Anda di halaman 1dari 11

A.

Aging proses
1.Pengertian
Aging proses adalah suatu periode menarik diri yang tidak terhindarkan dengan
karakteristik menurunya interaksi antara lanjut usia dengan yang lain disekitarnya.
Individu yang diberi kesempatan untuk mempersilahkan dirinya menghadapi
ketidakmampuan dan bahkan kematian (Cox, 1984)
2.Teori Proses Menua
Proses penuan merupakan proses secara berangsur yang mengakibatkan perubahan secara
kumulatif dan merupakan perubahan serta berakhir dengan kematian.
Teori biologi tentang penuaan dibagi menjadi :
a.Teori instrik
Perubahan yang berkaitan dengan usia lanjut timbul akibat penyebab dalam diri sendiri.
b.Teori Ekstriksi
Perubahan terjadi di akibatkan pengaruh lingkungan. Perubahan yang berkaitan dengan
usia lanjut timbul dalam penyebab diri sendiri dapat berupa :
a)Toeri Genetik Clock atau Teori Genetik dan mutasi
Teori tersebut mengatakan bahwa menua telah terprogram secara genetic untuk spesiesspesies tertentu. Tiap spesies mempunyai di dalam nucleus (inti sel) satu jam genetic
yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan
akan meghentikan replikasi sel bila tidak diputar. Jadi menurut konsep ini bila jam kita
berhenti kita akan meninggal dunia, meskipun menjadi lemah dan sakit.
b)Teori Imunologi Slow Virus
System imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam
tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
c)Teori Stress
Menua menjadi atau terjadi akibat hilangnya sel-sel yang bias digunakan tubuh.
Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal,
kelebihan usaha dan stress, menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
d)Teori Terprogram
Teori yang menua terprogram, sel tubuh manusia hanya dapat membagi diri sebanyak
satu kali. Artinya kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah
setelah sel-sel tersebut mati.
e)Teori Rantai Silang
Sel-sel yang tua /usang reaksi kimianya menyebabakan ikatan yang kuat. Khususnya
jaringan kolagen. Ikatan ini meyebabkan kurang elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.
Perubahan Biologi Yang Berasal Dari Luar Atau Ekstrinsik
1.Teori Radikal
radikal bebas dapat berbentuk didalam badan, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok
atom), mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organic seperti karbohidrat dan
protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat beregenerasi.
2.Teori Mutasi Sematik
menurut teori ini factor lingkungan menyebabkan mutasi sematik, sebagai contoh
diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur, sebaliknya
menghindari dapat memperpanjang umur. Menurut teori ini terjadi mutasi yang progresif
pada DNA sel sematik akan menyebabkan terjadinaya penurunan kemampuan fungsi sel
tersebut. Sebagai salah satu hipotesi yang berhubungan dengan mutasi sel sematik adalah

hipotesis error catasrop.


3.Teori Social
salah satu teori social yang berkenan dengan proses openurunan adalah teori pembebasan.
Teori tersebut menerangkan bahwa dengan berubahnya usia seseorang secara berangsurangsur mulai melepas diri dari kehidupan social. Keadaan ini memagkibatkan interaksi
social lansia menurun baik secara kualifikasi maupun kuantitatif.
3.Teori Psikologi
a.Teori Tugas Perkembangan
Menurut Hang Kerst (1992) bahwa setiap individu harus memperhatikan tugas
perkembangan yang spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan memberikan perasaan
bahagia dan sukses. Tugas perkembangan yang spesifik ini tergantung pada manutrasi
fisik. Penghargaan cultural masyarakat dari nilai serta aspirasi individu.
Tugas perkembangan pada dewasa tua meliputi penerimaan adanya penurunan kekuatan
fisik dan kesalahan. Penerimaan adanya kematian dari pasanganya dan orang-orang yang
berarti bagi dirinya. Mempertahankan hubungan dengan grup yang seusianya, adopsi dan
adaptasi dengan peran social secara fleksibel dan mempertahankan kehidupan secara
memuaskan.
b.Kepribadian Selanjutnya
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berupa pada lansia. Teori ini merupakan bahwa
perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe
personality yang dimilikinya.
c.Faktor-faktor yang mempengaruhi Ketuaan (Nugroho,2000) adalah
Herediter
Nutrisi
Status kesehatan
Pengalaman hidup
Lingkungan
Stress
Perubahan fisik pada proses penuaan
Penelitian menyakini bahwa kita dialhirkan dengan jam biologis, jam ini di program
untuk rentang hidup yang sudah ditetapkan, kecelakaan dan proses penyakit dengan
beranjaknya usia, perubahan yang terjadi secara bertahap menjadi semakin nyata.
Perubahan tertentu terjadi disemua system tubuh. Perubahan ini tidak perlu terjadi
bersamaan disetiap system.

Dengan meningkatnya kemajuan ilmu dan teknologi khususnya di bidang kesehatan,


semakin meningkat pula kualitas hidup masyarakat. Semakin meningkat pengetahuan
masyarakat tentang kesehatan juga meningkatkan kualitas hidupnya, dengan menjaga
kesehatan individu maupun kesehatan lingkungannya. Melakukan olah raga secara teratur
dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Memelihara kesehatan lingkungan sekitar
selalu bersih dan bebas dari pencemaran. Dengan kemajuan di bidang kesehatan, banyak
ditemukan obat-obatan dan teknik pengobatan yang lebih baik. Dengan demikian angka
kesakitan dan angka kematian dapat dikurangi. Sehingga akan meningkatkan usia
harapan hidup masyarakat.
Setiap tahun jumlah lansia di seluruh dunia semakin bertambah karena semakin
meningkatnya usia harapan hidup. Di negara negara yang sudah maju, jumlah lansia
rerlatif lebih besar dibanding dengan negara negara berkembang, karena tingkat
perekonomian yang lebih baik dan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai. Hal ini
juga akan menimbulkan masalah pelayanan kesehatan terutama pada kaum lansia.
Usia harapan hidup di Indonesia saat ini adalah 65 tahun. Sejalan dengan bertambahnya
umur mereka, mereka sudah tidak tidak produktif lagi, kemampuan fisik maupun mental
mulai menurun, tidak mampu lagi melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat,
memasuki masa pensiun, ditinggal pasangan hidup, stress menghadapi kematian,
munculnya berbagai macam penyakit, dan lain lain. Karena sel-sel mengalami
degeneratif maka fungsi dari sistem organ juga mengalami penurunan. Kulit menjadi
keriput, rambut putih dan menipis, gigi berlubang dan tanggal, fungsi penglihatan,
pendengaran, pengecapan atau pencernaan mulai menurun, osteoporosis, gangguan
sistem kardiovaskuler dan lain-lain.
Meskipun demikian tidak sedikit kaum lansia yang masih produktif dan mampu untuk
melaksanakan aktivitas sehari harinya dengan baik, seperti berkebun, usaha wiraswasta,
dan lain-lain.
Proses penuaan adalah suatu proses fisiologi umum yang sampai saat ini masih sulit
untuk dipahami. Ditandai dengan adanya proses degenerasi sel dan sistem yang
dibentuknya secara keseluruhan, perlahan tapi pasti. Proses menua berbeda pada setiap
individu. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh faktor keturunan, nutrisi, gaya hidup dan
faktor lingkungan.
Terdapat beberapa teori mengenai proses menua :
1. Teori Genetik
Teori ini didasarkan atas asumsi bahwa lama hidup ditentukan oleh informasi yang ada
pada molekul DNA pada gen. Informasi ditransfer dari molekul DNA melalui berbagai
langkah pada pembentukan protein yang diperlukan untuk fungsi sel secara normal.

Diketahui pula bahwa wanita mempunyai harapan hidup yang lebih lama dari pria (kira
kira 8 tahun lebih lama). Perbedaan harapan hidup, dimana betina lebih panjang umurnya
didapatkan pada mencit, tikus dan anjing. Jenis kelamin ditentukan oleh kromosom XY
bagi pria dan XX bagi wanita. Lebih panjangnya usia pada wanita mungkin dipengaruhi
oleh lebih banyaknya kromatin X.
Orang yang mempunyai orang tua dan kakek nenek yang berusia panjang, rata-rata
hidupnya lebih panjang kira kira 8 tahun daripada mereka yang orang tuanya meninggal
sebelum usia 50 tahun.
Panjang usia maksimal sudah terprogram. Sel-sel tertentu hanya dapat membelah sampai
jumlah tertentu, setelah itu akan mati. Sel hewan yang tua dapat membelah sampai 20
25 X, dan sel hewan muda sampai 40 50 X. Di satu sisi batas usia ditentukan oleh fator
genetik, namun faktor lain seperti nutrisi, stress, keadaan sosial ekonomi dan lingkungan
mempunyai peranan penting dalam menentukan umur yang dapat dicapai secara aktual.
Berdasarkan teori ini, proses penuaan telah terprogram secara genetik untuk spesiesspesies tertentu. Tiap spesies dalan nuclei (inti sel) memiliki suatu jan genetik yang
diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis, dan
menghentikan replikasi sel bila tidak diputar. Bila jam tersebut terhenti maka seseorang
akan meninggal dunia, meski tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir.
Pengontrolan genetik umur dilakukan dalam tingkat seseluler. Mengenai hal ini Hayflick
(1980) melakukan penelitian melalui kultur sel in vitro, yang menunjukkan bahwa ada
hubungan antara kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies. Untuk
membuktikan apakah nukleus atau sitoplasma yang mengontrol replikasi , maka
dilakukan transplantasi silang dari nukleus. Dari hasil penelitian tersebut jelas bahwa
nukleus yang menentukan jumlah replikasi, kemudian menua dan mati, bukan sitoplasma
(suhana, 1994).
2. Kerusakan pada DNA
Informasi yang dibutuhkan sel untuk membangun protein esensial tergantung pada
bangunan molekul DNA. Bila rantai molekul DNA rusak, kemampuan sel untuk
membuat enzim juga terganggu dan mengakibatkan kematian sel.
3. Teori Radikal Bebas
Radikal bebas mengandung oksigen dengan aktivitas tinggi yang dengan cepat bereaksi
dengan molekul lain. Sebagai akibatnya enzim dan protein dapat berubah. Pembentukan
radikal bebas dapat dpercepat oleh radiasi dan dihambat oleh zat anti oksidan.
4. Teori Oto-Imun
Teori ini mengemukakan bahwa proses penuaan diakibatkan oleh antibodi yang bereaksi
terhadap sel normal dan merusaknya. Ini terjadi karena kegagalan mengenal sel normal

dan pembentukan antibodi yang salah, sehingga bereaksi terhadap sel normal disamping
sel normal menstimulasi pembentukannya. Teori ini mendapat sokongan dari kenyataan
bahwa jumlah antibodi autoimun meningkat pada usia lanjut dan terdapat persamaan
antara penyakit imun (artritis rematoid, arteritis, diabetes, tiroiditis, dan amiloidosis) dan
fenomena menua.
B. Pelayanan Kesehatan dan Sosial
Masalah yang dirasakan oleh lansia bukan sekedar kelemahan secara fisik saja. Tetapi
seluruh aspek kehidupannya yang meliputi aspek bio-psiko-sosial spiritual. Masalah
lansia ini bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga yang mempunyai anggota
keluarga dengan lansia tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama.
Begitu kompleksnya masalah yang dihadapi oleh lansia maka dalam manangani masalah
lansia ini juga membutuhkan pananganan secara multi dimensi, dan memerlukan kerja
sama lintas program maupun lintas sektoral.
Saat ini sudah banyak dikembangkan produk produk makanan dan minuman yang telah
dilengkapi dengan zat zat anti oksidan yang dapat menekan atau menghambat proses
penuaan, dan penambahan unsur calsium untuk mencegah terjadinya osteoporosis.
1. Pelayanan Kesehatan.
Pelayanan kesehatan dapat di peroleh melalui pusat-pusat pelayanan kesehatan yang ada
seperti Rumah Sakit, Puskesmas, maupun dokter praktek. Pelayanan yang diberikan
antara lain mencakup upaya upaya kuratif, preventif, promotif dan rehabilitatif.
2. Pelayanan Keperawatan
Selain pelayanan keperawatan di rumah sakit maupun tempat pelayanan kesehatan yang
lain saat ini juga banyak dikembangkan adanya istilah Home Care atau perawatan di
rumah. Bagi keluarga dengan lansia di rumahnya dapat mempekerjakan seorang perawat
untuk memberikan asuhan keperawatan pada lansia di rumah. Asuhan keperawatan yang
dapat diberikan mencakup usaha usaha :
a. Preventif :
melakukan cek up secara rutin : tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu.
Menciptakan rasa aman dan nyaman : menganjurkan pada keluarga :
- Menjaga lantai tetap kering dan tidak licin (terutama kamar mandi).
- Mengatur ruangan tetap terang, sehingga dapat melihat dengan baik.

- Menghindarkan barang barang yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan


dengan mengatur barang agar tidak mudah ditabrak atau membuat lansia kesandung.
- Menyiapkan peralatan sehari hari berada di dekatnya dan mudah dijangkau.
b. Promotif :
Menganjurkan untuk mengkonsumsi makanan bergizi, sayur, buah dan mengurangi
makanan yang berlemak, minum air putih 2 3 liter per hari, menghindari rokok dan
alkohol.
Olah raga ringan secara teratur.
Menghindarkan faktor faktor yang dapat meningkatkan stress, baik stressor fisik,
mental, sosial dan spiritual.
Lebih mendekatkan diri pada Tuhan.
c. Rehabilitatif :
Melakukan cek up secara teratur
Mengajarkan Range of Motion (ROM) atau pergerakan sendi untuk mencegah
kekakuan sendi.
Mengajarkan cara berjalan dengan : kursi roda dan tongkat.
d. Membuat rujukan atau membawa ke tempat pelayanan kesehatan (Puskesmas) untuk
mendapatkan pelayanan medis.
e. Pelayanan Sosial
Usaha pemerintah dalam rangka membantu meringankan beban para lansia adalah
dengan memberikan fasilitas lebih bagi para lansia antara lain :
Kartu tanda penduduk yang berlaku seumur hidup.
Memberikan potongan harga tiket perjalanan.
Memberikan potongan biaya pelayanan kesehatan.
Memberikan penghargaan atas jasa jasanya terhadap negara.
Menampung dan mengurus lansia di Panti Wredha.

Dan lain-lain.
Hampir di seluruh propinsi di Indonesia telah mempunyai tempat penampungan bagi para
lansia, yang disebut Panti Wredha. Di tempat tersebut para lansia mendapatkan fasilitas
berupa rumah beserta fasilitasnya. Para lansia juga dilatih untuk tetap bisa mandiri sesuai
dengan kemampuan dan keterampilannya. Para lansia diberi pelatihan keterampilan
seperti berkebun, pertukangan, menjahit, menyulam dan lain-lain. Dengan berbekal
keterampilan tersebut diharapkan mereka masih tetap produktif di usia lanjut.
Selain itu juga para lansia juga mendapatkan pelayanan kesehatan dari Puskesmas
setempat dengan melakukan olah raga misalnya senam jantung sehat, pemantauan
kesehatan secara berkala dan program pengobatan.
Bagi keluarga yang mempunyai anggota keluarga dengan lansia, karena merasa repot dan
tidak sanggup mengurus, maka dapat menitipkannya pada Panti Wredha tersebut,
sehingga semua kebutuhannya dapat dibantu. Tetapi ada juga keluarga yang tidak mau
menitipkan orang tuanya pada Panti Wredha. Kalau dirawat di rumah sendiri lebih
mudah, dekat dengan anak cucu, sekaligus bisa membalas budi kepada orang tua.
C. Kesimpulan
Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup akan meningkat pula jumlah usia
lanjut (lansia). Sejalan dengan bertambahnya usia, kondisi bio psiko sosial dan
spiritual mulai menurun, mudah mengalami gangguan. Semakin banyak masalah
masalah yang dihadapi terutama masalah kesehatan. Untuk itu perlu lebih meningkatkan
pelayanan kesehatan pada lansia agar dapat hidup secara optimal, dan dapat menikmati
masa tuanya dengan tenang.
DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, 1995, EGC, Jakarta.
2. Ganong. WF, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, 1995, Jakarta.
3. Lumbatobing. SM, Kecerdasan Pada Usia Lanjut dan Dimensia, 2001, FK-UI, Jakarta.
4. Kusnanto, Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional, 2004, EGC, Jakarta.
5. Kumpulan Makalah Asuhan Keperawatan Pada Lansia.

Dalam artikel The Ageing Mitochondrial Genome (Nucleic Acid Research, 2007, 1-7)
Krishnan, et.al mereview dan mendiskusikan data-data hasil penelitian seputar mutasi
pada DNA mitokondria (mtDNA) yang berhubungan dengan penuaan ( ageing ) serta
bukti-bukti pendukung bahwa mutasi tersebut berkontribusi pada proses ageing. Garis
besar topik yang ditinjau antara lain mengenai:
- bukti adanya akumulasi mutasi mtDNA dengan bertambahnya usia
- penting tidaknya mutasi mtDNA dalam penuaan manusia
- tinjauan terhadap hasil beberapa studi mengenai ageing menggunakan model tikus
- keterlibatan ekspansi klonal pada mutasi mtDNA
- petunjuk penting untuk mitochondrial ageing yang diperoleh dari studi mitochondrial
disease
- hubungan mutasi mtDNA pada kematian sel
Berbagai studi seputar mutasi mtDNA yang berhubungan dengan usia menunjukkan
adanya akumulasi mutasi dan delesi pada genom mitokondria dengan bertambahnya usia.
Dapat disarankan bahwa mutasi titik pada genom mitokondria dapat spesifik pada
jaringan yang berbeda-beda. Akan tetapi belum ditemukan bukti untuk hot-spots mutasi
spesifik jaringan dengan distribusi mutasi titik yang tersebar ke seluruh genom.
Dari studi mengenai akumulasi delesi mtDNA yang berhubungan dengan usia, memang
terbukti adanya akumulasi delesi pada jaringan-jaringan penuaan seperti misalnya delesi
4977bp yang dikenal dengan common deletion. Delesi ini terdeteksi pada sejumlah
pasien penyakit mitokondria (Kearns Sayre Syndrome dan chronic progressive external
ophthalmoplegia) dan pada orang normal yang sudah tua. Namun delesi tersebut jarang
yang lebih dari 1%. Karena itu delesi yang berhubungan dengan usia ini tampaknya tidak
berkontribusi pada proses ageing. Hanya saja jika mutasi ini terakumulasi hingga tingkat
tinggi memang terbukti menyebabkan defisiensi rantai repirasi sel.
Dalam sejumlah jaringan, sel-sel dengan defisiensi respirasi menunjukkan akumulasi
seiring usia. Baru-baru ini dilaporkan adanya akumulasi delesi mtDNA yang
berhubungan dengan usia pada saraf substantia nigra hingga tingkat yang sangat tinggi
(~50%). Analisis studi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan delesi mtDNA tersebut
terjadi melalui ekspansi klonal.
Peran langsung mutasi mtDNA terhadap proses ageing didukung oleh studi dengan model
tikus yang dibuat berfenotip untuk penuaan prematur dengan adanya mutasi paa domain
exonuclease POL G (polymerase gamma), yaitu polymerase yang bertanggungjawab
pada proses replikasi dan perbaikan mtDNA. Mutasi pada domain ini meningkatkan laju
mutasi mtDNA. Akan tetapi pengamatan pada tikus POL G tidak menunjukkan
peningkatan produksi ROS sebagaimana diprediksikan oleh teori ageing mitokondria.
Beberapa penelitian lain juga tampak menunnukkan data yang kontradiktif terhadap
asumsi sederhana bahwa peningkatan produksi ROS mempercepat penuaan. Akan tetapi
sejumlah pengamatan membuktikan bahwa peningkatan tekanan oksidatif memang
menyebabkan kerusakan mtDNA dan menghasilkan mutasi. Tampaknya faktor-faktor lain
seperti background genetis inti juga memainkan peran penting terhadap kecenderungan
peningkatan tekanan oksidatif. Kontribusi ROS mitokondria terhadap proses ageing
sendiri dibuktikan dengan adanya perpanjangan jangka hidup dengan dihambatnya
peningkatan tekanan oksidatif.
Dalam hubungannya dengan apoptosis (kematian sel yang terprogram), mitokondria

memainkan peran sentral. Oleh karena itu, sangat mungkin mutasi mtDNA dapat
menghasilkan apoptosis karena mutasi tersebut menyebabkan disfungsi mitokondria.
Banyak sekali hasil-hasil penelitian yang ditinjau dan dibahas dalam artikel ini.
Kesimpulan Krishnan, et. al secara keseluruhan yaitu bahwa mutasi mtDNA dapat
disebabkan baik oleh peningkatan tekanan oksidatif (produksi ROS mitokondria) maupun
oleh kesalahan replikasi. Jika mtDNA termutasi dibiarkan terus bereplikasi dan
berekspansi konal di dalam sel, maka sel tersebut mengalami defisiensi rantai respirasi.
Keterhambatan produksi energi tersebut dapat menyebabkan kematian sel. Disfungsi
jaringan dapat terjadi akibat jumlah kematian sel yang signifikan dan lebih lanjut
mengakibatkan penuaan.

Turunan vitamin A ini adalah satu-satunya produk yang disetujui FDA untuk
mengembalikan formasi kulit akibat fotoaging, namun ia juga memiliki efek lain di kulit.
Apa saja?
Penuaan (aging) merupakan proses yang pasti terjadi pada semua makhluk, termasuk
manusia. Aging bukanlah proses tunggal, melainkan gabungan dari berbagai proses
biologi di dalam tubuh dengan mekanisme berbeda. Hal inilah yang membuat proses
aging relatif sulit untuk dituangkan ke dalam sebuah konsep, karena banyak sekali teori
tentang aging.
Penelitian menunjukkan, ada dua tipe aging. Yakni aging yang dipengaruhi faktor internal
(genetik/faktor alamiah), dan aging yang dipengaruhi faktor eksternal misalnya faktor
lingkungan. Misalnya paparan sinar matahari. Apapun proses yang melatarbelakangi
aging, namun sebisa mungkin tanda-tanda penuaan mesti diredam. Salah satunya penuaan
yang terjadi di kulit.
Aging karena faktor internal atau proses penuaan secara alamiah normalnya dimulai di
pertengahan usia 20-an. Di dalam kulit, produksi kolagen mulai menurun. Kematian selsel kulit tidak dibarengi dengan pembentukan kulit baru yang relatif sudah menurun. Saat
proses perubahan ini mulai, kita tidak menyadarinya. Tahu-tahu, bertahun-tahun
kemudian muncul kerutan di wajah, kulit makin menipis, hilangnya bantalan lemak
terutama di pipi dan sekitar mata, kulit menjadi kering, berkurangnya produksi keringat,
munculnya bintik-bintik hitam dan sebagainya.
Selain faktor internal, faktor lingkungan luar juga ikut mempercepat penuaan kulit.
Sebagian besar penuaan dini disebabkan oleh paparan sinar matahari yang berlebihan.
Gaya gravitasi bumi, posisi tidur dan kebiasaan merokok juga merupakan faktor yang
mempercepat penuaan dini.
"Photoaging" atau fotoaging adalah istilah dermatologi untuk mendiskripsikan jenis
kerusakan kulit akibat sinar matahari. Tingkat kerusakan fotoaging tergantung dari warna
kulit, dan seberapa banyak seseorang menerima paparan sinar matahari langsung.
Biasanya orang berkulit putih/cerah lebih rentan terkena fotoaging dibandingkan mereka
yang berkulit gelap.
Fotoaging terjadi selama bertahun-tahun. Paparan sinar matahari berulang akan
menyebabkan kulit kehilangan kemampuannya meregenerasi diri, sehingga kerusakan
pada akhirnya akan terakumulasi. Studi ilmiah menunjukkan, sinar ultraviolet akan
memecah kolagen dan merusak sintesa kolagen. Keriput pun lebih cepat muncul, bahkan
di usia yang relatif muda.
Salah satu bentuk perawatan kulit untuk mencegah kerusakan fotoaging, termasuk
menghilangkan gejalanya (kerut, noda di kulit) adalah penggunaan asam retinoat. Efek
obat-obat dari golongan retinoat seperti asam ratinoat (asam vitamin A) dan retinol
(alkohol vitamin A) sangat kompleks. Asam retinoat merupakan agen yang pertama kali
digunakan secara luas untuk rejuvenasi kulit.

Asam retinoat yang merupakan vitamin A atu retinol dalam bentuk asam, adalah satusatunya produk yang disetujui FDA untuk mengembalikan formasi kulit akibat proses
aging. Asam retinoat membantu mengurangi kerutan dan menghilangkan bintik-bintik
hitam di kulit serta melembutkan kulit. Selain itu asam retinoat juga digunakan untuk
mengurangi produksi minyak dengan cara menyusutkan kelenjar lemak. Ketebalan
epidermal akan meningkat dengan terapi asam retinoat.
Biasanya krim asam tretinoat atau sering disebut tretinoin tersedia 0,025-0,1%. Jumlah
yang melebihi itu justru tidak terlalu bermanfaat. Sebuah studi menunjukkan, 0,025%
tretinoin sama efektifnya dengan 0,05 atau 0,1% namun dengan insiden iritasi kulit yang
lebih rendah. Untuk kulit sensitif, 0,025% menujukkan hasil paling optimal. Masih
menurut penlitian yang sama, perbaikan dengan tretinoin akan terus berlanjut pada
pemakaian dalam hitungan tahun.
Dr. Jonathan S. Weiss, M.D. dkk melakukan studi double blind selama 16 minggu untuk
melihat efektivitas asam retinoat dalam bentuk krim dalam memperbaiki kerusakan kulit
akibat sinar matahri, pada 30 pasien. Ternyata ke-30 pasien menunjukkan perbaikan
secara signifikan dibandingkan krim plasebo. Perbaikan juga terlihat pada 14 dari 15
pasien yang menggunakan tretinoin di wajah mereka.
Dalam uji klinis terkontrol selama 48 minggu, oleh Olsen dkk., perbaikan terlihat pada
68-79% orang yang menggunakan asam retinoat. Perbaikan terlihat dari berkurangnya
kerut, menipisnya hiperpigemntasi kulit, dan kembalinya kulit muka yang kasar menjadi
halus kembali. Perbaikan juga terlihat di kelompok placebo (krim kosong) namun
jumlahnya tak lebih dari separuh dari mereka yang membaik pada kelompok asam
retinoat.
Salah satu efek samping asam retinoat yang sering dilaporkan adalah iritasi, ringan
hingga berat. Iritasi ditandai dengan pengelupasan sementara, kemerahan, rasa panas, dan
semakin sensitif dengan matahari. Iritasi bisa diobati dengan kortison atau kortikosteroid.
Obat ini sebaiknya tidak digunakan bersamaan dengan obat photosensitizing seperti
golongan tiazida, tetrasiklin, fluorokuinolon, fenotiazine, dan sulfonamida.