Anda di halaman 1dari 7

ABSES PERIANAL

1. Definisi
Abses adalah infeksi bakteri setempat yang ditandai dengan pengumpulan pus
(bakteri,jaringan nekrotik dan sel darah putih).
Abses perianal adalah infeksi pada ruang pararektal. Abses ini kebanyakan akan
mengakibatkan fistula (Smeltzer dan Bare, 2001).
Abses anorektal merupakan infeksi yang terlokalisasi dengan pengumpulan nanah
pada daerah anorektal. Organisme penyebab biasanya adalah Escherichia coli,
stafilokokus, atau streptokokus (Price dan Wilson, 2005).

2. Etiologi
Menurut ahli penyakit infeksi, penyebab abses antara lain :
a) Infeksi Mikrobial
Merupakan penyebab paling sering terjadinya abses. Virus menyebabkan kematian
sel dengan cara multiplikasi. Bakteri melepaskan eksotoksin yang spesifik yaitu
suatu sintesis kimiawi yang merupakan awal radang atau melepaskan endotoksin
b)
c)

d)

yang ada hubunganya dengan dinding sel


Reaksi hipersensitivitas.
Terjadi bila ada perubahan respon Imunologi yang menyebabkan jaringan rusak.
Agen Fisik
Melalui trauma fisik, ultra violet, atau radiasi, terbakar, atau dinding berlebih
(frostbite).
Bahan kimia iritan dan korosif
Bahan oksidan, asam, basa, akan merusak jaringan dengan cara memprovokasi
terjadinya proses radang, selain itu agen infeksi dapat melepaskan bahan kimiawi
spesifik yang mengiritasi dan langsung menyebabkan radang

e)

Nekrosis jaringan
Aliran darah yang kurang akan menyebabkan hipoksia dan berkurangnya makanan
pada dearah yang bersangkutan. Menyebabkan kematian jaringan yang merupakan
stimulus kuat penyebab infeksi pada daerah tepi infeksi sering memperlihatkan
suatu respon radang akut.

Penyebab abses perianal antara lain:


Abses perianal merupakan gangguan sekitar

anus

dan

rectum,

dimana

sebagian besar timbul dari obstruksi kripta anal. Infeksi dan stasis dari kelenjar
dansekresi kelenjar menghasilkan supurasi dan pembentukan abses dalam kelenjar
anal. Biasanya, abses terbentuk awalawal dalam ruang intersfingterik dan kemudian
keruang potensial yang berdekatan. Umumnya bakteri seperti stafilokokus dan
Escherichia

coli

adalah

penyebab

paling

umum.

Infeksi

jamur

kadang-

kadang menyebabkan abses. Masuknya bakteri ke daerah sekitar anus dan rektum
(Gunawan, 2010)
3. Faktor Risiko
Faktor predisposisi dari abses yaitu :
a. Penurunan daya tahan tubuh.
b. Kurang gizi.
c. Anemia.
d. Diabetes
e. Keganasan(kanker)
f. Penyakit lainya
g. Higienis jelek
h. Kegemukan
4. Patofisiologi
Abses perianal terbentuk akibat berkumpulnya nanah di jaringan bawah kulitdaerah
sekitar anus. Nanah terbentuk akibat infeksi kuman/bakteri karena kelenjar didaerah
tersebut tersumbat. Bakteri yang biasanya menjadi penyebab adalah Escherichia coli
dan spesies Enterococcus. Kuman/bakteri yang berkembang biak dikelenjar yang
tersumbat lama kelamaan akan memakan jaringan sehat di sekitarnya sehingga
embentuk nanah. Nanah yang terbentuk makin lama makin banyak sehingga akan
terasa bengkak dan nyeri, inilah yang disebut abses perianal. Pada beberapa orang
dengan penurunan daya tubuh misalnya penderita diabetes militus, HIV/AIDS, dan
penggunaan steroid (obat anti radang) dalam jangka waktu lama, ataupun dalam
kemoterapi akibat kanker biasanya abses akan lebih mudah terjadi. Kebanyakan abses
perianal bersifat sekunder terhadap proses supuratif yang dimulai pada kelenjar anal.
Teori ini menunjukan bahwa obstruksi dari saluran kelenjar tersebut oleh tinja, corpus
alienum atau trauma akan menghasilkan stasis daninfeksi sekunder yang terletak di
ruang intersfingterik. Dari sini proses infeksi dapatmenyebar secara distal sepanjang

otot longitudinal dan kemudian muncul di subkutissebagai abses perianal, atau dapat
menyebar secara lateral melewati otot longitudinaldan sfingter eksternal sehingga
menjadi abses ischiorektal. Meskipun kebanyakanabses yang berasal dari kelenjar anal
adalah perianal dan ischiorektal ,tetapi ruanglain dapat terinfeksi. Pergerakan infeksi ke
atas dapat menyebabkan abses intersfingterik tinggi dankemudian dapat menerobos ke
otot longitudinal lalu ruang supralevator sehinggamenyebabkan sebuah abses
supralevator. Setelah abses terdrainase, secara spontanmaupun secara bedah,
komplikasi abnormal antara lubang anus dan kulit perianal disebut fistula ani.
5. Manifestasi Klinis
Awalnya, pasien bisa merasakan nyeri yang tumpul, berdenyut yang memburuk
sesaat sebelum defekasi yang membaik setelah defekasi tetapi pasien tetap tidak
merasa nyaman. Rasa nyeri diperburuk oleh pergerakan dan pada saat menduduk.
Abses dapat terjadi pada berbagai ruang di dalam dan sekitar rektum.Seringkali
mengandung sejumlah pus berbau menyengat dan nyeri. Apabila abses terletak
superficial, maka akan tampak bengkak, kemerahan, dan nyeri tekan. Nyeri memburuk
dengan mengedan, batuk atau bersin, terutama pada abses intersfingter.
Dengan perjalanan abses, nyeri dapat mengganggu aktivitas seperti berjalan atau
duduk. Abses yang terletak lebih dalam mengakibatkan gejala toksik dan bahkan nyeri
abdomen bawah, serta deman. Sebagian besar abses rectal akan mengakibatkanfistula
(Smeltzer dan Bare, 2001). Abses di bawah kulit bisa membengkak, merah,lembut dan
sangat nyeri. Abses yang terletak lebih tinggi di rektum, bisa saja tidak menyebabkan
gejala, namun bisa menyebabkan demam dan nyeri di perut bagian bawah
Abses dapat terjadi pada berbagai ruang di dalam dan sekitar rektum. Seringkali
mengandung sejumlah pus berbau menyengat dan nyeri. Apabila abses terletak
superficial, maka akan tampak bengkak, kemerahan, dan nyeri tekan. Abses yang
terletak lebih dalam memgakibatkan gejala toksik dan bahkan nyeri abdomen bawah,
serta deman. Sebagian besar abses rectal akan mengakibatkan fistula (Smeltzer dan
Bare, 2001, hal 468).
Abses di bawah kulit bisa membengkak, merah, lembut dan sangat nyeri. Abses
yang terletak lebih tinggi di rektum, bisa saja tidak menyebabkan gejala, namun bisa
menyebabkan demam dan nyeri di perut bagian bawah (Healthy of The Human, 2010,
hal 1).
Manifestasi klinis dari abses secara umum yaitu :
a. Karena abses merupakan salah satu manifestasi peradangan, maka manifestasi lain
yang mengikuti abses dapat merupakan tanda dan gejala dari prose inflamasi, yakni

kemrahan (rubor), panas (color), pembengkakan (tumor), rasa nyeri (dolor) dan
hilangnya fungsi.
b. Timbul atau teraba benjolan pada tahap awal berupa benjolan kecil, pada stadium
lanjut benjolan bertambah besar, demam, benjolan meningkat, malaise, nyeri,
bengkak, berisi nanah (pus).
c. Gambaran Klinis
Nyeri tekan
Nyeri lokal
Bengkak
Kenaikan suhu
Leukositosis
6. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang dari abses antara lain:
a. Kultur : Mengidentifikasi organisme penyebab abses sensitivitas menentukan obat
yang paling efektif.
b. Darah lengkap : hematokrit mungkin meningkat, leukopenia, leukositosis (15.000 30.000) mengindikasikan produksi sel darah putih tak matur dalam jumlah besar.
c. Elektrolit serum : berbagai ketidakseimbangan mungkin terjadi dan menyebabkan
acidosis, perpindahan cairan dan perubahan fungsi ginjal
d. Pemeriksaan pembekuan : Trombositopenia dapat terjadi karena agregasi
trombosit,

PT/PTT

mungkin

memanjang

menunjukan

koagulopati

yang

diasosiasikan dengan iskemia hati/sirkulasi toksin/status syok.


e. Glukosa serum, hiperglikemi menunjukkan glukogenesis dan glikogenesis di dalam
f.

hati sebagai respon dari puasa/perubahan seluler dalam metabolism.


BUN/Kr
:
Peningkatan
kadar
diasosiasikan

dengan

dehidrasi,ketidakseimbangan/kegagalan ginjal dan disfungsi/kegagalan hati.


g. GDA : Alkalosis respiratori hipoksemia, tahap lanjut hipoksemia asidosis respiratorik
dan metabolic terjadi karena kegagalan mekanisme kompensasi.
h. Urinalisis : Adanya sel darah putih/bakteri penyebab infeksi sering muncul protein
i.

dan sel darah merah.


Sinar X : Film abdominal dan dada bagian bawah yang mengindikasikan udara
bebas di dalam abdomen/organ pelvis. (Doenges,2000:873)

Pemeriksaan Diagnostik pada abses perianal


a. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi jarang diperlukan pada evaluasi pasien dengan abses
perianal, namun pada pasien dengan gejala klinis abses intersfingter atau
supralevator mungkin memerlukan pemeriksaan konfirmasi dengan CT scan,
MRI,

atauultrasonografi dubur. Namun pemeriksaan radiologi adalah modalitas

terakhir yang harus dilakukan karena terbatasnya kegunaannya. USG juga dapat
digunakan secara intraoperatif untuk membantu mengidentifikasi abses atau fistula
dengan lokasi yang sulit.
b. Pemeriksaan Laboratorium

Belum

ada

pemeriksaan

laboratorium khusus

yang dapat dilakukan

untukmengevaluasi pasien dengan abses perianal atau anorektal, kecuali


pada

pasientertentu, seperti individu dengan diabetes dan

imunitas tubuh yang rendah karena


sepsis bakteremia

pasien dengan

memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya

yang dapat disebabkan dari abses anorektal. Dalam kasus

tersebut, evaluasi laboratorium lengkap adalah penting.


7. Penatalaksanaan Medis
Pada kebanyakan pasien

dengan

abses

anorektal

atau

perianal,

terapi

medikamentosa dengan antibiotik biasanya tidak diperlukan. Namun, pada pasien


dengan peradangan sistemik, diabetes, atau imunitas rendah, antibiotik wajib diberikan.
Abses perirektal harus diobati dengan drainase sesegera mungkin setelah diagnosis
ditegakkan. Jika diagnosis masih diragukan, pemeriksaan di bawah anestesi sering
merupakan cara yang paling tepat baik untuk mengkonfirmasi diagnosis serta
mengobati. Pengobatan yang tertunda atau tidak memadai terkadang dapat
menyebabkan perluasan abses dan dapat mengancam nyawa apabila terjadi
nekrosisjaringan yang besar, atau bahkan septikemia. Antibiotik hanya diindikasikan
jika terjadi

selulitis luas atau

apabila

pasien

immunocompromised, menderita

diabetes mellitus, atau memiliki penyakit katub jantung. Namun pemberian antibiotik
secara tunggal bukan merupakan pengobatan yang efektif untuk mengobati abses
perianal atau perirektal.Kebanyakan abses perianal dapat didrainase di bawah anestesi
lokal di kantor,klinik, atau unit gawat darurat. Pada kasus abses yang besar maupun
pada lokasinya yang sulit mungkin memerlukan drainase di dalam ruang operasi.
Insisi dilakukan sampai ke bagian subkutan pada bagian yang paling menonjol dari
abses. Dog ear" yang timbul setelah insisi dipotong untuk mencegah penutupan dini.
Luka dibiarkan terbuka dan sitz bath dapat dimulai pada hari berikutnya.

8. Komplikasi
Jika tidak diobati, fistula anus hampir pasti akan terbentuk, menghubungkan rektum
untuk kulit. Hal ini memerlukan operasi lebih intensif. Selanjutnya, setiap abses diobati
dapat (dan kemungkinan besar akan) terus berkembang, akhirnya menjadi infeksi
sistemik yang serius. Hal yang paling ditakutkan pada abses perianal adalah terjadinya
fistel perianal. Fistel perianal adalah saluran abnormal antara lubang anus/rektum
dengan lubang bekas abses yang bermuara pada kulit sekitar anus. Muara pada kulit
sekitar anus tampak sebagai luka bekas bisul yang tidak pernah menutup/sembuh dan
tidak sakit (Selatan, 2008, hal 2).
Jika tidak diobati, fistula anus hampir pasti akan membentuk, menghubungkan
rektum untuk kulit. Hal ini

memerlukan

abses

(dan

diobati

akhirnya

dapat

menjadi

infeksi

operasi

lebih intensif. Selanjutnya,

kemungkinan

sistemik

yang

besar
serius.

akan)
Hal

setiap

terus berkembang,

yang

paling ditakutkan

pada abses perianal adalah terjadinya fistel perianal. Fistel perianal adalah saluran
abnormal

antara

lubang

anus/rektum

dengan

lubang

bekas

abses

yang

bermuara pada kulit sekitar anus. Muara pada kulit sekitar anus tampak sebagai luka
bekas bisul yang tidak pernah menutup/sembuh dan tidak sakit. Fistula anorektal terjadi
pada 30-60% pasien dengan abses anorektal. Kelenjar intersfingterik terletak
sfingter

internal

dan

eksternal

anus

dan

antara

sering kali dikaitkan dengan

pembentukan abses. Fistula anorektal timbul oleh karena obstruksi dari kelenjar
dan/atau kripta anal, dimana ia dapat diidentifikasi dengan adanyasekresi purulen
dari kanalis anal atau dari kulit perianal sekitarnya. Etiologi lain darifistula
adalah

multifaktorial

dan

termasuk

penyakit

infeksi yang terkomplikasi, seperti tuberkulosis.

divertikular,

anorektal

IBD, keganasan, dan

Referensi :
Carpenito, L,J, 2001, Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Klinik (terjemahan), Edisi 3,
EGC, Jakarta.
Doenges, M.E, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan Dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien (terjemahan), edisi 3, EGC, Jakarta
Price, SA dan Wilson, LM, 1995, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
(terjemahan), Eidisi 4, Volume 1, EGC, Jakarta
Smeltzer, S.C, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (terjemahan), Edisi 8, Volume
2, EGC, Jakarta.
S. Sjamsuhidayat, Wim De Jong, 1998, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta
Underwood, J.C.E, 1999, Buku Ajar Ilmu Bedah (terjemahan), Edisi 4, EGC, Jakarta.