Anda di halaman 1dari 43

INFEKSI JAMUR SUPERFISIAL: Dermatofitosis, Onikomikosis,

Tinea Nigra, Piedra


MIKOLOGI
Infeksi jamur dapat superfisial, subkutaneus atau sistemik tergantung karakteristik
organisme dan host-nya. Bab ini khusus membahas mengenai infeksi jamur superfisial
yang terbatas pada stratum korneum, rambut dan kuku. Infeksi ini dapat dibagi lagi
menjadi infeksi yang menginduksi suatu respon inflamasi, seperti yang disebabkan oleh
dermatofita dan infeksi yang secara minimal sampai tidak menginduksi terjadinya respon
inflamasi, seperti yang disebabkan oleh piedra.
DERMATOFITA
Dermatofita adalah suatu kelompok taksonomi yang dihubungkan dengan jamur.
Kemampuannya

untuk

membentuk

ikatan

molekuler

terhadap

keratin

dan

menggunakannya sebagai sumber makanan menyebabkan mereka mampu berkolonisasi


pada jaringan keratin, termasuk stratum korneum epidermis, rambut, kuku dan jaringan
keratin hewan. Infeksi superfisial yang disebabkan oleh suatu dermatofita disebut
dermatofitosis, sedangkan dermatomikosis mengacu pada infeksi jamur yang disebabkan
oleh jamur apapun.
Aspek Histori
Epidemiologi
Terdapat sejumlah jalur klasifikasi jamur superfisial, termasuk habitat dan gambaran
infeksi. Organisme geofilik (earthloving) berasal dari tanah dan menginfeksi manusia
secara sporadis biasanya melalui kontak langsung dengan tanah. Infeksi ini biasanya
menyebar melalui spora yang dapat hidup bertahun-tahun di selimut dan peralatan kuda.
Infeksi yang disebabkan oleh organisme ini biasanya menimbulkan inflamasi. Strain
Microsporum gypseum, patogen geofilik tersering yang dapat dikultur dari manusia,
bersifat lebih virulen dari patogen lainnya yang berasal dari tanah, menjelaskan
penyebaran epidemi berkala pada kondisi yang sesuai.
Spesies zoofilik (animal-loving) biasanya ditemukan pada binatang tetapi juga
dapat ditransmisikan ke manusia. Binatang dan hewan peliharaan biasanya merupakan
sumber infeksi ini pada daerah perkotaan (misalnya M.canis pada kucing dan anjing).

Transmisi dapat terjadi melalui kontak langsung dengan satu spesies binatang tertentu
atau secara tidak langsung pada saat rambut binatang yang terinfeksi terbawa di pakaian
atau bangunan yang terkontaminasi atau makanan. Daerah terpapar seperti kulit kepala,
jenggot, wajah dan kedua lengan merupakan tempat infeksi yang disukai. Meskipun
infeksi pada manusia karena zoofil sering supuratif, infeksi pada binatang dapat tanpa
gejala klinis menunjukkan adaptasi jamur yang unik terhadap binatang sebagai host-nya.
Dermatofitosis dengan peradangan paling sering disebabkan oleh dermatofita zoofilik.
Spesies antropofilik (man-loving) beradaptasi dengan manusia sebagai host. Tidak
seperti infeksi geofilik dan zoofilik yang sporadis, infeksi antropofilik sering epidemik di
alam. Spesies ini ditularkan dari orang ke orang melalui kontak langsung atau perantara.
Infeksi oleh spesies ini dapat bervariasi dari asimtomatis sampai ditandai dengan
peradangan karena variabilitas virulensi sesuai dengan kepekaan host. Terbentuknya
kerion, supurasi atau manifestasi lain peradangan tinea membantu dalam menentukan
diagnosis awal. Sebaliknya, infeksi tanpa peradangan menyebabkan suatu kondisi karier
tanpa adanya gambaran klinis yang menyebabkan keterlambatan diagnosis dan
penyebaran infeksi.
Variabilitas

host

juga

mempengaruhi

manifestasi

klinis.

Individu

imunokompromais lebih peka untuk mengalami dermatofitosis yang berat atau sukar
disembuhkan dan kemajuan dalam kemoterapi serta transplantasi meningkatkan
terjadinya infeksi oportunistik oleh dermatofita yang sebelumnya tidak patogenik.
Menariknya, hanya tingkat keparahan dermatofitosis yang ditingkatkan oleh penyakit
human immunodeficiency virus, bukan prevalensinya. Umur, jenis kelamin dan ras adalah
faktor epidemiologi penyerta yang penting, seperti halnya infeksi dermatofita yang lima
kali lebih sering pada laki-laki dibandingkan perempuan. Akan tetapi, tinea kapitis karena
Trichophyton tonsurans lebih sering pada perempuan dewasa dibandingkan laki-laki
dewasa dan paling sering pada anak-anak Amerika Afrika. Tidak ada bukti sampai saat ini
yang mendukung hubungan kepekaan terhadap dermatofita dengan beberapa kelompok
ABO, begitu juga bukti bahwa penderita diabetes sangat peka terhadap infeksi ini, tetapi
bagaimanapun diabetes dapat mempengaruhi perjalanan infeksi yang telah terjadi.
Gambaran mengenai perjalanan manusia yang dapat mempengaruhi secara cepat
distribusi jamur endemis, diilustrasikan oleh T.tonsurans. Seperempat abad yang terakhir,
T.tonsurans telah digantikan oleh M.audounii sebagai penyebab terbanyak tinea kapitis di
Amerika Serikat, mempunyai hubungan yang jelas dengan imigrasi populasi Mexico dan

Karibia. Resistensi relatif T.tonsurans terhadap griseofulvin juga berkontribusi terhadap


hal ini.
Akhirnya. Kebiasaan maupun budaya lokal juga mempengaruhi jumlah
dermatofitosis. Sebagai contoh, penggunaan alas kaki yang tertutup menyebabkan tinea
pedis dan onikomikosis yang lebih banyak terjadi di negara-negara industri.
Prosedur Diagnostik
Suatu diagnosis klinis infeksi dermatofita dapat dipastikan dengan pemeriksaan
mikroskopis atau kultur. Meskipun pemeriksaan mikroskopis dapat membuktikan infeksi
jamur dalam beberapa menit, sering tidak menunjukkan spesies atau untuk identifikasi
profil kepekaan agen infeksius. Pemeriksaan mikroskop juga dapat memberikan hasil
negatif palsu dan sebaiknya dilakukan kultur jamur bila terdapat kecurigaan infeksi
dermatofita secara klinis.

Dermatofita : Jamur yang mampu


berkolonisasi pada jaringan keratin
Dermatofita dapat dibagi menjadi organisme
geofilik, zoofilik dan antropofilik
Dermatofita berasal dari genus
Epidermophyton, Microsporum, dan
Trichophyton
Tinea kapitis, tinea barbae, tinea korporis,
tinea manuum, tinea pedis, tinea cruris dan
onikomikosis, semuanya disebabkan oleh
dermatofita
Antijamur oral termasuk griseofulvin,
itrakonazol, flukonazol dan terbinafine
Tinea nigra adalah infeksi dermatofita
superfisial yang menyerupai melanoma
lentiginous akral
Piedra yang terdiri dari 2 bentuk putih dan
hitam adalah suatu infeksi jamur asimtomatis
pada batang rambut

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS. Rambut


Pemeriksaan lesi yang melibatkan kulit kepala atau jenggot dengan lampu wood dapat
menampakkan fluoresen pteridine dari patogen yang sebenarnya (Tabel 188-1). Rambut
yang berpendar sebaiknya dipilih untuk pemeriksaan selanjutnya. Akan tetapi, penting
untuk dicatat bahwa meskipun organisme ektotriks M.canis dan M.audouinii akan
berpendar pada pemeriksaan lampu wood, organisme endotriks T.tonsurans tidak akan
berpendar. Trichophyton tonsurans yang saat ini diketahui sebagai penyebab tersering
tinea kapitis di Amerika Serikat memberikan hasil terbatas pada pemeriksaan lampu
wood. Rambut mesti dicabut, tidak dipotong, diletakkan di atas sebuah kaca mikroskop
dengan potasium hidroksida (KOH) 10 sampai 20%, ditutup dengan penutup kecil dan
sedikit dihangatkan. Mikroskop kekuatan rendah akan menunjukkan dua kemungkinan
gambaran infeksi (Gb.188-1):
1. Ektotriksartrokonidia kecil atau besar membentuk suatu lapisan di sekitar
pembungkus batang rambut; atau
2. endotriks artrokonidia dalam batang rambut
Tabel 188-1
Karakteristik Laboratorium Dermatofita yang Menyebabkan Tinea Kapitis

Gambar 188-1. Ektotriks (kiri) dan endotriks pada rambut yang terkena

Kulit dan Kuku Spesimen kulit sebaiknya diambil dengan cara pengerokan bagian luar
tepi lesi menggunakan bagian tumpul pisau bedah. Spesimen kuku harus didapat dengan
menggunting seluruh ketebalan kuku yang distrofik, seproksimal mungkin dari tepi distal
kuku.
Pada sediaan KOH 10 sampai 20 persen, dermatofita tampak hifa bersepta dan
bercabang tanpa penyempitan (Gb.188-2); akan tetapi kultur perlu dilakukan untuk
menentukan spesiesnya karena semua spesies dermatofita tampak identik.

Gambar 188-2. Pemeriksaan mikroskopis kerokan kulit (skuama) memperlihatkan hifa


bersepta dan bercabang
Tabel 188-2. Karakteristik Dermatofita yang Paling Sering

PROSEDUR KULTUR Penentuan spesies jamur superfisial berdasarkan karakteristik


makroskopis, mikroskopis dan metabolik organisme. Sabourauds dextrose agar (SDA)
merupakan medium isolasi yang paling sering digunakan dan menjadi dasar bagi
kebanyakan deskripsi morfologi, akan tetapi saprobes (organisme yang hidup dari bahanbahan yang busuk atau sudah mati) kontaminan tumbuh cepat pada medium ini, menutupi
organisme patogen sesungguhnya sehingga memerlukan penambahan sikloheksamid (0,5
g/L) dan kloramfenikol (0,05 g/L) untuk membuat medium menjadi sangat selektif untuk
isolasi dermatofita. Versi komersil agar ini telah tersedia. Media pemeriksaan dermatofita
mengandung indikator pH phenol red; yang warnanya tetap kekuningan pada
pertumbuhan kebanyakan saprofit, tetapi berubah menjadi merah bila aktivitas proteolitik
dermatofita meningkatkan pH menjadi 8 atau lebih. Jamur nondermatofita memberikan
warna kuning pada media karena keasaman yang disebabkan oleh produk-produknya.
Identifikasi jamur yang diisolasi dipermudah dengan penggunaan potato dextrose agar
yang merangsang produksi konidia dan pigmen. Akhirnya, spesies Trichophyton sering
dibedakan berdasarkan kebutuhan nutrisinya, ditunjukkan pada jumlah agar Trichophyton
satu sampai tujuh.
Sangat penting bagi masing-masing laboratorium untuk menggunakan media
standar dimana tersedia beberapa varian komersial. Kultur diinkubasi pada suhu kamar
(260C (78,80F)) selama 4 minggu sebelum dibuang oleh karena tidak ada pertumbuhan.
Dengan mengetahui adanya dermatofita sebanyak lebih dari 40, identifikasi yang baik
membutuhkan sumber acuan yang sesuai. Tabel 188-2 memuat karakteristik patogen
yang paling sering didapatkan.
Patogenesis
Dermatofita dapat bertahan hidup semata-mata dari stratum korneum manusia yang
menyediakan sumber makanan untuk dermatofita dan pertumbuhan miselia jamur. Infeksi
dermatofita melibatkan tiga langkah utama: perlekatan pada keratinosit, penetrasi melalui
dan di antara sel-sel serta terbentuknya suatu respon host.
PERLEKATAN Jamur superfisial harus mengatasi beberapa hambatan dengan
membentuk artrokonidia, suatu elemen infeksius, untuk melekat dengan jaringan keratin.
Jamur harus tahan terhadap efek sinar ultraviolet, suhu dan kelembaban yang bervariasi,
kompetisi dengan flora normal dan sphingosine yang diproduksi oleh keratinosit. Asam

lemak diproduksi oleh kelenjar sebasea dan bersifat fungistatik, khususnya asam lemak
dengan panjang rantai 7,9,11 dan 13. Adanya asam lemak ini pada anak-anak
pascapubertas bermakna dalam menurunkan secara dramatis infeksi tinea kapitis setelah
pubertas.
PENETRASI

Setelah perlekatan, spora jamur berbiak dan berpenetrasi ke dalam

stratum korneum melebihi kecepatan deskuamasi. Penetrasi dibantu oleh sekresi


proteinase, lipase dan enzim musinolitik yang juga menyediakan makanan untuk jamur.
Trauma dan maserasi juga mempermudah penetrasi dan merupakan faktor penting dalam
patogenesis tinea pedis. Mannan jamur pada dinding sel dermatofita juga menurunkan
kecepatan proliferasi keratinosit. Pertahanan baru muncul apabila lapisan epidermis yang
lebih dalam tercapai, termasuk kompetisi dengan besi oleh transferrin tak jenuh dan
kemungkinan hambatan pertumbuhan jamur oleh progesteron.
TERBENTUKNYA SUATU RESPON HOST Derajat inflamasi dipengaruhi baik oleh
status imun penderita maupun organisme yang terlibat. Deteksi imun dan kemotaksis selsel radang dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Beberapa jamur menghasilkan
faktor kemotaktik molekul berat rendah seperti yang diproduksi bakteri, sedangkan yang
lainnya mengaktivasi komplemen melalui jalur alternatif, membentuk faktor kemotaktik
derivat komplemen.
Pembentukan antibodi tampaknya tidak memberikan perlindungan pada infeksi
jamur, seperti pada penderita dengan infeksi yang luas memiliki titer antibodi yang tinggi.
Reaksi hipersensitivitas tipe IV atau delayed-type hypersensitivity (DTH) memainkan
peranan sangat penting pada perlawanan terhadap dermatofitosis. Bagian imunitas seluler
ini dipertahankan oleh sekresi interferon- dari limfosit T helper tipe 1. Pada penderita
tanpa paparan dermatofita sebelumnya, infeksi primer menyebabkan peradangan minimal
dan tes kulit trichophytin negatif. Infeksi menyebabkan eritema ringan dan skuama
sebagai hasil peningkatan turnover keratinosit. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa
antigen dermatofita diproses oleh sel Langerhans epidermal dan dipresentasikan kepada
limfosit T di kelenjar limfe lokal. Kemudian limfosit T mengalami proliferasi klonal dan
bermigrasi ke tempat infeksi untuk menyerang jamur. Pada saat ini, lesi meradang dan
barier epidermal menjadi permiabel terhadap transferrin dan sel-sel bermigrasi. Jamur

segera dimusnahkan dan lesi menghilang secara spontan. Tes kulit trichophytin menjadi
positif dan menghilangnya suatu infeksi sekunder akan lebih cepat.
Reaks dermatofitid yang terjadi pada 4 sampai 5% penderita merupakan suatu
reaksi alergi kulit berupa peradangan eksematous pada tempat yang jauh dari infeksi
jamur primer. Tidak seperti lesi primer, pemeriksaan KOH dan kultur memberikan hasil
negatif. Reaksi ini dapat berbentuk papul folikuler, eritema nodosum, id vesikuler pada
telapak tangan dan kaki, seperti erisipelas, erythema annular centrifugum, atau urtikaria
(lihat bab 17). Meskipun mekanismenya yang jelas tidak diketahui, reaksi ini
berhubungan dengan respon DTH terhadap tes trichophytin dan melibatkan suatu respon
DTH lokal terhadap antigen jamur yang diabsorbsi secara sistemik.
Genetik
Kesakitan dalam rumah tangga pada kasus-kasus yang disebabkan oleh T.concentricum
dan T.rubrum, anggota keluarga relatif lebih sering terinfeksi dibandingkan pasangan
suami istri pada paparan jamur yang sama. Faktor-faktor spesifik yang mempermudah
infeksi tidak diketahui.
DERMATOFITOSIS
Tinea kapitis
Tinea kapitis adalah suatu dermatofitosis pada kulit kepala serta rambut, disebabkan oleh
beberapa dermatofita patogenik dari genus Trichophyton and Microsporum kecuali
T.concentricum. Penyebab tersering di seluruh dunia adalah M.canis, sedangkan di
Amerika Serikat penyebab terbanyak adalah T.tonsurans diikuti oleh M.canis.
EPIDEMIOLOGI Insiden tinea kapitis tidak diketahui, tetapi paling sering ditemukan
pada anak-anak berumur 3 sampai 14 tahun dan jarang ditemukan pada dewasa. Tinea
kapitis lebih sering pada anak-anak keturunan Afrika dengan alasan yang tidak jelas.
Transmisi meningkat pada higiene perorangan yang rendah, padat penghuni dan status
ekonomi yang rendah. Organisme penyebab tinea kapitis dikultur dari bahan-bahan
perantara seperti sisir, topi, sarung bantal, mainan dan tempat duduk bioskop. Setelah
terjadi penyebaran lengkap, rambut dapat menyembunyikan organisme yang infeksius
lebih dari satu tahun. Sering terdapat karier asimtomatik sehingga eradikasi sulit
dilakukan.

10

PATOGENESIS Dermatofita ektotriks (lihat Table 188-1) khasnya menyebabkan infeksi


pada stratum korneum perifolikuler, menyebar ke sekitarnya dan memasuki batang
rambut pada fase pertengahan sampai lanjut anagen sebelum turun ke folikel kemudian
menembus korteks rambut. Artrokonodia

kemudian mencapai korteks rambut dan

disebarkan ke permukaan rambut. Secara mikroskopis, hanya artrokonidia ektotriks yang


dapat dilihat pada rambut yang dicabut meskipun hifa intrapilari juga dapat ditemukan.
Patogenesis infeksi endotriks adalah sama kecuali bahwa artrokonidia tetap berada
di dalam batang rambut, menggantikan keratin intrapilari dan meninggalkan korteks yang
utuh. Akibatnya rambut sangat rapuh dan patah pada permukaan kulit kepala dimana tidak
terdapat sokongan dinding folikuler sehingga meninggalkan sebuah titik hitam kecil
(black dot). Demikian, ditemukan tinea kapitis tipe black dot.
TEMUAN KLINIS
Gambaran klinis tinea kapitis tergantung pada penyebabnya (Tabel 188-3).
Tabel 188-3. Organisme yang Berkaitan dengan Tipe Klinis Tinea Kapitis*

* Satu organisme dapat memberikan presentasi lebih dari satu


Tipe Noninflamasi, Manusia atau Epidemi Gambaran tinea kapitis noninflamasi paling
sering tampak dengan organisme antropofilik ektotriks seperti M.audouinii atau M.canis.
Bentuk tinea kapitis ini juga dikenal sebagai bentuk seboroik karena skuamanya yang
mencolok. Peradangan yang terjadi minimal. Rambut di area yang terkena menjadi abuabu dan kurang berkilau karena adanya artrokonidia pada selubung rambut dan terputus
tepat pada kulit kepala (Gb.188-3). Seringkali tidak ditemukan adanya rambut rontok

11

secara nyata. Akan tetapi, seringnya lesi ini tampak berbatas tegas, hiperkeratotik bulat,
daerah alopesia berskuama oleh karena patahnya rambut (tipe gray patch; Gb.188-4).
Gambarannya adalah seperti lapangan gandum. Rambut dan skuama yang tersisa
menunjukkan fluoresensi hijau di bawah lampu wood (lihat Tabel 188-1). Lesi biasanya
terjadi pada daerah occiput.

Gambar 188-3. Tinea kapitis yang disebabkan oleh Microsporum audouinii

Gambar 188-4. Tinea kapitis tipe gray patch. Suatu plak hiperkeratotik bulat, besar
dari alopesia karena batang rambut yang terputus menutupi permukaan memberikan
gambaran lapangan gandum yang dipotong oleh mesin pemotong rumput pada kulit
kepala seorang anak. Rambut yang tersisa dan skuama memberikan fluoresen hijau bila
diperiksa dengan lampu wood. Microsporum canis dapat diisolasi pada kultur.

12

Tipe Inflamasi

Tinea kapitis tipe inflamasi biasanya tampak dengan patogen zoofilik

atau geofilik, contoh yang sering adalah M.canis dan M.gypseum. Peradangan pada tinea
kapitis merupakan hasil reaksi hipersensitivitas terhadap infeksi. Spektrum inflamasi
mulai dari folikulitis pustular sampai kerion (Gb.188-5) dengan tumpukan massa
bercampur dengan rambut patah dan orifisium folikuler yang berdarah dengan pus.
Peradangan seperti ini biasanya meninggalkan alopesia sikatrisial. Lesi yang meradang
biasanya gatal dan dapat disertai nyeri, limfadenopati servikal posterior, demam dan lesi
tambahan pada kulit tidak berambut.

Gambar 188-5. Kerion pada kulit kepala


Tinea Kapitis Black Dot
Tinea kapitis tipe black dot disebabkan oleh organisme antropofilik endotriks T.tonsurans
dan T.violaceum merupakan bentuk tinea kapitis dengan peradangan minimal. Kerontokan
rambut dapat terjadi atau tidak. Bila ini terjadi rambut patah setinggi kulit kepala
menimbulkan kelompok bintik-bintik hitam (black dot) pada daerah alopesia (Gb.188-6).
Biasanya terdapat skuama difus yang khas, tetapi peradangan bervariasi dari minimal
sampai folikulitis pustular atau lesi menyerupai furunkel sampai kerion. Daerah yang
terkena biasanya multipel atau poligonal dengan batas tidak tegas, tepi menyerupai jari
tangan. Rambut normal biasanya tetap ada dalam bercak alopesia.

13

Gambar 188-6 Tinea kapitis tipe Black dot disebabkan oleh Trichophyton tonsurans
DIAGNOSIS BANDING (Kotak 188-1)
Kotak 188-1
Diagnosis Banding Tinea Kapitis
Sangat mirip
Dermatitis seboroik, dermatitis atopik, impetigo dan
psoriasis plak atau pustular, pioderma bakteri,
folliculitis decalvans dan perifolikulitis kapitis yang
bernanah dan lunak
Dipertimbangkan
Alopesia areata, trikotilomania, pseudopelade
Disingkirkan
Sifilis, lupus eritematosus

HISTOPATOLOGI

Pada tinea kapitis, pengecatan methenamin silver dan periodic

acid-Schiff (PAS) menunjukkan hifa di sekitar dan di dalam batang rambut. Dermis
menunjukkan suatu infiltrat perifolikuler yang terdiri dari campuran limfosit, histiosit, sel
plasma dan eosinofil. Gangguan folikuler memudahkan terjadinya suatu reaksi foreignbody giant cell.

14

Lesi dengan peradangan seperti kerion ditandai dengan infiltrat yang lebih padat
dari abses lekosit polimorfonuklear di dalam dermis dan folikel. Organisme sulit dilihat
tetapi antigen jamur dapat dideteksi dengan teknik imunofluoresen.
Tinea Favosa
Tinea favosa atau favus (Latin, honey comb) adalah suatu infeksi dermatofita kronis
pada kulit kepala, kulit tidak berambut dan atau kuku yang ditandai oleh krusta tebal
berwarna kuning (skutula) dalam folikel rambut yang menyebabkan alopesia sikatrisial.
EPIDEMIOLOGI Favus biasanya didapat sebelum remaja dan dibawa sampai dewasa,
berhubungan dengan malnutrisi dan higiene yang buruk, terbatas secara geografik pada
abad sebelumnya, seperti yang terlihat eksklusif di Afrika, Timur Tengah dan beberapa
bagian Amerika Selatan. Di daerah ini pula, insiden favus menurun secara dramatis.
ETIOLOGI T.Schoenleinii adalah penyebab terbanyak favus pada manusia, sedangkan
T.violaceum dan M.gypseum merupakan isolat terjarang. Meskipun favus terdapat pada
unggas, tikus dan kuda, terdapat sedikit sekali laporan pada literatur bahwa favus pada
manusia disebabkan oleh organisme penyebab favus pada binatang.
TEMUAN KLINIS

Favus dini (biasanya 3 minggu pertama infeksi) ditandai dengan

adanya bercak eritema folikuler dengan skuama perifolikuler ringan dan rambut yang
sedikit menggumpal. Invasi hifa yang progresif menyebabkan folikel membesar, pertamatama menimbulkan papul merah kekuningan kemudian krusta kekuningan yang cekung,
di tengahnya sering terdapat sehelai rambut kering dan kusam (Gb.188-7) yang kurang
rapuh dibandingkan pada infeksi endotriks. Skutula dapat mencapai diameter 1 cm,
meliputi rambut di sekelilingnya dan bergabung dengan skutula lain membentuk lempeng
besar yang melekat dengan bau seperti tikus atau keju yang tidak mengenakkan. Setelah
beberapa tahun, lesi meluas ke perifer meninggalkan bagian tengah berupa alopesia yang
bersih dan atrofi.

15

Gambar 188-7. Favus disebabkan oleh Trichophyton schoenleinii. Tampak sejumlah


skutula berwarna kuning
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

T.schoenleinii menunjukkan fluoresensi hijau

keabu-abuan sepanjang keseluruhan rambut pada pemeriksaan lampu wood. Mikroskopis


dengan sediaan KOH menunjukkan hifa tersusun sepanjang rambut, di sekitar dan di
dalam batang rambut, sedikit artrokonidia dan ruang hampa udara.
Tinea Barbae
EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan definisi, tinea barbae hanya terjadi pada laki-laki.

Sebelumnya sebagian besar transmisi terjadi melalui pisau cukur yang terkontaminasi,
tetapi meningkatnya sanitasi telah menurunkan insidennya. Pada saat ini tinea barbae
lebih sering terjangkit melalui paparan langsung terhadap sapi, kuda atau anjing dan lebih
banyak terdapat di daerah pedesaan di antara petani dan peternak.
ETIOLOGI

Tinea barbae paling sering disebabkan oleh organisme zoofilik

T.mentagrophytes dan T.verrucosum dan jarang disebabkan oleh M.canis. Di antara


organisme antropofilik, T.megninii, T.schoenleinii dan T.violaceum dapat menyebabkan
tinea barbae di daerah endemis, sedangkan T.rubrum merupakan penyebab yang jarang.
TEMUAN KLINIS Tinea barbae khasnya unilateral dan lebih sering mengenai daerah
janggut dibandingkan kumis atau bibir atas. Tinea barbae terdapat dalam tiga bentuk.

16

Tipe Inflamasi Biasanya disebabkan oleh T.mentagrophytes dan T.verrucosum, tinea


barbae tipe inflamasi (Gb.188-8) analog dengan terjadinya kerion pda tinea kapitis. Lesi
noduler dan ditutupi oleh krusta yang berasal dari cairan seropurulen. Rambut pada
daerah ini suram, rapuh dan mudah dilepaskan untuk menunjukkan massa purulen pada
akarnya. Pustulasi perifolikuler dapat bergabung membentuk sinus dan kumpulan pus
yang menyerupai abses berakhir menjadi alopesia sikatrisial.
Tipe Superfisial

Disebabkan oleh antropofil yang kurang menyebabkan peradangan.

Bentuk tinea barbae ini sangat mirip dengan folikulitis bakterial dengan eritema ringan
yang difus dan papul perifolikuler serta pustula (Gb.188-8B). Rambut yang pudar dan
rapuh mengesankan infeksi endotriks dengan T.violaceum lebih condong sebagai
penyebab dibandingkan T.rubrum.
Tipe Sirsinata

Seperti kebanyakan tinea sirsinata pada kulit yang tak berambut, tinea

barbae menunjukkan tepi vesikulopustuler yang meluas, aktif dengan central scaling dan
rambut yang relatif jarang (Gb.188-9)

Gambar 188-8A. Tinea barbae, kerion. Nodul merah berbatas tegas dengan pustul
multipel kekuningan. Permukaannya edematosa dan basah. Rambut tampak menghilang
dari nodul ini. B. Tinea barbae superfisial. Papul dan pustul folikuler yang tersebar dan
mudah dikelirukan dengan folikulitis Staphylococcus aureus

17

Gambar 188-9. Tinea barbae sirsinata memiliki batas yang melebar dengan papul kecil,
vesikel dan skuama.
DIAGNOSIS BANDING (Kotak 188-2)
Kotak 188-2
Diagnosis Banding Tinea Barbae
Sangat mirip
Folikulitis bakterial (sycosis vulgaris), dermatitis
perioral, folikulitis kandida, pseudofolikulitis barbae,
akne vulgaris/rosasea, dermatitis kontak
Disingkirkan
Halogenoderma, herpes simpleks
Tinea Korporis (Tinea Sirsinata)
Tinea korporis menggambarkan seluruh dermatofitosis pada kulit tak berambut kecuali
telapak tangan, telapak kaki dan pelipatan paha.
EPIDEMIOLOGI

Tinea korporis dapat ditularkan secara langsung dari manusia

terinfeksi atau binatang, melalui perantara atau autoinokulasi dari reservoir seperti
kolonisasi T.rubrum pada kaki. Anak-anak tampaknya lebih mudah terkena patogen
zoofilik, terutama M.canis dari anjing atau kucing. Pakaian tertutup dan iklim yang
hangat serta berkelembaban tinggi dikaitkan dengan erupsi yang lebih sering dan berat.
Pakaian tertutup, seringnya kontak kulit dengan kulit dan trauma minor (luka
bakar) yang mengganggu kompetisi alami, menciptakan lingkungan yang baik untuk
perkembangan dermatofita. Beberapa kali terjadi wabah tinea corporis gladiatorum,
paling sering disebabkan oleh T.tonsurans.

18

Tinea imbrikata yang disebabkan oleh T.consentricum secara klinis tampak


sebagai plak yang terdiri dari cincin-cincin eritematosa konsentris. Tinea ini terbatas
dengan luas pada daerah Timur Jauh, Pasifik Selatan serta Amerika Selatan dan Tengah.
ETIOLOGI Meskipun semua dermatofita dapat menyebabkan tinea korporis, penyebab
tersering adalah T.rubrum, T.mentagrophytes, M.Canis dan T.tonsurans juga sering
sebagai patogen. T.rubrum dan T.verrucosum merupakan kandidat yang paling mungkin
pada

kasus

dengan

keterlibatan

folikuler.

Tinea

imbrikata

disebabkan

oleh

T.concentricum.
TEMUAN KLINIS

Tabel 188-4 menunjukkan berbagai macam varian tinea korporis.

Gambaran klasiknya berupa lesi anular dengan skuama yang dikelilingi tepi eritematosa.
Tepinya seringkali berbentuk vesikuler (Gb.188-10) dan berkembang secara sentrifugal.
Bagian tengah lesi biasanya berskuama, namun dapat juga bersih. Lesi dapat serpiginous
dan

anular

(ring-worm-like;

Gb.188-11).

Cincin

vesikuler

yang

konsentrik

menunjukkan tinea inkognito yang disebabkan oleh T.rubrum, dimana cincin konsentrik
dari tinea imbrikata menunjukkan sedikit atau tidak ada vesikulasi. Infeksi T.rubrum juga
dapat dalam bentuk yang luas dengan plak polikistik atau psoriasiformik yang
berkonfluen (Gb.188-12).
Tabel 188-4. Variasi Tinea Korporis

19

Granuloma Majocchi adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh T.rubrum, terjadi
bila hifa jamur menginvasi rambut dan folikel rambut. Secara klinis tampak pada
perempuan yang mencukur rambut tungkainya dan tampak sebagai papul-papul
folikulosentris yang meradang.

Gambar 188-10. Tinea corporis anular pada paha. Tampak lesi anular konfluen, multipel
dengan skuama dan sebagian tepi vesikuler. Tipe lesi ini biasanya tampak pada infeksi
dermatofitik zoofilik.

Gambar 188-11. Tinea korporis dengan konfigurasi khas ringworm-like

Gambar 188-12. Pola polisiklik dari tinea korporis yang menyerupai psoriasis

20

DIAGNOSIS BANDING (Kotak188-3)


Kotak 188-3
Diagnosis Banding Tinea Korporis
Sangat mirip
Erythema annulare centrifugum, dermatitis numularis,
granuloma annulare
Dipertimbangkan
Psoriasis, liken planus, dermatitis seboroik, pitiriasis
rosea, pitiriasis rubra pilaris, polymorphous light
eruption, dermatitis kontak, akne rosasea
Disingkirkan
Mikosis fungoides, sifilis sekunder, lupus
erythematosus, dermatomiositis, infeksi jamur kandida
atau dalam, infeksi mycobacterial atau blastomikosis
Tinea Kruris
Tinea kruris merupakan dermatofitosis yang sering ditemukan pada kulit lipat paha,
genitalia, daerah pubis, perineum, dan perianal. Penamaan penyakit ini merupakan istilah
yang tidak cocok, karena dalam bahasa Latin kruris berarti kaki. Penyakit ini
merupakan dermatofitosis terbanyak kedua yang sering ditemukan.
EPIDEMIOLOGI Seperti halnya tinea korporis, tinea kruris menyebar melalui kontak
langsung ataupun kontak dengan peralatan yang terkontaminasi, dan dapat mengalami
eksaserbasi karena adanya oklusi dan lingkungan yang hangat, serta iklim yang lembab.
Kelainan ini terjadi tiga kali lebih sering pada pria bila dibandingkan dengan wanita, dan
orang dewasa lebih sering menderita penyakit ini bila dibandingkan dengan anak-anak.
Sekali lagi, autoinfeksi dari sumber penularan yang jauh letaknya seperti halnya tinea
pedis yang disebabkan oleh T. rubrum atau T. mentagrophytes sering kali terjadi.
ETIOLOGI Kebanyakan tinea kruris disebabkan oleh T. rubrum dan Epidermophyton
floccosum, dimana E. floccosum merupakan spesies yang paling sering menyebabkan
terjadinya epidemi. T. mentagrophytes dan T. verrucosum jarang menyebabkan tinea
kruris.

21

TEMUAN KLINIS Tinea kruris biasanya tampak sebagai papulovesikel eritematosa


yang multipel dengan batas tegas dan tepi meninggi. Pruritus sering ditemukan, seperti
halnya nyeri yang disebabkan oleh maserasi ataupun infeksi sekunder. Tinea kruris yang
disebabkan oleh E. floccosum paling sering menunjukkan gambaran central clearing, dan
paling sering terbatas pada lipatan genitokrural dan bagian pertengahan paha atas.
Sebaliknya, infeksi oleh T. rubrum sering memberikan gambaran lesi yang bergabung dan
meluas sampai ke pubis, perianal, pantat, dan bagian abdomen bawah (Gbr. 188-13).
Secara khas tidak terdapat keterlibatan pada daerah genitalia.

Gambar 188-13. Tinea kruris. Plak eritematosa berskuama dengan batas tegas pada
daerah lipat paha dan pubis.
DIAGNOSIS BANDING (Kotak 188-4)
Kotak 188-4
Diagnosis Banding Tinea Kruris
Sangat mirip
Psoriasis, dermatitis seboroik, kandidiasis, eritrasma,
liken simpleks kronikus
Dipertimbangkan
Familial benign pemphigus, Darier-White disease

22

Tinea Pedis dan Tinea Manus


Tinea pedis merupakan dermatofitosis pada kaki, sedangkan tinea manus mengenai
daerah telapak tangan dan interdigitalis tangan.
EPIDEMIOLOGI Penyakit ini tersebar luas, tinea pedis dan tinea manus merupakan
dermatofitosis yang paling sering ditemukan. Prevalensi tinea pedis adalah sekitar 10
persen, secara primer diakibatkan oleh penggunaan sepatu modern yang tertutup rapat,
walaupun peningkatan perjalanan ke seluruh dunia telah diperkirakan menjadi faktor yang
mempengaruhi. Insiden tinea pedis lebih tinggi pada orang-orang yang menggunakan
tempat mandi umum, pancuran umum ataupun kolam renang.
Tinea manus dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan orang yang
terinfeksi ataupun binatang yang terinfeksi, kontak dengan tanah, ataupun autoinokulasi.
Bagaimanapun, tinea manus hampir selalu dihubungkan dengan adanya tinea pedis dan
kejadiannya paling sering terjadi pada tangan yang digunakan untuk menggaruk kaki.
ETIOLOGI Tinea pedis dan tinea manus terutama disebabkan oleh T. rubrum (paling
sering), T. mentagrophytes, dan E. floccosum.
TEMUAN KLINIS Tinea pedis dapat memberikan empat gambaran klinis, ataupun
dapat berupa kombinasi dari keempat gambaran klinis tersebut.
Tipe Intertriginosa Kronis (Tipe Interdigitalis) merupakan gambaran tinea pedis yang
paling sering ditemukan, kelainan ini dimulai sebagai skuama, erosi, dan eritema pada
kulit interdigitalis dan subdigitalis kaki, terutama diantara tiga jari kaki yang paling
lateral. Pada keadaan yang sesuai, infeksi ini akan menyebar ke telapak kaki yang
berdekatan, tetapi jarang meluas sampai ke punggung kaki. Adanya oklusi dan koinfeksi
dengan bakteri dapat dengan segera menyebabkan terjadinya maserasi pada daerah
interdigitalis, pruritus dan bau yang tidak enak yang disebut dengan dermatofitosis
kompleks atau athletes foot (Gbr. 188-14).

23

Gambar 188-14. Tinea pedis, interdigital. Area yang terkena megalami maserasi dan
memiliki skuama putih yang buram dan beberapa erosi.
Tipe Hiperkeratotik Kronis Biasanya terdapat secara bilateral yang ditandai oleh adanya
bercak ataupun skuama yang difus, terbatas pada kulit yang tebal, telapak kaki, dan
bagian lateral dan medial kaki. Kelainan ini juga dikenal sebagai tinea pedis tipe
moccasin (Gbr. 188-15). T. rubrum, merupakan penyebab utama kelainan ini,
menyebabkan terbentuknya vesikel dalam beberapa menit, yang kemudian meninggalkan
collarettes dengan skuama yang berdiameter kurang dari 2 mm. Eritema dapat ditemukan.

Gambar 18-15. Tinea pedis. Distribusi skuama putih superfisial pada tipe Moccasin.
Tampak skuama dengan pola arsiner yang khas
Tinea manuum unilateral sering terjadi pada tinea pedis tipe hiperkeratotik, yang
menyebabkan timbulnya suatu keadaan yang disebut dengan sindroma dua kaki satu
tangan (Gbr. 188-16). Ketika tinea manus meluas sampai punggung tangan, keadaan ini
sering dianggap sebagai pola klinis dari tinea korporis (lihat Gbr. 118-16.1 pada edisi on

24

line). Antijamur oral sering dibutuhkan sebagai pengobatan karena tingginya terdapatnya
onikomikosis yang menyertai kelainan ini dan tingginya kekambuhan.

Gambar 18-16. Gambaran dua kaki-satu tangan dari Trichophyton rubrum


Tipe Vesikulo-Bulosa Tinea pedis tipe vesikulo-bulosa, secara khas disebabkan oleh T.
mentagrophytes, memberikan gambaran berupa vesikel berukuran lebih besar dari 3 mm
yang berdinding tegang, vesikulopustul, ataupun bula pada kulit telapak kaki yang tipis
dan pada daerah sekitar telapak kaki (Gbr. 188-17). Kelainan ini jarang dilaporkan terjadi
pada masa anak, tetapi spesies jamur yang paling sering menjadi penyebab pada anak
adalah T. rubrum.

Gambar 188-17. Tinea pedis: tipe bullous. Vesikel-vesikel yang pecah, bula, eritema dan
erosi pada bagian plantar ibu jari kaki. Hifa dapat ditemukan dengan pemeriksaan
potasium hidroksida yang diambil dari dari atap bula bagian dalam. Pada beberapa kasus,
onikomikosis superfisial yang berwarna putih juga dapat terlihat pada infeksi
Trichophyton mentagrophytes.

25

Tipe Ulserasi Akut Koinfeksi dengan bakteri, paling sering dengan bakteri gram negatif
berkombinasi

dengan

T.mentagrophytes,

menyebabkan

terbentuknya

gambaran

vesikulopustul dan ulserasi purulen yang luas pada permukaan plantar pedis. Selulitis,
limfangitis, limfadenopati, dan demam sering terjadi pada penyakit ini.
Tipe vesikulo-bulosa dan ulserasi akut sering menyebabkan terbentuknya reaksi id
tipe vesikular, dimana distribusinya dapat ditemukan sebagai lesi yang menyerupai
dishidrosis pada tangan atau pada bagian lateral kaki atau jari kaki.
DIAGNOSIS BANDING (Kotak 188-5)
Kotak 188-5
Diagnosis Banding Tinea Manus dan Pedis
Sangat mirip
Interdigital: Psoriasis, soft corns, koinfeksi bakteri, kandidiasis,
eritrasma
Hiperkeratotik: Psoriasis, keratoderma telapak tangan dan kaki
yang didapat atau herediter
Vesiculo-bullous: psoriasis pustular, pustulosis palmoplantar,
pioderma bakteri
Dipertimbangkan
Pitiriasis rubra pilaris, dermatitis kontak, dermatitis peridigital,
dermatitis atopik
Disingkirkan
Sindrom Reiter

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pada lesi tipe vesikulo-bulosa, pemeriksaan

pada atap vesikel dan bula dapat memberikan tingkat kepositifan yang tinggi pada
pemeriksaan KOH.
PATOLOGI Secara histopatologi, tinea pedis tipe hiperkeratotik ataupun tinea manuum
ditandai oleh akantosis, hiperkeratosis, dan terdapat infiltrat perivaskuler pada dermis
superfisial yang jarang, kronis. Tipe vesikulo-bulosa membentuk gambaran spongiosis,
parakeratosis, dan vesikulasi intraepitelial spongiotik serta vesikulasi sub-korneal. Pada
kedua tipe, kadangkala dapat terlihat fokus neutrofil pada stratum korneum. Pada

26

pemeriksaan dengan menggunakan pengecatan PAS atau methenamine silver dapat


menunjukkan adanya gambaran jamur penyebab.
ONIKOMIKOSIS
Onikomikosis merupakan setiap infeksi pada kuku yang disebabkan oleh jamur
dermatofita, jamur nondermatofita ataupun yeast. Tinea unguium menunjukkan infeksi
dermatofita pada lempeng kuku. Onikomikosis merupakan kelainan kuku yang paling
sering terjadi dan terjadi sekitar 50 persen dari seluruh kelainan kuku. Terdapat empat
gambaran klinis onikomikosis yaitu : (1) distal subungual onychomycosis, (2) proximal
subungual onychomycosis (PSO), (3) white superficial onychomycosis (WSO), dan (4)
candidal onychomycosis.
Epidemiologi
Onikomikosis merupakan suatu infeksi yang sering terjadi, dengan perkiraan prevalensi di
populasi berdasarkan suatu penelitian adalah sekitar 2 persen sampai 8 persen, yang
mungkin masih merupakan suatu perkiraan yang terlalu rendah. Proyek Achilles
memperkirakan prevalensi onikomikosis di Eropa adalah sekitar 27 persen dan penelitian
di Amerika Utara menunjukkan bahwa insidennya sebesar 13,8 persen. Peningkatan
prevalensi penyakit ini mungkin merupakan kelainan sekunder yang disebabkan oleh
pemakaian sepatu ketat, peningkatan jumlah individu yang mengalami imunosupresi dan
peningkatan penggunaan tempat penyimpanan barang secara bersamaan. Kejadian
onikomikosis juga meningkat pada anak, diperkirakan sekitar 20 persen dari mikosis
superfisial yang didiagnosis pada anak dalam suatu penelitian.
Dermatofitosis pada umumnya dimulai sebagai tinea pedis sebelum meluas ke
dasar kuku, sehingga membuat eradikasinya menjadi lebih sulit. Area ini akan berperan
menjadi sumber infeksi kulit ulangan, terutama pada keadaan lingkungan hangat dan
lembab yang disebabkan oleh oklusi ataupun iklim tropis.
Etiologi
Dermatofita merupakan penyebab terbanyak terjadinya onikomikosis. T. rubrum
menyebabkan sekitar 71 persen dari seluruh kasus tinea unguium, dan T. mentagrophytes
menjadi penyebab sekitar 20 persen kasus lainnya. T. tonsurans dan E. floccosum juga

27

diketahui sebagai agen penyebab. Tabel 188-5 mengkategorikan dermatofita sebagai


penyebab terbanyak berdasarkan pola terjadinya infeksi yang bersamaan pada area lain.
Tabel 188-5. Organisme Penyebab yang berhubungan dengan Pola Anatomi

Ragi merupakan sumber dari sekitar 5 persen onikomikosis (lihat bab 189), yang
sebagian besar disebabkan oleh Candida albicans dan kejadiannya dihubungkan dengan
terjadinya kandidiasis mukokutaneus kronis. Kapang nondermatofita seperti Acremonium,
Aspergillus, Fusarium, Onychocola canadensis, Scopulariopsis brevicaulis, dan
Scytalidium dimidiatum terjadi pada sekitar 4 persen onikomikosis, dengan S. brevicaulis
sebagai penyebab yang paling sering diidentifikasi sebagai kapang patogen. Kapang
nondermatofita tampaknya memiliki predileksi sebagai penyakit yang mendahului atau
pada kuku yang telah tua.
Temuan Klinis
Bentuk onikomikosis yang paling sering terjadi dapat disebabkan oleh organisme yang
terdapat pada daftar di bawah ini. Kelainan ini dapat dimulai oleh adanya invasi pada
stratum korneum hiponikium dan distal dasar kuku yang menyebabkan terbentuknya
warna keputihan sampai kuning kecoklatan pada bagian distal ujung kuku (Gbr. 188-18).

28

Infeksi kemudian menyebar kebagian proksimal dasar kuku menuju bagian ventral
lempeng kuku. Terjadi hiperproliferasi dasar kuku sebagai respon terhadap adanya infeksi
yang menyebabkan terbentuknya hiperkeratosis subungual, dan invasi yang progresif
pada lempeng kuku menyebabkan terjadinya peningkatan distrofi kuku.

Gambar 188-18. Onikomikosis subungual distal


PSO (Gbr. 188-19) secara primer disebabkan oleh infeksi T. rubrum dan T. megnii
pada lipatan kuku proksimal dan dibuktikan dengan terdapatnya warna putih sampai abuabu pada bagian proksimal lempeng kuku. Warna ini kemudian secara bertahap akan
melebar sehingga mengenai seluruh kuku dan selain itu dapat juga terlihat adanya
hiperkeratosis subungual, leukonikia, onikolisis proksimal dan destruksi seluruh unit
kuku. T. rubrum merupakan penyebab terbanyak PSO pada orang-orang yang terinfeksi
HIV. WSO (Gbr. 188-20) merupakan invasi langsung pada lempeng kuku dorsal yang
menyebabkan terbentuknya bercak dengan batas tegas berwarna putih sampai kuning dan
tidak mengkilap yang bisa terdapat pada bagian manapun dari permukaan kuku kaki.
Kelainan ini biasanya disebabkan oleh T. mentagrophytes, walaupun kapang
nondermatofita seperti Aspergillus, Scopulariopsis, dan Fusarium merupakan penyebab
yang juga telah diketahui. Spesies Candida menginvasi melalui epitel hiponikial yang
kemudian mengenai seluruh ketebalan dari lempeng kuku.

29

Gambar 188-19. Onikomikosis subungual proksimal pada penderita dengan sindrom


imunodefisiensi yang didapat; Sarkoma Kaposi juga tampak pada jari kaki kempat.

Gambar 188-20. Onikomikosis berwarna putih yang superfisial


Diagnosis Banding (Kotak 188-6)
Kotak 188-6
Diagnosis Banding Onikomikosis
Sangat mirip
Psoriasis, hand eczema
Dipertimbangkan
Pachyonychia congenital, Darier disease, liken planus,
leukonikia kongenital dan didapat, onychogryphosis
Disingkirkan
Dermatitis eksfoliativa, skabies norwegia, sindrom Reiter

30

Pemeriksaan Laboratorium
Karena onikomikosis merupakan penyebab sekitar 50 persen kejadian distrofi kuku, maka
konfirmasi diagnostik laboratorium dapat membantu sebelum dilakukannya pengobatan
dengan menggunakan obat anti jamur. Pemeriksaan KOH, biopsi kuku, dan kultur jamur
pada SDA (dengan dan tanpa antimikroba) merupakan pemeriksaan yang sangat berguna.
Bagaimanapun, pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop sering memberikan hasil
negatif bahkan ketika kecurigaan secara klinis yang besar terhadap adanya onikomikosis
dan pemeriksaan kuku dengan mikroskop yang memberikan hasil positif seringkali
memberikan hasil pemeriksaan kultur negatif. Negatif palsu paling sering disebabkan
oleh kesalahan di dalam pengambilan sampel. Langkah sederhana yang dapat dilakukan
untuk memaksimalkan hasil adalah dengan cara memaksimalkan ukuran sampel dan
pengumpulan sampel yang berulang.
Pada akhirnya, karena terdapatnya kesulitan di dalam membedakan patogen
dengan kontaminan, maka panduan dibawah ini harus diikuti : (1) jika dermatofita dapat
diisolasi pada kultur, maka hal ini merupakan patogen; (2) jika suatu kapang
nondermatofita ataupun ragi dapat dikultur, maka hal ini dapat dipertimbangkan sebagai
suatu hal yang signifikan hanya jika terlihat hifa, spora, atau sel ragi pada pemeriksaan
mikroskopik, dan (3) konfirmasi adanya suatu infeksi oleh nondermatofita membutuhkan
isolasi berulang yang secara klasik dapat ditegaskan paling tidak pada 5 dari 20 inokula
tanpa terdapatnya isolasi dermatofita secara bersamaan. Banyak penelitian telah
menunjukkan bahwa pemeriksaan PAS dari potongan kuku merupakan tes diagnostik
yang paling sensitif untuk onikomikosis, sementara kultur merupakan tes diagnostik yang
paling spesifik.
Histopatologi
Hifa terlihat berada di antara lamina kuku dan terletak paralel dengan permukaan kuku,
dengan predileksi terdapat di bagian ventral kuku dan stratum korneum dasar kuku.
Tampak spongiosis dan parakeratosis fokal pada epidermis dan terdapat respon inflamasi
yang minimal pada dermis. Pada WSO, organisme terdapat pada bagian superfisial
dorsum kuku dan memperlihatkan gambaran perforating organ dan eroding fronds
yang unik. Pada onikomikosis kandida menunjukkan adanya invasi pseudohifa
disepanjang keseluruhan lempeng kuku, berdekatan dengan kutikula, stratum granulosum,
stratum spinosum dasar kuku dan stratum korneum hiponikium.

31

PENGOBATAN DERMATOFITOSIS (Kotak 188-7)


Kotak 188-7
Pengobatan Dermatofitosis

32

Tinea Kapitis/Favus
Terdapat beragam antijamur sistemik dan topikal yang efektif dalam pengobatan infeksi
yang disebabkan oleh dermatofita. Infeksi yang mengenai kulit berambut mengharuskan
penggunaan antijamur oral karena dermatofita masuk ke dalam folikel rambut.
Griseofulvin telah digunakan sebagai standar pengobatan tinea kapitis di Amerika Serikat.
Golongan triazol oral (itrakonazol, flukonazol) dan alilamin (terbinafin) juga
menunjukkan kemanan, keefektifan dan juga menunjukkan keuntungan sebagai
pengobatan jangka pendek.
GRISEOFULVIN (Lihat Bab 233). Griseofulvin masih merupakan satu-satunya
pengobatan oral yang disetujui oleh FDA Amerika Serikat untuk pengobatan tinea kapitis.
Dosis anak-anak yang direkomendasikan adalah sekitar 10 sampai 20 mg/kg/hari selama
6 sampai 8 minggu yang dimakan bersamaan dengan makanan berlemak untuk
memudahkan penyerapan. Namun telah terdapat adanya laporan mengenai tingkat
kegagalan yang tinggi dengan pengobatan ini sehinga menyebabkan sekarang banyak ahli
merekomendasikan dosis sebanyak 20 sampai 25 mg/kg/hari dengan menggunakan
griseofulvin bentuk mikrosize dan dosis sebanyak 15 mg/kg/hari dengan menggunakan
griseofulvin bentuk ultramicrosize selama 8 minggu, walaupun rekomendasi ini tidak
didasarkan atas uji klinis.
Kerugian dari griseofulvin adalah rendahnya tingkat kepatuhan minum obat yang
disebabkan oleh harga dan panjangnya waktu pengobatan, rasanya yang pahit jika
diberikan dalam bentuk cairan, menimbulkan fotosensitifitas, sakit kepala, dan
terdapatnya efek samping pada gastrointestinal. Obat ini juga berpotensi menginduksi
enzim sitokrom P450. Tidak terdapat pemeriksaan laboratorium yang dibutuhkan selama
pengobatan tinea kapitis.
FLUKONAZOL (Lihat Bab 233). Obat ini tersedia dalam bentuk tablet dan cairan yang
tidak terasa pahit, dan dosis flukonazol 6 mg/kg/hari yang diberikan selama 20 hari
menunjukkan keefektifan sebesar 89 persen dalam pengobatan tinea kapitis yang
disebabkan oleh T. tonsurans. Dosis lain yang juga menunjukkan keefektifan adalah
pemberian dosis 8 mg/kg sekali seminggu selama 8 sampai 16 minggu dan 6 mg/kg
selama 2 minggu yang kemudian diikuti oleh satu minggu tambahan terapi 4 minggu
kemudian, jika secara klinis mengindikasikan pemberiannya.

33

Absorbsi flukonazol tidak dipengaruhi oleh makanan dan terdapat efek samping
pada gastrointestinal tetapi hal ini tidak sering terjadi. Telah dilaporkan terjadinya
hepatitis tetapi tidak sering terjadi bila dibandingkan dengan penggunaan ketokonazol.
ITRAKONAZOL (Lihat Bab 233). Dengan dosis 3 sampai 5 mg/kg/hari, itrakonazol
efektif didalam mengeradikasi tinea kapitis yang disebabkan oleh spesies Microsporum
ataupun Trichophyton dalam 4 sampai 6 minggu. Terapi denyut dengan dosis 5
mg/kg/hari selama 1 minggu/bulan sebanyak satu sampai tiga denyut juga bersifat efektif.
Efek samping yang mungkin timbul dari penggunaan itrakonazol adalah gangguan
pada gastrointestinal, timbulnya diare pada penggunaan itrakonazol bentuk cairan, dan
edema perifer, terutama jika digunakan bersamaan dengan calcium channel blockers.
Seperti halnya flukonazol, obat ini juga bersifat hepatotoksik tetapi dalam tingkat yang
lebih rendah bila dibandingkan dengan ketokonazol. Bagaimanapun, terdapat laporan
mengenai terjadinya kegagalan ginjal pada pasien yang telah diobati dengan
menggunakan itrakonazol. Itrakonazol juga jarang dihubungkan dengan terjadinya gagal
jantung kongestif.
TERBINAFIN (Lihat Bab 233). Dengan dosis 3 sampai 6 mg/kg/hari terbinafin dapat
mengobati tinea kapitis yang disebabkan oleh Trichophyton yang digunakan selama 2
sampai 4 minggu, tetapi dibutuhkan waktu pengobatan selama 4 sampai 8 minggu untuk
mengeradikasi Microsporum. Suatu penelitian perbandingan acak antara penggunaan
terbinafin selama 4 minggu dengan penggunaan griseofulvin selama 8 minggu
menunjukkan tidak terdapatnya perbedaan signifikan secara statistik diantara kedua obat.
Infeksi yang disebabkan oleh subkelompok Trichophyton memberikan respon yang lebih
baik terhadap terbinafin, sedangkan infeksi yang disebabkan oleh M. audouinii
memberikan respon yang lebih baik dengan penggunaan griseofulvin.
Terbinafin juga menyebabkan terjadinya efek samping pada gastrointestinal dan
meski jarang dapat menimbulkan terjadinya hepatitis. Walaupun obat ini lebih sedikit
menimbulkan efek yang disebabkan oleh sitokrom P 450 bila dibandingkan dengan obat
antijamur lainnya, efek toksik antidepresan trisiklik dapat terjadi bila digunakan
bersamaan dengan terbinafin yang disebabkan oleh penghambatan sistem CYP2D6.
Seperti halnya itrakonazol, terdapat juga laporan adanya gangguan fungsi hati pada pasien
yang menggunakan obat ini.

34

TERAPI TAMBAHAN (Lihat Bab 219). Sejumlah shampoo telah menunjukkan


memberikan bantuan untuk mengeradikasi dermatofita dari kulit kepala berambut pada
anak-anak dan penggunaan regimen ini telah disetujui oleh para ahli. Selenium sulfide (1
persen dan 2,5 persen), zinc pyrithione (1 persen dan 2 persen), povidone iodine (2,5
persen), dan ketokonazol (2 persen) juga sering digunakan. Rekomendasi yang biasa
diberikan pada penggunaan shampoo ini adalah diberikan 2 sampai 4 kali seminggu
selama 2 sampai 4 minggu. Pada tinea kapitis tipe inflamasi, pemberian glukokortikoid
oral dapat mengurangi insiden terbentuknya jaringan parut. Walaupun tidak terdapat bukti
yang sesuai terhadap tingkat penyembuhan yang berbeda, penggunaan glukokortikoid
oral memberikan keuntungan dalam mengurangi nyeri dan pembengkakan yang terjadi.
Dosis prednison yang biasa digunakan adalah 1 sampai 2 mg/kg setiap pagi dalam
minggu pertama pengobatan.
Penularan serumah dapat dicegah melalui pengobatan anggota keluarga ataupun
binatang yang terinfeksi dan juga melalui desinfeksi lingkungan rumah. Penggunaan
shampoo ketokonazol 2 persen ataupun selenium sulfide 2,5 persen oleh seluruh anggota
keluarga sebanyak tiga kali seminggu juga mengurangi proses transmisi dengan cara
mengurangi pelepasan spora.
Tinea Barbae
Seperti halnya tinea kapitis, antijamur oral juga merupakan hal penting dalam pengobatan
tinea barbae. Griseofulvin dengan dosis 1 gram sehari, itrakonazol dengan dosis 200 mg
sehari selama 2 sampai 4 minggu, terbinafin dengan dosis 250 mg sehari selama 2 sampai
4 minggu, atau flukonazol dengan dosis 200 mg sehari selama 4 sampai 6 minggu
merupakan rencana pengobatan yang efektif pada tinea barbae. Infeksi yang bersifat
inflamasi yang disebabkan oleh T. verrucosum, T. mentagrophytes, M. canis biasanya
sembuh tanpa menggunakan pengobatan selama 2 sampai 4 minggu. Glukokortikoid
sistemik digunakan pada lesi inflamasi yang berat.
Tinea Korporis/Tinea Kruris
Untuk lesi yang terisolasi pada kulit tak berambut, agen topikal seperti alilamin, imidazol,
tolnaftat, butenafin, ataupun siklopiroks merupakan obat yang efektif. Kebanyakan obat
tersebut diberikan dua kali sehari selama 2 sampai 4 minggu. Antijamur oral diberikan
pada infeksi yang luas ataupun lesi yang lebih inflamasi. Penelitian perbandingan pada

35

orang dewasa menunjukkan bahwa pemberian flukonazol dengan dosis 150 mg setiap
minggu selama 4 sampai 6 minggu, itrakonazol dengan dosis 100 mg setiap hari selama
15 hari, dan terbinafin dengan dosis 250 mg setiap hari selama 2 minggu, merupakan
pengobatan yang memiliki keefektifan serupa dengan griseofulvin dosis 500 mg setiap
hari selama 2 sampai 6 minggu, dengan efek samping yang tidak berbeda secara
signifikan. Regimen pengobatan yang aman dan efektif

pada anak-anak adalah

griseofulvin dengan dosis 10 sampai 20 mg/kg/hari selama 6 minggu, itrakonazol dengan


dosis 5mg/kg/hari selama 1 minggu, dan terbinafin dengan dosis 3 sampai 6 mg/kg/hari
selama 2 minggu.
Tinea Pedis
Tinea pedis interdigitalis yang ringan tanpa terdapatnya keterlibatan bakteri dapat diobati
secara topikal dengan menggunakan golongan alilamin, azol, siklopiroks, benzylmin,
tolnaftat, ataupun undecenoic acid. Terbinafin topikal selama 1 minggu juga memberikan
keefektifan sebesar 66 persen.
Antijamur oral terbaru juga telah menggantikan griseofulvin sebagai pilihan
pengobatan pada tinea pedis yang berat dan sukar disembuhkan ketika terjadi bersamaan
dengan onikomikosis. Jadwal pemberian terbinafin adalah dengan dosis 250 mg setiap
hari selama 2 minggu. Regimen itrakonazol yang efektif pada orang dewasa adalah 200
mg dua kali sehari selama 1 minggu, 200 mg setiap hari selama 3 minggu, ataupun 100
mg setiap hari selama 4 minggu, sementara itu pada anak-anak harus diberikan dengan
dosis 5 mg/kg/hari selama 2 minggu. Flukonazol dengan dosis 150 mg setiap minggu
selama 3 sampai 4 minggu atau 50 mg setiap hari selama 30 hari juga merupakan terapi
yang efektif. Onikomikosis yang sering terjadi, jika ada, harus diobati untuk mencegah
terjadinya kekambuhan tinea pedis.
Maserasi, denudasi, pruritus dan bau yang tidak enak merupakan tanda yang
mewajibkan kita untuk mencari adanya koinfeksi bakteri melalui pemeriksaan pengecatan
gram dan kultur. Antibiotika harus segera diberikan bila kita menemukan adanya infeksi
bakteri dan pemilihannya harus didasarkan atas uji sensitivitas.
Akhirnya, tinea pedis tipe vesikulo-bulosa yang disebabkan oleh reaksi imun yang
dimediasi oleh sel T, penggunaan kortikosteroid topikal ataupun sistemik dapat diberikan
pada awal pengobatan antijamur untuk mengurangi gejala yang ada.

36

Onikomikosis
Pengobatan onikomikosis tergantung pada derajat beratnya keterlibatan kuku dan jamur
penyebabnya. Onikomikosis dapat dibagi menjadi kasus dengan dan tanpa adanya
keterlibatan matriks kuku. Pada kasus tanpa adanya keterlibatan matriks kuku, pemberian
pengobatan topikal saja sudah cukup, sementara pengobatan oral dan kombinasi
direkomendasikan pada kasus yang mengalami keterlibatan matriks. Siklopiroks kadang
dapat dipakai sebagai pengobatan topikal yang efektif didalam pengobatan tinea unguium
(8 persen dalam bentuk cat kuku) yang diberikan setiap hari selama 48 minggu. Ketika
digunakan untuk penyakit yang ringan sampai sedang, siklopiroks 7 persen efektif
didalam mencapai kesembuhan secara mikologis dan klinis. Regimen ini juga dapat
digunakan didalam pengobatan terhadap Candida sp. dan beberapa kapang. Walaupun
regimen ini kurang manjur bila dibandingkan dengan antijamur oral terbaru, penggunaan
siklopiroks topikal dapat menghindari resiko terjadinya interaksi obat, yang merupakan
suatu pertimbangan penting di dalam pengobatan kronis terutama pada kebanyakan
pasien yang berusia lebih tua. Amorolfin merupakan regimen spesifik lainnya yang
dipersiapkan dalam bentuk cat kuku. Regimen ini merupakan anggota pertama dari kelas
obat antijamur yang lebih baru, yaitu derivat morfolin. Regimen ini memiliki aktifitas
melawan ragi, dermatofita dan kapang yang dapat menyebabkan onikomikosis dan telah
menunjukkan kemanjuran ketika digunakan sekali seminggu.
Antijamur oral dapat digunakan pada onikomikosis yang sulit diobati, berat
ataupun onikomikosis yang disebabkan oleh nondermatofita, atau ketika dibutuhkan
regimen pengobatan jangka pendek atau adanya kesempatan yang besar untuk terjadinya
kesembuhan. Pemilihan suatu antijamur secara utama harus didasarkan pada organisme
penyebab, potensi terjadinya efek samping obat, dan adanya resiko terjadi interaksi obat.
Terbinafin bersifat fungisidal dalam melawan dermatofita, Aspergillus, dan
Scopulariopsis, tetapi menunjukkan aktivitas yang beragam didalam melawan Candida
sp. Terbinafin dengan dosis 250 mg setiap hari selama 6 minggu efektif digunakan pada
kebanyakan infeksi kuku jari tangan, sementara itu pemberian minimum selama 12
minggu dibutuhkan untuk pengobatan infeksi pada kuku jari kaki. Efek samping yang
paling banyak terjadi adalah gangguan gastrointestinal, dan adanya interaksi dengan
sitokrom P450 tidak signifikan. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa pemberian
berkelanjutan regimen ini secara oral selama 3 bulan bersifat sangat efektif untuk
pengobatan infeksi kuku kaki jari oleh jamur pada saat ini.

37

Itrakonazol

bersifat

fungistatik

didalam

melawan

dermatofita,

kapang

nondermatofita, dan ragi. Jadwal pemberian obat yang aman dan efektif meliputi dosis
denyut sebanyak 400 mg setiap hari selama seminggu per bulan atau dosis berkelanjutan
dari dosis 200 mg setiap hari, dimana dibutuhkan waktu selama 2 bulan untuk pengobatan
kuku jari tangan dan waktu selama paling tidak 3 bulan untuk pengobatan kuku jari kaki.
Dosis anak-anak adalah 5 mg/kg/hari. Peningkatan enzim liver terjadi pada 0,3 persen
sampai 5,0 persen pasien dan kembali menjadi normal dalam 12 minggu setelah
penghentian obat. Walaupun itrakonazol bersifat spektrum luas bila dibandingkan dengan
terbinafin, banyak penelitian telah menunjukkan tingkat kesembuhan lebih rendah secara
signifikan dan tingkat kekambuhan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan
penggunaan terbinafin.
Flukonazol bersifat fungistatik didalam melawan dermatofita, beberapa kapang
nondermatofita, dan Candida. Dosis yang biasa diberikan adalah 150 sampai 300 mg per
minggu selama 3 sampai 12 bulan, walaupun dosis 450 mg setiap minggu dapat
digunakan pada onikomikosis yang sukar diobati.
Griseofulvin tidak lagi dipertimbangkan sebagai standar pengobatan untuk
onikomikosis karena efek samping yang ditimbulkan, interaksi obat, penggunaan obat
yang lama, dan tingkat kesembuhan yang rendah. Pilihan terakhir untuk kasus yang sukar
diobati adalah pengangkatan kuku secara bedah ataupun kimia dengan menggunakan
senyawa urea 40 persen yang dikombinasikan dengan regimen antijamur topikal maupun
oral.
Terapi kombinasi telah menunjukkan kesembuhan yang lebih efektif bila
dibandingkan dengan penggunaan regimen oral ataupun topikal saja. Terbinafin oral yang
dikombinasikan dengan cat kuku siklopiroks dalam suatu penelitian telah menunjukkan
adanya peningkatan kesembuhan secara mikologis yaitu sebanyak 65% bila menggunakan
terbinafin saja menjadi 88 persen terhadap kombinasi. Suatu penelitian serupa mengenai
penggunaan terbinafin dan cat kuku amorolfin telah menunjukkan adanya perbaikan
tingkat kesembuhan dari 37 persen pada penggunaan terbinafin saja menjadi 72 persen
pada terapi kombinasi.

38

TINEA NIGRA
Tinea nigra merupakan dermatomikosis superfisialis, yang biasanya terdapat pada stratum
korneum telapak tangan, disebabkan oleh Hortaea werneckii (sebelumnya diberi nama
Phaeoannellomyces werneckii dan Exophiala werneckii).
Epidemiologi
Tinea nigra biasanya terjadi pada daerah yang tropis ataupun subtropis, termasuk Amerika
Tengah dan Selatan, Afrika dan Asia. Penyakit ini jarang terjadi Amerika Serikat dan
Eropa. Kira-kira 150 kasus telah dilaporkan terjadi di Amerika Utara sejak tahun 1950,
sebagian besar dihubungkan dengan perjalanan ke daerah tropis. Fokus endemis terdapat
pada daerah pantai di bagian tenggara Amerika Serikat dan Texas. Jarang terjadi
penularan antar manusia. Perbandingan kejadian tinea nigra pada wanita dan pria adalah
3:1.
Etiologi
Penyakit ini hampir selalu disebabkan oleh H. werneckii, selain itu jamur dematiaceous
lainnya seperti Stenella araquata dapat menghasilkan gambaran klinis yang sama. Jamur
dematiaceous seperti itu sering ditemukan pada tanah, saluran air, dan tumbuh-tumbuhan
yang membusuk. Tinea nigra tumbuh setelah terjadinya inokulasi lebih lanjut pada trauma
dan memiliki periode inkubasi yang khas yaitu selama 2 sampai 7 minggu.
Temuan Klinis
Tinea nigra sebaliknya ditemukan pada orang yang sehat dan terdapat sebagai suatu
makula yang tidak bergejala, dengan bintik-bintik yang berwarna coklat sampai hitam
kehijauan dengan skuama yang sedikit atau tidak terdapat sama sekali (Gbr. 188-21).
Penyakit ini sering salah didiagnosis sebagai lentiginosa melanoma akral. Makula ini
tidak terasa sakit dan menyebar dan tepinya sering berwarna lebih hitam.

39

Gambar 188-21. Tinea nigra palmaris. Suatu makula hitam kecoklatan, tidak teratur pada
telapak tangan, disebabkan oleh Hortae werneckii (atas ijin Stuart Salasche,MD)
Diagnosis Banding (Kotak 188-8)
Kotak 188-8
Diagnosis Banding Tinea Nigra
Sangat mirip
Junctional nevus, melanoma
Dipertimbangkan
Paparan bahan kimia
Disingkirkan
Addison disease, sifilis, pinta, melanoma

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan KOH dari kerokan lesi menunjukkan hifa bercabang yang tebal dan
berwarna seperti minyak zaitun dan sel ragi yang berbentuk oval sampai kumparan
tunggal ataupun berpasangan dengan terdapatnya septum transversal pada bagian
pertengahannya. Dapat dilakukan kultur dengan SDA yang ditambahkan dengan
sikloheksamid dan kloramfenikol dan tumbuh dalam waktu 1 minggu. Pertumbuhan

40

diawali oleh pertumbuhan yang menyerupai ragi dan berwarna coklat sampai hitam
berkilat, tampak sebagai dua sel ragi yang khas di bawah pemeriksaan mikroskop.
Dengan berjalannya waktu, maka pertumbuhan miselia menjadi lebih dominan,
sebagaimana hifa aerial membentuk koloni berbulu halus berwarna hitam sampai abuabu.
Pengobatan
Tinea nigra berespon baik dengan penggunaan terapi topikal yang mengandung keratolitik
(salep Whitfield, asam salisilat 2 persen), yodium tingtur, ataupun antijamur golongan
azol. Pengobatan harus dilanjutkan selama 2 sampai 4 minggu setelah terjadinya
perbaikan secara klinis untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Penggunaan ketokonazol
dua kali setiap hari dapat memberikan kesembuhan, namun terapi sistemik jarang
diindikasikan.

PIEDRA
Piedra merupakan infeksi jamur asimptomatis pada batang rambut yang juga dikenal
sebagai trichomycosis nodularis. Piedra hitam disebabkan oleh Piedraia hortae,
sementara piedra putih disebabkan oleh spesies patogen genus Trichosporon, yaitu
Trichosporon asahii, T. asteroids, dan T. cutaneum.
Epidemiologi
Piedra hitam sering terlihat pada manusia dan primata yang terdapat di daerah tropis
seperti Amerika Selatan, Kepulauan Pasifik, dan Timur Jauh, dan jarang terjadi di Afrika
dan Asia. Rambut pada kulit kepala merupakan rambut yang sering terkena. Pada
beberapa kebudayaan infestasi jamur ini dianjurkan untuk alasan keagamaan dan estetika.
P. hortae terdapat di tanah dan pada air yang menggenang dan hasil panen.
Piedra putih paling sering ditemukan pada daerah yang beriklim sedang dan semi
tropis seperti di Amerika Selatan dan Asia, Timur Tengah, India Afrika, dan Jepang serta
jarang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Penyakit ini paling sering mengenai rambut
wajah, ketiak, dan genitalia bila dibandingkan dengan rambut kulit kepala. Jarang terjadi
penularan antar manusia, dan infeksi tidak dihubungkan dengan adanya perjalanan ke
daerah yang endemis. T. inkin lebih sering ditemukan pada rambut pubis dan T. ovoides

41

sering ditemukan pada rambut kepala. T. asahii dapat berada di tanah, udara, air, tanaman,
sputum dan pada permukaan tubuh.
Temuan Klinis
Piedra hitam ditandai oleh nodul berwarna coklat-hitam pada batang rambut yang
memiliki ukuran bervariasi dari yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan
mikroskop sampai beberapa milimeter, dengan perlekatan yang kuat, keras, dan pada
perabaan memberikan sensasi seperti pasir. Piedra hitam dapat melemahkan batang
rambut, sering menyebabkan rambut menjadi patah. Rambut pada kulit kepala sering
terlibat dan nodul merupakan gambaran klinis yang paling sering terlihat pada kulit
kepala bagian depan.
Piedra putih berbentuk nodul, terdiri dari bagian yang lebih lunak dan kurang
melekat serta berwarna keputih-putihan dan abu-abu, dapat tersebar ataupun bergabung
membentuk suatu struktur menyerupai sarung. Kadangkala terdapat rambut yang patah
tetapi jarang terjadi bila dibandingkan dengan piedra hitam. Piedra putih dapat dengan
mudah dilepaskan dari batang rambut karena jamur ini melekat pada lapisan lipid terluar
batang rambut.
Diagnosis
Pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop dapat dengan segera membedakan piedra
dengan telur kutu, hair cast, defek pertumbuhan batang rambut, dan trikomikosis
aksilaris. Sebagai tambahan, nodul trikimikosis aksilaris biasanya berukuran lebih kecil
dan dapat berpendar ketika diperiksa dengan menggunakan lampu Wood.
Pemeriksaan Laboratorium
Nodul piedra hitam yang diperiksa dengan menggunakan KOH menunjukkan gambaran
hifa tersusun lurus pada bagian perifer dan hifa yang terangkai bersama pada bagian
pertengahan dan kadangkala disebut dengan pseudoparenkim. Nodul ini kebanyakan
terdapat pada bagian luar batang rambut. P. hortae dapat tumbuh dengan baik, walaupun
pertumbuhannya berjalan lambat, pada kebanyakan media pertumbuhan dan pertumbuhan
jamur ini tidak dihambat oleh sikloheksamid.
Nodul piedra putih kurang terorganisir dan terdapat lebih intrapilar bila
dibandingkan dengan nodul piedra hitam, dengan hifa yang tersusun tegak lurus terhadap

42

batang rambut. T. asahii dapat tumbuh dengan baik pada SDA dan pertumbuhannya dapat
dihambat oleh sikloheksamid.
Pengobatan
Mencukur rambut yang terinfeksi sering memberikan kesembuhan dan merupakan
pengobatan terbaik pada piedra putih dan hitam. Pencukuran yang disertai dengan
pemberian antijamur topikal golongan azol dapat menambah tingkat kesembuhan. Karena
tingginya tingkat kekambuhan dan terdapatnya bukti yang menyatakan bahwa terdapat
organisme intrafolikular pada piedra putih, beberapa peneliti menyarankan penggunaan
antijamur sistemik sebagai tambahan terapi pada penyakit ini seperti penggunaan
itrakonazol oral.

43

Anda mungkin juga menyukai