Anda di halaman 1dari 22

TMAKALAH KULTUR JARINGAN

KULTUR KALUS

Di Susun Oleh:
KELOMPOK 4
Refly Syaputra
Nur Hidayati

2012110
201211037

Randi Aditia

2012110

Ridwan

2012110

PROGRAM STUDI
BUDIDAYA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
POLITEKNIK KELAPA SAWITCITRA WIDYA EDUKASI
BEKASI
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa, karena dengan
rahmat-NYA praktikan dapat menyelesaikan Makalah Kultur Jaringan Kultur
Kalus. Penulis juga menyadari bahwa dalam pembuatan Makalah ini masih jauh
dari sempurna, untuk itu jika ada kesalahan dalam penyusunan Makalah ini
mohon kiranya untuk memberikan masukan yang bersifat membangun sehingga
Penulis dapat lebih baik lagi dari Sebelumnya.
Penulis berharap dengan adanya Makalah Ini ini dapat memberikan
wawasan yang bermanfaat bagi pembaca sehingga dapat memahami dan
mempelajari tentang Kultur Kalus.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada
Makala h ini. Oleh karena itu penulis berharap agar pembaca dapat memberikan
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terimakasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan ilmu pengetahuan
dan hal positif bagi kita semua.

Bekasi,

November 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Cover...............................................................................................
Kata Pengantar...............................................................................................
Daftar Isi..........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................................
1.2 Tujuan ..................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kultur Jaringan ....................................................................................
2.2 Kultur Kalus .........................................................................................
2.3 Sel-Sel Penyusun Kalus .......................................................................
2.4 Inisiasi Kalus .......................................................................................
2.5 Fase-Fase Pertumbuhan Pada Kalus ....................................................
2.6 Kultur Suspensi.....................................................................................
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Massa Pada Kultur Kalus ...................................................................
3.2 Manfaat Kultur Kalus .........................................................................
3.3 Mutasi Kalus .......................................................................................
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan .........................................................................................
4.2 Saran ...................................................................................................
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teknik budidaya tanaman dengan menggunakan metode konvensional
dalam medium tanah atau pasir seringkali menghadapi kendala teknis, lingkungan

maupun waktu. Sebagai contoh perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji


memerlukan waktu yang relative lama dan seringkali hasilnya tidak seperti
tanaman induknya. Kendala lain yang juga sering muncul adalah gangguan alam,
baik yang disebabkan oleh jasad hidup, misalnya hama dan penyakit, maupun
cekaman lingkungan yang dapat mengganggu keberhasilan perbanyakan tanaman
di lapangan. Kebutuhan akan bibit tanaman dalam jumlah besar, berkualitas, bebas
hama dan penyakit serta harus tersedia dalam waktu singkat seringkali tidak dapat
dipenuhi dengan menggunakan metode konvensional baik secara generatif
maupun vegetatif.
Pada tahun 1901 Morgan mengemukakan bahwa setiap sel mempunyai
kemampuan untuk berkembang menjadi suatu jasad hidup yang lengkap melalui
proses regenerasi. Kemampuan ini oleh morgan disebut sebagai totipotensi
(totipotency). Konsep totipotensi tersebut mempunyai makna sangat penting
dalam bidang kultur jaringan. Istilah kultur jaringan mengacu pada teknik untuk
menumbuhkan jasad multiseluler dalam medium padat maupun cair menggunakan
jaringan yang diambil dari jasad tersebut. Teknik kultur jaringan tersebut
dilakukan sebagai alternative perbanyakan tanaman bukan dengan menggunakan
media tanah, melainkan dalam medium buatan di dalam tabung. Teknik ini
sekarang sudah berkembang luas sehingga bagian tanaman yang digunakan
sebagai awal perbanyakan tidak hanya berupa jaringan melainkan juga dalam
bentuk sel sehingga juga dikenal teknik kultur sel. Berdasarkan dari hal tersebut
diatas, maka diadakanlah penulisan makalah ini dengan tujuan untuk mengetahui
teknik kultur jaringan tumbuhan dengan menggunakan kultur kalus atau kutur sel.
Kultur jaringan tanaman merupakan teknik budidaya (perbanyakan) sel,
jaringan, dan organ tanaman dalam suatu lingkungan yang terkendali dan dalam
keadaan aseptik atau bebas dari mikroorganisme. Secara umum perbanyakan
tanaman berdasark an perkembangan dan siklus hidupnya dapat digolongkan
menjadi dua, yaitu perbanyakan secara seksual dan perbanyakan secara aseksual.
Berdasarkan bagian tanaman yang dikulturkan secara lebih spesifik
terdapat tipe-tipe kultur yaitu, kultur kalus, kultur suspensi sel, kultur anter, kultur
akar, kultur pucuk tunas, kultur embrio, kultur ovul, dan kultur kuncup bunga.
Kultur jaringan bermula dari adanya pembuktian sifat totipotensi sel, yaitu bahwa
setiap sel tanaman yang hidup dilengkapi dengan informasi genetik dan perangkat

fisiologis yang lengkap untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh,
jika berada dalam kondisi yang sesuai. Penemuan zat pengatur tumbuh (ZPT) dan
upaya pengembangan formulasi media sangat berperan penting dalam
menentukan keberhasilan teknik kultur jaringan. Prinsip utama dari teknik kultur
jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif
tanaman dengan menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat yang steril.
Inisiasi pembentukan kalus merupakan salah satu langkah penting yang
menentukan keberhasilan teknik kultur in vitro. Kalus merupakan massa sel yang
tidak terorganisir, pada mulanya sebagai respon terhadap pelapukan (wounding).
Pembelahan selnya menjadi tidak terkendali, sel-selnya mengalami proliferasi
yaitu membelah terus menerus dengan sangat cepat, hal ini dimungkinkan karena
sel-sel tumbuhan yang secara alamiahnya bersifat autotrof dikondisikan menjadi
heterotrof oleh adanya nutrisi yang cukup komplek dan zat pengatur tumbuh
didalam medium kultur. Selain dari luka bekas irisan, kalus juga dapat berasal dari
pembelahan sel-sel kambium yang terus membelah dan berpoliferasi.
Poliferasi sel-sel akan menjadi lebih baik jika eksplan yang digunakan
berasal dari jaringan yang masih muda. Sel-sel kalus secara fisiologis dan
biokimia sangat berbeda dengan sel-sel eksplannya yang sudah terdiferensiasi.
Sel-sel pada kalus bersifat meristematik dan merupakan salah satu wujud dari
dediferensiasi. Dediferensiasi merupakan reversi dari sel-sel hidup yang telah
terdiferensiasi menjadi tidak terdiferensiasi, atau dengan kata lain menjadi
meristematik kembali. Dediferensiasi merupakan langkah awal bagi perbanyakan
vegetatif dengan teknik kultur in vitro karena merupakan dasar terjadinya
primerdia tunas dan akar.
Kalus dapat diperbanyak secara tidak terbatas dengan cara memindahkan
sebagian kecil kalus kedalam medium baru (sub kultur). Kalus dengan sel-selnya
yang bersifat meristematik, dapat didispersikan didalam medium cair sehingga
dapat diperoleh kultur suspensi sel.
Teknik kultur jaringan melalui kultur kalus merupakan salah satu metode
untuk budidaya tanaman untuk mendapatkan metabolit sekunder dalam waktu
yang relatif singkat.
1.2 Tujuan

Tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut :


1. Dapat menjelaskan prinsip dasar dari pelaksanaan teknik kultur kalus
dan suspensi sel.
2. Dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
pada kultur kalus dan suspensi sel.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kultur Jaringan


Kultur Jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman dengan cara
mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagianbagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat
pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian
tanaman dapat memperbanyak diri & bergenerasi menjadi tanaman lengkap.

Prinsip utamanya adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian


vegetatif tanaman, menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.
Teknik kultur jaringan pada saat ini telah berkembang menjadi teknik
perkembangbiakan tanaman yang sangat penting pada berbagai spesies tanaman.
Kultur jaringan tanaman pertama kali berhasil dilakukan oleh White pada
tahun 1934. Pada tahun 1939, Whiter melaporkan keberhasilannya dalam
membuat kultur kalus dari wortel dan tembakau. Pada tahun 1957, tulisan penting
Skoog dan Miller dipublikasikan dimana mereka menyatakan bahwa interkasi
kuantitatif antara auksin dan sitokinin menentukan tipe pertumbuhan dan
morfogenik yang akan terjadi. Penelitian mereka pada tembakau mengindikasikan
bahwa perbandingan auksin dan sitokinin yang tinggi akan menginduksi
pengakaran, sedangkan rasio sebaliknya akan menginduksi pembentukan tunas.
Akan tetapi pola respon ini tidak berlaku universal.
Temuan penting lainnya adalah hasil penelitian Morel tentang perbanyakan
anggrek melalui kultur jaringan pada tahun 1960, dan penggunaan yang meluas
media kultur dengan konsentrasi garam mineral yang tinggi, dikembangkan oleh
Murashige dan Skoog tahun 1962.
Teknik kultur jaringan selain perbanyakan mikro umumnya memerlukan
pelaksanaan yang lebih canggih tapi memberi keuntungan yang lebih besar di
masa depan. Beberapa teknik sudah menjadi alat berharga untuk mengeliminai
penyakit dan perbaikan tanaman, termasuk rekayasa genetika. Kultur jaringan
tanaman mencakup : kultur sel, kultur jaringan, kultur organ, proses proliferasi,
diferensiasi dan regenerasi, medium kultur dan faktor pertumbuhan lain,
perbanyakan klonal, teknik sanitasi tanaman, serta penyelamatan plasma nutfah.
2.2 Kultur Kalus
Tanaman dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan teknik kultur in
vitro dengan teknik kultur kalus atau kultur sel. Kultur kalus merupakan
pemeliharaan bagian kecil tanaman dalam lingkungan buatan yang steril dan
kondisi yang terkontrol. Kalus adalah suatu kumpulan sel amorphous yang terjadi
dari sel-sel jaringan yang berproliferasi secara terus menerus dan tidak
terorganisasi sehingga memberikan penampilan sebagai massa sel yang bentuknya
tidak teratur. Proliferasi jaringan ini dapat dilakukan secara tidak terbatas dengan

cara melakukan subkultur sepotong kecil jaringan kalus pada medium yang segar
dengan interval waktu yang teratur.
Penelitian pembentukan kalus pada jaringan terluka pertama kali dilakukan
oleh Sinnott pada tahun 1960. Pembentukan kalus pada jaringan luka dipacu oleh
zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin endogen. Secara in vitro, kalus pada
umumnya terbentuk pada bekas-bekas luka akibat serangan infeksi mikro
organisme seperti Agrobacterium tumefaciens, gigitan atau tusukan serangga dan
nematoda. Kalus juga dapat terbentuk sebagai akibat stress. Kalus yang
diakibatkan oleh hasil dari infeksi bakteri Agrobacterium tumefaciens disebut
tumor.
Kalus adalah jaringan meristematik yang merupakan wujud dari
dediferensiasi. Dalam kultur jaringan menginduksi terbentuknya kalus merupakan
langkah

yang

penting.

Setelah

terbentuknya

kalus

baru

diberikan

perlakuan/rangsangan untuk berdiferensiasi membentuk akar atau tunas.


Tujuan kultur kalus adalah untuk memperoleh kalus dari eksplan yang
diisolasi dan ditumbuhkan dalam lingkungan terkendali. Kalus diharapkan dapat
memperbanyak dirinya (massa selnya) secara terus menerus.
Jika suatu eksplan ditanam pada medium yang sesuai, dalam waktu 2-4
minggu, tergantung spesiesnya, akan terbentuk massa kalus yaitu massa amorf
yang tersusun atas sel-sel parenkim berdinding sel tipis yang berkembang dari
hasil proliferasi sel-sel jaringan induk. Kalus dapat disubkultur dengan cara
mengambil sebagian kalus dan memindahkannya pada medium baru. Dengan
sistem induksi yang tepat, kalus dapat berkembang menjadi tanaman yang utuh
(plantlet).
Kultur kalus dapat dikembangkan dengan menggunakan eksplan yang
berasal dari berbagai sumber, misalnya tunas muda, daun, ujung akar, buah, dan
bagian bunga. Kalus dihasilkan dari lapisan luar sel-sel korteks pada eksplan
melalui pembelahan sel-sel berulang. Kultur kalus tumbuh berkembang lebih
lambat dibanding kultur yang berasal dari suspensi sel. Kalus terbentuk melalui
tiga tahapan, yaitu induksi, pembelahan sel, dan diferensiasi. Pembentukan kalus
ditentukan sumber eksplan, komposisi nutrisi pada medium dan faktor
lingkungan. Eksplan yang berasal dari jaringan meristem berkembang lebih cepat
dibanding jaringan dari sel-sel berdinding tipis dan mengandung lignin. Untuk

memelihara kalus, maka perlu dilakukan subkultur secara berkala, misalnya setiap
30 hari.
Eksplan terbaik untuk induksi kalus adalah jaringan bagian-bagian semai
(seedling) yang dikecambahkan secara in vitro, jaringan yang mengandung
parenkim tidak hijau, seperti parenkim empulur, mempunya respon yang lebih
baik dibandingkan dengan sel-sel daun yang mengandung kloroplas. Ukuran
eksplan juga penting untuk diperhatikan, idealnya ukuran eksplan yang
dikehendaki adalah yang kecil tetapi mempunyai kemampuan yang tinggi untuk
membelah, hal ini dimaksudkan agar diperoleh sel-sel yang relatif homogen.
Sel yang berasal dari tanaman apapun dapat dibiakkan atau dikulturkan
secara aseptic pada atau dalam medium hara. Kultur biasanya dimulai dengan
menanamkan satu iris jaringan steril pada medium hara yang dipadatkan dengan
agar. Dalam waktu 2-3 minggu akan berbentuk kalus. Kalus semacam ini dapat
disubkulturkan dengan memindahkan potongan kecil pada medium agar segar.
Proses terbentuknya kalus sampai terjadi diferensiasi berbeda-beda tergantung
macam dan bagian tanaman yang dipakai untuk eksplan, bahan kimia atau hormon
yang terkandung pada media kultur.
Dalam perbanyakan mikro, produksi kalus biasanya dihindari karena dapat
menimbulkan variasi dan, terutama pada zona perakaran, mengakibatkan
diskontinyuitas dengan sitem berkas pengangkut utama. Kadang-kadang eksplan
menghasilkan kalus, bukan tunas baru, khususnya jika diberikan hormon dengan
konsentrasi tinggi pada media. Dalam hal lain, kalus sengaja diinduksi karena
potensinya untuk produksi massal plantlet baru. Faktor pembatasnya adalah
sulitnya menginduksi inisiasi tunas baru, terutama pada tanaman berkayu dan
tingginya kejadian mutasi somatik.
Potensi terbesar penggunaan kultur kalus adalah dimana selsel kalus
dapat dipisahkan dan diinduksi untuk berdiferensiasi menjadi embrio somatic.
Secara morfologi, embryo ini mirip dengan yang ada pada biji, tapi tidak seperti
embrio biji, mereka secara genetik bersifat identik dengan tanaman tetua, jadi,
segregasi seksual materi genetik tidak terjadi. Karena 1 milimeter kalus berisi
ribuan sel, masingmasing memiliki kemampuan untuk membentuk embrio,
sehingga kecepatan multiplikasi sangat tinggi.
Kultur kalus dapat dilakukan pada media cair dan embrio berkembang
sebagai individu terpisah, sehingga penanganan kultur relatif mudah.

2.3 Sel-Sel Penyusun Kalus


Sel-sel penyusun kalus berupa sel parenkim yang mempunyai ikatan yang
renggang dengan sel-sel lain. Dalam kultur jaringan, kalus dapat dihasilkan dari
potongan organ yang telah steril, di dalam media yang mengandung auksin dan
kadang-kadang juga sitokinin. Organ tersebut dapat berupa kambium vaskular,
parenkim cadangan makanan, perisikle, kotiledon, mesofil daun dan jaringan
provaskular. Kalus mempunyai pertumbuhan yang abnormal dan berpotensi untuk
berkembang menjadi akar, tunas dan embrioid yang nantinya akan dapat
membentuk plantlet.
Beberapa kalus ada yang mengalami pembentukan lignifikasi sehingga
kalus tersebut mempunyai tekstur yang keras dan kompak. Namun ada kalus yang
tumbuh terpisah-pisah menjadi fragmen-fragmen yang kecil, kalus yang demikian
dikenal dengan kalus remah (friable). Warna kalus dapat bermacam-macam
tergantung dari jenis sumber eksplan itu diambil, seperti warna kekuningkuningan, putih, hijau, atau kuning kejingga-jingaan. (karena adanya pigmen
antosianin ini terdapat pada kalus kortek umbi wortel).
Dalam kultur kalus, kalus homogen yang tersusun atas sel-sel parenkim
jarang dijumpai kecuali pada kultur sel. Untuk memperoleh kalus yang homogen
maka harus menggunakan eksplan jaringan yang mempunyai sel-sel yang
seragam. Dalam pertumbuhan kalus, citodiferensiasi terjadi untuk membentuk
elemen trachea, buluh tapis, sel gabus, sel sekresi dan trikoma. Kambium dan
periderm sebagai contoh dari proses hitogenesis dari kultur kalus. Anyaman kecil
dari pembelahan sel-sel membentuk meristemoid atau nodul vaskular yang
nantinya menjadi pusat dari pembentukan tunas apikal, primordial akar atau
embrioid.
Pada umumnya untuk eksplan yang mempunyai kambium tidak perlu
penambahan ZPT untuk menginduksi terbentuknya kalus karena secara alamiah
pada jaringan berkambium yang mengalami luka akan tumbuh kalus untuk
menutupi luka yang terbuka. Namun pada kasus lain, keberadaan kambium di
dalam eksplan tertentu dapat menghambat pertumbuhan kalus bila tanpa
penambahan zat pengatur tumbuh eksogen. Penambahan ZPT tersebut dapat satu
macam atau lebih tergantung dari jenis eksplan yang digunakan. Pembelahan sel
di dalam eksplan dapat terjadi tergantung dari ZPT yang digunakan, seperti

auksin, sitokinin, auksin dan sitokinin, dan ekstrak senyawa organik kompleks
alamiah.
Berdasarkan kebutuhan akan zat pengatur tumbuh untuk membentuk
kalus, jaringan tanaman digolongkan dalam 4 kelompok:
1.
Jaringan tanaman yang membutuhkan hanya auksin selain gula dan
garam-garam mineral untuk dapat membentuk kalus seperti umbi
2.

artichoke.
Jaringan yang memerlukan auksin dan sitokinin selain gula dan garam-

3.

garam mineral.
Jaringan yang tidak perlu auksin dan sitokinin, hanya gula dan garam-

4.

garam mineral seperti jaringan kambium.


Jaringan yang membentuk hanya sitokinin, gula dan garam-garam
mineral seperti parenkim dan xylem akar turnip.
Pada umumnya kemampuan pembentukkan kalus dari jaringan tergantung

juga dari:
1. Umur fisiologi dari jaringan waktu diisolasi.
2. Musim pada waktu bahan tanaman diisolasi.
3. Bagian tanaman yang dipakai.
4. Jenis tanaman.
Kalus dari eksplan yang berasal dari satu macam tipe sel akan
mengandung sel-sel yang seragam pula, misalnya sel-sel parenkim floem dari
wortel. Eksplan batang, akar dan daun sel-sel penyusunnya sangat heterogen,
kalus yang terbentuk dari eksplan tersebut sel-selnya juga sangat heterogen dan
terdiri dari bermacam-macam tipe sel misalnya sel-sel meristematik (ditengah),
sel-sel yang parenchymatous, sel-sel yang mengandung vakuola, sel-sel raksasa,
sel-sel seperti trakeid dan sebagainya, heterogenitas ini mencerminkan asal dari
eksplannya. Sel-sel yang heterogen dari jaringan yang kompleks menunjukkan
pertumbuhan yang berbeda. Dengan mengubah komposisi media, terjadi seleksi
sel-sel yang mempunyai sifat khusus. Media seleksi dapat didasarkan pada unsurunsur hara atau zat pengatur tumbuh yang ditambahkan kedalam media. Selain
dari eksplannya, sel-sel yang heterogen pada kalus juga dapat disebabkan karena
masa kultur yang terlalu lama melalui serangkaian subkultur yang berulang-ulang.
2.4 Inisiasi Kalus
Inisiasi pembentukan kalus dimulai dari hasil pembelahan sel yang terus
menerus pada jaringan induk yang tidak perlu harus berhubungan langsung

dengan medium kultur. Pertumbuhan yang tercepat terjadi didaerah perifer. Hal
ini disebabkan karena pada daerah tersebut ketersediaan hara dan oksigennya
lebih baik. Pertumbuhan kalus merupakan hasil interaksi yang sangat komplek
antara eksplan, komposisi medium dan kondisi lingkungan selama periode
inkubasi. Sel-sel memperlihatkan peningkatan aktivitas sitoplasmik yang ditandai
dengan meningkatnya respirasi dan jaringan kembali kekeadaan meristematik
(dediferensiasi). Selama pertumbuhannya kalus dapat mengalami lignifikasi yang
cukup kuat hingga menyebabkan kalus bertekstur keras dan kompak, ada juga
yang friabel dan lunak sehingga mudah terpecah-pecah menjadi serpihan-serpihan
kecil. Kalus dapat berwarna kekuningan, putih, hijau atau terpigmentasi oleh
antosianin. Pigmentasi dapat seragam pada keseluruhan kalus atau sebagian
daerah tidak terpigmentasi. Sel-sel pembentuk antosianin dan non-antosianin telah
berhasil diisolasi dari kalus wortel.
Kalus dapat diinisiasi dari hampir semua bagian tanaman, tetapi organ
yang berbeda menunjukkan kecepatan pembelahan sel yang berbeda pula. Jenis
tanaman yang menghasilkan kalus, meliputi dikotil berdaun lebar, monokotil,
gymnospermae, pakis dan moss. Bagian tanaman seperti embrio muda, hipokotil,
kotiledon dan batang muda merupakan bagian yang mudah untuk dediferensiasi
dan menghasilkan kalus.
Pada perbanyakan tanaman hortikultura, dianjurkan melalui tunas aksilair,
karena dapat menghasilkan bibit yang true-to-type (sesuai dengan sifat induknya).
Tunas adventif, terutama yang melalui fase kalus, tidak dianjurkan dalam
perbanyakan tanaman hortikultura, kecuali untuk tujuan seleksi dan variasi. Tunas
adventif langsung, juga menunjukkan kemungkinan variasi, hanya dalam taraf
lebih rendah daripada regenerasi melalui fase kalus. Suatu sifat yang diamati
dalam jaringan yang membentuk kalus adalah bahwa pembelahan sel tidak terjadi
pada semua sel dalam jaringan asal, tetapi hanya sel di lapisan perisfer yang
membelah terus menerus sedangkan sel-sel di tengah tetap quiscent.
Faktor-faktor yang menyebabkan inisiasi pembelahan sel hanya terbatas di
lapisan luar dari jaringan kalus, adalah:
1. Ketersediaan oksigen yang lebih tinggi.
2. Keluarnya gas CO2.
3. Ketersediaan hara yang lebih banyak.
4. Penghambat yang bersifat folatik lebih cepat menguap.
5. Cahaya.

Eksplan batang, akar dan daun menghasilkan kalus yang heterogen dengan
berbagai macam sel. Kadang-kadang jaringan yang kelihatannya seragam
histologinya, ternyata menghasilkan kalus dengan sel yang mempunyai DNA yang
berbeda yang mencerminkan level ploidi yang berbeda. Begitupun pada kultur
akar kalus yang dihasilkan dapat berupa campuran sel dengan tingkat ploidi yang
berbeda.
Sel-sel yang heterogen dari jaringan yang kompleks menunjukkan
pertumbuhan yang berbeda. Dengan mengubah komposisi media, terjadi seleksi
sel-sel yang mempunyai sifat khusus. Hal ini berarti bahwa media tumbuh
menentukan komposisi kalus. Sel yang jumlahnya paling banyak merupakan selsel yang paling cepat membelah dan sel yang paling sedikit adalah sel yang paling
lambat pertumbuhannya. Media seleksi dapat berdasarkan unsur-unsur hara atau
zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam media. Sel heterogen berasal
dari materi asal yang heterogen pula, atau dapat terjadi karena massa kultur yang
panjang melalui sub kultur yang berkali-kali.
Perubahan yang terjadi dapat merupakan:
a) Aberasi kromosom.
b) Endo-reduplikasi yang menghasilkan poloploid.
c) Amplifikasi gen, jumlah gen untuk suatu sifat tertentu per genome
haploid bertambah.
d) Hilangnya suatu gen (deletion).
e) Mutasi gen.
f) Transposisi urutan DNA (DNA sequences transposition).
2.5 Fase-Fase Pertumbuhan Pada Kalus
Agar kalus dapat dijaga pertumbuhannya dan dapat diperbanyak secara
berkesinambungan, maka perlu dipindahkan secara teratur pada media baru dalam
jangka waktu terentu (subkultur). Apabila kalus disubkultur pada media agar yang
dilakukan secara regular, maka akan menunjukkan fase pertumbuhan kurva S
(sigmoid). fase pertumbuhan kalus terbagi menjadi lima fase, yaitu:
1) Fase lag, dimana sel-sel mulai membelah.
2) Fase eksponensial, dimana laju pembelahan sel berada pada puncaknya.
3) Fase linear, dimana pembelahan sel mengalami perlambatan tetapi laju
ekspansi sel meningkat.
4) Fase deselerasi, dimana laju pembelahan dan pemanjangan sel
menurun.
5) Fase stationer, dimana jumlah dan ukuran sel tetap.

Kecepatan perubahan-perubahan dalam kromosom ini, tergantung juga


dari macam media yang digunakan, serta jenis tanamannya. Ketidakstabilan
kromosom ini menyulitkan aplikasi kultur kalus untuk perbanyakan maupun
untuk produksi bahan-bahan/persenyawaan sekunder. Sebaliknya ketidak-stabilan
tersebut dapat dipergunakan dalam seleksi dan pemuliaan in vitro, untuk
memperoleh sifat-sifat baru yang menguntungkan seperti resistensi terhadap
penyakit, hilangnya morfologi yang memang tidak diinginkan seperti duri atau
warna pada bunga. Kalus yang tumbuh secara in vitro pada batang tanaman
biasanya disebut dengan tumor, ciri-ciri tumor adalah sebagai berikut:
1) Terjadi penyakit yang infeksinya melalui luka (Crown gall disease).
2) Jaringan tumor yang terjadi dapat tumbuh terus, walaupun
penyebabnya yang berupa bakteri Agrobacterium tumefacien telah
dihilangkan.
3) Tumor ini bila ditumbuhkan pada media buatan tidak memerlukan
auksin maupun sitokinin. Ketidaktergantungan jaringan tanaman untuk
tumbuh dan terus membelah disebut habituation.
2.6 Kultur Suspensi Sel
Kultur suspensi sel adalah pemeliharaan sel, tunggal maupun gabungan
beberapa sel, dalam medium cair dan lingkungan buatan yang steril. Kultur
suspensi sel terdiri atas populasi sel dengan laju pertumbuhan yang cepat karena
seluruh permukaan sel dapat kontak langsung dengan medium nutrisi. Hal ini
menyebabkan metabolisme sel lebih tinggi jika dibandingkan dengan kultur kalus.
Metode kultur suspensi sel dapat digunakan sebagai sarana untuk produksi
metabolit sekunder. Hal ini dapat terjadi karena setiap sel tumbuhan yang diisolasi
dari tumbuhan induknya mempunyai potensi genetik dan fisiologi yang sama
dengan induknya, atau yang dikenal dengan nama sifat totipotensi. Sifat ini
menyebabkan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman induk dapat pula
dihasilkan pada sel yang dikultur secara in vitro. Potensi kultur sel untuk
memproduksi metabolit telah dibuktikan pertama kali oleh perusahaan farmasi
Amerika Pfizer Inc pada tahun 1956. Sedangkan potensi kultur sel untuk
memproduksi senyawa bermanfaat terutama untuk obat-obatan, telah dimulai pada
akhir tahun 1960.
Kultur suspensi sel dapat diperoleh dengan cara memindahkan kalus dari
medium padat ke medium cair dalam kondisi agitasi selama periode kultur dalam

waktu tertentu. Dalam kondisi agitasi, kalus meremah akan terpisah membentuk
kelompok sel dan sel-sel tunggal. Sel-sel tunggal akan mengadakan pembelahan
membentuk kelompok-kelompok sel yang kemudian terpisah lagi membentuk selsel tunggal dan kelompok-keompok sel yang lebih kecil. Agitasi dalam kultur
suspensi sel dapat meningkatkan aerasi, reduksi polaritas tanaman dan dapat
mempertahankan keseragaman distribusi sel-sel dan kelompok sel di dalam
medium. Agitasi atau pengocokan pada kultur suspensi sel dapat mempengaruhi
ukuran agregat, viabilitas dan pertumbuhan sel. Selain itu pengocokan berfungsi
untuk meningkatkan oksigen.
Diameter sel pada kultur suspensi sel pada umumnya berkisar antara 20150 m dan panjang 100-200 m. Ukuran ini setara dengan 10-100 kali bakteri
atau fungi dan mempunyai panjang maksimal 2 mm serta mengandung 2-200 sel.
ada fase pertumbuhan logaritmik pada masa awal kultur sel, sel-sel berbentuk
kecil dan dipenuhi dengan sitoplasma. Namun pada fase stasioner, sel-sel ini
memiliki ukuran tertentu, sel lebih tua dan memiliki vakuola besar di pusat sel.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Massa Pada Kultur Kalus


Massa kultur yang ditumbuhkan terlalu lama dalam media yang tetap, akan
menyebabkan terjadinya kehabisan hara dan air. Kehabisan hara dan air dapat
terjadi karena selain terhisap untuk pertumbuhan juga karena media menguapkan
air dari masa ke masa. Kalus tersebut kecuali kehabisan unsur hara, kalus juga
mengeluarkan persenyawaan-persenyawaan hasil metabolisme yang menghambat
pertumbuhan kalus itu sendiri. Untuk menjaga kehidupan dan perbanyakan yang
berkesinambungan, kalus yang dihasilkan perlu disubkulturkan.
Massa sel yang dipindahkan pada subkultur harus cukup banyak antara 510 mm atau seberat 20-100 mg, supaya ada pertumbuhan yang cepat dalam media
baru. Subkultur sebaiknya dilakukan 28 hari sekali (4-6 minggu sekali). Namun
waktu yang tepat untuk memindahkan kultur, tergantung dari kecepatan
pertumbuhan kalus. Massa kalus ada 2 macam yaitu massa yang remah (friable)
dan kompak. Bila massa kalus remah maka pemindahan kalus cukup dilakukan
dengan menyendok kalus dengan spatula atau skapel langsung disubkultur ke
media baru. Namun bila kalus kompak mesti dipindah ke petridish steril untuk
dipotong-potong dengan skapel baru disubkultur ke media baru. Kalus yang sudah
mengalami nekrosis (pencoklatan) sebaiknya tidak ikut disubkultur karena tidak
akan tumbuh dengan baik.
Inti keberhasilan system in vitro tergantung pada kemampuan manipulasi
regenerasi melalui pengaturan komposisi medium, lingkungan, dan sumber
eksplan. Regenerasi eksplan dapat terjadi melalui beberapa cara, yaitu:
1) Pembentukan pucuk adventif langsung dari permukaan eksplan.
2) Pembentukan pucuk adventif melalui fase kalus.
3) Pembentukan embrio somatic langsung dari eksplan.
4) Pembentukan embrio somatic melalui fase kalus.
5) Pembentukan protocorm-like bodies (khusus pada anggrek).
Regenerasi tanaman setelah melalui fase kalus , dapat terjadi melalui salah
satu dari keadaan di bawah ini:
1) Regenerasi melalui dua langkah prosedur:
a) Masa inkubasi pada medium yang mengandung auksin + sitokinin.
b) Masa regenerasi dengan memindahkan kalus ke medium tanpa
auksin tapi mengandung sitokinin.

2) Regenerasi terjadi melalui medium dengan perbandingan sitokinin dan


auksin yang tepat. Pada Solanaceae dibutuhjan sitokinin lebih tinggi
daripada auksin.
3) Regenerasi terjadi pada konsentrasi absolute auksin dan sitokinin
tertentu, misalnya NAA 2 M + kinetin 2M.
4) Regenerasi terjadi pada kalus yang diinduksi dengan jenis auksin
tertentu, misalnya asparagus dengan NAA atau IAA, bukan 2,4-D.
5) Regenerasi terjadi bila ada penambahan zat-zat tertentu, misalnya ABA
atau giberelin.
Massa kultur yang terlalu lama juga dapat menyebabkan adanya
heterogenitas karyologis, yang dicerminkan dengan adanya perubahan dari siklus
sel dan ketidak teraturan pembelahan mitosis selama massa kultur. Perubahanperubahan yang terjadi dapat berupa :
1. Poliploidi meningkat secara progresif sejalan dengan lamanya kultur
kalus, zat pengatur tumbuh 2,4-D dapat meningkatkan frekuensi
poliploidi.
2. Aneuploidi yang kerapkali berkaitan dengan fragmentasi inti dan
abnormalitas dari mitotic spindle.
3. Perubahan struktural pada kromosom, misalnya disentrik, fragmen
aksentrik, cincin kromosom dan sebagainya.
4. Transposisi urutan DNA.
5. Amplifikasi gen, jumlah gen untuk sifat tertentu per genom haploid
bertambah.
6. Delesi, hilangnya suatu gen.
Adanya perubahan-perubahan karyologis ini menyulitkan aplikasi kultur
kalus untuk mikropropagasi dan produksi metabolit sekunder, tetapi dapat
dimanfaatkan untuk pemuliaan in vitro karena dapat menambah keragaman
genetik.
Setelah periode waktu tertentu, biasanya 2 minggu sampai 3 bulan,
pertumbuhan kalus akan menurun, kalus akan menunjukkan gejala-gejala penuaan
seperti nekrosis atau menjadi coklat dan akhirnya mengering. Hal tersebut sebagai
akibat dari beberapa faktor berikut :
1) Kandungan nutrisi media menyusut.
2) Penguapan (evaporasi) yang mengakibatkan agar-agar semakin
mengeras sehingga menghambat difusi nutrien dan meningkatnya
konsentrasi dari beberapa komponen medium.

3) Sel-sel pada kalus juga mengeluarkan persenyawaan-persenyawaan


hasil metabolisme yang menghambat karena terakumulasinya sejumlah
senyawa toksik pada medium disekitar eksplan.
4) Sel-sel yang terdapat ditengah-tengah massa sel mengalami kekurangan
oksigen.
Untuk mengatasi hal tersebut diatas, kalus harus disubkultur pada medium
baru, tergantung dari tujuannya medium baru yang digunakan untuk subkultur
dapat sama atau berbeda dengan medium semula. Secara umum dapat dikatakan,
tujuan dilakukannya subkultur adalah untuk menjaga kehidupan dengan
mempertahankan laju pertumbuhan sel terhadap konstan sehingga dapat diperoleh
kalus dengan sel-sel yang homogen, untuk memperbanyak kalus dan untuk
diferensiasi kalus.
Hal yang perlu diperhatikan pada subkultur adalah massa sel yang
dipindahkan harus cukup banyak. Hal ini dapat dilakukan dengan membiarkan
kalus tumbuh hingga mencapai diameter 2-3 cm sebelum dipisahkan dari eksplan
dan membaginya menjadi 4-8 inokula untuk disubkulturkan pada medium baru.
Bila kalus menunjukkan rupa yang heterogen, maka harus dipilih sebagai
inokulum adalah kalus yang menunjukkan pertumbuhan tercepat, biasanya yang
berwarna agak pucat dan lunak.

3.2 Manfaat Kultur Kalus


Kultur kalus bermanfaat untuk mempelajari beberapa aspek dalam
metabolisme tumbuhan dan diferensiasinya, antara lain:
1) Mempelajari aspek nutrisi tanaman.
2) Dalam beberapa hal, perlu fase pertumbuhan kalus sebelum regenerasi
via somatic embryogenesis atau organogenesis. Embrio aseksual atau
embrio somatik (somatic embryo) adalah embrio yang terbentuk bukan
dari penyatuan sel-sel gamet jantan dan betina atau dengan kata lain
embrio yang terbentuk dari jaringan vegetatif/somatik. Embrio ini dapat
terbentuk dari jaringan tanaman yang dikulturkan tanpa melalui proses
yang dikenal dengan nama somatic embryogenesis. Jika proses ini
terbentuk langsung pada eksplan tanpa melalui proses pembentukan

kalus terlebih dahulu, maka prosesnya disebut somatic embryogenesis


3)
4)
5)
6)
7)

langsung (direct somatic embryogenesis).


Untuk menghasilkan varian somaklonal (genetic atau epigenetic).
Sebagai bahan awal kultur protoplast dan kultur suspensi.
Untuk produksi metabolit sekunder dan regulasinya.
Transformasi genetik menggunakan teknik biolistik.
Digunakan untuk seleksi in-vitro.

3.3 Mutasi Kalus


Mutasi kalus adalah teknik kultur jaringan untuk menghasilkan individu
baru yang bersifat lain dari induknya melalui cara-cara trial and error dan pasti.
Trial and error merupakan teknik coba-coba karena hasilnya baru diketahui
setelah individu dewasa. Cara ini dengan menggunakkan radiasi sinar X,
pemanasan gelombang mikro dan pemanasan dengan alat solder. Individu yang
dihasilkan biasanya menyimpang dari induknya sehingga memberikkan nilai plus
(mutan atau albino).
Teknik yang memberikan kepastian terhadap percobaaan yang diinginkan
dapat dari kalus yang ditanam dimedia yang sengaja diberi kondisi yang tidak
diinginkan sehingga jika kalus tersebut bisa bertahan, maka individu yang
dihasilkan akan resisten terhadap kondisi yang tidak diinginkan tersebut.
Teknik mutasi anggrek di dalam kultur bertujuan untuk meningkatkan
peluang mutasi dengan cara memberikan perlakuan atau rangsangan yang dapat
berupa bahan kimia, fisik/ lingkungan atau radiasi. Mutasi anggrek diharapkan
akan memeri peluang munculnya sifat-sifat anggrek yang baru yang belum ada
sebelumnya yang mempunyai nilai komersial. Bahan kultur anggrek yang biasa
digunakan untuk perlakuan mutasi adalah kalusnya. Setelah Anda mempunyai
stok kalus anggrek tertentu maka kalus tersebut diberi perlakuan mutasi dan
kemudian diamati mana yang memperlihatkan pertumbuhan yang berbeda dan
memperlihatkan sifat yang baik.
Untuk pemberian perlakuan radiasi maka anda dapat membawa spesimen
kalus anggrek anda ke BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) yang berlokasi di
Pasar Jumat Jakarta Selatan. Setelah itu biarkan kalus-kalus tersebut tumbuh dan
diperbanyak sampai jumlah yang memadai. Kemudian sebagian diakarkan dan
ditumbuhkan sampai besar.
Kemudian dicari anggrek mana yang memperlihatkan mutasi dengan sifat
yang baik dan mempunyai nilai komersial yang tinggi. Memang dalam hal ini kita

tidak dapat mengontrol arah mutasi atau kita tidak dapat mengatur mutasi ke arah
sifat yang kita harapkan/inginkan.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang dan pembahasan yang telah diuraikan, maka
dapat disimpulkan bahwa:
1.
Kultur kalus merupakan pemeliharaan bagian kecil tanaman dalam
2.

lingkungan buatan yang steril dan kondisi yang terkontrol.


Kalus adalah suatu kumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel

3.

jaringan yang membelah diri secara terus menerus.


Tujuan kultur kalus adalah untuk memperoleh kalus dari eksplan yang
diisolasi dan ditumbuhkan dalam lingkungan terkendali. Kalus
diharapkan dapat memperbanyak dirinya (massa selnya) secara terus
menerus.

4.2 Saran
Adapun saran yang dapat diajukan pada penulisan makalah ini yaitu,
sangat dibutuhkan banyaknya referensi yang relevan dari berbagai sumber

sehingga mempermudah dalam penyusunan makalah ini. Selain itu, agar bisa
dijadikan sebagai pustaka untuk penyusunan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Aziz L.M. Siregar, Chan Lai Keng, dan Boey Peng Lim, 2006, Pertumbuhan dan
Akumulasi Alkaloid dalam Kalus dan Suspensi Sel Eurycoma
longifolia Jack, Jurnal Ilmiah Pertanian Kultura, Vol. 41, No. 1, Hal.
19-27.
Gunawan, L.W., 1987, Teknik Kultur Jaringan, Laboratorium Kultur Jaringan
PAU Biotekbologi IPB, Bogor.
Heddy, S., 1986, Hormon Tumbuhan, Rajawali Press, Jakarta.
Moega, J.P., 1991, Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman, Erlangga,
Jakarta.
Rahardjo P.C., 1989, Kultur Jaringan. Teknik Perbanyakan Tanaman Secara
Modern, Penebar Swadaya, Jakarta.
Siti D.H. Hoesen, Witjaksono dan L.A Sukamto, 2008, Induksi Kalus dan
Organogenesis Kultur In Vitro Dendrobium lineale Rolfe, Berita
Biologi, Vol. 9, No. 3, Hal. 333-341.

Sudarmadji, 2003, Penggunaan Benzil Amino Purine Pada Pertumbuhan Kalus


Kapas Secara In Vitro, Buletin Teknik Pertanian, Vol. 8, No. 1, Hal. 810.
Sulistyati, M., dan Dameria H., Pengaruh Konsentrasi Aluminium Dalam Media
Seleksi Kultur Kalus Padi Pada Pertumbuhan Kalus, Pusat Aplikasi
Isotop dan Radiasi, Batan.