Anda di halaman 1dari 11

REFLEKSI KASUS

TOPIKAL APLIKASI FLUOR

NAMA MAHASISWA

: Shanti Yuniwardani, SKG

NOMOR MAHASISWA

: 20080340020

PRODI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014

I.

DESKRIPSI KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Aura Firda

Umur

: 5 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Magelang

Kunjungan pertama (27-6-2013)


Pemeriksaan Subyektif
Pasien tidak terdapat keluhan, ingin dirawat Topical aplikasi fluor untk
melindungi giginya agar tidak berlubang atas saran operator. Pasien
mengaku menyikat gigi 3x1 saat pagi (mandi pagi), mandi sore dan
malam hari sebelum tidur

Pemeriksaan Obyektif
Terdapat kondisi Elemen gigi bercampur, Free karies
Skor OHI : 1,6 (baik)
PI: 28%
Diagnosis

: Free Caries

Treatment Planning :
1. DHE
2. Pengukuran OHI dan PI
3. Topikal Aplikasi Fluor
Tahapan aplikasi TAF:
1. Gigi dibersihkan dengan pasta pumice dan rubber cup, ini dilakukan untuk
aplikasi yang pertama
2. Gigi diisolasi dengan gulungan kapas. Untuk merawat gigi bawah
digunakan alat pemegang gulungan kapas
3. Gigi dikeringkan dengan semprotan udara, terutama daerah interproximal
4.Oleskan 2% larutan sodium fluorida pada gigi dengan kapas atau
disemprotkan
5. Biarkan kering selama 3 menit.
6. Aplikasi sodium fluorida diulangi dengan interval satu minggu hingga
empat kali pemberian sebagai tahap permulaan, kalau tidak, maka ggi yang

telah dirawat tadi akan sia-sia setelah perawatan pertama.


7. Perawatan diulang sesuai manual produk (ada yang tiga bulan baru diulang
ada yang 6 bulan, dst)
Kunjungan kedua (29-3-2014)
Pemeriksaan Subjektif
Pasien datang untuk kontrol setelah dilakukan perawatan pemberian
lapisan fluor pada tanggal 27-6-2013 lalu, tidak ada keluhan yang dirasakan
pasien
Permeriksaan Objektif
Terdapat kondisi elemen gigi bercampur yang Free karies
Skor OHI: 1,3 (baik)
PI

:19%

Assesment: Gigi geligi dalam keadaan Free karies dan adanyaa peningkatan
index kebersihan mulut.
Treatment Planning:
1. Pengukuran OHI dan PI
2. Brushing
3. Kontrol

II.

PERTANYAAN KRITIS
1. Apa tujuan dan manfaat dari Topical Apliksi Fluor
2. Bagaimana mekanisme fluor dalam mencegah karies

3. Apa saja sediaan fluor


III.

LANDASAN TEORI DAN REFLEKSI KASUS


Penyakit karies gigi sampai sekarang masih menjadi masalah utama dibidang

kedokteran gigi. Oleh karena itu harus mendapat perhatian sepenuhnya, tidak hanya
dari segi cara menanganinya yang sudah terkena karies saja, tetapi juga bagaimana
cara mencegah karies (McDonald et al., 2000). Menurut laporan Pengurus Besar
Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) pada tahun 2000 prevalensi karies gigi
pada anak-anak di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan dengan ?opica
berkembang lainnya. Salah satu upaya pencegahan yang dilakukan adalah dengan
memperkuat enamel gigi agar tidak mudah larut oleh asam hasil fermentasi substrat
oleh bakteri kariogenik Streptococcus Mutans. Fluorida

yang dalam beberapa

literatur dikenal sebagai fluorin, telah digunakan sebagai bahan yang sangat efektif
dalam mencegah karies gigi. Selama sepuluh tahun terakhir telah banyak dilakukan
penelitian klinis terhadap efek pencegahan karies gigi dari aplikasi fluorida. Aplikasi
fluorida secara topical pada gigi diantaranya dengan fluoride solutions, fluoride gels,
fluoride varnishes serta fluorida dalam pasta gigi. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa fluorida akan menambah kecepatan remineralisasi pada enamel dan dentin
yang mengalami demineralisasi. Struktur gigi yang mengalami remineralisasi dengan
adanya fluorida akan terjadi peningkatan fluorhidroksiapatit yang menyebabkan gigi
lebih tahan terhadap serangan asam dibandingkan struktur aslinya. Hasil dari
penelitian ini merekomendasikan untuk aplikasi fluorida secara berkala untuk
pencegahan dan kontrol karies yang maksimal (Horowitz and Ismail, 1996; Udin,

1999; McDonald et al., 2000; Marinho et al., 2003).


Selain memperkuat enamel, fluorida dilaporkan memiliki efek antibakteri.
Pemberian fluorida tersebut diperkirakan dapat mempengaruhi sensitivitas gigi
terhadap terjadinya karies gigi dan jumlah koloni S mutans di rongga mulut (Hamilto
and Bowden, 1996). Bagaimana pengaruh aplikasi fluoride gel secara topikal
terhadap sensitivitas gigi terhadap terjadinya karies dan jumlah koloni S mutans
rongga mulut pada anak-anak belum banyak diteliti. khususnya perubahan kedua hal
tersebut pada anak-anak di Indonesia dengan sosial budaya dan pola makan yang
berbeda dengan kondisi di luar negeri.
Tujuan perawatan TAF:

Topikal aplikasi fluor adalah

fluorida yang diaplikasikan ke gigi yang

bertujuan untuk melindungi gigi dari karies

Mekanismenya : Penyerapan fluor ke dalam email serta mencegah presipitasi


kalsium fluorida dan pelarutan email

Reaksi kimia : Ca10(PO4)6(OH)2+F Ca10(PO4)6(OHF) menghasilkan


enamel yang lebih tahan asam sehingga dapat menghambat proses
demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi. (Featherstone JBD, 2000)
MANFAAT FLUORIDA
1.. PRA ERUPSI
- Selama pembentukan gigi, fluorida melindungi enamel dari pengurangan
sejumlah matriks yang dibentuk

- Pembentukan enamel yang lebih baik dengan kristal yang lebih resisten
terhadap asam
- Pemberian yang optimal, kristal lebih besar, kandungan karbonat lebih
rendah kelarutan terhadap asam berkurang
- Pengurangan jumlah dan ukuran daerah yang menyebabkan akumulasi
makanan dan plak

2. PASCA ERUPSI
- Fluoroapatit Menurunkan Kelarutan Enamel Dalam Asam Fluoroapatit lebih
padat dan membentuk kristal sedang daerah permukaan yang bereaksi dengan
asam lebih sedikit
- Pembentukan kalsium fluorida pada permukaan kristal (lapisan pelindung
karena sedikit larut dalam asam)
- Fluorida menggantikan ion karbonat dalam struktur apatit. Kristal apatit
dengan karbonat rendah lebih stabil dan kurang larut dibanding karbonat
tinggi
- Adanya fluorida

dalam saliva meningkatkan

remineralisasi, sehingga

merangsang perbaikan atau penghentian lesi karies awal


- Fluorida menghambat banyak sistem enzim. Hambatan terhadap enzim yang
terlibat dalam pembentukan asam serta pengangkutan dan penyimpanan
glukosa dalam streptokokus oral dan juga membatasi penyediaan bahan
cadangan untuk pembuatan asam dalam sintesa polisakarida

Fluorapatit memiliki mekanisme pencegahan terhadap karies, sebagai berikut:


1. Sistemik : Fluor bergabung dengan gigi pada waktu kalsifikasi bila sejumlah
besar fluor terdapat dalam air

minum pada waktu kalsifikasi gigi

gigi

tersebut kandungan fluornya akan meningkat setelah erupsi.


2. Lokal / Topikal

Mencegah demineralisasi : gigi yang diberi fluor memiliki penurunan daya


larut enamel dalam asam rongga mulut. Dengan cara mengurangi
permeabilitas enamel maka mineral yang terkandung dalam gigi tidak cepat
terlarut dalam saliva, melainkan digantikan oleh ion-ion F bebas pada
permukaan enamel.

Memiliki sifat antibakteri : Pada keadaan

pH rendah, fluorida akan

berdifusi ke dalam Hydrofluoric Acid. Hal ini menyebabkan fluorida


menghambat metabolisme karbohidrat oleh bakteri kariogenik sehingga
menghalangi pembentukan asam dari karbohidrat oleh mikroorganisme dalam
mulut. Ini berlaku pula terhadap gigi yang mendapat fluor secara sistemik.

Mempercepat remineralisasi : Dengan cara mengubah lingkungan


permukaan enamel sehingga transfer ion antara saliva dan enamel dipercepat
ke arah enamel. Keadaan ini mengakibatkan reionisasi pada permulaan yang
terdemineralisasi menjadi lebih cepat.

SEDIAAN FLUOR :

NaF, SnF, APF yang memakainya diulaskan pada permukaan gigi dan
pemberian varnish fluor.

NaF digunakan pertama kali sebagai bahan pencegah karies. sering digunakan
karena dapat disimpan untuk waktu yang agak lama, memiliki rasa yang
cukup baik, tidak mewarnai gigi serta tidak mengiritasi gingiva. Senyawa ini
dianjurkan penggunaannnya dengan konsentrasi 2%, dilarutkan dalam bentuk
bubuk 0,2 gram dengan air destilasi 10 ml

SnF jarang digunakan karena menimbulkan banyak kesukaran, misalnya rasa


tidak enak sebagai suatu zat astringent dan kecenderungannya mengubah
warna gigi, karena beraksinya ion Sn dengan sulfida dari makanan, serta
mengiritasi gingiva. SnF juga akan segera dihidrolisa sehingga harus selalu
memakai sediaan yang masih baru konsentrasi senyawa ini yang dianjurkan
adalah 8%.

Konsentrasi ini diperoleh dengan melarutkan bubuk SnF2 0,8 gram dengan
air destilasi 10 ml. Larutan ini sedikit asam dengan pH 2,4-2,8.

APF lebih sering digunakan karena memiliki sifat yang stabil, tersedia dalam
bermacam-macam rasa, tidak menyebabkan pewarnaan pada gigi dan tidak
mengiritasi gingiva.

Bahan ini tersedia dalam bentuk larutan atau gel, siap pakai, merupakan bahan
topikal aplikasi yang banyak di pasaran dan dijual bebas.

APF dalam bentuk gel sering mempunyai tambahan rasaseperti rasa jeruk,
anggur dan jeruk nipis.

IV.

KESIMPULAN
Pada masa gigi decidui dan gigi bercampur perawatan TAF sangat
bermanfaat karna pada masa-masa inilah tumbuh kembang gigi sedang
berlangsung, TAF terbukti efektif untuk tindakan pencegahan gigi
berlubang dengan dikombinasikan waktu dan cara menyikat gigi yang
benar.

V.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hamilto, I.R., and Bowden, G.H.W. Fluoride Effects on Oral
Bacteria. In: Fluoride in Dentistry, editors: Fejerskov,O. et
al., 2nd Edition, Munksgaard, Copenhagen, 1996: 230-247
2. Peyron M, Matsson L, Birkhed D. Progression of Approximal Caries
in Primary Molars and The Effect of Duraphat Treatment. Scand J
Dent Res.1992; 100(6):3148.
3. Seppa L, Leppanen T, Hausen H. Fluoride varnish versus acidulated
phosphate fluoride gel: a 3-year clinical trial. Caries Res
1995;29(5):32730.

VI.

LAMPIRAN

Jurnal terlampir