Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

Pemeriksaan Radiologi Kandung Empedu

Disusun Oleh :
Elsya Aprilia
1102010088

Pembimbing :
dr. Usep Saeful, Sp.Rad
dr. Rizqy Rosyidah Nur, Sp.Rad

Kepaniteraan Klinik Bagian Radiologi


Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Jakarta
Rsu Dr.Slamet Garut
September 2014
PENDAHULUAN

Scan kandung empedu adalah prosedur radiologi khusus digunakan untuk


menilai fungsi dan struktur dari kandung empedu. Prosedur ini juga dapat
disebut sebagai scan hepato-bilier

karena hepar sering diperiksa

bersamaan karena kedekatannya dan hubungan fungsional dekat dengan


kandung empedu.
Scan kandung empedu adalah jenis prosedur radiologi nuklir. Ini berarti
bahwa jumlah kecil zat radioaktif digunakan selama prosedur untuk
membantu dalam pemeriksaan kandung empedu. Zat radioaktif, yang
disebut radionuklida (radiofarmaka atau radioaktif pelacak), diserap oleh
jaringan kandung empedu normal.
Radionuklida yang digunakan dalam kantong empedu scan biasanya
berupa teknesium. Setelah diserap ke dalam jaringan kandung empedu,
radionuklida memancarkan jenis radiasi, yang disebut radiasi gamma.
Radiasi gamma terdeteksi oleh scanner, yang memproses informasi ke
dalam gambar kantong empedu.
Dengan mengukur perilaku radionuklida dalam tubuh selama scan nuklir,
dokter dapat menilai dan mendiagnosa berbagai kondisi, seperti obstruksi
saluran empedu dari batu empedu, tumor, abses, hematoma, pembesaran
organ, atau kista. Scan nuklir juga dapat digunakan untuk menilai fungsi
organ.
Daerah di mana radionuklida terkumpul dalam jumlah yang lebih besar
disebut "hot spot." Daerah yang tidak menyerap radionuklida dan muncul
kurang terang pada gambar scan disebut sebagai "cold spot."
Penyakit

kandung

empedu

mungkin

disebabkan

oleh

infeksi

atau

penyumbatan di dalam kantong empedu atau saluran sistem hati /


kantong empedu (cabang bilier). Jika kantong empedu terinfeksi atau
terhalang, radionuklida tidak dapat masuk ke kantong empedu. Jika ada
penyumbatan di dalam pohon bilier, bagian dari radionuklida akan
berhenti

pada

titik

obstruksi.

Prosedur terkait lainnya yang dapat digunakan untuk mendiagnosa


1

masalah kantong empedu termasuk foto polos abdomen, computed


tomography (CT scan) dari hati dan saluran empedu, USG abdomen,
kolesistografi

atau

endoscopic

retrograde

cholangiopancreatography

(ERCP).
ANATOMI KANDUNG EMPEDU
Kandung empedu (Vesica fellea) adalah kantong berbentuk buah
pear yang terletak pada permukaan visceral hepar, panjangnya sekitar 7
10 cm. Kapasitasnya sekitar 30-50 cc dan dalam keadaan terobstruksi
dapat menggembung sampai 300 cc. Vesica fellea dibagi menjadi fundus,
corpus dan collum. Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol
dibawah pinggir inferior hepar yang dimana fundus berhubungan dengan
dinding anterior abdomen setinggi ujung rawan costa IX kanan. Corpus
bersentuhan dengan permukaan visceral hati dan arahnya ke superior,
belakang dan sinistra. Collum dilanjutkan sebagai duktus cysticus yang
berjalan dalam omentum minus untuk bersatu dengan sisi kanan ductus
hepaticus

comunis

membentuk

duktus

koledokus.

Peritoneum

mengelilingi fundus vesica fellea dengan sempurna menghubungkan


corpus dan collum dengan permukaan visceral hati.
Pembuluh arteri kandung empedu adalah arteri cystica, cabang
arteri hepatica kanan. Vena cystica mengalirkan darah langsung kedalam
vena porta. Sejumlah arteri yang sangat kecil dan vena vena juga
berjalan antara hati dan kandung empedu. Pembuluh limfe berjalan
menuju ke nodi lymphatici cysticae yang terletak dekat collum vesica
fellea. Dari sini, pembuluh limfe berjalan melalui nodi lymphatici
hepaticum

sepanjang

perjalanan

arteri

hepatica

menuju

ke

nodi

lymphatici coeliacus. Saraf yang menuju ke kandung empedu berasal dari


plexus coeliacus.

Gambar 1. Anatomi Kantung Empedu

Vesica fellea berperan sebagai resevoir empedu dengan kapasitas


sekitar 50 ml. Vesica fellea mempunya kemampuan memekatkan
empedu. Dan untuk membantu proses ini, mukosanya mempunyai
lipatan-lipatan permanen yang satu sama lain saling berhubungan.
Sehingga permukaanya tampak seperti sarang tawon. Sel- sel thorak yang
membatasinya juga mempunyai banyak mikrovilli. Empedu dibentuk oleh
sel-sel hati ditampung di dalam kanalikuli. Kemudian disalurkan ke duktus
biliaris terminalis yang terletak di dalam septum interlobaris. Saluran ini
kemudian keluar dari hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri.
Kemudian keduanya membentuk duktus biliaris komunis. Pada saluran ini
sebelum mencapai doudenum terdapat cabang ke kandung empedu yaitu
duktus sistikus yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu
sebelum disalurkan ke duodenum.
Pengosongan Kandung Empedu
Empedu dialirkan sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial
kandung empedu. Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan
berlemak kedalam duodenum. Lemak menyebabkan pengeluaran hormon
kolesistokinin dari mukosa duodenum, hormon kemudian masuk kedalam
3

darah, menyebabkan kandung empedu berkontraksi. Pada saat yang


sama, otot polos yang terletak pada ujung distal duktus coledokus dan
ampula relaksasi, sehingga memungkinkan masuknya empedu yang
kental ke dalam duodenum. Garam garam empedu dalam cairan
empedu penting untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan
membantu pencernaan dan absorbsi lemak. Proses koordinasi kedua
aktifitas ini disebabkan oleh dua hal yaitu: 1,2
a) Hormonal: Zat lemak yang terdapat pada makanan setelah sampai
duodenum akan merangsang mukosa sehingga hormon Cholecystokinin
akan terlepas. Hormon ini yang paling besar peranannya dalam kontraksi
kandung empedu.
b) Neurogen:
Stimulasi vagal yang berhubungan dengan fase Cephalik dari
sekresi cairan lambung atau dengan refleks intestino-intestinal
akan menyebabkan kontraksi dari kandung empedu.1,
Rangsangan langsung dari makanan yang masuk sampai ke
duodenum

dan

mengenai

Sphincter

Oddi.

Sehingga

pada

keadaan dimana kandung empedu lumpuh, cairan empedu akan


tetap keluar walaupun sedikit.

Histologi Kandung Empedu


Merupakan organ berongga kecil yang melekat pada permukaan bawah hepar penyimpan
empedu (bukan kelenjar). Empedu dari hati disimpan dalam kandung empedu. Empedu
keluar melalui duktus cystikus masuk ke duodenum melalui duktus choledokus, setelah
mengalami rangsangan hormonal
Lapisan penyusun dari dalam ke luar terdiri atas:
a. Mukosa (lamina propia dan epitel silindris), lapisan ini membentuk lipatan (mirip vili
usus halus) dan hilang saat diregangkan. Lamina propia tersusun atas jaringan ikat
longgar dan beberapa limfoid difus
b. Lapisan fibromuskular, terdiri dari serat otot polos. Diantara serat otot polos juga
terdapat lapisan jaringan ikat longgar kaya elastin
c. Lapisan jaringan ikat perimuskular banyak mengandung pembuluh darah, pembuluh
limfe, dan saraf
d. Serosa, lapisan terluar dan menutupi semua bangunan ini. Kecuali fundus yang
tertutupi adventisia karena langsung menempel pada hepar

Gambar 2. Histologi Kantung Empedu

TEKNIK-TEKNIK PEMERIKSAAN KANTUNG EMPEDU


a. Cholecystography (ORAL)
b. Cholecystography (IV), bolus/drip infus
c. Post operative choledochography (T TUBE )
d. Operative choledochography
e. Percutanious transhepatic choledochography (PTC)
f. Endoscopic retrograde choledocho pancreatgraphy (ERCP)
g. Dengan pemeriksaan USG

A. ORAL CHOLESYSTOGRAPHY (OCG)

KONTRAINDIKASI :
Vomiting or diarrhea
Pyloric obstruction
Malabsorption syndrome
Severe jaundice
Liver dysfunction
Hepatocellular disease, atau
Hipersensitive terhadap
kontras media

INDIKASI PEMERIKSAAN
Cholelithiasis
Cholecystitis
Billiary Neoplasia
Opasities atau massa
quadrant atas
Billiary Stenosis

PERSIAPAN PASIEN

Sehari sebelum diberi makanan bahan kontras. Penderita harus


diberi

makanan

yang

berlemak,

agar

merangsang

untuk

mengeluarkan isinya.

Plain foto daerah hypochondrium kanan

12-14 jam sebelum dibuat foto kontras penderita diberi kontras

Kontras media : diloptin kapsul : 3gr (6 caps masing-masiang 500


mg) / Telepaque (6 caps masing-masiang 500 mg) setiap 3 menit.
6

Ada pula yang memberikan lagi diloptin 6 kapsul pagi hari ke-1 3-4
jam sebelum foto.

Pada

pagi

hari

sekitar

jam

08.00

dibuat

foto

PA

daerah

hipochondrium kanan.

Jika setelah tampak bayangan kantung empedu, maka penderita


diberikan makanan berlemak (fat meal) berupa roti dengan telur,
keju, mentega, susu, dan sebagainya. Maksud pemberian makanan
ini adalah untuk merangsang pengeluaran isi kantung empedu yang
sudah bercampur dengan kontras.

Lalu pada posisi yang sama (PA) berturut-turut dibuat foto 15 menit,
30 menit, 45 menit setelah fat meal.

Dalam keadaan normal, 30 menit post fatty meal, besar kantung


empedu akan berkurang. Bila besarnya tetap dan tidak berubah,
berarti terdapat kelainan.

Bila pada foto kontras tidak tampak bayangan kantung empedu,


maka dapat diulangi dengan pemberian double dose (12 buah
kapsul kontras)

Bila sudah diberikan double dose bayangan kantung empedu tetap


tidak terlihat, maka sudah ada indikasi untuk pemeriksaan IV
cholocystografi.

Gambar 3. Pemmberian Tablet Kontras

TEKNIK PEMERIKSAAN
1. SCOUT RADIOGRAF

Scout foto dapat diambil dalam posisi supine atau prone

Fungsi scout foto:


o Melihat ada/tidaknya gall bladder?
o Bila nampak, bagaimana konsentrasi Media Kontras?
o Apakah lokasinya telah tepat
o Bagaimana faktor eksposi?

Sebaiknya scout diambil dengan plain abdomen, untuk mengetahui


posisi yang tepat.

Bila gall bladder tertutup material feses perlu dilakukan enema

Dan bila gall bladder belum juga nampak, maka persiapan diulang 1
hari, kemudian pemeriksaan dilakukan keesokan harinya.

POSITIONING

Posisi pemeriksaan yang dapat dilakukan : supine, prone, prone


oblique, upright/erect, & atau lateral decubitus

Posisi erect atau lateral decubitus, baik untuk menampakkan small


stone pada lapisan fundus gall bladder.

Bila fundus superposisi dengan organ intestinal atau spine,maka


dilakukan posisi recumbent PA oblique

Untuk mencegah superposisi dengan costae, ekposure dilakukan


pada akhir full inspiration

Bila gall bladder berada pada iliac fossa, posisi supine akan
menampakkan organ Gall Bladder lebih superior, atau Central Ray
dilakukan chepalic angulation

FATTY MEAL

Untuk mengetahui fungsi gall bladder & mempelajari extrahepatic


biliary ducts pasien diberikan makanan berlemak.

Posisi pemotretan yang digunakan : RPO, radiograt diambil setiap 15


menit karena dianggap cukup memvisualisasikan.

PROYEKSI
1. PA Projection (Scout)

Kaset : 24 x 30 cm; moving atau stationary grid

Posisi pasien : prone, kepala diberi bantal, kedua tangan disamping


kepala, tungkai bawah lurus dengan support pada angkle

Posisi objek : bagian tubuh berada pada pertengahan kaset


(sthenic type), gall blader lebih horizontal & 5 cm lebih tinggi &
lebih lateral (hypersthenic); (asthenic) gall bladder vertikal, 5 cm
lebih rendah & dekat midline.

Pastikan tidak ada rotasi pada pelvis

CR : tegak lurus kaset

CP : sthenic setinggi L2 (sekitar 1,25 - 2,5 cm dari margin terendah


costae) & 5 cm ke kanan dari msp

Ffd : 100cm

Eksposure : tahan nafas saat ekspirasi

2. Left anterior oblique (LAO)

Proyeksi LAO dengan pasien prone, tangan kiri disamping tubuh dan
tangan kanan ditekuk di kepala.

Penyudutan badan dengan meja pemeriksaan 20- 25 derajat


(sthenic/hypostenic), 15-20 derajat (hyperstenic), 35-40 derajat
(asthenic)

Sentrasi kurang lebih 7,5 cm ke arah kanan dari lumbal 3

Batas bawah : sias, dan batas atas : diafragma, dengan tubuh


bagian kanan dipertengahan meja.

Gambar 4. Posisi Left Anterior Oblique dengan posisi pasien prone & hasil
foto posisi LOA

3. Right lateral decubitus position (PA projection)


10

Kaset : 24 x 30 cm

Posisi pasien : diatas radiolucent pad, kepala pada bantal, kedua


lengan diatas kepala, kedua lutut ditekuk.

Posisi obyek : Gall blader pada pertengahan kaset, tidak ada rotasi,
pastikan shoulder dan Hip true lateral

CR : horizontal, diarahkan pada bagian kanan abdomen

FFD : 100 CM

EKSPOSI : tahan nafas saat ekspirasi.

4. PA PROJECTION (ERECT)

Kaset : 24 x 30 cm

Posisi pasien : berdiri menghadap kaset, kedua lengan disamping


tubuh

Posisi objek : atur 5 cm ke kanan dari MSP pada pertengahan kaset,


untuk asthenic : rotasikan tubuh 10-15 derajat

CR : horizontal, mengarah ke Gall Blader, sekitat 2,5 - 5 cm lebih


inferior dari scout radiograf

Eksposure : tahan nafas setelah ekspirasi

Gambar 5. Hasil foto PA Projection tegak


5. RIGHT POSTERIOR OBLIQUE (RPO)
Ini merupakan proyeksi alternatif :

Pasien supine oblique dengan bagian kanan menempel pada meja


pemeriksaan dengan bagian kiri di atas

11

Badan menyudut 10 - 20 derajat terhadap meja pemeriksaan.

Sentrasi : Sekitar 2 inchi lebih atas dari prone oblique

Gambar 6. Hasil foto RPO

B. INTRAVENA CHOLECYSTOGRAPHY
Intravena Cholangiography (IVC) merupakan prosedur pemeriksaan
radiologi pada traktus biliaris dengan menggunakan Media Kontras
yang dimasukkan secara Intra Vena.

Media

kontras

selanjutnya

biasanya

melalui

diinjeksi

jantung

melalui

dan

vena

diedarkan

cubiti

secara

yang
arterial

circulation.

Media kontras tiba di liver melalui arteri hepatika dan vena porta,
media

kontras

akan

mengalami

perubahan

biokimia

dan

disekresikan oleh bile dan ditampung di gall bladder.

IVC jarang dilakukan karena angka kejadian reaksi media kontras


cukup tinggi dan adanya prosedur/modalitas lainnya.

INDIKASI

Untuk

evaluasi

duktus

biliaris

pada

pasien

dengan

cholecystectomi
12

Untuk evaluasi duktus biliaris pada non-cholecystectomi, yakni


pasien :
o Pada

kasus

dimana

biliary

tract

tidak

nampak

pada

pemeriksaan OCG
o Pada kasus dimana, karena vomiting dan diarrhea, pasien
tidak mampu menerima pemasukan media kontras secara oral

Untuk mendiagnosis banding infeksi akut kantung empedu. Bila


tampak bayangan kantung empedu, maka penyebab bukan
infeksi kantung empedu.

Untuk mendiagnosa batu dari ductus atau kerusakan post


operatif

Untuk mendiagnosa adanya atresia ductus atau adanya kista


choledochus

Untuk menetapkan adanya Mirizzi Syndrome, yakni :


o Ductus cysticus hampir sejajar dengan ductus choledochus
o Batu yang melengket pada ductus cysticus atau pada collum
kantung empedu
o Obstruksi

mekanis

parsial

dari

ductus

hepaticus

yang

ditimbulkan oleh batu atau edema


o Cholangitis yang recurrent dan cholangiolitic chirrosis
KONTRA INDIKASI

Pasien dengan asthma bronkiale

Pasien dengan cardiac failure berat

Pasien dengan renal failure

Pasien dengan liver desease

Non-intact duktus biliaris

Pasien dengan peningkatan bilirubin ( lebih dari 2 mg/dl)

Untuk

pasien

dengan

obstructive

jaundice

dan

post

cholecystectomy
PROSEDUR PEMERIKSAAN
13

Diberikan 1 cc biligrafin secara intravena. Tunggu 2-3 menit. Bila


tidak tampak reaksi alergi,, maka suntukan dilanjutkan perlahanlahan.

20 cc biligrafin diberikan secara perlahan-lahan sekali secara


intravena sampai habis selama 10 menit.

Seterusnya bila tampak kontras dalam kantung empedu (25-30


mennit selesai suntik). Kemudian dibuat radiograf.

Radiograf dibuat dengan interval 10 menit sampai didapat


gambaran yg optimal

Opacity max biasanya pada 30-40 menit post injeksi

Pada kasus-kasus tertentu, pemeriksaan bisa dilakukan hingga 2


jam post injeksi (gall bladder terisi penuh)

Fatty meal : radiograf diambil 10-20 menit setelahnya.

bila 30 menit setelah disuntikkan media kontras tidak terdapat


bayangan kantung empedu, maka akan dibuat foto 1 jam setelah
penyuntikkan.

TEKNIK PEMERIKSAAN

Scout foto: plain abdomen posisi supine. Untuk mengetahui serta


menentukan posisi dan FE

Injeksi. Informasikan pada pasien, kemungkinan adanya hot flush


saat media kontras diinjeksikan

Post injeksi
Proyeksi RPO : supine kemudian membentuk sudut 15 hingga 40
derajat (bergantung bentuk tubuh pasien)

C. POST OPERATIVE CHOLEDOCHOGRAPHY (T TUBE )


Pemeriksaan ini biasanya dilakukan 10 hari post operasi sebelum selang kateter dicabut.
Tujuan daripada pemeriksaan ini ialah :

14

Menunjukkan ukuran dan patency dari duktus

Status spinter pada hepatopancreatic ampulla

Menampakkan batu residual atau yang tidak terdeteksi sebelumnya

Persiapan Pemeriksaan

Drainase tube diklem, untuk mencegah udara masuk ke duktus (menampakkan


cholesterol stone)

Pasien diminta puasa sebelum pemeriksaan

Bila diperlukan, dapat dilakukan enema 1 jam sebelum pemeriksaan

Premidikasi : tidak ada

Contras media : water soluble dengan konsentrasi antara 25% hingga 30%
misalnya Hypaque 25 %

Konsentrasi tinggi menyebabkan small stone tidak nampak

Plain Foto : Pasien supine pada meja fluoroscopi, dengan posisi AP dengan bagian
kanan abdomen difoto--> batas bawah SIAS

Teknik Radiografi

Selang dijepit oleh ateri forceps, selang didesinfektan menggunakan antiseptik

Kontras dimasukan lewat selang yang sudah terpasang, diperhatikan agar no


bubble masuk ke dalam selang.

Prosedur penyuntikan dipandu melalui fluoroscopi sampai ductus-ductus terlihat


jelas

Proyeksi Pemeriksaan

RPO (AP oblique supine) : right upper quadrant abdomen berada di pertengahan
meja

Lateral : menampakkan cabang dari duktus hepatikus dan mendeteksi kelainan

15

Gambar 7. Hasil foto post operative choledochography (t tube )


D. OPERATIVE CHOLEDOCHOGRAPHY
Pemeriksaan radiology sistem biliary sewaktu dilakukan cholesistectomi untuk
memperlihatkan gall stone dalam biliary duct.
KONTRAS MEDIA
Hypaque 25% sekitar 20 cc tergantung ukuran ductusnya.
PROSEDUR PEMERIKSAAN

Plain foto : AP dari abdomen kanan atas

Fast film dipilih agar didapat short exposure time, anastesi lokal

Eksposi diambil dalam keadaan respirasi.

TEKNIK RADIOGRAFI

Jarum dan kontras media disuntikan oleh dokter kedalam biliary tree biasanya
melalui cystic duct.

Foto diambil 2 kali, yakni pada 2/3 masuknya kontras, dan pada akhir pengisian
kontras.
16

Injeksi dilakukan dalam pengawasan fluoroscopi.

Gambar 8. Hasil foto operative choledochography


E. PERCUTANIOUS TRANSHEPATIC CHOLEDOCHOGRAPHY (PTC)
Percutaneous Transhepatic Choledochography adalah pemeriksaan
radiografi invasive pada duktus biliaris dengan menggunakan sinar-x
dan bantuan media kontras positif untuk menegakkan diagnosa.
Sangat berperan terutama pada membedakan obstruksi jaundice dan
non obtruksi dan digunakan untuk menentukan posisi, ukuran dan
penyebab

obstruksi.

INDIKASI

Eksplorasi kelainan system billiary seperti cholangiocarcinoma,


stone, stricture, sclerosing, maligna, kista, atresia biliary dan
biliary fistula

Jaundice/icterus dimana nampak dilatasi dari ductal system


(dengan USG/CT) namun etiologi dari obstruksi belum jelas.

Ductus sukar diviasualkan dengan pemeriksaan lain (apabila oral


dan IV - cholecystografi gagal).

Pancreatic disease
17

KONTRA INDIKASI

Sensitive terhadap media kontras

Pyloric stenosis

Acute pancreatistis

Glaucoma

KOMPLIKASI

Intraperitoneal Bleeding

Intrapritoneal Leakage of Bile dan Peritonitis

Liver Failure

Septicamia

Intraperitoneal Abses

PERSIAPAN PASIEN

Puasa 5 jam sebelum pemeriksaan dimulai.

Pemeriksaan darah dan urine lengkap.

Pemeriksaan fungsi hati.

Penandatangan Informed Consent.

Buang air kecil sebelum pemeriksaan.

18

Persiapan lokal pada tempat injeksi.

Skin area diantara bagian bawah chest dan bagian atas abdomen
dibersihkan dengan larutan desinfektan (iodine, pyodine atau
chlorhexidine) kemudian ditutup dengan duk sterile.

Anastesi lokal bagian lower intercostal space (antar costae 7,8


atau 9).

TEKNIK RADIOGRAFI

Pasien tidur supine pada meja fluoroscopy.

Foto AP right side / sebelah kanan dari abd dengan batas bawah
pada SIAS.

Setelah dianastesi lokal, chiba needle dimasukan kedalam liver


secara percutan dengan pengawasan melalui fluoroscopy.

Setelah diketahui letak bile duct, diambil cairan empedunya


untuk pemeriksaan lab.

Selanjutnya media kontras disuntikan sedikit untuk mengetahui


posisi jarum sudah tepat apa belum.

Jumlah kontras media sangat bervariasi tergantung volume dari


saluran empedu.

Bila terjadi kebuntuan saluran, maka needle diganti dengan


cateter untuk drainase

19

Gambar 9. A,Technique of percutaneous transhepatic


cholangiography;B,corresponding cholangiogram.

PA dan Oblique menggunakan serial film changer dan meja


pemeriksaan dinaikan sedikit, sehingga posisi kepala lebih tinggi
dari kaki.

Apabila diidentifikasi adanya obstruksi pada saluran empedu


selanjutnya dipersiapkan untuk laparatomi

F. ENDOSCOPIC RETROGRADE CHOLEDOCHO PANCREATGRAPHY


(ERCP)
ERCP merupakan suatu perpaduan antara pemeriksaan endoskopi
dan radiologi untuk mendapatkan anatomi dari sistim traktus biliaris
(kolangiogram)

dan

sekaligus

duktus

pankreas

(pankreatogram).

Metode ini memerlukan alat radiologi dengan kemampuan tinggi,


monitor televisi serta ketrampilan khusus dari ahli endoskopi. Prinsip
teknik ERCP adalah mula-mula memasukkan endoskop "optik samping"
20

sampai duodenum dan mencari papila Vateri yang merupakan muara


bersama

dari

duktus

koledokus

dan

dari

duktus

pankreatikus.

Kemudian dilakukan kanulasi dari muara papila dengan kateter yang


dimasukkan melalui kanal skop. Selanjutnya media kontras disuntikkan
melalui kateter tersebut sehingga didapatkan kolangiogram atau
pankreatogram yang akan terlihat pada monitor televisi .
Endoscopic Retrograde Choledoco Pancreatography (ERCP) adalah
pemeriksaan radiografi pada pankreas dan sistem billiary dengan
bantuan media kontras positif dan menggunakan peralatan fiber optik
endoskopi untuk menegakkan diagnosa. Atau suatu teknik yang
mengkombinasikan endoskopi dan flouroscopy untuk mendiagnosa dan
menangani masalah yang berkaitan dengan duktus biliaris dan duktus
pankreatikus.
Peran endoskopi adalah masuk dan melihat bagian dalam gaster
dan duodenum dan peran flouroscopy adalah menginjeksikan zat
radiokontras ke dalam duktus biliaris dan pankreatikus agar bisa dilihat
x-ray.

Untuk

kasus

tertentu

seperti

endoscopic

sphincterotomy,

pengangkatan batu, pemasangan stent dan dilatation of stricture


dilakukan ERCP Terapeutik .
Prinsip dari ERCP terapeutik adalah memotong sfingter papila Vateri
dengan kawat yang dialiri arus listrik sehingga muara papila menjadi
besar (spingterotomi endoskopik).
Kebanyakan tumor ganas yang menyebabkan obstruksi biliaris
sering sekali inoperabel pada saat diagnosis ditegakkan. Tindakan
operasi yang dilakukan biasanya paliatif dengan membuat anastomosis
bilio-digestif. Pada penderita dengan usia lanjut atau dengan penyulit
operasi, drainase bilaer dapat dilakukan dengan ERCP terapeutik yaitu
memasang endoprostesis parendoskopik. Prinsip dari teknik ini adalah
setelah

dilakukan

small

sphingterotomy

kemudian

dimasukkan

prostesis yang terbuat dari tenon dengan bantuan guide wire melalui
21

papila Vateri ke dalam duktus koledokus sehingga ujung proksimal


prostesis terletak di bagian proksimal dari lesi obstruksi dan ujung
distal terletak di duodenum. Dengan cara ini akan diperoleh drainase
empedu internal melalui endosprotesis yang mempunyai lubanglubang di sampingnya (side holes)

INDIKASI PEMERIKSAAN ERCP

Oral dan intravena cholecystography gagal


Pancreatic disease
Jaundice obstruktif
Batu empedu
Tumor saluran empedu
Bile Duct Injury (TraumaTerapeutik/Iatrogenik)
Disfungsi (Sphincter of Oddi)
Tumor pankreas

KONTRA INDIKASI

Infark Miokard
Alergi zat radiokontras
Penyakit kardiopulmonal
Pyloric Stenosis dapt menghalangi endoskopi
Acute pancreatitis
Glaucoma
Pseudocyst

PERSIAPAN PASIEN

Tanyakan apakah pasien hamil atau tidak.


Tanyakan apakah pasien mempunyai riwayat asma atau tidak.
Pasien diminta menginformasikan tentang obat-obatan yang

dikonsumsi.
Pemeriksaan darah lengkap dilakukan 1-2 hari sebelumnya.
Pasien puasa 5-6 jam sebelum pemeriksaan dimulai.
Bila diperlukan, pasien dapat diberikan antibiotik.
Penandatanganan informed consent (IC).
Plain foto abdomen
Premidikasi ameltocaine lozenge 30 mg.
Media kontras : untuk Pancreatic Duct diberikan Angiografin 65%
atau sejenisnya dan untuk Billiary Duct diberikan Conray 280
atau sejenisnya.

TEKNIK RADIOGRAFI
22

Pasien disedasi atau dianesthesi.


Pasien miring di sisi kiri pada meja pemeriksaan.
Endoskop dimasukan melalui mulut,turun ke esofagus, kemudian
gaster,melalui pylorus, dan masuk ke dalam duodenum dimana
terdapat

Ampulla

of Vater (pembukaan

common

danpancreatic duct) dan Sphincter of Oddi

bile

duct

adalah muscular

valve yang mengatur pembukaan ampulla.


Kemudian sebuah cannula atau catheter dimasukan melalui
ampulla, dan zat radiokontras disuntikan ke dalam duktus biliaris

dan duktus pankreatikus.


Endoskopi diposisikan pada bagian tengah duodenum dan papilla

vateri.
Poly kateter

endoskopi)
Dibuat spot foto dipandu dengan fluoroscopy.

diisi

media

kontras

(berada

di

pertengahan

23

Gambar 9. A, B, Position of the endoscope in the duodenum during ERCP

G. DENGAN PEMERIKSAAN USG


Gambaran hasil pemeriksaan kandung empedu sangat khas.

Kandung empedu

tergambar sebagai suatu struktur unechoic lonjong. Kandung empedu dikelilingi dinding
24

hiperechoic yang nantinya akan diukur ketebalannya. Jika skening dilakukan dengan cara
subcostal, maka kandung empedu seolah-olah di dalam struktur hipoechoic, yaitu hati.
Kandung empedu mempunyai batas yang tegas. Dinding kandung empedu tergambar
sebagai struktur hiperechoic yang menhelilingi kandung empedu. Pada pemeriksaan
USG kandung empedu, salah satu bagian yang nantinya di ukur adalah tebalnya dinding
kandung empedu.
Pada skening intercostal, kandung empedu terlihat diluar hati. Karakteristik kandung
empedu sama dengan posisi skening subcostal. Dalam skening intercostal, mungkin
lapangan gambar tidak terlalu luas karena tertutup bayangan akuistik dari tulang iga.

Gambar 10. USG normal pada kantung empedu

25

DAFTAR PUSTAKA

Cholesystogram
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/9709.htm
Digestive

Disorders

Health

Center

http://www.webmd.com/digestive-

disorders/picture-of-the-gallbladder
Gallbladder Scan.
http://www.hopkinsmedicine.org/healthlibrary/test_procedures/gastr
oenterology/gallbladder_scan_92,P07694/ 11/09/2014 21:51
Teknik

Radiografi

Intravena

Cholecystography.

http://hanifah-ayu-

fk13.web.unair.ac.id/artikel_detail-87508-%20Radiografi-Teknik
%20Radiografi%20Intravena%20Cholecystography.html
Teknik

Radiografi

Oral

Colecystography.

http://siavent.blogspot.com/2010/05/teknik-radiografi-oralcolecystography.html
Symposium on Biliary Disease. Ultrasound of the gall bladder and biliary
tree Part 1. British Journal of Hospital Medicine, June 2014, Vol 75,
No 6
Teknik Radiografi Oral Colecystography
http://catatanradiograf.blogspot.com/2010/08/teknik-radiografioralcolecystography.html#comment-form
WHO. Atlas teknik radiografi. Jakarta : EGC 1992

26

Anda mungkin juga menyukai