Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tubuh yang normal mempunyai berbagai jenis mikroorganisme termasuk bakteri
dan jamur. Beberapa mikroorganisme tersebut berguna untuk tubuh, beberapa
memberikan keuntungan dan beberapa ada yang merugikan bagi manusia.
Kandidiasis (moniliasis) adalah suatu infeksi oleh jamur Candida, yang
sebelumnya disebut Monilia. Kandidiasis oral atau sering disebut sebagai moniliasis
merupakan suatu infeksi yang paling sering dijumpai dalam rongga mulut manusia,
dengan prevalensi 20%-75% dijumpai pada manusia sehat tanpa gejala. Kandidiasis pada
penyakit sistemik menyebabkan peningkatan angka kematian sekitar 71%-79%.
Terkadang yang diserang adalah bayi dan orang dewasa yang tubuhnya lemah. Pada bayi
bisa didapat dari dot, pakaian, bantal, dan sebagainya.
Kandidiasis oral merupakan salah satu penyakit pada rongga mulut berupa lesi
merah dan lesi putih yang disebabkan oleh jamur jenis Candida sp, dimana Candida
albican merupakan jenis jamur yang menjadi penyebab utama.
Oleh karena Kandidiasis ini meliputi infeksi yang berkisar dari yang ringan seperti
sariawan mulut dan vaginitis, sampai yang berpotensi mengancam kehidupan manusia.
Maka dari itu diperlukan beberapa penanganan dalam menyembuhkannya serta
mencegahnya. Di dalam makalah ini akan dibahas mengenai kandidiasis tersebut lebih
lanjut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu kandidiasis ?
2. Bagaimana Anatomi dan Fisiologi dari sistem integritas ?
3. Apa saja etiologi dari kandidiasis ?
4. Bagaimana patofisiologi dari kandidiasis ?
5. Bagaiamana WOC pada penyakit kandidiasis?
6. Apa saja Manifestasi Klinis dari kandidiasis ?
7. Apa saja Komplikasi yang terjadi pada penyakit kandidiasis ?
8. Bagaimana penatalaksanaan yang dilakukan pada klien kandidiasis ?
9. Apa saja pemeriksaan penunjang pada kandidiasis ?
10. Apa saja pengobatan yang dilakukan pada klien kandidiasis?
11. Bagaimana pencegahan pada penyakit kandidiasis ?
12. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada Kandidasiasis ?
1.3 Tujuan
Tujuan umum dari penulisan makalah ini di harapkan mahasiswa mampu
membuat asuhan keperawatan penyakit kandidiasis.
Tujuan dari penulisan makalah diharapkan mampu memahami dan menjelaskan :
1

1. Pengertian dari kandidiasis


2. Anatomi dan Fisiologi dari Sistem integritas
3. Etiologi dari kandidiasis
4. Patofisiologi dari kandidiasis
5. WOC pada penyakit kandidiasis
6. Manifestasi Klinis dari kandidiasis
7. Komplikasi yang terjadi pada penyakit kandidiasis
8. Penatalaksanaan yang dilakukan pada klien kandidiasis
9. Pemeriksaan penunjang pada kandidiasis
10. Pengobatan yang dilakukan pada klien kandidiasis
11. Pencegahan pada penyakit kandidiasis
12. Konsep Asuhan Keperawatan kandidasiasis.
1.4 Manfaat
Mahasiswa mampu memahami tentang penyakit moniliasis/kandidiasis serta
mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan moniliasis/kandidiasis
dengan pendekatan Student Centre Learning.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kandidiasis
Kandidiasis adalah suatu infeksi akut atau subakut yang disebabkan oleh Candidicia
albicans atau kadang-kadang oleh spesies kandida yang lain, yang dapat menyerang
berbagai jaringan tubuh. (Siregar, 2005)
Candidiasis atau kandidiasis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur
dari spesies Candida albicans.Adanya jamur pada diri manusia adalah hal yang alami dan
2

memang selalu ada pada diri manusia seperti di daerah mulut, tenggorokan, vagina, dan
pada sistem pencernaan lainnya.
Dalam kondisi normal (tidak berlebihan), kehadiran jamur Candidia albicans
sebernarnya

tidak

membahayakan.Pertumbuhan

jamur

yang

berlebihan

dapat

menyebabkan infeksi.
Penyakit candidiasis ini sangat rentan terhadap orang-orang yang memiliki sistem
imun yang lemah termasuk pada penderita AIDS, steroid berlebihan, kontrasepsi
hormone, diabetes, kanker, depresi, orang tua dan orang-orang dengan kondisi medis
yang kronis paling beresiko.Mengkonsumsi obat tertentu dalam jangka lama dapat
mempercepat pertumbuhan jamura candidia ini.
2.2 Anatomi dan fisiologi
1. Anatomi dan Fisiologi Mulut
Mulut merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air
pada manusia. Mulut terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari
sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus.
Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari
mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang
terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam,
asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit,
terdiri dari berbagai macam bau.
Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi
belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna.
Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut
dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung
antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri
secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.
2. Anatomi dan Fisiologi Kulit
Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh,
merupakan organ terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh,
pada orang dewwasa sekitar 2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 1,9 meter persegi.
Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur, dan
jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium, minus, dan kulit
bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak
kaki, punggung, bahu, dan bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis
yang berbeda. Lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal

dari ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis
atau korium yang merupakan lapisan jaringan ikat.

Kulit merupakan salah satu organik terbesar dari tubuh


dimana kulit membentuk 15% dari berat badan keseluruhan. Kulit
mempunyai daya regenerasi yang besar, misalnya jika kulit terluka,
maka sel-sel dalam dermis melawan infeksi lokal kapiler dan
jaringan ikat akan mengalami regenerasi epitel yang tumbuh dari
tepi luka menutupi jaringan ikat sehingga terbentuk jaringan parut
yang pada mulanya berwarna kemerahan karena meningkatkan
jumlah kapiler dan akhirnya berubah menjadi serabut kolagen
keputihan yang terlihat melalui epitel.
Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas 3 lapisan utama,
yaitu :
1. Lapisan epidermis
2. Lapisan dermis
3. Lapisan subkutis(hipodermis)
Epidermis
Epidermis adalah suatu lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari
epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit. Langerhans dan merkel.
Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh. Paling tebal pada
telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh
4

ketebalan kulit. Terjadi regenarasi setiap 4-6 % minggu. Epidermis terdiri atas lima
lapisan (dari lapisan paling atas sampai yang dalam) :
1. Stratum korneum : terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti
2. Stratum Lusidum berupa garis translusen biasanya terdapat pada kulit tebal
telapak
Dermis
Dermis merupakan lapisan kedua dari kulit, batas dengan epidermis dilapisi
oleh membran basalis dan disebelah bawah berbatasan dengan subkutis. Didalam
lapisan ini mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf dan juga
lapisannya elastik, fibrosanya padat dan terdapat folikel rambut

Hipodermis
Merupakan lapisan di bawah dermis yang terdiri dari lapisan lemak.Lapisan

ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan
dibawahnya.Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah di tubuh dan
keadaan nutrisi individu.Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk
regenerasi.Fungsi

subkutis/hipodermis,melekat

ke

struktur

dasar,isolasi

panas,cadangan kalori,kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorver.


2.3 Jenis-Jenis Candidiasis
Berbagai jenis kandidiasis mempunyai ciri khas yang bergantung pada alat-alat yang
terkena. Conant, 1971 (dalam Siregar, 2005) membagi kandidiasis dalam beberapa
kelompok meliputi: kandidiasis selaput lendir, kandidiasis kutis, dan reaksi id.

1. Kandidiasis selaput lendir, misalnya:


a. Kandidiasis oral
Disebut juga Oral trush, memberi gambaran klinis berupa stomatitis akut.
Pada selaput lendir mulut tampak bercak-bercak putih kekuninggan yang timbul
dari dalam selaput lendir yang merah yang disebut membran palsu.membran palsu
ini dapat meluas sampai menutupi lidah dan palatum mole.

Kandidiasis oral pada mukosa bibir, tampak bercak-bercak berupa membran


palsu
Lesi-lesi ini dapat juga terlepas dari selaput lendir sehingga dasarnya tampak
merah dan mudah berdarah.
Penderita selalu mengeluh sakit, terutama bila waktu tersentuh makanan.
Kandidiasis oral ini banyak diderita oleh bayi baru lahir, penderita penyakit
manahun yang mendapat antibiotik dalam waktu lama, atau penderita keganasan
yang mendapat obat sitostatik atau pengobatan dengan radiasi.
b. Perlece
Kelainan tampak pada kedua sudut mulut, yang terjadi perlunakan kulit yang
mengallami erosi. Dasarnya merah dan bibir menjadi pecah-pecah, kemudian
terjadi fisura pada kedua sudut mulut. Faktor predisposisi yang dapat
menimbulkan penyakit ini ialah kekurangan vitamin B2 (riboflavin), pada orang
tua yang tidak dapat menutup mulutnya dengan baik hingga air liur keluar terus.
Hal ini akan menyebabkan maserasi kedua sudut mulut.

Perlece pada sudut mulut, terlihat erosi dan fisura


c. Kandidiasis vaginitis dan vulvovaginitis
Vaginitis karena kandida selalu disertai oleh vulvovaginitis. Hal ini disebabkan
terjadi kontak langsung dari sekret-sekret vagina yang mengalami infeksi
sehingga daerah vulva ikut mengalami infeksi.
Pada mukosa vagina terlihat ada bercak putih kekuningan, meninggi dari
permukaan, yang disebut vaginal trush. Bercak-bercak ini terdiri dari gumpalan
jamur kandida, jaringan nekrotik, dan sel-sel epitel. Dari liang vagina keluar
sekret vagina yang mulala encer kemudian menjadi kental dan pada keadaan yang
menahun tampak seperti butir-butir tepung yang halus. Di dalam gumpalan sekret
ini terdapat elemen-elemen kandida dan epitel, dan secara kontinuitatum
menyebabkan infeksi di daerah vulva senhingga terjadi vulvovaginitis. Labia
minora dan mayora membengkak dengan ulkus-ulkus kecil bewarna merah
disertai dengan daerah yang erosi.
Kelainan ini dapat menjalar sampai ke kulit sekitarnya hingga seluruh kulit
lipat paha dan perineum menjadi merah, bengkak, erosi, dan terdapat lesi-lesi
satelit. Penderita selalu merasa gatal, panas, dan sakit pada waktu buang air kecil.
Faktor predisposisi untuk timbulnya vulvovaginitis adalah kegemukan.
Diabetes militus, higiene yang kurang, infeksi kronis di dalam vagina dan serviks,
serta pengaruh obat-obat antihamil dan kehamilan.
d. Kandidiasis balantis dan balanoptisis
Sering terjadi pada pria yang tidak dikhitan, di mana glans penis tertutup terus
oleh preputium.
Balantits tampak berupa bercak-bercak eritema dan erosi pada glan penis dan
sering disertai dengan pustulasi. Kelainan ini dapat meluas sampai sokrotum,
perineum, dan kulit di lipat paha, yang terlihat daerah-daerah eritematosa dan lesilesi satelit disertai rasa gatal dan rasa sakit atau panas.
Faktor predisposisi ialah tidak dikhitan, kegemukan, peminum alkohol,
hiperhidrosis, diabetes militus, penderita penyakit kronis atau keganasan dan
pemakai obat-obat antibiotik atau sitostatik.
e. Kandidiasis mukokutan kronis
Biasanya banyak ditemukan pada anak-anak dan penderita yang mengalami
bermacam-macam defisiensi. Kelainan-kelainan yang timbul berupa bercakbercak pada daerah-daerah mukokutan, erosi, dan pada perasaan timbul rasa panas
dan gatal. Penyakit ini merupakan infeksi persisten oleh kandida yang mengenai
yang resistensi terhadap semua pengobatan topikal karena penyakit ini sering
7

disertai dengan infeksi bakteri lain, dan karena adanya gangguan imunologik yang
bersifat herediter.
2. Kandidiasis kutis meliputi:
a. Lokalisata: intertriginosa dan daerah perianal
1) Kandidiasis intertriginosa

Lesi-lesi timbul pada tempat predileksi, yaitu daerah-daerah lipatan kulit,


seperti ketiak, bawah payudara, lipat paha, intergluteal, antara ari-jari tangan
dan jari-jari kaki, sekitar pusat, dan lipat leher.
Kelainan yang tampak berupa kemerahan kulit yang terbatas tegas, erosi
dan berisik. Lesi-lesi tersebut sering dikelilingi oleh lesi-lesi satelit berupa
vesikel-vesikel dan pustula milier, yang bila memecah meninggalkan daerahdaerah yang erosi dan selanjutnya dapat berkembang menyerupai lesi-lesi
primernya. Kelainan pada sela-sela jari sering ditemukan pada orang yang
banyak berhubungan dengan air, seperti tukang cuci atau petani sawah, orangorang yang memakai kaus dan sepatu terus-menerus.
Kandidiasis pada kaki dan sela-sela jari ini sering dikenal kutu air. Kulit
di sela-sela jari menjadi lunak, terjadi maserasi dan dapat mengelupas
menyerupai kepala susu.
Faktor predisposisi kandidiasis intertriginosa ini ialah diabetes melitus,
kegemukan , banyak keringat, pemakaian obat-obat antibiotik, kortikosteroid.
Sitostatik, dan penyakit-penyakit yang mrnyebabkan daya tahan tubuh
menurun.
2) Kansdidiasis perianal
Infeksi kandida pada kulit sekitar anus, yang banyak ditemukan pada
bayi-bayi, dikenal sebagai kandidiasis popok (Diaper rash). Hal ini sering
disebabkan oleh popok basah yang tidak segera diganti sehingga
menyebabkan iritasi kulit sekitar genitalia dan anus. Popok yang basah
menyebabkan maserasi kulit, dan karena adanya lubang-lubang alamiah (anus)
yang banyak mengandung kandida maka dapat tumbuh dengan subur dan
terjadilah kandidiasis perinal dan kandidiasis popok.
8

Kulit di sekitar anus, lipat paha, kemaluan, perineum, dan lipat pantat
menjadi merah, erosi, dan bersisik halus putih. Pemakaian antibiotik dan
kortokosteroid dapat menjadi faktor yang mempermudah terjadinya infeksi
kandida di daerah-daerah ini.

b. Kandidiasis kutis generalisata


Lesi terdapat pada glabrous skin. Biasanya daerah intertriginosa ikut terkena,
seperti lipat payudara, intergluteal, umblikus, ketiak, lipat paha, sering disertai
glossitis, stomatitis, dan paronikia. Kelainan dapat berupa eksematoid yang
disertai vesikel-vesikel dan pusrula-pustula milier yang generalisata.
c. Kandidiasis kutis granulomatosa
Bentuk ini sering menyerang anak-anak. Lesi berupa papul merah yang
ditutupi oleh krusta yang tebal bewarna kuning kecoklatan dan melekat erat pada
dasarnya, membentuk granuloma menyerupai tanduk.
Lokasi tersering adalah pada muka, kepala, tungkai dan di dalam rongga
faring. Otomikosis ialah infeksi jamur di ddalam liang telinga yang dapat
disebabkan oleh Candida albicans. Dikatakan bahwa 28,3% dari otomikosis
disebabkan oleh kandida.

3. Reaksi id
9

Kadidiasis id (kandididid) merupakan reaksi alergi dari kandida. Infeksi kandida


dari suatu tempat dapat memberikan reaksi alergi di tempat lain.
Kelainan-kelainan yang timbul berupa vesikel-vesikel steril yang keras, sangat
gatal, terutama terdapat di telapak kaki dan tangan, sepanjang jari-jari atau tempattempat lain. Apabila vesikel ini pecah terjadi skuamasi atau kulit yang mengelupas.
Kelainan alergi ini tidak dapat disembuhkan selama penyakit primernya belum
sembuh. Biasanya infeksi primer dapat disembuhkan dalam usus, vagina, atau selasela jari kaki dan tangan.

2.4 Etiologi
Penyebab utama kandidiasis ialah Candida albicans. Spesies lain seperti Candida
krusei, Candida stellatoidea, Candida tropicalis, Candida pseudotropicalis, dan Candida
parapsilosis, umumnya bersifat apatogen. (Siregar, 2005)
Kandida adalah tanaman yang termasuk ke dalam kelompok jamur. Menurut
Lodder, 1970 (dalam Siregar, 2005), taksonomi kandida adalah:
1. Termasuk kedalam kelompok Fungi imperfecti atau Deutromycota.
2. Famili
: Cryptococcaccae
3. Subfamili
: Candidoidea
4. Genus
: Candida
Spesies pada manusia meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Candida albicans
Candida stellatoidea
Candida tropicalis
Candida pseudotropicalis
Candida krusei
Candida parapsilosis
Candida guilliermondii
Sel-sel jamur kandida berbentuk bulat, lonjong, atau bulat lonjong dengan ukuran

2-5 x 3-6 sampai 2-5,5 x 5-28,5. Berkembang biak dengan memperbanyak diri
dengan spora yang tumbuh dari tunas, disebut blastospora. (Siregar, 2005)
Kandida dapat dengan mudah tumbuh di dalam media Sabauroud dengan
membentuk koloni ragi dengan sifat-sifat khas, yakni: menonjol dari permukaan
medium, permukaan koloni halus, licin, bewarna putih kekuning-kuningan, dan
berbau ragi. Jamur kandida dapat hidup di dalam tubuh manusia, hidup sebagai parasit
10

atau saprofit, yaitu di dalam alat percernaan, alat pernapasan, atau vagina orang sehat.
Pada keadaan tertentu, sifat kandida ini dapat berubah menjadi patogen dan dapat
menyebabkan penyakit yang disebut kandidiasis atau kandidosis. (Siregar, 2005)
Penyebab kandidiasis ini adalah jamur jenis Candida. Jamur jenis ini adalah
jamur yang sangat umum terdapat di sekitar kita dan tidak berbahaya pada orang yang
mempunyai imun tubuh yang kuat. Candida ini baru akan menimbulkan masalah pada
orang-orang yang mempunyai daya tahan tubuh rendah, misalnya penderita AIDS,
pasien yang dalam pengobatan kortikosteroid dan tentu saja bayi yang system
imunnya belum sempurna.
Jamur Candida ini adalah jamur yang banyak terdapat di sekitar kita, bahkan
di dalam vagina ibu pun terdapat jamur candida. Bayi bias saja mendapatkan jamur ini
dari alat-alat seperti dot dan kampong atau bias juga mendapatkan candida dari vagina
ibu ketika persalinan.
Selain itu, kandidiasis oral ini juga dapat terjadi akibat keadaan mulut bayi
yang tidak bersih karena sisa susu yang diminum tidak dibersihkan sehingga akan
menyebabkan jamur tumbuh semakin cepat.
Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya candida pada seseorang
digolongkan dalam dua kelompok :
1. Faktor endogen
a. Perubahan fisiologi tubuh yang terjadi pada :
i. Kehamilan, terjadi perubahan di dalam vagina
ii. Obesitas, kegemukan menyebabkan banyak keringat, mudah terjadi
iii.

maserasi kulit, memudahkan infestasi candida.


Endokrinopatti, gangguan konsentrasi gula dalam darah, yang pada

iv.

kulitakan menyuburkan pertumbuhan candida


Penyakit menahun, seperti tuberculosis,

v.

karsinomadan leukemia
Pengaruh pemberian obat-obatan, seperti antibiotic, kortikosteroid dan

vi.

sitostatik
Pemakaian alat-alat di dalam tubuh, seperti gigi palsu, infus dan

lupus

eritematosus,

kateter.
b. Umur
Orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status
iRmunologinya tidak sempurna.
c. Gangguan imunologis

11

Pada penyakit genetic seperti Atopik dermatitis, infeksi candida mudah


terjadi.

2. Factor eksogen
a. Iklim panas dan kelembaban menyebabkan banyak keringat terutama pada
lipatan kulit, menyebabkan kulit maserasi, dan ini mempermudah invasi
candida.
b. Kebiasaan dan pekerjaan yang banyak berhubungan dengan air mempermudah
invasi candida.
c. Kebersihan dan kontak dengan penderita. Pada penderita yang sudah terkena
infeksi (kandidiasis di mulut) dapat menularkan infeksi kepada pasangannya
melalui ciuman.
Kedua factor eksogen dan endogen ini dapat berperan menyuburkan
pertumbuhan candida atau dapat mempermudah terjadinya invasi candida ke dalam
jaringan tubuh.
2.5 Patofisiologi
Kandidiasis oral sering disebabkan oleh candida albicans, atau kadang oleh
candida glabrata dan candida tropicalis. Jamur candida albicans umumnya memang
terdapat di dalam rongga mulut sebagai saprofit sampai terjadi perubahan keseimbangan
flora mulut atau perubahan mekanisme pertahanan lokal dan sistemik, yang menurunkan
daya tahan tubuh. Baru pada keadaan ini jamur akan berproliferasi dan menyerang
jaringan. Hal ini merupakan infeksi jamur rongga mulut yang paling sering ditemukan.
Penyakit yang disebabkan jamur candida albicans ini yang pertumbuhannya dipelihara
dibawah pengaturan keseimbangan bakteri yang normal. Tidak terkontrolnya
pertumbuhan candida karena penggunaan kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama
dan penggunaan obat-obatan yang menekan sistem imun serta penyakit yang menyerang
sistem imun seperti Aquired Immunodeficiency Sindrome (AIDS). Namun bisa juga
karena gangguan keseimbangan mikroorganisme dalam mulut yang biasanya
dihubungkan dengan penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol. Sehingga, ketika
pertahanan tubuh/antibodi dalam keadaan lemah, jamur candida albicans yang dalam
keadaan normal tidak memberikan reaksi apapun pada tubuh berubah tumbuh tak

12

terkontrol dan menyerang sistem imun manusia itu sendiri yang menimbulkan penyakit
disebut candidiasis oral atau moniliasis.
Kelainan yang disebabkan oleh spesies kandida ditentukan oleh interaksi yang
komplek antara patogenitas fungi dan mekanisme pertahanan pejamu. Faktor penentu
patogenitas kandida adalah :
1. Spesies : Genus kandida mempunyai 200 spesies, 15 spesies dilaporkan dapat
menyebabkan proses pathogen pada manusia. C. albicans adalah kandida yang paling
tinggipatogenitasnya.
2. Daya lekat : Bentuk hifa dapat melekat lebih kuat daripada germtube, sedang
germtube melekat lebih kuat daripada sel ragi. Bagian terpenting untuk melekat
adalah suatu glikoprotein permukaan atau mannoprotein. Daya lekat juga dipengaruhi
oleh suhu lingkungan. `
3. Dimorfisme : C. albicans merupakan jamur dimorfik yang mampu tumbuh dalam`
kultur sebagai blastospora dan sebagai pseudohifa. Dimorfisme terlibat dalam
patogenitas kandida.Bentuk blastospora diperlukan untuk memulai suatu lesi pada
jaringan dengan mengeluarkan enzim hidrolitik yang merusak jaringan. Setelah terjadi
lesi baru terbent`
uk hifa yang melakukan invasi.
4. Toksin : Toksin glikoprotein mengandung mannan sebagai komponen toksik.
Glikoprotein khususnya mannoprotein berperan sebagai adhesion dalam kolonisasi
jamur. Kanditoksin sebagai protein intraseluler diproduksi bila C. albicans dirusak
secara mekanik
5. Enzim : Enzim diperlukan untuk melakukan invasi. Enzim yang dihasilkan oleh
C.albicans ada 2 jenis yaitu proteinase dan fosfolipid.
Mekanisme pertahanan pejamu :
1. Sawar mekanik : Kulit normal sebagai sawar mekanik terhadap invasi kandida.
Kerusakan mekanik pertahanan kulit normal merupakan faktor predisposisi terjadinya
kandidiasis.
2. Substansi antimikrobial non spesifik : Hampir semua hasil sekresi dan cairan
dalammamalia mengandung substansi yang bekerja secara non spesifik menghambat
atau membunuh mikroba.
3. Fagositosis dan intracellular killing : Peran sel PMN dan makrofag jaringan untuk
memakan dan membunuh spesies kandida merupakan mekanisme yang sangat penting
untuk menghilangkan atau memusnahkan sel jamur. Sel ragi merupakan bentuk
kandida yang siapdifagosit oleh granulosit. Sedangkan pseudohifa karena ukurannya,
susah difagosit.Granulosit dapat juga membunuh elemen miselium kandida. Makrofag

13

berperan dalammelawan kandida melalui pembunuhan intraseluler melalui system


mieloperoksidase (MPO).
4. Respon imun spesifik : imunitas seluler memegang peranan dalam pertahanan
melawaninfeksi kandida. Terbukti dengan ditemukannya defek spesifik imunitas
seluler padapenderita kandidiasi mukokutan kronik, pengobatan imunosupresif dan
penderita dengan infeksi HIV.
Menempelnya mikroorganisme dalam jaringan sel pejamu menjadi syarat
mutlak untuk berkembangnya infeksi.Secara umum diketahui bahwa interaksi antara
mikroorganisme dan sel pejamu diperantarai oleh komponen spesifik dari dinding sel
mikroorganisme, adhesindan reseptor. Manan dan manoprotein merupakan molekulmolekul Candida albicans yang mempunyai aktifitas adhesif. Khitin, komponen kecil
yang terdapat pada dinding sel Candidaalbicans juga berperan dalam aktifitas adhesif.
Pada umumnya Candida albicans berada dalam tubuh manusia sebagai saproba dan
infeksi baru terjadi bila terdapat faktor predisposisi pada tubuh pejamu.

2.6 WOC
Penggunaan kortikosteroid dan antibiotik
yang takterkontrol, immunodefisiensi

System imun turun

Gangguan keseimbangan flora


normal di mulut (candida
14
albicans)

Pertumbuhanjamur
yang tak terkontrol
Sisa susupada mulut bayi
Tidak dibersihkan
Menyerang system imun

Mulut bayi kotor

Proses infeksi

Timbul bercak
putih di mulut

Kandidiasis oral
Nyeri pada mulut

Nafsu makan
turun
Nutrisi Kurang dari
Kebutuhan tubuh

Perubahan persepsi
sensori pengecapan

Candida bermetastase

Menghamba timplus
syaraf pengecap

Ke faring
Nyeri pada faring

Suhu tubuh

Menggumpal menutup
permukaan lidah

Tidak dapat
mengecap rasa

Proses peradangan

Gejala makin berat

Peningkatan hormone
prostatglandin, bradikinin,
histamin

Bercak kemerahan
dengan eksudat
berwarna putih

Hipertermi
Nyeri Akut

2.7 Manifestasi klinis


Gejala yang timbul adalah adanya bercak putih pada lidah dan sekitar mulut
bayi dan sering menimbulkan nyeri. Bercak putih ini sekilas tampak seperti kerak

15

susu namun sulit dilepaskan dari mulut dan lidah bayi. Bila dipaksa dikerok, tidak
mustahil justru lidah dan mulut bayi dapat berdarah.
Infeksi mulut oleh spesies candida biasanya memunculkan kumpulan lapisan
kental berwarna putih atau krem pada membran mukosa (dinding mulut dalam). Pada
mukosa mulut yang terinfeksi mungkin muncul radang berwarna merah, nyeri, dan
terasa seperti terbakar.
Secara umum kandidiasis pada mulut bayi tidak berbahaya dan dapat sembuh
sendiri (walaupun lebih baik diobati). Namun bukan berarti kandidiasis ini tidak dapat
menyebabkan penyakit lain. Kandidiasis dapat menyebabkan bayi menangis saat
makan dan minum (kebanyakan disebabkan karena nyeri), selain itu, bayi menjadi
malas minum ASI sehingga berat badannya tak kunjung bertambah. Candida pada
mulut bayi juga dapat bermigrasi ke organ lain bila ada faktor yang memperberat
(misalnya pemakaian antibiotik jangka panjang).
a) Masa bayi ( untuk diagnosis )
1.
2.
3.
4.
5.

Perdarahan berkepanjangan setelah sirkumsisi.


Ekimosis subkutan diatas tonjolan tonjolan tulang (saat berumur 3 4 bulan ).
Hematoma besar setelah infeksi.
Perdarahan dari mukosa oral.
Perdarahan jaringan lunak.

b) Episode perdarahan ( selama rentang hidup ).


1.
2.

Gejala awal, yaitu nyeri.


Setelah nyeri, yaitu bengkak, hangat dan penurunan mobilitas.

c) Sekuela jangka panjang.


Perdarahan berkepanjangan dalam otot dapat menyebabkan kompresi saraf dan fibrosis
otot.
Umumnya perdarahan jaringan pada bagian dalam dan Hemartosis yang bisa
timbul kembali oeh trauma. Perdarahan Hetroperitoneal dan perdarahan intrakarnial yang
berpotensisangat dapat membahayakan kehidupan.Penyakit ini, yang bisa sangat berat
ditandai dengan memar besar dan meluas, perdarahan ke dalam otot, sendi, dan jaringan
lunak meskipun hanya akibat trauma kecil. Pasien sering merasakan nyeri pada sendi
sebelum tampak adanya pembengkakan dan keterbatasan gerak.
Perdarahan sendi yang berulang dapat mengakibatkan kerusakan berat sampai
terjadi nyeri kronis dan ankilosis (fiksasi) sendi. Kebanyakan pasien mengalami
kecatatan akibat kerusakan sendi sebelum mereka dewasa. Hematuria spontan dan
perdarahan Gastrointestinal dapat terjadi.
16

Penyakit ini sudah diketahui saat awal masa anak-anak biasanya terjadi pada usia
sekolah.Sebelum tersedia konsentrat faktor VIII, kebanyakan pasien meninggal akibat
komplikasi Hemofilia sebelum mereka mencapai usia dewasa. Ada juga penderita
Hemofilia dengan defisiensi yang ringan, mempunyai sekitar 5% dengan 25% kadar
faktor VIII dan IX normal. Pasien seperti ini tidak mengalami nyeri dan kecatatan pada
otot maupun perdarahan sendi, namun mengalami perdarahan ketika cabut gigi atau
operasi. Namun demikian perdarahan tersebut dapat berakibat fatal apabila penyebabnya
tidak diketahui dengan segera.
2.8 Komplikasi
1. Perubahan tulang, osteoporosis, dan atrofi otot, menyebabkan deformitas berat
sebagai konsekuensi hemartrosis.
2. Perdarahan intracranial jarang terjadi, namun jika terjadi dapat berakibat fatal.
3. Perdarahan gastrointestinal menyebabkan obstruksi intestinal.
4. Hematoma pada tulang belulang menyebabkan paralisis. Hematoma intramuscular
terjadi pada otot-otot fleksor besar, khususnya pada otot betis, otot-otot region
iliopnas (sering pada panggul) dan lengan bawah. Hematoma ini sering menyebabkan
kehilangan darah yang nyata, sindrom kompartemen, kompresi saraf dan kontraktur
otot.
5. perdarahan retroperitoneal dan retrofaringeal yang membahayakan jalan napas dapat
mengancam kehidupan.
6. Hematuria massif sering ditemukan yang menyebabkan kolik ginjla tetapi tidak
mengancam kehidupan.
7. Diseminasi dengan gagal organ pada ginjal,otak,saluran cerna,mata,paru,dan jantung.
2.9 Penatalaksanaan
I. Terapi Suportif
1. Pengobatan rasional pada hemofilia adalah menormalkan kadar faktor anti
hemofilia yang kurang.
2. Melakukan pencegahan baik menghindari luka atau benturan.
3. Merencanakan suatu tindakan operasi serta mempertahankan kadar aktivitas faktor
pembekuan sekitar 30-50%
4. Untuk mengatasi perdarahan akut yang terjadi maka dilakukan tindakan pertama
seperti rest, ice, compression, elevation (RICE) pada lokasi perdarahan
Rest (istirahat), usahakan seseorang diistirahatkan dan tidak melakukan apapun.
Ice (kompres dengan menggunakan es), kompres ini berguna untuk menciutkan

pembuluh darah dan es juga bisa berfungsi sebagai penghilang nyeri.


Compression (ditekan atau dibalut), untuk mengurangi banyaknya darah yang
keluar.

17

Elevation (ditinggikan), usahakan daerah yang mengalami luka berada pada

posisi yang lebih tinggi.


5. Kortikosteroid
Pemberian kortikosteroid sangat membantu untuk menghilangkan proses inflamasi
pada sinovitis akut yang terjadi setelah serangan akut hemartrosis. Pemberian
prednisone 0,5-1 mg/kg BB/hari selama 5-7 hari dapat mencegah terjadinya gejala
sisa berupa kaku sendi(artrosis) yang menggangu aktivitas harian serta menurunkan
kualitas hidup pasien hemofilia.
6. Analgetika
Pemakaian analgetika diindikasikan pada pasien hemartrosis dengan nyeri hebat, dan
sebaiknya dipilih analgetika yang tidak mengganggu agregasi trombosit (harus
dihindari pemakaian aspirin dan antikoagulan).
7. Rehabilitasi medik
Sebaiknya dilakukan sedini mungkin secara komprehensif dan holistic dalam sebuah
tim,

karena

keterlambatan

pengelolaan

akn

mnyebabakna

kecacatan

dan

ketidakmampuan fisik, okupasi maupun psikososial dan edukasi.


Rehabilitasi medik arthritis hemofilia meliputi : latihan pasif/aktif, terapi dingin dan
panas penggunaan ortosis, terapi psikososial dan terapi rekreasi serta edukasi.
II. Terapi pengganti Faktor pembekuan
1. Pemberian faktor pembekuan dilakukan 3 kali seminggu untuk menghindari
kecacatan fisik (terutama sendi) sehingga pasien hemofilia dapat melakukan
aktivitas normal. Namun untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan faktor anti
hemofilia (AHF) yang cukup banyak dengan biaya yang tinggi.
2. Terapi pengganti faktor pembekuan pada kasus hemofilia dilakukan dengan
memberikan FVIII atau FIX, baik rekombinan, konsentrat maupun komponen
darah yang mengandung cukup banyak faktor-faktor pembekuan tsb. Pemberian
biasanya dilakukan dalam beberapa hari sampai luka atau pembengkakan
membaik, serta khususnya selama fisioterapi.
III. Konsentrat F VIII/ F IX
Hemofilia A berat maupun ringan dan sedang dengan episode perdarahan yang
serius membutuhkan koreksi factor pembekuan dengan kadar yang tinggi yang harus
diterapi dengan konsentrat F VIII yang telah dilemahkan virusnya.
Faktor IX tersedia dalam 2 bentuk yaitu prothombin complex concentrates
(PCC) yang berisi F II, VII, IX, dan X tanpa faktor yang lain. PCC dapat
menyebabkan thrombosis paradoksial dan koagulasi intravena tersebar yang
disebabkan oleh sejumlah konsentrat factor pembeku lain. Risiko ini dapat meningkat
pemberian F IX berulang, sehingga purified konsentrat F IX lebih diinginkan.

18

Waktu paruh F VIII adalah 8-12 jam, sedangkan F IX 24 jam dan vulome distribusi
dari F IX kira-kira 2 kali dari F VIII.
Kebutuhan F VIII dan F IX dihitung berdasarkan rumus :
I.
Volume plasma (VP) = 40 ml/kgBB x BB (Kg) F VIII/F IX yang diinginkan
(U) =
VP x (kadar yang diinginkan (%) kadar sekarang (%)
100
II.
F VIII yang diinginkan (U) = BB (kg) x kadar yang diinginkan (%) /2
F IX yang diinginkan (U) = BB (kg) x kadar yang diinginkan (%)
IV. Kriopresipitat AHF
Kriopresipitat AHF adalah salah satu komponen darah non selular yang
merupakan konsentrat plasma tertentu yang mengandung F VIII, fibrinogen, factor
von Willebrand. Dapat diberikan apabila konsentrat F VIII tidak di temukan. Satu
kantong kriopresipitat berisi 80-100 U F VIII. Satu kantong kriopresipitat yang
mengandung 100 U F VIII dapat meningkatkan F VIII 35 %. Efek samping yang
mungkin terjadi yaitu reaksi alergi dan demam.
V. 1-deamino 8-D Arginin Vasopresin. (DDAVD) atau desmopresin
Hormon sintetik anti direutik (DDVAD) merangsang peningkatan kadar
aktivitas F VIII dalam plasma sampai 4 kali, namun bersifat sementara. Sampai saat
ini mekanisme kerja DDVAD belum diketahui seluruhnya, tetapi dianjurkan untuk
penderita hemofilia A ringan dan sedang dan juga pada karier perempuan simtomatik.
Pemberian dapat secara intravena dengan dosis 0,3mg/kg BB dalam 30-50 NACl 0.9
% selama 15-20 menit dengan lama kerja 8 jam. Efek puncak pada pemberian ini
dicapai dalam waktu 30-60 menit.
Pemberian DDAVD untuk pencegahan etrhadap kejadian perdarahan sebeiknya
dilakukan setiap 12-24 jam.
Efek samping dapat terjadi berupa takikardia, flusthing, trombosis, dan hiponatremia.
Juga bisa timbul angina pada pasien AJK.
VI. Antifibronilitik
Preparat antifibronilitik digunakan

pada

pasien

hemofilia

untuk

menstabilkan bekuan/fibrin dengan cara menghambat proses fibrinolisis. Hal ini


ternyata sangat membantu pengelolaan pasien hemofilia dengan perdarahan; terutama
kasus perdaraham mukosa mulut akibat ekstraksi gigi karena saliva banyak
mengandung enzim fibrinolitik. Epsilon aminocaproic acid (EACA) dapat diberikan
secara oral maupun intravena setiap 6 jam (maksimum 5 g setiap pemberian). Asam
traneksamat diberikan dengan dosis 25 mg/kg BB (maksimum 1,5 g) secara oral, atau
10 mg/kg BB (maksimum 1 g) secara intravena setiap 8 jam. Asam traneksamat juga
VII.

dapat dilarutkan 10% bagian dengan cairan parenteral terutama slain normal.
Terapi gen
19

Penelitian terapi gen menggunakan vector retrovirus, adenovirus, dan adenoassociated virus memberikan harapan baru bagi pasien hemofilia. Saat ini sedang
intensif dilakukan invivo dengan memindahkan vector adenovirus yang membawa
gen antihemofilia ke dalam sel hati. gen F VII relative lebih sulit dibandingkan F IX,
karena ukurannya (9 kb) lebih besar, namun akhir tahun 1998 para ahli berhasil
melakukan pemindahan plasmid-based factor VIII secara exvivo ke fibrolas.
b. Penatalaksanaan Keperawatan.
1.
2.
3.
4.
5.

Memperhatikan perawatan gigi agar tidak mengalami pencabutan gigi.


Istirahatkan anggota tubuh dimana ada luka.
Gunakan alat bantu seperti tongkat bila kaki mengalami perdarahan.
Kompreslah bagian tubuh yang terluka dan daerah sekitar dengan es.
Tekan dan ikat, sehingga bagian tubuh yang mengalami perdarahan tidak bergerak

( immobilisasi ).
6. Letakkan bagian tubuh tersebut dalam posisi lebih tinggi dari posisi dada dan letakkan
diatas benda yang lembut.

II.10

Pemeriksaan penunjang

a) Laboratorium : ditemukan adanya jamur candida albicanspada swab mukosa


b) Pemeriksaan endoskopi : hanya di indikasikan jika tidak terdapat perbaikan dengan
pemberian flukonazol.
c) Dilakukan pengolesan lesi dengan toluidin biru 1% topikal dengan swab atau kumur.
d) Diagnosa pasti dengan biopsi

20

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
3.1 Pengkajian
3.1.1. Identitas klien
Meliputi nama lengkap, tempat tanggal lahir, umur, alamat, asal kota, dan daerah, asal
suku bangsa, nama orangtua dan pekerjaan orangtua.
3.1.2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama: Penyebab utama klien dibawa kerumah sakit.
Terdapat membran palsu yang menutupi lidah dan palatum mole yang terasa nyeri
dan mengalami perdarahan.
b. Riwayat kesehatan saat ini: Adanya tanda dan gejala klinis berupa tidak nafsu
makan dan sakit pada mulut. Riwayat penyakit dahulu:mengidentifikasi adanya
faktor-faktor penyulit atau faktor yang membuat kondisi pasien menjadi lebih
parah. Dengan adanya penyakit terdahulu seperti HIV AIDS dan penderita
penyakit menahun yang mendapat antibiotik dalam waktu lama, atau penderita
keganasan yang mendapat obat sitostatik atau pengobatan dengan radiasi.

21

c. Riwayat penyakit keluarga: adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga
yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang. Adanya anggota
keluarga yang menderita kandidiasis.
d. Kondisi lingkungan: Iklim panas dan kelembaban menyebabkan banyak keringat
terutama pada lipatan kulit, menyebabkan kulit maserasi, dan ini mempermudah
invasi candida.
3.1.3. Pola Fungsional Gordon
a. Pola presepsi dan penanganan kesehatan
keluhan tentang nyeri pada mulut dan tidak bisa bersentuhan dengan makanan,
terjadi perdarahan , ada atau tidaknya penanganan terhadap keluhan tersebut
b. Pola aktivitas-latihan
adanya kesukaran dalam melakukan aktivitas, nyeri, mudah lelah.
c. Pola nutrisi dan metabolik
Kahilangan nafsu makan. Kehilangan sensasi pada lidah.
d. Pola eliminasi
Adanya perubahan pola eliminasi.
e. Pola tidur dan istirahat
Kesukaran untuk istirahat karena nyeri.
f. Pola konseptual-presepsi
Adanya membran palsu pada mulut yang dapat terlepas dan mengakibatkan
perdarahan.
g. Pola toleransi diri-koping stres
Membicarakan masalah kesehatan dengan keluarga atau orang terdekat
h. Pola presepsi diri-konsep diri
Perasaan cemas terhadap penyakit dan kecurigaan terhadap penyakit yang
diderita.
i. Pola peran hubungan
Hubungan klien terhadap keluarga tetap harmonis, terganggunya peran dalam
keluarga dan status pekerjaan. Adanya kesulitan untuk bekerja dalam kondisi
sakit yang diderita.
j. Pola seksual-reproduktif
Kurang terpenuhinya pola seksual
k. Pola nilai kepercayaan
Masih lancarnya dalam melaksanakan ibadah dan aspek spiritual terpenuhi.
3.1.4. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan tanda tanda vital
Terlebih dahulu perlunya pemeriksaan tanda-tanda vital:tekanan darah
(TD), nadi, Respiratory Rate(RR) dan suhu penting untuk dilakukan untuk
mengetahui tanda awal ketidak stabilan hemodinamik tubuh, gambaran dari

22

tanda vital yang tidak stabil merupakan indikasi dari peningkatan atau
penurunan kondisi perfusi jaringan.

Suhu : lebih dari 38 derajat celcius

Frekuensi pernapasan : lebih 30 x/menit

Tekanan darah :kurang dari 99/65 mmhg

Nadi : diatas 110x/menit

3.1.5 Analisa Data


Data
DS :
anak menangis
DO:
T : 38,5oC

Etiologi

Problem

Kandidasis

Hipertermi

Proses infeksi
pelepasan medaitor inflamasi:
bradikinin, histamine, dan
prostatglandin
Suhu tubuh meningkat

DS :
Kandidiasis
Anak menangis
Timbul bercak putih
DO:
Timbul bercak
Menggumpal menutup
putih pada mulut,
permukaan lidah
timbul
bercak
Gejala semakin memberat
kemerahan
mengandung
Timbul bercak kemerahan dan
eksudat
mengandung eksudat

DS:
Anak menangis
DO:
Anak tidak mau
minum ASI, BB
turun dari 12 kg
menjadi 10 kg,
porsi
makan
selalu tidak habis

Kandidiasis
Nyeri pada mulut

Nyeri akut

Perubahan nutrisi kurang


dari kebutuhan

Tidak nafsu makan

23

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
Batasan karakteristik pada diagnosa hipertermia adalah :
Objektif
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Kulit merah
Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal
(Frekuensi nafas meningkat)
Kejang atau konvulsi
(Kulit) teraba hangat
Takikardia
Takipnea

2. Nyeri akut berhubungan dengan proses infeksi yang menghasilkan bentukan berwarna
merah dan mengandung eksudat.
Batasan karakteristik pada diagnos nyeri akut adalah :
Subjektif
1) Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan (nyeri) dengan isyarat.
Objektif
1) Posisi untuk menghindari nyeri
2) Perubahan tonus otot (dengan rentang lemas tidak bertenaga sampai kaku)
3) Respons
autonomik
(misalnya,diaphoresis;
perubahan
tekanan
darah,pernapasan,atau nadi; dilatasi pupil)
4) Perubahan selera makan
5) Perilaku distraksi (misalnya,mondar-mandir,mencari
lain,aktivitas berulang)
6) Pelaku
ekspresif

orang

dan/aktivitas

(misalnya,gelisah,merintih,menangis,kewasoadaan

berlebihan,peka terhadap rangsang,dan menghela nafas panjang)


7) Wajah topeng (nyeri)
8) Perilaku menjaga atau sikap melindungi
9) Focus menyempit (misalnya,gangguan persepsi waktu,gangguan

proses

piker,interaksi dengan orang lain atau lingkungan menurun)


10) Bukti nyeri yang dapat diamati
11) Berfokus pada diri sendiri
12) Gangguan tidur (mata terlihat kuyu,gerakan tidak teratur atau tidak menentu,dan
menyeringai).
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan nafsu
makan.
Batasan karakteristik pada diagnose perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan adalah :
1) Berat badan kurang dari 20% atau lebih dibawah berat badan ideal untuk tinggi
badan dan rangka tubuh.
24

2) Asupan makanan kurang dari kebutuhan metabolik,baik kalori total maupun zat
gizi tertentu (non-NANDA International).
3) Kehilangan berat badan dengan asupan makanan yang adekuat
4) Melaporkan asupan makanan yang tidak adekuat kurang dari recommended daily
allowance (RDA)
Subjektif
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Kram abdomen
Nyeri abdomen ( dengan atau tanpa penyakit)
Menolak makan
Persepsi ketidakmampuan untuk mencerna makanan
Melaporkan perubahan sensasi rasa
(Melaporkan) kurangnya makanan
Merasa cepat kenyang setelah mengonsumsi makanan

Objektif
1) Pembuluh kapiler rapuh
2) Diare atau steatore
3) (Adanya bukti) kekurangan makanan
4) Kehilangan rambut yang berlebihan
5) Bising usus hiperaktif
6) Kurang informasi,informasi yang salah
7) Kurangnya minat terhadap makanan
8) Salah paham
9) Membrane mukosa pucat
10) Tonus otot buruk
11) Menolak untuk makan (non-NANDA international)
12) Rongga mulut terbuka
13) Kelemahan otot yang berfungsi untuk menelan atau mengunyah.
3.3 Intervensi Keperawatan
DIAGNOSA
Hipertermi

NOC

NIC

Termoregulasi

Regulasi Temperature

Tidak

adanya

Monitor temperatur tiap 2 hari

perubahan warna kulit


Berkeringat
ketika

Selalu sediakan alat untuk memonitr

panas
Menggigil

dingin
Melaporkan
kenyamanan

ketika

suhu inti
Monitor tekanan darah, nadi dan
respirasi

tingkat

panas
Tidak ada kejang
Adanya tonjolan bulu

Monitor warna kulit dan temperatur

Monitor dan laporkan tanda dan gejala


hipotermia dan hipertermia

Pantau asupan nutrisi dan cairan yang


25

roma ketika dingin


Termoregulasi

adekuat

dan kemungkinan efek negatif dari

Neonatus
-

Suhu normal
Tidak ada distress

pernapasan
Warna kulit normal
Tidak ada letergi
Status

dingin yang berlebihan

Atur temperatur lingkungan sesuai


kebutuhan pasien

tanda-tanda

Atur pemberian obat anti piretik

Monitor tanda-tanda vital

vital
-

Diskusikan pentingnya termoregulasi

Mengukur tekanan darah, denyut nadi,


temperature, dan status pernafasan,

Temperature normal
Denyut nadi normal
Pernafasan normal
Tekanan darah normal

jika diperlukan
Mencatat gejala dan turun naiknya

tekanan darah
Mengukur tekanan darah ketika pasien
berbaring, duduk, dan berdiri, jika

diperlukan
Auskultasi tekanan darah pada kedua
lengan

dan

bandingkan,

diperlukan
Mengukur tekanan darah, nadi, dan
pernafasan

sebelum,

selama,

dan

setelah beraktivitas, jika diperlukan


Mempertahankan suhu alat pengukur,

jika diperlukan
Memantau dan mencatat tnda-tanda
dan

syimptom

hypothermia

dan

hyperthermia
Memantau timbulnya dan mutu nadi
Mengukur warna kulit, temperature,

dan kelembaban
Memantau sianosis pusat dan perifer
Memantau pola pernafasan yang
abnormal

jika

Pengobatan demam

26

Pantau

suhu

berkali-kali

jika

diperlukan

Pantau warna kulit dan suhu

Pantau

tekanan

darah,

nadi

dan

pernafasan, jika diperlukan

Pantau aktivitas berlebihan

Pantau intake dan output

Atur oksigen, jika diperlukan

Tempatkan

pasien

pada

bagian

hipotermia, jika diperlukan


Nyeri

Kontrol nyeri

Manajemen nyeri

Penggunaan analgesic

yang tepat
Laporkan tanda nyeri

komprehensif dimulai dari lokasi,

pada tenaga kesehatan


Menilai gejala dari

kualitas, intensitas dan penyebab.

nyeri
Gunakan catatan nyeri

karakteristik, durasi, frekuensi,

tidak bisa mengkomunikasikannya

Melapor nyeri
Frekuensi nyeri
Nafsu makan normal
Respon tubuh
Ekspresi wajah saat
nyeri ( 1 )

secara efektif

dengan

tingkatan mandiri
Menekspresikan
kepuasan
kontrol nyeri

dengan

Gunakan komunikasi yang terapeutik


agar pasien dapat menyatakan
pengalamannya terhadap nyeri serta

Mengekspresikan
kepuasan

Pastikan pasien mendapatkan


perawatan dengan analgesic

Tingkat kenyamanan

Kaji ketidaknyamanan secara


nonverbal, terutama untuk pasien yang

Tingkatan nyeri

Lakukan penilaian nyeri secara

dukungan dalam merespon nyeri

Pertimbangkan pengaruh budaya


terhadap respon nyeri

Tentukan dampak nyeri terhadap


kehidupan sehari-hari (tidur, nafsu
makan, aktivitas, kesadaran, mood,
hubungan sosial, performance kerja
27

dan melakukan tanggung jawab


sehari-hari)

Pemberian analgesik

Menentukan lokasi , karakteristik, mutu, dan


intensitas nyeri sebelum mengobati pasien
Periksa order/pesanan medis untuk obat,
dosis, dan frekuensi yang ditentukan
analgesik
Cek riwayat alergi obat
Tentukan analgesik yang cocok, rute
pemberian dan dosis optimal.
Monitor TTV sebelum dan sesudah
pemberian obat narkotik dengan dosis
pertama atau jika ada catatan luar biasa.
Lakukan tindakan pengamanan pada pasien
dengan obat analgesik narkotik

Pemberian obat penenang

Kaji riwayat kesehatan pasien dan


riwayat pemakaian obat penenang

Tanyakan kepada pasien atau keluarga


tentang pengalaman pemberian obat
penenang sebelumnya

Melihat kemungkinan alergi obat

Memperoleh TTV dalam batas normal

Memperoleh kadar oksigen dan irama


EKG dalam batas normal

Mengetahui perjalanan obat melalui


IV

Monitor kadar oxigen darah

Memonitor tingkatan kesadaran pasien

28

Nutrisi
kurang dari
kebutuhan

a. Status Nutrisi
- Asupan zat gizi
-

a. Manajemen Nutrisi
Mengontrol

penyerapan

makanan/cairan

menghitung

Asupan makanan dan


cairan

tubuh

dan

intake kalori harian, jika diperlukan


Memantau ketepatan urutan makanan

Energi

Indeks masa tubuh

untuk memenuhi kebutuhan nutrisi

Berat badan

harian
Menentukan jimlah kalori dan jenis

b. Status

Nutrisi:

Intake

zat makanan yang diperlukan untuk

Makanan Dan Cairan


- Intake makanan di
-

mulut
Intake

berkolaborasi dengan ahli makanan,


di

saluran

makanan
- Intake cairan di mulut
- Intake cairan
c. Mengontrol berat badan
- Mengontrol
berat
-

badan
Mempertahankan
intake

memenuhi kebutuhan nutrisi, ketika

mempertimbangkan

budaya

dan

agama
Menetukan

saluran nasogastric
Memilih makanan gandum, minuman

kalorioptimal

harian
Menyeimbangkan

jika diperlukan
Menetukan makanan pilihan dengan

kebutuhan

makanan

kocok, dan es krim sebagai suplemen

latihan dengan intake

nutrisi
Anjurkan

pasien

untuk

memilih

makanan ringan, jika kekurangan air

kalori
Memilih

makanan dan snack


Menggunakan

Timbang berat badan klien

suplemen nutrisi jika

Monitor kehilangan dan pertambahan

nutrisi

liur mengganggu proses menelan


b. Monitor Nutrisi

berat badan

diperlukan
Makan sebagai respon

Monitor tipe dan kuantitas olah raga

makan
Mempertahankan pola

Monitor respon emosi klien terhadap

makan

situasi dan tempat makan

yang

dianjurkan
Memelihara

penyerapan makanan
Mempertahankan

keseimbanagan cairan
Mengenal tanda-tanda

Monitor interaksi orang tua dan anak


saat makan
Jadwalkan perawatan, dan tindakan
keperawatan agar tidak mengganggu
jadwal makan
29

Monitor turgor kulit

ketidakseimbangan

Monitor adanya mual dan muntah

elektrolit

Monitor nilai albumin, total protein,

dan

symptom

hemoglobin dan hematokrit.

Monitor nilai limfosit dan elektrolit

Monitor

menu

makanan

dan

pilihannya
c. Manajemen Cairan

Hitung haluran

Pertahankan intake yang akurat

Monitor hasil lab. terkait retensi


cairan (peningkatan BUN, Ht )

Monitor TTV

Monitor

adanya

indikasi

retensi/overload cairan (seperti :edem,


asites, distensi vena leher)

Distribusikan cairan > 24 jam

Tawarkan snack (seperti : jus buah)

BAB IV
PENUTUP
30

4.1 Kesimpulan
Kandidiasis adalah infeksi atau penyakit akibat jamur Candida, khususnya
C. albicans. Penyakit ini biasanya akibat debilitasi (seperti pada penekan imun dan
khususnya AIDS), perubahan fisiologis, pemberian antibiotika berkepanjangan, dan
hilangnya penghalang (Stedman, 2005). Kandidiasis meliputi infeksi yang berkisar dari
yang ringan seperti sariawan mulut dan vaginitis, sampai yang berpotensi mengancam
kehidupan manusia. Infeksi Candida yang berat tersebut dikenal sebagai candidemia dan
biasanya menyerang orang yang imunnya lemah, seperti penderita kanker, AIDS dan
pasien transplantasi.
Moniliasis atau kandidiasis sering disebabkan oleh 3 hal yaitu: jamur candida
albicans, keadaan hormonal (diabetes, kehamilan), dan faktor lokal (tidak adanya gigi,
gigi palsu yang tidak pas). Infeksi mulut oleh spesies candida biasanya memunculkan
kumpulan lapisan kental berwarna putih atau krem pada membran mukosa (dinding
mulut dalam). Pada mukosa mulut yang terinfeksi mungkin muncul radang berwarna
merah). Candida albicans yang bermetastase dapat menjalar ke esofagus, usus halus, usus
besar dan anus. Infeksi sistemik lainnya berupa abses hati dan otak.
4.2 Saran
Perawat diharapkan dapat memahami masalah adaptasi bio psiko sosial
spiritual dan menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan kandidiasis dengan
baik. Seperti penatalaksanaan pada tahap pencegahan , dengan melakukan metode
pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencangkup fisik (somatik), psikologik atau
psikiatrik, psikososial dan psikoreligius.

DAFTAR PUSTAKA
Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 5.Jakarta : Balai Penerbit FKUI
31

Jordan,Sue. 2004. Farmakologi Kebidanan. Jakarta : EGC.


Kluwer Wolters & Lippincot Williams & Wilkins.2011.Kapita Selekta Penyakit :
Dengan Implikasi Keperawatan.Jakarta: EGC
Sacher,R.A, McPherson, R.A. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium.
Jakarta : EGC.
Saifuddin Bari Abdul, George Adriaansz, Gulardi Hanifa Wikjosastro dan Djoko Siregar,R.S.
2004. Penyakit JamurKulit. Jakarta : EGC
Setiadi. 2007. Anatomi & fisiologi Manusia.Yogyakarta:Graha Ilmu

32