Anda di halaman 1dari 13

3.

PEMBAHASAN

Surimi merupakan produk olahan daging ikan tanpa duri dan komponen lainnya, yang
diolah hingga menghasilkan produk setengah jadi dalam bentuk ikan giling. Surimi
diproduksi dengan memisahkan daging ikan yang kaya protein myofibril dari komponen
lainnya seperti tulang, kulit ikan, dan duri, serta dihilangkan kotoran-kotoran lainnya
dengan cara pencucian menggunakan air dingin. Pencucian dengan air dingin selain
bertujuan untuk menghilangkan kotoran, juga untuk memisahkan daging dengan lemak
ikan yang menempel, serta mencegah hilangnya protein myofibril tersebut karena bersifat
tidak larut air, sehingga didapatkan protein myofibril pada daging ikan tersebut. Protein
myofibril tersebut kemudian dicampur dengan cryoprotectant dan didapatkan produk
olahan yang disebut dengan surimi. Tahap pembuatan surimi secara lengkap setelah
pemisahan daging ikan dengan komponen lainnya adalah pencucian dan penghilangan
air, penghalusan, penambahan cryoprotectant, dan pembekuan (Huda et al, 2011). Surimi
memiliki kandungan lemak yang rendah karena telah dilakukan pencucian sehingga yang
terkandung dalam surimi sebagian besar adalah protein, sehingga produk surimi sering
digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi protein (Hajidoun & Jafarpour, 2013).

Pada praktikum ini dilakukan percobaan pembuatan surimi dengan menggunakan daging
ikan bawal. Ikan bawal utuh memiliki kandungan kalori sebesar 84 g, protein 18,2 g,
lemak 0,7 g, kolesterol 44 mg, dan zat besi 0,4 mg dalam 100 gram ikan bawal utuh
(Eigenmann & Kennedy, 1903). Pembuatan atau pengolahan daging ikan menjadi surimi
memiliki tujuan untuk memperpanjang umur simpan, karena ikan yang telah mati sangat
mudah dan cepat rusak atau busuk (Zaitzev et al, 1969). Ikan yang telah mati mudah
mengalami kebusukan karena memiliki kandungan protein yang tinggi, yang merupakan
sumber nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri aatau mikroorganisme
pembusuk lainya, serta memiliki kadar air yang tinggi dan pH netral sehingga
mikroorganisme dapat tumbuh baik pada ikan yang telah mati (Moeljanto, 1994). Proses
pembusukkan ikan juga mudah terjadi karena proses autolisis oleh enzim-enzim yang
telah ada dalam tubuh ikan itu sendiri (Zaitev et al, 1969). Proses oksidasi juga dapat
menyebabkan kerusakan pada ikan yang telah mati, karena ikan memiliki kandungan
lemak yang cukup tinggi (Harris & Karmas, 1987).

Perobaan pembuatan surimi diawali dengan pemisahan daging ikan bawal dari tulang,
kulit, kepala, sirip, isi perut dan lainnya, sehingga didapatkan daging ikan yang bersih
yang berwarna putih. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Suzuki (1981), bahwa tahap
awal pembuatan surimi adalah memisahkan bagian-bagian tersebut karena bagian-bagian
tersebut tidak diperlukan dalam pembuatan surimi, kemudian didapatkan daging ikan
yang kemudian dilumatkan dengan cara digiling.

Tahap penggilingan ikan dilakukan dengan menggunakan blender, yaitu sebanyak 100
gram daging ikan diblender untuk dihaluskan. Selama proses penghalusan dapat
ditambahkan es batu. Es batu yang ditambahkan berguna untuk menurunkan suhu
didalam blender, sehingga dapat menjaga kesegaran daging ikan tersebut (Gaman &
Sherrington, 1994). Proses penghancuran tersebut dilakukan karena memang pada
dasarnya, surimi merupakan produk olahan daging ikan yang dilumatkan (Suzuki, 1981).
Proses pelumatan tersebut juga dapat berkaitan untuk memperluas permukaan daging
ikan, sehingga dapat lebih mudah untuk bahan cryoprotectant meresap kedalam daging
ikan. Hal tersebut didukung dengan pernyataan Arpah (1993), bahwa semakin luas
permukaan bahan maka semakin cepat senyawa yang ditambahkan dalam bahan tersebut
untuk tercampur dan bereaksi.

Daging ikan yang telah halus kemudian dicuci menggunakan air dingin atau air es
sebanyak 3 kali. Hal ini bertujuan untuk mengilangkan bahan pengotor yang menempel
pada daging ikan serta untuk menghilangkan lemak pada daging ikan tersebut sehingga
didapatkan daging ikan yang hanya mengandung sebagian besar protein myofibril
(Santana et al, 2012). Proses pembersihan daging ikan tersebut juga bertujuan untuk
mendukung berhasilnya dalam pembuatan surimi, karena didalam pembuatan surimi
dibutuhkan terjadinya pembentukan gel, sedangkan pada komponen-komponen lain pada
tubuh ikan terkandung zat-zat lain seperti enzim proteolitik yang dapat mengganggu
pembentukan gel sehingga dapat menyebabkan gagalnya pembuatan surimi (Piotrowicz
& Mellado, 2015). Hal tersebut juga didukung dengan pernyataan Nielsen (1994), bahwa
pada proses pencucian tersebut dapat melarutkan lemak, enzim, protein sarkoplasma, dan

darah, sedangkan yang tertinggal adalah protein myofibril yang berguna dalam
pembentukan gel untuk pembuatan surimi.

Tahap setelah pencucian dengan air es adalah penyaringan. Proses penyaringan bertujuan
untuk memisahkan partikel padat dengan partikel cair, yaitu daging ikan lumat dengan
air es yang digunakan untuk mencuci (Suyitno, 1989). Hal ini sesuai dengan pernyataan
Santana et al (2012), bahwa setelah proses pencucian maka dilakukan dewatering atau
penghilangan air sisa dari tahap pencucian daging ikan lumat tersebut, dengan
penyaringan yang disertai dengan diperas.

Tahap selanjutnya adalah penambahan sukrosa, garam, dan polifosfat. Penambahan


sukrosa dilakukan dengan kadar yang berbeda, yaitu pada kelompok E1 dan E2
ditambahakan sukrosa sebanyak 2,5%, sedangkan pada kelompok E3, E4, dan E5
ditambahkan sukrosa sebanyak 5% dari berat daging ikan yang digunakan. Pada
penambahan garam, pada semua kelompok didtambahkan garam dengan kadar yang sama
yaitu sebanyak 2,5%. Pada penambahan polifosfat diberi perlakuan yang berbeda, yaitu
pada kelompok E1 ditambahkan 0,1%, kelompok E2 dan E3 ditambahkan sebnayak
0,3%, dan pada kelompok E4 dan E5 ditambahkan 0,5% polifosfat. Penggunaan sukrosa
dan polifosfat ini menurut Huda et al (2011), adalah sebagai cryoprotectant, yaitu
penggunaan sukros yang sering digunakan dalam pembuatan surimi adalah sebesar 4%,
dan polifosfat sebanyak 0,2-0,3%.

Penambahan sukrosa pada lumatan daging ikan berfungsi sebagai bahan cryoprotectant.
Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Parvathi & George (2014), bahwa sukrosa
merupakan salah satu bahan cryoprotectant. Bahan cryoprotectant berguna untuk
mencegah terjadinya denaturasi protein myofibril pada daging ikan lumat yang akan
dibekukan, karena protein dalam daging ikan terutama ikan dari perairan tropis mudah
untuk terdenaturasi selama proses penyimpanan dalam suhu beku atau pada keadaan
psychrotrophic. Cryoprotectant selain sukrosa, dapat juga menggunakan sorbitol dan
fosfat (Dey & Dora, 2011). Penambahan sukrosa selain sebagai cryoprotectant dapat juga
sebagai bahan pengikat molekul air bebas pada surimi yang dapat memperpanjang umur
simpan, karena mengurangi aktivitas air sehingga mikroorganisme menjadi tidak dapat

tumbuh dengan baik (Winarno et al, 1980). Sukrosa yang ditambahkan juga berfungsi
untuk menambahkan rasa manis dan menambahkan jumlah kalori pada surimi (Nopianti
et al, 2012).

Penambahan garam pada pembuatan surimi memiliki tujuan, yaitu untuk melarutkan
protein myofibril. Pelarutan protein myofibril tersebut menyebabkan terlepasnya miosin
dari myofibril yang kemudian miosin akan saling berikatan dengan aktin, sehingga
terbentuk aktomiosin. Aktomiosin yang terbentuk menyebabkan terbentuknya gel yang
kuat pada produk surimi yang dihasilkan (Winarno et al, 1980). Menurut Huda et al
(2011), menyatkan bahwa garam dapat melarutkan protein myofibril dalam keadaan
suasana alkali atau pH basa. Penggunaan sukrosa dan garam juga memiliki fungsi lain
pada pembuatan surimi, yaitu untuk menambahkan cita rasa pada produk surimi yang
merupakan produk setengah jadi yang dapat diolah lebih lanjut menjadi produk pangan
seperti sosis ikan (Winarno et al, 1980).

Penambahan polifosfat pada pembuatan surimi berguna untuk menghasilkan produk


surimi yang bertekstur lembut dan kenyal. Hal ini dikarenakan pada penambahan
polifosfat pada daging ikan lumat menyebabkan meningkatnya daya ikat air atau water
holding capacity (WHC) pada surimi (Paranginangin et al, 1999). Hal ini dikarenakan
polifosfat dapat membuka struktur protein sehingga protein myofibril pada surimi dapat
mengikat lebih banyak air, yang menyebabkan WHC surimi menjadi meningkat
(Nopianti et al, 2012). Fungsi lain penambahan polifosfat adalah untuk meningkatkan
efektifitas pada cryoprotectant yang digunakan dalam pembuatan surimi tersebut
(Shaviko et al, 2010).

Tahap berikutnya adalah pengemasan. Pengemasan yang dilakukan menggunakan


kemasan plastik bening, yaitu daging ikan lumat yang telah diberi perlakuan dimasukkan
dalam kantung plastik bening dan diikat kuat pada mulut platik tersebut. Tujuan
pengemasan tersebut adalah untuk mencegah terjadinya freezer burn, yang dapat
menyebabkan perubahan tekstur, warna, rasa, dan nilai gizi pada surimi yang dibekukan
(Desrosier, 1998). Fungsi pengemasan lainnya adalah untuk mencegah terjadinya
oksidasi lemak pada daging ikan yang mungkin masih tertinggal atau tersisa dalam daging

10

ikan tersebut. Proses oksidasi terjadi akibat dari adanya reaksi antara minyak atau lemak
dengan udara khususnya oksigen yang menyebabkan ketengikan (Miyake et al, 1985).

Tahap terakhir dalam pembuatan surimi adalah pembekuan, yang dilakukan dengan cara
memasukkan surimi yang telah dikemas kedalam freezer dan didiamkan selama semalam.
Tujuan pembekuan tersebut adalah untuk memperpanjang umur simpan, sama dengan
salah satu tujuan pembuatan surimi yaitu untuk mengolah daging ikan sehingga memiliki
umur simpan yang panjang (Zaitzev et al, 1969). Hal tersebut didukung oleh pernyataan
Murniyati (2005), bahwa proses pembekuan dalam pembuatan surimi, dapat
mempertahankan mutu surimi agar tetap terjaga. Surimi yang telah dibekukan selama
semalam, selanjutnya di-thawing dan dilakukan pengamatan. Tujuan proses thawing
adalah untuk mencairkan es pada surimi sehingga surimi tidak lagi bertekstur keras
sehingga dapat dilakukan pengamatan yang meliputi pengamatan hardness, WHC, dan
sensori berupa kekenyalan dan aroma.

Pengukuran hardness menggunakan alat texture analyzer, sedangkan untuk penentuan


nilai WHC atau water holidng capacity dilakukan dengan perhitungan menggunakan
rumus yaitu luas area bash dikurangi 8 kemudian dibagi 0,0948, sehingga didapatkan
WHC dalam bentuk mg H2O. Pada pengamatan sensori dilakukan oleh seorang panelis
yang mengukur kekenyalan dan aroma surimi.

Pengukuran hardness dilakukan untuk mengukur tingkat kekerasan dan kepadatan surimi
yang dihasilkan, karena WHC juga dapat mempengaruhi atau berhubungan dengan
hardness pada surimi. Nilai WHC sangat dipengaruhi oleh jumlah atau kadar polifosfat
yang digunakan, karena semakin tinggi kadar polifosfat maka WHC akan semakin besar,
sehingga akan didapatkan surimi dengan tekstur yang lembut dan kenyal (Peranginangin
et al, 1999). Nilai hardness terbesar adalah pada hasil pengamatan kelompok E3 dan E5,
yang menggunakan kadar sukrosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok E1
dan E5, yaitu sebesar 5%. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa semakin tinggi kadar
sukrosa yang digunakan maka semakin besar nilai hardness-nya. Hal ini berhubungan
dengan fungsi sukrosa sebagai cryoprotectant yang dapat menjaga protein dalam surimi

11

tidak terdegradasi oleh suhu pendinginan, sehingga kepadatan dan kekerasan surimi tetap
terjaga (Parvathi & George, 2014).

Water holding capacity atau WHC dipengaruhi oleh kepadatan atau hardness pada
surimi. Hal ini dikarenakan pengukuran WHC dilakukan dengan mengukur luas area
surimi yang dipihpihkan, sehingga semakin lembut atau kenyal surimi maka semakin
besar luas area surimi saat dipipihkan sehingga nilai WHC juga semakin besar. Menurut
Paranginangin et al (1999), nilai WHC dipengaruhi oleh penambahan polifosfat, karena
polifosfat memiliki fungsi untuk meningkatkan kemampuan daya ikat air dalam surimi,
sehingga semakin besar kadar polifosfat yang ditambahkan, maka semakin besar nilai
WHC-nya. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengamatan, yaitu pada kelompok E5 yang
menggunakan penambahan polifosfat 0,5% lebih besar dibandingkan dengan kelompok
lain yang menggunakan polifosfat sebanyak 0,3% dan 0,1%, dan nilai WHC terendah
adalah pada kelompok E1 yang hanya menggunakan polifosfat sebanyak 0,1%. Nilai
WHC juga dipengaruhi oleh waktu penyimpanan, karena semakin lama waktu
penyimpanan surimi pada mesin pembeku maka menyebabkan nilai WHC semakin
menurun. Nilai WHC dapat dijaga agar tidak terlalu banyak mengalami penurunan selama
proses penyimpanan dengan penambahan cryoprotectant (Nopianti et al, 2012).

Pada hasil pengamatan sensori pada aspek kekenyalan, didapatkan hasil yang berbeda
pada setiap kelompok, yaitu pada kelompok E1, E2, dan E5 memiliki tingkat kekenyalan
yaitu kenyal dan pada kelompok E4 dan E5 sangat kenyal. Tingkat kekenyalan
dipengaruhi oleh pembentukan gel oleh protein pada surimi. Proses pembentukan gel
dipengaruhi oleh kadar air didalam air dan kandungan garam pada surimi tersebut, karena
kandungan garam menentukan kelarutan protein pembentuk gel pada surimi. Kadar air
menentukan kapasitas pembentukan gel, yaitu kadar air yang baik adalah antara 74-80%,
dan standarnya adalah sebesar 78% (Piotrowicz & Mellado, 2015). Pembentukan gel
yang menentukan kekenyalan surimi yang dihasilkan juga bergantung pada keadaan mutu
ikan yang digunakan dalam pembuatan surimi, terutama adalah tingkat kesegaran ikan.
Hal ini dikarenakan pada ikan yang segar memiliki mutu yang lebih baik dari pada ikan
yang sudah tidak segar. Hal ini berhubungan dengan kandungan protein pada ikan, yaitu
pada ikan segar memiliki kandungan protein yang utuh dan masih dalam kondisi baik,

12

sedangkan pada ikan yang sudah tidak segar memiliki kandungan protein yang telah
mengalami degradasi secara alami sehingga akan menurunkan kemampuan pembentukan
gel protein pada surimi (Phatcharat et al, 2004). Menurut Paranginangin (1999),
kekenyalan juga dipengaruhi oleh penambahan polifosfat, yaitu semakin besar
konsentrasi polifosfat yang ditambahkan maka daya ikat air meningkat sehingga semakin
kenyal, hal ini dibuktikan dengan hasil pengamatan bahwa pada penggunaan polifosfat
0,5% pada kelompok E5 memiliki tingkat kekenyalan yang lebih kenyal dibandingkan
pada polifosfat 0,1% dan 0,3%.

Hasil pengamatan sensori pada aspek aroma, didapatkan bahwa masih timbul aroma yang
sangat amis pada hasil pengamatan E2 dan E5, sedangkan pada hasil pengamatan
kelompok E1, E3, dan E4 memiliki aroma yang sama yaitu amis. Surimi yang memiliki
aroma sangat amis, dapat disebabkan oleh penggunaan ikan bawal yang tingkat
kesegarannya telah menurun sehingga sebelum diolah menjadi surimi, ikan tersebut telah
memniliki aroma yang amis. Faktor lain yang menyebabkan aroma surimi menjadi sangat
amis adalah kurang bersihnya dalam pencucian daging ikan, baik pencucian saat ikan
dalam keadaan utuh atau saat pencucian daging ikan lumat menggunakan air es
(Reinheimer, 2010). Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan Neilsen (1994), bahwa
pencucian yang kurang bersih dapat menyisakan darah pada daging ikan yang dapat
menyebabkan surimi menjadi beraroma sangat amis.

4.

KESIMPULAN

Surimi merupakan olahan daging ikan yang dalam bentuk setengah jadi.

Tahap pembuatan surimi adalah pembersihan dan pencucian, penghalusan,


penambahan cryoprotectant, pengemasan, dan pembekuan.

Daging ikan yang digunakan dalam pembuatan surimi adalah daging yang hanya
mengandung sebagian besar protein myofibril.

Fungsi penambahan cryoprotectant adalah untuk mencegah terjadinya denaturasi


protein selama proses penyimpanan dalam suhu beku.

Sukrosa dan polifosfat dapat ditambahkan dalam surimi sebagai cryoprotectan.

Polifosfat dapat membuka struktur protein sehingga protein myiofibril dapat


mengikat lebih banyak air, sehingga WHC semakin tinggi.

Semakin tinggi kadar polifosfat maka semakin besar nilai WHC.

Penggunaan cryoprotectant dapat mengurangi terjadinya penuruan nilai WHC


selama proses penyimpanan atau pembekuan.

Penambahan garam berguna untuk melarutkan protein myofibril dalam surimi.

Pencucian

mengguanakan

air

es

berguna

untuk

membersihkan

dan

menghilangkan lemak dan menghilangkan bau amis pada daging ikan lumat.

Komponen lain pada daging ikan dapat menyebabkan kegagalan dalam


pembuatan surimi, sehingga harus dihilangkan.

Kekenyalan pada surimi dikarenakan bersatunya protein aktin dengan miosin


sehingga membentuk aktomiosin, yang dapat membentuk gel protein.

Semarang, 3 November 2015


Praktikan,

Asisten Dosen
- Yusdhika Bayu S.

Sylvester Agathon
13.70.0040
Kelompok E5

13

5.

DAFTAR PUSTAKA

Arpah, M. 1993. Pengawasan Mutu Pangan. Tarsito. Bandung.


Desrosier, N.W. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. Penerjemah Muchji M. UI-Press.
Jakarta.
Dey Satya, S dan Dora Krushna, C. 2010. Suitability of chitosan as cryoprotectant on
croaker fish (Johnius gangeticus) surimi during frozen storage. Association of
Food Scientists & Technologists. India.
Eigenmann, C.H. and C.H. Kennedy. 1903. On a collection of fishes from Paraguay,
with a synopsis of the American genera of cichilds. Proc. Acad. Nat. Sci.
Priladelphia, 55: 497-537.
Gaman, P. M dan K. B. Sherrington. 1994. Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi
dan Mikrobiologi. Universitas Gadjah Mada press. Yogyakarta.
Hajidoun Habib, A dan Jafarpour, A. 2013. The Influence of Chitosan on Textural
Properties
of
Common
Carp
(Cyprinus
Carpio)
Surimi.
http://dx.doi.org/10.4172/2157-7110.1000226. Diakses pada tanggal 31 Oktober
2015.
Harris, R. S. dan E. Karmas. 1987. Nutritional Evaluation of Food Processing Third.
Huda, N.; Leng, O. H.; and Nopianti, R. 2011. Cryoprotectant of Different Level of
Polydextrose in Threadfin Bream Surimi During Frozen Storage. Journal of
Fisheries and Aquatic Science 6 (4):404-416.
Miyake, Y.; Y. Hirasawa; and M. Miyanabe. 1985. Technology of Surimi
Manufacturing. Infofish Marketing Digest 6:31-34. Kuala Lumpur.
Moeljanto. 1994. Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. PT. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Murniyati, A.S. 2005. Pembekuan Ikan, SUPM Tegal. Tegal.
Nielsen, R.G. dan G.M. Pigott. 1994. Gel Strength Increased In Low-Grade Heat-Seat
Surimi With Blended Phospates. Journal Food Science. 2(59):246-250.
Nopianti, R.; Huda, N.; Fazilah, A.; Ismail, N.; and Easa, A. M. 2012. Effect of Different
Type of Low Sweetness Sugar on Physicochemical Properties of Threadfin
Bream Surimi (Nemipterus spp.) During Frozen Storage. International Food
Research Journal 19 (3): 1011-1021.

14

15

Parvathy, U. And George, S. 2014. Infuence of Cryoprotectant Level on Storage Stability


of Surimi from Nemipterus japonicus and Qualitu of Surimi-Based Products.
Journal of Food Scientists Tecnology.
Peranginangin R.; Wibowo S.; Nuri Y.; dan Fawza. 1999. Teknologi Pengolahan Surimi.
Jakarta: Instalasi Penelitian Perikanan Laut Slipi, Balai Penelitian Perikanan
Laut.
Phatcharat, S; Benjakul, S; and Visessanguan, W. 2004. Effect of Washing with Oxidising
Agents on The Gel-Forming Ability and Physicochemical Properties of Surimi
Produced From Bigeye Snapper (Priacanthus tayenus). Department of Food
Technology Prince of Songkla University Thailand.
Piotrowicz, I. B. B. And Mellado, M. M. S. 2015. Chemical, Technological and
Nutritional Quality of Sausage Processed with Surimi. International Food
Research Journal. Brazil.
Reinheimer et al. 2010. Quality Characteristics of Surimi Made From Sabalo
(Prochilodus platensis) as Affected by Water Washing Composition. World
Congress and Exhibiton Engineering. Argentina.
Santana, P.; Huda, N.; and Yang, T. A. 2012. Technology for Production of Surimi Poeder
and Potential of Aplications. International Food Research Journal 19(4):13131323.
Shaviklo, G. R., Gudjon T., and Sigurjon Arason. 2010. The Influence of Additives and
Frozen Storage on Functional Properties and Flow Behaviour of Fish Protein
Isolated from Haddock (Melanogrammus aeglefinus). Turkhish Journal of
Fisheries and Aquatic Sciences 10: 333-340.
Suyitno.(1989). Petunjuk Laboratorium Rekayasa Pangan. Pusat Antar Universitas.
Suzuki T. 1981. Fish and Krill Protein Processing Technology. Applied Science
Publishing. Ltd. London.
Winarno F.G.; Fardiaz S.; dan Fardiaz D. 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta:
PT.
Gramedia.
Zaitsev, V.; I. Kizevetter; L. Lagunov; T. Makarova; L. Minder; dan V. Podselalov.
(1969). Fish Curing and Processing. MIR Publishers. Moscow.

6.

LAMPIRAN

6.1.

Perhitungan

Rumus :
L =

1
a h +4 h
3

+2 h

+4 h

+h

L =

1
a h +4 h
3

+2 h

+4 h

+h

Larea basah = L L
Mg H2 O=

Larea basah - 8,0


0,0948

Kelompok E1
L = 46 116 + 4 188 + 2 204 + 4 196 + 110
L = 33273,33
L =

1
46 116 + 4 35 + 2 13 + 4 30 + 110
3

L = 7850,67
Larea basah = 33273,33 7850,67 = 25422,66
Mg H2 O=

25422,66-8,0
=268087,13
0,0948

Kelompok E2
L = 48,5 120 + 4 227 + 2 238 + 4 225 + 102
L = 40513,67
L =

1
48,5 120 + 4 33 + 2 19 + 4 41 + 102
3

L = 8988,67
Larea basah = 40513,67 8988,67 = 31525
Mg H2 O=

31525-8,0
=332457,81
0,0948

16

17

Kelompok E3
L = 50 126 + 4 199 + 2 207 + 4 202 + 93
L = 37284,079
L =

1
50 126 + 4 36 + 2 33 + 4 39 + 93
3

L = 9750,195
Larea basah = 37284,079 9750,195 = 27533,884
Mg H2 O=

27533,884-8,0
=290357,43
0,0948

Kelompok E4
L = 49 104 + 4 183 + 2 188 + 4 176 + 103
L = 32970,27
L =

1
49 104 + 4 19 + 2 10 + 4 26 + 103
3

L = 6646,31
Larea basah = 32970,27 6646,31 = 26323,96
Mg H2 O=

26323,96-8,0
=277594,52
0,0948

Kelompok E5
L = 50 82 + 4 204 + 2 222 + 4 203 + 76
L = 37166,67
L =

1
50 82 + 4 21 + 2 15 + 4 24 + 76
3

L = 6133,33
Larea basah = 37166,67 6133,33 = 31033,34
Mg H2 O=

31033,34-8,0
=327271,52
0,0948

18

6.2.

Jurnal

6.3.

Laporan Sementara