Anda di halaman 1dari 21

REFRESHING

PEMERIKSAAN OBSTETRI DAN GINECOLOGI

Disusun Oleh:
Rizki Ovianti

2010730093

Dokter Pembimbing :
dr. Helmina, Sp. OG

PROGRAM STUDI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2014
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anamnesis dan Pemeriksaan Obstetri


1. Pendahuluan
Keluhan utama yang pada umumnya membawa ibu hamil mengunjungi sarana
pelayanan kesehatan ibu dan anak adalah :
a. Berhubungan langsung dengan masalah kehamilan
Memastikan adanya dugaan kehamilan
Ingin mengetahui usia kehamilan
Mual, muntah, dan atau nyerikepala
Perdarahan pervaginam
Keluar cairan pervaginam (air ketuban, leukorea)
Merasakan pergerajan anak yang berkurang atau bahkan tidak bergerak
Merasaakan melahirkan (inpartu)
b. Berhubungandenganpenyakit yang menyertai kehamilan
Penyakit infeksi
Penyakit sistemik atau penyakit kronis yang sudah di rasakan sebelum
kehamilan ini
Berdasarkan atas keluhan utama diatas, dokter harus dapat mengembangkan anamnesa
dan pemeriksaan fisik lanjutan untuk menentukan status kesehatan penderita dalam
rangka merencanakan penatalaksanaan kehamilan lebih lanjut.
Untuk

mencegah terjadinya konflik masalah etika kelak kemudian hari, sebelum

memberikanpelayanan dokter harus minta persetujuan klien setelah sebelumnya


diberikan informasi medic mengenai pelayanan yang akan diberikan (informed
concent),
2. Definisi
Pemeriksaan Obstetri merupakan pemeriksaan yang berhubungan langsung
dengan masalah kehamilan, persalinan, dan puerperium, tujuannya untuk mengetahui
status kesehatan ibu hamil, konseling persiapan persalinan, penyuluhan kesehatan,
pengambilan keputusan dalam rujukan dan membimbing usaha klien untuk
membangun keluarga sejahtera.
Kunjungan pertama merupakan kesempatan untuk menumbuhkan rasa percaya
ibu sehingga ia merasa nyaman untuk membicarakan masalah kesehatannya
kepadadokter. Rasa nyaman dapatditumbuhkan pada diri pasien bila :

a.

Pemeriksaan dilakukan ditempat tertutup, bersifat pribadi dengan kerahasiaan

terjaga dengan baik


b. Apa yang dikatakan oleh ibu didengar dan diperhatikan secara baik
c. Pasien diperlakukan dengan penuh rasa hormat
3. Cara Pelaksanaan
a. Anamnesis
1) Identitaspasien
a) Nama, alamat, usiapasiendansuamipasien
b) Pendidikan, pekerjaanpasienatausuamipasien
c) Agama, sukubangsa, pasiendansuamipasien
2) Anamnesa obstetric
a) Kehamilan yang ke
b) Haripertamahaidterakhir
c) Riwayatobstetri:
Usiakehamilan : (abortus, preterm, aterm, posterm).
Proses persalinan yang lalu (spontan, tindakan,,PENOLONG)
Keadaanpascapersalinan, masanifasdanlaktasi.
Keadaanbayi (jeniskelamin, beratbadan, usiaanak ).
Padaprimigravida :
Lama kawin, pernikahan yang ke .
Perkawinanterakhirinisudahberlangsung . tahun.
3) Anamnesatambahan
Anamnesa lanjutan dari keluhan utama yang dikembangkansesuai dengan
hal-hal yang berkaitandengan kehamilan (kebiasaanbuang air kecil / buang
air besar, kebiasaan merokok dan minum alkohol, hewan piaraan, konsumsi
obat-obat tertentu sebelum dan selama kehamilan).
b. Pemeriksaan Fisik Umum
1) Kesan umum(nampaksakitberat, sedang), anemia konjungtiva, ikterus,
kesadaran, komunikasi personal.
2) Tinggidanberatbadan.
3) Tekanan darah, frekuensi denyut nadi, frekuensi pernafasan, suhu tubuh.
4) Pemeriksaan fisik lain yang dipandang perlu.
c. Pemeriksaan Fisik Khusus Obstetri
1) Inspeksi
Chloasmagravidarum.
Keadaankelenjar thyroid.
Dinding abdomen ( varises, jaringanparut, gerakjanin).
Keadaan vulva dan perineum.
2) Palpasi
Memperkirakanadanyakehamilan.

Memperkirakanusiakehamilan.
Presentasi - posisidantaksiranberatbadanjanin.
Mengikuti proses penurunankepalapadapersalinan.
Mencaripenyulitkehamilanataupersalinan.

d. Palpasi abdomen pada kehamilan


Tehnikpalapasi abdomen padakehamilan :
1)
2)
3)
4)

Perkenalkandiri.
Jelaskanmaksuddantujuansertacarapemeriksaanpalpasi.
Ibudipersilahkanberbaringtelentangdengansendilutut semi fleksi.
PemeriksaanLEOPOLD:
Leopold
I
s/d

III,

pemeriksaandilakukandenganberdiri di kananibudanmenghadapkemukaibu ;
pemeriksaan Leopold IV, pemeriksaberbalikarahsehinggamenghadapke kaki
ibu.

Leopold I

Keduatelapaktanganpemerik

sadiletakkanpadapuncak FU.
Tentukantinggi fundus uteri
untukmenentukanusiakeham

ilan.
Rasakandantentukanbagianja
nin

yang

beradapadabagianfundus
uteri

(bokongataukepalaataukoson
Keduatelapaktanganpemeriksa
g) untuk menentukan letak
bergeserturunkebawahsampai
janin.
disampingkiridankananumbili

Leopold II

kus.

Tentukanbagianpunggungjani
nuntukmenentukanlokasiausk
ultasidenyutjantungjaninnanti
nya.

Tentukanlokasibagianbagiankeciljanin.

Leopold III

Bagianterendahjanindicekapdi
antaraibujaridantelunjuktanga

nkanan.
Ditentukanapa

yang

menjadibagianterendahjaninda
nditentukanapakahsudahterjad
iengagemenataubelum.

Leopold IV

Pemeriksamengubahposisiny

amenghadapke kaki pasien.


Keduatelapaktanganditempatk
an

di

lateral

bagianterendahjanin.
Untukmenentukansampaibera
pajauhderajatdesensusjanin.

e. Mengukur Tinggi Fundus Uteri


Mengukur jarak antara tepi atas simfisis pubis dengan puncak fundus uteri
digunakan untuk memperkirakan usia kehamilan antara20 32 minggu. Metode
pengukuran ini cukup rasional dalam memperkirakan pertumbuhan dan
perkembangan janin sehingga berguna dalam identifikasi terjadinya large for
dateatausmall for date .

Kehamilan 20 minggu, TFU setinggipusatdanhasilpengukuranjarakantara FU


dan

SP

20

cm.

Setiapminggupertumbuhan

uterus

kirakira1

sehinggapadakehamilan 28 minggu, jarakantara FU SP = 28 cm

cm
2 cm

danpadakehamilan 32 minggu ,jarakantara FU SP = 32 cm 2 cm.


Cara menentukanTinggu Fundus Uteri

f. Vaginal Toucher
Indikasi VT - vaginal toucherpadakasuskehamilanataupersalinan:
1. Sebagai bagian dalam menegakkan diagnosa kehamilan muda.
2. Pada Primigravida usia kehamilan lebih dari 37 minggu digunakan untuk
mengevaluasi kapasitas panggul (pelvimetriklinik) dan menentukan apakah
ada

kelainan

pada

jalan

lahir

yang

diperkirakanakan

dapat

mengganggujalannya proses persalinanpervaginam


3. Padasaaatmasukkamarbersalindilakukanuntukmenentukanfasepersalinandan
diagnose letakjanin
4. Padasaatinpartudigunakanuntukmenilaipapakahkemajuan

proses

persalinansesuaidengan yang diharapkan


5. Padasaatketubanpecahdigunakanuntukmenentukanadatidaknyaprolapsusbagi
ankeciljaninatautalipusar

6. Padasaatinpartu,

ibu

Nampak

inginmenerandandigunakanuntukmemmastikanapakahfasepersalinansudahm
asukpadapersalinankala II
Tehnik vaginal taoucherpadapemeriksaankehamilandanpersalinan :
1.
2.

Didahuluidenganmelakukaninspeksipada organ genitalia eksterna


Tahapberikutnya

pemeriksaaninspekulountukmelihatkeadaaandalamjalanlahir
3. Labia
minoradisisihkankekiridankanandenganibujaridanjaritelunjuktangankiridarisi
sicranial untukmemaparkanvestibulum.

4. Jaritelunjukdanjaritengajtangankanandalamposisilurusdanrapatsatusama lain
dimasukkankearahbelakang _atas vagina danmelakukanpalpasipadaserviks.
Menentukandilatasi (cm) daripendataranserviks (prosesntase)
Menentukan keadaan selaput ketuban masih utuh atau sudah pecah,

bila sudah pecah tentukan :


Menentukan presentasi (bagianterendah) dan posisi (berdasarkan

denominator) serta derajat penurunan janin berdasarkan stasion


Menentukan apakah terdapat bagaian janin lain atau tali pusar yang

berada disamping bagian terendah janin


Padaprimigravidadigunakanlebihlanjutuntukmenentukanpelvimetri
klinik

g. Auskultasi Bunyi Jantung Anak


Auskultasi bunyi janung anak dilakukan dengan menggunakan fetoskop Pinard
dan terdengar paling keras pada daerah punggung janin. Secara klinik untuk

alasan praktis maka bunyi jantung anak dihitung selama5 detikdilakukan 3 kali
berurutanselangwaktu 5 detiks ebanyak 3 kali. Misalnya hasil pemeriksaan detak
jantung janin :10 12 10 berartifrekuensidetakjantungjaninadalah 32 x 4 =
128 kali per menit.

Frekuensidetakjantungjaninnormal =120 160dpm


Dalam persalinan frekuensi BJAdihitungsebelum, selamadansetelahkontraksi
uterus untuk memperkirakan kesehatan janin dan sebagai alternatif dari
pemantauan detak jantungjaninelektronik (CFHM continous fetal heart rate
monitoring ) secaraberkelanjutan.
h. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Pemeriksaanlaboratoriumrutin(Hbdanurinalisisserta protein urine).
Pemeriksaanlaboratoriumkhusus.
Pemeriksaanultrasonografi.
Pemantauanjanindengankardiotokografi.
AmniosentesisdanKariotiping.
i. Kesimpulan pemeriksaan kehamilan
Kesimpulanhasilpemeriksaankehamilanmeliputi 10 halberikutdibawahini :
1. Hamilatautidakhamil.
2. Primigravidaatau multigravida.
G (gravida ) P(para) 1 2 3 4.
Jumlahpartusaterm (> 37 minggu / beratanak> 2500 g).
Jumlahpartus preterm (22 37 minggu / beratanak< 2500g )
Jumlahabortus( < 20 minggu ).
Jumlahanakhidupsaatini.
3. Anakhidupataumati.

4. Usiakehamilan( aterm / preterm minggu ).


5. Letakanak :
Situs
: Situs longitudinal.
Habitus : Fleksi.
Posisi
: Punggungkiridengan u2k ubunubunkecilkirimelintang.
Presentasi : Presentasibelakangkepala.
6. Kehamilan intra atauekstrauterin.
7. Hamiltunggalataukembar.
8. Inpartuatautidak.
9. Keadaanjalanlahir
:
tumor
jalanlahir,
hasilpemeriksaanpelvimetriklinik, cacatrahimpasca SC ataumiomektomi
intramural.
10. Keadaanumumibu :
Komplikasiataupenyakitpenyakit yang menyertai kehamilan atau

persalinan (misal: preeklampsia, anemia dsbnya)


Komplikasipersalinan (misal : secondary arrest,

kala II

memanjang, ataugawatjanin)
j. Diagnosis
1. Diagnosaibu : misalnya
G 1 P 0000inpartukala I faseaktif
(Penyulitkehamilan) : Pre eklampsiaberatdan anemia gravidarumatau
DM dsbnya
2. Diagnosaanak : misalnya
Janintunggal, hidup, intrauterin, presentasibelakangkepala.
k. Terapi Sikap dan tindakan lanjut
Misalnya:

Pasang infuse dandauerkatheter.


Pemberian Mg SO4.
Observasi KU ibu (tekanandarahdanpernafasan, gejalasubjektif, kejang,

kesadaran, produksi urine).


ObservasikemajuanAntisipasiperdarahanpascapersalinan (akibatpemberian

MgSO4 danadanya anemia gravidarum).


Buatpartografdanevaluasi 4 jam.
Bilakemajuanpersalinanberlangsungdengan normal, direncanakan untuk
melakukan persalinan pervaginam dengan mempercepat persalinan kala II
menggunakanekstraksicunamatauvakum.

B. Pemeriksaan Ginecologi
a. Kesan umum : tampak sakit, kompos mentis, anemia, ikterus.
b. Kesadaran komunikasi personal - tekanan darah nadi frekuensi nafas suhu badan.
c. Pemeriksaan jantung dan paru

Gambar 4. Pemeriksaan paru

Gambar 5. Pemeriksaan bising jantung di lokasi katub jantung

Pemeriksaan paru :
o

Wheezing : asthma bronchiale ?

Penurunan suara nafas atau rhonci halus : pneumonia atau gagal jantung ?

Beberapa kelainan suara nafas akan hilang bila pasien diminta untuk batuk atau
menarik nafas panjang.

Dengarkan suara nafas paru kiri dan kanan. Asimetri dari suara nafas paru kiri
dan kanan mengarah pada kecurigaan adanya kelainan.

Pemeriksaan jantung :
o

Perhatikan regularitas irama jantung.

Dengarkan suara jantung diatas katub aorta, pulmonal, tricuspid dan mitral :
apakah terdapat suara yang abnormal?

Kehamilan adalah suatu hyperdynamic state sehingga cenderung terdapat


peningkatan aliran darah melewati katub jantung yang dapat menimbulkan
suara bising jantung yang abnormal.

Bila terdapat kecurigaan, konsultasikan lebih lanjut pada dokter ahli penyakit
jantung.

d. Pemeriksaan fisik lain yang dipandang perlu ( kelenjar thyroid, kelenjar getah bening
leher dsb nya).

Banyak ahli ginekologi yang secara rutin memeriksa keadaan kelenjar thyroid
( pembesaran, pembengkakan, benjolan kecil)

Penyakit thyroid lebih sering mengenai wanita dan meningkat dengan semakin
bertambahnya usia.

Beberapa gangguan haid berkaitan dengan disfungsi tiroid.

Gambar 6. Pemeriksaan kelenjar tiroid

Gambar 7. Dua buah lobus kelenjar thyroid, menyatu pada garis tengah dibawah kartilago
krikoid membesar kearah atas pada kedua sisi trachea
C. Pemeriksaan khusus ginekologi :

a. Abdomen :

Inspeksi abdomen :
o

Pembesaran perut kearah depan yang berbatas jelas umumnya disebabkan oleh
kehamilan atau tumor.

Pembesaran perut kearah samping umumnya terjadi pada asites.

Striae, jaringan parut, peristaltik.

Palpasi abdomen :
o

Pasien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan atau rectum terlebih
dahulu.

Pasien diminta untuk berada pada posisi dorsal dan dalam keadaan santai.

Palpasi dilakukan dengan menggunakan seluruh telapak tangan berikut jari-jari


dalam keadaan rapat yang dimulai dari bagian hipochondrium secara perlahanlahan dan kemudian diteruskan kesemua bagian abdomen dengan tekanan yang
meningkat secara bertahap.

Melalui pemeriksaan ini ditentukan apakah :

Terdapat defance muscular akibat peritonitis atau rangsangan peritoneum


yang lain.

Apakah ada rasa nyeri tekan atau nyeri lepas.

Dengan tekanan yang agak kuat serta menggunakan sisi ulnar telapak tangan
kanan dilakukan pemeriksaan untuk mencari kelainan lain dalam cavum
abdomen.

Bila dijumpai adanya masa tumor dalam cavum abdomen, tentukan lebih lanjut
mengenai :

Perkusi abdomen :

Bila dijumpai adanya pembesaran perut, dengan perkusi dapat ditentukan apakah pembesaran
perut tersebut disebabkan oleh cairan bebas, udara (meteorismus) atau tumor.

Auskultasi abdomen
o

Penting untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan (dengan mencari denyut


jantung janin).

Diagnosa ileus (paralitik atau hiperdinamik).

Menentukan pulihnya bising usus pasca pembedahan.

b. Genitalia eksterna
1. Inspeksi genitalia eksterna :
2. Pada posisi lithotomi, genitalia eksterna dapat dilihat dengan jelas
3. Keadaan vulva bagian luar:
o

Kotor atau bersih, keadaan rambut pubis.

Terdapat ulkus, pembengkakan.

Cairan yang keluar dari vulva : pus, darah, leucorrhoe

Palpasi daerah genitalia eksterna

Gambar 8. Pemeriksaan kelenjar Bartholine

Gambar 9. Kelenjar Bartholine


c. Vaginal toucher

Didahului dengan inspeksi dan pemeriksaan inspekulo untuk melihat keadaan


permukaan vagina dan servik serta fornix vaginae

Gambar 10 Posisi spekulum dalam vagina


Tehnik pemasangan spekulum :
1. Penjelasan pada pasien terlebih dulu mengenai prosedur pemeriksaan inspekulo dan
manfaat dari pemeriksaan ini
2. Pasien diminta persetujuannya untuk pemeriksaan inspekulo
3. Pastikan bahwa pasien sudah mengosongkan vesika urinaria dan atau rectum
4. Pasien berada pada posisi lithotomi
5. Kenakan sarung tangan
6. Persiapkan spekulum bi-valve yang sesuai, atur katub dan tuas sehingga spekulum siap
digunakan.
7. Hangatkan spekulum bi-valve dengan ukuran yang sesuai dan bila perlu beri lubrikasi
8. Pisahkan labia dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri dari sisi atas
9. Spekulum bi-valve dalam keadaan tertutup dimasukkan vagina dalam posisi miring
menjauhi dinding vagina sebelah depan dan meatus urtehrae eksternus (gambar11 )
10. Setelah berada didalam vagina, spekulum diputar 900 dan diarahkan pada fornix
posterior
11. Setelah mencapai fornix posterior, tuas spekulum ditekan sehingga spekulum terbuka
secara optimal (kedua bilah saling menjauh) dan portio terpapar dengan baik. (gambar
12 )
12. Lakukan pengamatan pada porsio dan fornix vaginae dengan baik. Lepaskan tuas
spekulum, tarik keluar spekulum perlahan-lahan sambil diputar secara bertahap sejauh
900. Lakukan pengamatan pada keadaan permukaan vagina saat menarik keluar
spekulum (gambar 13 )
13. Spekulum dikeluarkan pada posisi vertikal seperti pada saat dimasukkan.

Gambar 11. Pemasangan spekulum secara miring kedalam introitus vaginae


Gambar 12. Setelah mencapai fornix posterior, gagang spekulum diputar tegak
lurus searah jarum jam dan spekulum dibuka untuk memaparkan portio

Gambar 13. Setelah mencapai fornix posterior , spekulum diputar sehingga dapat dilakukan
pengamatan pada fornix dan Porsio
Setelah melakukan pemeriksaan inspekulo, pemeriksaan diteruskan dengan pemeriksaan
vaginal toucher untuk melakukan :

Perabaan vagina :
o

Keadaan himen.

Keadaan introitus vaginae.

Keadaan dinding vagina.

Perabaan pada cavum Douglassi.

Perabaan servik : dikerjakan secara sistematis untuk menentukan :


o

Arah menghadap dan posisi dari porsio uteri.

Bentuk, besar dan konsistensi servik.

Keadaan kanalis servikalis (terbuka atau tertutup).

Gambar 14. Servik uteri dan struktur genitalia interna

Perabaan corpus uteri


o

Letak

Bentuk

Besar

Konsistensi

Permukaan

Mobilitas dengan jaringan sekitarnya

Gambar 15
Dua jari tangan dimasukkan kedalam vagina sampai fornix anterior
Tangan luar mencekap bagian belakang uterus dan diarahkan dari posterio ke
anterior
Untuk melakukan evaluasi pada uterus, pemeriksaan dilakukan secara bimanual.

Perabaan uterus sulit dilakukan pada kasus:


o

Uterus retroversio fleksio, perabaan uterus agak sulit oleh karena pencekapan
uterus tak dapat berlangsung secara baik.

Pasien obese, evaluasi uterus secara palpasi sulit dilakukan.

Vesika urinaria yang terlampau penuh.

Perabaan adneksa dan parametrium:


o

Pemeriksaan adneksa dan parametrium baru dapat dilakukan bila palpasi uterus
sudah dapat dilakukan dengan baik.

Dalam keadaan normal, tuba falopii dan ovarium tak dapat diraba.

Tuba falopii dan ovarium hanya dapat diraba dari luar pada pasien kurus atau
pada tumor ovarium / kelainan tuba (hidrosalphynx) yang cukup besar.

3. Pemeriksaan lain-lain :
a. Rectal toucher : dikerjakan pada
o

Virgin

Pasien yang mengaku belum pernah bersetubuh

Kelainan bawaan (atresia himenalis atau atresia vaginalis)

Wanita diatas usia 50 tahun

Gambar 16. Pemeriksaan rekto abdominal


b. Recto vaginal toucher :

Pemeriksaan rectovaginal dikerjakan untuk menilai keadaan septum rectovaginalis.

Penebalan dinding vagina dan infiltrasi karsiona rektum lebih mudah ditentukan
dengan pemeriksaan rectovaginal.

c. Pemeriksaan laboratorium
1. Pemeriksaan diagnostik sederhana yang dapat dikerjakan secara poliklinis (di kamar
periksa) :

1. Sediaan basah :
1. Untuk melihat penyebab dari fluor albus
2. Ambil sedikit cairan vagina, letakkan pada gelas objek dan campur
dengan KOH , kemudian tutup dengan gelas penutup , periksa dibawah
mikrosokop ( pemeriksaan benang hyphae pada candida)
3. Ambil sedikit cairan vagina, letakkan pada gelas objek dan campur
dengan NaCl 0.9% , kemudian tutup dengan gelas penutup , periksa
dibawah mikrosokop (pemeriksaan gerakan trichomonas dan vaginosis
bakterial)
2. Pap smear :
1. Lakukan semua prosedur pemeriksaan inspekulo diatas , kecuali
penggunaan bahan lubrikasi
2. Pengambilan pertama dengan spatula Ayre (terbuat dari kayu)
3. Pengambilan berikutnya dengan menggunakan cytobrush
4. Usapkan sediaan pada gelas pemeriksa secara tipis
5. Fiksasi sediaan yang sudah diusapkan pada gelas pemeriksa dengan
alkohol 90% (atau hair spray) sebelum sediaan mengering
6. Segera kirimkan sediaan pap smear ke laboratorium medis yang
kompeten untuk melakukan pemeriksaan pap smear.
7. Laboratorium akan memberikan jawaban mengenai hasil pemeriksaan
terhadap sediaan yang saudara kirimkan dengan klasifikasi sitologis
atau klasifikasi Bethesda
3. Pemeriksaan laboratorium :
1. Pemeriksaan darah lengkap dan urinalisis
2. Pada kasus dengan dugaan sifilis dapat diminta pemeriksaan VDRL
3. Pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas
4. Pemeriksaan tes kehamilan
5. Pemeriksaan hormonal pada kasus dengan gangguan endokrin :
1. FSH-folicle stimulating hormone
2. LH-Luteinizing hormone
3. Estrogen

d. Pemeriksaan tambahan lain :


1. Ultrasonografi : dapat dikerjakan transabdominal atau transvaginal
2. Histerosalfingografi : dengan pemberian cairan kontras, keadaan cavum uteri , tuba
falopii dapat diamati untuk melihat adanya patensi tuba falopii
3. Sonohisterografi : modifikasi pemeriksaan ultrasonografi dengan memasukkan cairan
kedalam cavum uteri sehingga keadaan cavum uteri dapat dilihat.
4. Kolposkopi : digunakan untuk melihat servik secara langsung.
5. Histeroskopi : digunakan untuk melihat keadaan dalam cavum uteri dan melakukan
tindakan tindakan pembedahan tertentu.
6. Fern Tes : untuk melihat adanya ovulasi. Gambaran daun pakis pada lendir servik
menunjukkan adanya efek estrogen tanpa dipengaruhi progeteron. Gambaran daun
pakis tidak terlihat pada masa ovulasi.
7. Schiller tes : Untuk deteksi lesi prekanker. Lesi prakanker tidak mengandung glikogen
sehingga tak dapat menyerap larutan lugol yang dibubuhkan
8. Kuldosintesis : pemeriksaan untuk menentukan adanya cairan dalam cavum douglassi

Gambar 17Kuldosintesis
9. Biopsi
Biopsi dapat dilakukan pada vulva-vagina atau servik
Pada endometrium biopsi dapat dilakukan dengan D & C atau menggunakan metode kuretase
fraksional.

Gambar 18
Biopsi endometrium (fractional curettage)
10. Computed Tomography ( CT-scan)
Tehnik diagnostik dengan menggunakan bayangan 2 dimensi yang memiliki resolusi tinggi.
11. Magnetic Resonance Imaging ( MRI)
Tehnik yang menggunakan absorsi dari pancaran gelombang radio yang berasal dari perangkat
Magnetic Resonance Imaging.

DAFTAR PUSTAKA

Widjanarko, Bambang. 2012. Pesiapan Klinik Obtetri dan Ginekologi .Jakarta: Fakultas
Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Prawirohardjo, Sarwono.2010. .Jakarta. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo