Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Kanker ovarium adalah jenis kanker yang dimulai di ovarium. Perempuan memiliki dua
ovarium, satu di setiap sisi rahim. Ovarium masing-masing seukuran sebuah almond menghasilkan telur ( ovum ) serta hormon estrogen dan progesteron.1
Kanker ovarium sering tidak terdeteksi sampai telah menyebar di dalam panggul dan
perut. Pada tahap akhir ini, kanker ovarium lebih sulit untuk diobati dan sering fatal. Pada
stadium awal kanker ovarium, di mana penyakit ini terbatas pada ovarium, lebih cenderung
berhasil pada tatalaksana dan memberikan prognosis yang baik. Operasi dan kemoterapi
biasanya digunakan untuk mengobati kanker ovarium.1
Kanker ovarium adalah penyebab paling umum kematian kanker dari tumor ginekologi
di Amerika Serikat. Lesi ovarium ganas termasuk lesi primer timbul dari struktur normal dalam
lesi ovarium dan sekunder dari kanker yang timbul di tempat lain di tubuh. Lesi primer meliputi
karsinoma epitel ovarium ( 70 % dari semua keganasan ovarium ), tumor sel germinal dan
lainnya. 2

BAB II
PEMBAHASAN
Definisi
Kanker ovarium adalah jenis kanker yang dimulai di ovarium. Perempuan memiliki dua
ovarium, satu di setiap sisi rahim. Ovarium masing-masing seukuran sebuah almond menghasilkan telur ( ovum ) serta hormon estrogen dan progesteron.1 Kanker ovarium adalah
penyebab paling umum kematian kanker dari tumor ginekologi di Amerika Serikat. Lesi ovarium
ganas termasuk lesi primer timbul dari struktur normal dalam lesi ovarium dan sekunder dari
kanker yang timbul di tempat lain di tubuh. Lesi primer meliputi karsinoma epitel ovarium ( 70
% dari semua keganasan ovarium ), tumor sel germinal dan lainnya. 2
Kanker ovarium merupakan tumor dengan histiogenesis yang beraneka ragam, dapat
berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, endodermal, mesodermal) dengan sifat-sifat
hsitiologis maupun biologis yang beraneka ragam. Kanker ovarium sebagian besar berbentuk
kista berisi cairan maupun padat. Kanker ovarium disebut sebagai silent killer. Karena ovarium
terletak dibagian dalam sehingga tidak mudah terdeteksi 70-80% kanker ovarium baru
ditemukan pada stadium lanjut dan telah menyebar kemana-kemana.3
Anatomi Ovarium

Gambar 1 : Anatomi Ovarium dan Tuba

Wanita pada umumnya memiliki dua indung telur kanan dan kiri, dengan penggantung
mesovarium di bagian belakang ligamentum latum, kiri dan kanan. Ovarium adalah kurang lebih
sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang kira-kira 4 cm, lebar dan tebal kira-kira 1,5 cm.4
Hilusnya berhubungan dengan mesovarium tempat ditemukannya pembuluh-pembuluh
darah dan serabut-serabut saraf untuk ovarium. Pinggir bawahnya bebas. Permukaan
belakangnya pinggir keatas dan belakang , sedangkan permukaan depannya ke bawah dan depan.
Ujung yang dekat dengan tuba terletak lebih tinggi dari pada ujung yang dekat pada uterus, dan
tidak jarang diselubungi oleh beberapa fimbria dari infundibulum.4,7
Ujung ovarium yang lebih rendah berhubungan dengan uterus dengan ligamentum ovarii
proprium tempat ditemukannya jaringan otot yang menjadi satu dengan yang ada di ligamentum
rotundum. Embriologik kedua ligamentum berasal dari gubernakulum. 4-6

Gambar 2 : Anatomi Ovarium


Secara histologik, ovarium dilapisi oleh epitelium germinalis dan tunika albugenia. Sisi
dalam ovarium terdiri dari sel-sel folikel dan jaringan ikat yang sangat sensitif terhadap hormon
seks. Ovarium diperdarahi oleh arteri ovarica kanan dan kiri yang merupakan cabang dari aorta

desendens. Vena sebagai drainase mengikuti perjalanan arteri ovarica sebagai vena ovarica kanan
dan kiri.7

Gambar 3 : Ilustrasi Tumor Ovarium


Epidemiologi
Di Amerika Serikat, angka kejadian kanker ovarium adalah 12,1 per 100.000 wanita per
tahun, berdasarkan tahun 2008-2012. Insiden kanker ovarium telah perlahan-lahan menurun
sejak pertengahan 1980-an. Menurun sebesar 0,9% per tahun dari tahun 2007 sampai 2011.
Kanker ovarium lebih sering terjadi pada orang kulit putih daripada di Afrika Amerika (12,8 vs
9,8 kasus per 100.000 wanita per tahun, masing-masing).8
Kanker ovarium epitel dapat terjadi pada anak perempuan semuda 15 tahun, namun
usia rata-rata di diagnosis adalah 63 tahun, dan sebagian besar kasus yang didiagnosis pada
wanita 55-64 tahun. Di Amerika Serikat, risiko seumur hidup diperkirakan adalah 1,3%. 8
The American Cancer Society memperkirakan bahwa 21.290 kasus baru kanker
ovarium akan didiagnosis pada tahun 2015 dan 14.180 wanita akan meninggal akibat penyakit
tersebut. Meskipun kanker ovarium adalah kanker paling umum ke-17 pada wanita, itu adalah
penyebab paling umum kelima kanker kematian pada wanita, terhitung 5% dari kematian-lebih
4

kanker daripada kanker ginekologi lainnya. Dari 2007-2011, tingkat kematian akibat kanker
ovarium menurun 2,0% per tahun pada wanita kulit putih dan stabil pada wanita kulit hitam .8,9
Berdasarkan statistic internasional, kejadian berkisar dari 3,1 kasus per 100.000 wanita
di Jepang untuk 21 kasus per 100.000 wanita di Swedia. Di seluruh dunia, lebih dari 200.000
perempuan diperkirakan untuk mengembangkan kanker ovarium setiap tahun dan sekitar
100.000 meninggal akibat penyakit tersebut. Kanker ovarium epitel paling sering terjadi pada
wanita kulit putih di negara-negara industri di Eropa utara dan barat dan Amerika Utara dan
paling umum di India dan Asia. Wanita Asia memiliki risiko rendah kecuali mereka pindah ke
Amerika Utara atau Eropa. Wanita Skandinavia dan Norwegia memiliki risiko tertinggi.
Patologi10
Letak tumor yang tersembunyi dalam rongga perut dan sangat berbahaya dapat menjadi
besar tanpa disadari oleh penderita.
Pertumbuhan tumor primer diikuti oleh infiltrasi ke jaringan sekitar yang menyebabkan
berbagai keluhan samar-samar seperti perasaan lelah, makan sedikit terasa cepat menjadi
kenyang, sering kembunng, nafsu makan menurun. Kecenderungan untuk melakukan implantasi
di rongga perut merupakan ciri khas suatu tumor ganas ovarium yang menghasilkan asites.
Tumor ganas ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histiogenesis yang beraneka
ragam, dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, entodermal dan mesodermal) dengan
sifat-sifat histologis maupun biologis yang beraneka ragam. Oleh sebab itu histiogenesis maupun
klasifikasinya masih sering menjadi perdebatan. Semua klasifikasi tumor ovarium mempunyai
kelemahan oleh karena masih kurangnya pengetahuan tentang histogenesis semua tumor ovarium
dan oleh karena tumor ovarium yang tampaknya serupa mempunyai asal yang berbeda.
Kira-kira 60% terdapat pada usia peri-menopausal, 30% dalam masa reproduksi dan 10%
pada usia yang jauh lebih muda. Tumor ini dapat jinak (benigna), tidak jelas jinak tapi juga tidak
pasti ganas (borderline malignancy atau carcinoma of low-malignant potensial) dan yang jelas
ganas (true malignant).
Patofisiologi10,11

Meskipun kanker ovarium menyebabkan 15-20% kanker saluran reproduksi wanita,


kanker ini menyebabkan lebih banyak kematian dibanding gabungan tumor lainnya. Kanker
ovarium biasanya tidak bergejala sampai dapat teraba atau menyebar luas.
Kanker ovarium lebih sering terjadi pada wanita infertil atau yang pernah mengalami
abortus spontan berulang, terlambat hamil atau menderita kanker payudara. Di Amerika Serikat,
insidennya sebesar 6-7/100.000 dengan kejadian pada kulit hitam dan putih hampir sebanding.
Kanker ovarium sering dihubungkan dengan wanita dengan angka melahirkan yang
rendah dan infertile/tidak subur. Hal ini berkaitan dengan proses ovulasi dalam ovarium. Pada
lapisan korteks, gamet mengalami perkembangan untuk menjadi matang dan siap dilepaskan ke
rahim dalam hal ini terjadi setiap bulannya. Teorinya, perubahan epitel korteks secara terus
menerus untuk mematangkan gamet dapat memicu terjadinya mutasi spontan yang pada akhirnya
menimbulkan kanker pada ovarium. Pada wanita yang hamil proses ini terhenti untuk 9 bulan
sehingga resiko kanker semakin turun.
Faktor lain yang dapat meningkatkan resiko kanker adalah :

Menstruasi yang terlalu awal


Menopause yang terlalu terlambat
Faktor genetik, di mana dikatakan resiko tinggi terkena kanker ovarium bila ada mutasi pada

gen BRCA 1 dan gen BRCA 2.


Riwayat pernah menderita kanker payudara atau kanker lainnya pada usia muda
Sindrom Lynch II
Tidak pernah melahirkan
Melahirkan pertama sekali pada usia > 35 tahun.
Tumor ganas ovarium pada anak-anak paling sering berasal dari sel benih, sedangkan

pada wanita dewasa adalah tumor ganas epitel (> 90%), sebesar 70% bermetastasis ke luar
panggul pada saat diagnosis. Tempat metastasis adalah sebagai berikut; peritoneum (85%), pelvis
dan nodus limfe aorta (80%), omentum (70%), ovarium kontralateral (70%), nodus limfe
mediastinum atau supraklavikula (50%), hati (35%), pleura (33%), paru (25%), uterus (20%),
vagina (15%), tulang (15%), limpa (5-10%), ginjal (5-10%), adrenal (5-10%), kulit (5-10%),
vulva (1%) dan otak (1%). Ovarium juga dapat menjadi tempat metastasis tumor primer lainnya
atau karena perluasan langsung.
Stadium14

Penentuan stadium neoplasma ovarium yang paling luas digunakan adalah menurut
International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO). Ingatlah bahwa penentuan
stadium kanker ovarium mencakup semua penemuan saat operasi, berlawanan dengan kanker
serviks dan vulva yang penentuan stadiumnya didasarkan atas temuan klinis non operatif.
Penyebaran2
Tumor ganas ovarium menyebar secara limfogen ke kelenjar para aorta, mediastinal, dan
supraklavikular untuk seterusnya menyebar ke alat-alat yang jauh, terutama paru-paru, hati dan
otak.
Manifestasi Klinik2,10
Anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik yang lengkap sangat penting. Rasa tidak
nyaman dan rasa penuh di perut, serta cepat merasa kenyang sering berhubungan dengan kanker
ovarium. Kanker ovarium pada stadium dini tidak memberikan keluhan. Keluhan yang timbul
berhubungan dengan peningkatan massa tumor, penyebaran tumor pada permukaan serosa dari
kolon dan asites. Gejala lain yang sering timbul adalah mudah lelah, perut membuncit, sering
kencing dan nafas pendek akibat efusi pleura dan asites yang masif.
Dengan meningkatnya usia kemungkinan keganasan akan meningkat pula. Secara umum
akan terjadi peningkatan risiko keganasan mencapai 13% pada premenopause dan 45% setelah
menopause.

Table 1. FIGO staging system for ovarian cancer

Dengan melakukan pemeriksaan bimanual akan membantu dalam memperkirakan


ukuran, lokasi, konsistensi dan mobilitas dari massa tumor. Penemuan fisik yang paling sering
adalah massa adneksa, massa abdomen, asites atau nodulasi. Setiap massa yang terfiksir dalam
cul-de-sac posterior harus dipertimbangkan kemungkinan ganas, seperti massa berukuran besar
dan terfiksir.

Keganasan ovarium diketahui setelah stadium lanjut. Gejala dan tanda keganasan, yaitu : 10,11,12

Perubahan menstruasi.
Rasa sakit atau sensasi nyeri saat bersenggama (dyspareunia).
Gangguan pencernaan yang menetap, seperti: kembung, mual.
Obstruksi pada vesica urinaria (poliuria sampai dengan anuria) atau rektum (obstipasi

dan konstipasi).
Massa tumor di pelvis. Tumor memiliki bagian padat, ireguler dan terfiksir ke dinding

panggul, bila tanda-tanda tersebut ada maka keganasan perlu dicurigai.


Tumor cepat membesar
Berbenjol-benjol
Terdapat asites
Tubuh bagian atas kering, sedangkan bagian bawah terjadi edema tungkai.

Gambar 4. Gejala awal kanker ovarium

Barber (1982) mengingatkan perlunya perhatian khusus, bila dalam pemeriksaan


dijumpai hal-hal sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Adanya massa tumor di daerah ovarium


Gerakan tumor terbatas
Permukaan tumor irreguler
Adanya tumor di daerah cul de sac
Massa tumor bilateral
Tumor daerah panggul yang membesar dalam observasi
Adanya asites
Adanya omental cake atau hepatomegali
Tumor di daerah panggul setelah menopause
9

Disaia (1989) mengamati perbedaan-perbedaan antara tumor jinak dan ganas ovarium,
baik pada pemeriksaan panggul maupun pada saat pembedahan; sehingga kewaspadaan terhadap
adanya keganasan tersebut dapat lebih terarah lagi.
Table 2. Penemuan pada pemeriksaan panggul (Disaia, 1989)
Jinak

Ganas

Sifat

unilateral

bilateral

Konsistensi

kistik

padat

Gerakan

bebas

terbatas

Permukaan

licin

tidak licin

Asites

sedikit/tidak ada

banyak

Benjolan di daerah cul de sac

tidak ada

ada

Pertumbuhan

lambat

cepat

Table 3. Penemuan pada saat pembedahan (Disaia,1989)


Jinak
Permukaan papiler

jarang

Ganas
sangat sering

Intrakistik papiler

jarang

sangat sering

Konsistensi padat

jarang

sangat sering

Bilateral

jarang

sering

Perlengketan

jarang

sering

Asites

jarang

sering

Nekrosis

jarang

serng

Implantasi pada peritoneum

jarang

sering

Kapsel utuh

sering

jarang

Konsistensi kistik

sering

jarang

Sedangkan Sudaryanto (1989) mengemukakan penggunaan suatu indeks untuk


melakukan diagnosis keganasan ovarium prabedah, dengan 8 variabel yang masing-masing

10

diberi bobot dengan skor dan nilai pisah untuk indeks ini adalah 3. Skor 3-5 menunjukkan
kecurigaan keganasan, sedangkan skor 6 atau lebih dapat dikatakan ganas
Table 4. Indeks keganasan ovarium (Sudaryanto, 1989)
No

Petunjuk Diagnosis

Variabel

.
1

Lamanya pembesaran a. Lambat (lebih dari 16 bulan atau tak ada 0


perut atau tumor

2
3
4

5
6

Keadaan umum
Tingkat kekurusan
Konsistensi tumor

Permukaan tumor
Gerakan tumor

b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
c.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.

Skor

pembesaran)
Cepat (16 bulan atau kurang)
Baik
Kurang/tidak baik
Normal/gemuk
Kurus
Kistik homogen
Solid homogen
Macam-macam
Rata/licin
Berbenjol/tidak teratur
Bebas
Tak bebas
Tak ada
Ada
Rendah (60 mm atau kurang)
Tinggi (lebih dari 60 mm)

1
0
1
0
1
0
1
2
0
1
0
1

Ascites

0
1

LED 1 jam

0
1

Diagnosis 2,11,12
Melihat topografi ovarium hampir tak memungkinkan kita melakukan deteksi dini tumor
ganas ovarium oleh karena letaknya sangat tersembunyi. Tidak ada uji penapisan rutin yang
tersedia untuk kanker ovarium. Gejala berupa nyeri yang terjadi jika terdapat regangan yang

11

bermakna, peradangan, torsi atau traksi. Penekanan pada pelvis mungkin terjadi jika tumor besar.
Pembesaran lingkar perut, penambahan atau penurunan berat badan dan gejala-gejala saluran
cerna berkisar dari gangguan cerna hingga obstruksi usus, dapat terjadi pada kanker ovarium.
Diagnosis didasarkan atas 3 tanda dan gejala yang biasanya muncul dalam perjalanan
penyakitnya yang sudah agak lanjut.
1. Gejala desakan yang dihubungkan dengan pertumbuhan primer dan infiltrasi ke
jaringan sekitar.
2. Gejala diseminasi/penyebaran yang diakibatkan oleh implantasi peritoneal dan
bermanifestasi adanya ascites.
3. Gejala hormonal yang bermanifestasi sebagai defeminisasi, maskulinisasi atau
hiperesterogenisme; intensitas gejala ini sangat bervariasi dengan tipe histologik
tumor dan usia penderita.
Pemeriksaan ginekologik dan palpasi abdominal akan mendapatkan tumor atau massa, di
dalam panggul dengan bermacam-macam konsistensi mulai dari yang kistik sampai yang solid
(padat). Kondisi yang sebenarnya dari tumor jarang dapat ditegakkan hanya dengan pemeriksaan
klinik. Pemakaian USG dan CT-scan dapat memberi informasi yang berharga mengenai ukuran
tumor dan perluasannya sebelum pembedahan. Laparatomi eksploratif disertai biopsi potong
beku (frozen section) masih tetap merupakan prosedur diagnostik paling berguna untuk mendapat
gambaran sebenarnya mengenai tumor dan perluasannya serta menentukan strategi penanganan
selanjutnya. Diagnosis tergantung penilaian klinis, laboratorium dan pembedahan yang tepat.
Laboratorium12
Evaluasi perioperatif untuk kecurigaan kanker ovarium meliputi pemeriksaan darah
lengkap dan hitung jenis, kimia darah, urinalisis, sitologi serviks dan vagina, pemeriksaan
radiologi dada dan perut, pielografi intravena, barium enema dan mungkin uji fungsi hati, profil
koagulasi, pemeriksaan gastrointestinal serial. Akhirnya, antigen tumor berupa Ca 125 atau CEA
dapat membantu dalam mengevaluasi keganasan.
Pemeriksaan Penunjang
1. USG Ginekologi

12

Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penunjang dalam diagnosis suatu tumor ganas atau
jinak. Pada keganasan akan memberikan gambaran dengan septa internal, padat, berpapil,
dan dapat ditemukan adanya asites. Walaupun ada pemeriksaan yang lebih canggih seperti
CT-Scan, MRI, dan positron tomografi akan memberikan gambaran yang lebih mengesankan,
namun pada penelitian tidak menunjukan tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang lebih baik
dari ultrasonografi.
2. CT-Scan (Computed Tomography Scanning) dan MRI (Magnetic Resonance Imaging).
3. Laparoskopi
4. Parasentesis cairan asites
Pengambilan cairan asites dengan parasintesis tidak dianjurkan pada penderita dengan asites
yang disertai massa pelvis, karena dapat menyebabkan pecahnya dinding kista akibat bagian
yang diduga asites ternyata kista yang memenuhi rongga perut. Pengeluaran cairan asites
hanya dibenarkan apabila penderita mengeluh sesak akibat desakan pada diafragma.
Bila terdapat cairan ascites yang tidak dapat diterangkan asalnya atau sebabnya (misalnya
akibat Cirrhosis hepatis), laparatomi eksploratif harus dijalankan.
5. Tumor marker
Serum CA 125 saat ini merupakan petanda tumor yang paling sering digunakan dalam
penapisan kanker ovarium jenis epitel, walaupun sering disertai keterbatasan. Perhatian telah
pula diarahkan pada adanya petanda tumor untuk jenis sel germinal, antara lain Alphafetoprotein (AFP), Lactic acid dehidrogenase (LDH), human placental lactogen (hPL),
plasental-like alkaline phosphatase (PLAP) dan human chorionic gonadotrophin (hCG).
Tatalaksana10-12
Pada dasarnya setiap tumor ovarium yang diameternya lebih dari 5 sentimeter merupakan
indikasi untuk tindakan laparatomi, karena kecenderungan untuk mengalami komplikasi. Apabila
tumor ovarium tidak memberikan gejala dan diameternya kurang dari 5 sentimeter, biasanya
merupakan kista folikel atau kista lutein.
Pengobatan baku dari kanker ovarium stadium awal adalah dengan pembedahan radikal
berupa pengangkatan tumor secara utuh, pengangkatan uterus beserta kedua tuba dan ovarium,
pengangkatan omentum, pengangkatan kelenjar getah bening, pengambilan sampel dari
peritoneum dan diafragma, serta melakukan bilasan rongga peritoneum di beberapa tempat untuk
pemeriksaan sitologi. Tindakan pembedahan ini juga dimaksudkan untuk menentukan stadium
dari kanker ovarium tersebut (surgical staging). Setelah pembedahan radikal ini, jika diperlukan
diberikan terapi adjuvant dengan kemoterapi, radioterapi atau immunoterapi.
13

Operasi
Terapi standar terdiri atas histerektomi abdominal total (TAH), salpingoooforektomi bilateral
(BSO) dan omentektomi serta APP (optional). Nodus retroperitoneal harus dipalpasi dan
dibiopsi jika mencurigakan. Sebanyak mungkin tumor (untuk memperkecil) harus diangkat
untuk mengurangi keseluruhan massa tumor. Namun pembedahan lebih radikal belum
terbukti menambah manfaat.
Dapat didahului frozen section untuk kepastian ganas dan tindakan operasi lebih lanjut. Hasil
operasi harus dilakukan pemeriksaan PA, sehingga kepastian klasifikasi tumor dapat
ditetapkan untuk menentukan terapi.
Pada sebagian kasus, penyakit terlalu luas untuk histerektomi total, adneksektomi dan
omentektomi pada kasus-kasus seperti ini sebaiknya sebanyak mungkin tumor diangkat
untuk meningkatkan hasil terapi tambahan (kemoterapi dan terapi radiasi). Operasi tumor
ganas diharapkan dengan cara debulking (cytoreductive) pengambilan sebanyak mungkin
jaringan tumor sampai dalam batas aman. Dengan debulking memungkinkan kemoterapi

maupun radioterapi menjadi lebih efektif.


Radiasi untuk membunuh sel-sel tumor yang tersisa, hanya efektif pada jenis tumor yang
peka terhadap sinar (radiosensitif) seperti disgerminoma dan tumor sel granulosa.
Radioterapi sebagai pengobatan lanjutan umumnya digunakan pada tingkat klinik T1 dan T2

yang diberikan kepada panggul saja atau seluruh rongga perut.


Kemoterapi merupakan terapi tambahan awal yang lebih disukai karena terapi radiasi
mempunyai keterbatasan (misalnya merusak hati atau ginjal). Setelah mendapatkan radiasi
atau kemoterapi, dapat dilakukan operasi ke dua (eksplorasi ulang) untuk mengambil

sebanyak mungkin jaringan tumor.


Untuk memastikan keberhasilan penanganan dengan radioterapi atau kemoterapi, lazim
dilakukan lapatotomi kedua (second-look laparotomi), bahkan kadang sampai ketiga (thirdlook laparotomi). Hal ini memungkinkan kita membuat penilaian akurat proses penyakit,
hingga dapat menetapkan strategi pengobatan selanjutnya. Bisa dihentikan atau perlu
dilanjutkan dengan alternatif pengobatan lain.

Komplikasi
Obstruksi usus merupakan komplikasi yang sering terjadi pada kasus tingkatan lanjut
yang dikelola dengan melakukan reseksi usus sekali atau beberapa kali untuk membuat by pass
bila kondisi penderita mengizinkan.
14

Prognosis 1,2,10-12
Angka kelangsungan hidup 5 tahun (Five years survival rate) penderita kanker
ovarium stadium lanjut hanya kira-kira 20-30%.
Prognosis dari tumor ovarium tergantung dari beberapa hal antara lain :

Stadium
Jenis histologis
Derajat diferensiasi tumor
Residu tumor
Free disease interval

Pengamatan Lanjut
Untuk tumor ganas ovarium skema/bagan pengamatan lanjut (follow up control) adalah
sebagai berikut :

Sampai 1 tahun setelah penanganan, setiap 2 bulan.


Kemudian sampai 3 tahun setelah penanganan, setiap 4 bulan.
Kemudian sampai 5 tahun setelah penanganan, setiap 6 bulan
Seterusnya setiap setahun sekali.
BAB III
KESIMPULAN
Kanker ovarium adalah jenis kanker yang dimulai di ovarium. Perempuan memiliki dua

ovarium, satu di setiap sisi rahim. Ovarium masing-masing seukuran sebuah almond menghasilkan telur ( ovum ) serta hormon estrogen dan progesteron.
Sebagian besar kanker ovarium bermula dari suatu kista. Oleh karena itu, apabila pada
seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk
menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). Ciri-ciri kista yang
bersifat ganas yaitu dapat dilihat pada penemuan saat pemeriksaan panggul (Tabel 2), penemuan
saat pembedahan (Tabel 3), dan dengan menggunakan indeks keganasan ovarium (Table 4).
Pengobatan baku dari kanker ovarium stadium awal adalah dengan pembedahan radikal
berupa pengangkatan tumor secara utuh, pengangkatan uterus beserta kedua tuba dan ovarium,

15

pengangkatan omentum, pengangkatan kelenjar getah bening, pengambilan sampel dari


peritoneum dan diafragma, serta melakukan bilasan rongga peritoneum di beberapa tempat untuk
pemeriksaan sitologi. Tindakan pembedahan ini juga dimaksudkan untuk menentukan stadium
dari kanker ovarium tersebut (surgical staging). Setelah pembedahan radikal ini, jika diperlukan
diberikan terapi adjuvant dengan kemoterapi, radioterapi atau immunoterapi.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Mayo clinic. Ovarian cancer, available at http://www.mayoclinic.org/diseasesconditions/ovarian-cancer/basics/definition/con-20028096. Accessed on September 24,
2015.
2. Medscape
Reference,
Ovarian
cancer,
available
at
http://emedicine.medscape.com/article/255771-overview#a1. Accessed on September 24,
2015.
3. Norwit, Errol dan Schorge, John, 2007. At a Glance Obstetri & Ginekologi Edisi kedua.
Penerbit Erlangga. Jakarta
4. Wiknjosastro H. Buku Ilmu Kandungan Edisi 2., editor: Saifuddin A.B,dkk. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.1999: 13-14
5. Sjamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, l 1027; Jakarta, 1998
6. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius. 2000.
7. Medscape
Reference
,
Ovarium
Anatomy,
Available
at
http://emedicine.medscape.com/article/1949171-overview#aw2aab6b3, Last Update
October 3, 2013. Accessed on September 23, 2015.

16

8. Surveillance, Epidemiology, and End Results Program. SEER Stat Fact Sheets: Ovary
Cancer.
National
Cancer
Institute.
Available
at http://seer.cancer.gov/statfacts/html/ovary.html. Accessed: September 23, 2015.
9. American Cancer Society. Cancer Facts & Figures 2015. American Cancer Society.
Available
athttp://www.cancer.org/acs/groups/content/@editorial/documents/document/acspc044552.pdf. Accessed: September 23, 2015
10. Busmar, B. Kanker Ovarium. Dalam Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. Editor:
M.F. Azis, Andrijono, dan A.B. Saifuddin. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2006: hal. 468-257.
11. De Jong, W. Tumor Ovarium dalam Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.
2003:729-730.
12. Kumar V, Cotran RS, and Robbins SL. Robbins Basic Pathology 7 th ed. New York: W.B.
Saunders Company. 2003.

17