telah disiapkan dan ditutup rapat kemudian diberi lebel A.
Larutan harus terlarut sempurna agar pada waktu diletakkan dilemari es tidak terjadi
endapan. Biasanya larutan yang sudah mengalami pengendapan, tidak dapat digunakan
lagi. Pengendapan larutan stok umumnya terjadi bila kepekatan dapat dihindari dengan
membuat larutan yang tidak terlalu pekat atau tidak menggunakan larutan campuran,
yaitu dengan membuat satu larutan stok hanya untuk satu jenis bahan (terutama untuk
unsur hara makro). Kondisi simpan juga diperhatikan, karena ada beberapa bahan yang
tidak tahan dalam suhu tinggi atau cahaya. Larutan stok kadang-kadang juga ditumbuhi

oleh mikroorganisme, larutan stok yang terkontaminasi ini tidak dapat digunakan
lagi. Untuk larutan stok yang lain pembuatannya sama dengan larutan A.
Setelah selesai membuat larutan stok, larutan stok yang telah jadi disimpan
pada lemari pendingin secara berurutan (A-F). Botol tersebut (tempat larutan stok)
sebelumnya telah disterilkan. Untuk penggunaannya dalam pembuatan media yaitu
dengan cara mengencerkan larutan stok yang telah dipipet sesuai dengan kebutuhan
dengan menggunakan aquades. Dengan adanya larutan stok dapat memberi keuntungan
antara lain yaitu menghemat waktu pekerjaan, menimbang bahan media setiap kali ingin
membuat media, mengatasi kesulitan menimbang dalam konsentrasi kecil dan
mengurangi kerusakan bahan kimia akibat terlalu sering dibuka dan ditutup. Larutan
stok dalam bentuk cair disimpan di dalam lemari es. Pembuatan larutan stok harus
dilakukan dengan cermat, sebab larutan stok yang terlalu pekat akan mengalami
penendapan di dalam lemari es. Jika terjadi pengendapan, maka sebelum larutan stok
digunakan terlebih dahulu harus dipanaskan.

b. Pembuatan Media VW (Vacin dan Went)


Media kultur jaringan anggrek paling terkenal dan telah menjadi media dasar
cloning anggrek adalah media Vacin and Went (media VW). Media yang
diformulasikan dan diperkenalkan oleh E. Vacin dan F. Went sejak tahun 1949 ini
terdiri dari unsur hara makro dan mikro dalam bentuk garam-garam anorganik dengan
jumlah yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman khususnya anggrek. Komposisi dan
cara membuat media ini seolah telah dan harus menjadi keahlian dasar para praktisi
kultur jaringan anggrek. Sehingga demikian, banyak penelitian yang mempelajari
pengaruh pemberian unsur tambahan ke dalam media VW terhadap pertumbuhan
bahan tanaman (plantlet). Sehingga saat ini, salah satu media kultur jaringan anggrek
yang umum digunakan adalah media Vacin and Went ditambah 1) bahan organik
kompleks (seperti air kelapa dan pisang) dan 2) sumber energi, yaitu karbohidrat
sederhana (seperti sukrosa, glukosa dan fruktosa). Selain itu, untuk media padat
ditambahkan agar-agar dan charcoal (arang aktif).
Pada praktikum ini media VW dibuat dalam perlakuan yang berbeda-beda
terdiri dari 10 % air kelapa, 20% air kelapa, 30% air kelapa dan kontrol (tanpa
penambahan air kelapa). Air kelapa ini berfungsi sebagai hormon.

Air kelapa saat ini telah menjadi bahan tambahan tetap media VW di dunia
kultur jaringan anggrek Indonesia. Menurut Widiastoety et al., (1997), dalam
penggunaannya, jenis kelapa tidak memberikan efek yang berbeda terutama antara
kelapa varietas genjah kuning dan varietas genjah hijau. Apa yang perlu diperhatikan
adalah tingkat ketuaan buah kelapa.
Widiastoety et al. (1997) menyatakan bahwa penambahan air kelapa umur muda
dan umur sedang sebanyak 150 ml/L media dapat mendorong pertumbuhan tinggi,
panjang dan lebar daun serta panjang dan jumlah akar plantlet anggrek Dendrobium,
sedangkan pemberian kelapa tua tidak memberikan efek yang berbeda dengan media
tanpa air kelapa. Air kelapa baik digunakan pada media kultur jaringan karena
mengandung zat atau bahan-bahan seperti vitamin, mineral, asam-asam amino, dan
asam nukleat fosfor serta zat tumbuh auksin dan asam giberelat yang berfungsi sebagai
penstimulir proliferasi jaringan, memperlancar metabolisme dan respirasi (Tuleckle et
al., 1961 didalam Widiastoety et al., 1997).
Selain itu, air kelapa juga mengandung zeatin dan ribozeatin (kelompok zat
tumbuh sitokinin) yang mempunyai kemampuan dalam merangsang pembelahan dan
diferensiasi sel, terutama dalam hal pembentukan pucuk tanaman dan pertumbuhan akar
(Hess, 1975 didalam Widiastoety et al., 1997). Selain itu, air kelapa juga mengandung
karbohidrat yang merupakan bahan dasar untuk menghasilkan energi dalam proses
respirasi dan bahan pembentukan sel-sel baru.
Penggunaan air kelapa tua kurang berdampak positif karena kandungan zat hara
dalam air kelapa tersebut telah tidak mencukupi lagi bagi kebutuhan tanaman. Dalam
hal ini, unsur-unsur hara tersebut telah digunakan untuk pembentukan daging buah air
kelapa (Widiastoety et al., 1997). Sama dengan manusia, sumber energi utama tanaman
adalah karbohidrat. Karena pentingnya peran karbohidrat untuk pertumbuhan tanaman
tersebut, maka ke dalam media kultur jaringan anggrek ditambakan pula sumber
karbohidrat sederhana, seperti sukrosa, glukosa dan fruktosa.
Meskipun didalam persenyawaan komplek organik (air kelapa, pisang, ubi kayu)
yang biasa ditambahkan ke dalam media kultur jaringan sumber energi tersebut telah
tersedia, namun karena karbohidrat tersebut telah banyak digunakan untuk proses
respirasi dan pembentuk sel-sel baru tanaman maka penambahan sumber energi lainnya
sangat diperlukan guna mencukupi kebutuhan tanaman. Karbohidrat yang digunakan

umumnya sukrosa atau glukosa pada konsentrasi 2-3% (Murashige, 1974 didalam
Widiastoety et al., 1997).
Agar dapat mencukupi kebutuhan karbon, maka sukrosa harus ditambahkan
ke dalam media. Tanaman dalam kultur jaringan tumbuh secara heterotrof dan karena
mereka tidak cukup mensintesa kebutuhan karbonnya. Sumber karbon ini menyediakan
energy bagi pertumbuhan tanaman dan juga sebagai bahan pembangun untuk
memproduksi molekul yang lebih besar yang diperlukan untuk tumbuh.
Bahan pemadat media yang digunakan adalah agar-agar. Agar-agar adalah
campuran polisakarida yang diperoleh dari beberapa spesies algae. Dalam analisa unsur,
diperoleh data bahwa agar-agar mengandung sedikit unsur Ca, Mg, K, dan Na
(Debergh, 1982 dalam Gunawan, 1992).
Smith (1992) menyatakan pemilihan media kultur jaringan merupakan kunci
sukses dalam kultur jaringan. Hal ini menyebabkan banyak diadakan penelitian untuk
memodifikasi media-media yang memberikan respon berbeda terhadap berbagai macam
tanaman. Sumber karbon merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk
menentukan keberhasilan kultur jaringan selain kombinasi zat tumbuh (ZPT). Sumber
karbon berfungsi sebagai sumber energi yang dibutuhkan oleh sel untuk dapat
melakukan pertumbuhan (Kimball, 1994). Glukosa dan fruktosa sebagai hasil hidrolisis
sukrosa dapat merangsang pertumbuhan beberapa jaringan. Konsentrasi sukrosa
berpengaruh terhadap pertumbuhan kalus (Srilestari, 2005).
Pada praktikum yang kami lakukan penambahan NaOH pada larutan sebab pH
larutan berada di bawah kisaran pH yang dianjurkan yaitu sebesar 5,6 karena bahan
pembuat medianya kebanyakan golongan asam. Kemudian dilakukan pengukuran pH
dan ditetapkan sampai 5.8. Pengaturan pH dilkukan untuk menjamin ketersediaan
unsure hara bagi eksplan di dalam botol kultur. Karena pada praktikum ini, media yang
digunakan adalah media padat maka diperlukan bahan pemadat berupa agar. Agar yang
diberikan yaitu sebesar 10,5 gram dimasukkan kedalam larutan penyusun media dan
dipanaskan. Pengukuran pH tidak lagi dilakukan karena apabila larutan media yang
telah ditambahkan agar diukur pH-nya maka akan merusak pH-meter. Konsentrasi agar
yang terlalu tinggi dapat mengurangi difusi persenyawaan dari dan ke arah eksplan
sehingga pengambilan hara dan zat tumbuh berkurang, sedangkan zat penghambat dari
eksplan tetap berkumpul di sekitar eksplan. Setelah mencapai titik didih yang ditandai

dengan larutan berwarna bening dan terdapat gelembung maka larutan dituangkan ke
dalam botol-botol kultur. Kemudian botol ditutup dengan plastik dan diikat dengan
karet yang sebelumnya telah disterilkan dan dilakukan sterilisasi basah dengan
menggunakan autoclave selam 20 menit pada suhu 1200C dan pada tekanan 15 psi.
Setelah itu botol-botol kultur diletakan di dalam ruang kulur pada rak-rak yang telah
tersedia.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
Dengan adanya larutan stok dapat memberi keuntungan antara lain yaitu menghemat
waktu pekerjaan, menimbang bahan media setiap kali ingin membuat media,
mengatasi kesulitan menimbang dalam konsentrasi kecil.
Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembuatan larutan stok
yang terdiri dari stok A-F melalui beberapa tahapan antara lain: penimbangan
persenyawaan, pelarutan senyawa kimia dengan menggunakan aquades, penetapan
volume akhir, pelabelan dan panyimpanan pada lemari es.
Sterilisasi merupakan suatu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau
benda dari semua mikroorganisme. Sterilisasi yang digunakan pada praktikum ini
dengan menggunakan senyawa kimia dan pemanasan uap air bertekanan (Autoklaf)
Media Vacin and Went (VW) adalah salah satu media dasar yang paling banyak
digunakan untuk pembibitan anggrek.

5.2 Saran
Sebaiknya dalam praktikum pembuatan media menggunakan massa atau
konsentrasi senyawa yang sesuai agar tidak terjadi pengendapan pada botol stok dan
mahasiswa diberi waktu yang cukup untuk lebih mengenal dan memahami media-media
yang digunakan dalam kultur jaringan agar mahasiswa lebih memahaminya.

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, L.W. 1992. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan Pusat Antar Universitas
(PAU) Bioteknologi IPB Bogor. 165 hal.
Hendaryono dan Ir Ari Wijayani, 2007. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius, Yogyakarta
Kimball, J.W. 1994. Biologi. Erlangga. Bogor
Lawalata, Imelda Jeanette.2011. Pemberian Beberapa Kombinasi ZPT Terhadap
Regenerasi Tanaman Gloxinia (Siningia speciosa) dari Eksplan Batang dan
Daun Secara In Vitr. J.Exp. Life Sci. Vol. 1 No. 2, Feb 2011.Ambon
Marlin, dkk. 2012. Penuntun Praktikum Kultur Jaringan. Fakultas Pertanian Universitas
Bengkulu, Bengkulu.
Nugroho, A dan H. Sugianto. 1997. Pedoman Pelaksanaan Tehnik Kultur Jaringan.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Sitorus, Ertina Novaria, DKK. 2011. Induksi Kalus Binahong (Basella rubra L.)
Secara In Vitro Pada Media Murashige & Skoog Dengan Konsentrasi
Sukrosa Yang Berbeda. BIOMA, Juni 2011 ISSN: 1410-8801 Vol. 13, No.
1.Semarang
Smith, R.S. 1992. Plant Tissue Culture Techniques and Experiments. Academic Press.
USA.
Srilestari, R. 2005. Induksi Embrio Somatik Kacang tanah Pada Berbagai Macam
Vitamin dan Sukrosa. Ilmu pertanian Vol. 12. No. 1. Hal 43-51.
Yusnita, 2003. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Srcara Efisien. P.T
Agromedia Pustaka, Tangerang.
Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman : Solusi Perbanyakan Tanaman Budidaya.
Bumi Aksara, Jakarta