Anda di halaman 1dari 16

39

BAB 4
PENENTUAN HARGA POKOK VARIABEL

ELEMEN harga pokok produksi (pada perusahaan manufaktur) terdiri atas


bahan baku, tenaga kerja langsung dan overhead. Ditinjau dari hubungannya dengan
perubahan volume produksi, bahan baku dan tenaga kerja langsung adalah variabel.
Sedangkan overhead, sebagian variabel dan sebagian lainnya tetap. Meskipun para
akuntan sependapat bahwa tiga elemen (bahan, upah dan overhead) tersebut
membentuk harga pokok produksi sebuah produk, tetapi terdapat dua metoda yang
mempermasalahkan elemen overhead tetap. Kedua metoda tersebut adalah penentuan
harga pokok produksi penuh (full costing atau absosrption costing) dan penentuan
harga pokok produksi variabel (variable costing). Bab ini menjelaskan metoda
penentuan harga pokok produksi variabel dan membedakannya dari penentuan harga
pokok produksi penuh tersebut.

A. ELEMEN-ELEMEN HARGA POKOK PRODUK

Menurut variable costing, elemen harga pokok produksi terdiri atas bahan
baku, tenaga kerja langsung dan overhead variabel.
Menurut absorption costing atau full costing, harga pokok produk meliputi
seluruh komponen biaya yang dikeluarkan untuk membuat produk. Oleh karena itu,
harga pokok produk meliputi bahan baku, tenaga kerja langsung, overhead variable
dan overhead tetap.

40
Perbedaan antara metode variable costing dan absorption costing adalah:
1. Perhitungan harga pokok per unit dan total
2. Perhitungan overhead lebih (kurang) dibebankan
3. Penyajian laporan rugi-laba
4. Perhitungan laba bersih

B. PERHITUNGAN HARGA POKOK PER UNIT DAN TOTAL


Perbedaan pertama adalah dalam penentuan harga pokok per unit dan harga
pokok total. Untuk menjelaskan perbedaan harga pokok produk per unit dan total,
dimisalkan Perusahaan ABC pada tahun 1993 memproduksi 10.000 kaleng susu
dengan data biaya sesungguhnya sebagai berikut:
ELEMEN BIAYA
Bahan baku
Upah langsung
Overhead variabel
Overhead tetap

TOTAL (Rp)
100.000
200.000
150.000
250.000

PER UNIT (Rp)


10
20
15
25

Jika perusahaan ABC menggunakan harga pokok sesungguhnya, maka harga pokok
per unit dan total dari dua metoda tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.1.

41

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa harga pokok produk per unit menurut variable
costing adalah Rp45,00 dan menurut absorption costing adalah Rp70,00. Selisih
Rp25,00 terjadi karena variable costing tidak memasukkan overhead tetap, sedangkan
absorption costing memasukkannya sebagai komponen harga pokok produk. Karena
harga pokok per unitnya berbeda, maka harga pokok totalnya juga berbeda.
Perbedaannya adalah Rp250.000,00yakni overhead tetap total tahun 1993. Jumlah
tersebut diakui oleh variable costing sebagai biaya perioda (period cost).

C. Perhitungan Overhead lebih (Kurang) Dibebankan .


Pembebanan overhead ke produk dapat dilakukan dengan dua metoda. Metoda
pertama adalah membebankan overhead yang sesungguhnya telah dikeluarkan.
Contoh pada perusahaan ABC (lihat Tabel 4.1 ) adalah kasus yang membebankan
overhead sesuai dengan overhead yang sesungguhnya, yaitu overhead yang benarbenar telah terjadi. Apabila yang dibebankan ke produk adalah overhead yang
sesungguhnya, maka tidak akan terjadi overhead lebih (kurang) dibebankan.
Metoda

kedua

adalah

membebankan

overhead

ke

produk

dengan

menggunakan tarif yang ditentukan di muka. Metoda ini digunakan untuk


kepentingan perencanaan dan pengendalian overhead pabrik.
Pembebanan overhead ke produk dengan tariff yang ditentukan di muka
menggunakan prosedur sebagai berikut: (1 ) penentuan besarnya anggaran overhead
dan kapasitas produksi untuk menentukan tarif. Ada beberapa macam kapasitas yang
dapat digunakan untuk menentukan tarif, di antaranya adalah kapasitas normal, (2)
penentuan tarif overhead dan (3) pembebanan overhead ke produk. Penentuan tarif
dengan prosedur seperti di atas akan dicontohkan berikut ini.
Misalnya, untuk tahun 1993 sebuah perusahaan minuman menetapkan
anggaran overhead tetap sebesar Rp250.000,00 dan anggaran overhead variabel
sebesar Rp187.500,00 dengan kapasitas normal 12.500 kaleng minuman. Dengan data
ini, tarif overhead yang ditentukan di muka, per kaleng adalah Rp35,00 sebagaimana
perhitungan berikut.

42

Jika pada tahun 1993 jumlah produksi yang sesungguhnya dihasilkan adalah
10.000 kaleng, maka overhead yang dibebankan ke produk adalah Rp350.000,00
yakni tarif dikalikan unit produk yang dihasilkan (Rp35,00 x 10.000).
Apabila perusahaan menggunakan tarif overhead yang ditentukan di muka,
mungkin timbul biaya overhead lebih (kurang) dibebankan. Yang dimaksud overhead
lebih dibebankan adalah overhead yang dibebankan ke produk lebih besar dari pada
overhead yang sesungguhnya terjadi, overhead kurang dibebankan adalah overhead
yang dibebankan ke produk lebih kecil dari pada overhead yang sesungguhnya terjadi.
Pembebanan lebih terjadi apabila kapasitas sesungguhnya lebih besar daripada
kapasitas normal. Sebaliknya, pembebanan kurang terjadi apabila kapasitas
sesungguhnya lebih kecil daripada kapasitas normal.
Dengan contoh Perusahaan ABC di atas, pembebanan lebih (kurang) dapat
dijelaskan dengan menggunakan alat bantu Tabel 4.2.

Pada perhitungan absorption costing di tabel 4.2. overhead yang dibebankan


ke produk per unit adalah Rp35,00 dan total Rp350.000,00. Overhead yang
sesungguhnya adalah Rp40,00 per unit dan Rp400.000,00 tota! seperti terlihat di
Tabel 4.3.
Pada Tabel 4.2 dan Tabel 4.3 nampak bahwa overhead dengan menggunakan tarif di
muka adalah Rp350.000,00 sedangkan overhead yang sesungguhnya adalah

43
Rp400.000,00.sehingga terdapat

selisih Rp50.000,00. Jadi, overhead yang

dibebankan ke produk lebih kecil daripada overhead yang sesungguhnya. ltulah


overhead kurang dibebankan yang merupakan selisih tidak menguntungkan.

Dalam contoh ini terjadi selisih overhead kurang dibebankan, sebab kapasitas
sesungguhnya (10.000 kaleng) lebih kecil daripada kapasitas normal (12.500 kaleng).
Rumus untuk menghitung selisih kapasitas adalah sebagai berikut:
SK = (KS - KN) x TT
Keterangan:
SK = Selisih Kapasitas
KS = Kapasitas Sesungguhnya
KN = Kapasitas Normal (yang digunakan untuk menghitung tarif overhead)
TT = Tarif Overhead Tetap per Unit yang ditentukan di muka.
Dengan rumus di atas, selisih overhead kurang dibebankan (selisih kapasitas) dapat
dihitung sebagai berikut:
SK = (1 0.000 - 1 2.500) x Rp20,00
= -500 x Rp20,00
= -Rp50.000,00
(tanda minus menunjukkan selisih tidak menguntungkan)
Di laporan rugi-laba, selisih lebih dibebankan (menguntungkan) diperlakukan
sebagai pengurang harga pokok penjualan dan selisih kurang dibebankan (tidak
menguntungkan)

diperlakukan

sebagai

penambah

harga

pokok

penjualan.

Pembebanan lebih hanya terjadi pada absorption costing. Pada variable costing, tidak

44
ada selisih pembebanan overhead. Inilah perbedaan antara variable costing dan
absorption costing jika overheadnya menggunakan tarif yang ditentukan di muka.

D. Penyajian di Laporan Rugi Laba


Penyajian laporan rugi-laba menurut variable costing menggunakan format
contribution margin, yakni menyajikan informasi dengan mengurangkan lebih dahulu
seluruh biaya variabel dari penjualan, baru kemudian mengurangkannya dengan
seluruh biaya tetap.
Penyajian laporan rugi-laba menurut absorption costing menggunakan
pendekatan fungsional (functional approach), yakni mengurangkan seluruh biaya
produksi (variabel dan tetap) dari penjualan dan kemudian mengurangkannya dengan
biaya-biaya operasi yang diklasifikasi menurut fungsi-fungsi pokok perusahaan.
Untuk memberi gambaran, disajikan contoh penyajian laporan rugi-laba
dengan menggunakan dua format tersebut. PT XYZ memproduksi makanan kalengan
pada tahun 1993 dengan data produksi, penjualan dan biaya-biaya sesungguhnya
sebagai berikut:
Untuk tahun 1993 PT XYZ menganggarkan biaya overhead tetap total
Rp250.000,00 dan biaya overhead variabel total Rp 187.500,00. Jadi anggaran biaya
overhead totalnya adalah Rp437.500,00. Anggaran ini didasarkan pada kapasitas
normal 12.500 kaleng.
.

45

Laporan rugi-laba dengan format contribution margin dan format fungsional


dapat dilihat di bawah ini..

46

47

Pada format contribution margin, terdapat istilah manufacturing margin.


Istilah itu digunakan untuk menyebut penjualan dikurangi harga pokok penjualan
variabel. Manufacturing margin dikurangi biaya non-produksi variabel adalah

48
contribution margin. Contribution Margin dapat dihitung secara langsung dengan
mengurangkan seluruh biaya variabe l (produksi dan non produksi) dari hasil
penjualan.
Menurut informasi dari dua laporan rugi-laba yang disusun dengan metoda
yang berbeda tampak dengan jelas bahwa laba bersih perusahaan adalah sama.
Kcndisi demikian terjadi jika produksi pada tahun tertentu terjual seluruhnya dan pada
awal perioda tidak ada persediaan.

E. Perhitungan Laba Bersih


Perbedaan yang keempat antara variable costing dan absorption costing adalah
laba bersih pada perioda tertentu jika jumlah unit yang diproduksi berbeda dengan
jumfah unit yang terjual.
Untuk

mempermudah

pemahaman,

berikut

adalah

contoh

dengan

menggunakan data Perusahaan XYZ di atas dengan modifikasi sebagai berikut:

Laba bersih tahunan menurut variable costing dan absorption costing dari
tahun 1993 sampai dengan tahun 1995 dapat dilihat pada laporan-laporan di halaman
berikutnya. Analisis perbedaan labanya dapat diikuti pada penjelasan-penjelasan
berikut.
Perbedaan Laba Bersih 1993. Laba bersih menurut variable costing adalah
Rp40.000,00 lebih kecil daripada laba bersih menurut absorption costing. Selisih ini
disebabkan variable costing mengakui seluruh overhead tetap Rp250.000,00 sebagai
period cost, sedangkan absorption costing tidak mengakui seluruh overhead tetap
tersebut. Bagian yang tidak diakui oleh absorption costing adalah overhead tetap yang
melekat pada persediaan akhir. Overhead tetap yang melekat pada persediaan akhir

49
1993 adalah 2.000 x Rp20,00 = Rp40.000,00. Dengan demikian, overhead tetap yang
ditandingkan dengan pendapatan tahun 1993 menurut absorption costing hanyalah
Rp210.000,00 (Rp250.000,00 - Rp40.000,00). Oleh karena biaya yang diakui pada
tahun 1993 menurut variable costing lebih besar, laba bersih menurut metoda tersebut
adalah lebih kecil. Kesimpulan yang dapat ditarik dari contoh tersebut adalah jika
dalam tahun tertentu jumlah unit yang diproduksi tidak seluruhnya terjual, maka laba
bersih variable costing lebih kecil dari pada laba bersih absorption costing.
Perbedaan Laba Bersih 1994. Laba bersih tahun 1994 menurut variable
costing Rp1.214.000,00 dan menurut absorption costing Rp1 .194.000,00. Selisih laba
bersih adalah Rp20.000,00. Penyebab selisih ini adalah dua hal.
Pertama, overhead tetap Rp250.000,00 diakui seluruhnya oleh variable costing
sebagai biaya pada tahun 1994, sedangkan Rp20.000,00 dari jumlah tersebut, oleh
absorption costing dianggap masih melekat pada persediaah akhir. Oleh karena itu,
jumlah Rp20.000,00 tersebut ditangguhkan pembebanannya dari tahun 1994.
Kedua, overhead tetap tahun 1993 yang melekat pada persediaan awal 1994
sebesar Rp40.000,00 oleh absorption costing diakui sebagai biaya pada tahun 1994,
karena realisasi penjualan baru terjadi pada tahun 1994. Pengakuan seperti ini tidak
dilakukan oleh variable costing.
Penyebab pertama mengakibatkan biaya tahun 1994 menurut variable costing
lebih besar sehingga laba bersihnya lebih kecil Rp20.000,00. Penyebab kedua
mengakibatkan biaya tahun 1994 lebih kecil sehingga lababersihnya lebih besar
Rp40.000,00. Dengan demikian, secara total laba bersih menurut variable costmg
lebih besar Rp20.000,00. Dari kasus tahun 1994 ini kesimpulan yang dapat ditarik
adalah sebagai berikut. Jika pada suatu tahun persediaan akhir lebih kecil daripada
persediaan awal, maka laba bersih menurut absorption costing lebih kecil.

50

51

52

F. CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN


1. Perusahaan Aman menghasilkan produk X yang dijual dengan harga Rp.14,40 per
unit. Selama tahun 1993 menghasilkan produk sebanyak 80.000 unit dan terjual
sebanyak 72.000 unit. Data berikut ini adalah data biaya produksi , biaya
administrasi dan biaya penjualan tahun1993.
Biaya variabel
280.000

Biaya tetap
-

Tenaga kerja langsung

200.000

Overhead pabrik

80.000

180.000

Administrasi dan penjualan

69.120

120.000

Bahan baku

Pertanyaan:
a. Berapakah harga pokok produk per unit menurut metoda penentuan harga
pokok variabel?
b. Hitunglah laba bersih tahun 1993 jika menggunakan metoda penentuan harga
pokok variabel?
Pembahasan:
a. Harga pokok produk per unit menurut metoda variable costing :
Biaya total
280.000

Biaya per unit


3,50

Tenaga kerja langsung

200.000

2,50

Overhead pabrik

80.000

1,00

Jumlah

560.000

7,00

Bahan baku

b. Laba bersih tahun1993


Penjualan

72.000 x Rp.14,40

Rp.1.036.000

53
Biaya produksi

80.000 x Rp.7,00

Rp.560.000

Persediaan akhir

8.000 x Rp. 7,00

Rp.(56.000)

HPP Variabel
Biaya adm.&penj.variabel

Rp.504.000
72.000 x Rp.0,96

Rp. 69.120

Biaya variabel total

Rp. 573.120

Contibution margin

Rp.

463.680

Biaya tetap
Overhead pabrik

Rp.180.000

Adm. & penjualan

Rp.120.000
Rp.300.000

Laba bersih

Rp.163.680

G. SOAL-SOAL LATIHAN
1. Data berikut ini berhubungan dengan hasil operasi perusahan Diva tahun 2000 dan
2001
Penjualan (dalam Unit)
Produksi (dalam Unit)
Harga jual per unit
BP. Variabel per unit
BP. Tetap per tahun
Biaya penj.&adm.vari.per unit
Biaya penj.&adm.tetap.per tahun

Tahun 2000
240.000
240.000
20.000
12.000
1.200.000
1,25
420.000

Tahun 2001
240.000
400.000
20.000
12.000
1.200.000
1,25
420.000

Pertanyaan:
a. Susunlah laporan rugi-laba tahun 2000 dan 2001 dengan menggunakan metode
absorbstion costing
b. Susunlah laporan rugi-laba tahun 2000 dan 2001 dengan menggunakan metode
variable costing
c. Buatlah analisis perbedaan rugi laba karena penggunaan kedua metode
tersebut.

54

2. Pada tahun 2003 PT. Jayakarta mempunyai kapasitas normal 5000 unit. Jumlah
produksi yang dihasilkan tahun 2003 adalah 5000 unit dengan harga jual per unit
Rp.200. Biaya yang terjadi adalah sebagai berikut:
Biaya produksi tetap

250.000

Biaya produksi variabel per unit


Biaya non produksi tetap

100
62.500

Biaya non produksi variabel per unit

20

Pada tahun 2004 manajemen PT Jayakarta memperkirakan:


- biaya variabel naik 25% per unit
- biaya produksi tetap naik Rp.62.500,00
- Biaya non produksi variabel per unit naik Rp.5,00
- Biaya non produksi tetap tidak ada perubahan
- volume penjualan dan produksi tidak ada perubahan
- harga jual per unit naik 25%
Pertanyaan:
a. Berapakah besarnya laba bersih tahun 2003 dan 2004 dengan menggunakan
metode absorption costing?
b. Berapakah besarnya laba bersih tahun 2003 dan 2004 dengan menggunakan
metode variable costing?