Anda di halaman 1dari 11

Akibat pernyataan Sufi tua bahwa Sholawat sudah menjadi sunnatullah, Ustadz Dul

Wahab, ustadz Jembudin at-Takriri, Ustadz Zakari as-Salaf diiringi delapan orang
muridnya dengan bersungut-sungut mendatangi pesantren sufi dan meminta penjelasan
tentang pernyataan yang dianggap berlebihan yang potensial akan mempertuhan
Muhammad bin Abdullah. Sufi tua yang sedang berbincang dengan Guru Sufi, Sufi
Kenthir, Sufi Sudrun, Sufi Senewen, Dullah, Sukiran, dan Roben memasang wajah sangar
memandang
para
ustadz
yang
akan
memprotes
pernyataannya.
Aku cuma mau meladeni orang yang mau menerima Kebenaran faktual, riil dan
empirik, kata Sufi tua ketus,Orang yang pikirannya dibutakan oleh tafsir teks dan
menolak semua fakta riil dan kenyataan empirik, silahkan keluar. Maksudku, orang seperti
itu tidak perlu penjelasan tapi langsung duel sebagai laki-laki karena orang seperti itu tidak
bisa diajak tukar pikiran.
Ustadz Dul Wahab, Ustadz Jembudin al-Takriri dan Ustadz Zakari as-Salaf diam melihat
mantan perwira intelijen itu menampakkan kegarangan. Ustadz Dul Wahab mewakili yang
lain buru-buru membuat pernyataan bahwa tujuannya ke pesantren sufi hanya untuk
mencari kejelasan tentang pernyataan sepihak yang menyatakan bahwa sholawat adalah
sunnatullah. Kami hanya ingin tahu, apa dasar sampeyan membuat pernyataan seperti itu.
Apa dalilnya bahwa sholawat adalah sunnatullah?
Karena yang sampeyan tanya adalah sunnatullah, maka ijinkan aku bertanya dulu
kepada sampeyan semua akal sehat kita dalam memaknai fakta, realita, kenyataan empirik.
Artinya, kalau di antara kita ada yang menolak fakta, realita, kenyataan empirik yang sudah
diakui umat manusia sejagat raya, maka silahkan keluar dan jangan bertanya sepatah kata
pun kepada aku. Setuju? kata Sufi tua dengan suara ditekan tinggi.
Sepakat, sahut ustadz Dul Wahab.
Aku tanya, menurut sampeyan semua, BUMI ini bentuknya bulat atau datar seperti
karpet digelar? tanya Sufi tua.
Ustadz Zakari as-Salaf seketika menyahut,Bumi datar seperti karpet digelar. Dalilnya
jelas! Dalam al-Quran surah al-Baqarah ayat 22 disebutkan bahwa Allah bersabda Dia
yang menjadikan bagi kalian bumi terhampar (firasy) dan langit sebagai atap (binaaa).
Surah al-Hijr ayat 19 juga menyatakan bahwa dan bumi Kami bentangkan (madadnaaha)
dan Kami tegakkan gunung-gunung.
Sufi tua ketawa tergelak. Sebentar kemudian ia bertanya,Jadi menurut sampeyan bumi
itu datar seperti karpet, dan langit itu pun seperti atap dan gunung-gunung tegak seperti
tiang?
Ya tafsirnya yang benar memang itu.
Sampeyan sudah tanya langsung kepada Allah bahwa tafsir yang sampeyan ikuti itu
yang paling benar di antara tafsir-tafsir lain? tukas Sufi tua terkekeh-kekeh.
Tentu tidak, bagaimana caranya bertanya langsung kepada Allah?
Artinya, sampeyan hanya mengklaim bahwa tafsir yang sampeyan ikuti itulah yang
paling benar sedang tafsir orang lain salah. Karena dalam kenyataan manusia sejagat raya

sudah yakin jika bumi adalah bulat, langit tidak seperti atap rumah sebagaimana yang
sampeyan bayangkan, gunung pun tidak bulat panjang seperti tiang sebagaimana sampeyan
bayangkan, maka silahkan sampeyan keluar dari tempat ini. Karena jelas, penjelasanku
tidak akan pernah bisa diterima oleh orang-orang seperti sampeyan. Dan kalau sampeyan
tetap ngotot minta penjelasan kepada aku, maka lebih baik kita carok saja di luar untuk
menentukan siapa benar dan siapa salah.
Melihat suasana panas, Guru Sufi menengahi dengan memberi isyarat agar Sufi tua tidak
lagi bersikap keras. Sufi tua menurut, tapi ia meminta kepada ustadz Dul Wahab untuk
mematuhi kesepakatan yang telah disepakati.
Baiklah, kata ustadz Dula Wahab,Ustadz Zakari as-Salaf biar saja di sini dan tidak
diusir keluar. Tapi dia tidak punya hak untuk berbicara apalagi bertanya sepatah kata pun
kepada sampeyan.
Setuju, sahut Sufi tua,Sekarang aku akan menjawab pertanyaan sampeyan. Ustadz.
Tapi pertama-tama, aku mau tanya kepada sampeyan, ustadz. Apakah menurut sampeyan
sholat tanpa sholawat itu hukumnya sah?
Ya tidak sah.
Sampeyan pernah menemukan hadits, cerita, kisah, data sejarah yang menyatakan
bahwa satu masa umat Islam pernah menghentikan amaliah sholat lima waktu dalam tempo
setahun, sebulan, seminggu, atau bahkan satu hari saja? sergah Sufi.
Ya pasti tidak pernah, karena dalam suasana perang pun orang tetap sholat.
Itu berarti, sholawat juga tidak pernah berhenti diucapkan orang barang satu hari pun
sejak zaman Rasulullah Saw hidup sampai sekarang ini. Orang menjalankan sholat dengan
kewajiban bersholawat di dalamnya itu sudah berlangsung 15 tanpa istirahat atau berhenti
satu hari pun. Apakah sampeyan mau ingkar terhadap fakta ini?
Ustadz Dul Wahab, Ustadz Jembudin al-Takriri dan Ustad Zakari as-Salaf diam.
Sampeyan bisa mencari seorang manusia yang namanya disebut dengan hormat dan
penuh kecintaan selama 15 abad tanpa henti selain Nabi Muhammad Saw? tanya Sufi tua.
Tapi simpulan itu berbahaya, bisa merusak Tauhid kita karena bisa potensial
menuhankan Muhammad ibn Abdullah, yang faktanya, Muhammad itu hanya menusia
biasa, sahut ustadz Jembudin at-Takriri menyela.
Jangan bilang Tauhid kita, ustadz, tukas Sufi tua sengit,Karena tingkat pemahaman
Tauhid sampeyan dengan aku Tauhid tidaklah sama.
Melihat suasana mulai hangat lagi, Guru Sufi menengahi. Dengan isyarat ia minta Sufi
tua untuk diam. Sebaliknya dengan suara merendah ia berkata,Mohon maaf, sebenarnya
Tauhid kita sama tapi tidak serupa dalam tingkat pemahaman. Maksudnya, Tauhid itu
dalam pemahaman kami tidak sama dengan sampeyan dan juga dengan orang lain, karena
masing-masing manusia memiliki perbedaan kualitas satu sama lain. Maksudnya, Tauhid

yang difahami Rasulullah Saw tentu tidak sama dengan Tauhid yang difahami para sahabat.
Begitu pula Tauhid yang difahami para sahabat tidak ada yang sama satu sama lain di
antara mereka, apalagi antara Tauhid yang difahami para sahabat dengan Tauhid yang
dipahami orang-orang dari golongan badui.
Maksud sampeyan apa menyatakan pemahaman Tauhid Rasulullah tidak sama dengan
pemahaman Tauhid sahabat? Bagaimana ini, Mbah Kyai? tanya Jembudin at-Takriri
memprotes.
Contoh sederhana, dari perkara itu, sahut Guru Sufi menjelaskan, Sewaktu Rasulullah
Saw hijrah dari Makkah ke Yatsrib didampingi sahabat Abu Bakar as-Shiddiq dan dikejar
kafir Quraisy, di tengah jalan beliau berdua masuk ke dalam gua Tsur agar tidak
tertangkap kafir Quraisy. Nah, sewaktu di dalam gua itulah, seorang pemuda Quraisy
dengan pedang terhunus masuk ke dalam gua. Abu Bakar yang sudah dididik Tauhid
langsung oleh Rasulullah Saw selama 13 tahun, ternyata gemetar dan mencucurkan airmata
saat melihat pemuda Quraisy itu mendekat, karena beliau khawatir pada keselamatan
Rasulullah Saw. Saat itulah, dengan tenang Rasulullah Saw menenangkan sahabat Abu
Bakar dengan bersabda,Innalahha maana bahwa sejatinya Allah bersama kita. Bukankah
itu bukti bahwa kualitas pemahaman Tauhid sahabat Abu Bakar tidak bisa dibandingkan
dan dipersamakan dengan Rasulullah Saw? kata Guru Sufi.
Ya jelas tidak sama, karena Muhammad itu Nabi yang dipilih Allah.
Nah, justru dengan dipilih oleh Allah itulah, kami meyakini bahwa Muhammad ibn
Abdullah Saw itu bukan manusia biasa sebagaimana kita, sehingga kami semua senantiasa
menyebut nama beliau dengan sebutan kecintaan dan kehormatan serta kemuliaan:
Sayyidina, Maulana, Habibina, Qurrota ayyunina, Gusti, Kangjeng, kata Guru Sufi.
Tapi berlebihan. Itu pengkultusan. Itu musyrik, tukas ustadz Jembudin at-Takriri.
Guru Sufi ketawa. Setelah itu dengan suara perlahan berkata,Bolehkah saya bertanya
kepada sampeyan tentang keberadaan Al-Quran?
Tanya keberadaan al-Quran yang bagaimana, Mbah? gumam ustadz Jembudin atTakriri agak keder karena ia sadar tidak cukup memiliki pemahaman mendalam tentang alQuran.
Jangan kuatir saya tanya yang macam-macam tentang al-Quran, kata Guru Sufi
dengan suara datar,Saya cuma ingin tahu apakah menurut pandangan sampeyan al-Quran
itu kitab yang memuat SABDA, WAHYU, KALAM, KATA-KATA ALLAH?
Ya pasti itu, al-Quran adalah Sabda Allah, sahut ustadz Jembudin at-Takriri.
Menurut pengetahuan sampeyan, apakah al-Quran yang memuat Sabda Allah itu
diturunkan ke dunia ini dengan cara Allah menjatuhkan kitab itu dari langit kepada Nabi
Muhammad Saw?
Tentu saja tidak, Mbah.

Dengan cara apa al-Quran diturunkan ke dunia? tanya Guru Sufi mengejar.
Dengan wahyu, sahut ustadz Jembudin at-Takriri,Wahyu lewat malaikat Jibril yang
disampaikan kepada Nabi Muhammad.
Apakah wahyu yang disampaikan Jibril kepada Nabi Muhammad Saw itu berupa
lembaran-lembaran kertas, papirus, lempengan tembaga? tanya Guru Sufi memburu.
Ustadz Jembudin at-Takirir bingung. Ia menoleh kepada ustadz Dul Wahab seperti
meminta bantuan pendapat. Karena ustadz Dul Wahab diam, ustadz Jembudin at-Takriri
pun menjawab sekenanya, Ya menurut pengetahuan saya, wahyu itu dilewatkan LISAN
Muhammad. Ayat demi ayat dari surah-surah dari wahyu yang turun selama 23 tahun itu
dicatat. Itulah al-Quran, menurut pemahaman saya.
Berarti sampeyan percaya al-Quran itu dalam kacamata empirik keluar dari LISAN
Nabi Muhammad Saw dan sekali-kali itu bukan kata-kata, kalam, sabda, ucapan pribadi
manusia bernama Muhammad ibn Abdullah?tanya Guru Sufi mendesak.
Ya itu keyakinan kami.
Kalau Muhammad ibn Abdullah itu manusia biasa, kenapa beliau bisa menjadi subyek
representatif yang mewakili Allah bersabda kepada manusia? Bukankah kalau yang
ditetapkan sebagai subyek yang representatif mewakili Allah bersabda itu kedudukannya
hanya manusia biasa, tentu bebas saja bagi orang-orang biasa di antara manusia yang bisa
menjadi subyek penyampai Sabda Allah? Kenapa sampeyan tidak meyakini bahwa kakek
moyang sampeyan yang dipilih mewakili Allah bersabda kepada manusia? tanya Guru
Sufi.
Ustadz Jembudin at-Takriri diam. Suasana tegang. Untuk mengatasi suasana, ustadz Dul
Wahab bertanya,Bolehkah saya tahu Mbah, kenapa Nabi Muhammad itu bisa memperoleh
kemuliaan seperti itu? Siapa sejatinya Nabi Muhammad sampai memperoleh kedudukan
setinggi itu di antara manusia?
Guru Sufi menyitir sebuah hadits qudsyi,Laulaka laulaka maa kholaqtu al-aflah
andaikata engkau tidak Aku cipta, maka tidak tercipta cakrawala.
O iya mbah, hadits qudsyi itu bagaimana maksudnya?
Dalam hadits qudsyi juga disebutkan, bahwa pada awalnya alam semesta ini berupa
hamparan Zat Ilahi yang meliputi segala, tidak ada zat lain kecuali Zat-Nya saja. Oleh
karena Dia itu Zat terahasia Yang ingin diketahui (Kuntu Kanzan Mahfiyan, Ahbabtu an
urifa), maka diciptakanlah ciptaan (fa kholaqtu kholqo). Ciptaan pertama itulah yang
disebut CAHAYA YANG TERPUJI (Nuur Muhammad). Nah Nuur Muhammad itulah
sumber dari segala sumber penciptaan alam semesta. Dengan\Nuur Muhammad itulah alam
semesta yang semula awang-uwung menjadi ada sumber bahan alam yang kasat mata
maupun yang tidak kasat mata. Begitulah makna hadits laulaka laulaka maa kholaqtu alaflah, yang menunjuk penciptaan Cahaya Muhammad sebagai Sumber penciptaan alam

semesta, kata Guru Sufi menjelaskan.


Ee apakah bisa dimaknakan juga bahwa Allah bersholawat kepada Nabi Muhammad itu
sejatinya bersholawat kepada Nuur Muhammad, yaitu Cahaya-Nya Sendiri Yang Terpuji?
Tidak bisa dipilah-pilah begitu, sahut Guru Sufi,Karena sholawat Allah dan para
malaikat itu bukan hanya kepada Nuur Muhammad sebagai Cahaya Allah Yang Terpuji,
tetapi eksplisit diberikan kepada Nabi Muhammad sebagaimana sabda-Nya : Innalloha wa
malaaikatahu yusholuuna ala Nabi. Makan sholawat itu disampaikan dari tingkat haqqi qat
Yang Terpuji (al-Haqqiqat al-Muhammadiyyah) sampai kepada pemunculan-Nya (tanazul)
sebagai Nabi Muhammad Saw.
Ustadz Dul Wahab diam. Ustadz Jembudin at-Takriri geleng-geleng kepala sambil
menggumam, Wah tambah bingung saya, Mbah. Pulang aja saya, daripada tidak faham
dan malah sesat dengan uraian sampeyan yang membingungkan itu, katanya berpamitan

Hakekat Shalawat

Assalamu'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh...


Sahabat NAQS dimanapun berada, sudah hampir setahun NAQS DNA berdiri dan
melakukan kegiatan pelatihan secara on line. Walaupun secara Formal dan Offline kiprah
NAQS tidak kelihatan, namun perkembangan siswa yang mengikuti melalui jalur ON LINE
sungguh sangat luar biasa. Ya, mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini menjadi amal
jariyah buat kita semuanya.
Sahabat, dalam hari-hari kemarin. Saya lebih banyak mengupas NAQS DNA dari sudut
pola fikir orang Indonesia yang multi kultur. Sehingga segala pola fikiran yang senada dan
seirama akan saya masukkan sebagai bahan pelajaran untuk menambah wawasan kita
bersama. Nah, kali ini akan saya hadirkan sebuah tulisan karya Bpk. Kuswanto Abu Irsyad.
Sekedar untuk menjawab pertanyaan siswa NAQS yang berada di Negara Malaysia, yang
sering bertanya mengenai asal-usul energi yang diusung oleh NAQS DNA.
Tulisan beliau ini merupakan sebuah pendekatan yang hampir tepat untuk menjelaskan
hakikat dari Energi yang digunakan oleh para praktisi NAQS. Yang merupakan Energi
Wasilah atau Frekwensi penghantar dari energi Doa kita agar sampai ke hadlirat Allah
SWT. Sinyal inilah yang di Attunementkan ke seluruh siswa dalam proses inisiasi. Setelah
siswa terhubung dengan Sistem Komunikasi Ilahiah ini, barulah Getaran Hati & Pikiran
mereka dapat tersambung secara langsung ke Alam Maha Kosmos. Bisa dikatakan, semua
siswa pasti mengetahui perbedaannya. Bagaimana mereka dulu ketika berkomunikasi
dengan Allah tanpa melalui sistem dan setelah melalui sistem. Sungguh sangat jauh

perbedaannya.
Tapi anda jangan berfikir ngeress ya... artinya kalau sudah tersambung dengan Allah secara
benar, otomatis semua ambisi duniawi kita akan di ijabahi.... he..he..he... Belum tentu
sayang... Inilah pola fikir orang-orang yang menjual akhirat untuk dunia. Makanya,
Attunement itu baru sebuah langkah awal. Langkah selanjutnya adalah pembinaan kepada
siswa bagaimana untuk hidup dengan benar sesuai Sistem Ilahi. Dan itu adalah proses yang
bertahap, step by step..... Okey, kita lanjut pembahasannya. Mari sinau tentang Hakikat
Shalawat
Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikatnya bersholawat atas Nabi; hai orang-orang
yang beriman, bersholawatlah untuk Nabi dan ucapkan s a l a m dengan penghormatan
kepadanya.(QS Al-Ahzab 33:56)
Shalawat sebagai tawasul pembuka hijab
Do'a masih akan terhalang bila orang yang berdo'a tersebut tanpa bertawassul dengan
bersholawat pada Nabi saw.. Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib kw. berkata:
Setiap do'a antara seorang hamba dengan Allah selalu diantarai dengan hijab (penghalang,
tirai) sampai dia mengucapkan sholawat pada Nabi saw.. Bila ia membaca sholawat,
terbukalah hijab itu dan masuklah do'a.' (Kanzul Umal 1:173, Faidh Al-Qadir 5:19)
Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib kw. juga berkata, Rasulallah saw. bersabda:
Setiap do'a terhijab (tertutup) sampai membaca sholawat pada Muhammad dan
keluarganya. ( Ibnu Hajr Al-Shawaiq 88 )
Juga ada riwayat hadits sebagai berikut:
Barangsiapa yang melakukan sholat dan tidak membaca shalawat padaku dan keluarga
(Rasulallah saw.), sholat tersebut tidak diterima (batal). (Sunan Al- Daruqutni 136)
Mendengar sabda Nabi saw. ini para sahabat diantaranya Jabir Al-Anshori berkata:
Sekiranya aku sholat dan didalamnya aku tidak membaca sholawat pada Muhammad dan
keluarga Muhammad aku yakin sholatku tidak di terima'. (Dhahir Al-Uqba : 19)
Begitu juga Imam Syafi'i dalam sebagian bait syairnya mengatakan:
Wahai Ahli Bait (keluarga) Rasulallah, kecintaan kepadamu diwajibkan Allah dalam AlQur'an yang diturunkan, Cukuplah petunjuk kebesaranmu, Siapa yang tidak bersholawat
(waktu sholat) padamu tidak diterima sholatnya.... .

Hakikat Shalawat
"Sesungguhnya orang-orang yang memaggilmu (bershalawat) dari belakang bilik-bilik
(masih terhijab batinnya) itu, kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka
bersabar, sampai engkau (Nur Muhammad) keluar (menampakkan) kepada mereka,
niscaya hal itu lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha
Penyayang" (QS 49 : 4-5)
Kebanyakan umat Islam, tidak tahu apa arti dari hakekat shalawat, tapi baru mengetahui
bacaan shalawat yang berupa tulisan, padahal tulisan allahumma shalli ala muhammad wa
ala ali muhammad bukanlah shalawat, ini hanya tulisan. Jika dibaca maka bunyinya
allahumma shalli ala muhammad wa ala ali muhammad- ini juga bukan shalawat, (ketika
dibaca terdengar bunyi bacaan shalawat).
Kita ambil contoh lain, dari huruf m a k a n kita mendengar bunyi makan- dan ini bukan

makan, karena huruf m a k a n (1), berbunyi makan- (2), ada action makan(3), yang di
awali dengan memasukkan makanan ke mulut, mengunyahnya, hingga menelannya.
Contoh lain, dari huruf s h a l a t (1) berbunyi shalat- (2), ada action shalat (3), yang
diawali dengan takbir diakhiri dengan salam.
Kembali ke s h a l a w a t (1), terbaca/berbunyi shalawat- (2), actionnya(3)?
Jika dijawab : Ituallahumma shalli ala muhammad wa ala ali muhammadLho itu kan
bacaannya.Jadi ada hal yang harus kita pertanyakan. *Bagaimanakah action shalawat itu
sehingga jika kita melakukan action itu secara otomatis melewati wilayah s h a l a w a t dan
shalawat.
Lewat action makan di dalamnya kita telah m a k a n dan makan-. Dengan penjelasan di
atas dapat disimpulkan untuk setiap konsep, pemahamnya selalu ada tiga. Jadi ada segitiga
pemahaman konsep.
* Untuk/kepada siapakah shalawat itu diberikan/ditujukan? Jika melihat bunyi ayat
tentang shalawatinna llaha wa malaikatahu yushalluna ala nnabiyyi ya ayyuha lladzina
amanu shallu alayhi wa sallimu taslimamaka shalawat ditujukan kepada Nabi
Muhammad s.a.w.) bacaannya ..allahumma shalli ala muhammad wa ala ali
muhammadMenurut pendapat saya pribadi.sangat pantas beliau mendapat
penghargaan seperti itusangat tidak mengherankan jika orang-orang yang hidup di
sekeliling beliau siap matisiap berkorban siap meninggalkan kemewahan dunia
anak.. isteri.. jabatan.. karena beliau memberi tuntunan sehingga para sahabat dapat
melihat dapat mendengar, dan dapat berbicara. Apa yang bisa menandingi
kebahagiaan tak terukur yang diakibatkan dari bisa melihat, bisa mendengar, dan bisa
berbicara. Jawabannya tidak ada. Ada ayat yang sangat keras bunyinya : (lebih
kurang) Katakan :Jika bapakmu, anakmu, harta bendamu, niaga yang kau khawatirkan
untung ruginya lebih aku cintai daripada aku maka rasakanlah azabku.
* Lalu bagaimana beliau bershalawat kepada dirinya sendiri?Beliau tidak akan
membunyikan bacaan shalawat. Tapi beliau melakukan actionnya. Lalu sekarang ini apakah
kita sudah bisa menulis a l l a h u m m a s h a l l i a l a m u h a m m a d w a a l a a l i m u
h a m m a d, apakah kita sudah bisa membaca tulisan itu sehingga berbunyi allahumma
shalli ala muhammad wa ala ali muhammad , dan apakah kita sudah bisa actionnya?
Catatan : Kita memang kadang sering lupa bahwa cahaya terang di ruangan ini karena ada
bohlam dan bohlam bisa menyala karena ada gardu dan gardu ini tak berarti apa-apa jika
tidak ada listriknyadan tentang listrik ini kita sebenarnya hanya melihat tanda-tanda
adanya listrik/gejala listrik. Saya tidak bisa melihat listriknya.
Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikatnya bersholawat atas Nabi; hai orang-orang
yang beriman, bersholawatlah untuk Nabi dan ucapkan s a l a m dengan penghormatan
kepadanya.(QS Al-Ahzab 33:56)
Berdasarkan fiman Allah seperti tersebut diatas, umat Islam diperintahkan untuk
bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pada saat ini kita mengenal beberapa jenis
kalimat sholawat yang dibuat oleh para Ulama, sesuai dengan keyakinan dan ajaran
alirannya masing-masing, diantaranya adalah sebagai berikut :
Semoga Allah memberi sholawat atas Nabi kita, Muhammad dan atas Keluarga serta
Sahabat-sahabatnya.
Dan berikanlah rahmat Allah dan salam Allah atas Nabinya Muhammad dan atas

keluarganya dan sahabatnya.


Ya Allah berilah rahmat dan sejahtera atas penghulu Nabi kami Muhammad Rosulullah.
Dalam dunia kaum Marifatullah, terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, yaitu :
Dia (Allah) berada dalam qolbu hambanya yang beriman. (Al Hadits)
Qolbu yang tersebut dalam hadits Nabi di atas oleh kaum Marifatullah dinamakan :

MahligaiNya Allah

Keraton-Nya Allah

Istana-Nya Allah

Masjid-Nya Allah

Rumah-Nya Allah

Qolbu itu disebut juga Induknya Rasa dan juga disebut Babuning Roh atau Rohul
Qudus atau Hu.
Induknya Rasa atau Rasanya Allah sama dengan Rasa Hakekat Muhammad. Sedangkan
Babuning Roh itu sama dengan Hakekat Muhammad juga. Jadi Rasa Allah
(Rosulullah) adalah Hakekat Muhammad yaitu Hakekat Rosul Allah.
.
jadi kesimpulannya adalah bahwa Qolbu itu adalah Muhammad sebagai makhluk
pertama yang Allah ciptakan dari Diri-Nya sendiri atau disebut juga dengan Sifatullah
atau Nurullah atau Jauhar Awal (Cahaya Pertama) atau Hu, yaitu Hakekat Muhammad.
Bermula manusia (Muhammad) itu rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya dan rahasia-Ku
adalah sifat-Ku dan sifat-Ku tidak lain adalah Aku. ( Hadits Qudsi )
Aku (muhammad) berasal dari Allah dan Alam ini bersal dari Aku (Muhammad). ( Hadits
Qudsi )
Telah datang akan kamu dari pada Allah itu NUR. (yaitu Nabi kita Muhammad SAW).
(QS An-Nisa 4:174)
. Dan dia (Hu) bersama kamu dimana saja kamu berada (atau jikasudah
menjadi insan yang suci, Dia selalu bersamamu). (QS Al-Mujadilah 58 : 7)
. Kami lebih dekat denganmu, dibanding leher dan urat lehermu. (QS Qaf
50:16)
TUJUAN BERSHOLAWAT.
Tujuan bersholawat dan mengucapkan salam atas Nabi Muhammad SAW, atas keluarganya,
serta sahabat-sahabatnya, terbagi atas 2 (dua) pendapat yang dapat diartikan secara Syariat
dan secara Hakikat yaitu :
1. Secara Syariat.
Umat Islam bersholawat dan mengucapkan salam atas Nabi Muhammad SAW, keluarganya
dan atas sahabat-sahabatnya, secara terperinci ditujukan kepada:

Rosul dan Nabi Muhammad bin Abdulah yaitu insan yang dibersihkan dan
disucikan oleh Allah SWT. Dan diangkat sebagai Nabi dan Rosul terakhir yang
sekarang sudah tidak ada lagi (wafat).

Keluarga Muhammad SAW yaitu : Anakistri-Ibu-Bapak-saudara dan famili yang


terdekat. ( Mungkin juga termasuk pamannya yang bernama Abu Jahal yang selalu
menjadi rintangan tugas Nabi ).

Kesemuanya itu sudah tidak ada lagi (wafat).

Para sahabat-sahabatnya yaitu yang diamksud : Abubakar r.a. Umar Usman r.a
Ali r.a. dsb. Ini pun keseluruhanya sudah tidak ada lagi. (wafat)

2. Secara Hakekat.
Umat Islam yang sudah menguasai ilmu syariat, Hakikat, Tarekat dan Marifat juga
bersholawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi mereka
bersholawat bukan ditujukan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah, juga tidak ditujukan
kepada para keluarga dan para sahabat Nabi, tapi ditujukan khusus kepada:
Nabi Muhammad selaku Hakekat Rosul Allah, sebagai makhluk yang pertama kali
diciptakan, makhluk yang tercinta dan termulia sesudah Allah, sebagai Rosul awal dan
akhir yang diberi rahmat untuk semesta alam. (Ini pun tergantung sampai dimana tingkatan
ilmu dan terbukanya hijab yang pernah dianugrahi Allah kepada hamba-hamba-Nya).
Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang diantara kamu, tetapi ia adalah
utusan Allah dan penghabisan semua Nabi.(QS Al-Ahzab 33:40)
Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ditengah-tengah kamu ada Rasul Allah . ( QS Al
Hujurot 49 :7 )
Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab ( Kitab Yang Bercahaya ), mengenalnya
( Nur Muhammad ) seperti mengenal anak-anak meereka sendiri dan sesungguhnya
segolongan diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya
. ( QS Al Baqoroh 2 : 146 ) lihat juga QS Al Anam 6 : 20.
Tugas Ku selesai setelah kiamat (Hadits)
Disamping ditujukan khusus kepada Hakekat Muhammad ketika membaca sholawat, ada
juga sebagian kaum Marifatullah menyebutkan keluarga dan sahabat-sahabatnya Nabi
dalam arti secara hakekat pula yaitu:
1. Yang dimaksud Keluarga Muhammad adalah mereka yang pernah mengenal
kepada Hakekat Muhammad yaitu yang pernah marifat kepada Dzat & Sifat
Allah.
2. Yang dimaksud dengan para sahabat-sahabat Muhammad yaitu: mereka yang
pernah Allah tunjukan jalan yang lurus; apakah mereka sudah sampai atau belum
(tahap marifat kepada Hakekat Rosul Muhammad atau disebut marifat kepada
Dzat dan sifat Allah). Hal ini tergantung dari keuletan, ketakwaan, keikhlasan, dan
keimanan dalam menjalankan amar maruf nahi mungkar yang diridhoi Allah,
sesuai dengan ajaran agama Islam.
Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu (Muhammad) keluar menemui
mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka dan Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.(QS Al-Hujarat 49:5).

(Bahagialah mereka jika mereka bersabar sampai Hakekat Muhammad menampakan


dirinya).
Umat Islam yang sudah sampai ke martabat Marifatullah, selalu bersholawat kepada Nabi
karena perintah Allah dalam Al Quran, dengan tidak menuntut imbalan jasa atau pahala.
1. Bahagialah orang yang bertemu dan mengenal Aku dan beriman kepada-ku.
(Mereka sudah mencapai derajat Isbatul yakin kepada Hakekat Muhammad).
2. Bahagialah, orang yang tidak bertemu aku, tapi bertemu dengan orang yang
mengenal kepada-ku (marifat) dan beriman kepada-ku.
Mereka baru mencapai derajat ilmul yakin terhadap adanya Hakekat Muhammad
dalam dirinya sesuai dengan ajaran Islam (ilmu) yang diterima dari guru
mursyidnya yaitu guru yang pernah bertemu dan mengenal Hakekat Muhammad.
Mereka sudah dapat dianggap sebagai para sahabat Nabi Muhammad dan apabila
mereka tekun dalam menjalankan tarekat, dan lebih bersabar serta lebih mencintai
Allah dan Rosul-Nya, Insya Allah dapat meningkat dari sahabat menjadi
Keluarga Nabi Muhammad.
3. Bahagialah, orang yang tidak bertemu dengan aku dan juga tidak mengenal dengan
orang yang mengenal kepada-ku (marifat), tapi beriman kepada ku.
Mereka yang tidak bertemu dengan hakekat Muhammad dan juga tidak bertemu dengan
orang yang mengenal Hakekat Muhammad (marifat), sehingga tidak dapat Berguru
kepadanya, tetapi beriman kepada Muhammad dan berguru kepada Ulama Syariat dan bisa
mendapat ilmu dari hasil membaca buku yang dikarang oleh para Ulama besar, mereka
berarti sudah percaya menurut kabar adanya Hakekat Muhammad pada dirinya sendiri.
Pada tahapan tersebut, mereka sudah termasuk umat Muhammad dan mudah-mudahan
dengan izin Allah, dibukakan hijab yang menjadi penghalang Qolbu sehingga lamabat laun
semoga Allah memberikan atau memancarkan Nurrun Ala Nurrin dan meningkat menjadi
insan atau sahabat Hakekat Muhammad.
Rasa Allah itulah Rasa Muhammad, itulah induknya Rasa atau disebut Hakekat
Muhammad induknya rasa yang bersih dan suci disebut Qolbu mumin yang menjadi
mahligai Allah.
Induk Rasa (Hakekat Muhammad) itu terbagi atas 2 kategori:
Terdiri dari 5 (lima) rasa lahir dan 1 (satu) rasa lahir batin yang mencangkup kelima rasa
tersebut tadi. Jadi jumlahnya ada 6 (enam) rasa.
1. Rasa ke 1 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa jasad,Rosulnya Adam a.s. dan sahabat
Rosulnya Adam Kholifatullah
2. Rasa ke 2 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa pendengaran /kuping, Rosulnya
Ibrahim a.s dan sahabat Rosulnya Ibrahim Habibullah
3. Rasa ke 3 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa penglihatan / mata, Rosulnya Daud a.s
dan sahabat Rosulnya Daud Kholilullah
4. Rasa ke 4 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa mulut/lidah, Rosulnya Musa a.s dan
sahabat Rosulnya Musa Kalamullah

5. Rasa ke 5 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa mencium atai hidung, Rosulnya Isa a.s
dan sahabat Rosulnya Isa Rohullah
6. Rasa ke 6 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa Qolbu, rasa lahir batin yang mencakup
kelima (5) rasa tersebut diatas atau disebut Hakekat Muhammad atau Rosul/Rasa
Allah.Rosulnya Muhammad Saw. Dan sahabat Rosulnya Muhammad
Rosulullah.
Dengan adanya keterangan / penjelasan tersebut diatas, semoga pembaca sudah dapat
menangkap atau sudah dapat menerima bahwa yang dianggap Hakekat Keluarga dari
Hakekat Muhammad itu adalah para Rosul dan para Nabi.
Para Nabi itu adalah bersaudara seayah dan seibu, syareatnya berbeda-beda, sedangkan asal
dan pokok agamanya satu ( Hadits ).
Adapun yang dimaksud Sahabat-sahabat dari Hakekat Muhammad itu adalah Insan
yang benar-benar beriman dan sedang menjalankan Sabilillah, berusaha mencapai tingkat
tinggi, hingga diberi anugerah Allah untuk dapat marifat (bertemu, melihat dan mengenal)
dengan Hakekat Muhammad atau disebut Sifatullah atau Hakekat Syahadat.
Dimana ada sifat disitu ada Dzat. Dimana ada Muhammad disitu ada Allah.
Merekalah yang dianugerahi Ilmu Laduni yaitu NURRUN ALA NURRIN
(marifatullah).
(Bapak Kuswwanto Abu Irsyad) [http://nurhayun.blogspot.com/2010/07/hakikatshalawat.html}
ALLAHUMMA SHALLI ALAA SYAIYIDINA MUHAMMADIN WA AALIHI
KAMALA NIHAYATA LIKAMALIKA WAADADA KAMAALIHI