Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PORTOFOLIO
Topik: Krisis Hipertensi
Tanggal (Kasus) : 22 Desember 2014
Presenter : dr. Atira Annisa Lubis
Tanggal Presentasi : 26 Januari 2015
Pendamping : dr. Nauli Asdam Simbolon
Tempat Presentasi : RSUD Rantau Prapat
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan
Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi : Wanita, 49 tahun, Nyeri kepala, Hipertensi Krisis
Tujuan : Mengobati penyakit Krisis Hipertensi dan Edukasi tentang pencegahan dan
pentingnya kepatuhan minum obat anti hipertensi untuk mengontrol tekanan darah
Bahan Bahasan :
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
Pustaka
Cara membahas
Diskusi
Presentasi dan diskusi
Pos
Email
Data
Pasien :

Nama : Ny.K
Umur : 49 tahun Pekerjaan : IRT
No. Reg :
Alamat : Cempedak Lubang Kec Sei Rampah Agama :
Islam
Bangsa : Indonesia
Nama RS: RSUD Rantau
Telp : Terdaftar sejak : 2014
Prapat
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / Gambaran Klinis: Hipertensi
2. Riwayat Pengobatan : 3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : 4. Riwayat Keluarga : 5. Riwayat Pekerjaan : IRT
Daftar Pustaka:
a. World Health Organization-International Society of Hypertension. Guidelines for the
management of hypertension. Guidelines subcommittee. J Hypertrns 1999;17:151-83
b. National Institutes of Health. The sixth report of the joint national committee on
prevention, detection evaluation, and treatment of high blood pressure. NIH
Publication;1997.
c. JNC Seventh Report of the Joint National Comitte on Prevention, Detection, Evaluation,
and treatment of High Blood Pressure. 2007. National Institutes of Health.
d. Kaplan NM. Hypertensive crisis. Dalam: Kaplan NM editor. Clinical hypertension. 6th ed.
Baltimore: Williams & Wilkins; 1994. P.281-97
Hasil Pembelajaran
1

1. Diagnosis Krisis Hipertensi


2. Klasifikasi Krisis Hipertensi
3. Manifestasi Krisis Hipertensi
4. Faktor Resiko Krisis Hipertensi
5. Penatalaksanaan Krisis Hipertensi
6. Edukasi dan Pencegahan Krisis Hipertensi
1. Subjektif : Pasien mengeluh sakit kepala, badan lemas, pundak terasa tegang, pusing dan
rasa mual, muntah.
2. Objektif :
Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik dapat ditegakkan diagnosis krisis hipertensi
o Gejala Klinis ( lemas, sakit kepala, pundak/punuk tegang, pusing, mual)
o Tekanan Darah 210/140 mmHg
o Tingginya epidemiologi hipertensi di Indonesia
o Pemeriksaan Fisik :
Kepala : Mata : Anemis(-/-), Ikterik (-/-)
Leher : Tidak ditemukan pembesaran KGB, TVJ normal
Thoraks : Inspeksi: simetris, tidak dijumpai penggunaan otot tambahan
pernafasan. Palpasi: SF ka=ki. Perkusi: sonor di seluruh lapangan paru.
Auskultasi: SP:vesikular, ST: -.
Jantung : Batas jantung : Batas atas : ICR III, Batas Kanan : parasternal Batas
Kiri 1 jari ke dalam MCS Bunyi jantung : M1>MII, Bising jantung : (-)
Abdomen: soepel, peristaltic (+) nyeri tekan (-), ginjal tidak teraba
Ekstremitas: ulkus oedem (-), CPR < 3 detik
o Pemeriksaan Penunjang :
Darah rutin hb : 11.8 g/dl, Ht :34 % , leukosit : 5.200 10/mm3
Pemeriksaan KGD : 125 mg/dl
Fungsi hati : normal
Fungsi Ginjal : sedikit meningkat
EKG: Tampak pembesaran ventrikel kiri
3. Assessment :
Keluhan pasien sakit kepala, pusing, nyeri tengkuk, dan pasien merasa mual dan ingin
muntah. Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang hipertensi. Kecurigaan adanya
hipertensi perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik HT berupa sakit kepala, tengkuk
terasa pegal, lemas atau mudah merasa lelah, penglihatan kabur dan rasa mual juga ingin
munta. Diagnosis HT sudah dapat ditegakkan jika keluhan klasik tersebut ditemukan serta
pada pemeriksaan tekanan darah didapati tekanan darah sistolik/diastolik 140/90 mmhg. Dari
kriteria tersebut pasien dapat didiagnosis dengan hipertensi.
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang akan meningkatkan resiko terjadinya
penyakit kardiovaskular. Untuk itu pengaturan tekanan darah juga sangat diperlukan untuk
mencegah komplikasi yang lebih serius.
4. Plan :
Diagnosis : Krisis Hipertensi
Penatalaksanaan :
2

Penatalaksanaan pada pasien tersebut berupa kontrol tekanan darah agar selalu dalam
rentang yang normal, mengatur pola hidup dengan baik (aktivitas fisik, pola
makanan, menghentikan merokok dan alkohol, serta mengurangi konsumsi garam
maupun intervensi farmakologis dengan meminum obat hipertensi seperti golongan
ACE inhibitor dan ARB dengan teratur). Pada krisis hipertensi penatalaksanaan harus
segera, tekanan darah harus diturunkan dalam hitungan menit sampai jam dengan
langkah sebagai berikut: (i) 5 menit s/d 120 menit pertama TD rata-rata (mean arterial
blood pressure) diturunkan 20-25%. (ii) 2 s/d 6 jam kemudian TD diturunkan sampai
160/100 mmHg. (iii) 6-24 jam berikutnya diturunkan sampai <140/90 mmHg bila
tidak ada gejala iskemia organ. Beberapa obat-obat yg digunakan dalam kasus krisis
hipertensi: Clonidin (Catapres) IV (150 mcg/ampul): Clonidin 900 mcg dimasukkan
dalam cairan infus glucosa 5% 500cc dan diberikan dengan mikrodrip 12 tetes/
menit, setiap 15 menit dapat dinaikkan 4 tetes sampai TD yang diharapkan tercapai.
Bila tekanan darah target tercapai pasien diobservasi selama 4 jam kemudian diganti
dengan tablet clonidin oral sesuai kebutuhan. Clonidin tidak boleh dihentikan secara
mendadak, tetapi diturunkan perlahan-lahan oleh karena bahay rebound phenomen
dimana tekanan darah naik sangant cepat bila obat dihentikan. Diltiazem (Herbesser)
IV (10 mg dan 50 mg/ampul): Diltiazem 10 mg IV diberikan dalam 1-3 menit
kemudian diteruskan dg infus 50 mg/jam selama 20 menit. Bila tekanana darah telah
turun >20% dari awal, dosis diberikan 30 mg/jam sampai target tercapai. Kemudian
diteruskan dengan dosis maintenance 5-10 mg/jam dengan observasi 4 jam kemudian
diganti dengan tablet oral. Nicardipin (Perdipin) IV (12 mg dan 10 mg/ampul):
Nicardipin diberikan 10-30 mcg/kgBB bolus. Bila tekanan darah tetap stabil
diteruskan dengan 0,5-6 mcg/kgBB/menit sampai target tekanan darah tercapai.
Edukasi keluarga :
1.
Segera bawa pasien ke rumah sakit jika pasien tiba-tiba sakit kepala hebat, tengkuk
terasa tegang, merasa lemas, dan pusing bahkan sampai penurunan kesadaran.
2.
Menjelaskan bahwa pengobatan hipertensi dilakukan seumur hidup untuk menjaga
tekanan darah tetap dalam rentang normal dan juga keluarga harus mengingatkan
pasien untuk tetap dan teratur meminum obat anti hipertensi dan menjaga pola hidup
termasuk pola makan dan aktivitas fisik.
3.
Menjelaskan bahwa komplikasi dari hipertensi adalah penyakit kardiovaskular dan
juga dapat menyebabkan gangguan pada organ lain bila pasien tidak patuh dan teratur
meminum obat anti hipertensi
4.
Menjelaskan bahwa keturunan hipertensi mempunyai resiko untuk menderita
hipertensi dikemudian hari sehingga keluarga dapat melakukan pencegahan.

Konsultasi: Pasien akan dikonsultasikan ke dokter ahli bila selama perawatan, timbul
komplikasi yang mengancam jiwa
3

Kegiatan
Kontrol berkala

Nasihat

Periode
Dilakukan setiap 1 minggu
untuk melihat apakah
pengobatan sudah tercapai
sesuai sasaran terapi. Serta
dilakukan pengukuran
tekanan darah untuk
pengontrolan tekanan darah
Setiap kali kunjungan

Hasil yang diharapkan


TD <130/90mmhg

Pengaturan pola hidup


(aktivitas fisik dan gizi)
serta kepatuhan minum obat