Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas limpahan
rahmatnya sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan sesuai dengan
waktu yang telah ditentukan. Sholawat serta salam tak lupa kita curahkan kepada
junjungan kita Nabi Muhammad Saw, karena berkat jasa beliau lah kita dapat
mengenal Islam. Dan semoga kita nanti mendapat syafaatnya di yaumil kiyamah
nanti.
Makalah ini berjudul Konsep Ketuhanan dalam Islam. Tujuan penulisan
makalah ini adalah selain sebagai melengkapi tugas Mata Kuliah Pendidikan
Agama Islam juga sebagai sumber bacaan yang dapat digunakan untuk
memperdalam materi tentang Konsep Ketuhanan dalam Islam.
Tidak ada gading yang tak retak, penulis menyadari makalah ini jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca.

Samarinda,20 Agustus 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI 2
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 3


1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan 4
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Tuhan 5


2.2 Bukti-bukti adanya Tuhan

2.3 Konsep Tuhan dalam Islam

2.4 Agama dilihat dari sumbernya 10


BAB III PENUTUP 13
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

13

13

DAFTAR PUSTAKA

14

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makalah ini merupakan pemenuhan tugas Pendidikan Agama Islam
yang memang harus terpenuhi sebagai nilai tambahan yang sudah
ditentukan oleh pengajar, disamping itu juga makalah ini sangat
bermanfaat bagi pembaca karena pada makalah ini sedikit/banyaknya
terdapat ilmu yang dapat diambil sebagai pengetahuan atau wawasan.
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling sempura
dibandingkan dengan makhluk lain, maka dari itu ada beberapa manusia
yang memang menggunakan akalnya untuk mengkaji hal-hal yang belum
ada sebagai rasa keingintauan seperti halnya pada makalah ini juga akan
mengkaji yaitu diantaranya tentang filsafat Ketuhanan dalam Islam yang
berisi dari berbagai sumber, agar makalah ini ada nilai banding dengan
makalah lain.

B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Siapa Tuhan itu?


Apa saja bukti-bukti adanya Tuhan?
Bagaimana konsep Tuhan dalam islam?
Seperti apa konsep Agama yang ada saat ini?

C. Tujuan
1.
2.
3.
4.

Mengetahui apa itu Tuhan


Mengetahui bukti-bukti adanya Tuhan
Mengetahui kosep keimanan dalam islam
Mngetahui sejarah munculnya konsep ketuhanan dan agama

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Tuhan
Menurut Ibnu Miskawaih Tuhan adalah zat yang tidak berijisim, azali, dan
pencipta. Tuhan Esa dalam segala aspek. Ia tidak terbagi-bagi dan tidak
mengandung kejamakan dan tidak satupun yang setara dengan-Nya, Ia ada tanpa
diadakan dan ada-Nya tidak bergantung kepada yang lain sementara yang lain
membutuhkan-Nya
Lafal Ilahi yang artinya Tuhan, menyatakan berbagai obyek yang dibesarkan
dan dipentingkan manusia, misalnya dalam surat Al-Furqon: 43 yang artinya:
Apakah engkau melihat orang yang menghilangkan keinginan-keinginan
pribadinya?
Allah Swt memfirmankan dalam Al-Quran surat Thoha : 14, yang artinya:
Sesungguhnya Aku Allah. Tidak ada Tuhan selain Aku (Allah), maka
4

beribadahlah

hanya

kepada-Ku

(Allah),

dan

dirikanlah

sholat

untuk

mengingatku.

2.2 Bukti-bukti adanya Tuhan


a. Keberadaan Alam semesta, sebagai bukti adanya Tuhan
Menurut Ismail RajI Al-Faruqi, prinsip dasar dalam Teologi Islam, yaitu
Khalik dan makhluk. Khalik adalah pencipta, yakni Allah SWT, hanya Dialah
Tuhan yang kekal, abadi, dan transeden. Tidak selamanya mutlak Esa dan tidak
bersekutu. Sedangkan makhluk adalah yang diciptakan, berdimensi ruang dan
waktu, yaitu dunia, benda, tanaman, hewan, manusia, jin, malaikat langit dan
bumi, surga dan neraka.
Adanya alam semesta organisasinya yang menakjubkan bahwa diri-Nya ada
dan percaya pula bahwa rahasia-rahasianya yang unik, semuanya memberikan
penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah menciptakannya.
Setiap manusia normal akan percaya bahwa dirinya ada dan percaya pula
bahwa alam ini juga ada. Jika kita percaya tentang eksistensinya alam, secara
logika kita harus percaya tentang adanya penciptaan alam semesta. Pernyataan
yang mengatakan Percaya adanya makhluk, tetapi menolak adanya khalik, adalah
suatu pernyataan yang tidak benar.
Kita belum pernah mengetahui adanya sesuatu yang berasal dari tidak ada
tanpa diciptakan. Segala sesuatu bagaimanapun ukurannya, pasti ada penciptanya,
dan pencipta itu tiada lain adalah Tuhan. Dan Tuhan yang kita yakini sebagai
pencipta alam semesta dan seluruh isinya ini adalah Allah SWT.
b. Pembuktian adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi

Astronomi menjelaskan bahwa jumlah bintang di langit saperti banyaknya


butiran pasir yang ada di pantai seluruh dunia. Benda ala yang dekat dengan bumi
adalah bulan, yang jaraknya dengan bumi sekitar 240.000 mil, yang bergerak
mengelilingi bumi, dan menyelesaikan setiap edaranya selama 20 hari sekali.
Demikian pula bumi yang terletak 93.000.000.000 mil dari matahari berputar
dari porosnya dengan kecepatan 1000 mil perjam dan menempuh garis edarnya
sepanjang 190.000.000 mil setiap setahun sekali. Dan sembilan planet tata surya
termasuk bumi, yang mengelilingi matahari dengan kecepatan yang luar biasa.
Matahari tidak berhenti pada tempat tertentu, tetapi ia beredar bersama
dengan planet-planet dan asteroid-asteroid mengelilingi garis edarnya dengan
kecepatan 600.00 mil perjam. Disamping itu masih ada ribuan sistem selain
sistem tata surya kita dan setiap sistem mempunyai kumpulan atau galaxy sendirisendiri. Galaxy-galaxy tersebut juga beredar pada garis edarnya. Galaxy sistem
matahari kita, beredar pada sumbunya dan menyelesaikan edarannya sekali dalam
200.000.000 tahun cahaya.
Logika manusia memperhatikan sistem yang luar biasa dan organisasi yang
teliti. Berkesimpulan bahwa mustahil semuanya ini terjadi dengan sendirinya.
Bahkan akan menyimpulkan, bahwa dibalik semuanya itu pasti ada kekuatan
yang maha besar yang membuat dan mengendalikan semuanya itu, kekuatan
maha besar itu adalah Tuhan.
c. Pembuktian adanya Tuhan dengan Pendekatan Fisika
Ada pendapat dikalangan ilmuwan bahwa alam ini azali. Dalam pengertian
lain alam ini mencpitakan dirinya sendiri. Ini jelas tidak mungkin, karena
bertentangan dengan hukum kedua termodinamika. Hukum ini dikenal dengan

hukum keterbatasan energi atau teori pembatasan perubahan energi panas yang
membuktikan bahwa adanya alam ini mungkin azali.
Hukum tersebut menerangkan energi panas selalu berpindah dari keadaan panas
beralih menjadi tidak panas, sedangkan kebalikannya tidak mungkin, yakni energi
panas tidak mungkin berubah dari keadaan yang tidak panas berubah menjadi
panas. Perubahan energi yang ada dengan energi yang tidak ada.
Dengan bertitik tolak dari kenyataan bahwa proses kerja kimia dan fisika
terus berlangsung, serta kehidupan tetap berjalan. Hal ini membuktikan secara
pasti bahwa alam bukanlah bersifat azali. Jika alam ini azali sejak dahulu alam
sudah kehilangan energi dan sesuai hukum tersebut tentu tidak akan ada lagi
kehidupan di alam ini.
d. Argumentasi Qurani
Allah SWT berfirman, termaktub dalam surat Al-Fatihah ayat 2 yang
terjemahya Seluruh puja dan puji hanalah milik Allah Swt, Rabb alam semesta.
Lafadz Rabb dalam ayat tersebut, artinya Tuhan yang dimaksud adalah Allah Swt.
Allah Swt sebagai Rabb maknanya dijelaskan dalam surat Al-Ala ayat 2-3,
yang terjemahannya Allah yang menciptakan dan menyempurnakan, yang
menentukan ukuran-ukuran ciptaannya dan memberi petunjuk. Dari ayat tersebut
jelaslah bahwa Allah SWT yang menciptakan ciptaannya, yaitu alam semesta,
menyempurnakan, menentukan aturan-aturan dan memberi petunjukterhadap
ciptaannya. Jadi, adanya alam semesta dan seisinya tidak terjadi dengan
sendirinya. Akan tetapi, ada yang menciptakan dan mengatur yaitu Allah SWT.

Didalam surat Al-Araf ayat 54, termaktub yang Tuhanmu adalah Allah yang
telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Lafadz Ayyam adalah jamak
dari yaum yang berarti periode. Jadi, sittati ayyam berarti enam periode dan
tentunya membutuhkan proses waktu yang sangat panjang.
Dalam menciptakan sesuatu memang Allah tinggal berfirman Kun Fayakun
yang artinya jadilah maka jadi. Akan tetapi, dimensi manusia dengan Allah
berbeda sampai kepada manusia membutuhkan waktu enam periode. Hal ini agar
manusia dapat meneliti dan mengkaji dengan metode ilmiahnya sehingga muncul
atau lahir berbagai macam ilmu pengetahuan.

2.3 Konsep Tuhan dalam islam


Konsep Ketuhanan dapat diartikan sebagai kecintaan, pemujaan atau sesuatu
yang dianggap penting oleh manusia terhadap sesuatu hal (baik abstrak maupun
konkret).
Dalam konsep Islam, Tuhan disebut Allah dan diyakini sebagai Zat Maha
Tinggi Yang Nyata dan Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang
Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim bagi semesta alam.
Islam menitik beratkan konseptualisasi Tuhan sebagai Yang Tunggal dan
Maha Kuasa (tauhid) Dia itu wahid dan Esa (ahad), Maha Pengasih dan Maha
Kuasa.
Penciptaan dan penguasaan alam semesta dideskripsikan sebagai suatu bukti
akan adanya Allah SWT yang paling utama untuk semua ciptaan yang memuji
keagungan-Nya dan menjadi saksi atas keesan-Nya dan kuasa-Nya. Menurut
ajaran Islam, Tuhan muncul dimana pun tanpa harus menjelma dalam bentuk apa
8

pun. Menurut Al Quran, "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang
Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha
Mengetahui." (QS Al-'An'am[6]:103)
Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga
Tuhan yang personal: Menurut Al-Quran, Dia lebih dekat pada manusia
daripada urat nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan
memohon pertolongan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia
memandu manusia pada jalan yang lurus, jalan yang diridhai-Nya.

2.4 Agama dilihat dari sumbernya


Ditinjau dari sumbernya agama dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
a.

Agama Samawi (Agama Wahyu)


Agama samawi (agama wahyu) adalah agama yang diterima oleh
manusia dari Allah Sang Pencipta melalui Malaikat Jibril dan disampaikan
serta disebarkan oleh Rasul-Nya kepada umat manusia seperti Majusi,
Yahudi, Nasrani dam Islam.

b. Agama Ardhi (Agama Bukan Wahyu)


Agama ardhi (agama bukan wahyu) Adalah agama yang diciptakan oleh
manusia seperti budha, hindu, konghuchu.
Perbedaan kedua jenis agama ini dikemukakan Al Masdoosi
dalam LivingReligious of the World sebagai berikut :
a. Agama wahyu berpokok pada konsep keesaan Tuhan sedangkan agama
bukan wahyu tidak demikian.
b. Agama wahyu beriman kepada Nabi, sedangkan agama bukan wahyu
tidak.
9

c. Dalam agama wahyu sumber utama tuntunan baik dan buruk adalah
kitab suci yang diwahyukan, sedangkan agama bukan wahyu kitab suci
tidak penting.
d. Semua agama wahyu lahir di Timur Tengah, sedangkan agama bukan
wahyu lahir di luar itu.
e. Agama wahyu lahir di daerah-daerah yang berada di bawah
pengaruh ras semetik.
f. Agama wahyu sesuai dengan ajarannya adalah agama misionari,
sedangkan agama bukan wahyu agama misionari.
g. Ajaran agama wahyu jelas dan tegas, sedangkan agama bukan wahyu
kabur dan elastis.
h. Agama wahyu memberikan arah yang jelas dan lengkap baik aspek
spritual maupun material, sedangkan agama bukan wahyu lebih
menitik beratkan kepada aspek spritual saja, seperti pada Taoisme, atau
pada aspek material saja seperti pada Confusianisme.
Agama menurut penjenisan ini dapat dibagi kepada dua jenis :
a. Agama Monoteisme merupakan agama yang menganggap Tuhan
hanya satu, yakni mendukung konsep kewahidan Tuhan. Contohnya,
agama Islam.
b. Agama Politeisme merupakan agama yang menganggap bahawa Tuhan
berwujud secara berbilangan, yakni ada banyak Tuhan atau Tuhan
boleh berpecah kepada banyak bentuk. Contohnya, agama Hindu,
agama Rakyat China.
Adapun ciri-ciri Agama Wahyu (langit), ialah :
a. Secara pasti dapat ditentukan lahirnya, dan bukan tumbuh dari
masyarakat,melainkan diturunkan kepada masyarakat.

10

b. Disampaikan oleh manusia yang dipilih Allah sebagai utusan-Nya.


Utusan

itu

bukan

menciptakan

agama,

melainkan

menyampaikannya.
c. Memiliki kitab suci yang bersih dari campur tangan manusia.
d. Ajarannya serba tetap, walaupun tafsirnya dapat berubah sesuai
dengan kecerdasan dan kepekaan manusia.Konsep ketuhanannya
adalah : monotheisme mutlak ( tauhid)
e. Kebenarannya adalah universal yaitu berlaku bagi setiap manusia ,
masa dan keadaan.

Adapun ciri-ciri agama budaya (ardhi), ialah :


a. Tumbuh secara komulatif dalam masyarakat penganutnya.
b. Tidak disampaikan oleh utusan Tuhan ( Rasul).
c. Umumnya tidak memiliki kitab suci, walaupun ada akan mengalami
perubahan-perubahan dalam perjalanan sejarahnya.
d. Ajarannya dapat berubah-ubah, sesuai dengan perubahan akal pikiran
masyarakatnya ( penganutnya).
e. Konsep ketuhanannya : dinamisme, animisme, politheisme, dan
paling tinggi adalah monotheisme nisbi.
f. Kebenaran ajarannya tidak universal , yaitu tidak berlaku bagi setiap
manusia, masa, dan keadaan.

11

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah menyelesaikan makalah ini, kami dapat menyimpulkan bahwa
konsep Ketuhanan dapat diartikan sebagai kecintaan, pemujaan atau sesuatu yang
dianggap penting oleh manusia terhadap sesuatu hal (baik abstrak maupun
konkret). Filsafat Ketuhanan dalam Islam merupakan aspek ajaran yang
fundamental, kajian ini harus dilaksanakan secara intensif. Kata iman berasal dari
bahasa Arab, yaitu amina-yukminu-imanan, yang secara ethimologi berarti yakin
atau percaya. Sedangkan takwa berasal dari bahasa Arab, yaitu waqa-yuwaqiwiqayah, secara ethimologi artinya hati-hati, waspada, mawasdiri, memelihara,
dan melindungi. Pengertian Takwa secara terminologi dijelaskan dalam Al-hadits,
yang artinya menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya.
3.2 Saran
Hidup memang pilihan, termasuk dalam hal beragama. Namun kita harus bisa
memilih dengan cermat dan logis agama mana yang konsep ketuhanannya benarbenar dapat diterima secara universal dan kitab sucinya benar-benar murni tanpa
ada campur tangan manusia.
Sebagai seorang pemula, saya sadar bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu saya mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun. Karena saran dan kritik itu akan bermanfaat bagi kami untuk
memperbaiki atau memperdalam kajian ini.

12

DAFTAR PUSTAKA
Agung, Konsep Ketuhanan Dalam Islam,
http://agungsukses.wordpress.com/2008/07/24/ konsep-ketuhanan-dalam-islam/
(diakses pada tanggal 15 Septembe 2015)
Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A., Filsafat Islam, PT. Raja Grofinda Bersada,
Jakarta
Asri Anggun S, Konsep Ketuhanan dalam Islam,
http://asrianggun2012.blogspot.com /2012/10/ makalah-konsep-ketuhanan.html,
(diakses pada tanggal 15 September 2015)
Pebriantika, Ranty. Makalah Konsep Ketuhanan
http://rantypebriantika.blogspot.com/2012/11/makalah-agama-konsepketuhanan_2378.html (diakses pada tanggal 15 September 2015)
Supriyatna, Andra. Agama dan Jenisnya
http://solusibisa.blogspot.com/2012/04/agama-dan-jenis-nya.html (diakses pada
tanggal 16 September 2015)
http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_dalam_Islam (diakses pada tanggal 16
September 2015)

13