Anda di halaman 1dari 19

DAFTAR ISI

DaftarIsi................................................................................................................. 1
Latar Belakang....................................................................................................... 2
Rumusan Masalah.................................................................................................. 3
Pembahasan............................................................................................................ 4
Simpulan................................................................................................................17
Daftar Pustaka........................................................................................................18

A. Latar Belakang
Hukum merupakan suatu peraturan yang dibuat manusia untuk membatasi
tingkah laku seorang individu agar tidak merugikan orang lain. Hukum bersifat
mengikat dan terdapat sanksi bagi yang melanggarnya. Hukum mengatur
hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya agar tidak saling
merugikan. Penerapan hukum sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya satu perusahaan melakukan tanda tangan kontak bisnis dengan
perusahaan lainnya.
Setiap perusahaan maupun badan usaha dalam menjalankan usahanya
memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Dalam
1

mewujudkan tujuan tersebut, tidak jarang perusahaan melakukan kerjasama


dengan perusahaan lain atau investor. Kerjasama yang dilakukan tersebut terikat
dalam kontrak bisnis. Kontrak bisnis merupakan suatu perjanjian yang dilakukan
secara tertulis dan dibuat dengan memperhatikan dasar dari hukum perjanjian.
Kontrak bisnis merupakan salah satu penerapan dari hukum perjanjian.
Secara singkat, hukum perjanjian merupakan hukum yang mengatur perbuatan
dimana kedua belah pihak sepakat untuk saling mengikatkan diri satu sama lain.
Hukum perjanjian berkaitan dengan hak dan kewajiban bagi kedua pihak yang
telah sepakat serta memiliki akibat hukum, berupa sanksi bagi yang
melanggarnya.
Setiap perusahaan dalam melakukan suatu hubungan bisnis, tidak dapat
hanya menggunakan rasa saling percaya. Hal ini dikarenakan, salah satu pihak
dapat saja berbuat curang atau tidak menaati akan perjanjian yang telah
disepakati. Oleh karena itu, hukum perjanjian sangat dibutuhkan dalam menjalin
hubungan bisnis.
Apabila telah melibatkan hukum perjanjian, maka pihak terkait tidak perlu
merasa takut dirugikan bila salah satu pihak melakukan pelanggaran. Hal ini
dikarenakan pihak yang melanggar kontrak bisnis sama saja melanggar hukum
perjanjian dan akan menanggung konsekuensi yang sebelumnya telah disepakati
bersama.
Hukum merupakan aturan yang mengatur tingkah laku individu agar tidak
merugikan orang lain. Kita mengenal berbagai macam hukum, antara lain hukum
perdata, hukum dagang, hukum perjanjian, dan hukum lainnya. Pada dasarnya
hukum ini memiliki landasan yang sama dan setiap pelanggaran terhadap hukum
ini memiliki sanksi. Hukum-hukum ini berlandaskan pada Undang-Undang.
Penerapan hukum perdata, hukum dagang, ataupun hukum perjanjian dapat
dirasakan dalam kehidupan keseharian. Dalam makalah ini, akan dibahas
mengenai hukum perjanjian.

B. Rumusan Masalah

1.

Apa yang dimaksud dengan hukum perjanjian dan syarat sah-nya hukum

2.
3.

perjanjian tersebut?
Apa asas-asas dalam hukum perjanjian?
Bagaimana pembatalan dan pelaksanaan hukum perjanjian?

C. Pembahasan
I. Pengertian Hukum Perjanjian
Hukum merupakan suatu aturan yang mengatur tingkah laku individu yang
satu dengan individu lainnya dan memiliki akibat hukum. Istilah perjanjian
bukan merupakan hal yang asing di telinga kita dewasa ini. Perjanjian
merupakan suatu perbuatan di mana satu orang atau lebih mengikatkan diri
terhadap satu orang lain atau lebih1.
Hukum perjanjian sering diartikan sama dengan hukum perikatan. Hal ini
berdasarkan pada konsep dan batasan defenisi pada kata perjanjian dan
perikatan. Pada dasarnya hukum perjanjian berlaku apabila dalam suatu
1

Pengertian

Hukum

Perjanjian

dalam

http://putriagustia.blogspot.com/2012/05/

pengertian-hukum-perjanjian.html, diunduh pada 31 Maret 2013

perjanjian terjadi pelanggaran. Sedangkan, hukum perikatan dilakukan apabila


kedua pihak melakukan suatu hubungan hukum, hubungan ini memberi hak
dan kewajiban pada masing-masing pihak untuk memberikan tuntutan atau
memenuhi tuntutan tersebut2. Sebenarnya perikatan tidak sama dengan
perjanjian, tetapi perikatan adalah akibat dari adanya perjanjian.
Perikatan yang lahir dari perjanjian, memang dikehendaki oleh dua orang
atau dua pihak yang membuat suatu perjanjian, sedangkan perikatan yang lahir
dari undang-undang diadakan oleh undang-undang diluar kemauan para pihak
yang bersangkutan. Apabila dua orang mengadakan suatu perjanjian, maka
mereka bermaksud supaya antara mereka berlaku suatu perikatan hukum.
Sungguh-sungguh mereka itu terikat satu sama lain, karena janji yang telah
mereka berikan. Tali perikatan ini barulah putus kalau janji itu sudah dipenuhi3.
Berdasarkan penjelasan dapat disimpulkan, hukum perjanjian akan
menimbulkan suatu perikatan. Artinya, tidak akan ada kesepakatan yang
mengikat seseorang jika tidak ada perjanjian tertentu yang disepakati oleh
masing-masing pihak. Jadi, perikatan merupakan konsekuensi logis adanya
hukum perjanjian.
Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada
seorang lain atau dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.
Dari peristiwa ini, timbullah suatu hubungan antara dua orang tersebut yang
dinamakan perikatan. Perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara dua
orang yang membuatnya. Dalam bentuknya, perjanjian itu berupa suatu
rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang
diucapkan lisan atau tertulis.
Menurut Rutten, hukum perjanjian adalah perbuatan hukum yang terjadi
sesuai dengan formalitas dari peraturan hukum yang ada, tergantung dari
pernyataan kehendak dua atau lebih orang-orang yang ditujukan untuk
timbulnya akibat hukum demi kepentingan salah satu pihak atas beban pihak

2
Hukum Perjanjian dalam http://www.anneahira.com/hukum-perjanjian.htm, diunduh
pada 31 Maret 2013
3
Pengetian Perjanjian dalam http://www.sarjanaku.com/2012/11/pengertian-perjanjiansecara-umum.html, diunduh pada 31 Maret 2013

lain atau demi kepentingan dan atas beban masing-masing pihak secara timbal
balik4.
Berdasarkan

Pasal 1313 Kitab Undang Undang Hukum Perdata,

perjanjian merupakan suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih 5. Akan tetapi,
pengertian perjanjian berdasarkan KUHP tersebut memiliki beberapa
kelemahan. Beberapa kelemahan tersebut, yaitu hanya menyangkut sepihak
saja, pengertian perjanjian terlalu luas, tanpa menyebut tujuan, dan bentuk
tertentu, lisan dan tulisan6.
Selain berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, hukum
perjanjian juga dapat dipahami berdasarkan pendapat para ahli. Berdasarkan
pendapat J.Satrio perjanjian dapat mempunyai dua arti, yaitu arti luas dan arti
sempit. Dalam arti luas suatu perjanjian berarti setiap perjanjian yang
menimbulkan akibat hukum sebagai yang dikehendaki oleh para pihak
termasuk didalamnya perkawinan, perjanjian kawin, Dan lain-lain. Sedangkan
dalam arti sempit perjanjian disini berarti hanya ditujukan kepada hubunganhubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan saja7.
Pengertian perjanjian yang tepat mengandung tiga unsur, yaitu perbuatan,
satu orang atau lebih terhadap satu orang atau lebih, dan mengikatkan dirinya.
Perbuatan tersebut membawa akibat hukum bagi para pihak yang
memperjanjikan. Satu orang atau lebih terhadap satu orang lain atau lebih
memiliki arti untuk adanya suatu perjanjian, paling sedikit harus ada dua pihak
yang saling memberikan pernyataan satu sama lain. Mengikatkan dirinya
berarti dalam perjanjian terdapat unsur janji yang diberikan oleh pihak yang
satu kepada pihak yang lain. Dalam perjanjian ini orang terikat kepada akibat
hukum yang muncul karena kehendaknya sendiri.
Berdasarkan uraian panjang diatas, hukum perjanjian merupakan hukum
yang mengatur mengenai kesepakatan antara dua pihak atau lebih. Setiap pihak
4

Hukum Perjanjian dalam http://maiyasari.wordpress.com/2010/04/23/hukumperjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013


5
Ibid.
6
Hukum Perjanjian dalam http://blogqu-hanum.blogspot.com/2011/03/hukumperjanjian.html, diunduh pada 31 Maret 2013
7
Hukum Perjanjian dalam http://vahmy76.wordpress.com/2012/04/07/hukumperjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013

yang terikat dalam perjanjian memiliki hak dan kewajiban. Hukum perjanjian
merupakan bagian dari hukum, maka dari itu pihak yang melanggar

hukum

perjanjian akan menerima akibat hukum.


Hukum perjanjian yang dibuat harus bersifat sah dan harus dibuat dengan
batasan tertentu. Syarat sahnya suatu hukum perjanjian diatur dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata pasal 1320. Terdapat empat syarat
berdasarkan KUHP tesebut, yaitu sepakat, kecakapan, suatu hal tertentu, dan
suatu sebab yang halal8.
Sepakat diantara mereka yang mengikatkan diri atau sepakat diantara
mereka yang membuat perjanjian. Artinya para pihak yang membuat perjanjian
telah sepakat atau setuju mengenai hal-hal pokok atau materi yang
diperjanjikan. Materi kesepakatan ini dibuat dengan kesadaran tanpa adanya
tekanan atau paksaan dari pihak mana pun, sehingga kedua belah pihak dapat
menunaikan hak dan kewajibannya sesuai dengan kesepakatan9.
Oleh karena itu, timbulnya kata sepakat tidak boleh disebabkan oleh tiga
hal, yaitu adanya unsur paksaan, penipuan, dan kekeliruan. Apabila perjanjian
tersebut dibuat berdasarkan adanya paksaan dari salah satu pihak, maka
perjanjian tersebut dapat dibatalkan.
Kecakapan yang dimaksud dalam syarat ini

adalah para pihak telah

dinyatakan dewasa oleh hukum, yakni sesuai dengan ketentuan KUHPerdata,


mereka yang telah berusia 21 tahun, sudah atau pernah menikah. Cakap juga
berarti orang yang sudah dewasa, sehat akal pikiran, dan tidak dilarang oleh
suatu peraturan perundang-undangan untuk melakukan suatu perbuatan
tertentu10. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikatakan kecakapan untuk
membuat suatu perjanjian berarti mempunyai wewenang untuk membuat
perjanjian atau mngadakan hubungan hukum. Pada dasarnya setiap orang yang
sudah dewasa dan sehat pikirannya adalah cakap menurut hukum.
Suatu Hal Tertentu artinya, dalam membuat perjanjian, hal yang
diperjanjikan harus jelas sehingga hak dan kewajiban para pihak bisa
8
Hukum Perjanjian dalam http://ndiilindri.wordpress.com/2011/04/12/hukumperjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013
9
Ibid.
10
Hukum Perjanjian dalam http://oraetlabora-aiueo.blogspot.com/2011/02/5hukumperjanjian.html, diunduh pada 31 Maret 2013

ditetapkan. Syarat ini diperlukan untuk dapat menentukan kewajiban debitur


jika terjadi perselisihan. Pasal 1338 KUHPerdata menyatakan bahwa, suatu
perjanjian harus mempunyai sebagai suatu pokok yang paling sedikit
ditetapkan jenisnya11.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikatakan sarat ketiga suatu perjanjian
harus mengenai hal tertentu yang telah disetujui. Suatu hal tertentu disini
adalah objek perjanjian dan isi perjanjian. Setiap perjanjian harus memiliki
objek tertentu, jelas, dan tegas. Dalam perjanjian penilaian, maka objek yang
akan dinilai haruslah jelas dan ada.
Syarat terakhir sahnya suatu hukum perjanjian adalah sebab yang halal.
Sebab merupakan tujuan antara dua belah pihak yang mempunyai maksud
untuk mencapainya. Menurut Pasal 1337 KUHPerdata, sebab yang tidak halal
ialah jika ia dilarang oleh Undang Undang, bertentangan dengan tata susila
atau ketertiban. Menurut Pasal 1335 KUHPerdata, perjanjian tanpa sebab yang
palsu atau dilarang tidak mempunyai kekuatan atau batal demi hukum12.
Setiap perjanjian yang dibuat para pihak tidak boleh bertentangan dengan
undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan. Syarat pertama dan kedua
disebut syarat subjektif, yaitu syarat mengenai orang-orang atau subjek hukum
yang mengadakan perjanjian, apabila kedua syarat ini dilanggar, maka
perjanjian tersebut dapat diminta pembatalan.
Syarat ketiga dan keempat merupakan syarat objektif, yaitu mengenai
objek perjanjian dan isi perjanjian, apabila syarat tersebut dilanggar, maka
perjanjian tersebut batal demi hukum. Namun,apabila perjanjian telah
memenuhi unsur-unsur sahnya suatu perjanjian dan asas-asas perjanjian, maka
perjanjian tersebut sah dan dapat dijalankan.
II. AsasAsas Hukum Perjanjian
Dalam membuat suatu perjanjian selain harus memperhatikan syarat
sahnya suatu perjanjian, juga harus memperhatikan asas-asas dalam hukum
perjanjian. Asas-asas ini dijadikan sebagai dasar atau pedoman agar perjanjian

11

Ibid.
Hukum Perjanjian dalam http://vahmy76.wordpress.com/2012/04/07/hukumperjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013
12

yang dibuat tidak merugikan pihak terkait baik saat ini atau di masa yang akan
datang.
Asas hukum perjanjian merupakan hal yang penting. Apabila dalam suatu
perjanjian tidak mengandung asas hukum perjanjian, maka perjanjian tersebut
bukanlah suatu perjanjian yang tepat. Perjanjian tanpa memperhatikan asas
hukum perjanjian memiliki kemungkinan untuk merugikan berbagai pihak.
II.1 Asas Kebebasan Berkontrak (Freedom of Contract)
Kebebasan Berkontrak adalah kebebasan untuk mengadakan
perjanjian tentang apa saja, selama tidak bertentangan dengan UndangUndang, ketertiban umum, dan kesusilaan13. Pernyataan tersebut memiliki
arti, setiap individu/ kelompok/organisasi berhak untuk melakukan
perjanjian dengan pihak lain dalam menentukan materi/isi, selama tidak
melanggar ketentuan UU, ketertiban, dan kesusilaan yang berlaku.
Asas ini tercermin jelas dalam Pasal 1338 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata, yaitu semua perjanjian yang dibuat secara sah mengikat
sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. 14 Pasal ini
dijadikan sebagai pedoman dalam membuat suatu perjanjian agar tidak
melanggar undang-undang, ketertiban, dan kesusilaan. Berdasarkan asas
ini, dapat disimpulkan dalam membuat suatu perjanjian semua pihak bebas
menentukan isi/materi, tetapi tetap memiliki batasan-batasan tertentu.
II.2 Asas Konsensualisme (Concsensualism)
Menurut asas ini suatu perjanjian yang timbul sejak detik
tercapainya kesepakatan mengenai pokok-pokok perjanjian. Walaupun,
terkandang Undang-Undang menetapkan bahwa sahnya suatu perjanjian
harus dilakukan secara tertulis atau harus dibuat dengan akta kesepakatan.
Bentuk konsensualisme adalah suatu perjanjian yang dibuat secara
tertulis, salah satunya dengan adanya tanda tangan dari pihak yang
melakukan perjanjian tersebut. Tanda tangan berfungsi sebagai bentuk
kesepakatan dan bentuk persetujuan atas tempat, waktu, dan isi perjanjian

13

Asas-Asas Hukum Perjanjian dalam http://legalakses.com/asas-asas-perjanjian/,


diunduh pada 31 Maret 2013
14
Ibid.

itu dibuat. Tanda tangan dijadikan sebagai bukti akan adanya suatu
kesepakatan atau perjanjian15.
Pada dasarnya asas konsesualisme ini mengandung arti perjanjian
telah berlaku begitu kata sepakat dinyatakan dan diucapkan, sehingga
sebenarnya tidak perlu lagi formalitas tertentu. Pengecualian terhadap
prinsip ini adalah dalam hal undang-undang memberikan syarat formalitas
tertentu terhadap suatu perjanjian, misalkan syarat harus tertulis. Sebagai
contoh, jual beli tanah merupakan kesepakatan yang harus dibuat secara
tertulis dengan akta otentik Notaris16.
Asas ini mengandung dua teori, yaitu teori pernyataan dan teori
penawaran. Teori pernyataan adalah perjanjian lahir sejak para pihak
mengeluarkan kehendaknya secara lisan. Sedangkan teori penawaran
menjelaskan bahwa, perjanjian lahir pada detik diterimanya suatu
penawaran. Apabila seseorang melakukan penawaran dan penawaran
tersebut diterima oleh orang lain secara tertulis maka perjanjian harus
dianggap lahir pada saat pihak yang melakukan penawaran menerima
jawaban secara tertulis dari pihak lawannya.
II.3 Asas Kepastian Hukum (Pacta Sunt Servanda)
Asas ini berkaitan dengan kekuatan menngikatnya suatu perjanjian.
Berdasarkan pasal 1333 ayat 1 KUHP menyebutkan bahwa perjanjian
yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang
membuatnya17. Maksud dari perjanjian yang dibuat secara sah adalah telah
memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian. Oleh karena itu, memiliki
kekuatan mengikat secara hukum. Hukum perjanjian memiliki makna
mengikat sebagai Undang-Undang, artinya pihak terkait diwajibkan
menaati perjanjian sebagaimana menaati Undang-Undang.
Dalam asas kepastian hukum ini terdapat pihak ketiga, yaitu
hakim. Sebagai contoh, jika terjadi sengketa dalam pelaksanaan perjanjian,
misalnya salah satu pihak ingkar janji (wanprestasi), maka hakim dengan
15
Asas-Asas Hukum Perjanjian dalam http://www.dheanbj.com/2012/09/asas-asashukum-perjanjian.html, diunduh pada 31 Maret 2013
16
Pengertian Hukum Perjanjian dalam http://putriagustia.blogspot.com/2012/05/,
diunduh pada 31 Maret 2013
17
Ibid.

keputusannya

dapat

memaksa

agar

pihak

yang

melanggar

itu

melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai perjanjian, bahkan hakim


dapat memerintahkan pihak yang lain membayar ganti rugi. Putusan
pengadilan itu merupakan jaminan bahwa hak dan kewajiban para pihak
memiliki kepastian hukum secara pasti memiliki perlindungan hukum18.
Para pihak wajib menaati isi perjanjian yang mereka buat,
akibatnya perjanjian tersebut tidak dapat dibatalkan secara sepihak.
Hukum perjanjian berdasarkan asas kepastian hukum mengandung arti,
hukum memandang bahwa setiap pihak yang terlibat dalam perjanjian
memiliki hak dan kewajiban yang sudah pasti. Oleh karena itu, jika salah
satu pihak tidak melakukan kewajibannya, maka pihak lain memiliki hak
untuk menuntut.
II.4 Asas Itikad Baik (good faith/tegoeder trouw)
Itikad baik berarti keadaan batin para pihak dalam membuat dan
melaksanakan perjanjian harus jujur, terbuka, dan saling percaya. Keadaan
batin para pihak itu tidak boleh dicemari oleh maksud-maksud untuk
melakukan tipu daya atau menutup-nutupi keadaan sebenarnya19.
Asas ini merupakan suatu hal utama yang harus diperhatikan dalam
membuat suatu perjanjian. Dalam proses pembuatan dan pelaksanaan dari
perjanjian tersebut tidak boleh merugikan pihak lain serta harus menaati
norma-norma yang berlaku. Contoh pelanggaran atas asas ini, yaitu jika
salah satu pihak melakukan pelanggaran terhadap perjanjian yang telah
disepakati.
II.5 Asas Kepribadian (Personality)
Asas kepribadian adalah asas yang menentukan ketika seseorang
membuat perjanjian dengan orang lain, maka yang terikat dalam perjanjian
tersebut hanya pihak yang membuat perjanjian tersebut. Pihak ketiga tidak
akan terikat dalam perjanjian tersebut. Hal ini dpat dilihat pada pasal 1317
KUHP, yaitu pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perjanjian

18

Hukum Perjanjian dalam http://hendra-eka.blogspot.com/2012/03/hukumperjanjian.html, diunduh pada 31 Maret 2013


19
Ibid.

10

jselain untuk diri sendiri. Hal ini dipertegas dengan pasal 1340 KUHP,
yaitu suatu perjanjian hanya berlaku bagi pihak yang membuatnya 20.
Asas kepribadian dapat diartikan sebagai isi perjanjian hanya
mengikat para pihak secara personal, tidak mengikat pihak-pihak lain yang
tidak memberikan kesepakatannya. Seseorang hanya dapat mewakili
dirinya sendiri dan tidak dapat mewakili orang lain dalam membuat
perjanjian. Perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi
mereka yang membuatnya.
Akan tetapi, pada prakteknya asas ini memiliki pengecualian
sebagaimana dapat dilihat pada pasal 1317 KUHP yang berbunyi, Dapat
juga perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, bila suatu
perjanjian ang dibuat untuk diri sendiri atau suatu pemberian kepada orang
lain mengandung suatu syarat semacam itu. Dalam pasal ini terdapat janji
terhadap pihak ketiga atau janji untuk kepentingan pihak ketiga. Sebagai
contoh, dalam perjanjian asuransi jiwa ada dua orang ang berjanji, akan
tetapi perjanjian itu disepakati untuk menguntungkan pihak ketiga21.
Sebenarnya asas hukum perjanjian tidak hanya yang dijelaskan si
atas.

Asas

hukum

perjanjian

lainnya,

yaitu

asas

kesamaan

hukumBerdasarkan uraian tersebut, asas-asas dalam hukum perjanjian,


antara lain asas kepercayaan, asas keseimbangan, asas persamaan hukum,
asas kepatutan, dan asas perlindungan.
III. Pembatalan dan Pelaksanaan Hukum Perjanjian
III.1
Pembatalan Hukum Perjanjian
Pembatalan hukum perjanjian dapat dilakukan apabila terdapat
pelanggaran pada syarat objektif maupun subjektif. Dalam syarat untuk
sahnya suatu perjanjian telah diterangkan bahwa apabila syarat objektif
tidak dipenuhi maka perjanjiannya batal demi hukum. Dalam hal demikian
maka secara yuridis, dari semula tidak ada perjanjian dan semula tidak ada
perikatan antara orang-orang yang bermaksud membuat perjanjian itu.

20

Asas Hukum Perjanjian dalam http://egalbanking.wordpress.com/2012/05/03,


diunduh pada 31 Maret 2013
21
Ibid.

11

Tujuan para pihak untuk melakukan suatu perjanjian yang mengikat


mereka satu sama lain, telah gagal22.
Apabila, pada waktu pembuatan perjanjian, ada pelanggaran
mengenai syarat yang subjektif, perjanjian ini bukan batal demi hukum,
tetapi dapat dimintakan pembatalan (cancelling) oleh salah satu pihak.
Pihak ini adalah pihak yang tidak cakap menurut hukum, dan pihak yang
memberikan perijinan atau menyetujui itu secara tidak bebas23.
Menurut Prof. Subekti permintaan atas pembatalan perjanjian
yang tidak memenuhi syarat subyektif dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu secara aktif menuntut pembatalan perjanjian tersebut di depan
hakim dan secara pembelaan maksudnya, dengan menunggu sampai
digugat di depan hakim untuk memenuhi perjanjian dan baru mengajukan
kekurangan dari perjanjian itu24.
Suatu perjanjian dapat dibatalkan oleh salah satu pihak yang
membuat perjanjian ataupun batal demi hukum. Perjanjian yang dibatalkan
oleh salah satu pihak biasanya terjadi karena adanya suatu pelanggaran
dan pelanggaran tersebut tidak diperbaiki dalam jangka waktu yang
ditentukan atau tidak dapat diperbaiki, pihak pertama melihat adanya
kemungkinan pihak kedua mengalami kebangkrutan atau secara financial
tidak dapat memenuhi kewajibannya, terkait resolusi atau perintah
pengadilan, terlibat hukum, dan tidak lagi memiliki lisensi, kecakapan,
atau wewenang dalam melaksanakan perjanjian25.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa perjanjian
dapat dibatalkan jika tidak memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian. Jika
suatu perjanjian tidak memenuhi syarat subjektif, maka perjanjian tersebut
dapat dibatalkan. Sedangkan, jika suatu perjanjian tidak memenuhi syarat
objektif, maka perjanjian tersebut adalah batal demi hukum.
22

Hukum
Perjanjian
dalam
http://evianthyblog.blogspot.com/2011/04/v
behaviorurldefaultvmlo.html, diunduh pada 31 Maret 2013
23
Ibid.
24
Pembatalan
dan
Pelaksanaan
Hukum
Perjanjian
dalam
http://kemasbani.blogspot.com/2011/05/pembatalan-dan-pelaksanaan-hukum.html, diunduh
pada 31 Maret 2013
25
Pembatalan
Perjanjian
yang
Batal
Demi
Hukum
dalam
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl4141/ pembatalan-perjanjian-yang-batal-demihukum, diunduh pada 31 Maret 2013

12

Dapat dibatalkan artinya salah satu pihak dapat meminta


pembatalan itu. Perjanjiannya sendiri tetap mengikat kedua belah pihak,
selama tidak dibatalkan (oleh hakim) atas permintaan pihak yang berhak
meminta pembatalan tadi (pihak yang tidak cakap atau pihak yang
memberikan sepakatnya secara tidak bebas). Sedangkan batal demi hukum
artinya adalah dari semula dianggap tidak pernah ada dilahirkan suatu
perjanjian dan tidak pernah ada suatu perikatan.
Persetujuan antara kedua pihak dalam membuat perjanjian harus
bebas. Apabila tidak bebas maka akan memicu terjadinya pembatalan
perjanjian. Dalam hukum perjanjian ada tiga hal yang menjadi sebab
perizinan menjadi tidak bebas, yaitu pemaksaan, penipuan, dan kekeliruan.
Pemaksaan di sini dalam arti pemaksaan secara psikis atau jiwa bukan
secara badan atau fisik26.
Dalam banyak praktek membuat surat perjanjian sering terdapat
pernyataan sebagai berikut, Jika salah satu pihak tidak melaksanakan
kewajibannya, maka pihak yang lain dapat membatalkan perjanjian.
Sebenarnya pernyataan semacam ini tidak perlu dimasukan ke dalam
perjanjian, karena hukum perdata telah menerapkan prinsip umum dalam
perjanjian

berupa syarat

batal.

Suatu

syarat

batal dianggap selalu

dicantumkan dalam perjanjian (semua perjanjian) apabila salah satu pihak


tidak melaksanakan kewajibannya.
Berdasarkan Pasal 1266 KUHP, Syarat batal dianggap selalu
dicantumkan dalam persetujuan yang timbal balik, andai kata salah satu
pihak tidak memenuhi kewajibannya. Syarat batal merupakan suatu
batasan, dimana jika salah satu pihak tidak melaksanakan kewajibannya
dalam perjanjian (wanprestasi), maka pihak yang lain dalam perjanjian itu
dapat membatalkan perjanjian secara sepihak (tanpa persetujuan pihak
yang wanprestasi). Hal semacam ini dianggap selalu ada dalam setiap
perjanjian, sehingga meskipun suatu perjanjian tidak menentukannya
dalam bunyi pasal-pasalnya, prinsip ini tetap berlaku27.
26

Ibid.
Hukum Perjanjian dalam http://tiyoqprastafara.wordpress.com/2012/04/01/hukumperjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013
27

13

Kelalaian atau Wanprestasi adalah apabila salah satu pihak yang


mengadakan perjanjian, tidak melakukan apa yang diperjanjikan.
Kelalaian/Wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak dapat berupa
empat macam, yaitu tidak melaksanakan isi perjanjian, melaksanakan isi
perjanjian tetapi tidak sebagaimana dijanjikan, terlambat melaksanakan isi
perjanjian, melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh
dilakukannya.
Meskipun syarat

batal

dianggap

selalu

berlaku

pada

semua perjanjian, namun batalnya perjanjian itu tidak dapat terjadi begitu
saja, melainkan harus dimintakan pembatalannya kepada pengadilan.
Pihak yang menuduh pihak lainnya wanprestasi, harus mengajukan
pembatalan itu kepada pengadilan. Tanpa adanya putusan pengadilan yang
menyatakan bahwa salah satu pihak telah wanprestasi dan karenanya
perjanjian dibatalkan, maka tidak ada perjanjian yang batal.
III.2
Pelaksanaan Hukum Perjanjian
Pelaksanaan perjanjian ialah pemenuhan hak dan kewajiban yang
telah diperjanjikan oleh pihak-pihak supaya perjanjian itu mencapai
tujuannya. Dasar hukum dalam pelaksanaan hukum perjanjian terdapat
dalam pasal 1338 ayat 3 KUH Perdata yang merupakan ukuran objektif
untuk menilai pelaksanaan perjanjian. Artinya, pelaksanaan perjanjian
harus mengindahkan norma-norma kepatutan dan kesusilaan28.
Pengaturan mengenai pelaksanaan perjanjian kontrak dalam KUHP
menjadi bagian dari pengaturan tentang akibat suatu perjanjian, yaitu
diatur dalam pasal 1338 sampai dengan pasal 1341 KUHP. Pada umumnya
dikatakan bahwa yang mempunyai tugas untuk melaksanakan kontrak
perjanjian adalah mereka yang menjadi subjek dalam kontrak perjanjian
itu29.
Salah

satu

pasal

yang

berhubungan

langsung

dengan

pelaksanaannya adalah pasal 1338 ayat 3 yang berbunyi suatu perjanjian


28

Hukum Perjanjian dalam http://paskalinaani.wordpress.com/2012/04/01/hukumperjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013


29
Pembatalan
dan
Pelaksanaan
Hukum
dalam
http://iinnapisa.blogspot.com/2011/04/pembatalan-dan-pelaksanaan-hukum.html,
diunduh
pada 31 Maret 2013

14

harus dilaksanakan dengan etiket baik. Berdasarkan pasal tersebut


mengandung

arti,

dalam melaksanakan

perjanjian

kontrak harus

mengindahkan etiket baik saja, dan asas etiket baik terkesan hanya terletak
pada fase atau berkaitan dengan pelaksanaan kontrak, tidak ada fase-fase
lainnya dalam proses pembentukan kontrak30.
Hal-hal yang mengikat dalam pelaksanaan kontrak perjanjian,
antara lain segala sesuatu yang menurut sifat kontrak diharuskan oleh
kepatutan, kebiasaan, dan undang-undang; hal-hal yang menurut kebiasaan
sesuatu yang diperjanjikan itu dapat menyingkirkan suatu pasal undangundang yang merupakan hukum pelengkap; dan bila suatu hal tidak diatur
dalam UU, maka harus diselesaikan menurut pedoman pada kepatutan.
Pelaksanaan perjanjian harus sesuai dengan asas kepatutan. Pemberlakuan
asas tersebut dalam suatu kontrak mengandung dua fungsi, yaitu fungsi
melarang dan fungsi menambah.
Fungsi melarang, artinya bahwa suatu kontrak yang bertentangan
dengan asas kepatutan itu dilarang atau tidak dapat dibenarkan, contohnya
dilarang membuat kontrak pinjam-meminjam uang dengan bunga yang
amat tinggi, bunga yang amat tinggi tersebut bertentangan dengan asas
kepatutan31.
Fungsi menambah, artinya suatu kontrak dapat ditambah dengan
atau dilaksanakan dengan asas kepatutan. Dalam hal ini kedudukan asas
kepatutan adalah untuk mengisi kekosongan dalam pelaksanaan suatu
kontrak yang tanpa isi tersebut, maka tujuan dibuatnya kontrak tidak akan
tercapai32.
Pelaksanaan mengandung arti sebagai realisasi atau pemenuhan
hak dan kewajiban yang telah diperjanjikan oleh pihak- pihak supaya
perjanjian itu mencapai tujuannya. Pelaksanaan perjanjian pada dasarnya
menyangkut soal pembayaran dan penyerahan barang yang menjadi objek
utama perjanjian. Pembayaran dan penyerahan barang dapat terjadi secara
serentak. Mungkin pembayaran lebih dahulu disusul dengan penyerahan
30

Ibid.
Hukum Perjanjian dalam http://yanhasiholan.wordpress.com/2012/05/09/hukumperjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013
32
Ibid.
31

15

barang atau sebaliknya penyerahan barang dulu baru kemudian


pembayaran.
D. Simpulan
1. Perjanjian merupakan suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada
orang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan
sesuatu hal. Syarat sahnya suatu perjanjian dapat di tinjau dari syarat
objektif dan syarat subjektif.
2. Asas dalam hukum perjanjian, yaitu asas kebebasan berkontrak, asas
konsensualisme, asas kepastian hukum, asas kepribadian, dan asas itikad
baik.
3. Jika suatu perjanjian tidak memenuhi syarat subjektif, maka perjanjian
tersebut dapat dibatalkan. Sedangkan, jika suatu perjanjian tidak
memenuhi syarat objektif, maka perjanjian tersebut adalah batal demi
hukum. Pelaksanaan perjanjian ialah pemenuhan hak dan kewajiban yang
telah diperjanjikan oleh pihak-pihak supaya perjanjian itu mencapai
tujuannya

DAFTAR PUSTAKA
Agustia, Putri. 2012. Pengertian Hukum Perjanjian. Http://putriagustia.blog spot.
com/2012/05/pengertian-hukum-perjanjian.html, diunduh pada 31 Maret
2013

16

Dhean. 2012. Asas-Asas Hukum Perjanjian. Http://www.dheanbj .com/ 2012/


09/asas-asas-hukum-perjanjian.html, diunduh pada 31 Maret 2013
Eka, Hendra. 2012. Hukum Perjanjian. Http://hendra-eka.blogspot .com /201 2 /
03/hukum-perjanjian.html, diunduh pada 31 Maret 2013
Mayasari.

2010.

Hukum

Perjanjian.

Http://maiyasari.wordpress.com/201

0/04/23/hukum-perjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013


Napisa. 2011. Pembatalan dan Pelaksanaan Hukum. Http://iinnapis a.blogsp t.
com/2011/04/pembatalan-dan-pelaksanaan-hukum.html, diunduh pada 31
Maret 2013
Vahmy.

2012.

Hukum

Perjanjian.

Http://vahmy76.wordpress.com/2012/

04/07/hukum-perjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013


Yansasilohan. 2012. Hukum Perjanjian. Http://yanhasiholan. Wordpress .com/
2012/05/09/hukum-perjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013
2010. Asas-Asas Hukum Perjanjian. Http://legalakses.com/asas-asas-perjanjian/,
diunduh pada 31 Maret 2013
2011. Hukum Perjanjian.

Http://blogqu-hanum.blogspot.com/2011/03/hukum-

perjanjian.html, diunduh pada 31 Maret 2013


2011. Hukum Perjanjian. Http://evianthyblog.blogspot.com/2011/04/vbehavio
rurldefaultvmlo.html, diunduh pada 31 Maret 2013
2011. Hukum Perjanjian . Http://ndiilindri.wordpress.com/2011/04/12/hukumperjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013

17

2011. Hukum Perjanjian.

Http://oraetlabora-aiueo.blogspot.com/2011 /02 /5hu

kum-perjanjian.html, diunduh pada 31 Maret 2013


2011. Pembatalan

dan

Pelaksanaan

Hukum

Perjanjian. Http://

kemasbani.blogspot.com/2011/05/pembatalan-dan-pelaksanaanhukum.html, diunduh pada 31 Maret 2013


2011. Pembatalan Perjanjian yang Batal Demi Hukum. Http://www.hu
kumonline.com/klinik/detail/cl4141/

pembatalan-perjanjian-yang-batal-

demi-hukum, diunduh pada 31 Maret 2013


2012. Asas Hukum Perjanjian. Http://egalbanking.wordpress.com/2012/05/03,
diunduh pada 31 Maret 2013
2012. Hukum Perjanjian.

Http://tiyoqprastafara.wordpress.com/2012/04/01

/hukum-perjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013


2012. Hukum Perjanjian. Http://paskalinaani.wordpress.com/2012/04/01/hukumperjanjian/, diunduh pada 31 Maret 2013
2012. Hukum Perjanjian.

Http://www.anneahira.com/hukum-perjanjian.htm,

diunduh pada 31 Maret 2013

18

19