Anda di halaman 1dari 13

PENGEMBANGAN POLA PELATIHAN FUTSAL DALAM

MENINGKATKAN KEBUGARAN SIWA

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Penelitian


Kebugaran jasmani erat kaitanya dengan kegiatan manusia dalam

melakukan pekerjaan dan bergerak. Kebugaran jasmani yang dibutuhkan untuk


mendukung aktivitas sehari-hari (pekerjaan) seseorang agar pekerjaan atau
aktivitas tersebut optimal. Pekerjaan atau aktivias pun dapat mempengaruhi
kebugaran jasmani seseorang. Kebugaran jasmani yang tinggi merupakan modal
essensial untuk menyelesaikan kegiatan secara bergairah, efektif, dan efisien,
sehingga berakibat pada produktivitas, dan semuanya itu dijdikan salah satu
indikator kualitas sumberdaya manusia yang sangat diharapkan ada pada diri
individu sebagai bagian dari masyarakat yang sedang aktif dalam melakukan
pembangunan.
Salah satu cara untuk meningkatkan kebugaran tubuh adalah melalui
olahraga yang dilakukan secara teratur, terukur, terprogram, sistematis dan selalu
meningkat. Pembinaan kondisi fisik melalui olahraga merupakan pondasi untuk
meningkatkan kebugaran jasmani, sehingga dapat beraktivitas dengan baik.
Seseorang yang memiliki kebugaran jasmani yang baik akan terhindar dari
kemungkinan cedera pada saat melakukan aktivitas fisik atau olahraga yang lebih
berat. Kurangnya daya tahan tubuh, kelentukan persendian, kekuatan otot,
kecepatan dan kelincahan merupakan penyebab utama timbulnya cedera olahraga.
Olahraga merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan dari kehidupan
manusia. Berbagai tujuan olahraga dapat dicapai, tergantung dari kebutuhan

masing-masing. Tujuan dari olahraga adalah untuk kesehatan, rekreasi, dan


prestasi. Tujuan olahraga kesehatan adalah untuk mempertahankan dan
meningkatkan derajat kesehatan olahragawan tersebut. Tujuan olahraga rekreasi
adalah untuk mengembalikan kondisi fisik dan mental setelah melakukan aktifitas
yang melelahkan selama waktu tertentu. Kemudian tujuan olahraga prestasi
adalah untuk mencapai prestasi tinggi seorang olahragawan di cabang olahraga
yang digelutinya. Jenis olahraga ada dua macam, yaitu olahraga permaianan dan
olahraga bela diri.
Salah satu olahraga permainan yang berkembang secara pesat salah
satunya
yaitu futsal. Futsal merupakan modifikasi dari cabang olahraga sepakbola. Bentuk
modifikasinya berupa ukuran lapangan, jumlah pemain dan peraturan permainan.
Ukuran lapangan lebih kecil, jumlah pemain lebih sedikit yaitu 5 orang setiap tim
dan banyaknya peraturan permainan yang disesuaikan. Mengenai permainan
futsal, Tenang (2008 : 17) menjelaskan bahwa :
Futsal adalah suatu jenis olahraga yang memilikki aturan tegas tentang
kontak fisik. Sliding tackle (menjegal dari belakang), body charge
(benturan badan), dan aspek kekerasan lain seperti dalam permainan
sepakbola tidak diizinkan dalam futsal.
Perkembangan olahraga Futsal di Indonesia terbilang cukup maju, hal ini
dibuktikan dengan banyaknya peminat pada olahraga ini, baik laki-laki maupun
perempuan. Selain itu, kini sarana lapangan futsal baik indoor maupun outdoor
sudah banyak ditemui dimana-mana, meski sarana fasilitas olahraga ini sudah ada
dimana-mana, tetapi masih belum bisa meningkatkan prestasi olahraga futsal di

Indonesia. Untuk meningkatkan prestasi yang maksimal, latihan kondisi fisik


yang
tepat memegang peranan penting dalam mensukseskan penampilan atlet untuk
semua cabang olahraga. Peningkatan kondisi fisik atlet bertujuan agar
kemampuan fisik menjadi prima dan berguna untuk menunjang aktifitas olahraga
dalam rangka mencapai prestasi maksimal. Harsono (1988:153) menjelaskan
bahwa : Sukses dalam olahraga sering menuntut keterampilan yang sempurna
dalam situasi stress fisik yang tinggi, maka semakin jelas bahwa kondisi fisik
memegang peranan sangat penting dalam meningkatkan prestasi atlet. Begitu
Satriya dkk, 2007:51) mengatakan bahwa Persiapan fisik merupakan salah satu
yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan dari beberapa kasus penting sebagai
unsur yang diperlukan dalam latihan untuk mencapai puncak penampilan
(prestasi).
Kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang
tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya.
Bahwa di dalam usaha peningkatan kondisi fisik maka seluruh komponen harus
dikembangkan, walaupun disana-sini dilakukan dengan sistem prioritas sesuai
keadaan atau status tiap komponen itu dan untuk keperluan apa keadaan atau
status yang dibutuhkan tersebut. Hal ini akan semakin jelas bila kita sampai pada
masalah status kondisi fisik. Sajoto (1988:57) menjelaskan : Kondisi fisik adalah
salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam setiap usaha peningkatan
prestasi seorang atlit, bahkan dapat dikatakan dasar landasan titik tolak suatu
awalan olahraga prestasi. Menurut Sidik. (2010:3)

Yang harus dipersiapkan latihan dengan baik oleh setiap pelatih adalah
perencanaan program latihan yang adekuat untuk setiap aspek-aspek latihan dan
termasuk komponen latihan fisik.
Sehingga pelatih dalam pelatihan fisiknya harus menguasai berbagai
metode dan bentuk latihan yang dapat memberikan dampak positif terhadap
perubahan perkembangan fisiknya. Oleh karena itu, pelatih dituntut untuk
kompeten dalam persiapan pelatihan untuk setiap atletnya. Guna meningkatkan
kemampuan fisik, seorang pelatih harus menerapkan metode latihan.
Keberhasilan mencapai tingkat kebugaran jasmani yang baik menurut
Irianto (2004: 16-21) sangat ditentukan oleh kualitas latihan yang dijabarkan
dalam konsep FIT (Frekuensi, Intensiti, Time). (1) Frekuensi latihan untuk
meningkatkan kebugaran jasmani perlu dilakukan 3-5 kali per minggu. Waktu
yang digunakan untuk berlatih dilakukan 20-60 menit. Baiaknya dilakukan
berselang misal: senin, rabu, jumat, sedangkan hari yang lain digunakan untuk
istirahat agar tubuh memiliki kesempatan melakukan rekovery (pemulihan)
tenaga, (2) Intensitas kualitas yang menunjuk berat ringannya latihan. Besarnya
intensitas tergantung pada jenis dan tujuan latihan. Secara umum intensitas latihan
kebugaran adalah 60% - 90% detak jantung maksimal dan secara khusus besarnya
intensitas latihan bergantung pada pada tujuaan latihan, (1) Time adalah waktu
atau durasi yang diperlukan setiap kali berlatih. Untuk meningkatkan kebugaran
paru-jantung dan penurunan berat badan diperlukan waktu berlatih 20-60 menit.
Pengembangan kebugaran jasmani seseorang melalui suatu aktifitas
olahraga, bertujuan untuk meningkatkan kondisi fisik dan daya tahan tubuh
seseorang agar mampu mengikuti aktivitas pembelajaran dengan baik. Seseorang

yang memiliki derajat kebugaran jasmani yang tinggi akan menopang terhadap
aktivitas kegiatan belajarnya dan meningkatkan kinerja serta mampu untuk
melakukan aktivitas fisik lainnya. Untuk memperoleh kebugaran jasmani yang
baik maka, dibutuhkan latihan fisik dengan frekuensi latihan yang teratur. Akan
tetapi pada realitanya pembelajaran pendidikan jasmani masih sangat kurang
karena setiap minggunya hanya 2 jam pelajaran (2 x 45 menit). Supaya frekuensi
latihan dapat tercapai, maka sekolah mengadakan ekstrakurikuler agar dapat
meningkatkan kebugaran jasmani. Selain itu, ekstrakurikuler olahraga juga
mempunyai tujuan untuk meningkatkan prestasi cabang olahraga itu sendiri.
Tujuan

kegiatan

ekstrakurikuler

pada

umumnya

adalah

untuk

mengembangkan bakat siswa sesuai dengan minatnya. Selain itu, kegiatan


ekstrakurikuler juga untuk mengisi waktu luang anak pada kegiatan yang positif
dan dapat lebih memperkaya keterampilan, memperluas wawasan, daya
kreativitas, jiwa sportivitas, meningkatkan rasa percaya diri, dan lain sebagainya.
Akan lebih baik lagi apabila siswa mampu memberikan prestasi yang gemilang di
luar sekolah sehingga dapat mengharumkan nama sekolah. Meskipun secara
akademis nilai dari ekstrakurikuler tidak masuk secara langsung ke nilai rapot,
namun kegunaannya jauh lebih bermanfaat dari pada tidak melakukan aktivitas di
luar jam belajar. Pada saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, siswa bisa
menggali

dan

mengembangkan

potensi

dirinya.

Pelaksanaan

kegiatan

ekstrakurikuler dilakukan pada siang hari setelah pulang sekolah agar tidak
mengganggu kegiatan intrakurikuler.

Ekstrakurikuler olahraga cukup menguras tenaga karena memerlukan


aktivitas fisik dan dilaksanakan setelah mengikuti proses belajar sampai siang.
Oleh karena itu penting bagi siswa mempunyai kebugaran tubuh yang bagus,
terutama

kebugaran

jasmani.

Penyelenggaraan

ektrakurikuler

ini

dapat

membentuk sikap positif siswa agar menyukai aktivitas jasmani. Melalui program
yang terencana, tersedia kesempatan bagi siswa semua untuk berlatih dan
mengembangkan bakat serta meningkatkan kebugaran jasmaninya.

Berdasarkan latar belakang di atas maka studi ini menganalisis


pengembangan pola pelatihan futsal dalam meningkatkan kebugaran siswa. Studi
deskriptif dilakukan di SMK Muhamad Toha tahun pelajaran 2015/2016.

B. Rumusan Masalah Penelitian


Berdasarkan pada latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya
maka rumusan masalah yang diajukan oleh penulis adalah:
1. Bagaiman konsep pengembangan pelatihan futsal dalam meningkatkan
kebugaran siswa di SMK Muhamad Toha tahun pelajran 2015?
2. Bagamiana
dampak dari kebugaran siswa dalam motivasi
pertandingan fulsal ?
3. Apakah kebugaran siswa berpengaruh bersar terhadap gaya permainan
futsal siswa di SMK Muhamad Toha tahun pelajaran 2015?
4. Bagaimana prestasi yang dihasilkan dari konsisi kebugaran yang baik
dalam olah raga futsal di SMK Muhamad Toha Tahun Pelajran 2015?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan di atas maka penulis merumuskan tujuan
penelitian sebagai berikut:
1. Menganalisi bentuk dan konsep pengembanngan pelatihan futsal
dalam meningkatkan kebugaran siswa di SMK Muhamad Toha Tahun
pelajran 2015
2. Menganalisi damapak dari kebugaran siswa terhadap motivasi
pertandingan futsal.
3. Mengaetahui gaya permainan futsal siswa dengan kebugaran fisik yang
baik.
4. Mengetahui prestasi yang dihasilkankan dari konsisi fisik yang baik.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis

Kebugaran jasmani yang baik sebagai salah satu komponen faktor yang dapat
menunjang aktivitas siswa baik dalam proses pembelajaran, kegiatan ekstakurikuler,
maupun sehari-hari.

2.

Manfaat Praktis
a. Bagi siswa, Dapat mengetahui sejauh mana tingkat kebugaran jasmaninya
sehingga diharapkan akan lebih meningkatkan kebugaran jasmaninya untuk
melakukan aktivitas dan prestasi yang lebih baik.

b. Bagi pelatih, dapat dijadikan masukan mengenai gambaran status


kebugaran jasmani para anak latihnya, sehingga dapat lebih mudah dan
terarah dalam usaha meningkatkan kondisi fisik anak latihnya untuk
berprestasi dan menentukan program latihan yang sesuai.
c. Bagi guru penjas, merupakan alat untuk mengevaluasi sehingga lebih
dapat aktif, kreatif dan inovatif dalam membina atau melatih siswa
melalui kegiatan ektrakurikuler.
d. Bagi sekolah, setelah mengetahui tingkat kebugaran jasmani siswanya,
dapat merencanakan dan mewujudkan model latihan yang efektif dan
efisien dalam melatih ekstrakurikuler futsal.

E. Definisi Operaional
1. Sumarjo (2002 : 43) kebugaran jasmani adalah kemampuan untuk
menyelesaikan tugas sehari-hari dengan mudah, tanpa kelelahan yang
berarti dan masih dapat menikmati waktu senggangnya serta dalam
keadaan darurat masih mampu melakukan pekerjaan yang tak terduga.
2. Martoyo (1996: 55) pengertian pelatihan adalah suatu
proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan
prosedur

sistematis

dan

terorganisir

dimana

para

karyawan non-manajerial mempelajari pengetahuan dan


keterampilan teknis dalam tujuan terbatas.
3. Futsal adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua regu dengan
satu regunya sebanyak 5 orang. Tujuan permainan ini, sama dengan
permainan sepak bola, yaitu memasukan bola sebanyak-banyaknya
kegawang lawan (Aulia , 2007, hal. 1). Futsal adalah kata yang
digunakan secara internasional untuk permainan sepak bola dalam
ruangan. Kata itu berasal dari kata Futbol atau Futebol (dari bahasa
Spanyol atau Portugal yang berarti permainan sepak bola) dan salon
atau sala (dari bahasa Prancis atau Spanyol yang berarti dalam
ruangan) (Murhananto, 2008, hal. 6).

F. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif, khususnya deskriptif
kuantitatif. Penelitian deskriptif kuantitatif adalah suatu kegiatan penelitian

yang bertujuan untuk menguji sebuah teori, membuat prediksi, memberikan


gambaran secara statistik untuk menunjukkan hubungan antar variabel, serta
mengukuhkan fakta. Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian dari
metode

yang

paling

dasar. Ditujukan

untuk

mendeskripsikan

atau

menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat


alamiah ataupun rekayasa manusia (Sugiyono, 2011, hal. 297).
Dalam penelitian ini , peneliti berada pada posisi pengumpul data. Data
yang telah dimiliki bersifat kualitatif dan kemudian di interpretasikan. Teknik
pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview
(wawancara) dan studi dokumentasi.
1. Observasi Partisipasitif
Hadi (1992 hal, 136) menjelaskan bahwa observasi sebagai pengamatan
dan pencaharian dengan sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.
observasi yakni mengamati dan mendengarkan perilaku seseorang selama
beberapa waktu, tanpa melakukan manupulasi atau pengendalian serta mencatat
penemuan yang mungkin atau memenuhi syarat untuk di gunakan kedalam
tindakan penafsiran analisis. Observasi adalah penelitian yang dilakukan dengan
cara melakukan penelitian langsung terhadap objek yang akan diteliti, sehingga
peneliti memperoleh data yang dibutuhkan secara langsung
2. Wawancara
Teknik wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan secara
langsung berhadapan dengan responden untuk mendapat informasi yang jelas dan
lengakap. Afifuddin dan Saebani (2009: 131) menjelaskan bahwa:Wawancara

adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada


seseorang yang menjadi informan atau responden. Nasution (1998: 69)
mengemukan bahwa observasi saja tidak memadai dalam melakukan penelitian,
itu sebabnya observasi harus di lengkapi dengan wawancara. Wawancara
merupakan salah satu teknik dalam pengumpulan data dalam penelitian kualitatif ,
karena menggunakan komunikasi dua arah antara peneliti dan informan dalam
penelitian ini. Dalam wawancara peneliti menyusun pedoman wawancara dalam
bentuk pertanyaan-pertanyaan pada waktu melaksanakan wawancara.
3. Studi Dokumentasi
Arikunto (2010, hal. 274) mengemukakan bahwa Dukomentasi adalah
usaha mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, surat
kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda ,dan sebagainya. Teknik ini
dilakukan dengan jalan menelaah atau mengkaji dokumen yang berhubungan
dengan masalah yang dikaji agar data yang dikumpulkan lebih sempurna.
Penggunaan teknik studi dokumentasi ini dimaksud untuk melengkapi data yang
diperoleh melalui wawancara dan observasi, dengan cara menelusuri, mempelajari
dan menganalisa berbagai dokumen agar data yang diperoleh dapat dipertanggung
jawabkan.
G. Analisis data
Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
data model interaktif dari Miles A & Huberman (1994, hal. 10-12) terdiri dari:

1. Reduksi data (data reduction)


Data yang diperoleh dari lapangan yang jumlahnya cukup banyak, maka
perlu dicatat secara teliti dan rinci. Untuk itu perlu dilakukan analisis data melalui
reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum , memilih halhal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting dicari tema dan polanya. Dengan
demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas.
2. Penyajian data (data disply )
Dalam penelitian kualitatif , penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk
uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan sejenisnya. Dalan hal ini Miles
dan Huberman, menyatakan the most frequent from of disply data for qualitative
research data in the has been narrative text. Maksudnya yang paling sering
digunakan untuk penyajian data dalam pemelitian kualitatif adalah dengan teks
yang bersifat naratif
3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi ( conclution drawing and
verification)
Penarikan kesimpulan/verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, periset
kualitatif mencari makna dari setiap gejala yang diperoleh di lapangan, mencatat
keteraturan atau pola penjelasan dan konfigurasi yang mungkin ada. Selama
penelitian masih berlangsung, setiap kesimpulan yang ditetapkan akan terus
menerus diverifikasi hingga benar-benar diperoleh konklusi yang valid dan kokoh.