Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Presentasi bokong (breech presentation) terjadi ketika bokong janin lebih dahulu
memasuki rongga panggul. Istilah breech (bokong) mungkin berasal dari kata yang sama
dengan britches, yang menggambarkan kain untuk menutupi selangkangan dan paha. Untuk
alasan tertentu, presentasi bokong umumnya terjadi sebelum aterm. Namun yang paling
sering terjadi sebelum proses persalinan dimulai janin berputar spontan sehingga
presentasinya menjadi presentasi kepala. Oleh karena itu presentasi bokong hanya terjadi
pada 3 - 4 % kelahiran tunggal.1,2
Hal ini menunjukkan bahwa secara normal bayi memilih posisi yang paling tepat
sesuai dengan ruang intrauterin yang normal. Maka jika tetap terjadi presentasi bokong, ini
berhubungan dengan adanya kelainan pada janin, volume air ketuban, lokasi plasenta atau
kelainan pada uterus.
Di Indonesia, Program Indonesia Sehat 2010, angka kematian ibu bersalin dan angka
kematian perinatal merupakan indikator yang paling peka untuk menilai keberhasilan
program kesehatan ibu dan anak. Malpresentasi dapat mengakibatkan timbulnya penyebab
kematian perinatal termasuk diantaranya adalah presentasi bokong. Kejadian hipoksia dan
trauma lahir pada perinatal dapat ditemui pada kasus persalinan dengan malpresentasi yaitu
pada presentasi bokong.
Kematian perinatal langsung yang disebabkan karena persalinan dengan presentasi
bokong sebesar 4-5 kali dibandingkan dengan presentasi kepala. Sebab kematian yang paling
sering pada persalinan dengan presentasi bokong adalah penanganan persalinan yang kurang
sempurna.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Presentasi bokong adalah letak memanjang, dimana bokong sebagai bagian terendah,
sehingga kepala berada di fundus uteri dan bokong di bagian bawah kavum uteri.1,2,3,4
2.2. EPIDEMIOLOGI
Presentasi bokong biasanya ditemukan kira-kira 3-4% kelahiran bayi tunggal. Pada
tahun 1990-an ditemukan sekitar 3,5% diantara 136.256 bayi tunggal yang lahir di AS. Di
Belanda, GreenHill melaporkan 2,3% jumlah kasus persalinan dengan presentasi bokong. Di
RS.Hasan Sadikin Bandung sebesar 4,6%, dan di RSUP.H. Adam Malik/RSUD. Dr. Pirngadi
Medan ditemukan 4,4% kasus presentasi bokong.
2.3. ETIOLOGI
Umumnya penyebabnya belum jelas, tetapi ada beberapa faktor predisposisi yaitu;
a. Kelainan dari Ibu
1. Kelainan Uterus
-

Tumor dari uterus yang mendesak uterus

Kelainan bawaan uterus, seperti uterus arkuatus yang dapat mengubah letak
janin

2. Kelainan panggul
Pintu atas panggul yang terlalu luas atau terlalu sempit dapat mengganggu
fiksasi dari kepala janin.
3. Kelainan dari jumlah air ketuban
Hidramnion menyebabkan terlampau bebasnya pergerakkan janin dalam
uterus sehingga fiksasi kepala terganggu dan pada oligohidramnion gerakan
janin terbatas sehingga terhalang versi spontan dari janin.
4. Kelainan implantasi plasenta
Misalnya plasenta previa yang menghalangi turunnya kepala ke pintu atas
panggul.
b. Kelainan dari Janin
1. Bayi prematur
Pada bayi premature ukuran kepala masih kecil, fiksasi kepala tidak sempurna
2

2. Kehamilan ganda
Umumnya pada kehamilan kembar, janin menyesuaikan dirinya dalam rahim.
3. Bayi mati
Presentasi bokong terjadi pada keadaan ini oleh karena gerakan janin tidak ada
lagi.
4. Bayi dengan kelainan bawaan
Kelainan bawaan pada kepala bayi dapat mengganggu fiksasi dari kepala bayi,
misalnya hidrosefalus, ansefalus dan mikrosefalus.3,4
2.4. JENIS-JENIS PRESENTASI BOKONG
Ada 3 klasifikasi dari presentasi bokong:
1. Frank breech (Presentasi bokong sempurna)
Dimana ekstremitas bawah fleksi pada paha dan ekstensi pada lutut. Sehingga kaki
terletak dekat dengan kepala. Pada pemeriksaan dalam hanya bokong yang dijumpai
sebagai bagian terbawah.
2. Complete breech (Presentasi bokong lengkap)
Dimana ekstremitas bawah fleksi pada paha dan salah satu atau kedua lutut juga
fleksi. Pada pemeriksaan dalam selain bokong, kaki juga dijumpai disamping bokong.
3. Incomplete breech (Presentasi bokong tidak lengkap)
Dimana salah satu atau kedua paha tidak fleksi dan salah satu atau kedua kaki terletak
di bawah bokong. Sehingga pada pemeriksaan dalam kaki atau lutut yang merupakan
bagian terbawah.
Terdiri dari :
-

Footling breech salah satu atau kedua kaki dijumpai dulu, dengan bokong
pada posisi yang tinggi. Ini jarang tetapi relatif umum pada janin premature.

Kneeling breech janin dalam posisi lutut, dengan salah satu atau kedua kaki
ekstensi di pinggul dan fleksi di lutut. Ini sangat jarang.2,3,4

Dari semua persalinan diperoleh 2,5 3 % merupakan persalinan presentasi bokong,


diantaranya 75 % presentasi bokong sempurna dan 25 % adalah presentasi bokong tidak
sempurna seperti presentasi kaki dan lutut.3
2.5. DIAGNOSIS1-6
Disamping presentasi bokong ditegakkan dengan pemeriksaan luar, pemeriksaan
dalam dan pemeriksaan penunjang seperti USG yang dilakukan apabila dengan pemeriksaan
dalam menemui kesulitan seperti pasien dengan berat badan yang lebih, perut tegang,
hidramnion dan lain-lain. Ibu hamil dengan presentasi bokong selalu mengemukakan gerakan
janin yang dirasakan padanya yaitu adanya penekanan pada ulu hati oleh kepala janin yang
diraba pada bagian fundus.1,3,4
2.5.1. Inspeksi
Umumnya secara inspeksi tidak dijumpai tanda yang spesifik. Bentuk rahim kadang kala
kelihatan dengan bentuk cekungan yang melintang difundus.2,3
2.5.2. Palpasi
Cara palpasi yang dipakai adalah dengan cara LEOPOLD.
Pada Leopold I

: Teraba bagian janin yang keras dan bulat serta mudah digerakkan

(ballottement) pada fundus uteri. Kepala biasanya terletak di daerah hypochondrium,


disebabkan fleksi tulang panggul. Kadang-kadang kepala teraba di daerah epigastrium. Jika
air ketuban sedikit dan posisi dorso posterior kepala menjadi fleksi dan tidak mudah

bergerak sehingga ballottement sukar ditemukan, juga jika air ketuban berlebihan
(polihidramnion) sukar untuk meraba kepala.2,3
Pada Leopold II

: Menunjukkan punggung berada pada satu sisi abdomen dan bagian-

bagian kecil janin pada sisi yang lain.


Pada Leopold III

: Teraba bokong janin yang lunak, dan kurang bulat dibandingkan

kepala janin yang teraba pada perasat Leopold I. Bila belum Enggagement, diameter
intertrochanterica dari panggul janin masih dapat digerakkan di atas pintu atas panggul.
Pada Leopold IV

: Menunjukkan posisi bokong yang mapan dibawah simfisis.

Seringkali ibu menyatakan bahwa pada kehamilannya ini terasa penuh di bagian atas
abdomen dan menyesak daerah ulu hati dan gerakan terasa lebih banyak di bagian bawah
abdomen.
2.5.3. Auskultasi
Bunyi jantung janin umumnya cenderung terdengar setinggi sekitar umbilicus atau
sedikit lebih tinggi daripada umbilicus.2,3
2.5.4. Pemeriksaan Dalam
Sebelum inpartu sedikit yang dapat diperoleh dari pemeriksaan dalam terhadap
presentasi dan posisi janin. Bila telah inpartu pemeriksaan dalam diperlukan untuk
menentukan jenis dan posisi presentasi bokong. Pada presentasi bokong dapat teraba sacrum,
kedua tuberositas ischiadica dengan processus spinosumnya dan anus. Pada penurunan lebih
lanjut, dengan pemeriksaan dalam yang baik, genitalia eksterna dapat dikenali.
Apabila teraba bagian kecil yakni kaki, maka harus dibedakan dengan tangan. Pada
kaki teraba tumit, sedangkan pada tangan ditemukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar
dengan jari-jari lain dan panjang jari tangan kurang lebih sama dengan panjang telapak
tangan janin.
Pada partus tak maju, bokong bisa terjadi edema, sehingga dapat meragukan diagnosa
presentasi muka. Anus teraba seperti mulut dan tuberositas ischiadica seperti rahang atas.
Dengan perabaan hati hati, telunjuk yang masuk ke dalam anus terasa tegangan otot otot
spinter ani dan bila tangan dikeluarkan terdapat meconium pada sarung tangan.
Posisi presentasi bokong ditentukan berdasarkan letak sakrum janin terhadap panggul
ibu. Sakrum kiri depan yang terbanyak 45%, menyusul sakrum kanan depan 30%.2,3

Pada Presentasi bokong sempurna (Complete Brecch), kedua kaki dapat diraba
disamping bokong. Sedangkan pada Incomplete Breech , hanya teraba satu kaki disamping
bokong. Dan pada Frank Breech tidak teraba kaki disamping bokong.
2.5.5. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi atau USG dapat dipergunakan untuk menentukan lokasi kepala janin,
memastikan perkiraan klinis presentasi bokong dan untuk menentukan usia kehamilan serta
kesejahteraan janin.1,2,3
Apabila dipertimbangkan untuk persalinan pervaginam, tipe presentasi bokong
merupakan hal yang penting diperhatikan, serta ada tidaknya fleksi dari kepala janin. Peran
Pelvimetri radiologik dalam menentukan tindakan persalinan sungsang masih menjadi
kontroversial.
2.6. TATALAKSANA PENANGANAN PRESENTASI BOKONG
2.6.1. Penanganan dalam kehamilan, dapat dibagi :1-5
a. Knee Chest Position ( KCP )
Greenhill menyatakan bahwa versi spontan adalah hasil yang diharapkan setelah
melakukan KCP ini. Dilakukan 2 3 kali sehari selama 10 15 menit.
Diharapkan bokong janin yang telah turun bebas kembali sehingga terjadi versi
spontan. Usia kehamilan yang dianjurkan untuk melakukan KCP adalah pada usia
kehamilan 30 32 minggu.
b.Versi Luar
Versi luar sebaiknya dilakukan pada kehamilan diatas 32 minggu. Pada primigravida
32 34 minggu dan pada multigravida 34 36 minggu. Sedangkan setelah 38 minggu
versi luar sulit dilakukan karena janin sudah cukup besar, jumlah air ketuban sudah
berkurang.
Syarat-syarat versi luar :
1. Janin diharapkan dapat dilahirkan pervaginam
2. Bagian terendah janin masih dapat digerakkan di atas pintu atas panggul
3. Ibu tidak gemuk, agar penolong dapat meraba bagian-bagian janin
4. Selaput ketuban masih utuh
5. Pada keadaan yang inpartu, dilatasi serviks < 4 cm
Kontraindikasi untuk melakukan versi luar adalah :
-

Panggul sempit
6

Perdarahan antepartum

Hipertensi

Hamil kembar

Kelainan uerus

Sebelum melakukan versi luar, diagnosis letak dan presentasi janin harus pasti, dan
denyut jantung janin harus dalam keadaan baik. Versi luar harus dengan kekuatan
ringan tanpa paksaan. Penggunaan narkosis dalam versi luar masih kontroversial,
mengingat penderita tidak merasakan sakit sehingga tenaga penolong berlebihan
melakukan versi luar, dapat menyebakan terjadinya solusio plasenta. Perlu alat
ultrasonografi untuk memandu reposisi janin pada versi luar.
2.6.2. Penanganan dalam persalinan
Penanganan pada masa persalinan secara garis besar ada dua cara persalinan
presentasi bokong yaitu pervaginam dan perabdominal ( seksio sesaria ).2,3,4
1. Persalinan Pervaginam
Syarat syarat persalinan pervaginam :
1.

Panggul adekuat

2.

Presentasi bokong sempurna (Frank breech)

3.

Berat badan janin < 3500 gram,

4.

Kehamilan aterm

5.

Kepala janin fleksi

6.

Pemeriksaan USG untuk mengestimasi berat badan janin, fleksi kepala janin dan
kelainan kongenital

7.

Tidak ada lilitan tali pusat di leher janin1,2,3

Syarat Pimpinan Meneran Kala II Pada Persalinan Letak Sungsang :


1. Pembukaan lengkap
2. Bokong di Hodge III atau lebih
3. Ketuban ditunggu pecah sendiri, atau dipecahkan bila pembukaan lengkap
4. Hati-hati prolaps tali pusat
5. Hati-hati "aftercoming head
6. Tersedia forcep (cunam) Piper
7. Operator yang kompeten dalam menolong persalinan sungsang dan dapat melakukan
penanganan komplikasi.
Persalinan pervaginam dibagi atas :
1. Persalinan spontan (Spontaneus Breech)
Yang dimaksud persalinan spontan adalah lahirnya janin seluruhnya dengan tenaga
ibu sendiri. Cara ini lazim disebut cara BRACHT.

Tahap Pertama : Fase Lambat, lahirnya bokong sampai dengan umbilikus

Tahap Kedua

: Fase cepat, lahirnya umbilikus sampai mulut bayi, dimana harus

dilahirkan cepat karena umbilikus dapat terjepit.

Tahap Ketiga

: Fase lambat, lahirnya mulut sampai seluruh kepala.

S8etelah bokong lahir, umbilikus dikendorkan terlebih dahulu, kemudian bokong


dicengkeram dan melakukan hiperlordosis pada punggung janin guna mengikuti
gerakan rotasi anterior, yaitu punggung janin didekatkan ke perut ibu. Penolong hanya
mengarahkan gerakan tanpa melakukan tarikan pada bayi.
2. Ekstraksi Parsial (Partial Breech Extraction / Assisted Breech Delivery / Manual
Aid )
adalah lahirnya anak secara spontan sampai batas umbilikus ( pasif ). Kemudian
seluruh tubuh bayi dilahirkan dengan pertolongan aktif. Pada fase pasif kita harus
menunggu dengan sabar sampai lahir tubuh bayi sebatas umbilikus.
A. Cara melahirkan bahu dan lengan ada beberapa cara :
Cara Klasik (Deventer)
Adalah melahirkan bahu dan lengan belakang lebih dahulu, karena lengan belakang
berada di ruangan yang lebih luas (sakrum), baru kemudian melahirkan lengan depan
yang berada dibawah simfisis.
8

Cara Lovset
Setelah sumbu bayi berada dalam ukuran muka belakang, tubuh bayi ditarik ke bawah
lalu dilahirkan bahu dan lengan belakang, setelah itu bayi diputar 900 sehingga bahu
depan menjadi bahu belakang, lalu dilahirkan.
Cara Muller
Tarik bayi vertikal ke bawah lalu dilahirkan bahu dan lengan depan. Cara melahirkan
bahu-lengan depan bisa spontan atau dikait dengan satu jari menyapu muka. Lahirkan
bahu belakang dengan menarik kaki ke atas, lalu bahu-lengan belakang dikait dengan
menyapu muka.
B. Cara Melahirkan Kepala
Cara Mauriceau (Veit Smellie)
Masukka jari-jari penolong ke dalam mulut bayi (muka mengarah ke kiri gunakan
jari kiri, mengarah ke kanan gunakan jari kanan). Kegunaan jari dalam mulut untuk
menambah fleksi kepala bayi. Selanjutnya, Letakkan tubuh bayi dengan menunggang
pada lengan penolong, sementara tangan lain memegang pada tengkuk bayi sambil
menundukkan kepala bayi agar tetap fleksi
Cara Naujoks
Satu tangan memegang leher bayi dari depan, tangan lain memegang leher dari
belakang pada bahu, tarik bayi ke bawah dengan bantuan penolong lain menekan dari
atas simfisis.
Cara Prague terbalik
Cara ini dipakai bila ubun-ubun kecil berada di belakang dekat sakrum dan muka
bayi menghadap simfisis. Satu tangan memegang bahu bayi dari belakang/bawah dan
punggung bayi diletakkan pada telapak tangan penolong. Tangan lain memegang
kedua pergelangan kaki, lalu menarik bayi ke arah atas bersamaan dengan tarikan
paada bahu bayi. Sehingga perut bayi mendekati perut ibu. Dalam hal ini laring
sebagai sumbu (hipomoclion).
3. Ekstraksi Totalis (Total Breech Extraction )
Dilakukan dimana seluruh badan anak masih berada di dalam jalan lahir. Hampir
seluruh ahli kebidanan menyetujui bahwa tindakan ini hanya dilakukan bila ada
indikasi darurat. Misalnya indikasi untuk anak adalah gawat janin.
9

Sedangkan indikasi untuk

ibu adalah penyakit penyakit ibu yang tidak boleh

mengedan. Mortalitas anak dengan tindakan ini sangat tinggi, oleh karena itu semua
ahli sependapat untuk melakukan seksio sesaria dari pada melakukan ekstraksi totalis.
Ada 2 cara melakukan Ekstraksi Totalis, yaitu :
a. Ekstraksi kaki (Perasat Pinard)
Jika kaki yang turun maka dilakukan tarikan dengan memegang kaki yang
turun
b. Ekstraksi bokong
Dilakukan jika bokong telah turun memasuki rongga panggul. 1,2,3,4
Cara Reposisi Lengan Menunjuk (Nuchal Arms)
Lengan menunjuk adalah bila salah satu lengan janin melingkar di belakang leher dan
menunjuk ke suatu arah. Cara reposisinya adalah sebagai berikut :
1. Satu tangan menunjuk
Janin diputar 900 ke arah mana tangan menunjuk, sehingga tangan akan terlepas
dengan gerakan menyapu kepala.
2. Kedua tangan menunjuk
Untuk tangan pertama seperti diatas, dan untuk tangan kedua diputar berlawanan
arah 1800
Cara Melahirkan Lengan Menjungkit
Lengan menjungkit adalah lengan dalam posisi lurus keatas di samping kepala. Cara
terbaik untuk melahirkan lengan menjungkit adalah dengan cara Lovset.
Cara melahirkan kepala yang sulit lahir (After Coming Head)
1. Bila janin masih hidup, lahirkan kepala dengan ekstraksi forcep (Cunam Piper).
Cunam Piper memiliki lengkung kepala dan lengkung panggul yang sesuai dan
panjang, dapat dipergunakan untuk melahirkan kepala pada keadaan After Coming
Head. Langkah 1 : Tubuh janin disanggah keatas menggunakan kain/handuk yang
hangat. Langkah 2 : dilakukan pemasangan cunam piper pada kepala janin yang
after coming head. Langkah 3 : dilakukan tarikan kepala searah sumbu lahir dan
ke arah atas, sementara penolong lain memegang kain/ handuk yang menyanggah
tubuh bayi mengikuti arah tarikan kepala oleh cunam piper yang dilakukan
penolong pertama. Indikasi Cunam Piper ini setara dengan pertolongan
pengeluaran kepala cara Mauriceau.
2. Bila janin sudah meninggal, dilakukan embriotomi

10

2.6.3.Penyulit atau komplikasi yang mungkin terjadi


1.

Sufokasi : aspirasi darah, lendir, mekonium, air ketuban terhisap ke jalan napas

2.

Prolaps tali pusat

3.

Asfiksia

4.

Kerusakan jaringan otak

5.

Fraktur pada tulang-tulang bayi : humerus, klavikula, femur, dislokasi bahu, tulang
kepala

6.

Cedera pleksus brakialis, hematoma otot-otot. 1,3

II. Persalinan Per-abdominal


Pritchard menganjurkan untuk memperkecil morbiditas dan mortalitas pada bayi, seksio
sesaria dilakukan dalam keadaan-keadaan berikut 1
1.

Presentasi bokong dengan bayi besar > 4000 gram

2.

Presentasi bokong dengan bayi besar dengan panggul sempit serta beberapa kelainan
bentuk panggul

3.

Presentasi bokong dengan kepala hiperekstensi

4.

Presentasi bokong belum inpartu dan keadaan Ketuban pecah dini.

5.

Presentasi bokong dengan disfungsi uterus

6.

Presentasi kaki atau Incomplete Breech

7.

Janin Prematur yang Viable

8.

Severe IUGR

9.

Presentasi bokong dengan kematian perinatal sebelumnya atau riwayat trauma lahir
pada persalinan sebelumnya dan nilai sosial anak yang tinggi (anak sangat
berharga).2,3

10.

Permintaan untuk sterilisasi

11.

Penolong yang kurang kompeten

Gambar :

11

Gambar: melahirkan bayi perabdominal dengan persentasi bokong


2.7. Zatuchni dan Andros Scoring
Zatuchni dan Andros telah melakukan suatu indeks prognosis untuk menilai lebih tepat
apakah persalinan dapat dilahirkan pervaginam atau perabdominal, sebagai berikut :
Kriteria
Paritas
Umur Kehamilan
Taksiran Berat Janin
Riwayat persalinan
sungsang
Pembukaan Serviks

Skor 0
0
>39 minggu
>3500 gr

Skor 1
1
38 minggu
2500 - 3500 gr

Skor 2
2
<37 minggu
<2500 gr

Tidak ada

1 kali

>2 kali

2 cm

3 cm

-3

-2

>4cm
-1 atau lebih

Station

rendah

Skor : < 4 : Persalinan per abdominal


5 : Dilahirkan pervaginam
2.8. PROGNOSIS
Resiko persalinan pervaginam pada presentasi bokong lebih tinggi dibandingkan dengan
persalinan presentasi kepala, yaitu :
1.

After coming head

2.

Nuchl arm ( tangan menjungkit )

3.

Prolaps tali pusat

4.

Perdarahan intracranial, robeknya selaput otak

5.

Asfiksia janin karena terjepit tali pusat


12

6.

Robekan pada pleksus brachialis sehingga menyebabkan parese lengan

7.

Pada ibu dapat timbul laserasi luas jalan lahir. 1,2,3,4

13

BAB III
KESIMPULAN

Persalinan pervaginam pada bayi dengan presentasi bokong memerlukan spesialis


obstetri dan ginekologi yang berpengalaman serta memerlukan konseling secara behati- hati
kepada orang tua. Walaupun penilitian tentang persalinan pada prsentasi bokong sangat
terbatas, Term Breech Trial menemukan peningkatan dari mortalitas pada perinatal dan
morbiditas. Orang tua harus diberikan informasi tentang resiko dan keuntungan terhadap ibu
dan neonatus untuk persalinan per vaginam maupun persalinan secara seksio sesaria. Diskusi
tentang resiko seharusnya tidak hanya terbatas pada kehamilan sekarang. Resiko untuk
kehamilan yang seterusnya seperti ruptur uteri dan abnormalitas dari penempelan plasenta
harus difikirkan juga. External cephalic version (ECV) merupakan alternatif paling aman
sebelum dilakukan pemilihan metode persalinan sama ada persalinan pervaginam maupun
seksio sesaria menurukan angka insidensi seksio sesaria sebanyak 50 %. ACOG (2000)
menyarankan ECV terhadap semua wanita dengan kehamilan presentasi bokong. Penggunaan
obat-obatan seperti tokolisis, anestesi regional dan stimulasi secara akustik bila diperlukan
dapat meningkatkan angka keberhasilan ECV.(5)

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Cuningham G, Leveno JK, William Obstetrics 22nd Edition, McGraw Hill, 2005
2. Prawirohardjo S, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo,
Edisi kedua, Jakarta, 2002.
3. Mochtar R, Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Penerbit Buku EGC, Jakarta, 1998
4. Vaginal Breech Delivery, available from Alarm International Second Edition, 108
5. Azhar M. Obstetric Companion For The Undergraduates. Malaysia: Royal College of
Medicine;2010:hal 383-97
6. Zoe P. Breech Presentation. High Risk Pregnancy Management Options. 4th Edition.
United States of America : Saunders and Elsvier;2011.hal 1101-21
7. Philip N. B. Breech Delivery. International Students Edition Obstetric by Ten
Teachers. 18th Edition. London: Edward Arnold;2006: hal 262-65

15

LAMPIRAN
STATUS ORANG SAKIT
SMF ILMU KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN
RS. HAJI MEDAN
I. Identitas Pasien

Nama

: Ny.S

Umur

: 38 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Sunda

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Pendidikan

: SMK

Alamat

: Jl. Kemuning Durun, No 14

Nomor RM

: 22.62.18

Tanggal Masuk

: 05-8-2015

Pukul

: 10.30 WIB

Identitas Suami

Nama

: Tn. H

Umur

: 39 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Mandailing

Pekerjaan

: Wiraswasta

Pendidikan

: SMK

Alamat

: Jl. Kemuning Durun, No 14

Anamnesis
Ny. S, 38 tahun G3P2A0, Islam, Sunda, SMK, IRT istri dari Tn. H, 39 tahun, Islam,
Mandailing, SMK, Wiraswasta, Jl. Kemuning Durun, No 14datang ke Rumah Sakit Haji
Medan Pada tanggal 05 Agustus 2015 pukul 10.00 WIB
Keluhan Utama : Rencana Sectio Caesaria tanggal 06/08/2015

16

Telaah : Riwayat mules-mules mau melahirkan (-), riwayat keluar lendir campur
darah dari kemaluan (-), riwayat keluar air-air dari kemluan (-).

BAK : (+) N

BAB : (+) N

RPT

: (-)

RPO

: (-)

ANC : Dokter 4x

Perdarahan Antepartum

Kapan mulai
Banyaknya
Rasa nyeri
Perdarahan ke
Darah beku
Trauma

: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)

Tanda-tanda Keracunan Hamil :

Edema
Pusing
Mual
Muntah
Nyeri ulu hati
Vertigo
: (-)
Gangguan Visus
Kejang-kejang
Koma

: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (+)
: (-)
: (-)

Anamnesa Ginekologi :

Menarche
Haid
Dysmenorrhea
Fluor Albus
HPHT
TTP
Hamil Kembar

Perdarahan Post Partum :


Anak ke
Kala
Retensio plasenta

: 13 tahun
: 7-8 hari (2-3x ganti duk/hari)
: (-)
: (-)
: 20-11-2014
: 27-08-2015
: (-)

: (-)
: (-)
: (-)
17

Placenta rest
Banyaknya
Atonia uteri

: (-)
: (-)
: (-)

Riwayat Persalinan :
1. Laki-laki, aterm, SC,SpOG, RS Haji, usia 3 hari, meninggal
2. Laki-laki, aterm, 3700 gram, PSP, bidan, klinik, usia 13 tahun,sehat
3. Hamil ini
Penyakit yang pernah diderita :

Anemi
Hipertensi
Peny.ginjal
Diabetea
Tuberculosis

: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)

Veneral diseasoes : (-)


Peny.jantung
: (-)
Reuma
: (-)
Operasi
: (-)

Pemeriksaan Fisik
Stasus present :

Sens : CM
TD
: 120/80 mmHg
HR
: 80 x/i
RR
: 20 x/i
T
: 36,80 C
TB
: 158 cm
BB
: 56 kg
Keadaan gizi : baik
Cor
: normal
Pulmo
: normal
THT
: normal

Anemis

: (-/-)

Ikterik

: (-/-)

Dyspnoe

: (-)

Sianosis

: (-)

Oedema

: (-)

Status Lokalisata

Abdomen : membesar, asimetris.

Fundus uteri : 3 jari dibawah processus xypoideus (34 cm)

Punggung : kanan

Bagian terbawah : bokong

Gerak janin : (+)

DJJ : 140 x/i, reguler

EBW : 3200-3400 gram

His : (-)
18

Pemeriksaan dalam (vaginal toucher)

VT

: Tidak Dilakukan Pemeriksaan

ST

:Lendir darah (-),air ketuban (-)

Pemeriksaan penunjang
USG TAS

JT,Persentasi Bokong
FM (+), FHR (+)
BPD
: 94,1 mm
FL
: 71,4 mm
AC
: 324,6 mm
Plasenta
: fundal
Air ketuban : cukup

Kesan : MG +KDR (36-38) minggu + P.Bokong + AH


Hasil laboratorium tanggal 05-08-2015 pukul 10.55 WIB
JENIS PEMERIKSAAN
HEMATOLOGI
Darah Rutin
Haemoglobin
Eritrosit
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
Index eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Hitung jenis leukosit
Eosinofil
Basofil
N.stab
N.seg
Limfosit
Monosit
Laju endap darah

HASIL

NILAI RUJUKAN

12,5 g/dl
4,0 10^6/L
6.800/L
36,2 %
261.000 /L

12-16
3,9-5,6
4,000-11,000
36-47
150.000-450.000

90,7 fl
*31,2 pg
*34,5%

80-96
27-31
30-34

2%
0%
*0 %
70 %
23 %
5%
*44 mm/jam

1-3
0-1
2-6
53-75
20-45
4-8
0-20

Diagnosa

: MG +KDR (36-38) minggu + P.Bokong + JT + AH + B.Inpartu

Penatalaksanaan
19

Terapi : Inj. Ceftriaxone 2 gr (skin tes) Profilaksis

Rencana : SC

Awasi vital sign, DJJ, His


(Lapor supervisor dr. Muslich Perangin-angin, Sp.OG)

Rencana Operasi : SC a/i P.Bokong

Laporan persalinan
Operator

: dr. Muslich Perangin-angin, Sp.OG

Tanggal

: 05/08/2015

Jam

: 10.00 WIB

Ibu dibaringkan di meja operasi dengan kateter dan infus terpasang dengan baik.

Dibawah spinal anestesi, dilakukan tindakan septik dengan cairan antiseptik betadin
dan alkohol 70% pada dinding abdomen lalu ditutup dengan duck steril kecuali
lapangan operasi.

Dilakukan insisi planennsteil mulai dari kutis, sub kutis. Dengan menyusupkan pinset
anatomis di bawahnya fascia di gunting kekanan dan kekiri, dan otot di kuakkan
secara tumpul, peritoneum di klem di dua sisi dan digunting keatas dan kebawah.

Tampak uterus gravidarum sesuai usia kehamilan, identifikasi SBR dan lig.
Rotundum.

Lalu plica vesicouterina digunting ke kiri dan ke kanan dan disisihkan ke bawah arah
blast secukupnya.

Uterus di insisi sampai menembus subendometrium,Kemudian endometrium ditembus


secara tumpul dan diperlebar sesuai arah sayatan.

Dengan menelusuri bokong, lahir bayi perempuan, BB = 2.800 gram, PB = 48cm A/S
= 8/9, Anus (+),(bayi posisi frank breech).

Tali pusat di klem didua tempat lalu digunting diantaranya.

Plasenta dilahirkan dengan traksi pada tali pusat dan penekanan pada fundus, kesan :
lengkap.

Kedua sudut kiri dan kanan tepi luka insisi dijepit dengan oval klem.

Kavum uteri dibersihkan dari sisa-sisa selaput ketuban dengan kasa steril terbuka
sampai tidak ada sisa selaput atau plasenta yang tertinggal. Kesan: bersih

Dilakukan penjahitan mulai dari uterus, peritoneum, otot, fascia, subkutis, kutis.

Luka operasi ditutup supratula lalu ditutup dengan kasa steril.


20

Liang vagina dibersihkan dari sisa-sisa darah dengan kapas sublimat hingga bersih.

KU ibu post sc : stabil

Instruksi
: awasi vital sign, kontraksi dan tanda tanda perdarahan
R/ - IVFD : RL + oxytosin drip 10-10-5-5 10 IU 20 gtt/i
- Inj. Ceftriaxone 1 gr /IV/12 jam
- Inj. Ketorolac
30 mg/8 jam
- Inj. Ranitidin
50 mg/12 jam

FOLLOW UP
Follow up tanggal 07 september 2015 pukul 06.00 WIB
S :O : Sensorium : Compos Mentis
Anemis
TD
: 120/70 mmHg
Ikterik
HR
: 60/menit
Dyspnoe
RR
: 20/menit
Sianosis
T
: 36,5C
Oedem
SL : Abdomen :Soepel, Peristaltik lemah
TFU : 2 jari dibawah umbilicus, kontraksi (+)
L/O : Tertutup perban, kesan kering
P/V : (-) lochia rubra (+)
BAK : (+) via kateter UOP : 110 cc/8jam kuning pekat.
BAB : (-)
Flatus : (-)
ASI : (-/-)
Diagnosa : Post SC a/i P.bokong +NH1
Terapi : IVFD RL+oxitocyn 10-10-5-5 IU 20 gtt/menit
Inj. Ceftriaxone
1 gr/8jam
Inj. Gentamicyn
80 g/8 jam
Inj. Ketorolac
30 mg/8 jam
Inj. Ranitidin
50 mg/12 jam
Rencana : lanjut terapi

: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)

Follow up tanggal 08 september 2015 pukul 06.00 WIB


S :O : Sensorium : Compos Mentis
Anemis
: (-)
TD : 110/70 mmHg
Ikterik
: (-)
HR
: 72x/menit
Dyspnoe
: (-)
RR
: 22x/menit
Sianosis
: (-)
T
: 36,3C
Oedem
: (-)
SL
: Abdomen
:Soepel, Peristaltik (+) N
TFU : 3 jari di bawah pusat, kontraksi baik
L/O : Tertutup perban, kesan kering
P/V : (-) lochia rubra (+)
BAK : via kateter,UOP :200 cc/8jam kuning jernih
BAB : (-)
Flatus : (+)
ASI :(-/-)
21

Diagnosa : Post SC a/i P.bokong + NH2


Terapi : IVFD RL+oxitocyn 10-10-5-5 IU 20 gtt/menit
Inj. Ceftriaxone
1 gr/12jam
Inj. Gentamicyn
80 g/8 jam
Inj. Ketorolac
30 mg/8 jam
Inj. Ranitidin
50 mg/12 jam
Rencana : lanjut terapi,aff kateter
Follow up tanggal 9 september 2015 pukul 06.00 WIB
S :O : Sensorium : Compos Mentis
Anemis
TD
: 120/80 mmHg
Ikterik
HR
: 80x/menit
Dyspnoe
RR
: 22x/menit
Sianosis
T
: 36,4C
Oedem
SL : Abdomen
: Soepel, Peristaltik (+)
TFU : 3 jari dibawah pusat,kontraksi (+)
L/O : Tertutup perban, kesan kering
P/V : (-) lochia rubra (+)
BAK : (+) spontan
BAB : (-)
Flatus : (+)
ASI : (+/+)
Diagnosa : Post SC a/i P.bokong + NH3
Terapi :
Cefadroxyl
3x500 gr
Asam mefenamat
3 x 500 gr
Neurodex
1x1
Rencana: Terapi dilanjutkan
Follow up tanggal 10 september 2015 pukul 06.00 WIB
S :O : Sensorium : Compos Mentis
Anemis
TD
: 120/80 mmHg
Ikterik
HR
: 68x/menit
Dyspnoe
RR
: 24x/menit
Sianosis
T
: 36C
Oedem
SL : Abdomen
: Soepel, Peristaltik (+)
TFU : 3 jari dibawah pusat,kontraksi (+)
L/O : Tertutup perban, kesan kering
P/V : (-) lochia rubra (+)
BAK : (+) spontan
BAB : (-)
Flatus : (+)
ASI : (+/+)
Diagnosa : Post SC a/i P.bokong + NH4
Terapi : Cefadroxyl
3x500 gr
Asam mefenamat
3 x 500 gr
Neurodex
1x1
R: Terapi oral

: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)

: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)

22

Kontrol Ulang 1 minggu kemudian


PBJ

23