Anda di halaman 1dari 25

TUGAS KELOMPOK KEPERAWATAN MATERNITAS I

Asuhan Keperawatan Ca Mammae


Dosen Pengampu : Ns Siti Mulidah, S.Pd, S.Kep, M.Kes

Disusun Oleh:
1.
2.
3.
4.

Fajar Gian Pratama


Fauzan Vega
Hamidah Nurul Aini
Hendi Maryanto

(P17420213009)
(P17420213010)
(P17420213011)
(P17420213012)

KELAS IIA

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN PURWOKERTO
2015

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kanker payudara adalah masalah kesehatan utama di Amerika Serikat.
Insiden keseluruhannya meningkat sampai 54% dalam 40 tahun antara tahun
1950 dan 1989. Angka insiden meningkat secara konstan sampai 1% setiap
tahun hingga tahun 1980-an, ketika angka tersebut melonjak hingga 4%.
Selama tahun 1970 dan 1980-an, insiden keseluruhan kanker payudara
meningkat hingga 21% di antara wanita dan terus meningkat sampai 49%
diantara wanita yang lebih tua. Angka kematian akibat kanker payudara tetap
tidak berubah selama 40 tahun, yang menunjukkan bahwa pengobatan terbaru
dengan pembedahan, terapi radiasi, dan kemoterapi hanya menghasilkan
perbaikan kecil untuk kelangsungan hidup.
Sekarang ini, tidak ada penyembuhan untuk kanker payudara. Karena
insidennya yang terus meningkat, angka kematian yang tidak berubah, dan
tidak adanya penyembuhan, ppenderita yang dapat bertahan dari kanker
payudara, penasehat, dan aktivis telah menarik perhatian sosial dan politikdan
telh menjadikannya sorotan nasional. Aktivis telah menuntut dan mendapatkan
bantuan federal yang terus meningkat untuk program kanker payudara nasional
yang

ditujukan

untuk

menemukan

penyembuhan.Statistik

terakhir

menunjukkan bahwa resiko sepanjang hidup untuk mengalami kanker payudara


adalah 1 dari 8 waniita. Risiko ini tidak sama untuk semua kelompok usia.
Sebagai contoh, risiko untuk mengalami kanker payudara sampai usia 35 tahun
adalah 1 dalam 622; risiko mengalami kanker payudara sampai usia 60 adalah
1 dalam 24. Berdasarkan The American Cancer Society, 183.400 kasus baru
kanker payudara didiagnosa pada tahun 1995, dengan perkiraan 46.240
kematian. Wanita yang didiagnosa dengan kanker payudara tahap awa
mempunyai angka bertahan 5 tahun 93%. Sampai tahun 2000, hampir 2 juta
wanita di Amerika Serikat akan terkena kanker payudara, dengan lebih dari
460.000 kematian akibat penyakit ini pada tahun 1990-an.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu kanker payudara?
2. Apa saja jenis-jenis kanker payudara?

3.
4.
5.
6.
7.

Apa penyebab dari kanker payudara?


Apa saja tanda dan gejala kanker payudara?
Sebutkan tingkatan stadium kanker payudara?
Bagaimana proses terjadinya kanker payudara?
Apa saja pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi adanya kanker

payudara?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari kanker payudara?
9. Bagaimana pencegahan kanker payudara?
10. Apa saja komplikasi dari kanker payudara?
11. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan kanker payudara?
C. TUJUAN
1. Mengetahui apa yang dimaksud kanker payudara
2. Mengetahui jenis-jenis kanker payudara
3. Mengetahui penyebab dari kanker payudara
4. Mengetahui tanda dan gejala kanker payudara
5. Mengetahui tingkatan stadium kanker payudara
6. Mengetahui proses terjadinya kanker payudara
7. Mengetahui pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya
kanker payudara
8. Mengetahui penatalaksanaan dari kanker payudara
9. Mengetahui pencegahan kanker payudara
10. Mengetahui komplikasi dari kanker payudara
11. Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan kanker payudara

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. PENGERTIAN CA MAMMAE
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal yang terus tumbuh
di dalam jaringan mammae (Tapan, 2005).
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang
terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk
benjolan di payudara. Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker
bias bermestastase pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada
kelenjar getah bening ketiak ataupun diatas tulang belikat. Selain itu sel-sel

kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit (Erik
T, 2005).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kanker payudara atau ca
mammae merupakan kondisi dimana sel- sel pada jaringan payudara
mengalami pertumbuhan tidak terkendali sehingga menjadi tumor ganas atau
kanker. Jika benjolan kanker tersebut tidak terkontrol, sel-sel kanker bisa
bermestastase pada bagian-bagian tubuh lain.
B. TIPE CA MAMMAE
Menurut Prawirohardjo (2005), ca mammae mempunyai beberapa tipe
berdasarkan gambaran histopatologi :
1. Karsinoma duktal menginflitrasi
Adalah tipe histopatologi yang paling umum, merupakan 75 % dari
semua jenis kanker payudara. Kanker ini sangat jelas karena keras saat
palpasi. Kanker jenis ini biasanya bermetastasis ke nodus aksila, tulang,
paru, hepar dan otak
2. Karsinoma lobular menginfiltrasi
Tipe ini umumnya multisentris, dapat terjadi penebalan beberapa area
pada salah satu atau kedua mammae. Karsinoma lobular biasanya
bermetastasis ke permukaan meningeal.
3. Karsinoma medular
Pada 6 % karsinoma modular tumbuh dalam kapsul, dapat menjadi
besar tetapi meluas dengan lambat, sehingga prognosis seringkali lebih
baik.
4. Karsinoma musinus
Pada 3 % karsinoma musinus adalah penghasil lendir, juga tumbuh
dengan lambat.
5. Karsinoma duktal-tubular
Hanya 2% dan jarang terjadi, karena metastasis aksilaris secara
histologi tidak lazim maka prognosisnya sangat baik.
6. Karsinoma inflamatori

Merupakan tipe karsinoma mammae yang jarang (1-2 %) dan


menimbulkan gejala-gejala yang berbeda dari karsinoma mammae yang
lain. Tumor ini nyeri tekan dan sangat nyeri, mammae secara abnormal
keras dan membesar. Kulit diatas tumor merah dan agak hitam. Sering
terjadi edema dan retraksi papilla mammae.
C. ETIOLOGI CA MAMMAE
Menurut Sharon J Reeder (2011), banyak wanita menderita kanker
payudara setelah mereka berusia 35 tahun, dengan puncak kejadian pada usia
antara 40 dan 60 tahun. Resiko individu meningkat seiring dengan
pertambahan usia. Teori sebab akibat mencakup mekanisme hormonal yang
melibatkan steroid endogen, agens virus, transmisi genetik, dan defisiensi
imun.
Faktor resiko munculnya kanker payudara terdiri atas :
1. Usia (lebih dari 75% kanker payudara terjadi setelah wanita berusia 40
tahun). Resiko perempuan terkena kankerpayudara meningkat seiring
usianya. ketika perempuan bertambah usia, ada kemungkinan terjadi
perubahan sel yang tidak normal.
2. Ras
Walaupun secara keseluruhan insiden kanker payudara rendah pada wanita
Afrika dan Amerika, tetapi pada kelompok ini ditemukan stadium lanjut
sehingga angka mortalitas meningkat jika dibandingkan dengan wanita
kulit putih berusia lebih dari 40 tahun. Pada wanita kulit hitam yang
menderita kanker payudara umumnya dengan nuclear high-grade., lebih
sering tanpa reseptor hormonal dan terjadinya mutasi sporadic p53.
Penderita kanker payudara paling banyak ditemukan pada wanita
kaukasia.
3. Kerabat tingkat pertama menderita kanker payudara
4. Nulipara (wanita yang belum pernah melahirkan)
Lebih lama terpapar dengan hormon estrogen relatif lebih lama
5.
6.
7.
8.

dibandingkan wanita yang sudah pernah melahirkan.


Menarke dini (sebelum 12 tahun)
Menopause lambat (lebih dari 30 tahun setelah menarke)
Kehamilan pertama terjadi setelah berusia 30 tahun
Ooforektomi sebelum berusia 40 tahun

9. Obesitas, diet tinggi lemak dan protein, rendah selenium


10. Riwayat pribadi menderita kanker, terutama di payudara sebelahnya
11. Seringnya terpajan radiasi
12. Faktor risiko genetik
Terjadi pada keluarga yang memiliki riwayat kuat menderita kanker
payudara. Apabila terdapat 2 atau lebih wanita dalam satu tingkat silsilah
keluarga yang menderita kanker, wanita bersangkutan 3x lipat mengalami
kanker.
13. Terapi hormon
Meningkatkan resiko kanker payudara pada wanita pascamenopause.
Peningkatan risiko kanker payudara invasif ini paling besar terjadi pada
wanita berusia lebih dari 55 tahun yang telah menggunakan terapi hormon
selama 5 tahun atau lebih. Estrogen tunggal, estrogen ditambah progestin,
dan progestin tunggal tampaknya meningkatkan risiko kanker payudara.
Estrogen menstimulasi sel epitel di payudara, dan progestin dapat
meningkatkan proses ini.
D. MANIFESTASI KLINIS CA MAMMAE
Menurut Sharon J Reeder (2011), Tanda dan gejala penyakit payudara yaitu:
Usia umum

Jumlah

Bentuk

Konsistensi

Batasan

Penyakit fibrokistik Fibroadenoma


30- 55, membaik
15- 20 +, terjadi

Kanker
30-80, puncak

setelah menopause

sampai dengan

insidensi adalah

Biasanya multipel;

usia 55
Biasanya

42-48
Biasanya

dapat juga tunggal

tunggal; dapat

tunggal, tetapi

juga multipel

dapat disertai

Bundar, seperti

dengan lesi lain


Tidak teratur

lempeng, atau

atau berpola

lobular
Biasanya keras,

seperti bintang
Keras atau

Bundar

Nodular payudara

lunak sampai keras, dapat lunak

kokoh

tidak rata
Biasanya berbatas

Berbatas tegas,

Tidak berbatas

tegas

tepi jelas

tegas dari

jaringan di
Mobilitas

Dapat digerakkan

Sangat dapat

sekelilingnya
Dapat difiksasi

digerakkan, licin ke kulit atau


jaringan di
bawahnya
biasanya tidak
sakit, tetapi
Nyeri tekan

Tanda retraksi

Sering kali terasa

Biasanya tidak

tidak selalu
Biasanya tidak

nyeri tekan

nyeri

sakit, tetapi

Tidak ada

Tidak ada

tidak selalu
Sering kali ada

E. STADIUM CA MAMMAE
MenurutTjindarbumi (2002), membagi stadium ca mammaeyanng
disesuaikan dengan aplikasi klinis sebagai berikut :
1. Stadium I
Diameter tumor kurang dari 2 cm dan terletak dalam payudara.

2. Stadium II

Tumor kurang dari 5 cm, atau lebih kecil dengan keterlibatan nodus
limfe aksilaris yang dapat digerakkan.

3. Stadium III
a) Stadium IIIa
Tumor lebih besar dari 5 cm, atau tumor disertai dengan perbesaran
nodus limfe aksila yang terfiksasi satu sama lain atau pada jaringan di
dekatnya.

b) Stadium IIIb
Lesi disertai nodulus satelit, terfiksai pada kulit atau dinding dada,
ulserasi, edema, atau dengan keterlibatan nodus supraklavikular atau
intraklavikular.

4. Stadium IV
Semua tumor dengan metastasis jauh.

F. PATOFISIOLOGI
Menurut(Lowdermilk et al 2000, Swart 2011), patofisiologi kanker
payudara yaitu:
Kanker payudara adalah penyakit yang terjadi jika terjadi kerusakan
genetik pada DNA dari sel epitel payudara. Ada banyak jenis dari kanker
payudara. Perubahan genetik ditemukan pada sel epitel, menjalar ke duktus
atau jaringan lobular. Tingkat dari pertumbuhan kanker tergantung pada efek
dari estrogen dan progesteron. Kanker dapat berupa invasif (infiltrasi) maupun
noninvasif (in situ). Kanker payudara invasif atau infiltrasi dapat berkembang

ke dinding duktus dan jaringan sekitar, sejauh ini kanker yang banyak terjadi
adalah invasif duktus karsinoma. Duktus karsinoma berasal dari duktus
lactiferous dan bentuknya seperti tentakel yang menyerang struktur payudara
di sekitarnya. Tumornya biasanya unilateral, tidak bisa digambarkan, padat,
non mobile, dan nontender. Lobular karsinoma berasal dari lobus payudara.
Biasanya bilateral dan tidak teraba. Nipple karsinoma (pagets disease) berasal
dari puting. Biasanya terjadi dengan invasif duktal karsinoma. Perdarahan,
berdarah, dan terjadi pengerasan puting.
Kanker payudara dapat menyerang jaringan sekitar sehingga mempunyai
tentakel. Pola pertumbuhan invasif dapat menghasilkan tumor irregular yang
bisa terapa saat palpasi. Pada saat tumor berkembang, terjadi fibrosis di
sekitarnya dan memendekkan Coopers ligamen. Saat Coopers ligamen
memendek, mengakibatkan terjadinya peau dorange (kulit berwarna orange)
perubahan kulit dan edema berhubungan dengan kanker payudara. Jika kanker
payudara menyerang duktus limpatik, tumor dapat berkembang di nodus
limpa, biasanya menyerang nodus limpa axila. Tumor bisa merusak lapisan
kulit, menyebabkan ulserasi. Metastasis diakibatkan oleh kanker payudara
yang menempati darah dan sistem lympa, menyebabkan perkembangan tumor
di tulang, paru-paru, otak, dan hati.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG CA MAMMAE
Menurut Swart (2011), Deteksi awal dilakukan untuk mencegah
perkembangan kanker payudara. Tumor payudara yang lebih kecilk lebih
mudah diobati bila terdeteksi dan prognosisnya lebih baik. Pemeriksaan untk
mendetaksi kanker payudara antara lain:
1. Pemeriksaan payudara sendiri
Pemeriksaan payudara sendiri dan pemeriksaan payudara klinis
adalah prosedur murah dan tidak invasif untuk pemeriksaan payudara.
Apabila ditemukan indikasi yang abnormal, yaitu benjolan atau
penebalan pada jaringan payudara, sakit pada salah satu payudara atau
pada ketiak. Satu payudara menjadi lebih besar atau lebih rendah, puting
tertarik ke dalam atau berubah posisi, perubahan kulit (mengkerut),

bengkak di bawah ketiak ayau tulang selangka, ruam pada atau sekitar
kulit. Jika ada tanda-tanda tersebut harus dilakukan tiga pengkajian, yaitu
pemeriksaan klinis payudara, mammografi atau ultrasonografi, dan biopsi
2. Mammografi
Mamografi menggunakan sinar x dosis rendah untuk membuat gambaran
rinci dari payudara. Mammografi bisa mendeteksi kanker payudara pada
tahap awal, bisa menunjukkan lesi yang tidak bisa dideteksi dengan
pemeriksaan payudara klinis. Ada 2 dua jenis pemeriksaan mamografi,
skrining dan diagnostik. Skrining payudara dilakukan pada wanita tanpa
gejala misalnya ketika ada benjolan pada payudara atau putting discharge
ditemukan ada pemeriksaan payudara sendiri atau kelainan yang
ditemukan selama skrining mamografi. Wanita dengan implan payudara
atau riwayat penyakit kanker payudara menggunakan diagnostik
mamografi.
3. Ultrasonografi
Ultrasonografi dari lesi mencurigakan terdeteksi pada mamografi
atau pemeriksaan fisik. Ultrasonografi digunakan terutama sebagai
metode relatif murah dan efektif untuk membedakan massa kistik
payudara, yang tidak memerlukan sampling, dari massa payudara padat
yang biasanya diperiksa dengan biopsi, dalam banyak kasus, hasil dari
biopsi adalah tumor jinak. Namun, sekarang mapan yang ultrasonografi
juga memberikan informasi berharga tentang sifat dan tingkat massa padat
dan lesi payudara lainnya.
4. MRI
MRI digunakan untuk beberapa kasus, yaitu : kasus kanker payudara
dengan hasil mammografi negatif, untuk mengetahui ukuran tumor dalam
kanker lobular invasif, untuk memantau respon kanker payudara terhadap
terapi preoreratif, ada kejanggalan antara penilaian pengkajian awal
terhadap gumpalan di payudara.
5. Positron Emision Tomography Scanning
PET scanning digunakan untuk mengidentifikasi metastasis
kelenjar getah bening nonaxilary untuk kanker payudara stadium lanjut
dan kanker payudara inflamatory sebelum memulai terapi non adjuvant.

6. Tes Genetik
Penyebab utama dari pewarisan kanker payudara adalah mutasi
dari gen BRCA1 atau BRCA2, yang merupakan faktor resiko dari
pengembangan penyakit lain. Akan tetapi gen ini sangat jarang
ditemukan pada populasi wanita dengan kanker payudara. Tes ini sudah
dilakukan di Amerika Serikat.
H. PENATALAKSANAAN CA MAMMAE
Menurut Sharon J Reeder (2011),Pengobatan untuk kanker payudara yaitu:
1. Pembedahan (mastektomi)
Tujuan utama terapi lokal adalah untuk menyingkirkan adanya
kanker

lokal.

Prosedur

yang

paling

sering

digunakan

untuk

penatalaksanaan kanker payudara lokal adalah mansektomi dengan atau


tanpa rekonstruksi dan bedah penyelamatan kanker payudara yang
dikombinasikan dengan terapi radiasi.
2. Rekonstruksi Payudara
Rekonstruksi payudara dapat dilakukan saat mastektomi atau sesudahnya.
Sebelumnya digunakan implan silikon, tetapi masalah kebocoran dan komplikasi
telah mengurangi metode penggunaan metode ini. Implan salin paling sering
dilakukan, tetapi kini sedang berkembang minat dalam rekonstruksi jaringan
autolog (dari tubuh sendiri). Metode autolog menggunakan jaringan dari otot
abdomen atau otot latisimus dorsi, yakni dengan mengambil sepotong jaringan
dibawahnya kemudian menempatkannya dibawah kulit payudara yang masih
dipertahankan.
3. Terapi hormonal
Dikenal sebagai Therapy anti-estrogen yang system kerjanya
memblock kemampuan hormon estrogen yang ada dalam menstimulus
perkembangan kanker pada payudara.
4. Terapi Adjuvan
Terapi adjuvan yaitu terapi tambahan yang digunakan untuk menghilangkan
penyakit mikroskopik dan mendukung penyembuhan atau meningkatkan respon
klien agaknya melindungi tubuh dari kekambuhan.
a) Onkologi medis sering kali menggunakan obat-obatan antineoplastik
dan terapi endokrin untuk menghambat pertumbuhan tumor.

b) Radiasi
Radiasi dianjurkan untuk wanita yang mengalami kanker stadium I dan
II. Terapi penyinaran radiasi biasanya dilakukan setelah insisi massa
tumor

untik

mengurangi

kecenderungan

kambuh

dan

untuk

menyingkirkan kanker residual.


c) Kemoterapi
Kemoterapi diberikan untuk menyingkirkan penyebaran penyakit
mikrometastik. Kemoterapi digunakan setelah mansektomi. Pada
beberapa kasus, kemoterapi diberikan dalam beberapa siklus, dan
siklus kemoterapi final diberikan setelah radiasi. Kemoterapi tidak
hanya diberikan sebagai single drugs regiment tetapi multiple drug
regiment.

I. PENCEGAHAN
MenurutSharon J Reeder (2011),Untuk pencegahan awal ca mammae
dapat pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Sebaiknya pemeriksaan
dilakukan sehabis selesai masa menstruasi, karena sebelum menstruasi
payudaya agak membengkak sehingga menyulitkan pemeriksaan.
1. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
Periksakan diri sendiri terhadap kanker payudara secara teratur. Deteksi dini
membri banyak pilihan pengobatan dan kesempatan yang lebih baik untuk
kesembuhan dan bertahan hidup. Bertanggung jawablah terhadap kesehatan
payudara sendiri dan temukanlah perubahan pada payudara melalui pemeriksaan
payudara klinis oleh tenaga profesional (dokter), dan dapat pula melalui
mammografi.

Langkah- langkah pemeriksaan payudara sendiri yaitu sbb:

2. Praktek gaya hidup sehat. Lakukanlah aktifitas fisik setidaknya 150 menit
seminggu. Aktifitas fisik dengan intensitas sedang. Lakukanlah masingmasing 10 menit setiap harinya, misalnya dengan naik turun tangga, jalan
cpat, dan jogging, dll.

3. Menjaga berat badan dengan cara hidup sehat. Diet kaya buah-buahan,
sayuran, biji-bijian dan rendah lemak dengan memprtahankan lemak baik
(lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda) dari pada lemak jahat
(lemak jenuh dan lemak sintesis).
4. Hindari konsumsi minuman beralkohol.
5. Menyusui anak dengan air susu sendiri (ASI).

J. KOMPLIKASI CA MAMMAE
Menurut Prawirohardjo (2005), Limfedema terjadi jika saluran limfe untuk
menjamin aliran balik limfe bersirkulasi umum tidak berfungsi dengan kuat.
Jika nodus axilaris dan sistem limfe di angkat maka sistem kolater dan
axilaris harus mengambil ahli fungsi mereka. Limfedema dapat dicegah
dengan meninggikan setiap sendi lebih tinggi dari sendi yang prokximal. Jika
terjadi limfedema keluasan biasanya berhubungan dengan jumlah saluran
limfatik kolateral yang diangkat selama pembedahan.
Menurut Danielle (2001), komplikasi kanker payudara metastatik meliputi:
1. Metastase tulang. Jika metastas itu ke tulang belakang, dapat terjadi
kompresi medula spinalis.Ini merupakan masalah krisis medis dan harus
segera ditangani.
2. Metastase otak terjadi pada kira-kira 30% wanita dengan penyakit
metastatik, ini dapat mengganggu baik secara fisik ataupun secara
psikologi bagi klien dan keluarga.
3. Sindroma Paraneoplastik adalah sekumpulan gejala yang bukan
disebabkan oleh tumornya sendiri, tetapi oleh zat-zat yang dihasilkan oleh
kanker. Beberapa zat yang dapat dihasilkan oleh tumor adalah hormone,
sitokinese, dan berbagai protein lainnya. Zat-zat tersebut mempengaruhi
organ atau jaringan melalui efek kimianya. Bagaimana tepatnya kanker
mengenai sisi yang jauh belum sepenuhnya dimengerti. Beberapa kanker

mengeluarkan zat ke dalam aliran darah yang merusak jaringan yang jauh
melalui suatu reaksi autoimun. Kanker lainnya mengeluarkan zat yang
secara langsung mempengaruhi fungsi dari organ yang berbeda atau
merusak jaringan. Bisa terjadi kadar gula yang rendah, diare, dan tekanan
darah tinggi.

BAB III
TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN
CA MAMMAE
A. Pengkajian
1. Anamnesa
Menurut Sharon J. Reeder. ( 2011 ) Pengkajian keperawatan berfokus
pada hal-hal berikut :
a) Karakter nyeri payudara, jika ada rabas dari puting berikut
karakteristiknya
b) Adanya ruam atau eksem pada puting
c) Riwayat trauma payudara dan riwayat keluarga memiliki resiko kanker
d) Respon emosional wanita dan keluaarga dan sumber untuk koping
perlu diidentifikasi
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik meliputi : pengkajian perubahan kulit (terdapat
cekungan, eritema, ruam ), rabas dari puting dan penebalan atau teraba
adanya massa. Wanita harus diperiksa dalam posisi duduk atau terlentang
Menurut Jonathan (2007), pemeriksaan fisik untuk mendeteksi
kelainan pada payudara yaitu dengan :
a) Inspeksi
Lakukan inspeksi payudara untuk melihat bentuk, ukuran, simetri,
abnormalitas kulit dan jaringan parut. Cari adanya benjolan yang
tampak, pengerutan, tarikan kulit. Minta pasien mengangkat kedua

lengan diatas kepala dan lakukan inspeksi lagi. Lihat puting untuk
mencari adanya retraksi, perubahan kulit, atau sekret.
b) Palpasi
Lakukan palpasi payudara, mulai dengan lembut kemudian
semakin keras menggunakan bantalan tiga jari tangan. Lakukan
gerakan berputar perlahan dan periksa setiap kuadran payudara serta
bagian yang meluas di aksila. Luangkan waktu untuk memeriksa
dengan teliti. Jika menemukan benjolan, periksa dengan teliti untuk
menilai ukuran, konsistensi, hubungan dengan kulit diatasnya atau
struktur dibawahnya. Mungkin akan membantu bila saat memeriksa
kedua lengan diangkat keatas kepala dan pasien berbaring datar.
Lakukan

palpasi

untuk

mencari

limfadenopatiaksilaris

dan

supraklavikularis.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Sharon J Reeder (2011), diagnosis keperawatan yang sering
dialami klien dalam masalah kanker payudara yaitu :
1. Defisiensi Pengetahuan yang berhubungan dengan kondisi, tes diagnosis
dan pilihan penanganan.
2. Ketidakefektifan Koping Individu yang berhubungan dengan pengaruh
diagnosis kanker.
3. Gangguan Citra Tubuh yang berhubungan dengan kemungkinan
kehilangan bagian atau fungsi tubuh.
4. Ketakutan yang berhubungan dengan antisipasi nyeri, pembedahan,
penyakit yang mengancam jiwa dan prognosis, kehilangan bagian atau
fungsi tubuh.
5. Kecemasan yang berhubungan dengan penyakit yang mengancam jiwa,
efek samping penanganan, pengaruh penyakit terhadap hubungan dengan
pasangan.
6. Nyeri yang berhubungan dengan insisi bedah pascaoperasi.
7. Ketidakberdayaan yang berhubungan dengan hasil penyakit dan
pengaruhnya pada aktivitas.

8. Gangguan proses keluarga yang berhubungan dengan pembedahan,


dampak penyakit pada keluarga, pengaruh penyakit yang mengancam
jiwa.
9. Perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan mastektomi,
ketakutan akan penolakan dari pasangan.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Menurut Buku Saku Diagnosis Keperawatan (NANDA NIC-NOC,
Wilkinson, Ahern, 2012), Intervensi Keperawatan pada diagnosis diatas,
sebagai berikut:
1. Defisiensi Pengetahuan yang berhubungan dengan kondisi, tes
diagnosis dan pilihan penanganan.
Tujuan : Klien mengerti tentang penyakitnya.
Kriteria Hasil :
a) Klien tidak menanyakan tentang penyakitnya.
b) Klien

dapat

memahami

tentang

proses

penyakitnya

dan

pengobatannya.
Intervensi :
a) Kaji pengetahuan pasien/ keluarga mengenai kanker payudara dan
pengobatannya.
Rasional : memberikan informasi untuk menyusun rencana
penyuluhan secara individual.
b) Jelaskan patofisiologi dari kanker payudara sesuai kebutuhan.
Rasional : meningkatkan pemahaman mengenai proses penyakit.
c) Berikan informasi tentang pilihan pengobatan yang sesuai.
Rasional : mengembangkan pengambilan keputusan yang sesuai
dengan informasi yang diberikan.
d) Beritahu pasien/ keluarga mengenai sumber- sumber dukungan
masyarakat yang ada untuk wanita dengan kanker payudara.
Rasional : pemberitahuan terhadap sumber- sumber yang ada di
komunitas.
e) Ajarkan pentingnya melakukan sadari pada payudara yang masih ada.
Rasional : wanita yang terdiagnosa kanker payudara mempunyai
risiko yang lebih tinggi terhadap berkembangnya kanker payudara
pada payudara yang masih ada.

2. Ketidakefektifan

Koping

Individu

yang

berhubungan

dengan

pengaruh diagnosis kanker.


Tujuan :Penurunan stress emosional, ketakutan, dan ansietas
Kriteria hasil :
a) Klien dapat merasa kenyamanan fisik dan psikologis.
b) Klien dapat menggambarkan koping yang efektif.
c) Klien dapat mengidentifikasi respons penanganan diri
Intervensi :
a) Mulai lakukan persiapan emosional pasien (dan pasangannya) secepat
setelah ia diinformasikan tentang diagnosis tentatif.
Rasional : hal ini memberdayakan pasien untuk mengerahkan
respon koping.
b) Kaji
- Pengalaman pribadi dan pengetahuan tentang kanker payudara
- Mekanisme koping saat krisis
- Sistem pendukung
-

Perasaan mengenai diagnosis

Rasional : Faktor- faktor ini sangat mempengaruhi perilaku dan


kemampuan

pasien

menghadapi

diagnosis,

pembedahan,

dan

pengobatan tindak lanjut.


c) Uraikan pengalaman- pengalaman yang akan dialami pasien dan
dorong pasien untuk mengajukan pertanyaan.
Rasional : ketakutan akan ketidaktahuan menurun.
d) Lengkapi pasien dengan sumber- sumber yang tersedia untuk
memfasilitasi penyembuhan.
Rasional : informasi tentang prostetik baru, spesialis rekonstruksi,
dan sumber- sumber lainnya menguatkan bahwa perhatian yang besar
telah diberikan pada metode pengobatan terbaru untuk kanker
payudara.
3. Gangguan Citra Tubuh yang berhubungan dengan kemungkinan
kehilangan bagian atau fungsi tubuh.
Tujuan : menunjukkan citra tubuh
Kriteria Hasil :

a) Klien tidak malu dengan keadaan dirinya.


b) Klien dapat menerima efek pembedahan.
Intervensi :
a) Diskusikan dengan klien atau orang terdekat respon klien terhadap
penyakitnya.
Rasional : membantu dalam memastikan masalah untuk memulai
proses pemecahan masalah
b) Tinjau ulang efek pembedahan
Rasional : bimbingan antisipasi dapat membantu pasien memulai
proses adaptasi.
c) Berikan dukungan emosi klien.
Rasional : klien bisa menerima keadaan dirinya.
d) Anjurkan keluarga klien untuk selalu mendampingi klien.
Rasional : klien dapat merasa masih ada orang

yang

memperhatikannya.
4. Ketakutan yang berhubungan dengan antisipasi nyeri, pembedahan,
penyakit yang mengancam jiwa dan prognosis, kehilangan bagian
atau fungsi tubuh.
Tujuan : Pengendalian diri terhadap ketakutan
Kriteria hasil :
a) Mencari informasi untuk menurunkan ketakutan
b) Menghindari sumber ketakutan bila mungkin
c) Mengendalikan respon ketakutan
Intervensi :
a) Jelaskan semua pemeriksaan dan pengobatan kepada pasien/keluarga
Rasional : Pasien dan keluargapaham tentang pemeriksaan dan
pengobatan yang akan dijalani.
b) Bantu klien membedakan antara ketakutan rasional dan tidak rasional
Rasional :Klien dapat mengetahui antara ketakutan rasional dan
tidak rasional dan dapat mengontrol ketakutan.
c) Jauhkan sumber ketakutan pasien apabila memungkinkan
Rasional : Ketakutan pasien dapat berkurang atau hilang.
d) Tetap bersama pasien selama menghadapi situasi baru atau ketika
pasien merasa ketakutan
Rasional : Pasien tidak merasa sendiri dan ketakutan pasien
berkurang.

5. Kecemasan yang berhubungan dengan penyakit yang mengancam


jiwa, efek samping penanganan, pengaruh penyakit terhadap
hubungan dengan pasangan.
Tujuan : Kecemasan dapat berkurang.
Kriteria Hasil :
a) Klien tampak tenang
b) Mau berpartisipasi dalam program terapi
Intervensi :
a) Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.
Rasional : Proses kehilangan bagian tubuh membutuhkan
penerimaan, sehingga pasien dapat membuat rencana untuk masa
depannya.
b) Diskusikan tanda dan gejala depresi.
Rasional : Reaksi umum terhadap tipe prosedur dan kebutuhan
dapat dikenali dan diukur.
c) Diskusikan tanda dan gejala depresi
Rasional : Kehilangan payudara dapat menyebabkan perubahan
gambaran diri, takut jaringan parut, dan takut reaksi pasangan terhadap
perubahan tubuh.
d) Diskusikan kemungkinan untuk bedah rekonstruksi atau pemakaian
prostetik.
Rasional : Rekonstruksi memberikan sedikit penampilan yang
lengkap, mendekati normal.
6. Nyeri yang berhubungan dengan insisi bedah pascaoperasi.
Tujuan :Tidak adanya nyeri dan rasa tidak nyaman
Kriteria hasil :
a) Mampu mengontrol nyeri
b) Melaporkan bahwa nyeri berkurang
c) Mampu mengenali nyeri
d) Menyatakan rasa nyaman
Intervensi :
a) Kaji intensitas, sifat dan letak nyeri.
Rasional : memberikan dasar untuk mengkaji keefektivitasan
tindakan pereda nyeri.
b) Berikan analgesik sesuai yang diresepkan.
Rasional : meningkatkan peredaan nyeri.

c) Posisi tubuh yang sesuai akan meningkatkan kenyamanan, seperti


posisi semi-fowlers dan meninggikan lengan yang sakit.
Rasional : stress pada letak insisi dikurangi; gaya gravitasi
mengurangi akumulasi cairan pada lengan.
d) Instruksikan pasien untuk menghubungi dokter jika lengan atauh letak
insisi menjadi sangat nyeri, bengkak atau kemerahan.
e) Rasional : Pengobatan dini terhadap kemungkinan infeksi atau cedera
akan menghindari ketidaknyamanan dan komplikasi lebih lanjut.
f)
7. Ketidakberdayaan yang berhubungan dengan hasil penyakit dan
pengaruhnya pada aktivitas.
Tujuan : Partisipasi dalam pengambilan keputusan tentang perawatan
kesehatan
Kriteria hasil :
a) Mengidentifikasi prioritas hasil kesehatan
b) Menggunakan tehnik penyelesaian masalah untuk mencapai hasil yang
diharapkan
c) Bernegosiasi untuk pilihan perawatan
Intervensi :
a) Tentukan apakah klien memiliki pengetahuan yang adekuat tentang
kondisi perawatan kesehatan
Rasional : Mengetahui tingkat pengetahuan pasien tentang
perawatan kesehatan.
b) Diskusikan dengan pasien tentang pilihan yang realistis dalam
perawatan, berikan penjelasan untuk pilihan tersebut
Rasional : Pasien dapat menentukan pilihan dalam perawatan.
c) Libatkan pasien dalam pengambilan keputusan tentang perawatan
Rasional : Pasien dapat mengambil keputusan tentang perawatan
terhadap dirinya.
d) Sampaikan kepercayaan diri terhadap kemampuan pasien untuk
menangani situasi
Rasional : Pasien menjadi percaya diri dan yakin terhadap
kemampuan dirinya menangani situasi.
8. Gangguan proses keluarga yang berhubungan dengan pembedahan,
dampak

penyakit

pada

keluarga,

pengaruh

penyakit

mengancam jiwa.
Tujuan : keluarga tidak memperlihatkan gangguan proses keluarga
Kriteria hasil :

yang

a) Mengidentifikasi pola koping


b) Berpartisipasi dalam proses membuat keputusan tentang perawatan
setelah rawat inap
c) Berfungsi untuk saling memberikan dukungan kepada setiap anggota
keluarga
Intervensi :
a) Bantu keluarga dalam mengidentifikasi perilaku yang mungkin
menghambat pengobatan yang dianjurkan
Rasional : Keluarga mengetahui perilaku yang dapat menghambat
pengobatan yang diberikan pada pasien.
b) Berikan penguatan positif terhadap penggunaan mekanisme koping
yang efektif
Rasional :Pasien menjadi termotifasi agar menggunakan mekanisme
koping yang efektif.
c) Dukung keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan pasien dan
bantu merencanakan perawatan setelah rawat inap
Rasional : Keluarga turut serta ambil bagian dalam perawatan
pasien.
d) Dukung keluarga untuk menyatakan perasaan dan masalahnya secara
verbal
Rasional : Mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan keluarga
terhadap penyakit pasien.
9. Perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan mastektomi,
ketakutan akan penolakan dari pasangan.
Tujuan : Sexual Functioning
Kriteria hasil :
a)
Ekspresi harga diri.
b)
Ekspresi kenyamanan tubuh.
c)
Keinginan untuk berhubungan seksual.
d)
Kemungkinan untuk berhubungan intim.
e)

Ekspresi penerimaan kondisi patner.

Intervensi :
a)

Bina hubungan terapeutik.


Rasional : Menciptakan komunikasi yang efektif dan dapat
memberikan dampak kesembuhan pada pasien.

b)

Berikan informasi tentang seksual, jelaskan efek dari penyakit

terhadap seksualitas.
Rasional : Pasien mengetahui efek penyakit terhadap seksualitas.
c)
Berikan informasi tentang fungsi seksual.
Rasional : Pasien mengetahui tentang fungsi-fungsi seksual.
d)
Jelaskan efek pengobatan terhadap seksualitas.
Rasional : Pasien mengetahui efek pengobatan terhadap seksualitas.
e)
Diskusikan tingkat pengetahuan pasien tentang seksualitas secara
umum.
Rasional : Mengtahui tingkat pengetahuan pasien tentang seksualitas
secara umum.
f)
Diskusikan bentuk alternatif dari ekspresi seksual yang dapat
diterima pasien.
Rasional : Pasien dapat mengetahui alternative ekspresi seksual yang
dapat diterima pasien dan tidak berdampak buruk pada pasien.

D. Evaluasi
Menurut Shraron J Reeder (2011), kemungkinan kriteria evaluasi untuk
klien kanker payudara terdiri atas :
1. Klien menyebut informasi tentang penyakit dan penanganannya.
2. Klien menunjukkan mekanisme koping yang positif.
3. Klien menunjukkan penerimaan terhadap upaya penanganan dan
diagnosis.
4. Klien atau keluarga menyatakan perasaan dan kekhawatirannya secara
terbuka.
5. Klien kembali ke tingkat fungsi sebelumnya

setelah mendapat

penanganan.
6. Klien dibantu untuk meninggal dalam keadaan damai dan bermartabat.

DAFTAR PUSTAKA

Gale, Danielle ,RN, MS & Jane Charette, RN, BSN, ONC. 2001. Rencana
asuhan keperwatan onkologi . Jakarta ; EGC.

Lowdermilk, D. L., Shanon E. P., Irene M. B. 2000. Maternity and womens


Healtyh Care Seventh Edition. St. Louis, Missouri : Mosby, Inc.
Marilyan, Doenges E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatyan px) Jakarta :
EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Reeder, Sharon J. 2011. Keperawatan Maternitas : Kesehatan Wanita, Bayi &
Keluarga Ed.18, Vol.1. Jakarta : EGC
Swart, R., 2011. Breast Cancer Risk Factors. Medscape Reference.
Tapan, Erik. 2005. Kanker, Antioksidan, dan Terapi Komplementer. Jakarta : Elex
Media Komputindo.
Tjindarbumi, D. 2002. Deteksi Dini Kanker Payudara dan Penanggulangannya
dalam Deteksi Dini Kanker. Jakarta : FK UI.
Wiknjosastro, N., Saifuddin, A. B., Rachimhadhi, T., 2007. Ilmu kandungan.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Wilkinson, Ahern. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Edisi 9. Jakarta :
EGC