Anda di halaman 1dari 41

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam bahasa sehari-hari kita sering mendengar ungkapan seperti :
alasannya tidak logis, argumentasinya logis, kabar itu tidak logis. Yang
dimaksud

dengan

logis

adalah

masuk

akal

dan

tidak

logis

adalah

sebaliknya.
Ilmu kita pelajari karena manfaat yang hendak kita ambil, lalu apakah
manfaat yang didapat dengan mempelajari logika? Bahwa keseluruhan
informasi keilmuan merupakan suatu sistem yang bersifat logis, karena
itu science tidak mungkin melepaskan kepentingannya terhadap logika.
Sebagai suatu ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang
digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang
salah, logika lahir dari pemikir-pemikir Yunani yaitu Aristoteles,
Theoprostus dan Kaum Stoa. Dalam perkembangannya, logika telah menarik
minat dan dipelajari secara luas oleh para filosof. Logika juga menarik
minat filosof-filosof muslim sehingga menjadi pembahasan yang menarik
dalam masalah agama.
Logika tidak mempelajari cara berpikir dari semua ragamnya,
tetapi pemikiran dalam bentuk yang paling sehat dan praktis. Logika
menyelidiki, menyaring dan menilai pemikiran dengan cara serius dan
terpelajar serta bertujuan mendapatkan kebenaran, terlepas dari segala
kepentingan dan keinginan perorangan. Logika merumuskan serta menerapkan
hukum-hukum dan patokan-patokan yang harus ditaati agar manusia dapat
berpikir benar, efisien dan teratur.
Banyak permasalah dihadapan kita yang dapat kita cari solusinya
dengan cara menggunakan logika. Tetapi tidak semua masalah dapat kita
selesaikan dengan menggunakan logika. Apaka sah jika semua permasalahan
dalam hidup ini kita selesaikan dengan menggunakan logika?

Dengan demikian kami menggangkat logika sebagai bahan bahasan dalam


makalah ini. Dengan harapan mampu menjadi bahan bacaan yang menarik dan
mengandung daya positif.

B. Rumusan Masalah
Logika adalah salah salah satu cabang filsafat yang mampu membantu
manusia dalam memecahkan masalahnya. Pembahasan filsafat amat luas dan
kompleks sehingga menimbulkan beberapa pertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah arti dari logika sebagai salah satu cabang dalam filsafat?
2. Bagaimana sejarah terlahirnya logika dalam filsafat?
3. Apa macam-macam dari logika?
4. Apakah fungsi logika dalam filsafat ilmu?
5. Apakah kegunaan logika dalam kehidupan sehari-hari?

PEMBAHASAN
A. Pengertian Logika Dalam Kehidupan Sehari-hari
Logika berasal dari kata Yunani Kuno yaitu (Logos) yang
artinya hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan
dinyatakan dalam bahasa. Secara singkat, logika berarti ilmu, kecakapan
atau alat untuk berpikir lurus. Sebagai ilmu, logika disebut sebagai

logika Epiteme (Latin: logika scientia) yaitu logika adalah sepenuhnya


suatu jenis pengetahuan rasional atau ilmu logika (ilmu pengetahuan)
yang mempelajari kecakapan untuk berpikir lurus, tepat dan teratur. Ilmu
disini mengacu pada kecakapan rasional untuk mengetahui dan kecakapan
mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan kedalam
tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan
dengan masuk akal. Oleh karena itu logika terkait erat dengan hal-hal
seperti pengertian, putusan, penyimpulan, silogisme.
Logika sebagai ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah
berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika
adalah

berpikir/penalaran

yang

ditinjau

dari

segi

ketepatannya.

Penalaran adalah proses pemikiran manusia yang berusaha tiba pada


pernyataan baru yang merupakan kelanjutan runtut dari pernyataan lain
yang telah diketahui (Premis) yang nanti akan diturunkan kesimpulan.
Logika juga merupakan suatu ketrampilan untuk menerapkan hukum-hukum
pemikiran dalam praktek, hal ini yang menyebabkan logika disebut dengan
filsafat yang praktis. Dalam proses pemikiran, terjadi pertimbamgan,
menguraikan, membandingkan dan menghubungkan pengertian yang satu dengan
yang

lain.

berpikir.

Penyelidikan
Logika

ketepatannya.
pemikiran

itu

logika

berpikir

Suatu
sesuai

dipandang

pemikiran
dengan

tidak
logika

dilakukan

dengan

dari

sudut

akan

disebut

hukum-hukum

serta

sembarang

kelurusan
lurus

aturan

yang

atau

apabila
sudah

ditetapkan dalam logika. Dari semua hal yang telah dijelaskan tersebut
dapat menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pedoman atau pegangan
untuk berpikir.

B. Sejarah Logika
Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani
pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita
isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia
alam semesta. Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang

berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah
mengenalkan logika induktif.
Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian
disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik
kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air
adalah jiwa segala sesuatu. Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan
pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan. Kaum Sofis beserta Plato
(427 SM-347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam
bidang

ini. Pada

masa

Aristoteles

logika

masih

disebut

dengan

analitica , yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang


berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara khusus
meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan
kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.
Pada 370 SM - 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi
pemimpin Lyceum, melanjutkan pengembangn logika. Istilah logika untuk
pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari Citium 334 SM - 226 SM pelopor
Kaum Stoa. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus (130 M - 201
M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang dokter medis yang mengembangkan
logika dengan menerapkan metode geometri.
Kaum Sofis, Socrates, dan Plato tercatat sebagai tokoh-tokoh yang
ikut merintis lahirnya logika. Logika lahir sebagai ilmu atas jasa
Aristoteles, Theoprostus dan Kaum Stoa. Logika dikembangkan secara
progresif oleh bangsa Arab dan kaum muslimin pada abad II Hijriyah.
Logika

menjadi

bagian

yang

menarik

perhatian

dalam

perkembangan

kebudayaan Islam. Namun juga mendapat reaksi yang berbeda-beda, sebagai


contoh Ibnu Salah dan Imam Nawawi menghukumi haram mempelajari logika,
Al-Ghazali menganjurkan dan menganggap baik, sedangkan Jumhur Ulama
membolehkan bagi orang-orang yang cukup akalnya dan kokoh imannya.
Filosof Al-Kindi mempelajari dan menyelidiki logika Yunani secara khusus
dan studi ini dilakukan lebih mendalam oleh Al-Farabi.
Selanjutnya logika mengalami masa dekadensi yang panjang. Logika
menjadi sangat dangkal dan sederhana sekali. Pada masa itu digunakan
buku-buku logika seperti Isagoge dari Porphirius, Fonts Scientie dari
John Damascenus, buku-buku komentar logika dari Bothius, dan sistematika

logika dari Thomas Aquinas. Semua berangkat dan mengembangkan logika


Aristoteles.
Pada abad XIII sampai dengan abad XV muncul Petrus Hispanus, Roger
Bacon, Raymundus Lullus, Wilhelm Ocham menyusun logika yang sangat
berbeda dengan logika Aristoteles yang kemudian kita kenal sebagai
logika modern. Raymundus Lullus mengembangkan metoda Ars Magna, semacam
aljabar pengertian dengan maksud membuktikan kebenaran - kebenaran
tertinggi. Francis Bacon mengembangkan metoda induktif dalam bukunya

Novum Organum Scientiarum . W.Leibniz menyusun logika aljabar untuk


menyederhanakan pekerjaan akal serta memberi kepastian. Emanuel Kant
menemukan Logika Transendental yaitu logika yang menyelediki bentukbentuk pemikiran yang mengatasi batas pengalaman. Selain itu George
Boole (yang mengembangkan aljabar Boolean), Bertrand Russel, dan G.
Frege tercatat sebagai tokoh-tokoh yang berjasa dalam mengembangkan
Logika Modern. Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles seperti

De Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan karya Boethius masih


digunakan.

Thomas

Aquinas

1224-1274

dan

kawan-kawannya

berusaha

mengadakan sistematisasi logika.


Lahirlah logika modern dengan tokoh-tokoh seperti:

Petrus Hispanus 1210 - 1278)

Roger Bacon 1214-1292

Raymundus Lullus (1232 -1315) yang menemukan metode logika baru yang dinamakan Ars
Magna, yang merupakan semacam aljabar pengertian.

William Ocham (1295 - 1349)

Pengembangan

dan

penggunaan

logika

Aristoteles

secara

murni

diteruskan oleh Thomas Hobbes (1588 - 1679) dengan karyanya Leviatan dan
John Locke (1632-1704) dalam An Essay Concrning Human Understanding.
Francis

Bacon

(1561

1626)

mengembangkan

logika

induktif

yang

diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum Scientiarum. J.S. Mills (1806


- 1873) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam
bukunya System of Logic.

Lalu logika diperkaya dengan hadirnya pelopor-pelopor logika simbolik


seperti:

Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) menyusun logika aljabar


berdasarkan
bertujuan

Ars

Magna

dari

menyederhanakan

Raymundus

pekerjaan

Lullus.

akal

budi

Logika
dan

ini
lebih

mempertajam kepastian.

George Boole (1815-1864)

John Venn (1834-1923)

Gottlob Frege (1848 - 1925)

Lalu Chares Sanders Peirce (1839-1914), seorang filsuf Amerika Serikat


yang pernah mengajar di John Hopkins University,melengkapi logika simbolik
dengan karya-karya tulisnya. Ia memperkenalkan dalil Peirce (Peirces

Law) yang menafsirkan logika selaku teori umum mengenai tanda ( general
theory of signs).
Puncak kejayaan logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan
terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama
Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel
(1872 - 1970).

C. Macam - Macam Logika


Setelah mempelajari tentang filsafat ilmu lebih mendalam lagi,
ternyata didalamnya terdapat banyak sekali materi yang disajikan. Yang
salah satunya adalah tentang logika, dan logika sendiri dapat dibedakan
menjadi dua yaitu :

1. Logika Alamiah

Logika Alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir


secara tepat dan lurus sebelum mendapat pengaruh-pengaruh dari luar,
yakni

keinginan-keinginan

dan

kecenderungan-kecenderungan

yang

subyektif. Yang mana logika alamiah manusia ini ada sejak manusia
dilahirkan. Dan dapat disimpulkan pula bahwa logika alamiah ini
sifatnya masih murni.

2. Logika Ilmiah
Lain halnya dengan logika alamiah, logika ilmiah ini menjadi
ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam
setiap pemikiran. Dengan adanya pertolongan logika ilmiah inilah akal
budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan
lebih aman. Logika ilmiah ini juga dimaksudkan untuk menghindarkan
kesesatan atau setidaknya dapat dikurangi. Sasaran dari logika ilmiah
ini adalah untuk memperhalus dan mempertajam pikiran dan akal budi.

D. Logika Sebagai Cabang Filsafat


Filsafat adalah kegiatan / hasil pemikiran /permenungan yang
menyelidiki sekaligus mendasari segala sesuatu yang berfokus pasa makna
dibalik kenyataan atau teori yang ada untuk disusun dalam sebuah system
pengetahuan rasional.
Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini
berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.Logika
lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk
memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf
Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan
menunjukkan

kesesatan

penalarannya.Logika

digunakan

untuk

melakukan

pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan


yang

tidak.

Secara

tradisional,

logika

dipelajari

sebagai

filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika.

cabang

Logika sebagai cabang filsafat adalah cabang filsafat tentang


berpikir. Logika membicarakan tentang aturan-aturan berpikir agar dengan
aturan-aturan tersebut dapat mengambil kesimpulan yang benar. Dengan
mengetahui cara atau aturan-aturan tersebut dapat menghindarkan diri
dari kesalahan dalam mengambil keputusan. Menurut Louis O. Kattsoff,
logika membicarakan teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari suatu
perangkat bahan tertentu dan kadang-kadang logika didefinisikan sebagai
ilmu pengetahuan tentang penarikan kesimpulan.
Logika

bisa

menjadi

suatu

upaya

untuk

menjawab

pertanyaan-

pertanyaan seperti : Adakah metode yang dapat digunakan untuk meneliti


kekeliruan pendapat? Apakah yang dimaksud pendapat yang benar? Apa yang
membedakan antara alasan yang benar dengan alasan yang salah? Filsafat
logika

ini

merupakan

cabang

yang

timbul

dari

persoalan

tentang

penyimpulan.

E. Kegunaan Logika
Logika membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan
teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam
segala aktivitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas
prinsip ini. Logika menyampaikan kepada berpikir benar, lepas dari
berbagai

prasangka emosi dan keyakinan seseoranng, karena itu ia

mendidik manusia bersikap obyektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang
dibutuhkan dalam segala suasana dan tempat. Selain hubungannya erat
dengan

filsafat

dan

matematik,

logika

dewasa

ini

juga

telah

mengembangkan berbagai metode logis (logical methods) yang banyak sekali


pemakaiannya dalam ilmu-ilmu, sebagai misal metode yang umumnya pertama
dipakai oleh suatu ilmu.
Selain itu logika modern (terutama logika perlambang) dengan
berbagai pengertian yang cermat, lambang yang abstrak dan aturan-aturan
yang diformalkan untuk keperluan penalaran yang betul tidak saja dapat

menangani perbincangan-perbincangan yang rumit dalam suatu bidang ilmu,


melainkan ternyata juga mempunyai penerapan. Misalnya dalam penyusunan
program komputer dan pengaturan arus listrik, yang tidak bersangkutan
dengan argumen.
Pengertian ilmu logika secara umum adalah ilmu yang mempelajari aturanaturan berpikir benar. Jadi dalam logika kita mempelajari bagaimana
sistematika atau aturan-aturan berpikir benar. Subjek inti ilmu logika
adalah definisi dan argumentasi. Yang selanjutnya dikembangkan dalam
bentuk silogisme.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kegunaan logika adalah
sebagai berikut:

Membantu setiap orang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus,
tetap,
tertib, metodis, dan koheren atau untuk menjaga kita supaya selalu berpikir benar.
Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas
sistematis.
Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir
kekeliruan serta kesesatan.
Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
Sebagai ilmu alat dalam mempelajari ilmu apapun, termasuk filsafat.

Karena yang dipelajari dalam ilmu logika hanyalah berupa aturanaturan berpikir benar maka tidak otomatis seseorang yang belajar logika
akan

menjadi

orang

tergantung seperti
disiplin

atau

yang

selalu

benar

dalam

berpikir.

Itu

semua

apa dia menerapkan aturan-aturan berpikir itu,

tidak

dalam

menggunakan

aturan-aturan

itu,

sering

berlatih, dan tentu saja punya tekad dalam kebenaran.


Kegunaan dari kita belajar logika adalah daya analisis kita semakin
bertambah dan dimana apabila ada suatu masalah, kita dapat mengambil
keputusan

dengan

benar.

Disamping itu belajar logika juga

sangat

bermanfaat dalam manajemen waktu, dan juga logika merupakan dasar ilmu

psikologi yang paling mendasar. Intinya dengan belajar logika kemampuan


berpikir dan daya analisis kita semakin berkembang.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa
logika berasal dari bahasa latin yaitu dari kata logos berarti perkataan
atau sabda. Secara umum logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan
hukum hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari
penalaran yang salah. Logika ini dimulai dari tahun 624 SM sampai 548 SM
oleh Thales yang disebut sebagai Bapak Filsafat kemudian dikembangkan
kembali oleh Aristoteles dengan mengenalkan logika sebagai ilmu. Logika
terbagi menjadi dua macam yaitu : logika alamiah dan logika ilmiah.
Dalam perkembangannya logika juga disebut sebagai cabang filsafat.
Logika sangat berguna bagi kehidupan manusia untuk berpikir lurus,
efisien, tepat dan teratur demi mendapatkan kebenaran dan menghindari
kekeliruan.

B. Saran
Logika sebagai cabang dalam filsafat ilmu menuntun kita untuk
berpikir benar dan tidak salah dalam mengambil keputusan. Selain itu
berpikir secara logika mampu melatih kita untuk berpikir secara lurus,
efisien, tepat dan teratur demi mendapatkan kebenaran dan menghindari
kekeliruan dalam pemecahan suatu masalah.

C. PENALARAN, LOGIKA, DEDUKTIF,


INDUKTIF dan METODE ILMIAH
MAKALAH FILSAPAT ILMU
PENALARAN, LOGIKA, DEDUKTIF, INDUKTIF dan METODE ILMIAH

PENDAHULUAN

Filsafat adalah suatu cara berpikir yang radial dan menyeluruh, dengan cara mengupas
pengetahuan sedalam-dalamnya Yuyun (1999) sedangkan ilmu dalam pembelajaran
filsapat dapat di katakan kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu.
Filsafat ilmu adalah suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh manusia dalam rangka
menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan oleh dirinya.
Filsafat dapat juga di katakan upaya manusia mnegumpulkan pengetahuan sebanyak
mungkin dalam proses pengaturan kehidupan dalam bentuk sistematik. Filsafat
diharapkan dapat membawa manusia kepada pemahaman dan pemahamanan itu
tentunnya dapat membawa manusia ke tindakan yang lebih layak.
Secara umum Ilmu adalah pengetahuan yang kita dapatkan dari pendidikan dasar,
menengah sampai pendidikan tinggi. Dari ilmu dapat dilahirkan pengetahuan sehingga
pengetahuan dapat menegakan kebenaran. Dalam mempelajari filsafat ilmu diharapkan
manusia dapat mengunakan penalarannya untuk dapat menemukan kebenaran, bersifat
logika, deduksi dan induksi sebagai landasan dalam bertindak dan akhirnya dapat
mengunakan meteode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuan. Secara umum, berpikir
filsafat dapat dilakukan melalui:
1. Pemikiran menyeluruh yaitu antara ilmu satu dengan ilmu lainnya dapat disatukan sehingga
ditemukan nilai moral, nilai agama, dan nilai kebenaran sehingga membawa dalam
kebahagiaan diri.
2. Mendasar ilmu didasarkan pada suatu kebenaran dia dikatakn benar karena melalui proses
yang benar
3. Spekulasi adalah suatu proses berpikir memilih pikiran sebagai titik awal bagi penjelajahan
pengatuhan.

Hasil pemikiran yang dimiliki manusia harus dinilai menjadi suatu titik kebenaran.
Kebenaran yang tertanam dalam dirinya melalui diawali dari penalaran, logika, deduksi,
induksi dan metode ilmiah.

PEMBAHASAN

1. PENALARAN
2. Pengertian penalaran
Penalaran adalah kemampuan manusia untuk melihat dan memberikan tanggapan tentang
apa yang dia lihat. Karena manusia adalah makhluk yang mengembangkan pengetahuan
dengan cara bersungguh-sungguh, dengan pengetahuan ini dia mampu membedakan
mana yang baik dan mana yang buruk.
Penalaran juga merupakan kemampuan berfikir cepat, tepat dan mantap. Selain itu
penalaran merupakan proses berfikir dan menarik kesimpulan berupa pengetahuan.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara
bersungguh-sungguh. Namun bukan hanya manusia yang mempunyai pengetahuan
binatang juga mempunyai pengetahuan. Perbedaan pengetahuan manusia dan hewan
adalah hewan hanya diajarkan hal-hal yang menyangkut kelangsungan hidupnya
(survival) contohnya apabila ada bencana mereka akan cepat bersembunyi atau mencari
tempat yang aman sedangkan manusia dengan cara mengembangkan pengetahuannya dia
akan berusaha menghindari dan mencari penyebab terjadinya bencana sampai bagaimana
mengatasinya.
Manusia dalam kehidupannya dia akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan
kelangsungan hidupnya, contohnya manusia akan selalu memikirkan hal yang baru,
mengembangkan budaya dan memberikan makna dalam kehidupan.

1. Contoh Penalaran
Penalaran dalam contoh yang nyata dapat kita temukan pada perbedaan Contoh lainnya
yang membedakan manusia dengan hewan adalah yaitu apabila terjadi kabut burung akan
terbang untuk mengindari polusi udara yang memungkinkan dia tidak bisa bertahan
hidup. Sedangkan manusia akan mencari tau mengapa sampai terjadinya kabut?
Bagaimana cara menghindari kabut? Apa saja komponen-komponen yang terkadung di
dalam kabut? Apa saja penyakit yang diakibatkan oleh kabut?

Penalaran manusia bisa terjadi karena dua hal yaitu manusia mempunyai bahasa dan
manusia mampu mengembangkan pengetahuan. Dua hal inilah yang membedakan
manusia dengan hewan dan di harapkan manusia mampu memposisikan dirinya di
tempat yang benar.
Penalaran biasanya di awali dengan berfikir kerena berpikir merupakan suatu kegiatan
untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang
adalah tidak sama maka oleh sebab itu kegiatan proses berfikir untuk mengasilkan
pengetahuan yang benar itu pun juga berbeda-beda. Dapat dikatakan bahwa tiap jalan
pikiran mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran, dan kriteria kebenaran
ini merupakan landasan bagi proses penemuan kebenaran tersebut. penalaran merupakan
suatu proses penemuan kebenaran di mana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai
kriterianya masing-masing.
1. Ciri-ciri Penalaran
Sebagai suatu kegiatan berfikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri:
1. Adanya suatu pola pikir yang secara luas dapat disebut logika. Dalam hal ini maka dapat
dikatakan bahwa tiap bentuk penalaran mempunyai logikanya sendiri. Atau dapat juga
disimpulkan bahwa kegiatan penalaran merupakan suatu proses berfikir logis, di mana
berfikir logis disini harus diartikan sebagai kegiatan berfikir menurut suatu pola tertentu.
2. Bersifat analitik[1] dari proses berfikirnya. Penalaran merupakan suatu kegiatan berfikir yang
menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang dipergunakan untuk
analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan. Artinya penalaran ilmiah
merupakan suatu kegiatan analisis yang mempergunakan logika ilmiah, dan demikian juga
penalaran lainnya yang mempergunakan logikanya tersendiri pula. Sifat analitik ini
merupakan konsekuensi dari adanya suatu pola berpikir tertentu. Tanpa adanya pola berpikir
tersebut maka tidak akan ada kegiatan analisis.

Berdasarkan kriteria penalaran dikatakan bahwa tidak semua kegiatan berfikir bersifat
logis dan analitis. Jadi cara berpikir yang tidak termasuk ke dalam penalaran bersifat
tidak logis dan analitik. Dengan demikian maka dapat dibedakan secara garis besar ciriciri berpikir menurut penalaran dan berpikir yang bukan berdasarkan penalaran.
Perasaan merupakan penarikan kesimpulan yang tidak berdasarkan penalaran. Kegiatan
berpikir juga ada yang tidak berdasarkan penalaran umpamanya adalah intuisi[2].
Berpikir intuisi memegang peranan yang penting dalam masyarakat yang berpikir
nonanalitik, yang kemudian sering bergalau dengan perasaan. Jadi secara luas dapat
dikatakan bahwa cara berpikir masyarakat dapat dikategorikan kepada cara berpikir
analitik yang berupa panalaran dan cara berpikir yang nonanalitik yang berupa intuisi dan
perasaan.

1. Prinsip-prinsip penalaran adalah:

Prinsip dasar pernyataan hanya ada tiga prinsip, yang mengemukakan pertama kali adalah
Aristoteles, yaitu sebagai berikut:
1. Prinsip identitas
Prinsip ini dalam istilah latin ialah principium indentitas. prinsip identitas berbunyi:
sesuatu hal adalah sama dengan halnya sendiri. Dengan kata lain, sesuatu yang
disebut p maka sama dengan p yang dinyatakan itu sendiri bukan yang lain.
1. Prinsip kontradiksi (principium contradictionis)
Prinsip kontradiksi berbunyi: sesuatu tidak dapat sekaligus merupakan hal itu dan
bukan hal hal itu pada waktu yang bersamaan, atau sesuatu pernyataan tidak mungkin
mempunyai nilai benar dan tidak benar pada saat yang sama. Dengan kata lain, sesuatu
tidaklah mungkin secara bersamaan merupakan p dan non p.
1. Prinsip eksklusi (principium exclusi tertii)
Prinsip eksklusi tertii, yakni prinsip penyisihan jalan tengah atau prinsip tidak adanya
kemungkinan ketiga.
Prinsip ekslusi tertii berbunyi sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal
tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah. Dengan kata
lain, sesuatu x mestilah p atau non p tidak ada kemungkinan ketiga. Arti dari prinsip ini
ialah bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin keduaduanya dimiliki oleh suatu benda, mestilah hanya salah satu yang dapat dimilikinya.
Disamping ketiga prinsip yang dikemukakan Aristoteles diatas, seorang filusuf Jerman
Leibniz menambah satu prinsip yang merupakan pelengkap atau tambahan bagi prinsip
identitas, yaitu prinsip cukup alasan (principium rationis sufficientis), yang berbunyi.
suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu haruslah berdasarkan alasan yang
cukup, tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi. Dengan
kata lain, adanya sesuatu itu mestilah mempunyai alasan yang cukup, demikian pula jika
ada perubahan pada keadaan sesuatu. [3]
Penalaran merupakan cara berpikir tertentu oleh karena itu untuk melakukan kegiatan
analisis maka kegiatan penalaran tersebut harus diisi dengan materi pengetahuan yang
berasal dari suatu sumber kebenaran. Pengetahuan yang dipergunakan dalam penalaran
pada dasarnya bersumber pada rasio atau fakta. Mereka yang berpendapat bahwa rasio
adalah sumber kebenaran mengembangkan paham yang kemudian disebut sebagai
rasionalisme. Sedangkan mereka yang menyatakan bahwa fakta yang tertangkap lewat
pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran mengembangkan paham
empirisme[4].

1.
2. Pengertian logika
Nama logika untuk pertama kali muncul pada filusuf Cicero (abad ke -1 sebelum
Masehi), tetapi dalam arti seni berdebat. Alexander Aphrodisias (sekitar permulaan abad
ke-3 sesudah Masehi) adalah orang pertama yang mempergunakan kata logika dalam
arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita[5].
Selain itu kata logika diturunkan dari kata logike (bahasa yunani), yang berhubungan
dengan kata benda logos, suatu yang menunjukkan kepada kita adanya hubungan yang
erat dengan pikiran dan kata yang merupakan pernyataan dalam bahasa. Jadi, secara
etimologi, logika adalah ilmu yang mempelajari pikiran melalui bahasa. Logika juga bisa
dikatakan penarikan kesimpulan dari apa yang dianggap benar dari suatu proses
penalaran.
logika adalah asas-asas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. Agar
dapat berpikir lurus, tepat, dan teratur, logika menyelidiki, merumuskan serta menerapkan
hukum-hukum yang harus ditepati. Logika itu adalah cara berpikir manusia yang disusun
berdasarkan pola tertentu. Berpikir adalah objek material logika. Berpikir disini adalah
kegiatan pikiran, akal budi manusia. Dengan berpikir, manusia mengolah,
mengerjakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dengan mengolah dan
mengerjakannya ini terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan,
serta menghubungkan pengertian yang satu dengan penegertian yang lainnya.
Dalam logika berfikir dipandang dari sudut kelurusan dan ketepatannya. Karena berfikir
lurus dan tepat, merupakan objek formal logika. Di samping dua filusuf di atas (Cicero
dan Alexander Aphrodisias) Aristoteles pun telah berjasa besar dalam menemukan
logika. Namun, Aristoteles belum memakai nama logika. Aristoteles memakai istilah
analika dan dialektika. Analika untuk penyelidikan mengenai argumentasi yang
bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar sedangkan dialektika untuk penyelidikan
mengenai argumentasi yang bertitik tolak hipotsesis atau putusan yang tidak pasti
kebenarannya[6].

Aristoteles membagi ilmu pengetahuan atas tiga golongan, yaitu ilmu pengetahuan
praktis, produktif, dan teoritis. Ilmu pengetahuan produktif menyangkut pengtahuan yang
sanggup menghasilkan suatu karya (teknik dan kesenian). Ilmu pengetahuan praktis
meliputi etika dan politika. Akhirnya ilmu pengetahuan teoritis mencakup tiga bidang
yaitu fisika, matematika, dan filsafat pertama. Logika tidak termasuk ilmu pengetahuan
sendiri, tetapi mendahului ilmu pengetahuan sebagai persiapan untuk berfikir dengan cara
ilmiah[7].
Setelah Aristoteles meninggal, naskah-naskah ajarannya mengenai penalasaran, olah para
pengikutnya telah dihimpun menjadi satu. Himpunan tersebut mengenai ajaran
Aristoteles mengenai penalaran termuat dalam eman naskah, yaitu sebagai berikut:
1. Ini membahas mengenai cara menguraikan sesuatu objek dalam jenis pengertian umum.
2. On Interpretation (tentang penafsiran). Membahas mengenai komposisi dan hubungan dari
3.
4.
5.
6.

keterangan sebagai satuan pikiran. Dalam hal ini Aristoteles membahas suatu yang dikenal
sebagai penyimpulan langsung dan bujur sangkar pertentangan.
Prior Analyties (analika yang lebih dahulu). Memuat mengenai teori silogisme dalam ragam
dan pola-polanya.
Posterior Analyties (analika yang lebih dahulu). Membicarakan tentang pelaksanaan dan
penerapan, penalaran silogistik dalam pembuktian ilmiah sebagai materi dari silogisme.
Topics (mengupas dialektika). Dibahas mengenai persoalan tentang perbincangan berdasarkan
permis-permis yang boleh jadi benar
Sohistical Refutations (cara perbincangan kaum sofis). Membahas mengenai sifat dasar dan
penggolongan sesat piker[8].

Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan namun untuk sesuai dengan


tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran ilmiah, maka dilakukan penelaahan
yang seksama hanya terhadap dua jenis penarikan kesimpulan yakni logika induktif dan
logika deduktif.

1. Contoh Logika
Contohnya penerapan ilmu logika dalam kehidupan misalnya pada manusia yang
mengalami penyakit serak pada tenggorokan maka pengobatannya dapat dilakukan
dengan minum air putih logikanya air putih adalah cairan yang diperlukan manusia untuk
menjaga keseimbangan tubuh, memberi kekuatan kepada leukosit untuk menjalankan
tugasnya menghasilkan makrofag untuk membunuh patogen yang masuk, menjadikan
kekebalan tubuh meningkat sehingga luka yang dihinggapi bakteri akan sembuh dan
akhirnya tenggorokan menjadi lapang dan dikatakan sembuh.
1. DEDUKSI
2. Pengertian Deduksi
Deduksi adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik
kesimpulan yang bersifat khusus, selain itu metode deduksi ialah cara penanganan

terhadap sesuatu objek tertentu dengan jalan menarik kesimpulan mengenai hal-hal yang
bersifat umum.
Logika deduktif adalah suatu ragam logika yang mempelajari asas-asas penalaran yang
bersifat deduktif, yakni suatu penalaran yang menurunkan suatu kesimpulan sebagai
kemestian dari pangkal pikirnya sehingga bersifat betul menurut bentuk saja.
Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola pikir yang
dinamakan silogismus[9]. Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis
yang kemudian dapat dibedakan sebagai permis mayor dan permis minor. Kesimpulan
merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua permis
tersebut. Logika deduktif membicarakan cara-cara untuk mencapai kesimpulankesimpulan bila lebih dahulu telah diajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai semua atau
sejumlah ini di antara suatu kelompok barang sesuatu. Kesimpulan yang sah pada suatu
penalaran deduktif selalu merupakan akibat yang bersifat keharusan dari pertnyaanpertanyaan yang lebih dahulu diajukan. Pembahasan mengenai logika deduktif itu sangat
luas dan meliputi salah satu di antara persoalan-persoalan yang menarik.
Guna memenuhi dan membatasi maksud logika deduktif bagian terkenal sebagai logika
Aristoteles. Cabang loka ini membicarakan pernyataan-pernyataan yang dapat dijadikan
bentuk S adalah P, misalnya, manusia (adalah) mengenal mati. Tampaklah pada kita
bahwa S merupakan huruf pertama perkataan Subjek dan P merupakan huruf pertama
perkataan Predikat. Dari pernyataan-pernyataan semacam itu, kita dapat memilah empat
cara pokok untuk mengatakan sesuatu dari setiap atau sementara subjek yang dapat
diterapi simbol S.
Setiap

S adalah P

Setiap

S bukan/tidaklah P

Sementara

S adalah P

Sementara

S bukan/tidaklah P.

1. Contoh Deduksi
Contoh membuat silogismus sebagai berikut:
Semua makhluk hidup memerlukan udara

(Premis mayor)

Dewi adalah makhluk hidup

(Premis minor)

Jadi Dewi memerlukan udara

(Kesimpulan)

Kesimpulan yang diambil bahwa si Dewi memerlukan udara adalah sah menurut
penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditasrik secara logis dari dua permis yang
mendukungnnya. Pertanyaan apakah kesimpulan itu benar maka dapat dipastikan bahwa
kesimpulan yang ditariknya juga adalah benar. Mungkin saja kesimpulan itu salah,
meskipun kedua premisnya benar, sekiranya cara penarikan kesimpulannya adalah tidak
sah.
Dengan demikian maka ketepatan penarikan kesimpulan tergantung dari tiga hal yakni
kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor dan keabsahan pengambilan
kesimpulan.

1. INDUKSI
2. Pengertian induksi
Induksi merupakan cara berpikir di mana ditarik kesimpulan umum dari berbagai kasus
yang bersifat individual, selain itu metode induksi ialah cara penanganan terhadap suatu
objek tertentu dengn jalan menarik kesimpulan yang bersifat umum atau bersifat lebih
umum berdasarkan atas pemahaman atau pengamatan terhadap sejumlah hal yang bersifat
khusus. Logika induktif merupakan suatu ragam logika yang mempelajari asas-asas
penalaran yang betul dari sejumlah hal khusus sampai pada suatu kesimpulan umum yang
bersifat boleh jadi. Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya sebab
mempunyai dua keuntungan. Keuntungan yang pertama ialah bahwa pernyataan yang
bersifat umum ini bersifat ekonomis.
Kehidupan yang beranekaragam dengan berbagai corak dan segi dapat direduksikan
menjadi beberapa pernyataan. Pengetahuan yang dikumpulkan manusia bukanlah
merupakan koleksi dari berbagai fakta melainkan esensi dan fakta-fakta tersebut.
Demikian juga dalam pernyataan mengenai fakta yang dipaparkan, pengetahuan tidak
bermaksud membuat reproduksi dari obyek tertentu, melainkan menekankan kepada
struktur dasar yang menyangga wujud fakta tersebut. pernyataan bagaimanapun lengkap
dan cermatnya tidak bisa mereproduksikan betapa manisnya semangkuk kopi atau
pahitnya sebutir pil kina. Pengetahuan cukup puas dengan pernyataan elementer yang
bersifat kategoris bahwa kopi itu manis dan pil kina itu pahit. Pernyataan seperti ini sudah
cukup bagi manusia untuk bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir
teoritis.
Keuntungan yang kedua dari pernyataan yang bersifat umum adalah dimungkinkan
proses penalaran selanjutnya baik secara induktif maupun deduktif. Secara induktif maka
dari berbagai pernyataan yang bersifat umum dapat disimpulkan pernyataan yang bersifat
lebih umum lagi. Melihat dari contoh bahwa semua binatang mempunyai mata dan semua

manusia mata, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua makhluk mempunyai mata.
Penalaran ini memungkinkan disusunnya pengetahuan secara sistematis yang mengarah
kepada pernyataan-pernyataan yang makin lama makin bersifat fudamental.

1. Jenis-jenis induksi:
2. Penyimpulan secara kausal
Jenis induksi lainnya adalah yang berusaha unutk menemukan sebab-sebab dari hal-hal
yang terjadi. Bila telah diajukan suatu perangkat kejadian, maka haruslah diajukan
pernyataan: Apakah yang menyebabkan kejadian-kejadian itu? Misalnya, terjadi suatu
wabah penyakit tipus: Apakah yang menyebabkan timbulnya wabah tipus? Ada suatu
perangkat apa yang dinamakan canons (aturan, hukum), yang dikenal sebagai metodemetode Mill, yang mengajukan suatu pernagkat kemungkinan unutk melakukan
penyimpulan secara kausal. Metode-metode ini kadang kala berguna. Metode-metode
tersebut ialah:

Metode kesesuain
Metode kelainan
Metode gabungan kesesuaian dan kelahiran
Metode sisa
Metode keragaman beriringan

1. Penalaran berdasarkan probabilitas dan penalaran secara statistik. Digambarkan dengan cara
probabilitas dan secara statistik. Misalnya kita mengetahui bahwa John Smith adalah seorang
guru dan kita ingin bertaruh bahwa usianya akan mencapai 65 tahun. Berapakah taksiran kita
mengenai usianya? Untuk menjawabnya kita perlu mempunyai statistik mengenai panjangnya
usia seorang guru. Dari hal-hal ini, yang diringkas dalam bangun matematis yang tepat,
dengan mempergunakan teori matematik tetang probabilitas, maka akan dapat dilakukan
penaksiran.
2. Analogi dan komparasi

Dua bentuk penyimpulan yang sangat lazim dipakai dalam perenungan kefilsafatan ialah
analogi dan komparasi. Penalaran secara analogi adalah berusaha mencapai kesimpulan
dengan secara analogi adalah berusaha mencapai kesimpulan dengan menggantikan apa
yang dicoba buktikan dengan sesuatu yang serupa dengan hal tersebut, namun yang lebih
dikenal, dan kemudian menyimpulkan kembali apa yang mengawali penalaran tersebut.
Misalnya kita ingin membuktikan adanya Tuhan berdasarkan susunan dunia tempat kita
hidup. Dalam hal ini dapat mengatakan sebagai berikut. Perhatikanlah sebuah jam.
Seperti halnya dunia, jam tersebut juga merupakan mekanisme yang terdiri dari bagian-

bagian yang sangat erat hubungannya yang satu dengan yang lain. Kiranya tidak seorang
pun beranggapan bahwa sebuah jam dapat membuat dorongnya sendiri atau terjadi secara
kebetulan. Susunanya sangat rumit menunjukan bahwa ada yang membuatnya. Dengan
demikian secara analogi adanya dunia juga menunjukan ada pembuatnya; karena dunia
kita ini juga sangat rumit susunannya dan bagian-bagiannya berhubungan sangat erat
yang satu dengan yang lain secara baik.
1. Metode verifikasi
Agar suatu penalaran dapat diterima maka perlu kiranya untuk mencapai kesimpulan
yang dapat diterima, maka perlu kiranya unutk menetapkan tidak hanya lurusnya atau
sahnya penalaran seseorang, melainkan juga kebenaran bahan yang mengawali penalaran
tadi. Penalaran yang sah yang didasarkan atas fakta-fakta yang diperkirakan benar dapat
membwa kita kepada kesimpulan yang sesat atau benar, namun mungkin kita tidak
mengetahui yang manakah yang salah dan manakah yang benar. Penalaran yang sah yang
didasarkan atas fakta-fakta akan membawa kita kepada kebenaran. Pada dasarnya hanya
ada dua metode unutk melakukan verifikasi terhadap pernyataan-pernyataan yang satu
adalah melalui observasi , dan yang lain, dengan mempergunakan hukum kontradiksi.
1. Observasi (pengamatan)
Suatu pernyataan yang maknanya dapat diuji dengan pengalaman yang dapat diulangi,
baik oleh orang yang mempergunakan pernyataam tersebut maupun oleh orang lain, pada
prinsipnya dapat dilakukan verifikasi terhadapnya. Jika pernyataan itu lulus dalam ujian
pengalaman, maka pengalaman itu dikukuhkan, meskipun tidak sepenuhnya terbukti
benar. Jika saya berkata, Di luar hujan turun, dan saya pergi ke luar serta melihat dan
merasakan turunnya hujan, maka pernyataan saya tersebut menurut ukuran tadi telah
diverifikasi.
1. Penalaran berdasarkan kontradiksi
Metode verifikasi yang kedua, yakni dengan menunjukan kesesatan pernyataan yang
dipersoalkan karena bertentangan degan dirinya, atau mengakibatkan pertentangan
dengan pernyataan-pernyataan lain yang telah ditetapkan dengan baik. Misalnya, untuk
membuktikan bahwa garis-garis yang sejajar tidak pernah bertemu, orang mengambil
cara dengan mengandalkan bahwa hal yang demikian ini akan membawa kita kepada
kontradiksi. Demikian pula, mengandaikan bahwa suatu sudut didalam segitiga ada yang
besarnya nil derajat dan ada yang lebih dari nol derajat.
1. Contoh Induksi
Dalam deduksi kesimpulannya hanya bersifat probabilitas berdasarkan atas pernyataanpertanyaan yang telah diajukan. Penalaran secara induktif dimulai dengan
mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan
terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat
umum. Umpamanya kita mempunyai fakta bahwa kambing mempunyai mata, gajah

mempunyai mata, demikian juga dengan singa, kucing, dan berbagai binatang lainnya.
Dari kenyataan kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum yakni
semua binatang mempunyai mata.

1. METODE ILMIAH
2. Pengertian Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu.
Menurut Soejono Soemargono (1983) metode ilmiah secara garis besar ada dua macam,
yaitu sebagai berikut:
1. Metode ilmiah yang bersifat umum
Metode ilmiah yang bersifat umum dibagi menjadi dua, yaitu metode analitiko-sintesa
dan metode nondeduksi. Metode analitioko-sintesa merupakan gabungan dari metode
analisis dan metode sintesa. Metode nondeduksi merupakan gabungan dari metode
deduksi dan metode induksi.
Apabila kita menggunakan metode analisis, dalam babak terakhir kita memperoleh
pengetahuan analitis. Pengetahuan analitis itu ada dua macam, yaitu pengetahuan analitik
apriori dan pengetahuan analitik aposteriori.
Metode ilmiah di bagi 2 jenis:
1. Metode analisis ialah cara penanganan terhadap sesuatu objek ilmiah tertentu dengan jalan
memilah-milahkan pengertian yang satu dengan penegrtian yang lainnya. Pengetahuan
analisis apriori misalnya, definisi segitiga mengatakan bahwa segitika itu merupakan sautu
bidang yang dibatasi oleh tiga garis lurus saling beririsan yang membentuk sudut berjumlah
180 derajat.

Pengetahuan analitis aposteriori berarti bahwa kita dengan menerapkan metode analisis
terhadap sesuatu bahan yang terdapat di alam empiris atau dalam pengalaman sehari-hari
memperoleh sesuatu pengetahuan tertentu. Misalnya, setelah kita mengamati sejumlah
kursi yang ada, kemudian kita berusaha unutk menetukan apakah yang dinamakan kursi
itu? Definisnya misalnya, kursi adalah perabot kantor atau rumah tangga yang khusus
disediakan untuk tempat duduk.
Pengetahuan yang diperoleh dengan menerapkan metode sintesis dapat berupa
pengetahuan sintesis apriori dan pengetahuan sintesisi aposteriori.
1. Metode sintesa ialah cara penanganan terhadap sesuatu objek tertentu dengan cara
menggabungkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya sehingga menghasilkan
sesuatu pengetahuan yang baru. Pengetahuan sinstesis apriori misalnya, pengetahuan bahwa
satu ditambah empat sama dengan lima.

Aposteriori menunjuk kepada hal-hal yang adanya berdasarkan atau terdapat melalui
pangalaman atau dapat dibuktikan dengan melakukan sesuatu tangkapan indrawi.
Pengetahuan sintetis aposterior itu merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan cara
menggabung-gabungkan pengertian yang satu dengan yang lain menyangkut hal-hal yang
terdapat alam tangkapan indrawi atau yang adanya dalam pengalaman empiris.
1. Metode penyelidikan ilmiah
Metode penyelidikan ilmiah dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode penyelidikan yang
berbentuk daur/metode siklus empiris dan metode vertikal atau yang yang berbentuk garis
lempang/metode linier. Yang dinamakan siklus-empiris ialah suatu cara penanganan
terhadap sesuatu objek ilmiah tertentu yang biasanya bersifat empiris-kealaman dan
penerapannya terjadi di tempat yang tertutup. Metode penyelidikan ilmiah yang
berbentuk daur/metode siklus-empiris, maka pengetahuan yang dapat dihasilkannya akan
berupa hipotesa, teori, dan hukum-hukum alam (Soejono Soemargo, 1983)
Perkembangan ilmu-ilmu alam merupakan hasil penggunaan secara sengaja suatu metode
untuk memperoleh pengetahuan yang menggabungkan pengalaman dan akal sebagai
pendekatan bersama, dan menambahkan suatu cara baru untuk menilai penyelesaianpenyelesaian yang disarankan. Dari banyak di antara uraian kita sampai sejauh ini, kita
mungkin telah merasakan bahwa kesulitan yang dihadapi oleh filsafat ialah, filsafat tidak
bersifat ilmu. Jika orang pernah bekerja di laboratorium ilmu,ia mungkin akan mengeluh,
di dalam ilmu kita membicarakan kenyataan empirirs, di dalam filsafat nampaknya tidak
ada suatu cara untuk memperoleh jawaban. Ini menimbulkan masalah tentang metode
ilmiah sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan. Tidak semua pengetahuan dapat
disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus
memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu
pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode
ilmiah jadi metode ilmiah mengikuti prosedur-prosedur tertentu yang sudah pasti yang
dipergunakan dalam usaha memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi
oleh seorang ilmuan.
Metode menurut Senn, merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang
mempunyai langkah-langkah yang sistematis[10]. Metodologi merupakan suatu
pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut[11]. jadi
metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam
metode ilmiah. Metodologi ini secara flsafati termasuk dalam apa yang dinamakan
epistemologi. Epistomologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita
mendapatkan pengetahuan.
Seperti diketahui berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan.
Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran[12]. Dengan cara
bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakteristikkarakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji
yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang

dapat diandalkan. Dalam hal ini maka metode ilmiah mencoba menggabungkan cara
berpikir deduktif dan cara berpikir induktif dalam membangun tubuh pengetahuannya.
Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat
konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Secara sistematik
dan kumulatif pengetahuan ilmiah disusun setahap demi setahap dengan menyusun
argumentasi mengenai sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada.
Dengan demikian maka ilmu merupakan tubuh pengetahuan yang tersusun dan
terorganisasikan dengan baik sebab penemuan yang tidak teratur dapat diibaratkan
sebagai rumah atau batu bata yang cerai berai[13]. Secara konsisten dan koheren maka
ilmu mencoba memberikan penjelasan yang rasional kepada obyek yang berada dalam
fokus penelaahan.
Proses kegiatan ilmiah, menurut Ritchie Calder, dimulai ketika menusia mengamai
sesuatu[14]. Tentu saja hal ini membawa kita kepada pertanyaan laim: mengapa manusia
mulai mengamati sesuatu? Kalau kita telah lebih lanjut ternyata bahwa kita mulai
mengamati obyek tertentu kalau kita mempunyai perhatian tertentu terhadap obyek
tersebut. Persukaran yang dirasakan bila kita menemukan sesuatu dalam pengalaman kita
yang menimbulkan pertanyaan[15]. Dan pertanyaan ini timbul disebabkan oleh adanya
kontak manusia dengan dunia empiris yang menimbulkan berbagai ragam permasalahan.
dapat disimpulkan bahwa karena ada masalah ini berasal dari dunia empiris, maka proses
berpikir tersebut diarahkan pada pengamatan obyek yang bersangkutan, yang
bereksistensi dalam dunia empiris pulan.
Manusia menghadapi atau menyadari adanya masalah dan bermaksud untuk memecahkan
dalam usaha unutk memcahkan masalah tersebut maka ilmu tidak berpaling kepada
perasaan melainkan kepada pikiran yang berdasarkan penalaran. Dalam hal ini maka
pertama-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah konkret
yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata. Karena masalah yang dihadapinya adalah
nyata maka ilmu mencari jawaban pada dunia yang nyata pula. Disinilah pendekatan
rasional digabungkan dengan pendekatan empiris dalam langkah-langkah yang disebut
metode ilmiah. Langkah-langkah metode ilmiah:
1. Harus menanamkan rasa ingin tahu dalam suatu hal sehingga memunculkan pertanyaan pada
2.

3.

4.
5.

diri dan menjadi dasar untuk melakukan penelitian sehingga dapat merumuskan masalahnya.
Mengumpulkan informasi sehingga dapat menyusun kerangka berpikir dalam pengajuan
hipotesis. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan permis-permis ilmiah
yang telah tealh teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang
relevan dengan permasalahan.
Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan
yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang
dikembangkan. Hipotesis ini pada dasarnya disusun secara deduktif dengan mengambil
permis-permis dari pengetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya.
Pengujian hioptesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis
yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yangmendukung hipotesis
tersebut atau tidak.
Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaina apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu
ditolak atau diterima. Sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup yang

mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima. Sebaliknya sekiranya dalam proses
pengujian tidak terdapat fakta yang cukup mendukung hipoteisi maka hipoteisi itu ditolak.
Hipoteisi yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah sebab
telah memenuhi persyaratan keilmuan yakni mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten
dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya. Pengertian kebenaran
di sini harus ditafsirkan secara pragmatis artinya bahwa sampai saat ini beluam terdapat fakta
yang menyatakan sebaliknya.

Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah.
Dengan metode ilmiah sebagai paradigma maka ilmu dibandingkan denganberbagai
pengetahuan lainnya dapat dikatakan berkembang cepat.
Salah satu faktor yang mendorong perkembangan ini adalah faktor sosial dari komunikasi
ilmiah dimana oenemuan individual segera dapat diketahui dan dikaji oleh anggota
masyarakat atau pun ilmuan lainnya. Tersedia laat komukasi tertulis dalam bentuk
majalah, buletin, jurnal, mikro film, dan berbagai media masa lainnya sangat menunjang
intensitas dan efektivitas komunikasi ini. Suatu penemuan baru di negera yang baru
segera dapat diketahui oleh ilmuan di negara-negara lainnya. Penemuan ini segera dapat
diteliti kebenarannya oleh kalangan ilmiah di mana saja sebeb prosedur unutk menilai
kesahihan penyataan yang dikandung pengetahuan tersebut sama-sama telah diketahui
oleh seluruh masyarakat.

1. Contoh metode Ilmiah


Contoh kunyit digunakan untuk pengobatan.
Kunyit dapat dikatakan mampu penyembuhan luka, dapat dibuktikan dilakukan dengan
metode ilmiah.
Sinkronisasi metode ilmiah ini dapat disimpulkan dari pengalaman dan kebiasaan
masyarakat dalam memanfaatkan kunyit sebagai obat tradisional untuk penyembuhan
luka pada organ tubuh bagian dalam. Jadi dengan dilakukan metode ilmiah yang diawali
dari asumsi dan kebiasaan masayarakat mengani suatu hal. Misalnya dalam
memanfaatkan kunyit sebagai pengobatan tradisional. Diawali dari munculnya
pertanyaan. Apakah benar kunyit mampu mengobati luka kemudian mengumpulkan
informasi, melakukan hipotesis, melakukan pengamatan dan menyimpulkan. Ditemukan
didalam kunyit mengandung zat antibiotik yang mampu menyembuhkan luka yang
dialami organ bagian dalam.

KESIMPULAN
Dalam mempelajarai suatu nilai kebenaran manusia dituntut unutk bosa memanfaatkan
wahana berpikir yang dimilikinya, manusia juga harus mampu memposisikan dirinya

diposisi kebenaran. Hal yang harus dilakukan manusia adalah menempatkan penalaran,
penalaran sebagai salah satu langkah menemukan titk kebenaran. Kemampuan penalaran
yang dimiliki manusia tentuny akan melahirkan logika yang dpat dimanfaatkan oleh
manusai utuk menemukan pengethuan. Pengatahuan ini lah yang sebut dengan ilmu dan
ilmu inilah yang membuat manusia bisa berpikir.
Didalam penalaran ditemukan logika. Logika melahirkan deduksi dan induksi, secara
umum induksi dan induksi suatu proses pemikiran untuk menghasilkan suatu kesimpulan
yang benar didasarkan pada pengetahuan yang dimiliki. Deduksi dihasilkan dari
pernyataan-pernyataan yang bersifat umum ke pernyataan bersifat khusus, sementara
induksi merupakan cara berpikir di mana ditarik kesimpulan umum dari berbagai kasus
yang bersifat individual.
Metode ilmiah berkaitan dengan gabungan dari metode deduksi dan metode induksi. Jadi
suetu proses pemikiran dapat dituangkan dalam pembuatan metode ilmiah tersebut, dan
metode ilmiah juga membuktikan tentang penalaran yang melahirkan logika dibantu
dengan metode deduksi dan induksi maka akan menghasilkan pengetahuan yang baru.
Dengan metode ilmiah pengetahuan akan dianggap sah adanya.

[1] suatu kegiatan berfikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.


[2] Intuisi merupakan suatu kegiatan berpikir yang nonanalitik yang tidak mendasarkan
diri kepada suatu pola pikir tertentu.
[3] noor Ms Bakry, 1983 dalam buku Surajiyo
[4] Pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman.
[5] K.Bertens, 1975 dalam buku Surajiyo, 2005.
[6] K.Berens,1975 dalam buku Surajiyo, 2005
[7] Bertens, 1975 dalam buku Surajiyo, 2005.
[8] The Liang Gie dan Suhartoyo Hardjosatoto, dan Endang asdi, 1980
[9] Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan.
[10] Peter R. Senn, Sosial Science and Its Methods (boston:Holbrook, 1971)

[11] Ibid, hlm 6


[12] T. H. Huxly, The Method of Scientific Investigation, Science: Method and
Meaning, ed. Samuel Rapport dan helen Wright (new York: Washington Square Press,
1964), hlm, 2.
[13] Morris Kline, The Meaning of Mathematics, Adventures of the Mind (New York:
Vintage, 1961), hlm 83.
[14] Ritchie Calder, science in Our Life (New York :New American Library, 1955), hlm.
37
[15] John Dewey, How We Think (Chicago: Henry regnery, 1933) hlm. 107

PENALARAN DAN LOGIKA


oleh : Dirgantara Wicaksono
Sejak kehadirannya di muka bumi ini, manusia sudah menggunakan
akal fikirannya untuk melakukan dan menyelesaikan suatu masalah.
Walaupun pada saat kehadirannya pertama kali di muka bumi jalanfikiran
manusia tidak serevolusioner sekarang ini.
Seiring dengan berkembangnya zaman, berkembang pula cara berpikir
manusia manusia sebagai mahluk yang unik berbeda dari mahluk lainnya.
Keunikan manusia terletak pikiran yang dimilikinya. Dalam menggunakan
fikiran mungkin saja manusia melakukan kesalahan. Cara belajar dari
kesalahan yang di perbuat pada dasarnya merupakan karakteristik yang
sama pada semua mahluk hidup. Apakah itu pada binatang tingkat rendah,
tingkat tingi, apakah itu pada simpanse atau seorang ilmuwan.
Dalam memecahkan masalah kehidupan, manusia menggunakan akal
fikirannya dan logika. Pada makalah ini akan dibahas mengenai :
1.
Penalaran
2.
logika
1.
Pengertian Penalaran.
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, penalaran berasal dari kata
nalar yang berarti pertimbangan baik buruk, budi pekerti dan akal
budi. Dari pengertian tersebut terdapat kata akal yang merupakan
sarana untuk berfikir. Kemampuan menalar hanya di miliki oleh
manusia. Dengan kemampuan menalar manusia dapat mengembangkan
pengetahuan lainyang kian hari kian berkembang.
Dari pengetahuan hasil penalaran, manusia dapat menentukan nilai
moral, etika dan estetika. Tujuan manusia mengembangkan pengetahuan
adalah untuk mengatasi dan memenuhi tantangan hidup.

Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penalaran akan terus


berkembang. Faktor yang menyebabkan pengetahuan berkembang dengan
pesat adalah :
1.
Bahasa
Bahasa merupakan sarana komunikasi yang sangat efektif dan
penting dalam kehidupan manusia yang berfungsi untuk
menyampaikan informasidan jalan fikiran yang melatar belakangi
informasi tersebut kepada orang lain, baik secara lisan maupun
tulisan.
2.
Mempunyai kerangka berfikir tertentu
Kerangka berfikir yang dimaksud adalah di mulai dengan
mengamati fakta dan data, menganalisa hubungan sebab akibat
sampai kepada penarikan sebuah kesimpulan.
Penalaran
merupakan
kegiatan
berfikir
yang
mempunyai
karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran. Karekteristik
tersebut ditandai dengan pola berfikir yang
runtut dengan
menggunakan kaidah-kaidah yang baku.
2.

Hakikat Penalaran

Pada uraian terdahulu, dijelaskan bahwa penalaran merupakan suatu


proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang menghasilkan
pengetahuan. Hakikat dari penalaran adalah berfikir secara logis dan
sistematis dengan mengikuti alur tertentu berdasarkan pengamatan dan
penginderaan dalam menemukan suatu kebenaran.
Penalaran yang merupakan suatu proses mempunyai cirri-ciri sebagai
berikut :
1.
Adanya logika
2.
Bersifat analitik
Pengetahuan yang digunakan dalam penalaran bersumber pada rasio
dan fakta. Pendapat yang mengatakan rasio sebagai sumber kebenaran
melahirkan faham rasionalisme, sdangkan pendapat yang menyatakan
fakta yang tertangkap memlalui penginderaan dan pengalaman sebagai
sumber kebenaran melahirkan faham empirisme. Pengetahuan ilmiah
dibangun berdasarkan rasionalisme dan empirisme dan inilah yang di
sebut pengetahuan ilmiah.
3.
Pengertian Logika
Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu menghadapi perubahan dan
permasalahan . Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan
pemikiran yang teratur dan terarah agar didapat keputusan yang benar
atas penyelesaian masalah tersebut. Cara berpikir yang demikian
disebut logika.
Logika adalah ilmu kecakapan menalar atau berfikir dengan
tepat ( The Science and art of correct thingking )
(Dr.W.
Poespoprojo, 1989). Pengertian diatas mengindikasikan bahwa berfikir
atau menalaar adalah kegiatan akal budi manusia untuk mengolah
pengetahuan yang kita terima melalui panca indra dan ditujukan untuk
mencapai suatu kebenaran .
Berfikir menunjukkan suatu bentuk kegiatan akal yang khas dan
terarah. Dalam katagori ini hasil lamunan dan hayalan tidak termasuk

kegiatan berfikir. Suatu pemikiran dikatakan tepat dan jitu bila


dilakukan dengan penganalisaan, pembuktian dengan alasan-alasan
tertentu
dan adanya kaitan antara yang satu dengan lainnya.
Pemikiran yang demikian disebut dengan logis.
Jalan pemikiran yang mengesampingkan hal-hal tersebut diatas
dikatagorikan pemikiran yang tidak logis. Logika merupakan ilmu yang
fundamental yang secara sistematis menyelidiki, merumuskan dan
menerangkan asas-asas yang harus ditaati agar orang dapat berfikir
dengan tepat, lurus dan teratur.
Maksud dan tujuan logika adalah kecakapan menerapkan aturanaturan pemikiran yang tepat terhadap persoalan-persoalan yang
kongrit yang kita hadapi , serta pembiasaan sikap ilmiah, kritis
dan obyektif.
4.
Pembagian Materi Logika
Untuk sampai kepada suatu pemikiran yang tepat , logika
menganalisa unsur-unsur pemikiran manusia. Materi logika antara
lain :
1.
Mengerti Permasalahan
Yaitu memahami apa yang menjadi permasalahan yang sedang di
hadapi. Kegiatan mengerti ini dapat di bangun melalui
penginderaan misalnya dengan mengamati.
2.
Adanya kausualitas.
Yaitu adanya keterkaitan. Pekerjaan otak selanjutnya setelah
mengerti permasalahan adalah membangun hubungan yang ada
antara berbagai fakta.
3.
Adanya kesimpulan
Pekerjaan akal yang ketiga adalah membangun kesimpulan .
Kesimpulan ini didapat atas serangkaian kegiatan mulai dari
mengerti hubungan permasalahan dan fakta yang dari keduanya
dapat ditarik kesimpulan.
5.

Metode dalam logika


Logika sesuai dengan fungsinya memecahkan masalah mempunyai dua
Metode :
1.
Metode Deduktif yaitu pengkajian dari suatu yang umum
(general) untuik menghasilkan suatu yang khusus. Berpikir
dengan
Metode
deduktif
menggunakan
sarana
berfikir
matematika.
2.
Metode Induktif yaitu logika berfikir yang bergerak dari
hal-hal yang khusus menghasilkan gegeralisasi yang umum.
Berfikir induktif menggunakan sarana berfikir statistika.
Baik matematika maupun statistika bukanlah ilmu melainkan sarana
berfikir. Kedua Metode berfikir tersebut dapat diterapkan dalam
penelitian Ilmiah yang direalisasikan dalam karya Ilmiah Penelitian.
Logika berfikir deduktif dipakai dalam perumusan hipotesis
penelitian yang dideduksi dari teori-teori yang ada. Logika berfikir
Induktif di terapkan dalam pengujian hipotesis dengan menggunakan
data dan sample. Untuk menyimpulkan kasus yang berdasarkan data dan
sample di perlukan sarana statistika. Proses Ilmiah yang secara

epistemologis adalah paroses ilmiah agar hasil yang diperoleh dapat


di katagorikan sebagai produk ilmiah yaitu Ilmu.
6.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat di tarik kesimpulan :
1.
Dalam menghadapi permasalahan hidup yang kian berkembang
manusia menggunakan akal fikirannya .
2.
Proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang
menghasilkan suatu pengetahuan di sebut penalaran
3.
Logika adalah kecakapan berfikir secara tepat dan akurat
berdasarkan fakta dan data untuk menghasilkan keputusan yang
benar atas permasalahan yang ada.
4.
Metode berfikir logika ada dua yaitu : deduktif dan
induktif.
Referensi:
Filsafat Ilmu , Yuyun Suriasumantri, 2005
Logika Ilmu Menalar, Poespoprojo., 2006

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi
empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan
yang sejenis juga akan terbentuk proposisi proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah
proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi
baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam
penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis
(antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan
antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Penalaran adalah suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa
pengetahuan. Ciri pertama adalah proses berpikir logis, dimana berpikir logis diartikan
sebagai kegiatan berpikir menurut pola tertentu atau dengan kata lain menurut logika
tertentu. Ciri yang kedua adalah sifat analitik dari proses berpikirnya.
Berpikir Deduktif
Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari
keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi
adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari pernyataan yang bersifat umum
lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif
biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus.

Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum
terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Berpikir Induktif
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus
untuk menentukan hukum yang umum. Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik
suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.
Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang
mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang
diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48
Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005)
Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari halhal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi
fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir
induktif. (www.id.wikipedia.com)
Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu
bukti saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu
persatu. Induksi mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di antara bukti
yang diperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas dengan dia
benar pula.
Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan
induktif. Dimana lebih lanjut penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme dan
penalaran induktif dengan empirisme. Secara rasional ilmu menyusun pengetahuannya
secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara
pengetahuan yang sesuai fakta dengan yang tidak. Karena itu sebelum teruji
kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah
bersifat sementara, Penjelasan sementara ini biasanya disebut hipotesis.
Hipotesis ini pada dasarnya disusun secara deduktif dengan mengambil premis-premis
dari pengetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya, kemudian pada tahap
pengujian hipotesis proses induksi mulai memegang peranan di mana dikumpulkan faktafakta empiris untuk menilai apakah suatu hipotesis di dukung fakta atau tidak. Sehingga
kemudian hipotesis tersebut dapat diterima atau ditolak.

METODE INDUKTIF
Induksi

yaitu

suatu

metode

yang

menyimpulkan

pernyataan

pernyataan hasil observasi dalam suatu pernyataan yang lebih umum

dan menurut suatu pandangan yang luas diterima, ilmu-ilrnu empiris


ditandai oleh metode induktif, disebut induktif bila bertolak dari
pernyataan tunggal seperti gambaran mengenai hasil pengamatan dan
penelitian orang sampai pada pernyataan pernyataan universal.
David Hume telah membangkitkan pertanyaan mengenai induksi yang
membingungkan para filosof dari zamannya sampai sekarang. Menurut
Hume, pernyataan yang berda observasi tunggal betapapun besar
jumlahnya, secara logis tak dapat menghasilkan suatu pernyataan
umum

yang

tak

terbatas.

dalam

induksi

setelah

diperoleh

pengetahuan, maka akan dipergunakan ha-hal lain, seperti ilmu


mengajarkan

kita

bahwa

kalau

logam

dipanasi

juga

akan

mengembang, bertotak dari teori ini kita tahu bahwa logam lain yang
kalau dipanasi juga akan mengambang. Dari contoh di atas bisa
diketahui bahwa induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan
yang disebut juga dengn pengetahuan sintetik.
Penalaran

induktif

berpangkal

pada

suatu

peristiwa

umum,

yang

kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu


kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini
diawali

dari

pebentukan

teori,

hipotesis,

definisi

operasional,

instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu


gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala
tersebut dan

selanjutnya

dilakukan

penelitian di lapangan. Dengan

demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan


kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Contoh : yaitu sebuah sistem generalisasi.
Laptop adalah barang eletronik dan membutuhkan daya listrik untuk
beroperasi,
DVD Player adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk
beroperasi,
Generalisasi : semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk
beroperasi.

METODE DEDUKTIF

Deduksi adalah suatu metode yang menyimpan bahwa data-data


empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang harus
ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara
kesimpulan-kesimpulan itu sendiri. Ada bentuk logis teori itu dengan
tujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah, ada
perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan
jalan rnenerapkan secara empiris kesimpulan-kesimpulan yang bisa
ditarik dari teori tersebut.
Popper tidak pernah menganggap bahwa kita dapat membuktikan
kebenaran teori-teori dari kebenaran pernyataan-pernyataan yang
bersifat

tunggal.

Tidak

pernah

dia

menganggap

bahwa

berkat

kesimpulan-kesimpulan yang telah diverifikasikan teori ini dapat


dikukuhkan sebagai benar atau bahkan hanya mungkin benar, sebagai
contoh, harga akan turun. Karena penurunan beras besar. maka harga
beras akan turun.
Penalaran

deduktif berpangkal dari

peristiwa khusus sebagai hasil

pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan

baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan
kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan
penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup
mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik
generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan
persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami
gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan
melakukan generalisasi.
Contoh : Masyarakat

Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya

perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus)


dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai
prestasi sosial dan penanda status social.

KORELASI PENALARAN DEDUKTIF DAN INDUKTIF

Kedua penalaran

tersebut seolah-olah merupakan

cara berpikir yang

berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari


teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak

terpisahkan.

Kalau

kita

mengandaikan

fakta

dan

berbicara
kalau

teori

berbicara

sebenarnya
fakta

maka

kita

sedang

kita

sedang

mengandaikan teori.
Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran
tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan
dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode
ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika. Upaya menemukan kebenaran
dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif
tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking
atau berpikir refleksi.
Jika

seseorang

melakukan

penalaran,

maksudnya

tentu

adalah

untuk

menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat syarat dalam


menalar dapat dipenuhi.
-

Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki


seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang

salah.
Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah
premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi
sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti
penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan
aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan
yang dijadikan sebagai premis tepat.

Penalaran

juga

merupakan

aktivitas

pikiran

yang

abstrak,

untuk

mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan


dalam penalaran berbentuk bahasa sehingga wujud penalaran akan akan
berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol
berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah
kalimat
argumen.
premis.

(kalimat

berita)

dan

penalaran

menggunakan

simbol

berupa

Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari

ESAI
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Filsafat dan Dasar-Dasar Logika
Judul :
Metode Induksi dan Metode Deduksi Sebagai Sebuah Metode Ilmiah dalam

Mendapatkan Kebenaran
Manusia dalam kehidupannya selalu mencari kebenaran yang pasti sebagai tujuan
dalam menjalani hidupnya. Tanpa kebenaran manusia akan tersesat dan tak tentu arah
karena tidak punya tujuan yang pasti dalam mencapai kehidupan yang nyata ini. Maka
disinilah kebenaran diperlukan. Kebenaran itu merupakan suatu hal yang dikatakan benar
manakala sesuatu dinyatakan salah. Kebenaran yang di cari manusia yang berpikir itu
bukan hanya kebenaran tentang suatu hal tentang ilmu pengetahuan saja, tapi kebenaran
yang bisa menuntunnya dalam menjalani kehidupan seperti kebenaran tentang agama
yang

di

anut

seseorang.

Dalam proses menemukan kebenaran ini terdapat dua metode yang bisa kita pelajari
yang kajiannya berpusat pada penalaran/ pemikiran manusia dan di dalamnya ada proses
mengkomunikasikan penilaian. Metode ini disebut penalaran yang merupakan suatu
proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang hasilnya berupa pengetahuan yang
baru. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang berpikir, merasa, bersikap dan
bertindak. Sikap dan tindakan manusia ini biasanya berasal dari sumber pengetahuan
yang didapatkan lewat kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan suatu
pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir bukan dengan perasaan, meskipun
dikatakan Pascal, hatipun mempunyai logika tersendiri. Dan harus kita sadari bahwa tidak
semua kegiatan berpikir itu menyandarkan diri pada penalaran, atau pada hakikatnya
Logika tidak mengkaji keseluruhan proses berpikir/bernalar yang dilakukan oleh
manusia. Jadi penalaran itu merupakan suatu karakteristik tertentu dalam menemukan
kebenaran.
Berpikir adalah suatu kegiatan untuk menemukan kebenaran. Dalam menentukan
suatu kebenaran menurut seseorang dan orang lain pasti berbeda oleh karena itu proses

berpikir dalam menentukan kebenaran setiap orang itupun pasti berbeda-beda. Dapat
dikatakan bahwa dalam menentukan kebenaran itu ada kriteria tertentu, dan kriteria
kebenaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran tersebut.
Metode induksi dan metode deduksi merupakan suatu metode bernalar berpikir untuk
untuk dapat menilai sesuatu hal yang dapat di nilai benar dan salahnya. Wujud dari suatu
penalaran manusia berbentuk pernyataan. Dari pernyataan ini manusia akan
menyampaikan suatu hasil pemikirannya dengan cara berkomunikasi baik lisan maupun
tulisan. Unsur yang paling penting dalam berkomunikasi itu adalah Bahasa atau dalam
bentuk yang sederhana bisa kita sebut kalimat.
Kebenaran itu mempunyai karakteristik tertentu :
1. Adanya suatu pola berpikir yang disebut Logika.
2. Proses berpikirnya bersifat analitik.
Adanya suatu pola berpikir yang disebut Logika merupakan kegiatan penalaran
proses berpikir logis. Dimana logis itu merupakan kegiatan berpikir menurut pola tertentu
atau dalam kata lain menurut logika tententu sedangkan Proses berpikirnya bersifat
analitik. Analisis merupakan suatu kegiatan berpikir dengan berdasarkan langkah-langkah
tertentu. Langkah ini salah satunya dengan menggunakan metode penalaran deduksi dan
induksi, Penaran ini termasuk penalaran ilmiah, karena penalaran ilmiah merupakan
gabungan dari penalaran deduksi dan induksi, di mana penalaran deduksi berkaitan
dengan rasionalisme sedangkan penalaran induksi berkaitan dengan empirisme, oleh
karena itu untuk mengetahui lebih jauh tentang cara mendapatkan kebenaran melalui
metode ini maka kita harus tahu dulu apa pengertian dari dua metode ini.
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa
khusus untuk menemukan hukum. (Kamus umum bahasa Indonesia hal. 444 W.J.S.
Poerwadarminta, Balai pustaka, 2006)
Induksi adalah ilmu eksakta mengumpulkan data data dalam jumlah tertentu, dan
atas dasar itu menyusun suatu ucapan umum. Observasi dan eksperimen dilakukan untuk
mengenai gejala-gejala dengan tepat dan saksama, sedang hipotesis dan induksi membuat
rumusan dari hukum-hukumnya.
Metode berpikir induktif dimana cara berpikir dilakukan dengan cara menarik suatu
kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Untuk itu,

penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang


mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang
diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Contoh dari induksi :
1.
Kuda sumba punya jantung
2.
Kuda Australia punya sebuah jantung
3.
Kuda amerika punya sebuah jantung
Jadi, setiap kuda punya sebuah jantung
Induksi merupakan cara berpikir di mana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat
umum dari suatu peristiwa yang bersifat khusus. Penalaran ini di mulai dengan
mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khusus,
khas dan terbatas dalam menyusun suatu argumentasi yang di akhiri dengan pernyataan
yang bersifat umum. Katakanlah umpamanya kita mempunyai fakta bahwa kambing
mempunyai mata, gajah mempunyai mata, demikian juga dengan singa, kucing, dan
berbagai binatang lainnya. Dari kenyataan-kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan
umum bahwa semua binatang mempunyai mata. Kesimpulan yang bersifat umum ini
penting artinya sebab mempunyai dua keuntungan. Keuntungan yang pertama ialah
bahwa pernyataan yang bersifat umum ini ekonomis, kehidupan yang beraneka ragam
dan corak dan segi dapat direduksikan menjadi beberapa pernyataan. Pengetahuan yang
dikumpulkan manusia bukanlah merupakan koleksi dari berbagai fakta melainkan esensi
dari fakta-fakta tersebut. Demikian juga mengenai fakta yang dipaparkan, pengetahuan
tidak bermaksud membuat reproduksi objek tertentu, melainkan menekankan pada
struktur dasar yang menyangga wujud fakta tersebut. Pernyataan yang bagaimanapun
lengkap dan cermatnya tidak bisa memproduksikan betapa manisnya semangkuk kopi
atau pahitnya sebutir pil kita, Pengetahuan cukup puas dengan pernyataan elementer yang
bersifat kategoris bahwa kopi itu manis dan pil kina itu pahit. Pernyataan seperti ini sudah
cukup bagi manusia untuk bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir
teoritis. Keuntungan yang kedua dari pernyataan yang bersikap umum adalah
dimungkinkan proses penalaran selanjutnya baik secara induktif maupun deduktif. Secara
induktif maka dari berbagai pernyataan yang bersifat lebih umum lagi. Umpamanya
melanjutkan contoh kita terdahulu, dari kenyataan bahwa semua binatang mempunyai
mata dan semua manusia mempunyai mata, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua

makhluk mempunyai mata. Penalaran seperti ini memungkinkan disusunnya pengetahuan


secara sistematis yang mengarah kepada pernyataan-pernyataan yang makin lama makin
bersifat fundamental.1[1]
Hubungan Logika dengan induktif Hubungan Logika dan Induktif ini sering disebut
juga Logika Induktif atau penalaran induktif. Penalaran induktif adalah penalaran yang
berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
Dimulai dengan mengemukakan pernyataan pernyataan yang mempunyai ruang lingkup
yang khas dan terbatas sebagai argumentasi dan kemudian diakhiri dengan pernyataan
yang bersifat umum-umum.
Pendapat Francis Bacon, sama dengan John S.Mill (1806-1873) yang merupakan
filsuf yang juga memperkenalkan proses generalisasi dengan cara induksi. Dalam
persoalan generalisasi ini, Mill sependapat dengan David Hume yang mempersoalkan
secara radikal.
Mill melihat tugas utama logika lebih dari sekedar menentukan patokan deduksi
silogistis yang tak pernah menyampaikan pengetahuan baru. Ia berharap bahwa jasa
metodenya dalam logika induktif sama besarnya dengan jasa Aristoteles dalam logika
induktif. Menurutnya, pemikiran silogistis selalu mencakup suatu lingkaran setan
(petitio), dimana kesimpulan sudah terkandung di dalam premis, sedangkan premis itu
sendiri akhirnya masih bertumpu juga pada induksi empiris. Tugas logika menurutnya
cukup luas, termasuk meliputi ilmu-ilmu sosial dan psikologi yang memang pada masingmasing ilmu itu logika telah diletakkan dasar-dasarnya oleh Comte dan James Mill.
Deduksi berasal dari bahasa inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan
dari keadaan-keadaan umum, menemukan yang khusus dari yang umum. (Kamus umum
bahasa Indonesia hal. 273 W.J.S. Poerwadarminta, Balai pustaka, 2006)
Deduksi adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya dari penalaran induktif.
Deduksi adalah cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik
kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya
mempergunakan pola berpikir yang dinamakan siogisme ini disebut premis yang
kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan
merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis
tersebut. Dari contoh kita sebelumnya dapat membuat siogismus sebagai berikut:
1

Semua makhluk mempunyai mata (Premis Mayor)


Si Polan adalah seorang makhluk (Premis Minor)
Jadi Si Polan mempunyai mata

(Kesimpulan)

Kesimpulan yang diambil bahwa si Polan mempunyai mata adalah sah menurut
penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang
mendukungnya. Pernyataan apakah kesimpulan itu benar maka hal ini harus
dikembalikan kepada kebenaran premis yang mendahuluinya. Sekiranya kedua premis
yang mendukung adalah benar maka dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang ditariknya
juga adalah benar. Mungkin saja kesimpulan itu salah, meskipun kedua premisnya benar,
sekiranya penarikan kesimpulannya adalah sah. 2[2]
Dengan demikian maka ketepatan penarikan keismpulan tergantung dari tiga hal
yakni kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor dan keabsahan pengambilan
kesimpulan. Sekiranya salah satu dari ketiga unsur tersebut persyaratannya tidak
terpenuhi maka kesimpulan yang di tariknya akan salah. Matematika adalah pengetahuan
yang disusun secara deduktif. Argumentasi matematik seperti a sama dengan b dan bila b
sama dengan c maka a sama dengan c merupakan suatu penalaran deduktif. Kesimpulan
yang berupa pengetahuan baru bahwa a sama dengan c pada hakikatnya bukan
merupakan pengetahuan dalam arti yang sebenarnya, melainkan sekadar konsekuensi dari
dua pengetahuan yang sudah kita ketahui sebelumnya, yakni bahwa a sama dengan b dan
b sama dengan c. Tak pernah ada kejutan dalam logika, simpul Wittgenstein, sebab
pengetahuan yang diperole adalah kebenaran tautologis. Namun benarkah ulangan
matematika tak pernah menimbulkan surprise; seperti pernyataan Taufik ismail dalam
sajak Ladang jagung;bagaimana kalau bumi bukan bulat, tapi segi empat?
Hubungan Logika dengan deduksi Menurut Langeveld, logika itu adalah kepandaian
untuk memutuskan secara jitu. Logika mempelajari syarat-syarat yang harus dipenuhi
untuk mengambil kesimpulan secara benar; atau untuk menghasilkan pengetahuan yang
bersifat ilmiah. Unsur utama logika adalah pemikiran dan keputusan.3[3]
Hubungan logika dan Deduktif sering disebut juga Logika Deduktif atau penalaran
deduktif. Penalaran Deduktif adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi

2
3

argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif dan valid hanya jika kebenaran dari
kesimpulan ditarik atau merupakan konsekunsi logis dari premis premisnya.
Contoh :
Semua makhluk hidup perlu makan untuk mempertahankan hidup (premis mayor)
Anton adalah seorang makhluk hidup

(premis minor)

Jadi, Anton perlu makan untuk mempertahankan hidupnya.

(kesimpulan)

Adanya proses penalaran inipun tidak lepas dari sumber-sumber pengetahuan yani
rasio, pengalaman dan waktu. Sumber pengetahuan merupakan aspek-aspek yang
mendasari lahirnya ilmu pengetahuan yang berkembang dan muncul dalam kehidupan
manusia. Menurut Sumarna (dalam Susanto, 2011: 186) sumber ilmu pengetahuan
terdapatperbedaan antara pandangan filosof dan ilmuwan Barat dengan filosofot dan
ilmuwan muslim.
Menurut filosof dan ilmuwan muslim, sumber utama ilmu pengetahuan adalah
wahyu yang termanifestasikan dalam Alquran dan As-sunnah, selain empiris dan rasional.
Sedangkan menurut filosof dan ilmuwan Barat sumber ilmu pengetahuan hanya dibatasi
pada sumber utama yaitu pengetahuan yang lahir dari pertimbangan rasio (akal atau
deduksi) dan pengetahuan yang dihasilkan melalui pengalaman (empiris dan induksi).
Menurut Suriasumantri (dalam Susanto, 2011:186) terdapat empat cara pokok dalam
mendapatkan pengetahuan, pertama adalah pengetahuan yang berdasarkan rasio yang
dikembangkan oleh kaum rasionalis yang dikenal dengan rasionalisme. Kedua,
pengetahuan yang berdasarkan pada pengalaman yang dikenal dengan faham empirisme.
Ketiga, pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang
yang sedang terpusatkan pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan
jawaban atas permasalahan tersebut. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan
sehingga intuisi tidak bisa digunakan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan yang
teratur. Sumber pengetahuan yang keempat adalah wahyu yang merupakan pengetahuan
yang disampaikan tuhan kepada manusia.
Sedangkan Amsal Bakhtiar mengungkapkan ada beberapa pendapat tentang
sumber pengetahuan antara lain: Empirisme Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos,
artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui
pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang

dimaksudkan ialah pengalaman inderawi. .Rasionalisme Aliran ini menyatakan bahwa


akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur
dengan akal. Menusia memperoleh penegetahuan melalui kegiatan menangkap objek.
Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelemahan alat indera
dapat dikoreksi, seandainya akal digunakan. Intuisi Menurut Henry Bergson intuisi
adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan
insting, tetapi berbeda dengan kesadaran dan kebebasannya.Ia juga mengatakan bahwa
intuisi adalah suatu pengetahuan yang langsung, yang mutlak dan bukan pengetahuan
yang nisbi. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebagai dasar untuk
menyusun pengetahuan secara teratur, intuisi tidak dapat diandalkan. Wahyu adalah
pengetahuan yang disampaikan oleh ALLAH kepada manusia lewat perantaraan para
nabi. Wahyu Allah (agama) berisikan pengetahuan, baik mengenai kehidupan seseorang
yang terjangkau oleh pengalaman, maupun yang mencakup masalah transendental, seperti
latar belakang dan tujuan penciptaan manusia, dunia dan segenap isinya serta kehidupan
diakhirat nanti. Dari uraian diatas, yang dapat dijadikan sumber pengetahuan adalah
wahyu, pengalaman dan rasio. Sedangkan intuisi tidak dapat digunakan sebagai sumber
ilmu pengetahuan karena ia bersifat personal dan tidak bisa diramalkan serta bersifat tibatiba atau seketika.
Dari data ini dapat disimpulkan bahwa dengan rasa ingin tahunya, manusia berusaha
mencari pengetahuan dari berbagai sumber untuk memenuhi kebutuhan dan
kelangsungan hidupnya. Penalaran merupakan salah satu proses dalam berpikir yang
menggabungkan dua pemikiran atau lebih untuk menarik sebuah kesimpulan untuk
medapatkan
logika

merupakan

pengetahuan
suatu

cara

untuk

mendapatkan

baru.
suatu

pengetahuan

dengan menggunakan akal pikiran, kata dan bahasa yang dilakukan secara sistematis.
Sumber pengetahuan merupakan aspek-aspek yang mendasari lahirnya ilmu pengetahuan
yang berkembang dan muncul dalam kehidupan manusia. Tedapat tiga sumber
pengetahuan 1.Empiris/pengetahuan, 2.Rasio/akal (pikiran) dan 3.wahyu Kebenaran
merupakan kesesuaian antara pikiran dan kenyataan dan menjadi tujuan dari filsafat.
Untuk menyatakan sesuatu itu benar dapat didasarkan pada teori kebenaran. Pengetahuan

dapat diperoleh dengan jalan penalaran dan logika yang bersumberkan pada pengalaman,
akal dan wahyu sehingga pada akhirnya didapatkanlah suatu kebenaran.

DAFTAR PUSTAKA
Jujun S. Suriasumantri. 1998 Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar yang Populer Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan
Soetriono, Tanpa Tahun. Filsafat ilmu Yogyakarta: Andi Ofset
Hodijah (2014) Filsafat Ilmu (on Line). Tersedia:http://hodijahrisa.wordpress.com/duniapendidikan/filsafat-ilmu/
Nurmalia

(2013)

Logika,

deduksi

dan

induksi

(on

Line).

Tersedia

http://nurmaliaandriani95.blogspot.com/2013/06/logika-deduksi-dan-induksi.html
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar yang Populer (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 1998) hal. 48
4
[2] Ibid. hlm 49
5

[3]

4
5

Soetriono, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Andi, 2007), hal. 125