Anda di halaman 1dari 36

FISIKA KELAS X SEMESTER I

BAHAN AJAR
SMA N 1 BATANG ANAI

Mata Pelajaran

: Fisika

Kelas / Semester

: X / Satu

Standar kompetensi : 1. Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya


2. Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda
titik
Kompetensi Dasar : 1.a Mengukur besaran fisika ( massa, panjang, waktu)
1.b Melakukan penjumlahan Vektor
2.a Menganalisis besaran fisika pada gerak dengan kecepatan dan percep
tan konstan
2.b Menganalisis berasan fisika pada gerak melingkar derngan laju
konstan
2.c Menerapkan Hukum Newton sebagai prinsip dasar dinamika untuk
gerak lurus, gerak vertikal, dan gerak melingkar beraturan

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG ) Page 1

FISIKA KELAS X SEMESTER I

BAB I
BESARAN dan SATUAN

Indicator
Mengindentifikasikan defenisi besaran dan satuan
Mengindentifikasikan penerapan pengukuran beberapa besaran fisis dalam kehidupan
sehari - hari

Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengindentifikasikan defenisi besaran dan satuan
2. Siswa dapat membedakan mana besaran pokok dan mana besaran turunan serta dapat
membuatkan dimensinya
3. Siswa dapat mengkonversikan satuan
4. Siswa dapat mendeskripsikan pengukuran
5. Siswa dapat menyebutkan macam macam alat ukur panjang, massa, waktu
6. Siawa dapat menyebutkan kegunaan dari alat ukur panjang, massa, waktu
7. Siawa dapat menyebutkan bagian bagian dari alat ukur
8. Siawa dapat menentukan ketelitian dari alat ukur
9. Siawa dapat melakukan pengukuran dengan bermacam macam alat ukur
10. Siawa dapat menganalisis ketidakpastian dalam pengukuran
11. Siawa dapat mengaplikasikan konsep alat alat ukur dalam melakukan pratikum
12. Siawa dapat mendeskripsikan perbedaan dari beberapa alat ukur

BESARAN dan SATUAN

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG ) Page 2

FISIKA KELAS X SEMESTER I

1.1 Besaran
1. Pengertian Besaran
Besaran adalah : segala sesuatu yang dapat diukur yang dinyatakan dengan

angka

angka
2. Macam Macam Berasan
a. Besaran Berdasarkan Satuanya
1) Besaran pokok
Besaran pokok adalah besaran yang satuannya telah didefenisikan terlebih dahulu.
7 besaran pokok yaitu sebagai berikut:
Besaran Pokok

Satuan

Lambang

Panjang

Meter

Massa

Kilogram

kg

Waktu

Second

Suhu

Kelvin

Kuat arus

Ampere

Intensitas

Candela

cd

Jumlah zat

Mole

mol

2) Besaran turunan
Besaran turunan adalah besaran yang satuannya diturunkan dari beberapa
besaran pokok. Contoh dari besaran turunan sebagai berikut:
Besaran turunan

Rumusan

Lambang

Percepatan

Kecepatan/waktu

m/s2

Massa jenis

Massa/volume

Kg/m3

Usaha

Joule

Kg m2/s2

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG ) Page 3

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Volume

Meter kubik

m3

Luas

meterpersegi

m2

b. Besaran Berdasarkan Nilai dan Arahnya


1. Besaran Skalar
Besaran skalar adalah besaran yang hanya memiliki nilai saja tanpa di tentukan
arahnya.
contoh:
- Kelajuan
- Suhu
- Energi
- dll
- Panjang
- Waktu
- Massa jenis
- Massa
- Volume
- Daya
2. Besaran Vektor
Besaran vector adalah besaran yang memiliki nilai dan arah
Contoh; kecepatan, percepatan, gaya, berat, momentum, impuls, tekanan, dll.
1.2 Satuan
Satuan adalah sesuatu yang digunakan untuk menentukan nilai dari suatu besaran.
Misalnya:
- Besaran panjang diukur dengan satuan meter
- Besaran waktu diukur dengan satuan sekon
Macam macam satuan
Sistem satuanyang sering digunakan dalam fisika ada 2 yaitu sistem metrik dan sistem
inggris. Pembahasan disini yang akan dibahas hanya sistem metrik saja. Sistem metrik
menggunakan besaran pokok.
Sistem metrik dibagi menjadi 2 yaitu:
1) Sistem MKS :

Panjang diukur dengan meter


Massa diukur dengan kilogram
Waktu di ukur dengan sekon

2) Sistem CGS :

Panjang diukur dengan centimeter


Massa diukur dengan gram
Waktu di ukur dengan sekon

Satuan dapat disetarakan dengan satuan lainnya.


Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG ) Page 4

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Contoh:
1. 2kg
2. 1meter
3. 72 km / jam

= 2000 kg
= 100 cm
= 72000 m / 3600 s = 20 m/ s

1.3 Dimensi
Dimensi adalah cara besaran tersusun dari besaran pokok. Dimensi suatu besaran
dilambangkan dengan huruf capital dan diberi tanda kurung persegi.
Dimensi besaran pokok dan besatran turunan:
Besaran Pokok

Dimensi
Dimensi

Panjang

[ L]

Massa

[M]

Waktu
Suhu
Kuat arus
Intensitas

[T]

[ ]
[I ]

Jumlah zat

[J ]
[N ]
Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG ) Page 5

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Besaran turunan
Percepatan

[LT-2]

Massa jenis

[ML-3]

Usaha

[ML2T2]

Volume

[L3]

Luas

[SL2]

Contoh untuk menentukan dimensi :


1. Dimensi dari massa jenis
Massa jenis = Massa/volume
= Kg/m3
= [ML-3]
2. Dimensi dari usaha
Usaha = Joule
= Kg m2/s2
=[ML2T2]
1.4 Notasi Ilmiah
Cara penulisan angka hasil pengukuran dengan cara memperpendek penulisan, akan tetapi
nilainya tetap sama
Contoh:
6. 000. 000. 000. 000 m
Anka ini dapat diperpendek dengan 6 x 1012m atau 6.000 x 109m
0, 000. 000. 000. 000. 000. 006 m
Angka ini dapat di perpendek dengan 6 x 10-17 m
1.5 Angka Penting

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG ) Page 6

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Angka penting adalah semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran yang terdiri dari
angka eksak dan satu angka taksiran yang ditaksir.
a) Aturan Aturan Angka Penting
1. Semua angka bukan angka nol adalah angka penting
Contoh : 345,5 meter
terdapat 4 angka penting
2. Angka nol yang terletak diantara dua angka bukan nol adalah angka penting
Contoh : 5009,7 meter
terdapat 5 angka penting
3. Semua angka nol yang berada disebelah kiri maupun sebelah kanan decimal adalah
bukan angka penting
Contoh: 0,000744
terdapat 3 angka penting
4. Angka angka nol yang digunakan hanya untuk tempat titik decimal bukan angka
penting
contoh : 0,0000000000000988
terdapat 3 angka penting
5. Bilangan puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya yang memiliki deretan angka angka
nol pada deretan akhir harus ditulis dengan notasi ilmiah, supaya jelas apakah angka nol
termasuk angka penting atau tidak
Contoh :
7000 gram , dapat ditulis 7 x 103gram memiliki 1 angka penting
89000gram, dapat ditulis 9,90 x 104gram memiliki 3 angka penting
6. Penulisan angkla penting yang diberi tanda garis bawah, berakhir pada tanda yang diberi
garis bawah tersebt dan angka selanjutnya tidak termasuk angka penting
Contoh :
36459 memiliki 4 angka penting
3008 memiliki 2 angka penting
b) Menjumlahkan dan Mengurangkan Angka Penting
Dalam penjumlahan angka angka penting dan pengurangan angka penting, hasilnya
hanya boleh menganding 1 angka taksiran dibelakang koma. Jika ada dua angka yang
diragukan cukup tulis satu saja dan yang satunya lagi cukup dibulatkan ke angka taksiran
pertama.
Contoh: 1) 252,8 kg
2,37 kg

8 merupakan angka taksiran


7 merupakan angka taksiran

+
255,17 kg

ditulis 255,2 kg

2) 34,569
1, 2
33,369

ditulis 33,4 saja

c) Mengali dan Membagi Angka Angka Penting

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG ) Page 7

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Dalam mengali dan membagi, banyaknya angka penting pada hasil perkalian dan
pembagian harus sama banyaknya angka penting paling sedikit pada perkalian dan
pembagian itu.
Contoh: 1) 2,2 cm x 2,2 cm = 4,84 cm2 terdapat 2 angka penting yaitu 4,8
2)8,2 :1,4 = 5,857 terdapat 2 angka penting yaitu 5,9
d) Penarikan Akar dan Pemangkatan
Dalam penarikkan akar dan pemangkatan, hasil angka penting ditulis sebanyak angka
penting yang dipangkatkan atau yang di akarkan.
Contoh : 1.

85=9,2195terdapat 2angka penting yaitu 9,2

2
2. ( 2,3 ) =5,29 terdapat 2 angka penting yaitu 5,3

1.6 Pengukuran
Pengukuran adalah kegiatan membandingkan suatu besaran dengan satuan yang sesuai.
Dalam melakukan pengukuran kita harus mengkalibrasi alat terlebih dahulu, agar hasil
pengukuran lebih akuarat. Instrument pengukuran adalah alat yang digunakan untuk
melakukan pengukuran, kemampuan alat ukur dapat diketahui dari berbagai kriteria yang
ditetapkan . adapun berbagai kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
a. Ketelitian
Kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil ukur yang mendekati hasil
sebenarnya.
b. Ketepatan
Kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil ukur yang mendekati atau mirip satu
sama lainnya ketika melakukan pengukuran berulang.
c. Sensitivitas
Kepekaan alat ukur terhadap pengaruh luar baik berupa masukan ataupun perubahan
lingkungan.
d. Resolusi
Perubahan terkecil dari masukan yang akan diukur yang masih dapat dijangkau alat
ukur.
e. Kesalahan
Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG ) Page 8

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Ketidaksesuaian hasil ukur terhadap nilai yang sebenarnya.


Untuk membantu pegukuran yang lebih teliti pada beberapa alat ukur seperti
jangka sorong dan micrometer sekrup, dilengkapai dengan skala nonius umumnya
terdapat pembagian skala uitama dan skala nonius, akibatnya skala titik nol dan titik
maksimum skala nonius berimpit dengan skala utama.
Ketidak pastian pengukuran ada 2 yaitu:
a) Pengukuran tunggal
Apabila pengukuran dilakukan sekali saja atau tunggal, hasil pengukuran
dilaporkan dengan cara:
X = x0 + x
Dengan :
X = besaran fisis yang di ukur (misalnya panjang, massa, waktu)
X0 = angka yang terbaca pada alat ukurs
x = ketidak pastian mutlak
Ketidak pastian mutlak pada pengukuran tunggal adalah:
x = NST
b) Pengukuran berulang
Pengukuran berulang akan menghasilkan sekumpulan data. Oleh sebabitu hasil
pengukuran berulang dilaporkan dengan cara:
X = x0 + x
Dengan: x0 = rata rata dari kumpulan data
x = ketidak pastian berulang
Rata rata dari kumpulan data dicari dengan cara

x 0=

Ketidak pastiannya pengukuran berulang :


x
x= 0
N

Dengan :

x0

= jumlah hasil pengukuran yang berulang

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG ) Page 9

jumla h semua data


banyak data

FISIKA KELAS X SEMESTER I

N = jumlah banyak pengukuran

Akurasi Pengukuran
Dalam mengukur menggunakan instrument atau alat ukur harus diperhatikan hal hal
sebagai berikut:
a) Memilih dan merangkai alat harus benar
b) Menentukan langkah langkah pengukuran dengan tepat
c) Mengamati dan dan membaca nilai yang ditunjukkan skala alat ukur harus tepat
d) Memilih alat ukur yang tingkat penyimpangannya lebih kecil.
Kesalahan (error) dalam Pengukuran
Dalam pengukuran akan sangat sering ditemukan penyimpangan dan kesalahan.
a. Kesalahan umum
Penyebabnya:
1. Keterbatasan pengamat.
Missal: pengamat kurang terampil menggunakan alat
2. Keliru dalam membaca skala alat ukur
b. Kesalahan sistematik
Penyebabnya:
1) Kesalahan dalam kalibrasi alat
2) Kesalahn dalam penenpatan angka nol pada alat
3) Kesalahan komponen komponem pada alat
Missal: pegas pada alat sudah lemah
4) Kesalah arah pengamatan skala alat
5) Pengaruh lingkungan tempat mengukur
Misalnya: suhu, kelembaban, tekanan dan lain lain
c. Kesalahan acak
Mengukur Besaran Panjang
Besaran panjang dapat diukur dengan menggunakan alat alat ukur sebagai berikut:
1) Mistar / rol
2) Jangka sorong
3) Micrometer secrup

A. Jangka sorong

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 10

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Nonius skala utama memiliki panjang 0,1 cm dan skala noniusnya memiliki panjang 0,9
mm. adi beda satu skala dengan skala utama = 0,1 cm 0,09 cm = 0,01 cm . Skala nonius / skala

terkecil dari jangka sorong adalah 0,1 mm . Jangka sorong memiliki ketelitian

terkecilnya . Jadi ketelitian jangka sorong adalah

1
2

1
2

dari skala

x 0,001 cm = 0,0005 cm =0,005 mm .

Jangka sorong pada umumnya digunakan untuk mengukur ketebalan benda ,kedalaman tabung
,diameter luar dan dalam tabung .
1
2

Ketelitian jangka sorong =

x skala terkecil alat =

1
2

x NST .

Melakukan pengukuran dengan jangka sorong beserta ketidakpastiannya .


NST jangka sorong = 0,1 mm .
Ketelitian jangka sorong =

1
2

x 0,1 = 0,05 mm .

x = 0,05 mm.

Untuk melaporkan hasil pengukuran

X p =x x

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 11

FISIKA KELAS X SEMESTER I

B. Micrometer secrup

Jika selubung luar di putar lengkap 1 kali maka rahang geser dan juga selubung luar maju
atau mundur 0,5 mm . Karena selubung luar memiliki 50 skala ,maka 1 skala pada selubung luar
sama dengan jarak maju atau mundur rahang geser sejauh 0,5 mm/50 = 0,01 mm . Jadi ,skala
terkecil mikrometer sekrup adalah 0,01 mm atau 0,001 cm. Ketelitian mikrometer sekrup adalah
setengah

dari

skala

terkecilnya.

1
x 0,01 mm=0,005 mm atau 0,0005 cm.
2

Jadi

,ketelitian

mikrometer

sekrup

adalah

Mikrometer sekrup dapat digunakan untuk mengukur

tebal selembar kertas atau diameter kawat tipis dengan teliti ( akurat ) . Ketelitian mikrometer

sekrup =

1
2

x skala terkecil alat =

1
2

x NST .

C. Mistar / Rol
Mistar adalah alat ukur yang paling sederhana dan dikenal semua orang. Mistar memiliki
skala pengukuran terkecil 1 mm, sesuai dengan jarak garis terkecil yang terdapat pada skala
penggaris. Mistar memiliki tingkat ketelitian atau ketidak pastian hasil pengukuran 0,5 mm atau
0,05 cm, yaitu sebesar setengah skala terkecilyang dimiliki oleh mistar tersebut.

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 12

FISIKA KELAS X SEMESTER I

BAB II
VEKTOR

Indicator
1.2.1
1.2.2
1.2.3
1.2.4
1.2.5

Menjelaskan pengertian besaran vektor dan besaran scalar.


Menjelaskan cara menjumlahkan resultan dua vektor dengan metode grafis.
Melukiskan vektor dengan metode grafis.
Menyebutkan contoh contoh besaran vektor dan besaran scalar.
Menuliskan lambang besar vektor,serta menggambarkan besaran vector.

Tujuan Pembelajaran
1.
2.
3.
4.
5.

Siswa dapat menjelaskan pengertian besaran vektor dan besaran scalar.


Siswa dapat menjelaskan cara menjumlahkan resultan dua vektor dengan metode grafis.
Siswa dapat melukiskan vektor dengan metode grafis.
Siswa dapat menyebutkan contoh contoh besaran vektor dan besaran scalar.
Siswa dapat menuliskan lambang besar vektor,serta menggambarkan besaran vector.

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 13

FISIKA KELAS X SEMESTER I

VEKTOR
A. Penjumlahan vector
1) Metode jajaran genjang
1. Lukiskan vector F1 dan vector F2 dengan titik tangkap di O
2. Buatlah sebuag jajaran genjang dengan sisi sisi vector F1 dan F2
3. Diagonal jajaran genjang merupakan resultan vector F1 dan vector F2 atau R = F1 +
F2
4. Sedut menunjukkan arah resultan vector terhadap arah vector F1

2) Metode segi tiga


1. Lukiskan F1 dengan titik tangkap di O
2. Lukiskan titik tangkap F2 diujung vector F1
3. hubungkan titik tangkap O dengan ujung vector F2 . lukisan garis
penghubung ini dinamakan resultan vector R = F1 + F2

3) Metode polygon
Metode yang menggunakan segi banyak, yang mempunyai tiga vector atau
lebih dan tidak memungkinkan untuk menggunakan metode segi tiga dan
jajaran genjang.

B. Pengurangan vector
Untuk melukiskan R = V1 V2 . mula mula lukiskan V1 kemudian vector
-V2 yang didapat dengan cara membalikan arah V2 sehingga menjadi V2
Seperti gambar berikut:
Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 14

FISIKA KELAS X SEMESTER I

C. Menentukan besar resultan vector


1) Menggunakan metode grafis
Menentukan vector resultan secara grafis yaitu dengan cara menggunakan mistar atau
mengukur resultan dengan menggunakan rol.
2) Menggunaka metode analisis
Untuk dua vector yang arahnya sembarang yang membentuk sudut, artinya tidak
segaris dan tidak saling tegak lurus, dapat ditentukan resultannya dengan metode
grafis. Secara matematis, untuk mendapatkan besarnya resultan dua vector secara
akurat dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
R= a 2+ b2 +2. ab cos
R= a 2+ b22 . ab cos
Untuk dua vector yang saling tegak lurus maka resultannya yaitu sebagai berikut:
R= a 2+ b2
Untuk menentukan resultan vector yang lebih dari dua vector yaitu:

vektor
F1

Sudut
1

Komponen x
F1 cos a 1

Komponen y
F1 sin a1

F2

F2 cos a 2

F2 sin a2

F3

F3 cos a 3

F3 sin a3

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 15

FISIKA KELAS X SEMESTER I

FX = ..

Fy = ..

R= F x 2 + F y2
Rx = FX

Ry = Fy

untuk Rx = F1x + F2x + F3x

Ry = F1y + F2y + F3

Untuk menghitung besarnya resultan antara dua vector harus diingat bahwa besarnya
resultan dua vector terletak diantara selisih kedua vector dan jumlah dari kedua vector
tersebut, secara matematis:
V1 V2 R V1 + V2
D. Menentukan arah resultan
Untuk menentukan arah resultan vector terhadap salah satu vector penyusunnya, dapat
digunakan persamaan sinus
F1
F
R
=
= 2
sin sin ( ) sin
E. Penguraian vector
a. Menentukan komponen komponen vector apabila besar dan arahnya diketahui
v x =v cos
v y =v sin
b. Menentukan besar dan arah sebuah vector apabila kedua komponen vektornya diketahui
R= V 2x +V 2y

Arah vektornya

tan =

Vy
Vx

F. Vector satuan
Vector A dapat dinyatakan dengan vector satuan sebagai berikut :
A= A x i+ A y j+ A z k
Besar vector A

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 16

FISIKA KELAS X SEMESTER I

R= A2x + A 2y +A 2z
G. Perkalian vector
1. Perkalian titik
Menghasilkan sbuah besaran scalar
A= A x i+ A y j+ A z k
B=Bx i+ B y j+ B z k
Jika :
dan
Maka : | A B|= ABcos
A= A 2x + A 2y + A2z
B= B 2x + B2y +B 2z

Atau

A B =

A x Bx + A y B y + A z B z

2. Perkalian silang
Menghasilkan sbuah vector baru disebut juga perkalian vector
A= A x i+ A y j+ A z k
B=Bx i+ B y j+ B z k
Jika :
dan
. | AxB|= ABcos
A= A 2x + A 2y + A2z

B= B 2x + B2y +B 2z
Atau

AxB

A B B x A y ) i+ ( A y B z B y A z ) j+ ( A z Bx B z A x ) k
= ( x y

BAB III
GERAK LURUS

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 17

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Indicator
2.1.1
2.1.2
2.1.3

Menjelaskan pengertian gerak


Membedakan pengertian kedudukan,perpindahan dan jarak
Mengidentifikasi pengertian GLB, GLBB serta hubungannya dengan besaran besaran

2.1.4
2.1.5
2.1.6

terkait
Menerapkan persamaan GLB,GLBB dalam pemecahan masalah
Menganalisis grafik GLB, GLBB
Menyebutkan GLB, GLBB

Tujuan Pembelajaran
1) Siswa dapat menjelaskan pengertian gerak
2) Siswa dapat membedakan pengertian kedudukan,perpindahan dan jarak
3) Menjelaskan pengertian GLB, GLBB
4) Mengidentifikasi karakteristik gerak lurus berubah beraturan GLB, GLBB
5) Menentukan percepatan pada gerak lurus berubah beraturan.
6) Membuat grafik gerak lurus berubah beraturan dan berubah beraturan berdasarkan
hubungan besaran besaran yang terkait.
7) Menggunakan persamaan dalam pemecahan masalah dalam bentuk soal.

GERAK LURUS
Suatu benda melakukan gerak, bila benda tersebut kedudukannya (jaraknya) berubah setiap
saat terhadap titik asalnya ( titik acuan ).
Sebuah benda dikatakan bergerak lurus, jika lintasannya berbentuk garis lurus.

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 18

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Contoh : - gerak jatuh bebas


- gerak mobil di jalan.
Gerak lurus yang kita bahas ada dua macam yaitu :
1. Gerak lurus beraturan (disingkat GLB)
2. Gerak lurus berubah beraturan (disingkat GLBB)
Definisi yang perlu dipahami :
1. Kinematika ialah ilmu yang mempelajari gerak tanpa mengindahkan penyebabnya.
2. Dinamika ialah ilmu yang mempelajari gerak dan gaya-gaya penyebabnya.
Jarak dan perpindahan pada garis lurus .
- Jarak merupakan panjang lintasan yang ditempuh oleh suatu materi (zat)
- Perpindahan ialah perubahan posisi suatu benda yang dihitung dari posisi awal (acuan)benda
tersebut dan tergantung pada arah geraknya.
a. Perpindahan Positif jika arah gerak ke Kanan
b. Perpindahan Negatif jika arah gerak ke Kiri
contoh:

* Perpindahan dari x1 ke x2 = x2 - x1 = 7 - 2 = 5 ( positif )


* Perpindahan dari x1 ke X3 = x3 - x1 = -2 - ( +2 ) = -4 ( negatif )
Gerak Lurus Beraturan ( GLB )
Gerak lurus beraturan ialah gerak dengan lintasan serta kecepatannya selalu tetap.
Kecepatan ( v ) ialah besaran vektor yang besarnya sesuai dengan perubahan lintasan tiap satuan
waktu.
Kelajuan ialah besaran skalar yang besarnya sesuai dengan perubahan lintasan tiapsatuan waktu.

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 19

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Pada Gerak Lurus Beraturan ( GLB ) berlaku rumus :

x=v.t

dimana : x = jarak yang ditempuh ( perubahan lintasan )


v = kecepatan
t = waktu
Grafik Gerak Lurus Beraturan ( GLB )
a. Grafik v terhadap t

Kita lihat grafik di samping : dari rumus x = v . t, maka :


t=1

det,

x = 20 m t = 2

det,

x = 40 m

t=3

det,

x = 60 m t = 4

det,

x = 80 m

Kesimpulan : Pada grafik v terhadap t, maka besarnya perubahan lingkaran benda


( jarak ) merupakan luas bidang yang diarsir.
b. Grafik x terhadap t.

Kelajuan rata-rata dirumuskan :

x
t

Kesimpulan : Pada Gerak Lurus beraturan kelajuan rat-rata selalu tetap dalam
selang waktu sembarang.
Gerak Lurus Berubah Beraturan ( GLBB )
Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 20

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Hal-hal yang perlu dipahami dalam GLBB :


1. Perubahan kecepatannya selalu tetap
2. Perubahan kecepatannya tiap satuan waktu disebut : PERCEPATAN. ( notasi = a )
3. Ada dua macam perubahan kecepatan :
a. Percepatan : positif bila a > 0
b. Percepatan : negatif bila a < 0
4. Percepatan maupun perlambatan selalu tetap.

a=

v
t

Bila kelajuan awal = vo dan kelajuan setelah selang waktu t = vt, maka :

a=

vt vo
t

at = vt -vo
vt = vo + at
Oleh karena perubahan kecepatan ada 2 macam, maka GLBB juga dibedakan menjadi dua
macam yaitu :
GLBB dengan a > 0 dan GLBB < 0 , bila percepatan searah dengan kecepatan benda maka pada
benda mengalami percepatan, jika percepatan berlawanan arah dengan kecepatan maka pada
benda mengalami perlambatan.

Grafik v terhadap t dalam GLBB.


Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 21

FISIKA KELAS X SEMESTER I

a>0

a<0

a>0

vo=0

vo 0

vo 0

vt = vo + at

vt = vo + at

vt = vo + at
vt = at

Grafiknya berupa garis lurus


Jarak yang ditempuh = luas grafik v terhadap t.
x = Luas trapesium
1
2

= ( vo + vt ) . t
1
2

= ( vo + vo + at ) . t
1
2

= ( 2vo + at ) . t
1
2

x = vot +

at2

Grafik x terhadap t dalam GLBB

1
2

1
2

a > 0; x = vot +

at2

a < 0; x = vot +

at2

GRAFIKNYA BERUPA PARABOLA


GERAK VERTIKAL PENGARUH GRAFITASI BUMI .
Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 22

FISIKA KELAS X SEMESTER I

a. Gerak jatuh bebas.


Gerak jatuh bebas ini merupakan gerak lurus berubah beraturan tanpa kecepatan awal
( vo ), dimana percepatannya disebabkan karena gaya tarik bumi dan disebut percepatan
grafitasi bumi ( g ).
Misal : Suatu benda dijatuhkan dari suatu ketinggian tertentu, maka :

Rumus GLBB : vt = g . t
1
2

y=

g t2

b. Gerak benda dilempar ke bawah.


Merupakan GLBB dipercepat dengan kecepatan awal vo.

Rumus GLBB : vt = vo + gt
1
2

gt2

y = vot +

c. Gerak benda dilempar ke atas.


Merupakan GLBB diperlambat dengan kecepatan awal vo.

Rumus GLBB : vt = vo - gt
1
2

y = vot -

gt2

y = jarak yang ditempuh setelah t detik.


Syarat - syarat gerak vertikal ke atas yaitu :
Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 23

FISIKA KELAS X SEMESTER I

a. Benda mencapai ketinggian maksimum jika vt = 0


b. Benda sampai di tanah jika y = 0

BAB IV
GERAK MELINGKAR

Indicator
2.2.1

Mengidentifikasi besaran frekuensi, kecepatan sudut,periode,sudut tempuh yang

2.2.2
2.2.3

terdapat pada gerak melingkar dengan laju konstan


Menerapkan prinsip roda roda yang saling berhubungan secara kualitatif
Menganalisis besaran yang berhubungan antara gerak linier dan gerak melingkar
dengan laju konstan

Tujuan Pembelajaran
1)

Siswa dapat menjelaskan pengertian gerak melingkar .

2)

Siswa dapat menganalisis besaran fisika pada gerak melingkar dengan laju
konstan .

3)

Siswa dapat merumuskan gerak melingkar beraturan secara kualitatif .

4)

Siswa

dapat

menjelaskan

percepatan

sentripental

serta

menurunkan

persamaannya .
5)

Siswa dapat menyebutkan aplikasi gerak melingkar dalam kehidupan sehari


hari .

6)

Siswa dapat menjelaskan pengertian gerak melingkar berubah beraturan


(GMBB)

7)

Siswa dapat menerapkan prinsip roda-roda yang saling berhubungan secara


kualitatif

8)

Siswa dapat menerapkan persamaan hubungan roda-roda dalam pemecahan


masalah .

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 24

FISIKA KELAS X SEMESTER I

GERAK MELINGKAR
Gerak melingkar adalah gerakan yang menghasilkan lintasan yang berbentuk lingkaran.
Gerak melingkar beraturan adalah gerak melingkar yang besar kecepatan sudutnya tetap
terhadap waktu, atau percepatan sudutnya nol.
Contoh gerakan melingkar dalam kehidupan sehari hari:
- Gerak komidi putar
- Gerakan kipas angin
- Orbit bulan yang mengelilingi bumi
- Pentil yang terdapat pada roda yang sedang berputar pada porosnya
Besaran Besaran dalam Gerak Melingkar Beraturan
Periode ( T ) adalah waktu yang diperlukan untuk melakukan gerak satu putaran penuh.
Frekuensi ( f ) adalah banyaknya putaran yang terjadi tiap detik. Jadi, dalam hal ini berlaku
hubungan:
f=

1
1
atauT =
T
f

Kecepatan (v) linier adalah kecepatan yang arahnya menyinggung lintasan dan tegak lurus
terhadap jari jari lintasan yang melingkar
Besar kecepatan liniernya adalah:
2 R
v=
T
Kecepatan sudut atau kecepatan anguler () menunjukkan besar sudut yang ditempuh tiap satuan
waktu.

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 25

FISIKA KELAS X SEMESTER I

2
T

Berdasarkan hubungan antara periode dan frekuensi, kecepatan sudut dapat dinyatakan
sebagai:
= 2f
hubungan antara kecepatan linier (v) dan kecepatan sudut () untuk gerak melingkar dengan
lintasan berjari jari R adalah.
v =R atau =

v
R

Percepatan sentripetal
Percepatan sentripetal adalah percepatan sebuah benda yang menyebabkan benda tersebut
bergerak melingkar. Percepatan sentripetal selalu tegak lurus terhadap kecepatan linearnya dan
mengarah ke pusat lingkaran.
Percepatan sentripetal ditentukan dengan rumus
2
v
a s= 2 R
a s=
atau
R
karena
karena

2
T

f=

1
T

4
2
maka a s= T R = a s= T 2 R

( )

2 2
maka ( 4 f ) R

Hubungan roda roda yang berputar beraturan


1. Seporos
Untuk dua roda yang dihubungkan sepusat atau seporos, arah putaran dan kecepatan
sudutnya adalah sama, sehingga diperoleh hubungan:

A = B

vA V B
=
RA RA
RA

2. Bersinggungan B

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 26

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Untuk dua roda yang bersinggungan dengan jari jari R A dan RB kedua pinggir roda
saling bersentuhan dan arah putaran keduanya berlawanan, maka kedua roda akan
memiliki laju linier yang sama secara matematis untuk susunan dua roda ini berlaku
persamaan:
RB
RA

v A =v B A R A = B RB

3. Dihubungkan dengan sabuk, atau sebuah rantai


Roda A dan roda B dihubungkan dengan sebuah rantai yang di putar searah, memiliki
kelajuan linier yang sama, artinya kedua pinggir roda A dan roda B memiliki laju linier
yang sama, jadi hubungan antara keduanya adalah:
RB

RA
A

v A =v B
A R A=B R B

Gerak Melingkar Berubah Beraturan (GMBB)


GMBB adalah gerak melingkar dengan percepatan sudut tetap ( ) . Jika percepatan sudut
searah dengan arah kecepatan sudut (percepatan positif), maka kecepatan sudut partikel makin
besar. Sebaliknya jika percepatan sudut berlawanan arah dengan arah kecepatan sudut, maka
kecepatan sudut benda makin kecil.
Dalam GMBB karena percepatan sudut tetap dan tidak nol, maka benda akakn mengalami
percepatan tangensial. Jadi partikel yang mengalami GMBB mengalami 2 percepatan yaitu
percepatan sudut dan percepatan tangensial dimana keduanya mempunyai hubungan:

Besar dan arah percepatan total berturut-turut dinyatakan oleh

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 27

FISIKA KELAS X SEMESTER I

a= a2s +a2t
tan =

at
as

Persamaan gerak pada GMBB


a. Kecepatan sudut pada saat t dinyatakan oleh
= 0+ t
2 =20 +2
b. Perpindahan sudut dinyatakan oleh
2
=0 +
t
Keterangan :

= kecepatan sudut pada saat t (rad/s)

= kecepatan sudut awal (rad/s)


= percepatan sudut (rad2)
= perpindahan sudut (rad)

t = selang waktu (s)

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 28

FISIKA KELAS X SEMESTER I

BAB V
DINAMIKA GERAK

Indicator
2.3.1

Mengidentifikasi penerapan prinsip Hukum I newton (hukum inersia) dalam

kehidupan sehari-hari
Mengidetifikasi penerapan prinsip Hukum II newton dalam kehidupan sehari-hari
Mengidentifikasi penerapan prinsip Hukum III newton dalam kehidupan sehari-hari
Menerapkan hukum newton pada gerak benda tanpa gesekan
Menerapkan hukum newton pada gerak vertikal
2.3.6 Menerapkan hukum newton pada gerak benda pada bidang miring tanpa gesekan
2.3.2
2.3.3
2.3.4
2.3.5

Tujuan Pembelajaran
1) Siswa dapat membedakan pengertian kinematika dan dinamika.
2) Siswa dapat menjelaskan penerapan prinsip hukum I newton dalam kehidupan seharihari.
3) Siswa dapat mengidentifikasi penerapan prinsip hukum II newton dalam kehidupan
sehari-hari
4) Siswa dapat mengidentifikasi penerapan hukum III newton dalam kehidupan sehari-hari
5) Menjelaskan macam macan gaya yang berpengaruh pada gerak benda
6) Menjelaskan aplikasi hukum newton pada gerak benda pada bidang datar dan bidang
miring
7) Menjelaskan gerak benda yang dihubungkan dengan tali
8) Menjelaskan gerak benda yang dihubungkan dengan katrol

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 29

FISIKA KELAS X SEMESTER I

DINAMIKA PARTIKEL
A. HUKUM HUKUM NEWTON TENTANG GERAK
1) Hukum 1 Newton
Hukum 1 Newton disebut juga dengan hukum inersia atau hokum kelembaman.
Bunyi hukum 1 Newton
Selama tidak ada resultan gaya yang bekerja pada sebuah benda maka benda
tersebut akan selalu pada keadaannya, yaitu benda yang diam akan selalu diam
dan benda yang bergerak akan bergerak dengan kecepatan konstan.
Secara Matematis dapat dituliskan:
F=0
Contoh aplikasinya:
Letakkan 1 lembaran kertas diatas meja, dan letakkanlah suatu benda di atas kertas
tersebut misalnya sebuah kotak pensil. Tarik kertas tersebut pelan pelan, maka kotak
pensil akan ikut tertarik.Tarik kertas dengan cepat dengan satu sentakkan maka kertas
akan tertarik, dan kotak akan tetap pada kedudukannya
2) Hukum II Newton
Percepatan yang ditimbulkan oleh gaya yang bekerja pada suatu benda besarnya
berbanding lurus dan searah dengan gaya itu dan berbanding terbalik dengan massa
benda .
Secara Matematis dapat dirumuskan:
a=

F
atau F=ma
m

3) Hukum III Newton


Setiap ada gaya aksi selalu timbul gaya reaksi dalam garis kerja yang sama. Gaya
reaksi sama besar dengan gaya reaksi, akan tetapi dengan arah yang berlawanan.
Berdasarkan hukum III Newton dapat ditulis :
Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 30

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Faksi = -Freaksi
B. JENIS JENIS GAYA
a) Gaya Berat (W)
Gaya berat adalah gaya benda yang dipengaruhi oleh percepatan gravitasi bumi.
Secara matematis gaya berat di rumuskan :
W = m.g
Dimana : m = Massa benda (kg)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
mg
W = Gaya berat (N)
b) Gaya Normal (N)
Benda yang jatuh bebas memiliki gaya berat W = m g
Gaya normal adalah gaya yang dialami
oleh benda dan arahnya tegak lurus dengan
permukaan bidang.
Untuk bidang datar, besarnya gaya normal sama dengan gaya berat benda.
N=W
N = m.
Dimana : m = massa benda (kg)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
N = gaya normal
c) Gaya Gesek
Gaya gesekan merupakan gaya yang disebabkan oleh dua benda yang bersinggungan.
Macam-macam gaya gesekan :
1) Gaya Gesekan Statis
Gaya gesekan statis merupakan gaya gesekan yang bekerja pada benda yang
diam.
Besar gaya gesekan bergantung pada kekasaran permukaan benda dengan
bidang yang bersentuhan dan gaya normal(N).Tingkat kekasaran ini disebut
koefisien gesekan,untuk benda diam koefisien gesekan disebut koefisien

gesekan statis ( s).


Secara matematis ditulis :

fs =

s.

2) Gaya Gesekan Kinetis (fk)


Gaya gesekan kinetis merupakan gesekan yang bekerja pada benda yang
bergerak.
Hubungan gaya gesekan kinetis dengan koefisien gesekan kinetis diberikan
dalam persamaan berikut :

fk =

Jika F < fs : Benda akan diam


Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 31

FISIKA KELAS X SEMESTER I

F = f s : Benda tepat akan bergerak


F > fs : Benda bergerak
Keuntungan dan kerugian gaya gesekan
a. Keuntungan
-

Kita dapat berjalan

Ban mobil dibuat beralur untuk memperbesar gaya gesekan jalan


dengan ban.

b. Kerugian
-

Gesekan bagian-bagian mesin yang mengakibatkan komponen mesin


jadi rusak.

Gesekan udara dengan body kendaraan.

Aplikasi hukum newton


1. Benda pada bidang datar
Sebuah balok yang terletak pada bidang mendatar yang licin, bekerja gaya F mendatar
hingga balok bergerak sepanjang bidang tersebut. Komponen gaya pada sumbu y adalah:
F y = W

maka

y =0

sehingga :

F y =0

w=0

=w=m. g

Komponen pada sumbu x adalah :


F x =F
Balok bergerak pada arah sumbu x, maka besar percepatan benda dapat dihitung sebagai
berikut:
F x =m. a

F=m. a

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 32

a=

F
m

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Dengan :
N = gaya normal (N)
w = gaya berat (N)
m = massa benda (kg)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
F = gaya yang bekerja (N)
w sin

w cos

a = percepatan gravitasi (m/s2)

2. Gerak benda pada bidang miring


W = m.g

Y
N

B
Komponen pada sumbu y adalah :
= m. g cos a
w y =w . cos
Resultan gaya gaya pada komponen sumbu y adalah :
F y =N w y =Nm . g cos

Balok tidak bergerak pada sumbu y berarti

y =0

F y =0
Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 33

adalah :

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Nm. g cos =0
N=m. g cos

Komponen gaya berat (w) pada sumbu x adalah :


= m. g sin a
w x =w .sin
Maka besarnya kecepatan pada sumbu x dapat dihitung sebagai berikut :
F x =m. a
m. g sin a=m. a
a=g sin.

3. Gerak benda yang dihubungkan dengan tali :


Apabila massa balok A dan B masing-masing adalah

mA

dan

mB

serta keduanya

hanya bergerak pada arah komponen sumbu x saja dan percepatan keduanya sama, maka
resultan gaya yang bekerja pada balok A adalah :
F s ( A ) =T =m A .
Resultan gaya yang bekerja pada balok B adalah :
F s ( B)=FT =m B .

m1

m2

T T

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 34

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Maka percepatan dapat ditentukan sebagai berikut:


FT +T =mA . + mB
F=( m A +mB )

a=

F
m A + mB

b. Benda yang dihubungkan dengan katrol


Dalam menentukan persamaan gerak berdasarkan Hukum II Newton yaitu:
F=m . a
Maka percepatan dapat ditentukan:
w AT +T T +T w B=m . a

w AwB =( m1 +m2 ) a
m A gmB g=( m A +mB ) a

( m A +mB ) g=m A +mB . a

m1 m2

a
a=

( mA + mB ) g

m A +m B

W1

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 35

W2

FISIKA KELAS X SEMESTER I

Meli sovia ( STKIP YDB LUBUK ALUNG )Page 36