Anda di halaman 1dari 30

BAHAN REKREASI KOMPREHENSIF

NOMOR 1
1. Efektivitas guru dalam melakukan pembelajaran salah satunya ditentukan dari professional
perspective, yaitu teacher educational program, professional organization, dan national
leadership organization.
a. Deskripsikan pemahaman saudara tentang tiga lingkup perspektif tersebut jika dikaitkan
dengan profesionalisasi guru diINdonesia saat ini
b. Berdasarkan professional perspektif tersebut deskripsikan persoalan-persoalan pembelajaran
di Indonesia saat ini yang merupakan akibat dari hal tersebut
c. Kebijakan apa yang seharusnya dilakukan oleh lembaga pendidikan untuk mengatasi
persoalan tersebut
Jawab:
a.
1) Teacher edu program:
Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan yang selanjtnya disebut Program
Pendidikan Profesi Guru (PPG) adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk
mempersiapkan lulusan S1 kependidikan dan S1/D IV non kependidikan yang memiliki bakat
dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar
nasional pendidikan sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik profesional pada Pendidikan
Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Tujuannya untuk menghasilkan
calon guru yang memiliki kompetensi dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai
pembelajaran; menindaklanjuti hasil penilaian dengan melakukan pembimbingan, dan pelatihan
peserta didik; mampu melakukan penelitian dan mengembangkan profesionalitas secara
berkelanjutan. Secara eksplisit dalam penjelasan pasal 15 UU No.20/2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah
program sarjana yang menyiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan
keahlian khusus. Harapannya Pada pasal 10 UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
juga menyebutkan bahwa kompetensi profesional guru diperoleh melalui pendidikan profesi.
seseorang yang lulus program ini akan mendapatkan sertifikat pendidik dan gelar Gr, yang
menjadi syarat seseorang yang akan mengajar/ sebagai guru (diatur dalam PERMENDIKBUD
nomor 87 th 2013). Dengan demikian seorang sarjana pendidikan tidak dapat mengajar jika
belum mendapatkan sertifikat mengajar melalui program PPG ini. Sertifikat ini nantinya
digunakan dalam program sertifikasi guru.
2) Professional organization:
Untuk mewujudkan sikap profesional seorang guru perlu di bentuk suatu organisasi, agar dapat
menampung semua masukan yang ada dari berbagai masalah dari seorang guru tersebut agar
kedepannya mampu untuk memberikan pembelajaran yang lebih baik. Organisasi penyandang
profesi kependidikan memiliki kekuatan dan kekuasaan dalam menjalankan tugas
keprofesiannya. Oganisasi profesi pendidik juga berupaya meningkatkan dan mengembangkan
karier, kemampuan, kewenangan profesional, martabat, dan kesejahteraan pendidik. Melalui

organisasi tersebut, seorang guru di lindungi dari penyalahgunaan yang dapat membahayakan
keutuhan dan kewibawaan profesinya. Maka organisasi profesi menyerupai suatu sistem yang
senantiasa mempertahankan keadaan yang harmonis. Dalam praktek keorganisasian, anggota
yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan akan diperingatkan atau bahkan di dapat
dipecat. Jadi di sini organisasi profesi mempunyai peraturanyang jelas dan sanksi yang jelas bagi
siapa saja yang melanggarnya (Duty Anari, 2012).
Berdasar pada Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagai profesi
pendidik, pengembangan keprofesian berkelanjutan dibutuhkan untuk meningkatkan
profesionalisme guru.Guru dituntut memenuhi serangkaian kegiatan yang menjadi kebijakan
nasional pengembangan profesi guru seperti Uji Kompetensi Guru (UKG), Penilaian Kinerja
Guru (PKG) dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Macam PKB ini di
antaranya adalah pertama, pengembangan diri melalui diklat fungsional dan kegiatan kolektif
guru pada organisasi profesi guru bahasa Indonesia. Kedua, publikasi ilmiah melalui resentasi
pada forum ilmiah, publikasi ilmiah atas hasil penelitian atau gagasan ilmu di bidang pendidikan
formal, dan publikasi buku pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman guru. Ketiga, karya inovatif
dengan menemukan teknologi tepat guna, menemukan/menciptakan karya seni,
membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum, mengikuti pengembangan penyusunan
standar, pedoman, soal dan sejenisnya. Melihat pengembangan keprofesian berkelanjutan yang
memiliki serangkaian kegiatan yang menjadi kebijakan, tentu peran organisasi profesi harus ada
di dalamnya. Mengingat organisasi profesi merupakan suatu wadah perkumpulan orang-orang
yang memiliki suatu keahlian khusus yang merupakan ciri khas dari bidang keahlian tertentu.
Dikatakan ciri khas oleh karena bidang tersebut diperoleh bukan secara kebetulan oleh
sembarang orang, tetapi diperoleh melalui suatu jalur khusus. Dalam prakteknya sebagai
pekerjaan profesional yang melayani masyarakat tentunya memerlukan satu wadah organisasi
yang anggotanya adalah orang-orang yang memiliki pekerjaan atau keahlian yang sejenis,
Organisasi profesi guru wajib ikutserta meningkatkan perannya dalam membina guru-guru.
Organisasi profesi guru dapat melakukan macam-macam kegiatan PKB tersebut.
3) National leadership organization:
Kepemimpinan guru dapat diartikan sebagai Kemampuan guru untuk mempengaruhi para siswa
supaya melakukan pembelajaran dengan baik adalah suatu keharusan. Oleh karenanya, guru
profesional hendaklah selalu berupaya untuk meningkatkan kepemimpinannya dengan
mengetahui tugas-tugas utama yang dilakukan pemimpin, fungsinya, dan keterampilanketerampilan apa yang harus dimiliki untuk menjadi pemimpin yang baik. Dengan penguasaan
hal-hal tersebut, diharapkan guru profesional dapat benar-benar memimpin siswa mencapai
tujuan-tujuan pendidikan. Menjadi pemimpin tidak hanya harus selalu berada di depan (front
leader), bisa saja di tengah (social leader) maupun di belakang (rear leader).
Kepemimpinan guru memfokuskan pada 3 dimensi pengembangan, yaitu: (1) pengembangan
individu; (2) pengembangan tim; dan (3) pengembangan organisasi.
1.
Dimensi pengembangan individu merupakan dimensi utama yang berkaitan dengan peran
dan tugas guru dalam memanfaatkan waktu di kelas bersama siswa. Disini guru dituntut untuk

menunjukkan keterampilan kepemimpinannya dalam membantu siswa agar dapat


mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya, sejalan dengan tahapan dan tugas-tugas
perkembangannya. Melalui keterampilan kepemimpinan yang dimilkinya, diharapkan dapat
menghasilkan berbagai inovasi pembelajaran, sehingga pada gilirannya dapat tercipta
peningkatan kualitas prestasi belajar siswa.
2.
Dimensi pengembangan tim menunjuk pada upaya kolaboratif untuk membantu rekan
sejawat dalam mengeksplorasi dan mencobakan gagasan-gagasan baru dalam rangka
meningkatkan mutu pembelajaran, melalui kegiatan mentoring, coaching, pengamatan,
diskusi, dan pemberian umpan balik yang konstruktif. Dimensi yang kedua ini berkaitan
upaya pengembangan profesi guru.
3.
Sedangkan dimensi organisasi menunjuk pada peran guru untuk mendukung kebijakan
dan program pendidikan di sekolah (dinas pendidikan), mendukung kepemimpinan kepala
sekolah (administrative leadership) dalam melakukan reformasi pendidikan di sekolah serta
bagian dari peran serta guru dalam upaya mempertahankan keberlanjutan (sustanability)
sekolah.
Dari uraian diatas terlihat bahwa organisasi kepemimpinan nasional ditekankan pada dimensi
pengembangan tim dalam mendukung upaya peningkatkan profesionalisme guru.
b. Permasalahan
1) Penyelenggaran program Pendidikan Profesi Guru (PPG) menimbulkan beberapa
permasalahan. Apakah tujuan meningkatkan mutu pendidikan dengan adanya program
Pendidikan Profesi Guru (PPG) dapat dicapai jika rekrutmentasinya berasal dari lulusan non
kependidikan dan apakah perguruan tinggi yang menyelenggarakan program keguruan dan
kependidikan tidak dapat menghasilkan lulusan guru yang profesional?
2) Di negara maju seperti Inggris dan Amerika memiliki organisasi guru yang kuat dan mapan
serta memiliki bargaining yang kuat terhadap pemerintah, sehingga di negara negara yang
memiliki organisasi guru yang kuat keberadaan guru menjadi asset yang dihargai oleh
pemerintah. Hal tersebut berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, dimana organisasi profesi
guru, misalnya PGRI tidak begitu memiliki peran yang kuat. Terbukti dengan adanya
beberapa kasus seorang guru yang dituntut orang tua siswa karena dugaan melakukan
kekerasan terhadap siswanya. Hal ini tentu akan menimbulkan ketakutan guru dalam
melakukan kegiatan pembelajaran.
3) Salah satu hambatan terbesar untuk menumbuhkan kepemimpinan guru yaitu masih
mendominasinya penerapan model kepemimpinan top-down di sebagian besar sekolah.
Guru masih seringkali diposisikan sebagai bawahan yang harus tunduk dan taat pada atasan
secara taklid sehigga tidak bias mengembangkan dirinya secara maksimal.
c. Penanggulangan masalah
1) Peningkatan mutu pendidikan dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG) kurang dapat
tercapai secara optimal jka rekrutmentasinya berasal dari lulusan perguruan tinggi non
kependidikan. Sebab perguruan tinggi non kependidikan tidak membekali lulusannya dengan

kemampuan mengajar. Lulusan perguruan tinggi kependidikan mendapat keterampilan


mengajar dan dipersiapkan menjadi seorang guru yang profesional. Menciptakan guru yang
profesionl merupakan tujuan dari setiap perguruan tinggi kependidikan. Apabila guru lulusan
perguruan tinggi kependidikan dianggap tidak professional, salah satu langkah yang
sebaiknya ditempuh adalah memperbaiki sistem internal dalam perguruan tinggi tersebut,
bukannya dengan menambah program baru sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan.
Menghasilkan pendidik dengan mutu yang tinggi merupakan komitmen perguruan tinggi yang
harus dicapai. Menghasilkan guru yang profesional merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini. Namun akan lebih baik jika peningkatan
keprofesialismean guru dilakukan dari sistem internal perguruan tinggi. Jikapun program
Pendidikan Profesi Guru (PPG) tetap dilaksanakan, akan lebih baik jika rekrutmentasinya
hanya berasal dari lulusan perguruan tinggi kependidikan saja.
2) Seperti organisasi profesi lainnya, organisasi guru juga tentu bertujuan meningkatkan harkat,
martabat, kesejahteraan, dan nilai dari guru sebagai anggotanya. Bagaimana guru menjadi
profesi yang disegani dan tak mudah menjadi objek eksploitasi baik oleh pemerintah
maupun masyarakat. Organisasi guru harus mampu menjadi tempat mengadu dan meminta
perlidungan
jika
merasa
kegiatan
profesinya
terkendala.
Organisasi guru juga harus mengembangkan kualitas diri dan wawasan guru dengan cara-cara
yang professional. Organisasi guru harus menghindari pemanfaatan organisasi untuk hal-hal
yang berhubungan dengan politik dan nilai-nilai pendekatan yang tidak professional.
Banyaknya tanggungjawab dan pekerjaan organisasi guru tentu mengharapkan para
pengurusnya tidak sekedar tampang nama dan Jabatan saja, tapi harus punya kepekaan
dalam menyadari tuntunan anggotanya. Banyaknya permasalahan yang dihadapi guru saat ini,
baik langsung maupun tidak langsung membuktikan pada organisasi guru bahwa tak ada
waktu
untuk
vakum
atau
tenang-tenang
saja.
Seringnya guru menghadapi kendala dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab profesinya
harus menjadi perhatian dari organisasinya. Tak bisa dibiarkan guru tak leluasa (ketakutan)
dalam mendidik atau mengajar di dalam kelasnya sendiri. Lebih gawat lagi jika guru telah
meninggalkan jiwa profesionalismenya karena merasa tak dihargai. Kasus-kasus guru yang
dilaporkan ke pihak berwajib karena persoalan melanggar UU Perlindungan Anak harus dan
mutlak
menjadi
agenda
advokasi
organisasi
guru.
Urusan dengan pihak berwajib tentu mengganggu aktifitas profesinya sebagai guru.
Organisasi gurulah yang semestinya menjadi tempat mengadu dan meminta perlidungan
sehingga guru tidak terbebani harus berhadapan dengan pihak berwajib. Apalagi, persoalan
yang banyak muncul sangat dimungkinkan untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Tentu
akan sangat elegan jika organisasi guru dapat menfasilitasi MOU dengan pihak berwajib
(kepolisian) dengan penyelesaian di intern dalam organisasi profesi guru, baik dalam
pelaporan masyarakat maupun penyelesaian permasalahan.
3) untuk menumbuhkan kepemimpinan guru memerlukan :

Pemberdayaan dan dorongan kepada guru untuk menjadi pemimpin dan mengembangkan
keterampilan kepemimpinannya.

Penyediaan waktu dan kesempatan bagi guru agar dapat bekerja menjalankan
kepemimpinannya, baik untuk kepentingan pengembangan profesi, kerja kolaboratif,
perencanaan bersama, dan membangun jaringan guru.
Dalam konteks ini, tentu dibutuhkan dukungan dari semua pihak, terutama dari kepala
sekolah untuk rela berbagi kekuasaan dan kewenangan, tanpa harus merasa khawatir akan
kehilangan identitas kewibawaannya. Kepala sekolah harus memiliki keyakinan bahwa setiap
guru pada dasarnya memiliki potensi kepemimpinan, dan apabila diberi kesempatan untuk
mengekspresikan dan mengaktualisasikan potensi kepemimpinannya, mereka bisa tampil
sebagai pemimpin-pemimpin hebat, yang dapat dimanfaatkan untuk semakin memperkuat
eksistensi sekolah sekaligus melengkapi kepemimpinan administratif yang menjadi tanggung
jawabnya.
DENI
a. Teacher Educational Program merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu
pendidikan, dimana peran guru sangat penting. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen, Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, serta Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional No. 8 Tahun 2009 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Pra
Jabatan, menegaskan peranan strategis guru dan dosen dalam peningkatan mutu pendidikan.
Guru merupakan jabatan profesional yang menuntut agar guru memiliki kualifikasi akademik,
kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Profesionalisme guru menekankan kepada
penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya.
Profesionalisme guru bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih
merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya
memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.
Pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian secara global, karena guru memiliki
tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan
teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era
hiperkompetisi.

Profesional Organization atau organisasi profesi guru adalah sebuah wadah perkumpulan orang
orang yang memiliki suatu keahlian dan keterampilan mendidik yang dipersiapkan melalui
proses pendidikan dan latihan yang relatif lama, serta dilakukan dalam lembaga tertentu yang
dapat dipertanggungjawabkan. Organisasi profesi kependidikan berfungsi sebagai pemersatu
seluruh anggota profesi dalam kiprahnya menjalankan tugas keprofesiannya, dan memiliki
fungsi peningkatan kemampuan profesional profesi ini.
Contohnya adalah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) yang memiliki tujuan utama
untuk: (1) Membela dan mempertahankan Republik Indonesia (organisasi perjuangan), (2)
Memajukan pendidikan seluruh rakyat berdasar kerakyatan (organisasi profesi) Pendirian
PGRI sama dengan EI: education as public service, not commodity (3) Membela dan
memperjuangkan nasib guru khususnya dan nasib buruh pada umumnya (organisasi

ketenagakerjaan). Disamping PGRI yang salah satu organisasi yang diakui oleh pemerintah
juga terdapat organisasi lain yang disebut Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang
didirikan atas anjuran Departeman Pendidikan dan Kebudayaan. Tujuan MGMP adalah untuk
mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan profesionalisme guru.
National Leadership Organization adalah suatu wadah yang secara nasional bekerja secara
berkelompok untuk mengembangkan keahlian dan keterampilan pendidik. Hingga saat ini
ditemukan sudah banyak organisasi nasional disamping PGRI, misalnya Federasi Guru
Independen Indonesia (FGII), Ikatan Guru Indonesia (IGI), dan Federasi Serikat Guru
Indonesia (FSGI).
b. Masalah tentang Profesionalisme Guru. Faktor-faktor Penyebab Rendahnya
Profesionalisme Guru dalam pendidikan nasional disebabkan oleh antara lain;
1. masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh. Hal ini disebabkan oleh
banyak guru yang bekerja di luar jam kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
sehingga waktu untuk membaca dan menulis untuk meningkatkan diri tidak ada;
2. belum adanya standar profesional guru sebagaimana tuntutan di negara-negara maju;
3. kemungkinan disebabkan oleh adanya perguruan tinggi swasta sebagai pencetak guru yang
lulusannya asal jadi tanpa mempehitungkan outputnya kelak di lapangan sehingga
menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesi keguruan;
4. kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri karena guru tidak dituntut untuk
meneliti sebagaimana yang diberlakukan pada dosen di perguruan tinggi.
5. rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi keguruan,
6. pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah hati dari pengambilan
kebijakan dan pihak-pihak terlibat. Hal ini terbukti dari masih belum mantapnya kelembagaan
pencetak tenaga keguruan dan kependidikan,
7. masih belum smooth-nya perbedaan pendapat tentang proporsi materi ajar yang diberikan
kepada calon guru,
8. masih belum berfungsi PGRI sebagai organisasi profesi yang berupaya secara makssimal
meningkatkan profesionalisme anggotanya. Kecenderungan PGRI bersifat politis memang
tidak bisa disalahkan, terutama untuk menjadi pressure group agar dapat meningkatkan
kesejahteraan anggotanya. Namun demikian di masa mendatang PGRI sepantasnya mulai
mengupayakan profesionalisme guru sebagai anggo-tanya. Dengan melihat adanya faktor-fak
tor yang menyebabkan rendahnya profesionalisme guru, pemerintah berupaya untuk mencari
alternatif untuk meningkatkan profesi guru.
c. Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan profesionalisme guru diantaranya
meningkatkan kualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yang lebih tinggi bagi tenaga
pengajar mulai tingkat persekolahan sampai perguruan tinggi. Selain diadakannya
penyetaraan guru-guru, upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah program sertifikasi.
Selain sertifikasi upaya lain yang telah dilakukan di Indonesia untuk meningkatkan
profesionalisme guru, misalnya PKG (Pusat Kegiatan Guru, dan KKG (Kelompok Kerja

Guru) yang memungkinkan para guru untuk berbagi pengalaman dalam memecahkan
masalah-masalah yang mereka hadapi dalam kegiatan mengajarnya. Pengembangan
profesionalisme guru harus dipandang sebagai proses yang terus menerus. Dalam proses ini,
pendidikan prajabatan, pendidikan dalam jabatan termasuk penataran, pembinaan dari
organisasi profesi dan tempat kerja, penghargaan masyarakat terhadap profesi keguruan,
penegakan kode etik profesi, sertifikasi, peningkatan kualitas calon guru, imbalan, dll secara
bersama-sama menentukan pengembangan profesionalisme seseorang termasuk guru. Dengan
demikian usaha meningkatkan profesionalisme guru merupakan tanggung jawab bersama
antara LPTK sebagai penghasil guru, instansi yang membina guru (dalam hal ini Depdiknas
atau yayasan swasta), PGRI dan masyarakat.
LINDA
a. Teacher Educational Programs program pendidikan guru
Guru dituntut memiliki kemampuan dan kecakapan teknis tentang pembelajaran yang
mempermudah siswa untuk belajar. Kemampuan dan keterampilan tersebut termuat dalam
program mengajar guru tersebut. Standar pofesional guru ditentukan dengan pedagogic dan
pengetahuan professional lainnya dan keterampilan dimana setiap guru harus
mendemonstrasikan, mengorganisasi ke dalam empat standar, yaitu (a) Curriculum, Planning,
and Assessment, (b) Teaching All Students, (c) Family and Community Engagement,
(d) Professional Culture.
Dengan kata lain, seorang pendidik dipersyaratkan untuk memiliki seperangkat kompetensi
yang menunjang pelaksanaan tugas-tugasnya. Dimensi kompetensi pendidik yang secara tegas
disebutkan dalam pasal 28 Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan mencakup 4 komponen yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi Guru tersebut bersifat menyeluruh
dan merupakan satu kesatuan yang satu sama lain saling berhubungan dan saling mendukung.
Guru yang profesional dipersyaratkan memiliki: pertama, dasar ilmu yang kuat sebagai
pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengetahuan di abad 21.
Kedua, penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan paktis pendidikan yaitu ilmu
pendidikan sebagai ilmu praktis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan
merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya
diarahkan pada paktis pendidikan masyarakat Indonesia.
Professional Organizations organisasi dengan guru lain (sejawat)
Guru dapat mengoptimalkan fungsi dan peran kegiatan dalam bentuk PKG (Pusat Kegiatan
Guru), KKG (Kelompok Kerja Guru), dan MGMP (musyawarah Guru Mata Pelajaran) yang
memungkinkan para guru untuk berbagi pengalaman dalam memecahkan masalah-masalah yang
mereka hadapi dalam kegiatan mengajarnya.
National Leadership Organizations

Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai
sarana perjuangan dan pengabdian.
Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat
kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.
Guru secara bersama-sama memelihara dan
meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
b. Kekerdilan profesi guru dan ilmu pendidikan disebabkan terputusnya program pre-service
dan in-service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau manajemen pendidikan yang
lemah. Selain itu, dunia guru masih terselingkung dua masalah yang memiliki mutual korelasi
yang pemecahannya memerlukan kearifan dan kebijaksanaan beberapa pihak terutama
pengambil kebijakan yaitu: (1). Profesi keguruan kurang menjamin kesejahteraan karena
rendah gajinya. Rendahnya gaji berimplikasi pada kinerjanya. (2). Profesionalisme guru
masih rendah
c. (1) Peningkatan dan Pembinaan hubungan yang erat antara Perguruan Tinggi dengan
pembinaan SLTA, (2) Meningkatkan bentuk rekrutmen calon guru, (3). Program penataran
yang dikaitkan dengan praktik lapangan, (4). Meningkatkan mutu pendidikan calon pendidik.
(5). Pelaksanaan supervisi yang baik, (6). Peningkatan mutu manajemen pendidikan, (7).
Melibatkan peran serta masyarakat berdasarkan konsep linck and matc. (8). Pemberdayaan
buku teks dan alat-alat pendidikan penunjang, (9). Pengakuan masyarakat terhadap profesi
guru, (10). Perlunya pengukuhan program Akta Mengajar melalui peraturan perundangundangan, dan (11) Kompetisi profesional yang positif dengan pemberian kesejahteraan yang
layak.
DINI
a. Teacher educational programs dapat dikatakan sebagai program pendidikan bagi guru. Jika
dikaitkan dengan profesionalisasi guru di Indonesia, sudah dapat dipastikan bahwa teacher
educational programs merupakan program pengembangan profesi bagi guru. Program
pendidikan bagi guru ini diciptakan agar guru menjadi seorang yang profesional dalam
menjalani tugas dan fungsinya. Banyak sekali usaha-usaha yang sudah dilakukan oleh
pemerintah Indonesia atauapun lembaga pemerhati pendidikan untuk meningkatkan
profesionalitas guru baik melewati program pendidikan keguruan di perguruan tinggi serta
dapat ditunjang oleh beberapa pelatihan-pelatihan workshop oleh guru. Dalam Undang
Undang No.14/2005 dan Peraturan Pemerintah No. 19/2005, disebutkan bahwa guru yang
profesional adalah guru yang memiliki kualifikasi pendidikan sarjana (S1/D4) dalam bidang
studi yang diajarkan, dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran yaitu :
kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompotensi sosial, dan kompetensi
keperibadian. Program-program pelatihan guru dapat meliputi program pengembangan
profesi, dan sertifikasi. Di Indonesia program pendidikan untuk membentuk calon guru
diselenggarakan oleh perguruan tinggi, sekolah tinggi keguruan atau beberapa LPTK lainnya.
Masing-masing perguruan tinggi, sekolah tinggi keguruan atau LPTK memiliki programprogram pengajaran untuk membentuk calon guru menjadi tenaga profesional yang siap untuk

menjadi pendidik yang berkualitas dan efektif dalam mengajar. Selain program pendidikan
untuk membentuk calon guru yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan, program
pendidikan bagi guru untuk meningkatkan profesionalitas pendidik seperti PPG, PPGT, SM3T dan sertifikasi.
Professional organization dapat dikatakan sebagai organisasi profesi guru atau pendidik.
professional organization menjadi sebuah wadah bagi para profesional pengajar untuk
mengembangkan diri, memperluas wawasan, serta menjadi forum komunikasi yang
membahas tentang usaha-usaha yang berkaitan dengan upaya peningkatan profesionalitas
mengajar. Professional organization dengan manajemen yang jelas dan terstruktur jika
dikelola dengan baik dapat menjadi ajang untuk meningkatkan kualitas-kualitas guru dalam
mengajar. Di Indonesia, bentuk real dari professional organization seperti persatuan guru
republik indonesia (PGRI), perhimpunan guru mata pelajaran seperti perhimpunan guru
biologi, perhimpunan guru matematika, perhimpunan guru sains, dan sebagainya.
National leadership organization berkaitan dengan sebuah wadah yang di dalamnya terdapat
unsur-unsur kepemimpinan yang berlaku secara nasional. Cakupan organisasi ini tentunya
lebih luas dibandingkan dengan organisasi profesi guru. Sebab national leadership
organization berkaitan dengan kepentingan-kepentingan nasional yang mengatur dan
memenejerilisasi segala komponen-komponen yang dibutuhkan untuk mengefektifkan
pekerjaan guru. National leadership organization berkaitan dengan struktur pemangku
kebijakan yang berada di tingkat nasional atau ditingkat pusat yang bertindak sebagai
pemimpin dan penentu kebijakan. Badan standarisasi pendidikan, kementrian pendidikan dan
kebudayaan merupakan contoh national leadership organization.
b. Permasalahan yang berkaitan dengan Educational programs, profesional organization, dan
national leadership organization di antaranya:
Untuk Educational programs (program pendidikan) masalah yang muncul adalah masih rendahnya
lembaga-lembaga penyelenggaraan pendidikan yang bertugas dalam mengemabngkan profesi
gur. Banyak ditemukan kualifikasi perguruan tinggi, sekolah keguruan atau LPTK lain yang
tidak memenuhi standarisasi serta kualifikasi untuk membentuk profesionalitas guru. Rendahnya
kualitas ini dapat terlihat dari rendahnya mutu program penyelenggaraan, dosen atau tenaga ahli
yang tidak sesuai dengan kualifikasi, sarana dan prasarana yang belum mendukung, renahnya
sumber daya manusia, dsb. Di beberapa daerah khususnya di daerah dengan mutu pendidikan
yang masih rendah, banyak ditemukan program-program pendidikan untuk membentuk
kompetensi guru yang masih rendah mutunya.
Permasalahan yang berkaitan dengan profesional organization dapat dilihat dari komitmen
organisasi profesi yang masih rendah, banyaknya organissi yang tidak berjalan dengan efektif,
vakum atau bahkan harus bubar. Beberapa organisisi profesi yang tidak mempu mewadahi segala
bentuk apresiasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Jika tidak terdapat wadah atau forum

untuk bagi para pendidik akan sangat dikhawatirkan usaha untuk memajukan pendidikan akan
amat sangat sulit dilakukan.
Permasalahan yang berkaitan dengan national leadership organization adalah terdapatnya kebijakankebijakan publik yang dikeluarkan oleh para stake-holders yang tidak sesuai dengan kebutuhan
nasional, masih ditemukan ketidakjelasan berkaitan dengan segala peraturan, terdapat kebijakan
nasional yang tidak sejalan dengan kepentingan daerah, pelanggaran aturan yang telah
ditentukan, rendahnya tingkat pengawasan, serta penyimpangan-penyimpangan aturan dan
hukum dalam tatanan pemerintah pusat.
c. Kebijakan yang dapat dilakukan oleh pengelola lembaga pendidikan untuk mengatasi
persoalan tersebut adalah menciptakakan kebijakan yang sesuai dengan kepentingan nasional
terutama kepentingan yang berkaitan dengan pengingkatan kualitas profesional mengajar,
usaha untuk meningkatkan mutu dan dan sumber daya manusia yang berkualitas, mendorong
peran lembaga pendidikan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada, menjalin
kerjasama yang baik dengan mitra perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah pusat,
pemerintah daerah dalam hal menjalankan fungsi pengembangan dan pengawasan.
NOMOR 2
2. Kurikulum Pendidikan Nasional tahun 2013 telah berjalan satu tahun lebih, dengan
diterapkannya Kurikulum Pendidikan Nasional tahun 2013 tersebut, menurut amatan saudara
dan berdasarkan kajian tentang kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran yang telah amati
selama ini,
a. Persoalan-persoalan apakah menurut pengamatan saudara, menjadi kendala dalam
pelaksanaannya, baik di pendidikan dasar dan pendidikan menengah?
b. Sebagai seorang akademisi yang tahu akan situasi dan kondisi lapangan, bagaimanakah upaya
yang saudara lakukan agar kurikulum 2013 dapat berjalan dengan tepat sebagaimana yang
dikehendaki pemerintah.
JAWAB
DEVAN
a. Permasalahan-permasalah yang muncul dalam pelaksanaan kurikulum 2013 dapat
diidentifikasi dari beberapa aspek, baik aspek siswa, guru, pembelajaran, maupun saran dan
prasarana di sekolah. Berdasarkan pengamatan beberapa kendala yang muncul dalam
penerapan K13 antara lain:
1) Kompetensi guru yang belum siap karena belum mengikuti pelatihan sosialisasi Kurikulum
2013. Di beberapa daerah misalnya di Kabupaten Jember, sosialisasi dan pelatihan K13 baru
dilaksanakan pada pertengahan tahun 2014 sehingga sekarang ini penerapan K13 di sekolah
belum maksimal. Hampir semua guru sudah dapat membuat perangkat pembelajaran sesuai
dengan Kurikulum 2013, yaitu meliputi pembuatan Silabus, RPP, dan instrumen evaluasi
pembelajaran. Walaupun demikian terdapat kekurangan dalam penerapannya di sekolah,
misalnya dalam mengembangkan Silabus dan RPP guru membuat seadanya, dalam arti yang
penting perangkat ada dan belum memikirkan kualitas dari perangkat yang dibuat. Dalam
pengembangan perangkat guru masih banyak mengacu kepada buku panduan guru dan belum

2)

3)

4)

5)

dapat untuk mengembangkan proses pembelajaran sesuai dengan inovasi guru, hal ini
disebabkan karena para guru masih baru belajar dalam menerapkan Kurikulum 2013 ini
Kesiapan belajar siswa yang memerlukan waktu cukup lama untuk penyesuaian dari
kebiasaan mencatat dan menghafal kepada kebiasaan berfikir ilmiah, yaitu mengamati,
menanya, mencoba, menalar dan membuat jejaring. Kurikulum 2013 dengan pendekatan
ilmiah menghendaki siswa agar terbiasa mengamati, menanya, menalar, mencoba dan
membuat jejaring semua mata pelajaran. Dengan demikian ada kesenjangan mendasar antara
kesiapan siswa dengan pendekatan ilmiah pada Kurikulum 2013. Artinya penerapan
Kurikulum 2013 membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk membuahkan hasil.
Mengubah kebiasaan, adalah hal yang tidak mudah dan membutuhkan kesabaran dan waktu
yang cukup. Dengan demikian kesiapan belajar siswa, dalam hal ini pola fikir dan kebiasaan
siswa, perlu dicermati dan difahami terlebih dahulu sebelum menerapkan pendekatan ilmiah
yang diamanatkan Kurikulum 2013
Permasalahan Sumber Belajar.Sumber belajar di sini dibatasi pada buku pegangan siswa dan
guru. Pemerintah telah menyediakan buku untuk pegangan siswa dan buku pegangan guru
sebagai buku pegangan Kurikulum 2013. Permasalahannya distribusi buku pegangan murid
dan guru tersebut belum merata sehingga menyebabkan implementasi K13 sendiri menjadi
terganggu.
Penilaian belum dilakukan secara komprehensif seperti yang diharapkan pada penilaian
otentik. Proses evaluasi juga menjadi kendala bagi guru karena dalam Kurikulum 2013
evaluasi yang diutamakan adalah penilaian otentik, bagi para guru yang belum terbiasa
dengan proses penilaian tersebut akan kesulitan untuk melaksanakan karena merasa sulit
untuk menilai siswa satu persatu sedangkan dilain pihak jumlah siswa dalam kelas cukup
banyak.
Permasalahan materi ajar. Guru merasa bahwa materi yang ada dalam kurikulum terlalu padat
sehingga guru kesulitan dalam merancang pembelajaran yang mampu mengakomodasi
seluruh materi tersebut. Hal ini cukup sulit karena tidak semua siswa memiliki kemampuan
yang sama, seringkali pembelajaran sedikit terhambat untuk mengakomodir siswa yang proses
belajarnya lebih lambat dari siswa yang lain.

b. Beberapa hal yang dapat saya lakukan sebagai akademisi agar K13 dapat terlaksana
sebagaimana yang diharapkan adalah:
1) Diawal penerapan K13 pemerintah Dinas Pendidikan melaksanakan sosialisasi dan pelatihan
K13, sehingga guru-guru mampu untuk melaksanakan apa yang menjadi tuntunan dan
tuntutan dalam K13. Namun itu bukan satu-satunya sumber informasi tentang K13. Saya juga
dapat memperbanyak informasi tentang K13 dari media lain misalnya dengan membaca buku
dan internet. Dengan demikian informasi yang saya miliki tentang K13 menjadi lebih banyak.
Diharapkan hal tersebut dapat membantu saya dalam memecahkan permasalahan yang ada
dalam pelaksaan K13.
2) Sebagai guru saya juga harus banyak-banyak belajar dalam meningkatkan inovasi di kelas.
Seperti yang teridentifikasi dalam permasalahan diatas bahwa siswa kesulitan dalam
mengubah pola belajar dari yang biasanya mengahfal dan mencatat menjadi pendekatan

saintifik. Oleh karena itu kreatifitas guru sangat diperlukan sehingga pembelajaran yang
dilaksanakan di kelas mampu membuat siswa senang dan enjoy dalam belajar. Ketika siswa
sudah menikmati kegiatan pembelajaran maka siswa akan lebih mudah menerima dan
memahami perubahan pola belajar.
3) Penerapan Lesson Study di sekolah juga dapat menjadi jawaban dalam permasalahan yang
ada dalam penerapan k13. Dengan lesson study permasalahan-permasalahan seperti misalnya
penilaian otentik yang memberatkan jika dilakukan sendirian oleh seorag guru menjadi
terpecahkan. Dengan bersama-sama maka guru-guru dapat saling berdiskusi untuk
memecahkan masalah ataupun meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
4) Pertemuan antar sekolah yang sudah menerapkan kurikulum 2013, atau dapat dilakukan via
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Pertemuan ini mengumpulkan semua perwakilan
sekolah yang ditunjuk melaksanakan kurikulum 2013 untuk mengevaluasi penerapan K13.
Pertemuan ini penting sebab sebagian sekolah merasa mampu menerapkan kurikulum baru
dengan baik, namun yang lain kesulitan. Sehingga dengan adanya forum ini akan terjalin
tukar menukar pengalaman tentang pelaksanaan kurikulum 2013 di masing-masing sekolah.
Saran bagi pemerintah dalam mensukseskan penerapan Kurikulum 2013
1) Perlu diperhatikan lagi mengenai sosialisasi dan pelatihan K13. Karena masih banyak guru
yang walaupun telah mengikuti pelatihan dan sosialisasi masih belum mampu menerapkan
K13 dengan baik. Dalam hal ini pemerintah hendaknya rajin mengadakan workshop atau
diskusi tentang penerapan K13 sehingga guru-guru terfasilitasi dalam upaya untuk
mengembangkan pembelajaran berbasis k13. Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan
hendaknya aktif mengevaluasi tentang penerapan K13 di sekolah-sekolah, terutama di
sekolah-sekolah yang dianggap kurang mampu, sehingga tidak terjadi kesenjangan kualitas
penerapannya dengan sekolah-sekolah yang memmang memiliki sumber daya manusia dan
sarana prasarana yang lebih baik.
2) Dinas Pendidikan juga perlu memperhatikan masalah ketersediaan sarana dan prasarana yang
memadai di sekolah. Jangan hanya mengharap sekolah menerapkan k13 dengan baik namun
fasilitas untuk itu tidak diperhatikan. Misalnya terkait dengan ketersediaan buku pegangan
siswa dan guru yang belum terdistribusi dengan merata. Penerapan pendekatan saintifik di
sekolah, misalnya pada mata pelajaran Biologi di sekolah menengah, memerlukan sarana
prasarana yang memadai, sebagai cobntoh untuk kegiatan praktikum, sehingga dengan hal
tersebut sarana dan prasarana menjadi hal yang wajib dipenuhi jika ingin K13 berjalan dengan
baik.
Ini jawaban saya mohon maaf kalo terlalu banyak ato terlalu sedikit, terlalu dikit silahkan
tambah sendiri terlalu banyak silahkan ambil intinya saja
ALDI
Jawaban 2.a
Berdasarkan hasil pantauan penulis di SMP Negeri 1 Tanjung Raja diperoleh beberapa
permasalahan dalam rangka implementasi Kurikulum 2013, khususnya pada pembelajaran materi

Himpunan di Kelas VII. Baik itu dari sudut pandang kompetensi guru, kesiapan siswa, sumber
belajar, proses pembelajaran dan penilaian, maupun dari sudut pandang muatan materi ajarnya,
yaitu Himpunan. Permasalahan pertama, Kompetensi guru yang mengajar di Kelas VII. Terdapat
satu guru yang mengajar di kelas VII.1 sampai kelas VII.5 belum pernah mengikuti Pelatihan
atau sosialisasi Kurikulum 2013. Akibatnya pembelajaran yang dilakukan yang bersangkutan
cenderung kepada pembelajaran pola lama, yaitu ceramah, tanya jawab dan latihan. Padahal
seharusnya menurut Kurikulum 2013, pembelajaran di kelas sangat disarankan menggunakan
pendekatan ilmiah (scientific). Sesuai dengan amanat hasil pelatihan, yang bersangkutan
berupaya menerapkan pendekatan ilmiah dalam proses pembelajaran.
Kedua, Kesiapan Siswa Belajar. Siswa kelas VII adalah siswa yang baru saja meninggalkan bangku
Sekolah Dasar. Di Sekolah Dasar, sebagian besar guru menekankan pada siswa untuk mencatat
dan menghafal dengan alasan menurut taksonomi Bloom siswa usia Sekolah Dasar baru mampu
ke tingkat kognitif mengetahui dan memahami saja. Ketika di SMP, kebiasaan mencatat dan
menghafal masih melekat pada siswa. Siswa tidak terbiasa dengan soal-soal yang membutuhkan
penalaran. Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah menghendaki siswa agar terbiasa
mengamati, menanya, menalar, mencoba dan membuat jejaring semua mata pelajaran. Dengan
demikian ada kesenjangan mendasar antara kesiapan siswa dengan pendekatan ilmiah pada
Kurikulum 2013. Artinya penerapan Kurikulum 2013 membutuhkan waktu yang cukup panjang
untuk membuahkan hasil. Mengubah kebiasaan, adalah hal yang tidak mudah dan membutuhkan
kesabaran dan waktu yang cukup. Dengan demikian kesiapan belajar siswa, dalam hal ini pola
fikir dan kebiasaan siswa, perlu dicermati dan difahami terlebih dahulu sebelum menerapkan
pendekatan ilmiah yang diamanatkan Kurikulum 2013.
Ketiga, permasalahan Sumber Belajar. Sumber belajar di sini dibatasi pada buku pegangan siswa
dan guru. Pemerintah telah menyediakan buku untuk pegangan siswa dan buku pegangan guru
sebagai buku Babon Kurikulum 2013. Penyediaan satu-satunya buku pegangan siswa dalam
pembelajaran menjadi sorotan serius para ahli betapa Kurikulum 2013 sangat bagus untuk
membangun produktifitas siswa, kreatifitas siswa, inovatif dan afektif siswa, namun pada
implementasinya justru kreatifitas dan inovatifitas siswa dipasung dengan disediakannya buku
wajib bagi siswa dan guru ini. Artinya bila guru dan siswa benar-benar diwajibkan menggunakan
buku pegangan ini dalam pembelajaran, maka bagaimana guru dapat menumbuhkan kreatifitas
siswa misalnya. Berbeda halnya bila hal itu tidak wajib, maka guru leluasa berkreasi
membelajarkan siswa menggunakan berbagai buku sumber. Guru yang kreatif biasanya
menginspirasi siswa menjadi kreatif. Permasalahan lain adalah konten buku pegangan ini, hirarki
pengetahuan yang terdapat di dalamnya tidak runtut.
Keempat, proses pembelajaran. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor
65 tahun 2013 tentang Standar Proses, proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 sangat
menyarankan proses pemelajaran yang menyentuh ketiga ranah kompetensi siswa, yaitu ranah
pengetahuan (kognitif), ranah sikap (afektif) dan ranah keterampilan (psikomotor). Ranah
kognitif (Pengetahuan) diperoleh melalui aktivitas mengingat, memahami, menerapkan,
menganalisis, mengevaluasi, mencipta. Ranah Sikap diperoleh melalui aktivitas menerima,
menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Sedangkan ranah Keterampilan

diperoleh melalui aktivitas mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta.
Pendekatan pembelajaran untuk itu adalah pendekatan ilmiah (scientific), pembelajaran berbasis
penelitian (inquiry learning) dan pembelajaran berbasis masalah (project based learning).
Kelima, penilaian. Penilaian di kelas VII SMP Negeri 1 Tanjung
Raja secara tertulis belum dilakukan komprehensif sebagaimana yang disarankan dalam
penilaian otentik pada Kurikulum 2013. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian menyebutkan penilaian pendidikan
sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar
peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan,
ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian
mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah. Penilaian otentik
merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan
(input), proses,dan keluaran (output) pembelajaran. Penilaian diri merupakan penilaian yang
dilakukan sendiri oleh peserta didik secara reflektif untuk membandingkan posisi relatifnya
dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sedangkan penilaian berbasis portofolio merupakan
penilaian yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta didik
termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas khususnya
pada sikap/perilaku dan keterampilan. Ulangan merupakan proses yang dilakukan untuk
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran,
untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik. Ujian Tingkat Kompetensi
yang selanjutnya disebut UTK merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh satuan
pendidikan untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi. Cakupan UTK meliputi sejumlah
Kompetensi Dasar yang merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.
Sebenarnya penilaian yang dilakukan guru kelas VII di SMP Negeri 1 Tanjung Raja tersirat
sudah komprehensif, hanya saja secara administratif belum ada bukti tertulis adanya penilaian
ranah afektif misalnya, karena memang tidak diminta dan lagi pula sangat rumit seperti yang
pernah diterapkan pada awal penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Permasalahanpermasalahan di atas tidak seharusnya muncul bila penerapan Kurikulum 2013 dilakukan dengan
pertimbangan dan perencanaan matang. Jauh dari kesan tergesa-gesa atau hanya mengejar target
proyek. Tidak ada perubahan yang permanen yang dapat dilakukan secara cepat.
Keenam, penjurusan/peminatan di SMA yang dimulai begitu murid
masuk di kelas I menimbulkan persoalan manajerial baru ihwal persyaratan pemilihan
jurusan/minat. Terutama bila para murid baru memilih jurusan/peminatan di kelompok tertentu,
misalnya kelompok matematika dan IPA saja. Para kepala sekolah/guru di SMA harus cermat
sekali dalam menampung minat para calon murid agar tidak sering terjadi perpindahan
jurusan/minat. Hal itu mengingat murid boleh pindah minat. Tapi seringnya pindah minat murid
akan menyulitkan pengelolaan sekolah. Masalah pilihan jurusan/minat itu sebaiknya disosialisasi
di kelas III SMP agar ketika lulus SMP, murid sudah memiliki gambaran mengenai jurusan/minat
yang akan diambil saat masuk SMA. Digunakan istilah penjurusan di sini, karena ternyata apa
yang disebut peminatan itu sama dengan penjurusan, hanya ditambah dengan boleh mengambil
bidang studi disiplin lain. Misalnya, kelompok matematika dan IPA boleh mengambil

antropologi. Atau, kelompok IPS boleh mengambil biologi. Tapi setiap murid wajib mengambil
semua mata pelajaran di kelompok peminatan. Ketika perdebatan awal gagasan peminatan ini
muncul, tidaklah demikian. Pada waktu itu, diharapkan murid betul-betul mengambil materi
yang diminati dan sesuai dengan orientasi belajarnya di perguruan tinggi nantinya.
Ketujuh, soal penambahan jam pelajaran di semua jenjang pendidikan juga
inkonsisten antara latar belakang penambahan dan penerjemahannya dalam struktur kurikulum.
Latar belakangnya adalah karena adanya perubahan pendekatan proses pembelajaran, tapi dalam
struktur kurikulum terjadi penambahan jumlah jam mata pelajaran. Sebagai contoh, pendidikan
agama di SD kelas I-III dari dua menjadi empat jam seminggu, yang diikuti dengan perumusan
kompetensi dasar (KD) yang seimbang dengan jumlah jamnya, sehingga yang terjadi tetap
mengejar materi, bukan proses pembelajarannya yang dibenahi. Semestinya yang diubah adalah
lamanya tatap muka untuk setiap mata pelajaran, misalnya tatap muka di SD kelas I-III saat ini
per jam mata pelajaran itu selama 35 menit, bisa ditambah menjadi 45 menit. Di SMP-SMTA,
dari 45 menit per jam pelajaran dapat ditambah menjadi 60 menit per jam pelajaran, sehingga
proses pembelajarannya lebih leluasa. Problem lain yang dimunculkan dari penambahan jam
pelajaran per minggu itu adalah makin menghilangkan otonomi sekolah, karena waktu yang
tersedia untuk mengembangkan kurikulum sendiri makin sempit. Bagi sekolah-sekolah swasta,
kurikulum baru jelas menimbulkan beban baru bagi yayasan, karena harus memfasilitasi
peningkatan kualitas guru lewat pelatihan, pengadaan perpustakaan yang lengkap, dan
pendidikan tambahan agar guru dapat mengimplementasikan kurikulum baru tersebut secara
baik, dengan biaya ditanggung sendiri oleh pihak yayasan, yang ujungnya dipikul oleh para
orang tua murid.
Jawaban 2.b
Keberhasilan pelaksanaan kurikulum 2013 tidak bisa dilaksanakan oleh satu pihak saja melainkan
harus didukung oleh berbagai pihak mulai dari pemerintah, pendidik, tenaga kependidikan,
penerbit buku, dan peserta didik. Selain itu saling bantu membantu merupakan hal yang penting
di antara pihak-pihak terkait agar kurikulum 2013 tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan
yang diharapkan. Ada beberapa faktor yang bisa mendukung berhasilnya pelaksanaan kurikulum
2013 nanti antara lain:
Pertama, Kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dengan kurikulum yang
diajarkan dan buku teks yang dipergunakan. Hal itu menjadi pusat perhatian dalam
pengembangan kurikulum ini. Kemampuan guru harus bisa mengimbangi perubahan kurikulum
dan menyesuaikan dengan buku teks yang akan diajarkan pada peserta didik. Jika kemampuan
tenaga pendidik belum memadai maka segera diberikan pelatihan khusus misalnya: Uji
Kompetensi, Penilaian Kinerja, dan Pembinaan Keprofesionalan Berkelanjutan sehingga dapat
mendukung berhasilnya pelaksanaan kurikulum 2013 tersebut.
Kedua, Ketersediaan buku sebagai bahan ajar dan sumber belajar yang:
a.
Mengintegrasikan keempat standar pembentuk kurikulum.
b.
Sesuai dengan model interaksi pembelajaran.
c.
Sesuai dengan model pembelajaran berbasis pengalaman individu dan berbasis deduktif.
d.
Mendukung efektivitas sistem pendidikan.

Ketiga, Penguatan peran pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan. Pemerintah harus benarbenar serius untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 ini agar tidak terjadi kesenjangan
kurikulum seperti yang telah terjadi sebelumnya. Sehingga pengawasan terhadap pelaksanaan
kurikulum itu dapat dijalankan pada setiap jenjang pendidikan di seluruh Indonesia.Keempat,
adalah Penguatan manajemen dan budaya sekolah. Sekolah juga memegang peranan yang sangat
penting dalam menetukan keberhasilan pelaksanaan kurikulum 2013. Untuk itu, sekolah harus
mampu menciptakan iklim belajar yang kondusif dan menyenangkan dengan berpedoman pada
jalur pelaksanaan kurikulum. sehingga kurikulum 2013 tesebut dapat menjadi arah
pengembangan yang betul-betul sesuai dengan apa yang diharapkan.
NOMOR 3
3. Manusia sebagai mahluk budaya selalu berupaya memperbaiki kegiatan pendidikan dalam
rangka membentuk manusia ideal yang dicita-citakan. Dalam upaya perbaikan tersebut
dibutuhkan landasan filosofi dan landasan sosiologi (sosiobudaya) bangsa Indonesia.
a. Deskripsikan apa landasan filosofi bangsa Indonesia dan kegunaan landasan tersebut dalam
upaya perbaikan pendidikan tersebut.
b. Deskripsikan kegunaan landasan sosiologi (sosio-budaya) bangsa dalam upaya perbaikan
kebijakan kebijakan pendidikan di Indonesia.
Jawab
ANIS
a. Pancasila adalah landasan filosofis Negara Republik Indonesia dan merupakan dasar Negara
Republik Indonesia. Implikasi Pancasila sebagai dasar negara yaitu bahwa Pancasila juga
merupakan dasar pendidikan nasional, hal ini sejalan dengan pasal 2 UU No. 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa Pendidikan nasional adalah
pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Untuk itulah landasan filosofis pendidikan di Indonesia adalah Pancasila. Berdasarkan
Pancasila, pendidikan bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam
upaya perbaikan pendidikan di Indonesia khususnya pendidikan di abad 21 ini harus tetap
berlandaskan pada Pancasila yaitu dengan beberapa cara sebagai berikut.
1) Menanamkan pendidikan karakter yang sesuai dengan Pancasila. Dengan berlandaskan
pancasila maka tingkah laku kita akan terlindungi dari hal-hal yang tidak sesuai dengan
pancasila, dikarenakan saat ini sudah berkembang tentang kenakalan remaja dalam
masyarakat seperti perkelahian masal (tawuran). Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang
Pendidikan Nasional pada pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tersebut juga terdapat pada
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea 4.

2) Perbaikan kurikulum yang harus memperhatikan aspek-aspek yang sesuai Pancasila, yaitu: a)
peningkatan iman dan takwa; b) peningkatan akhlak mulia; c) peningkatan potensi,
kecerdasan, dan minat peserta didik; d) keragaman potensi daerah dan lingkungan; e) tuntutan
pembangunan daerah dan nasional; f) tuntutan dunia kerja; g) perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni; h) agama; i) dinamika perkembangan global; dan j)
persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
b. Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber
dari norma kehidupan masyarakat: (1) kekeluargaaan dan gotong royong, kebersamaan,
musyawarah untuk mufakat, (2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat,
(3) negara melindungi warga negaranya, dan (4) selaras serasi seimbang antara hak dan
kewajiban. Memasukkan nilai-nilai sosial dalam penyelenggaraan pendidikan adalah suatu
keharusan, karena dimensi kesosialan adalah salah satu dimensi yang dimiliki manusia. Untuk
memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia agar generasinya dapat memiliki nilai-nilai
sosial yang baik, pemerintah dapat membuat suatu kebijakan untuk menerapkan pembelajaran
experiencee learning yaitu pembelaajran yang menekankan prinsip pengalaman dalam proses
belajar.
Sagita
3. a.
Filsafat pendidikan juga dapat diartikan sebagai nilai dan keyakinan keyakinan filosofis yang
menjiwai, mendasari, dan memberikan identitas (karakteristik) suatu sistem pendidikan Ada
sejumlah filsafat pendidikan yang dianut oleh bangsa-bangsa di dunia. Indonesia memiliki
landasan filosofis Pancasila. Sebagai filsafat negara, Pancasila patut menjadi jiwa bangsa
Indonesia, menjadi semangat dalam berkarya pada segala bidang, dan mewarnai segala segi
kehidupan dari hari ke hari. Seperti rumusan konstitusional dalam UUD 1945 dan UndangUndang Kependidikan lainnya yang berlaku adalah tujuan normatif, yakni pendidikan
nasional berdasarkan Pancasila, bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat
kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cina tanah air, agar dapat
menumbuhkan manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersamasama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
3. b.
Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari
norma kehidupan masyarakat: (1) kekeluargaan dan gotong royong, kebersamaan,
musyawarah untuk mufakat, (2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat,
(3) negara melindungi warga negaranya, dan (4) selaras serasi seimbang antara hak dan
kewajiban. sosiologi pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsi-fungsinya selaku
ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, dan utilisasi) melalui pengkajian tentang
keterkaitan fenomena-fenomena siosial dan pendidikan, dalam rangka mencari model-model
pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan masyarakat. Secara khusus, Sosiologi

Pendidikan berusaha untuk menghimpun data dan informasi tentang interaksi sosial di antara
orang-orang yang terlibat dalam institusi pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik,
tentang hubungan antara lembaga pendidikan dan komunitas sekitarnya, dan tentang
hubungan antara pendidikan dengan pranata kehidupan lain. Fungsi kajian sosiologis
pendidikan diantaranya:
1.
Fungsi eksplanasi
menjelaskan atau memberikan pemahaman tentang fenomena yang termasuk ke dalam ruang
lingkup pembahasannya. Untuk diperlukan konsep-konsep, proposisi-proposisi mulai dari
yang bercorak generalisasi empirik sampai dalil dan hukum-hukum yang mantap, data dan
informasi mengenai hasil penelitian lapangan yang actual, baik dari lingkungan sendiri
maupun dari lingkungan lain, serta informasi tentang masalah dan tantangan yang dihadapi.
Dengan informasi yang lengkap dan akurat, komunikan akan memperoleh pemahaman dan
wawasan yang baik dan akan dapat menafsirkan fenomena-fenomena yang dihadapi secara
akurat. Penjelasan-penjelasan itu bisa disampaikan melalui berbagai media komunikasi.
2.
Fungsi prediksi
meramalkan kondisi dan permasalahan pendidikan yang diperkirakan akan muncul pada masa
yang akan datang. Sejalan dengan itu, tuntutan masyarakat akan berubah dan berkembang
akibat bekerjanya faktor-faktor internal dan eksternal yang masuk ke dalam masyarakat
melalui berbagai media komunikasi. Fungsi prediksi ini amat diperlukan dalam perencanaan
pengembangan pendidikan guna mengantisipasi kondisi dan tantangan baru.
3.
Fungsi utilisasi
menangani permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat seperti
masalah lapangan kerja dan pengangguran, konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan lain-lain
yang memerlukan dukungan pendidikan, dan masalah penyelenggaraan pendidikan sendiri.
IWAN
a. Deskripsi landasan filosofi bangsa Indonesia. Landasan filosofi bangsa Indonesia adalah
Pancasila. Pancasila sebagai dasar filsafat negara dan pandangan filosofis bangsa Indonesia,
oleh karena itu sudah merupakan suatu keharusan moral untuk secara konsisten
merealisasikan dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dalam realisasi kenegaraan termasuk dalam proses reformasi dewasa ini merupakan suatu
keharusan bahwa Pancasila merupakan sumber nilai dalam pelaksanaan kenegaraan, baik
dalam pembangunan nasional seperti membangun dan memajukan pendidikan di Indonesia.
Pancasila dapat dijadikan sebagai pedoman dalam membangun dan mengembangkan
pendidikan di Indonesia karena pancasila merupakan filsafat yang dapat dikaji secara ilmiah
karena memiliki 4 syarat yaitu
Berobjek => artinya pancasila memiliki objek yaitu bangsa Indonesia dengan segala aspek
budaya dalam bermayarakat, berbangsa dan bernegara , nilai-nilai moral, nilai-nilai religius
yang tercermin dalam kepribadian, sifat, karakter dan pola-pola budaya.
Bermetode => artinya Pancasila sangat tergantung pada karakteristik obyek dari pancasila
tersebut yaitu aspek budaya dalam bermayarakat, berbangsa dan bernegara , nilai-nilai moral,
nilai-nilai religius yang tercermin dalam kepribadian, sifat, karakter dan pola-pola budaya.

Untuk menganalisis nilai historis dan makna dari objek pancasila maka digunakan metodemetode seperti analitico synthetic, hermeneutika, koherensi historis, dan pemahaman
penafsiran dan interpretasi.
Bersistem => Maksud dari bersistem adalah satu kesatuan yang utuh dan berhubungan.
Pancasila secara ilmiah merupakan suatu kesatuan dan keutuhan (majemuk tunggal) yaitu ke
lima sila baik rumusan, inti dan isi dari sila-sila.
Universal => Nilai-nilai Pancasila bersifat universal, artinya artinya kebenarannya tidak
terbatas oleh waktu, keadaan, situasi, kondisi maupun jumlahatau dengan kata lain intisari,
esensi atau makna yang terdalam dari sila-sila Pancasila
Kegunaan Pancasila tersebut dalam upaya perbaikan pendidikan. Berdasarkan penjelasan
yang telah diuraikan sebelumnya, pancasila dapat dijadikan pedoman dalam membangun,
mengembangkan dan memperbaiki sistem pendidikan yang ada. FIlosofi pancasila sangat
tepat dijadikan pedoman dalam mengembangkan sistem pendidikan di abad 21 ini. Selama ini
di Indonesia sistem pendidikan yang digunakan sebagian besar daerah masih tergolong techer
center sehingga ilmu yang diperoleh siswa sedikit cenderung terbatas. Dengan berpedoman
pada pancasila maka sistem pendidikan akan menjadi lebih baik. sistem pendidikan yang
diinginkan pada abad 21 adalah sistem pendidikan yang mengharuskan siswa untuk berfikir
kritis sehingga mampu menemukan konsep sendiri. Dalam menemukan konsep pembelajaran
siswa harus mengkaji secara ilmiah dengan memperhatikan aspek seperti berobjek,
bermetode, sistematis, dan universal. Hal tersebu sesuai dengan nilai dari pancasila yang
dapat dikaji secara ilmiah.
Landasan sosiologi mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber dari norma kehidupan
masyarakat yang dianut oleh suatu bangsa. Hal ini berkaitan dengan pola hubungan antar
pribadi dan antar kelompok dalam masyrakat tersebut. Jika di perhatikan yang menjadi poin
utama disini adalah interaksi sosial. Yang ditekankan disini adalah bagaimana siswa mampu
menerapkan apa yang telah dipelajari di sekolah ke lingkungan masyarakat atau bagaimana
siswa mampu memecahkan suatu permasalahan yang ada di masyarakat dengan menggunakan
ilmu yang telah dipelajari di kela. Sistem pembelajaran yang digunakan di Indonesia adalah
sistem pembelajaran yang tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman kepada siswa
mengenai konsep yang ada tanpa memperhatikan apakah konsep yang di peroleh oleh siswa
dapat di aplikasikan di lingkungan sekitar tempat hidupnya. Kita ketahui di abad 21 sistem
pendidikan yang diinginkan adalah sistem pendidikan yang memberikan pemahaman kepada
siswa mengenai suatu konsep dan juga memberikan kemampuan bagi siswa untuk
mengaplikasikan konsep tersebut dalam masyarak. Konsep-konsep yang diperoleh dapat
digunakan memecahkan suatu permasalahan yang muncul di masyarakt. Oleh karena itu
sistem pendidikan yang berlandasakan sosilogi (sosio-budaya) sangatlah sangat penting
diterapkan. Hal ini akan berdampak positif bagi siswa, terutama wawasan serta pengalaman
yang diperoleh oleh siswa sangat bagus.
NOMOR 4

4. Pendidikan itu hakikatnya adalah pembangunan masyarakat dan nasional suatu bangsa. Ada
pendapat yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan itu adalah ingin menunaikan empat
fungsi, yaitu: 1) memiliki fungsi teknis (technical function), 2) memantapkan status, 3)
menghasilkan struktur sosial dan kebudayaan, dan 4) memiliki fungsi mempercepat
(revolusionary force).
ANSI
a. Coba Saudara berikan penjelasan masing-masing fungsi tersebut.
- Fungsi teknis
Pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan untuk hidup dan berkompetisi.
- Memantapkan status
Di kalangan masyarakat luas, berlaku pendapat umum bahwa semakin berpendidikan maka
makin baik status sosial seseorang dan penghormatan masyarakat terhadap orang yang
berpendidikan lebih baik dari pada yang kurang berpendidikan. Orang yang berpendidikan
diharapkan bisa menggunakan pemikiran-pemikirannya yang berorientasi pada kepentingan
jangka panjang. Orang yang berpendidikan diharapkan tidak memiliki kecenderungan
orientasi materi/uang apalagi untuk memperkaya diri sendiri.
- Fungsi menghasilkan struktur sosial dan kebudayaan
Fungsi menghasilkan struktur sosial merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan
manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya pada
tingkat individual pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan dirinya secara
psikologis, sosial, fisik dan membantu siswa mengembangkan potensinya semaksimal
mungkin. Sedangkan dalam menghasilkan kebudayaan, merujuk pada sumbangan pendidikan
pada peralihan dan perkembangan budaya pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkat
individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, kesadaran
estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang
baik. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mampu menghargai atau menghormati
perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap
keanekaragaman budaya. Dengan demikian semakin banyak orang yang berpendidikan
diharapkan akan lebih mudah terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya akan terjadi
integrasi budaya nasional atau regional.
- Fungsi mempercepat (revolusionary force)
Dengan pendidikan yang semakin maju, akan mempercepat perkembangan suatu daerah maupun
negara. Pendidikan sebagai sarana untuk memperoleh ilmu pengetahuan, membentuk sikap
dan keterampilan yang semakin baik guna menunjang pembangunan di berbagai sektor,
seperti ekonomi, teknologi, pangan, maupun lingkungan sehingga mempercepat
pembangunan suatu negara.
b. Menurut pandangan Saudara sendiri, bagaimana dengan pernyataan di atas?
Menurut saya, saya setuju dengan pernyataan di atas. Pendidikan seharusnya tidak semata-mata
berfungsi untuk menransfer ilmu dan melatih keterampilan anak, tapi sebaiknya pendidikan
juga dapat berfungsi untuk menyadari posisi diri, menciptakan keharmonisan, dan memajukan
negara. Maksudnya, seorang yang berpendidikan harus menyadari statusnya sehingga berhati-

hati dalam berprilaku. Melalui pendidikan, seseorang seharusnya juga dapat mengembangkan
potensi diri, mampu menghargai orang lain, dan mampu bergaul dengan menghormati
pluralisme. Semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya mampu semakin berkontribusi
untuk mempercepat pembangunan negara, tidak hanya berorientasi untuk memenuhi
kepentingan diri sendiri.
ARINI
pendidikn itu hakikatnya adalah pembangunan masyarakat dan nasional suatu bangsa. Ada
pendapat yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan itu adalah ingin menunaikan empat
fungsi yaitu:
1. memiliki fungsi teknis
Adanya pendidikan yang dienyam oleh orang, maka orang-orang tersebut akan memperoleh
keahliannya sendiri karena proses pendidikan tersebut. Sehingga nantinya dapat digolongkan
sesuai keahliaanya. Maka pendidikan inilah yang nantinya menjalankan dan bertanggung
jawab atas berbagai urusan dan penyelenggaraan Negara maupun untuk membangun negara.
2. menetapkan satus
Adanya pendidikan yang dapat membangun keahlian seseorang akan berdampak menetapkan
status seseorang dalam hal ini akan membangun kepercayaan masyarakat sekitar terhadap
ilmu kita. Jika seorang yang memperoleh pendidikan guru, dan memperoleh keahlian dalam
mengajar maka secara otomatis seseorang tersebut akan dipercaya orang untuk menjadi guru
yang mengajar dilingkungannya.
3. menghasilkan struktur sosial dan budaya
Pendidikan lahir seiring dengan keeradaanmanusia, bahkan dalam proses terbentukny
amasyarakat pendidikan ikut andil menyumbangkan proses perwujudan pilar-pilar penyangga
masyarakat. Melalui warisan budaya dan internalisasi pada tiap individu, pendidikan hadir
dalam bentuk sosialisasi kebudayaan, berinteraksi dengan nilai-nilaimasyarakat setempatdan
memelihara hubungan timbalbalik yang menentukan proses perubahan tatanan sosiokulturmasyarakat dalam rangka kemajuan peradaban.
4. Fungsi percepatan
Pendidikan membentuk struktur sosial dan kebudayan dalam suatu masyarakat untuk itu seiring
dengan perkembanga zaman maka pendidikan berfungsi percepatan dalam hal menjalani
hidup dan kemajuan teknologi.
Menurut pendapat saya saya setuju dengan tujuan pendidikan menjalanan 4 fungsi sebagai
memliki teknis, mentapkan status, menghasilkan struktur sosial dan budaya, dan fungsi
percepatan. Adanya pendidikan akan membangun masyarakat yang memiliki keahlian,
berbudaya, dan memiliki percepatan dalam hal teknologi dan perkembangannya. Seingga
pendidikan dapat menghasilkan generasi-generasi bangsa yang akan memajukan bangsanya.
AYU
pendidikan memiliki fungsi teknis
seperti yang telah kita ketahui bersama, pendidikan merupakan satu aspek yang sangat penting
dan punya andil besar dalam aspek-aspek lainnya dalam kehidupan. Pendidikan memegang

fungsi teknis disini dimaksudkan bahwa dengan adanya pendidikan, kita dapat
menggolongkan seseorang sesuai tingkat dan jenis keahliannya. Mengapa demikian? Karena
generasi-generasi yang dihasilkan dari sector pendidikan inilah yang nantinya menjalankan
dan bertanggung jawab atas berbagai urusan dan penyelenggaraan Negara. Dengan adanya
pendidikan, kita bisa mempercayakan berbagai urusan ini kepada ahinya yang memang sudah
teruji.
memantapkan status
kata memantapkan status disini bisa diartikan dengan membangun kepercayaan masyarakat
sekitar terhadap ilmu kita. Contohnya saja orang-orang yang memiliki kemampuan
menyembuhkan penyakit. Masyarakat sekitar selalu memiliki paradigm dimana kepercayaan
mereka lebih tinggi kepada ahli-ahli yang memang pernah mengenyam pendidikan daripada
yang tidak. Masyarakat otomatis lebih tenang jika berobat pada dokter spesialis yang sudah
memiliki banyak pelanggan daripada orang biasa yang melakukan penyembuhan dengan trial
and error. Itulah mengapa pendidikan sangat penting disini untuk memantapkan status
individu atas ilmu yang dimilikinya.
menghasilkan struktur sosial dan budaya
seperti yang telah kita ketahui bahwa pendidikan lahir seiring dengan keeradaan manusia,
bahkan dalam proses terbentuknya masyarakat pendidikan ikut andil menyumbangkan proses
perwujudan pilar-pilar penyangga masyarakat. Melalui warisan budaya dan internalisasi pada
tiap individu, pendidikan hadir dalam bentuk sosialisasi kebudayaan, berinteraksi dengan
nilai-nilai masyarakat setempat dan memelihara hubungan timbal balik yang menentukan
proses perubahan tatanan sosio-kultur masyarakat dalam rangka kemajuan peradaban
memiliki fungsi percepatan
seperti yang telah tertulis di poin sebelumnya, bahwa pendidikan tumbuh seiring dengan
kehidupan sosial dan kebudayaan manusia, maka dapat dipastian pendidikan disini juga turut
andil dalam percepatan dalam kehidupan manusia. Percepatan yang dimaksud disini tentu saja
mengenai perkembangan dan juga teknologi. Dengan adanya pendidikan yang semakin maju,
maka secara otomatis meningkat pula daya piker manusia dalam menjalani kehidupan
sehingga mendorongnya menghasilkan sesuatu yang baru dan tentunya lebih memudahkan
hidup yang dijalaninya. Ditambah lagi adanya Millenium Development Goals yang
ditargetkan selesai pada 2015, pendidikan pastinya punya andil besar disini.
a. pendapat saya mengenai pernyataan tersebut:
secara garis besar saya setuju dengan pernyataan tersebut, karena ada banyak aspek dalam
kehiduan manusia yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan. Sebuah Negara yang telah maju,
bisa dipastikan pendidikannya juga maju dan menerapkan metode-metode belajar yang
mutakhir. Jika pendidikan yang diterapkan oleh suatu Negara hanya mencetak generasi yang
memiliki nilai bagus saja, maka belum tentu Negara tersebut juga mengalami percepatan
kemajuannya. Tapi Negara yang mencetak generasi unggul dari segi ilmu maupun mentalnya,
maka generasi tersebutlah yang akan terus melahirkan inovasi demi memajukan bangsanya

NOMOR 5
5. isu-isu yang terus menghangat dan mengemuka di dunia pendidikan kita saat ini berkenaan
dengan ,Character Building, Continuing Education, Sustainability Education.
a. Bagaimana pandangan saudara terkait dengan kedua isu di atas
b. Bagaimana menurut saudara sebaiknya mengajarkan kepada peserta didik kita?
c. Apakah pendidikan kita selama ini tidak menyentuh aspek karakter?
Jawaban
LELI
pengertian Membangun Karakter (character building) adalah suatu proses atau usaha
yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan,
akhlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan perangai dan tingkah
laku yang baik berlandaskan nilai-nilai pancasila. membangun karakter adalah pendidikan, untuk
itu dalam rangka membangun karakter suatu bangsa salah satunya adalah melalui pendidikan
karakter, Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan Berkelanjutan (Continuing Education), yang mempelajari pengetahuan dan
keterampilan lanjutan sesuai dengan perkembangan kebutuhan belajar pada diri orang dewasa.
Pendidikan berkelanjutan ini ditujukan pada kegiatan untuk meperbaiki dan meningkatkan
kemampuan pengetahuan, dan keterampilan serta profesi, sehingga dapat dijadikan fasilitas
dalam peningkatan diri dan produktivitas kerja. Misalnya Pelatihan-pelatihan, Penataran, dan
Lokakarya.
Education, artinya adalah pendidikan, baik pendidikan secara moril maupun immateriil,
mencakup pendidikan dasar hingga lanjutan, dan suatu cara untuk memberitahu (mendidik)
orang lain akan suatu hal menurut suatu metode
Sustainable, artinya terus-menerus atau berkelanjutan, memiliki makna suatu hal atau
kegiatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk suatu kurun waktu guna mencapai hasil
maksimal
Education Sustainable merupakan pendidikan terus menerus/ berkelanjutan yang
dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk suatu kurun waktu guna mencapai hasil maksimal.
a. Bagaimana pandangan saudara terkait dengan kedua isu di atas
Character Building: jika dilihat kondisi saat ini nampaknya karakter yang diharapkan
cenderung semakin luntur hal ini dilihat semakin jelas contoh diantaranya makin maraknya
tawuran antar pelajar, konflik antar masyarakat, maraknya korupsi di lingkungan pemerintah dan
lain sebagainya. sehingga Saya sangat setuju dengan upaya untuk membangun karakter peserta
didik karena karakter mempunyai makna sebuah nilai yang mendasar untuk mempengaruhi
segenap pikiran, tindakan dan perbuatan setiap insan manusia dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara, karakter adalah sesuatu yang sangat penting dalam pengembangan

kualitas manusia maka dalam rangka membangun karakter suatu bangsa diperlukan perilaku
yang baik dalam melaksanakan kegiatan berorganisasi, baik dalam organisasi pemerintahan
maupun organisasi swasta dalam bermasyarakat. Maka karakter manusia merupakan suatu hal
yang sangat penting untuk diperhatikan dalam rangka mewujudkan cita-cita dan perjuangan
berbangsa dan bernegara guna terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berlandaskan
pancasila dan UUD 1945.
Pendidikan berkelanjutan: Tujuan Pendidikan Berkelanjutan (Continuing Education dan
Education Sustainable) adalah untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta
menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan
hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar, serta dapat
mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. diera
globalisasi ini orang-orang yang mampu bersainglah dan memiliki kualitaslah yang dapat
bertahan. Oleh karena itu dengan pendidikan berkelanjutan yang fokus pada kemahiran dan
keterampilan akan sangat membantu individu, menurut saya pendidikan berkelanjutan akan
sangat baik jika benar-benar diterapkan dan dapat menjangkau keseluruh lapisan masyarakat
karena sesuai dengan tujuannya yaitu menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat
yang memiliki kemampuan dan dapat bersaing didunia kerja.
b. Bagaimana menurut saudara sebaiknya mengajarkan kepada peserta didik kita?
Mengajarkan peserta didik terkait dengan penanaman karakter (pendidikan berkarakter)
dalam lingkup pembelajaran dikelas dapat diartikan sebagai upaya merancang dan melaksanakan
suatu strategi atau model-model pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kemampuan
akademik dan membangun karakter. Dalam pembelajaran seorang pendidik dalam membangun
karakter harus didesain dengan sengaja bukan sebagai akibat samping (dampak penggiring),
karakter-karakter itu harus tergambar secara eksplisit pada langkah-langkah pembelajaran yang
dirancang. Karakter-karakter tersebut berupa nilai-nilai, kemampuan, keyakinan, moralitas,
pengedalian emosi, dan perilaku yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan
karakteristik dan sifat alami dari mata pelajaran tersebut. Dengan demikian, seorang guru perlu
mengetahui karakteristik dari ilmu yang akan diajarkan dan mengaitkan dengan tujuan-tujuan
pengembangan karakter peserta didik.
c. Apakah pendidikan kita selama ini tidak menyentuh aspek karakter?
Sistem Pendidikan yang berlaku di Indonesia sudah menyentuh aspek karakter yakni
tercermin dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3
disebutkan bahwa, Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, diharapkan mampu
meningkatkan kualitas moral bangsa Indonesia, Namun pada kenyataannya tujuan yang
diharapkan dan diinginkan oleh Undang-Undang tersebut belum sepenuhnya terwujud. Dalam

pembelajaran juga selama ini seorang pendidik selalu menanamkan aspek karakter namun
belum memiliki tujuan secara jelas seperti pada kurikulum 2013 sehingga terkesan belum terarah
dan sekarang untuk aspek karakter sudah lebih terarah dengan diterapkannya kurikulum 2013
khusunya pada K13.
CANDRA
5A.
character building: Membangun Karekter (character building) adalah suatu proses atau usaha
yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat
kejiwaan, akhlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan perangai
dan tingkah laku yang baik berlandaskan nilai-nilai pancasila. Berdasarkan pengertian
tersebut, dapat dikemukakan bahwa upaya membangun karakter akan menggambarkan hal-hal
pokok sebagai berikut:
Proses yang dilakukan terus menerus guna membentuk watak, sifat, dan tabiat kejiwaan yang
berdasarkan pada sifat pengabdian dan kebersamaan
Menyempurnakan karakter yang ada untuk mewujudkan karakter yang diharapkan dalam
rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan
Membina karakter yang ada sehingga menampilkan karakter yang kondusif dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang dilandasi nilai-nilai Pancasila.
Continuing education
Sustainability education
Berbagai pendekatan untuk sustainability education mendorong orang untuk memahami
kompleksitas dan sinergi antara,isu-isu yang mengancam keberlanjutan kehidupan dan
memahami dan menilai diri mereka sendiri dan orang-orang dari masyarakat di mana mereka
tinggal dalam konteks keberlanjutan. Sustainability education berusaha untuk melibatkan orang
dalam negosiasi masa depan yang berkelanjutan, membuat keputusan dan bertindak berpusat
pada mereka.Meskipun umumnya mereka sepakat bahwa
pendidikan harus disesuaikan keberlanjutan bagi pelajar individu,
menurut Tilbury dan Wortman, keterampilan berikut ini penting untuk sustainability education :
Membayangkan
mampu membayangkan masa depan yang lebih baik. Premis ini menunjukkan bahwa
jika kita tahu ke mana kita ingin pergi, kita akan lebih mampu bekerja keluar dan bagaimana
menuju ke sana
Kritis dalam pemikiran dan refleksi
belajar untuk mempertanyakan sistem kami saat ini kepercayaan dan untu mengenali asumsiasumsi yang mendasari pengetahuan kita,perspektif dan pendapat. Keterampilan berpikir
kritis membantu orang belajar untukmeneliti ekonomi, lingkungan, struktur sosial dan
budaya dalam konteks pembangunan berkelanjutan
Berpikir sistemik
mengakui kompleksitas dan mencari hubungan dan sinergi ketika mencoba untuk
mencari solusi untuk masalah.

Membangun kemitraan
mempromosikan dialog dan negosiasi, belajar untuk bekerja sama.
Partisipasi dalam pengambilan keputusan
5B.
Pendidikan karakter seharusnya sudah mulai diterapkan pada anak usia dini karena pada
masa usia inilah akan terbentuk kemampuan dan potensi untuk pengembangan diri dimasa yang
akan datgng. Lingkungan keluarga merupakan penentu pengembangan diri melalui pendidikan
karakter disamping lingkungan sekolah dan masyarakat. Jika secara berkelanjutan pendidikan
karakter diterapkan pada anak seperti menjalankan sholat tepat waktu, makan bersama dengan
keluarga, diskusi, belajar pada waktunya, tidak menghabiskan waktu menonton TV, saling
membantu, menghormati, menghargai, sopan santun, maka anak demikian kelak menjadi contoh
dan panutan baik prestasi maupun karakter di masa depan.
Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan,
termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran
dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan
sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana,
pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Sedangkan menurut
pendapat Marshall (2004) strategi perbaikan terus-menerus melalui pengembangan staf dan
pengembangan kurikulum yang sedang berlangsung
Berdasarkan pendapat Zuhdiar (2010), penerapan pendidikan karakter bagi siswa di
sekolah bisa dilakukan melalui berbagai cara, dan disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan di
sekolah yang bersangkutan. Penerapan pendidikan karakter di sekolah harus disesuaikan dengan
kurikulum, mengingat setiap sekolah memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda. Setiap
sekolah, kata dia, pasti memiliki keunggulan dan potensi yang bias dikembangkan sesuai dengan
komitmen untuk menanamkan pendidikan karakter bagi para siswa, terutama di lingkungan
sekolah
5C.
Pendidikan kita dari dulu pada dasarnya sudah menyentuh aspek karakter namun belum
terakomodasi dengan baik . Hal itu dapat terlihat dari pembelajaran yang kita rasakan dimana
para guru sudah menanamkan berbagai macam karakter pada saat berada pada sekolah dasar dan
menengah. Guru sudah menerapkan budi pekerti luhur untuk menjaga alam dan menanamkan hal
yang menyangkut dengan kebaikan dimana hal itu sudah dikaitkan dengan pembelajaran yang
ada pada saat itu. Namun penanaman hal-hal yang terkait mengenai karakter tersebut belum
terakomodasi dengan baik, maksudnya belum mampu difokuskan pada karakter apa yang akan
ditanamkan pada para peserta didik. Nah, pada pembelajaran saat ini sudah diusahakan untuk
mengakomodasi karakter-karakter yang akan ditanamkan pada peserta didik dengan adanya
kurikulum 2013. Dalam K13 sendiri sudah diberlakukan penanaman karakter dalam
pembelajaran dengan mengorganisir karakter apa saja yang harus ditanamkan pada peserta didik
pada tingkatan yang berbeda pada tiap jenjangnya. Apabila dalam aplikasinya bias berlangsung

dengan baik, maka harapan akhirnya adalah para pebelajar yang memiliki karakter positif dan
mampu mengaplikasikannya dalam kehidupannya.
NOMOR 6
6. Selama hampir 1 dekade, guru khususnya di Indonesia telah ditetapkan sebagai 1 profesi.
a. untuk diakui sebagai profesi, setidak-tidaknya ada 2 hal yg melekat pada guru untuk diakui
sebagai profesi, yaitu pendidikan profesi dan sertifikasi. Coba sdr jelaskan 2 hal tsb!
VALENT
pendidikan profesi guru : Menurut UU No 20/2003 tentang SPN, pendidikan profesi adalah
pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki
pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Maka Pendidikan Profesi Guru (PPG) adalah
program pendidikan yang diselenggarakan untuk lulusan S1 Kependidikan dan S1/D-IV non
Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar mereka dapat menjadi guru
yang profesional serta memiliki berbagai kompetensi secara utuh sesuai dengan standar
nasional pendidikan dan dapat memperoleh sertifikat pendidik.
Sertifikasi : sertifikasi guru merupakan proses pemberian pengakuan bahwa seseorang telah
memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan
tertentu, setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi.
Pengertian sertifikasi guru lainnya adalah proses uji kompetensi yang dirancang untuk
mengungkapkan penguasaan kompetensi seseorang sebagai landasan pemberian sertifikat
pendidik.
b. Sbg suatu profesi, guru memiliki karakteristik profesi. Coba sdr jelaskan karakteristik2 profesi
tsb!
Pendidikan/keahlian khusus : Pekerjaan guru memerlukan pendidikan tingkat PT dngan waktu
yg cukup lama.
Keterampilan : Untuk bekerja sebagai guru dibutuhkan keterampilan atau keahlian
tertentu/khusus
Legalitas : Ilmu keguruan memiliki batang tubuh disiplin ilmu yang jelas, sistematik dan
eksplisit, Setiap guru mempunyai kebebasan dlm memberikan judgement thd masalah profesi
yg dihadapinya
Tanggung jawab : Pekerjaan guru memiliki fungsi dan signifikansi sosial yang menentukan
dalam masyarakat.
Penelitian : Keahlian dalam pekerjaan guru didasarkan pada teori dan metode ilmiah.
Organisasi profesi : Guru memiliki organisasi profesi sebagai wadah untuk memperkuat
kualitas profesinya, Dlm menjalankan tugasnya, guru berpegang teguh kpd kode etik yg
dikontrol oleh organisasi profesi.
Sumber penghasilan utama : Guru memperoleh imbalan yg cukup memadai.
Sikap : Guru memiliki kode etik sebagai landasan dalam bekerja, Pekerjaan guru mempunyai
prestise yg tinggi dlm masy.

MARTHA
a.
Berdasarkan PP nomor 87 tahun 2013:
Pendidikan profesi adalah pendidikan
tinggi setelah program sarjana yang
mempersiapkan peserta didik untuk
memiliki pekerjaan dengan persyaratan
keahlian khusus
Tujuan pendidikan profesi: (1)
menghasilkan calon guru yang memiliki
kompetensi dalam merencanakan,
melaksanakan, dan menilai pembelajaran,
(2) menindaklanjuti hasil penilaian dengan
melakukan pembibingan, dan pelatihan
peserta didik, (3) mampu melakukan
penelitian dan mengembangkan
profesionalitas secara berkelanjutan
Struktur kurikulum program PPG berisi
lokakarya pengembangan perangkat
pembelajaran, latihan mengajar melalui
pembelajaran mikro, pembelajaran pada
teman sejawat, dan Program
Pengalaman Lapangan (PPL), dan
program pengayaan bidang studi dan/atau
pedagogi.
Sistem pembelajaran pada program
PPG mencakup lokakarya
pengembangan perangkat pembelajaran
dan program pengalaman lapangan yang
diselenggarakan dengan pemantauan
langsung secara intensif oleh dosen
pembimbing dan guru pamong yang
ditugaskan khusus untuk kegiatan
tersebut.
Lokakarya pengembangan perangkat
pembelajaran dan program pengalaman
lapangan dilaksanakan dengan
berorientasi pada pencapaian kompetensi
merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil

b.
Pekerjaan guru memiliki fungsi dan
signifikansi sosial yangmenentukan dalam
masyarakat
Untuk bekerja sebagai guru dibutuhkan
keterampilan atau keahlian tertentu
Keahlian dalam pekerjaan guru didasarkan
pada teori dan metode ilmiah
Ilmu keguruan memiliki batang tubuh
disiplin ilmu yang jelas, sistematik dan
eksplisit
Pekerjaan guru memerlukan pendidikan
tingkat perguruan tinggi dengan waktu
yang cukup lama
Guru memiliki organisasi profesi sebagai
wadah untuk memperkuat kualitas
profesinya
Guru memiliki kode etik sebagai landasan
dalam bekerja
Dalam menjalankan tugasnya, para guru
berpegang teguh kepada kode etik yang
dikontrol oleh organisasi profesi
Setiap anggota yang bekerja sebagai guru
mempunyai kebebasan dalam memberikan
judgement terhadap masalah profesi yang
dihadapinya
Guru memiliki otonomi dan bebas dari
campur tangan pihak luar dalam
melaksanakan tugasnya member layanan
masyarakat
Pekerjaan guru mempunyai prestise yang
tinggi dalam masyarakat
Guru memperoleh imbalan yang cukup
memadai

pembelajaran, menindaklanjuti hasil


penilaian, serta melakukan
pembimbingan dan pelatihan.
Berdasarkan UU RI no. 14 Tahun 2004:
Sertifikasi diartikan sebagai suatu proses
pemberian pengakuan bahwa
seseorangtelah memiliki kompetensi untuk
melaksanakan pelayanan pendidikan pada
satuan pendidikan tertentu, setelah lulus
uji kompetensi yang diselenggarakan oleh
lembaga sertifikasi. Sertifikasi dirancang
untuk mengungkapkan penguasaan
kompetensi seseorang sebagai landasan
pemberian sertifikat pendidik
Sertifikasi merupakan bentuk program
evaluasi berkelanjutan dari pendidikan
profesi
DECHA
Jawab:
a. Pendidikan profesi dan sertifikasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Menurut UU No 20/2003 tentang SPN pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah
program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan
persyaratan keahlian khusus.
- Dengan demikian program PPG adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk
lulusan S-1Kependidikan dan S-1/D-IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat
menjadi guru, agar mereka dapat menjadi guru yang profesional sesuai dengan standar
nasional pendidikan dan memperoleh sertifikat pendidik. Adapun tujuan dari pendidikan
profesi adalah untuk: a) untuk menghasilkan calon guru yang memiliki kompetensi dalam
merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran; b) menindaklanjuti hasil penilaian
dengan melakukan pembimbingan, dan pelatihan peserta didik; dan c) mampu melakukan
penelitian dan mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan.
- Sertifikasi pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan
dosen sebagai tenaga profesional (UU RI No 14 Tahun 2005 dalam Depdiknas, 2004). Jadi,
Sertifikasi guru adalah proses peningkatan mutu dan uji kompetensi tenaga pendidik dalam
mekanisme teknis yang telah diatur oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan setempat, yang bekerjasama dengan instansi pendidikan tinggi yang kompeten,
yang diakhiri dengan pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah dinyatakan
memenuhi standar profesional. Sertifikasi guru bertujuan untuk: (1) menentukan kelayakan
guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan
pendidikan nasional (2) meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan, (3) meningkatkan

martabat guru, (4) meningkatkan profesionalitas guru dalam rangka mewujudkan pendidikan
nasional yang bermutu.
b. Karateristik profesi keguruan menurut National Association of Education (NEA) antara lain :
1. Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual.
Perubahan kemampuan peserta didik dari tidak tahu menjadi tahu dalam kegiatan
pembelajaran yang dibimbing oleh guru dapat dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran itu
didominasi oleh kegiatan intelektual.
2. Jabatan yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
Dalam pendidikannya guru menggeluti ilmu-ilmu khusus. Contohnya seorang guru
Biologi akan mempelajari bidang khusus biologi saat menempuh pendidikannya.
3. Jabatan yang memerlukan persiapan professional yang lama.
Jabatan guru adalah jabatan yang sedang dan terus berkembang. Adanya program
pendidikan profesi dan sertifikasi merupakan upaya persiapan profesionalitas dari seorang guru.
4. Jabatan yang memerlukan Latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
Meskipun sudah menjadi guru tetap namun guru selalu dituntut untuk meng-up date
ilmunya dengan kegiatan MGMP, seminar, workshop, pelatihan dan lain-lain.
5. Jabatan yang menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
Jabatan guru dikatakan memenuhi ciri itu jika guru dapat hidup layak dari jabatannya itu,
tanpa harus melakukan pekerjaan lain guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
6. Jabatan yang menentukan standarnya sendiri.
Standar profesi guru sudah diatur dalam perundang-undangan.
7. Jabatan yang lebih mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi.
Jabatan guru sudah terkenal luas sebagai jabatan yang anggotanya terdorong oleh
keinginan untuk membantu orang lain dan bukan disebabkan oleh keuntungan ekonomi semata.
8. Jabatan yang mempunyai organisasi professional yang kuat dan terjalin erat.
Jabatan guru di Indonesia sudah memiliki wadah Yaitu PGRI (Persatuan Guru Republik
Indonesia).