Anda di halaman 1dari 19

JUDUL : Konstruksi Bangunan Bank

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada era globalisasi saat ini perkembangan ekonomi semakin pesat sehingga perlu adanya upaya untuk
meningkatkannya, salah satu sektor vital adalah dunia perbankan. Dunia perbankan tidak dapat di lepaskan dari adanya
BANK dengan gedung yang memadai. Untuk menjawab kebutuhan infrastruktur tersebut dibutuhkan perancangan
struktur bangunan yang baik.
1.2 Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu untuk menambah pengetahuan tentang pentingnya perencanaan dari
pembangunan terhadap utility dari bangunan itu sendiri
1.3 Metode Penulisan
Penulis menggunakan metode kepustakaan, dalam metode ini penulis mengambil referensi yang berkaitan dengan
penulisan makalah ini.
BAB II. PEMBAHASAN
PENGERTIAN BANGUNAN TINGGI
Sebuah bangunan tinggi adalah bangunan atau struktur tinggi. Biasanya, fungsi bangunan ditambahkan,
contohnya bangunan bank tinggi atau perkantoran tinggi. Bangunan tinggi menjadi mungkin dengan
penemuan elevator (lift) dan bahan bangunan yang lebih murah dan kuat. Bangunan antara 49 kaki dan 491 kaki
(15 mhingga 150 m), berdasarkan beberapa standar, dianggap bangunan tinggi. Bangunan yang lebih dari 492
kaki (150 m) disebut sebagai pencakar langit. Tinggi rata-rata satu tingkat adalah 13 kaki (4 m), sehingga
bangunan setinggi 79 kaki (24 m) memiliki 6 tingkat.
Bahan

yang

digunakan

untuk sistem struktural bangunan

tinggi

adalah beton

kuat

dan besi.

Banyak pencakar langit bergaya Amerika memiliki bingkai besi, sementara blok menara penghunian dibangun
tanpa beton.
Meskipun definisi tetapnya tidak jelas, banyak badan mencoba mengartikan arti bangunan tinggi:
1. International Conference on Fire Safety in High-Rise Buildingsmengartikan bangunan tinggi sebagai
"struktur apapun dimana tinggi dapat memiliki dampak besar terhadap evakuasi"
2. New Shorter Oxford English Dictionary mengartikan bangunan tinggi sebagai "bangunan yang memiliki
banyak tingkat"
3. Massachusetts General Laws mengartikan bangunan tinggi lebih tinggi dari 70kaki (21 m)
4. Banyak insinyur, inspektur, arsitek bangunan dan profesi sejenisnya mengartikan bangunan tinggi sebagai
bangunan yang memiliki tinggi setidaknya 75 kaki (23 m).
Struktur bangunan tinggi memiliki tantangan desain untuk pembangunan struktural dan geoteknis, terutama
bila terletak di wilayah seismik atau tanah liat memiliki faktor risiko geoteknis seperti tekanan tinggi
1

atau tanah lumpur. Mereka juga menghadapi tantangan serius bagi pemadam kebakaran selama keadaan
darurat pada struktur tinggi. Desain baru dan lama bangunan, sistem bangunan seperti sistem pipa
berdiri bangunan, sistem HVAC (Heating, Ventilation and Air Conditioning), sistem penyiram api dan hal
lain seperti evakuasi tangga dan elevator mengalami masalah seperti itu.

STRUKTUR DAN FASILITAS GEDUNG


2.1 PELAT LANTAI (FLOOR PLATE)
Yang di maksud pelat lantai adalah yang terletak di atas tanah langsung jadi merupakan lantai tingkat.
Pelat lantai ini di bentuk oleh balok-balok yang bertumpu pada kolom-kolom bangunan.
Guna pelat lantai adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Memisahkan ruang bawah dan atas,


Sebagai tempat berpijak penghuni di atas,
Untuk menempatkan kabel listrik dan lampu pada ruang bawah,
Meredam suara dari ruang atas maupun ruang bawah dan
Menambah kekakuan bangunan pada arah horisontal.
Kuat lantai harus direncanakan: kaku, rata, lurus dan waterpas (mempunyai ketinggian sama; tidak

miring), agar terasa mantap dan enak untuk berpijak kaki. Ketebalan pelat lantai ditentukan oleh: beban yang
harus didukung, besaran lendutan yang di izinkan, lebar bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung,
bahan konstruksi dari pelat lantai.
Pada pelat lantai banya diperhitungkan adanya beban tetap saja yang bekerja tetap dalam waktu yang
lama. Sedang beban tak terduga seperti gempa, angin, getaran tidak di perhitungkan. Bahan untuk pelat lantai
dapat terbuat dari Kayu,Beton dan Baja. Pelat lantai dari baja umumnya hanya untuk bangunan gudang, bengkel
atau bangunan khusus yang dapat di pesan dari perusahaan baja atau bengkel besi.
Pelat lantai dari beton bertulang umumnya di cor ditempat ,bersama sama balok penumpu dan kolom
pendukungnya. Demikian akan diperoleh hubungan yang kuat yang menjadi satu kesatuan, hubungan ini disebut
jepit-jepit. Pada pelat lantai beton di pasang tulangan baja pada kedua arah,tulangan silang untuk menahan
momen tarik dan lenturan. Untuk mendapatkan hubungan jepit-jepit, tulangan pelat lantai harus di kaitkan kuat
pada tulangan balok pengampu. Pelat lantai dari beton mempunya banyak keuntungan, antara lain adalah:
1. Mampu menahan beban besar,
2. Merupakan isolasi suara yang baik,
3. Tidak dapat terbakar dan dapat dibuat lapisan kedap air, jadi di atasnya boleh di buat dapur dan kamar
mandi,
4. Dapat dipasang tegel untuk keindahan lantai,
5. Merusakan bahan yang kuat dan awet, tidak perlu perawatan dan dapat berumur panjang.
Untuk menghindari lenturan yang besar, maka bentangan pelat lantai tidak dibuat terlalu lebar, untuk ini
dapat di beri balok-balok sebagai tumpuan yang juga berfungsi menambah kekuatan pelat. Bentangan pelat yang
besar juga akan menyebabkan pelat menjadi terlalu tebal dan jumlah tulangan yang dibutuhkan akan menjadi
lebih banyak, berarti berat bangunan akan menjadi lebih besar dan harga persatuan luas akan menjadi mahal.
2

Pelat lantai dari beton umumnya dicor di tempat. Untuk ini diperlukan pekerjaan bekesting, yaitu
membuat cetakan dari papan kayu yang di dukung oleh tiang tiang perancah. Cetakan ini berfungsi untuk
menahan tulangan dan adukan beton yang masih basah yang belum mempunyai kekuatan dan juga memberi
bentuk agar ukuran beton sesuai dengan yang di rencanakan. Pada pelat lantai beton yang bawahnya tidak di
pasang plafon, maka kabel kabel listrik harus di tanam di bawah betonnya, jadi sebelum pekerjaan cor di mulai,
semua kabel jaringan listrik sudah terpasang rapi di atas papan cetakan. Untuk menggantungkan bola lampu
dapat di pasang papan kayu kecil yang tertanam didalam betonnya.
Bagian pelat lantai untuk ruangan dibuat rata atas dengan balok penumpunya,tapi pada ruangan kamar
mandi harus di buat rata bawah, jadi pelat lantai kamar mandi lebih rendah daripada lantai ruangan. Beda lantai
ini dimaksudkanuntuk meletakkan pipa sanitasi agar dapat tertanam dan menyebabkan merembesnya air ke
ruangan lain apabila pelat lantai kamar mandi ternyata bocor.
Untuk membongkar bekesting harus menunggu sampai betonnya menjadi keras dan kuat mendukung
beban diatasnya.jika tidak ditentukan lain, pembongkaran bekesting hanya boleh setelah beton berumur 3
minggu.
Untuk mencegah kepingan plat lepas saat bangunan digoncang gempa, maka kepingan plat harus dibuat
menyatu dengan baloknya. Caranya adalah Tulangan pada kepingan plat harus dilebihkan keluar yang nantinya
di lilitkan pada stek-stek tulang yang sudah disiapkan pada baloknya, sehingga dengan demikian dapat dijamin
adanya hubungan yang baik antara kepingan plat dan balok penumpunya.
2.2 RANGKA BANGUNAN
Rangka bangunan adalah bagian dari bangunan yang merupakan struktur utama pendukung berat
bangunan dan beban luar yang bekerja padanya.
Rangka bangunan untuk bangunan bertingkat sederhana atau bertingkat sederhana atau bertingkat rendah.
Umumnya berupa Struktur Rangka Portal (Frame Structure,Open Frame). Struktur ini berupa kerangka
yang terdiri dari kolom dan balok yang merupakan rangkaian yang menjadi satu kesatuan yang kuat.
Pada sistem rangka ini,dinding penyekat tidak di perhitungkan ikut mendukung beban, jadi fungsinya
hanya sebagai pembatas ruang saja, oleh karena itu ukurannya harus di buat sekecil mungkin, agar beratnya
dapat seringan-ringannya. Dengan demikian ukuran rangka portal dan fondasinya akan menjadi lebih kecil.
Kolom portal harus di buat menerus dari lantai bawah sampai lantai atas, artinya letak kolom kolom portal
tidak boleh digeser pada tiap lantai, karena hal ini akan menghilangkan sifat kekakuan dari struktur rangka
portalnya. Jadi harus di hindarkan denah kolom portal yang tidak sama untuk tiap tiap lapis lantai .Ukuran
kolom makin ke atas boleh makin kecil, sesuai dengan beban bangunan yang di dukungnya makin ke atas juga
makin kecil. Perubahan dimensi kolom harus dilakukan pada lapis lantai, agar satu lajur kolom mempunyai
kekakuan yang sama.
Balok portal merangkai kolom-kolom menjadi satu kesatuan. Balok menerima seluruh beban dari plat
lantai ke kolom-kolom pendukung. Hubungan balok dan kolom adalah jepit- jepit, yaitu suatu sistem dukungan

yang dapat menahan Momen, Gaya vertikal dan Gaya horisontal. Untuk menambah kekakuan balok, di bagian
pangkal pada pertemuan dengan kolom, boleh ditambah tebalnya.
Rangka Portal harus direncanakan dan diperhitungkan kekuatannya terhadap beban sebagai berikut:
Beban- Mati, dinyatakan dengan lambang

:M

Beban Hidup, dinyatakan dengan lambang : H


Beban Angin, di nyatakan dengan lambang : A
Beban Gempa, di nyatakan dengan lambang : G
Beban- Khusus, dinyatakan dengan lambang : K
Kombinasi pembebanan
Pembebanan tetap

: M+H

Pembebanan sementara

: (M+H) + A Di pilih pengaruh yang lebih besar

Atau
Pembebanan khusus

: (M+H) + G
: (M+H) + K

Atau

: (M+H) + A +K

Atau

: (M+H) + G +K

Untuk merencanakan dan menghitung kekuatan suatu kontruksi bangunan dipakai pembebanan tetap
yang paling terberat. Setelah diperoleh ukuran dari kontruksi portalnya berdasarkan ijin bahan, langkah
selanjutnya adalah mengadakan perhitungan kontrol terhadap beban sementara atau beban khusus, dipilih
pengaruh mana yang lebih membahayakan kontruksi. Apabila pada hitungan kontrol ternyata kontruksi tidak
aman terhadap beban sementara, maka ukuran konstruksi tersebut harus diperbasar lagi. Jadi suatu konstruksi
bangunan harus aman dan mampu mundukung beban tetap, beban sementara dan atau beban khusus.
Pengertian beban
1. Beban-mati adalah berat dari semua bagian bangunan yang bersifat tetap, termasuk segala unsur tambagan,
pekerjaan pelengkap (finishing), serta alat atau mesin, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari rangka
bangunannya,
2. Beban-hidup adalah berat dari penghuni dan atau barang-barang yang dapat berpindah, yang bukan
merupakan bagian dari bangunan. Pada atap, beban-hidup termasuk air-hujan yang tergenang,
3. Beban-angin adalah beban yang bekerja pada bangunan atau bagiannya, karena adanya selisih tekanan udara
(hembusan angin kencang),
4. Beban-gempa adalah besarnya getaran yang terjadi di dalam struktur rangka bangunan akibat adanya
gerakan tanah oleh, dihitung berdasarkan suatu analisa dinamik,
5. Beban-khusus adalah beban kerja yang berasal dari: adanya selisih suhu, penurunan fondasi, susut bahan,
gaya rem dari kran, getaran mesin berat.
Rangka portal untuk bangunan bertingkat rendah, umumnya dibuat dari bahan konstruksi beton
bertulang. Bahan beton merupakan konstruksi yang kuat menahan gaya desak, sedang tulangan baja mampu
menahan gaya tarik, jadi bagan beton bertulang merupakan konstruksi bangunan yang mampu menahan gayadesak dan gaya tarik yaitu gaya-gaya yang bersifat merusak pada konstruksi. Selain itu beton bertulang juga
4

merupakan konstruksi tahan gempa, tahan api, merupakan bahan yang kuat dan awet yang tidak perlu perawatan
dan dapat berumur panjang.
Untuk hitungan Mekanika portalnya, dapat dipakai anggapan-anggapan sebagai berikut:
1.

Bangunan bertingkat 2 lantai dengan atap rangka kayu.


Portal di sini tidak bertingkat, pada balok bekerja beban terbagi rata-rata dari plat lantai. Sedang pada kolom
masih ada beban titik (P) dari berat kuda-kuda dan plafon lantai atas,

2.

Bangunan bertingkat 2 lantai dengan atap datar yang menjadi satu dengan tangka bangunannya. Di sini portalnya
bertingkat satu. Pada balok lantai bekerja beban terbagi rata dari lantai (q1) dan pada balok atap bekerja beban
terbagi rata dari atap (q2).

Semua rangka bangunan bertingkat harus direncanakan dan diperhitungkan mampu meredam gaya gempa yang
melandanya. Mengingat bahwa gaya gempa ini sulit diukur kepastian besarnya, maka biasanya untuk perencanaan
diberi batasan-batasan sebagai berikut:
1.

Pada gempa kecil, struktur tidak boleh mengalami kerusakan sekecil apapun,

2.

Pada gempa sedang, bagian yang non struktural boleh rusak, artinya bagian ini boleh dikorbankan agar struktur
utamaya tetap utuh,

3.

Pada gempa besar, sebagian struktur boleh rusak tapi tidak mengakibatkan keruntuhan seluruh bangunan.

Besarnya angka keamanan untuk gempa dapat detuntukan antara lain berdasarkan kepada:
1.

Zone daerah gempa, pada daerah yang sering dilanda gempa harus diberikan angka keamanan yang cukup
besar,

2.

Fungsi gedung, misal untuk bangunan rumah-sakit atau sekolah mempunyai angka keamanan lebih besar
daripada bangunan perkantoran,

3.

Luas dan tinggi gedung, untuk gedung yang makin besar dan komplek harus diberikan angka keamanan yang
makin besar pula,

4.

Jenis bahan konstuksi yang dipakai dan tipe atau bentuk bangunan, juga akan menuntut suatu angka keamanan
tertentu yang dipakai dan tipe atau bentuk bangunan, juga akan menuntut suatu angka keamanan tertentu yang
besarnya dapat diambil berdasarkan dari buku peraturan yang berlaku.
Pada stuktur open frame, semua pasangan bata dan rangka pintu-jendela tidak boleh diperhitungkan
ikut sebagai pendukung beban bangunan, biasanya bagian ini yang dikorbankan untuk rusak apabila ada gempa.
Dalam perencanaan rangka portal, kolom harus dibuat lebih kuat daripada baloknya dan balok lebih kuat
daripada pelat lantainya. Hal ini dapat dimengerti, sebab keruntuhan satu kolom berarti keruntuhan total
bangunan
Langkah-langkah dalam perencanaan struktur bangunan bertingkat adalah :
1.

Hitungan Mekanika: Pada tahap ini detentukan besarnya beban yang bekerja, kemudian dengan dasar
gambar konstruksi dan metoda hitungn yang berlaku, dicari besarnya momen, gaya lintang dan gaya
geser akibat beban tetap,

2.

Perencanaan kontruksi: Misal akan dipakai konstuksi beton bertulang, maka dengan berdasarkan
tegangan izin bahan (*) dan hasil hitungn mekanika, dapat ditentukan dimensi dari struktur beton dan

3.

tulangannya,
Kontrol Gaya Gempa: Pada tahap beban sementara ini dilakukan kontol hitungan dari hasil dimensi
struktur yang sudah didapat, agar nantinya struktur betul-betul mempunyai konstruksi yang mantap, aman
stabil.

2.3 ATAP (ROOF)


Atap adalah

penutup

atas

suatu bangunan yang

melindungi

bagian

dalam

bangunan

dari hujan maupun salju. Bentuk atap ada yang datar dan ada yang miring, walaupun datar harus dipikirkan
untuk mengalirkan air agar bisa jatuh. Bahan untuk atap bermacam-macam, di antaranya: genting (keramik,
beton), seng bergelombang, asbes, maupun semen cor. Adapula atap genteng metal yang sangat ringan, tahan
lama, anti karat dan tahan gempa.
Atap landai dapat menggunakan penutup atap dengan lembaran-lembaran besar seperti seng gelombang
atau asbes. Untuk membentuk suatu sudut dengan rangka bangunannya.
Ditinjau dari besarnya sudut kemiringan, atap sudut dapat dibagi menjadi dua, yaitu: Atap Landai, Atap
Runcing.
Atap landai dapat menggunakan penutup atap dengan lembaran-lembaran besar seperti seng gelombang
atau asbes. Untuk membentuk sudut kemiringan atap, dapat dibuat konstruksi rangka batang (kuda-kuda) dari
kayu atau baja. Karena landai, maka tekanan angin yang diterima hanya kecil saja, hal ini akan menguntungkan
terhadap kestabilan konstruksi
Atap runcing dapat memberi kesan megah dan anggun terhadap bangunannya. Pembuatan rangka atap
membutuhkan batang lebih banyak dan luas, bidang atapnya juga lebih besar dibandingankan atap landai, jadi
harga per satuan luas atap menjadi lebih mahal juga. Pengaruh tekanan angin pada bidang atap dan pengaruh
gaya gempa terasa lebih besar, maka ukuran konstruksi pada rangka bangunannya harus juga diperhitungkan
adanya momen guling oleh angin dan atau gempa.
Makin tinggi tempat lari muka tanah, makin besar pula tekanan anginnya, maka untuk mencegah agar atap
tidak terbang dihembuskan angin, dalam memasang kuda-kudanya tidak boleh hanya diletakkan begitu saja, tapi
harus diangker kuat atau dibegel pada kolom pendukungnya.
Bahan penutupan atap, terutama dari bahan yang ringan, sebaiknya dipaku atau diskrup pada batang
tumpuannya, agar tidak mudah dihempas angin.
Kuda-kuda dari konstuksi rangka batang (Vakwerk) merupakan rangkaian batang-batang yang menjadi satu
kesatuan yang kuat dan membentuk rangka atap. Beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam membuat
konstruksi rangka batang adalah sebagai berikut ini.
1. Pada setiap titik buhul (titik simpul, titik sambung), garis sumbu batang dan garis kerja batang-batang harus
bertemu pada satu titik,

2. Beban-baban pada rangka batang hanya boleh bekerja pada titik buhul beban yang bekerja pada batang
antara dua titik buhul, harus dilimpahkan dahulu ke titi-titik buhul yang terdekat. Berat sendiri rangka batang
tidak diperhitungkan sebagai beban,
3. Batang yang dipakai harus utuh dan lurus, agar garis sumbunya juga lurus. batang yang cacat, rusak atau
sudah rapuh, tidak boleh dipakai, karena ini dapat melemahkan konstruksi. Bila satu batang pada rangka
patah, maka konstruksi rangka batang tersebut akan runtuh,
4. Rangkaian batang harus selalu membentuk segitiga-segitiga supaya konstruksi stabil,
5. Titik buhul dianggap sendi tanpa mengalami deformasi (perobahan bentuk) dan perubahan panjang batang
diabaikan, ketentuan ini hanya dipakai dalam hitungan saja.
Untung rugi masing-masing bahan :
Kayu:
1. Mudah didapat dari alam, sifat kenyal, elastis, kekuatan dan keawetannya tergantung dari umur kayu dan
jenis kayu,
2. Mudah dikerjakan oleh tulang biasa dengan alat sederhana, dapat dibentuk berbagai modal yang indah,
3. Harga relatif murah, dan karena bahannya ringan dapat memperkecil ukuran konstruksi bangunan dan
fondasinya,
Dapat terbakar dan mudah menjalarkan api dari satu tempat ke tempat lain,
Konstruksi harus terlindung dari panas dan hujan, agar tidak cepat lapuk,
Perlu diberi lapis pelindung agar di makan rayap, bubuk atau serangga kecil lain,
Sebaiknya untuk bentang atap tidak lebih dari 12 m.

4.
5.
6.
7.
Baja:

1. Bahannya deperoleh dari hasil pabrik, mutu dan kekuatannya tergantung standar pabrik pembuatnya,
2. Sifat bahan yang keras memerlukan alat khusus untuk pembuatannya, dibentuk di bengkel di proyek hanya
tinggal pasang,
3. Harga baja mahal, kekuatan baja besar, jadi hanya ekonomis untuk bentangan besar dengan beban berat,
4. Oleh api dan panas yang tinggi, batang dapat terlentur, mengeliat (Jawa: ngulet) dan leleh,
5. Oleh panas dan hujan, bahan dapat berkarat dan kropos, jadi perlu diberi lapis pengawet anti karat dan
terlindung.
Untuk bangunan bertingkat, terutama yang mempunyai bentang besar dengan beban atap yang berat,
sebaiknya kuda-kuda menggunakan konstruksi rangka baja karena mempunyai kekuatan dan keandalan yang
lebih tinggi dari kayu.
Beton Bertulang:
1. Dibuat dari beton yang diberi tulangan, perlu waktu untuk pengerasan betonnya, mutunya sangat
tergantung cara pelaksanaanya,
2. Umumnya dibuat langsung di termpat dengan membuat cetakan-cetakan dari kayu, dapat dikerjakan
3.

dengan alat sederhana,


Harga relatif masih murah dibanding umurnya yang ditak terbatas, setelah betunnya mengeras tidak perlu

perawatan lagi,
4. Merupakan bahan yang tahan api, tidak dapat terbakar, tidak rusak oleh panas dan hujan tahan zat kimia,
5. Dapat untuk landasan Helikopter atau dipakai untuk keperluan lain (ruang mesin, bak air, penthouse).
2.4 TANGGA (STAIRS)
7

Tangga adalah jalur yang bergerigi (mempunyai trap-trap) yang menghubungkan satu lantai dengan lantai
di atasnya, sehingga berfungsi sebagai jalan untuk naik dan turun antara lantai tingkat.Letak tangga harus
dibuat agar mudah dilihat dan dicari oleh orang yang akan menggunakannya.Ruang tangga sebaiknya terpisah
dengan ruang lain , agar orang yang naik turun tangga tidak mengganggu aktifitas penghuni lain. Apabila tangga
dimaksudkan juga sebagai jalan darurat,sebaiknya direncanakan dekat dengan pintu keluar, agar bila terjadi
bencana (kebakaran,gempa,keruntuhan), penghuni di lantai atas dapat turun langsung ke luar menuju ke
halaman.
2.4.1 BAGIAN DARI TANGGA
2.4.1.1 PONDASI TANGGA
Sebagai dasar tumpuan (landasan) agar tangga tidak mengalami penurunan, pergeseran,maka di bagian
pangkal tangga bawah harus diberi pondasi Pondasi tangga dapat berupa pasangan batu kali, beton bertulang
atau kombinasi kedua bahan. Pada lantai tingkat,di bawah pangkal tangga harus diberi tangga harus diberi balok
anak sebagai pengaku plat,agar lantai tidak menahan beban terpusat yang besar.
2.4.1.2 IBU TANGGA
Ibu tangga merupakan bagian kontruksi pokok yang berfungsi mendukung anak tangga. Ibu tangga
dapat merupakan kontruksi yang menjadi satu dengan rangka bangunannya, tapi boleh juga dibuat terpisah,
tergantung cara mana yang dianggap paling menguntungkan,
2.4.1.3 ANAK TANGGA
Anak tangga adalah bagian dari tangga yang berfungsi untuk bertumpunya telapak kaki.Anak tangga di
pasang secara teratur,agar enak dan aman dilalui,bentuk dan lebar serta selisih tinggi masing-masing anak
tangga harus dibuat sama. Anak tangga dapat dibuat secara menerus bersambungan dari bawah sampai atas. Bila
menghendaki variasi bentuk lain, anak tangga dapat juga dibuat secara terpisah dengan bentuk lain sesuai selera.
2.4.1.4 PAGAR TANGGA
Pagar tangga adalah pelindung di samping sisi tangga untuk melindungi agar orang tidak terpelosok
jatuh. Pada sisi tangga yang berbatasan langsung dengan tembok,tidak perlu dipasana pagar tangga, tapi di sisi
lain yang bebas harus di beri pagar. Pada lantai tingkat di sekitar lobang tangga,harus juga dipasang pagar
pengaman agar penghuni, terutama anak anak tidak terjerumus jatuh.
2.4.1.5 PEGANGAN TANGGA
Pegangan tangga adalah batang yang dipasang sepanjang anak tangga untuk bertumpunya tangan,agar
orang yang naik turun tangga merasa lebih aman. Bentuk dan ukuran pegangan tanggadibuat sedemikian ,agar
terasa enak dan pas oleh genggaman telapak tangan.Bentuk yang umum di buat adalah bulat atau oval dengan
diameter 4 -5 cm,bila dipakai bentuk persegi ukurannya adalah 4 x 6 cm 2.
2.4.1.6 BORDES
Bordes adalah plat datar di antara anak-anak tangga,berguna sebagai tempat untuk memberi kesempatan
orang yang naik tangga beristirahat sejenak. Bordes dipasang pada tangga lurus yang terlalu panjang atau pada
8

sudut sebagai tempat peralihan arah tangga yang berbelok.Bordes dapat dibuat lebih dari satu,apabila arah
berbeloknya tangga lebih dari dua kali. Lebar bordes untuk bangunan rumah tinggal cukup dibuat 80 100 cm,
untuk bangunan umum dibuat lebat 120 -200 cm.
2.4.2 BENTUK TANGGA
Bentuk tangga dapat disesuaikan dengan beda tinggi lantai dan ruangan yang tersedia.
Macam bentuk tangga yang umum banyak dipakai Tangga lurus, Tangga miring, Tangga lengkung, Tangga siku
dan Tangga lingkar.
2.4.3 KONSTRUKSI TANGGA
Berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung,1983,beban pada tangga diambil lebih besar
daripada beban lantai tingkat,hal ini dapay dimaklumi karena banyak orang yang naik turun tangga.
Untuk bangunan rumah tinggal diambil : 250 kg/m2
Bangunan umum di ambil

: 300 kg/m2

Kontruksi tangga dapat menjadi satu dengan rangka bangunannya,hanya kerugiannya bila terjadi penurunan
pada bangunan akan menyebabkan perubahan sudut kemiringan tangga. Bila kontruksi tangga dibuat terpisah
secara struktural dengan rangka bangunanya ,dapat dibuatkan pondasi tersendiri, rangka tangga tidak menempel
pada dinding , tapi diberi sela 5 cm.
2.4.4 BAHAN TANGGA.
Tangga dapat dibuat dari bahan Kayu, Beton Bertulang, Baja, Batu Alam.
Tangga beton bertulang merupakan tangga yang paling populer di pakai pada bangunan saat ini.
Bentuknya dapat menambah kesan mewah pada ruangan. Konstruksi yang kuat dan awet menjamin tidak cepat
rusak dan dapat berumur panjang. Bahannya tahan api, sangat dianjurkan dipakai pada bangunan umum dan
bangunan bertingkat tiga lantai atau lebih, demi keamanan dan keselamatan penghuni lantai atas, bila terjadi
kebakaran sebagai jalan keluar.
2.5 PONDASI (SUB STRUCTURE)
Pondasi merupakan struktur bangunan bagian bawah terletak paling bawah dari bangunan yang
berfungsi mendukung seluruh beban bangunan dan meneruskan ke tanah di bawahnya.
Pondasi dapat dibuat dengan berbagai macam cara dan bentuk, yang semuanya ini sangat dipengaruhi oleh:
1.

Berat bangunan yang harus didukung,

2.

Jenis tanah dan daya dukungnya,

3.

Bahan bangunan untuk pondasi yang tersedia/mudah didapat,

4.

Alat kerja dan tenaga kerja yang ada,

5.

Lokasi dan situasi proyek tempat pekerjaan,

6.

Pertimbangan biaya.
Untuk dapat menentukan jenis pondasi yang ideal, dalam arti murah, mudah dan kuat, perlu dilakukan
penyelidikan tanah (Soil Investigation). Dari hasil penyelidikan tanah ini didapat diharapkan mengetahui:

1.

Jenis dan kekuatan tanah serta kedalamannya,


9

2.

Kedalaman dari muka air tanah,

3.

Meramalkan penurunan dikemudian hari,

4.

Memperkirakan beban maximum yang di ijinkan dan menentukan jenis pondasinya.


Di dalam merencanakan pondasi ada dua hal yang penting yang perlu selalu di ingat, yaitu bahwa
kekuatan pondasi didasarkan pada kekuatan bahan pondasinya sendiri dan kekuatan tanah di bawahnya. Bahan
pondasi harus mempunyai kekuatan penuh dan tidak akan rusak oleh beban bangunan, hal ini dapat dilakukan
analisa hitungan berdasarkan tegangan izin bahan. Kekuatan tanah di bawah pondasi harus mampu mendukung
beban pondasi dan beban bangunan di atasnya tanpa adanya penurunan, hal ini dapat dirancanakan dengan
membuat ukuran pondasi sedemikian besar berdasarkan rekomendasi penyelidikan tanah, sehingga tegangan
izin tanah tidak di lampaui
Hal-hal yang dapat mengakibatkan kerusakan pada pondasi adalah:

1.

Adanya perubahan fungsi gedung, sehingga terjadi pembebanan yang melebihi kapasitas pondasi,

2.

Terjadinya bencana alam seperti: gempa,banjir, tanah longsor atau getaran yang berulang dari mesin atau
kendaraan,

3.

Akar pohon besar yang terkadang mampu mengangkat pondasi,

4.

Kerusakan struktur tanah akibat adanya pembangunan gedung yang lebih berat di dekatnya,

5.

Usia pondasi dapat menyebabkan kelelahan bahan,

6.

Adanya faktor ketidakpastian dan jenis tanah yang tidak seragam, mengakibatkan terjadinya salah taksir dalam
perencanaan.
2.5.I MACAM-MACAM PONDASI
2.5.1.1 PONDASI DANGKAL (SHALLOW FOUNDATION)
Pondasi dangkal adalah jenis pondasi yang dasarnya terletak tidak terlalu dalam dari permukaan tanah asli,
masih dapat dikerjakan dengan alat sederhana oleh tenaga manusia biasa. Berdasarkan bentuknya pondasi
dangkal dibagi menjadi empat macam, yaitu:

1.

Pondasi menerus (Continous Footing),

2.

Pondasi setempat (Individual Footing),

3.

Pondasi gabungan (Combined Footing),

4.

Pondasi plat (Raft Footing),

5.

Pondasi cakar ayam dan

6.

Pondasi laba-laba
2.5.1.2 PONDASI DALAM (DEEP FOUNDATION)
Pondasi dalam biasanya mempunyai kedalaman lebih dari 6,00 m dari permukaan tanah asli. Dapat dibuat dua
cara sebagai berikut:
1. Pondasi tiang pancang
Ditinjau dari jenis material, tiang pancang dapat dibuat dari:
a.

Beton bertulang
10

b.

Baja (pipa, baja profil)


Ditinjau dari Soil Displacement yang terjadi selama proses pemancangan ada dua jenis, yaitu:

a.

Large Soil Displacement, untuk jenis-jenis tiang pancang beton massif dan pipa close ended

b.

Small Soil Displacement, untuk jenis-jenis tiang pancang baja prifil dan pipa open ended
Tiang dibuat dahulu di atas tanah dari batang kayu, baja atau beton bertulang. Setelah siap tiang di tanam ke
dalam tanah dengan mesin pancang. Pada saat pemancangan, mesin menimbulkan getaran-getaran keras yang
dapat merusak bangunan-bangunan di sekitarnya, oleh karena itu tidak boleh dipakai pada daerah yang padat
bangunan. Tiang-tiang di bagian atasnya dirangkai menjadi satu dengan plat beton yang disebut: kepala tiang,
pur. Pur ini nantinya akan menjadi tumpuan dari kolom-kolom, dan meneruskan beban kolom ke tiang-tiang di
bawahnya. Di bawah satu pur umumnya terdapat dua atau lebih tiang dengan bentuk tampang bulat, segi
delapan atau segi empat, diameter rata-rata antara 30 cm 40 cm.
Bila panjang tiang pancang menurut desain dibutuhkan lebih panjang, dari tinggi alat pancang yang
diperlukan, maka selama proses pemancangan, tiang pancang dapat dibagi menjadi dua bagian, dimana bagian
pertama dipancang, kemudian disambung dengan bagian kedua, dan dilanjutkan dengan pemancanganan
berikutnya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan pemancangan, antar lain:

1. Titik-titik ukur untuk memberikan guide posisi letak titik pancang.


2. Untuk kelompok tiang pancang, arah pemancangan dimulai dari dalam ke arah luar, terutama untuk tiang yang
large soil displacement dan berjarak rapat, untuk menghindari terjadinyaheaving pada tiang.
3. Pergerakan alat pancang sebaiknya kea rah belakang(mundur), agar tidak terhalang oleh sisa ketinggian tiangtiang yang masih muncul di atas permukaan tanah, yang baru selesai dipancang.
4. Pemancangan tiap titik sebaiknya dilakukan sampai selesai, jangan ditinggal ditenga proses pemancangan.
Karena bila ditinggal, jepitan(friction) tanah akan bekerja sehingga tiang akan sulit diturunkan lagi.
Pemancangan kelompok tiang yang jaraknya cukup rapat dengan large soil displacement (tiang masif atau
tiang yang closed ended) dapat menimbulakn persoalan heaving, yaitu munculnya kembali tiang yang sudah
dipancang. Untuk menghindari persoalan tersebut, maka urutan pemancangan harus diperhatikan, yaitu dengan
arah dari tengah ke luar.
Urutan pemancangan kelompok tiang dengan large soil displacement, dari pusat kearah luar.
2.

Pondasi sumur bor


Cara membuat dengan membor tanah terlebih dahulu sampai kedalaman rencana, setelah itu di beri cor
beton. Sepertiga tinggi dari atas, diberi tulangan baja sekeliling lubang untuk ikatan dengan tulangan kolom di
atasnya. Pada pondasi bor tidak diperlukan pur, karena dibawah satu kolom hanya dibuat satu tiang bor dengan
diameter besar, rata-rata 1m atau lebih, jadi tulangan kolom dapat dimasukkan langsung ke dalaman sumur bor
ini dan di cor bersama-sama.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengerjaan tiang bor, antara lain:
a.

Titik-titik ukur untuk member guide posisi letak titik-titik tiang

b.

Disiapkan drainase, penampungan dan pembuangan lumpur hasil pengeboran


11

c.

Keakuratan kedalamn bor(bottom level)

d.

Kecermatan kualitas beton

e.

Penggunaan bentonite untuk mencegah runtuhnya tanah pada lubang bor

f.

Pergerakan alat bor kea rah belakang (mundur)

g.

Keakuratan elevasi pemberhentian cor beton (top level)


Kondisi tanah di bawah biasanya tidak dapat diketahui secara pasti, oleh karena itu, volume pengecoran
beton untuk bore pile tidak dapat dipastikan. Untuk menghindari resiko ketidakpastian, dapat ditempuh dengan
cara diukurkenyataan yang terjadi saja.
Hampir di setiap proyek konstruksi pondasi tiang merupakan teknologi pondasi dalam yang telah jamak
dipergunakan. Salah satu metode pemasangan tiang pondasi ini adalah dengan sistim bor. Meski tak sepopuler
pondasi tiang pancang, penggunaan tiang bor ini semakin banyak dijumpai. Dalam kedalaman dan diameter dari
tiang bor dapat divariasi dengan mudah, pondasi tiang bor dipakai untuk beban ringan maupun beban berat
seperti bangunan bertingkat tinggi dan jembatan. Juga dipergunakan pada menara transmisi listrik, fasilitas dok,
kestabilan lereng, dinding penahan tanah, pondasi bangunan ringan pada tanah lunak, pondasi bangunan tinggi,
dan struktur yang membutuhkan gaya lateral yang cukup besar, dan lain- lain.

3.

Tiang Franki/franki Pile


Sistem farnki pile, dilihat dari proses pelaksanaannya, menggunakan kombinasi antar pemncangan dan
pengecoran, yaitu dengan cara:

a. Membuat lubang dengan cara penumbukan material dalam pipa cashing sampai mencapai elevasi yang
disyaratkan
b.

Ke dalam lubang yang ada diisi penulangan kemudian di cor beton. Urutan pelaksanaan Franki Pile
dapatdijelaskan sebagai berikut:
1.

Temporary cashing ditancapkan pada posisi titik tiang, kemudian diisi adukan beton kering secukupnya

2.

sebagi sumbat (plug)


Plug ditumbuk dengan hammer, dan plug akan turun diikuti oleh pipa cashing, air tanah tidak akan masuk

3.

ke pipa cashing karena ada plug


Setelah mencapai kedalaman yang dikehendaki, cashing ditahan dan plug tetap ditumbuk sampai keluar
dari pipa cashing

2.6 SANITASI (SANITATION)


Sanitasi adalah suatu usaha untuk memberikan fasilitas di dalam rumah yang dapat menjamin agar
keadaan di dalam rumah selalu bersih dan sehat. Usaha ini harus ditunjang oleh adanya penyediaan air bersih
yang cukup dan pembuangan air kotoran yang lancar.
Pada banguanan bertingkat diperlukan pompa air untuk menaikkan air dari sumber bawah di bawah ke
bak atas yang kemudian akan mendistribusikan ke lantai bangunan yang membutuhkan. Aliran air dari bak atas
ke lantai bangunan akan berjalan secara gravitasi, artinya air mengalir karena adanya beda tinggi, oleh karena
itu letak bak air atas harus lebih tinggi 3 m atau lebih, dari tinggi lantai tingkat yang tinggi, agar air masih dapat

12

mengalir ke semua lantai tingkat. Alat pembuangan air kotor dapat berupa: Kamar mandi, wahtafel, kran-kran
cuci, WC dan Dapur
Air dari kamar mandi tidak boleh di buang bersama-sama dengan air dari WC maupun dari dapur, jadi
masing-masing harus dibuat pipa-pipa pembuang sendiri-sendiri. Pipa-pipa pembuangan dapat diletakkan pada
satu Shaft. Bila tidak ada shaft, pipa-pipa dapat dipasang didalam kolom-kolom beton dari atas sampai bawah.
Setelah sampai bawah, semua pipa/saluran pembuangan air kotor harus merupakan saluran tertutup
didalam tanah, agar tidak menyebarkan bau yang tidak sedap dan mencegah tersebarnya bibit penyakit.Bahan
untuk pipa pembuangan dapat di pakai pipa galvani, pipa pralon. Bila pipa di tanam dalam kolom beton
sebaiknya digunakan pipa galvani. Semua pipa di WC harus masuk terlebih dahulu ke bak septic tank, untuk
proses penghancuran kotoran, kemudian baru di samakan ke sumur resapan atau riool kota bersama-sama air
kamar mandi, dapur, dan kran-kran cuci. Pipa air hujan dipasang pada talang atas sampai ke bak kontrol di
bawah yang dipasang sepanjang saluran terbuka sekeliling bangunan. Turunnya pipa boleh diluar dinding atau
kolom, bila menghendaki tidak tampak dapat di masukkan ke dalam kolom. Pada lubang masuk di atas talang di
beri saringan untuk mencegah benda-benda yang besar ikut masuk ke dalam pipa yang dapat menyumbat
jalannya aliran air. Di bawah lantai tingkat, semua pipa sanitasi di beri lubang kontrol, yang sewaktu-waktu
dapat di buka bila terjadi kemacetan aliran air buangan. Lubang kontrol berupa ujung pipa yang di tutup dengan
penutup yang dapat di buka secara mudah. Kebocoran pada saluran pembuang dilantai atas akan sangat
mengganggu dan merugikan penghuni di lantai bawahnya. Untuk mencegah hal ini sebaiknya semua pipa
pembuang di uji kerapatannya, sebelum di tutup dengan tegel, agar tidak terjadi pekerjaan pembongkaran lantai
yang sudah terjadi.

2.7 PELENGKAP GEDUNG (MECHANICAL AND ELECTRIAL EQUIPMENT FOR BULDING)


2.7.1 LISTRIK
Sumber listrik adalah untuk penerangan.Umumnya di ambil dari PLN,bila belum ada jaringan listrik di
tempat itu dapat pula di pakai generator,yaitu alat pembangkit tenaga listrik yang digerakkan oleh mesin diesel.
Pipa listrik di bawah plafon harus tertanam di dalam plesteran dinding,sedang jarimgan kabel di atas plafon
harus dipasang rapi dengan kait kait penguat,masing-masing kabel positif dan negatif harus di pasang sejajar
dengan jarak 10 cm atau lebih.
Pada lantai beton yang bawahnya tidak ada plafon,pipa listrik harus di tanam dalam beton.Semusa pipa
dipasang lengkap sebelum beton di cor,Untuk memudahkan penarikan kabel,listriknya nanti didalam pipa diberi
kawat dahulu dan di periksa benar-benar agar tidak ada adukan beton yang masuk ke dalam pipa.
2.7.2 TANGKAL PETIR

13

Sebuah benda yang menjorok tinggi di banding benda benda di sekitarnya,akan lebih besar
kemungkinan disambar petir,demikian pula dengan bangunan tinggi. Untuk melindungi bangunan dan
penghuninya dari sambaran petir maka pada bangunan tinggi sangat perlu dipasang alat penangkal petir yang
dipasang pada bagian atas yang tertinggi. Pemasangan tangkal petir ini juga dilaksanakan oleh perusahaan
installatir listrik yang telah mendapat rekomendasi dari PLN. Tiang penerima petir yang dipasang diatas atap
harus dihubungkan ke tanah oleh kabel yang ditanam sampai mencapai air tanah terendah setinggi 2 m di atas
permukaan tanah kabel ini harus di bungkus dengan pipa untuk mencegah penyebaran aliran petir yang dapat
membahayakan orang yang lewat di dekatnya.
Ada 2 jenis alat tangkal petir yang ada dipasaran yaitu :
1. Alat tangkal petir biasa,dapat di kerjakan oleh installatir pada umumnya.Bersifat hanya menerima bila ada
petir yang menghampiri gedung tersebut
2. Alat tangkal petir radioaktif,untuk pemasangannya harus ada rekomendasi dari BATAN (Badan Atom
Nasional),bersifat menangkap bila ada petir yang ada di sekitar gedung tersebut (dalam radius tertentu)
2.7.3 POMPA AIR
Alat ini untuk menaikkan air ke atas ke bak penampung yang di pasang lebih tinggi dari ketinggian
lantai tingkat,agar air nantinya dapat mengalir ke semua lantai tingkat.Pompa umumnya mempunyai daya
dorong lebih besar di bandingkan daya hisapnya ,oleh karena itu pompa lebih banyak dipasang didekat
permukaan air dari sumber yang akan diambil.Setiap pompa memiliki spesifikasi dan kekuatan yang berbeda
beda,untuk memilih pompa harus di ukur lebih dahulu kedalaman air yang dapat dihisap dan ketinggian bak
penampung yang akan di suplai. Pipa antara sumber air dan pompa tidak boleh bocor karena bila ada udara yang
terhisap oleh pompa,maka air tidak dapat mengalir ke atas.Diameter pipa juga ditentukan oleh spesifikasi
pompanya.
Pompa dapat bekerja dengan di beri aliran listrik bila di tempat itu tidak ada listrik dapat dipilih pompa
yang dapat digerakkan oleh tenaga manusia.Pompa ini tidak efisien dan sangat memboroskan tenaga.Sebaiknya
digunakan dalam keadaan darurat saja bila aliran listrik mati.
2.7.4 ALAT KOMUNIKASI DAN AC
Pelengkap gedung lain yang dapat menunjan aktifitas penghuni antara lain : telepon/interkom,yaitu alat
komunikasi antara ruang didalam gedung maupun komunikasi dengan pihak luar gedung.
AC ( Air Conditioner) yaitu alat untuk menyejukkan dan memberikan udara segar dalam ruangan.Untuk
memasang AC perlu di perhatikan berbagai hal sebagai berikut :
1.

Harus di cegah sebanyak mungkin masuknya sinar matahari ke dalam ruangan,misalnya menggunakan

2.
3.

kaca riben.
Plafon di buat cukup rendah agar volume ruangan yang di dinginkan tidak terlalu besar.
Dalam ruangan sebainya menggunakan bahan bahan interior yang dapat menyimpan dingin dalam waktu

4.

lama.
Untuk menjaga kesejukan dan kesegaran udara dalam ruangan disarankan tidak merokok atau membuat
asap,debu didalam ruangan ber-AC.
14

5.

Ruangan ber-AC harus selau dalam keadaan tertutup.

AC dipasang secara :Sentral AC dan Local AC.


1.

Sentral AC hanya dibutuhkan satu unit mesin pendingin untuk mensuplai hawa dingin ke seluruh

2.

ruangan.
Local AC hanya dip[akai dan dipasang pada setiap ruangan.Jadi kalu hanya satu ruangan yang
membutuhkan AC cukup dihidupkan AC pada ruangan tersebut saja,ini akan menghemat pemakaian
tenaga listriknya.

2.7.5 ALAT PEMADAM KEBAKARAN


Pada bangunan tinggi , alat pemadam kebakaran mutlak harus diberi. Kareana terjadinya kebakaran
sangat sulit di duga kapan datangnya dan bagaimana proses terjadinya, terutama bila kebakaran terjadi di lantai
bawah.Maka penghuni di lantai atas akan sangat sulitmenyelamatkan diri.
Alat pemadam kebakaran merupakan pertolongan pertama di dalam rumah jika terjadi kebakaran,api
yang masih kecil dapat lebih mudah dipadamkan .Bila ingin lebih praktis dapat dipilh Fire Extinguisher yaitu
tabung yang berisi gas CO2,yang sangat mudah pemakaiannya.Tabung ini di pasang pada lorong rumah tangga
atau pada sudut sudut ruangan .
Pada bangunan bertingkat rendah (4 lantai atau kurang),persyaratan alat padam kebakaran yang di
anjurkan adalah sprikler, yaitu alat padam kebakaran dengan semprotan air yang dipasang pada plafon.
Untuk bangunan umum, sebaiknya juga harus di pasang Fire Hidrant yaitu pipa yang dapat
menyemprotkan air bertekanan.Panjang selang pipa harus dapat harus dibuat terpisah dengan bak air untuk
kebutuhan hidup peenghuni,agar tidak terjadi bila ada kebakaran bak ainya kosong karena sudah terpakai.
Pada ruang ruang yang sangat peka atau mudah terjadi kebakaran dipasang Fire Alarm, yaitu alat yang
memberi tanda-tanda(sirine) bila terjadi kebakaran,sehingga dengan cepat dapat di atasi.

2.8 PELAKSANAAN PEKERJAAN


Ada tiga tahapan pekerjaan, yaitu :
1.

pekerjaan persiapan,

2.

pekerjaan Fisik bangunan dan

3.

pekerjaan akhir.
2.8.1 PEKERJAAN PERSIAPAN
Pada tahap pekerjaan ini dibuat:

1. Pagar keliling untuk keamanan proyek dan mencegah pencurian,


2. Kantor kerja pelaksana sebagai tempat untuk memimpin dan mengatur jalannya pekerjaan dan tempat
menempel gambar-gambar rencana, gambar kerja dan rencana waktu kerja (time schedule, network planning),
3. Barak-barak kerja untuk membuat kosen pintu/jendela, membuat tulangan dan juga sebagai tempat istirahat
tukang,

15

4. Gudang untuk menyimpan bahan-bahan bangunan yang dapat rusak oleh panas dan hujan, juga untuk
melindungi bahan dari pencurian,
5. Sumur untuk mendapatkan air-kerja, bila sumber air di tempat itu sulit diperoleh. Perlu diketahui bahwa
pemakaian air untuk proyek bangunan adalah sangat banyak dan sangat vital dipakai pada pekerjaan
konstruksi.
Pekerjaan persiapan harus sudah selesai sebelum pekerjaan fisiknya dimulai dan sebelum ada kiriman bahan
bangunan, beaya pekerjaan ini dapat dimasukkan sebagai beaya pekerjaan tambah pada daftar harga borongan
bangunannya.
2.8.2 PEKERJAAN FISIK
Pada tahap pekerjaan ini meliputi pekerjaan-pekerjaan yang semuanya ada hubungannya dengan bangunan yang
akan dibuat, urutannya adalah sebagai berikut.
1.
a)

Pekerjaan pengukuran:
menentukan as-as kolom utama, jarak antara dinding penyekat, elevasi lantai 0.00 yang direncanakan,

b)

kedalaman fondasi, pekerjaan pengukuran ini desebut juga : Uitzet,


pemasangan Bouwplank sekeliling bangunan yang akan didirikan, sebagai pedoman tinggi dan jarak as-as
bangunan, bouwplank ini tidak boleh diganggu atau rusak selama berlaku sebagai pedoman kerja. Ongkos

2.
a)

tukang untuk pengukuran dihitung per m2 luas bangunan.


Pekerjaan pondasi:
menggali tanah untuk pondasi, bila volume tanah galian terlalu banyak harus diperhitungkan juga beaya

b)

untuk membuang ke luar,


membuat pondasi pada kedalaman yang telah direncanakan diukur dari sisi atas papan Bouwplank,

setelah lubang galian dipasangi pondasi, maka sisa galian diurug kembali dengan tanah bekas galian dicampu
pasir dan dipadatkan.
3.
a)

Pekerjaan beton:
membuat papan bekesting dan memasang sebagai alat untuk mencetak konstruksi beton, ongkos tukang
dihitung per m2 luas cetakan, papan cetakan ini dipasang pada kayu-kayu penyangga (perancah) yang

b)

beayanya dihitung per batang,


pekerjaan membuat dan menyetel tulangan di atas papan cetakan, ongkos tukang dihitung per kg berat dari

c)

baja tulangan,
pekerjaan beton meliputi : mengaduk bahan susun, mengangkut adukan beton dan mencor di bagian
konstruksi yang telah diberi cetakan, selama 14 hari diberikan perawatan beton, ongkos tukang dihitung

d)

per m3 volume beton yang dicetak,


membongkar papan cetakan setelah betonnyha cukup kuat mendukung beban diatasnya yaitu setelah beton

4.
a)

berumur 3 minggu sejak dicor.


Pekerjaan kosen:
Membuat kosen pintu dan jendela sesuai bentuk rencana, pekerjaan ini dapat dimulai bersamaan pekerjaan

b)

pengukuran, ongkos tukang dihitung per m3 volume kayu yang dipakai,


Membuat daun pintu dan daun jendela, serta memasang pada kosennya, ongkos tukang dapat dihitung

5.

perbuah daun pintu.


Pekerjaan pasangan bata:
16

a)

Dinding penyekat dari pasangan bata dikerjakan bersamaan dengan menyetel kosen pintu dan jendela,

b)

ongkos tukang dihitung per m2 pasangan atau per m3,


Plesteran penutup pasanan, sebaiknya dikerjakan setelah pipa-pipa listrik dan pipa air terpsang, agar ridak
terjadi pembongkaran plesteran yang telah jadi baik, plesteran sebaiknya juga terlindung dari panas dan
hujan. Oleh karena itu dikerjakan setelah atap bangunan terpasang, ongkos tukang dihitung per m 3 luas

6.
a)

dinding, sedang sponnengannya dihitung per m panjang.


Pekerjaan atap:
Membuat kuda-kuda dibawah dan menyetel di atas pasangan yang sudah jadi, dalam hal ini yang

b)

dimaksud adalah kuda-kuda baja dapat diborongkan pada tukang baja,


Memasang penutup atap, membuat kerpus, talang, lisplang dan pipa ait hujan dikerjakan bersamaan,

7.
a)
b)

ongkos dihitung per m2 luas.


Pekerjaan plafon:
Membuat rangka plafon untuk memperoleh bentuk plafon yang dikehendaki,
Memasang penutup plafon dari bahan yang telah dipotong-potong sesuai ukutan rangka plafonnya, ongos
tukan dihitung per m2.

8.
a)
b)

Pekerjaan sanitasi:
Memasang pompa air, membuat bak penampung atas dengan pipa-pipa airnya,
Memasang tegel kamar-mandi, membuat bak dan saluran pembuangannya dengan bak-kontrol, dapat

c)
d)
e)

langsung ke sumur resapan,


Memasang WC dan saluran pembuangan yang menuju ke Septic Tank,
Membuat dapur dan bak cuci alat-alat dapur dan saluran, pembuang ke bak lemak,
Memasang washtafel dan kran-kran pencuci lain.

2.8.3 PEKERJAAN AKHIR


Pekerjaan akhir adalah pekerjaan kontrol terhadap pekerjaan yang sudah selesai dilaksanakan, nila ada
yang rusak atau salah harus diperbaiki lagi, bila ada yang belum sempurna dapat dibenarkan pembuatannya.
Setelah dianggap cukup memenuhi syarat, maka tahap selanjutnya adalah pembersihan terhadap sisa-sisa bagan
bangunna untuk dinuang ke luar dari lokasi bangunan agar tampak bersih dan sehat. Semua bangunan kantor,
barak kerja, gudang dapat dibongkar dan bahannya disingkirkan ke luar. Pagar pengaman dapat diganti dengan
pagar permanen yang bentuknya dapat dibuat indah sesuai selera, dapat dibuat taman dan halaman untuik
menambah asri bangunannya

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN


Bangunan tinggi berbeda dengan bangunan bertingkat.Bangunan tinggi adalah bangunan yang
mempunyai struktur tinggi.Bangunan tinggi merupakan bangunan yang tingginya kurag lebih 15 m 150
m.Bangunan tinggi jauh lebih berisiko dibandingkan dengan jenis bangunan lainnya.Oleh karena itu di butuhkan
perencanaan yang matang dalam pembangunannya.Struktur bangunan tinggi biasanya dilengkapi dengan
17

plumbing, telekomunikasi, transportasi, pemadam kebakaran, penangkal petir, sistem pembuanagan sampah,
saluran air hujan serta sirkulasi udara.

18

DAFTAR ISI

JUDUL : Konstruksi Bangunan Bank


BAB I. PENDAHULUAN......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah..................................................................................................... 1
1.2 Tujuan........................................................................................................................... 1
1.3 Metode Penulisan............................................................................................................. 1
BAB II. PEMBAHASAN.......................................................................................................... 1
PENGERTIAN BANGUNAN TINGGI..................................................................................... 1
STRUKTUR DAN FASILITAS GEDUNG..................................................................................2
2.1 PELAT LANTAI (Floor Plate)..................................................................................... 2
2.2 RANGKA BANGUNAN............................................................................................. 3
2.3 ATAP (Roof)............................................................................................................. 6
2.4 TANGGA (Stairs)..................................................................................................... 8
2.5 PONDASI (Sub Structure)........................................................................................ 9
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................................... 18

19