Anda di halaman 1dari 12

CEDERA KEPALA

1.

Definisi
Trauma atau cedera kepala adalah di kenal sebagai cedera otak gangguan fungsi
normal otak karena trauma baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Defisit
neurologis terjadi karena robeknya substansia alba, iskemia, dan pengaruh masa
karena hemoragik, serta edema serebral do sekitar jaringan otak. (Batticaca
Fransisca, 2008, hal 96).
Cedera kepala merupakan proses dimana terjadi trauma langsung atau deselerasi
terhasdap kepala yang menyebabkan kerusakan tenglorak dan otak. (Pierce Agrace
& Neil R. Borlei, 2006 hal 91).
Cedera kepala atau cedera otak merupakan suatu gangguan traumatik dari fungsi
otak yang di sertai atau tanpa di sertai perdarahan innterstiil dalm substansi otak
tanpa di ikuti terputusnya kontinuitas otak. (Arif Muttaqin, 2008, hal 270-271).

2. Klasifikasi Cedera Kepala


a. Cedera kepala terbuka
Luka kepala terbuka akibat cedera kepala dengan pecahnya tengkorak atau luka
penetrasi, besarnya cedera kepala pada tipe ini ditentukan oleh velositas, masa dan
bentuk dari benturan. Kerusakan otak juga dapat terjadi jia tulang tengkorak
menusuk dan masuk ke dalam jaringan otak dan melukai durameter saraf otak,
jaringan sel otak akibat benda tajam / tembakan. Cedera kepala terbuka
memungkinkan kuman pathogen memiliki abses langsung ke otak.
b. Cedera kepala tertutup
Benturan cranium pada jaringan otak didalam tengkorak ialah goncangan yang
mendadak. Dampaknya mirip dengan sesuatu yang bergerak cepat, kemudian
serentak berhenti dan bila ada cairan dalam otak cairan akan tumpah. Cedar kepala
tertutup meliputi: komusio (gegar otak), kontusio (memar) dan laserasi.
(Brunner & Suddarth, 2001: 2211; Long, 1990 : 203)
Klasifikasi cedera kepala berdasarkan nilai GCS:
a. Cedera kepala ringan
Nilai GCS: 13-15, kehilangan kesadaran kurang dari 30 menit. Ditandai dengan:
nyeri kepala, muntah, vertigo dan tidak ada penyerta seperti pada fraktur tengkorak,
kontusio/hematoma.
b. Cedera kepala sedang
Nilai GCS: 9-12, kehilangan kesadaran antara 30 menit 24 jam, dapat mengalami
fraktur tengkorak dan disorientasi ringan (bingung).
c. Cedera kepala berat
Nilai GCS: 3-8, hilang kesadaran lebih dari 24 jam, meliputi: kontusio serebral,
laserasi, hematoma dan edema serebral.
(Hudack dan Gallo, 1996: 226)

Cedera Kepala juga dibedakan berdasarkan kerusakan jaringan otak, yaitu :


a. Komosio Serebri (Gegar Otak)
Gangguan fungsi neurologi ringa tanpa adannya kerusakan struktur otak, terjadi
hilangnya kesadaran kurang dari 10 menit atau tanpa disertai retrograde amnesia,
mual muntah dan nyeri kepala
b. Kontusio Serebri
Gangguan fungsi neurologi disertai kerusakan jaringan otak tetapi kontinuitas otak
masih utuh, hilangmya kesadaran lebih dari 10 menit
c. Laserasio Serebri
Gangguan fungsi neurologi disertai kerusakan otak yang berat dengan fraktur
tengkorak terbuka. Massa otak terkelupas keluar dari rongga intracranial
(Tarwoto : 2007)
Klasifikasi cedera kepala berdasarkan mekanismenya :
a. Cedera Kepala Tumpul
Hal ini dapat disebabkan karena kecelakaan dengan mobil-motor, bisa juga karena
jatuh dari ketinggian atau dipukul dengan benda tumpul
b. Cedera Kepala Tembus
Hal ini dapat disebabkan karena cedera peluru atau cedera tusukan
Klasifikasi cedera kepala berdasarkan morfologi :
a. Fraktur Kranium
Terjadi pada atap atau dasar tengkorak yang terbagi menjadi :
Fraktur Klavikula :
Bisa berbentuk bintang / garis
Depresi / non depresi
Terbuka / tertutup
Fraktur Dasar Tengkorak :
Dengan/ tanpa paralisis n VII
Dengan / tanpa kebocoran cairan serebrospinal
b. Lesi Intrakranium
Dapat digolongkan menjadi
- Lesi Fokal
a) Perdarahan Epidural
Perdarahan Epidural adalah akumulasi darah di atas durameter dan biasannya
terjadi secara akut. Gejala yang dapat dijumpai adalah adanya suatu lucid interval
(masa sadar setelah pingsan sehingga kesadaran menurun lagi), tensi yang semakin
bertambah tinggi, nadi yang semakin bertambah tinggi, nadi yang semakin
bertambah lambat, hemiparesis, dan terjadi anisokori pupil.
b) Perdarahan Subdural
Perdarahan Subdural adalah akumulasi darah dibawah durameter tetapi diatas
membran araknoid yang bisa terjadi secara cepat ( Hematoma subdural akut),
secara lambat ( Hematoma subdural subakut) dan terjadi pada lansia serta peminum
alkohol yang terjadi secara lambat tanpa menunjukan gejala sampai ia membesar
(Hematoma Kronis )
c) Perdarahan Intrakranial
Perdarahan Intrakranial adalah perdarahan yang terjadi di jaringan otak karena
pecahnya arteri yang besar dalam otak Gejala-gejala yang ditemukan adalah :

Hemiplegi, Papilledema serta gejala-gejala lain dari tekanan intrakranium yang


meningkat. Arteriografi karotius dapat memperlihatkan suatu peranjakan dari arteri
perikalosa ke sisi kontralateral serta gambaran cabang-cabang arteri serebri media
yang tidak normal
3.

Etiologi
Cidera kepala dapat disebabkan karena:
a. Kecelakaan lalu lintas,
b. Terjatuh,
c. Kecelakaan industri,
d. Kecelakaan olahraga,
e. Luka, dan
f. Persalinan.
( Tarwoto&Wartonah, 2007, hal 125 )
Selain itu menurut Sastrodiningrat (2009), Etiologi cedera kepala dibagi menjadi
2, yaitu
a. Akselerasi
Cedera yang terjadi apabila kepala bergerak ke suatu arah atau tidak bergerak,
namun dengan tiba tiba ada suatu gaya yang kuat searah dengan gaya kepala yang
menghantam kepala sehingga kepala akan mendapat percepatan
b. Deselerasi
Cedera yang terjadi apabila kepala bergerak dengan cepat ke suatu arah secara tiba
tiba lalu menabrak suatu benda, misalnya saja menabrak tembok sehingga gerakan
kepala berhenti secra tiba tiba.
Untuk faktor risiko yang mengakibatkan cedera kepala antara lain :
Jenis kelamin laki laki lebih beresiko karena biasannya mereka memilki banyak
aktifitas yang mengakibatkan cedera kepala
Faktor umur juga menjadi salah satu faktor risiko dimana usia produktif yaitu sekitar
15-40 th lebih rentan terkena cedera karena perilaku mereka yang cenderung kurang
memahami akan perlindungan diri, selain itu individu dengan usia lebih dari 75 th
juga berisiko karena kepadatan tulang yang mulai menurun
Individu dengan perilaku ketidaktertiban terhadap peraturan lalu lintas juga menjadi
faktor risiko terbesar penyebab cedera kepala
Faktor pekerjaan individu, misalnya seorang petinju dimana ia memilki risiko lebih
besar tekena cedera kepala dari pada individu pada umumnya karena pekerjaan
yang dijalaninya sehari hari
(Slamet Wahyudi : 2012)

4. Patofisiologi
Faktor penyebab : akselerasi, deselerasi, kecelakaan, jatuh
Kecelakaan lalu lintas, penganiayaan tertembak
Benturan Kepala
Trauma Jaringan Lunak

Trauma Kepala

Robekan dan Distrosi

Rusaknya jaringan kepala

Cedera Jaringan Otak

Penekanan

jar.sekitar
Luka Terbuka

Hematoma

Risiko Infeksi

Nyeri

Gg.Integritas Kulit

Perubahan cairan pada

Suplai

daerah
Intra dan Ekstra sel

darah

ke

trauma meningkat

Edema Otak

Vasodiatasi

Tekanan Intra Kranial Meningkat


Aliran darah ke otak Menurun
Risiko Ketidak efektifan
Perfusi jaringan Otak
Merangsang
Hipotalamus

Hipoksia
Jaringan

Hipotalamus
Irreversibel
Terviksasi

Merangsang inferior
Hipofisis

Kerusakan
pertukaran gas

Otak tidak bisa


Bermetabolisme

Mengeluarkan Steroid
dan adrenal

Brain

Damage
Produksi ADH

Pernafasan

Otak
Menurun
Retensi
Na dan H2O
Dehidrasi

Dangkal

Sekresi HCL

Kematian

Meningkat

Ketidakefektifan
Muntah Proyektil
Pola Nafas
Ketidakseimbangan Nutrisi
Kurang dari Kebutuhan Tubuh

Kekurangan Volume Cairan


5. Manifestasi Klinis
Gejala Umum Cedera Kepala :
Battle sign (warna biru atau ekhimosis dibelakang telinga di atas os mastoid)
Hemotipanum (perdarahan di daerah menbran timpani telinga)
Periorbital ecchymosis (mata warna hitam tanpa trauma langsung)
Rhinorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari hidung)
Otorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari telinga)
(Gejala diatas menandakan adanya Fraktur pada Basis Cranii)
Terdapat Hematoma
Nyeri Kepala dan mual muntah
Gejala klinis cedera kepala berdasarkan tingkatannya, antara lain:

a. Gejala klinis untuk Cedera Kepala Ringan :


Pasien tertidur atau kesadaran yang menurun selama beberapa saat kemudian
sembuh
Sakit kepala yang menetap atau berkepanjangan.
Mual atau dan muntah
Gangguan tidur dan nafsu makan yang menurun
Perubahan keperibadian diri
Letargik
b. Gejala klinis untuk Trauma Kepala Sedang:
Kelemahan pada salah satu tubuh disertai kebingungan bahkan koma
Gangguan kesadaran
Abnormalitas pupil dan secara tiba-tba mengalami defisit neurologi
Perubahan TTv dan gangguan pengelihatan serta pendengaran
Kejang otot, Sakit Kepala dan Vertigo
Disfungsi sensorik dan gangguan pergerakan
c. Gejala Klinis untuk Trauma Kepala Berat :
Simptom atau tanda-tanda cardinal yang menunjukkan peningkatan di otak menurun

atau meningkat
Perubahan ukuran pupil (anisokoria)
Triad Cushing (denyut jantung menurun, hipertensi, depresi pernafasan)
Apabila meningkatnya tekanan intrakranial, terdapat pergerakan atau posisi

abnormal ekstrimitas
( Reissner : 2009 )
Peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK) juga dapat dikenali melalui beberapa gejala,
diantarannya :
Mengalami muntah proyektil tanpa mual
Mengalami Kejang akibat gangguan di bagian korteks serebri
Nyeri Kepala
Pemburukan Derajat Kesadaran
Penurunan Fungsi Motorik
Terdapat Papiledema akibat oklusi vena sentralis retina
Hilangnya refleks batang otak yang mengakibatkan hilangnya refleks kornea,
okulosefalik dan aukulovestibuler(Cholik Harun : 2009)
Cedera kepala menurut Judikh Middleton (2007) akan menimbulkan gangguan
neurologis / tanda-tanda sesuai dengan area atau tempat lesinya yang meliputi:
a. Lobus frontal
- Adanya gangguan pergerakan bagian tubuh (kelumpuhan)
- Ketidakmampuan untuk melakukan gerakan rumit yang
-

di

perlukan

untuk

menyelesaikan tugas yang memiliki langkah-langkah, seperti membuat kopi


Kehilangan spontanitas dalam berinteraksi dengan orang lain
Kehilangan fleksibilitas dalam berpikir
Ketidakmampuan fokus pada tugas
Perubahan kondisi kejiwaan (mudah emosional)
Perubahan dalam perilaku social
Perubahan dalam personalitas Ketidakmampuan dalam berpikir (kehilangan memori)

b. Lobus parietal

- Ketidakmampuan untuk menghadirkan lebih dari satu obyek pada waktu yang
-

c.

d.

e.

f.

bersamaan
Ketidakmapuan untuk memberi nama sebuah obyek (anomia)
Ketidakmampuan untuk melokalisasi kata-kata dalam tulisan (agraphia)
Gangguan dalam membaca (alexia)
Kesulitan menggambar obyek
Kesulitan membedakan kiri dan kanan
Kesulitan mengerjakan matematika (dyscalculia)
Penurunan kesadaran pada bagian tubuh tertentu dan/area disekitar (apraksia) yang

memicu kesulitan dalam perawatan diri


- Ketidakmampuan fokus pada perhatian fisual/penglihatan
- Kesulitan koordinasi mata dan tangan
Lobus oksipital
- Gangguan pada penglihatan (gangguan lapang pandang)
- Kesulitan melokalisasi obyek di lingkungan
- Kesulitan mengenali warna (aknosia warna)
- Teriptanya halusinasi
- Ilusi visual-ketidakakuratan dalam melihat obyek
- Buta kata-ketidakmampuan mengenali kata
- Kesulitan mengenali obyek yang bergambar
- Ketidakmampuan mengenali gerakan dari obyek
- Kesulitan membaca dan menulis
Lobus temporal
- Kesulitan mengenali wajah (prosoprognosia)
- Kesulitan memahami ucapan (afasiawernicke)
- Gangguan perhatian selektif pada apa yang dilihat dan didengar
- Kesulitan identifikasi dan verbalisai obyek
- Hilang ingatan jangka pendek
- Gangguan memori jangka panjang
- Penurunan dan peningkatan ketertarikan pada oerilaku seksual
- Ketidakmampuan mengkategorikan onyek (kategorisasi)
- Kerusakan lobus kanan dapat menyebabkan pembicaraan yang persisten
- Peningkatan perilaku agresif
Batang otak
- Penurunan kapasitas vital dalam bernapas, penting dalam berpidato
- Menelan makanan dan air (dysfagia)
- Kesulitan dalam organisasi/persepsi terhadap lingkungan
- Masalah dalam keseimbangan dan gerakan
- Sakit kepala dan mual (vertigo)
- Kesulitan tidur (insomnia, apnea saat tidur)
Cerebellum
- Kehilangan kemampuan untuk mengkoordinasi gerakan halus
- Kehilangan kemampuan berjalan
- Ketidakmampuan meraih obyek
- Bergetar (tremors)
- Sakit kepala (vertigo)
- Ketidakmampuan membuat gerakan cepat
Menurut Mansjoer (2000) manifestasi klinis cedera kepala berdasarkan beratnya

cedera sesuai skor GCS yaitu:


a. Cedera kepala ringan (GCS 13 15)
- Pasien sadar, menuruti perintah tapi disorientasi
- Tidak ada kehilangan kesadaran

- Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang


- Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing
- Pasien dapat menderita laserasi, hematoma kulit kepala
- Tidak adanya criteria cedera kepala sedang sampai berat
b. Cedera kepala sedang (GCS 9 - 12)
- Pasien bisa atau tidak bisa menuruti perintah, namun tidak memberi respon yang
sesuai dengan pernyataan yang di berikan
- Amnesia paska trauma
- Muntah
- Tanda kemungkinan fraktur cranium (tanda Battle, mata rabun, hemotimpanum, otorea
atau rinorea cairan serebro spinal)
- Kejang
c. Cedera kepala berat (GCS 8)
- Penurunan kesadaran sacara progresif
- Tanda neorologis fokal
- Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi cranium (Mansjoer, 2000)
6. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang untuk trauma kepala menurut Doengoes (2000) dan Price &
Wilson (2006) antara lain:
a. CT Scan (dengan / tanpa kontras)
Mengidentifikasi adanya sol, hemoragik, menentukan ventrikuler, dan pergeseran
jaringan otak.
b. MRI (dengan / tanpa kontras)
Menggunakan medan magnet kuat dan frekuensi radio, dapat mendiagnosis tumor,
infark, dan kelainan padapembuluh darah.
c. Angiografi serebral
Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan otak akibat edema
dan trauma perdarahan. Digunakan untuk mengidentifikasi dan menentukan kelainan
vaskuler serebral.
d. Angiografi substraksi digital
Suatu jenis angiografi yang menggabungkan radiografi dengan teknik komputerisasi
untuk memperlihatkan pembuluh darah tanpa gangguan dari tulang dan jaringan lunak di
sekitarnya.
e. EEG (Electro Ensephalogram)
Untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya gelombang patologis. EEG
mengukur aktifitas listrik lapisan superficial korteks serebri melalui elektroda yang
dipasang di luar tengkorak pasien.
f. ENG (Electro Nistagmogram)
Merupakan pemeriksaan elektro fisiologis vestibularis yang dapat digunakan untuk
mendiagnosis gangguan sistem saraf pusat.
g. X-ray
Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur). Pergeseran struktur dari garis
tengah (karena perdarahan, edema) adanya fragmen tulang.
h. BAEK (Brain Auditon Euoked Tomography)
Menentuukan fungsi korteks dan batang otak.
i. PET (Positron Emmision Tomography)

Menunjukkan perubahan aktifitas metabolism batang otak.


j. Fungsi lumbal, CSS
Dapat menduga kemungkinan adanya perubahan subarachnoid.
k. GDA (Gas Darah Arteri)
Mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan meningkatkan TIK.
l. Kimia (elektrolit darah)
Mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam peningkatan TIK / perubahan
mental. (Doengoes, 2000; Price & Wilson, 2006).
7. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan trauma kepala menurut Smeltzer (2001) dan Long (1996) antara lain:
a. Dexamethason / Kalmetason : sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai
b.
c.
d.
e.

dengan berat ringannya trauma.


Terapi hiperventilasi (pada trauma kepala berat) : untuk mengurangi vasodilatasi.
Analgetik : sebagai pereda nyeri.
Gliserol (manitol 20% glukosa 40%) : larutan hipertonis sebagai anti edema.
Metronidazole : untuk pengobatan infeksi anaerob, atau antibiotik yang mengandung

penicillin sebagai barier darah otak.


f. Cairan infuse dextrose 5%, aminousin, aminofel, diberikan 18 jam pertama sejak
terjadinya kecelakaan, selama 2-3 hari kemudian diberikan makanan lunak.
g. Pembedahan
Intrakranial : Evakuasi bedah saraf segera pada hematom yang mendesak ruang
Ekstrtakranial : Inspeksi untuk komponen fraktur kranium yang menekan pada laserasi
kulit kepala. Jika ada, maka hal ini membutuhkan terapi bedah segera dengan
debridement luka dan menaikkan fragmen tulang untuk mencegah infeksi lanjut pada

meningen otak.
Manajemen operatif kadang diperlukan pada:
luka kulit kepala
fraktur depresi tengkorak
lesi massa intrakranial
cedera tajam pada otak

8. Komplikasi
Komplikasi yang sering dijumpai dan berbahaya menurut Markam (1999) pada cedera
kepala meliputi:
a.

Koma
Penderita tidak sadar dan tidak memberikan respon disebut koma. Pada situasi ini
secara khas berlangsung hanya beberapa hari atau minggu, setelah masa ini penderita

akan terbangun, sedangkan beberapa kasus lainnya memasuki vegetatife state.


Walaupun demikian penderita masih tidak sadar dan tidak menyadari lingkungan
b.

sekitarnya. Penderita pada vegetatife state lebih dari satu tahun jarang sembuh.
Kejang / Seizure
Penderita yang mengalami cedera kepala akan mengalami sekurang- kurangnya sekali
kejang pada masa minggu pertama setelah cedera. Meskipun demikian, keadaan ini

c.

berkembang menjadi epilepsy.


Infeksi
Fraktur tulang tengkorak atau luka terbuka dapat merobekkan membran (meningen)
sehingga kuman dapat masuk infeksi meningen ini biasanya berbahaya karena

d.

keadaan ini memiliki potensial untuk menyebar ke system saraf yang lain.
Hilangnya kemampuan kognitif
Berfikir, akal sehat, penyelesaian masalah, proses informasi dan memori merupakan
kemampuan kognitif. Banyak penderita dengan cedera kepala mengalami masalah

e.

kesadaran.
Penyakit Alzheimer dan Parkinson
Pada khasus cedera kepala resiko perkembangan terjadinya penyakit Alzheimer tinggi
dan sedikit terjadi Parkinson. Resiko akan semakin tinggi tergantung frekuensi dan

f.

keparahan cedera.
Kerusakan Saraf Kranial
Anosmia
Kerusakan n. Olfaktorius yang menyebabkan gangguan sensasi penciuman total
Gangguan Pengelihatan
Kerusakan pada n.opticus timbul segera setelah mengalami cedera yang biasnnya
disertai hematoma di sekitar mata, proptosis akibat adannya perdarahan dan edema
didalam orbita
Oftalmoplegi
Ini merupakan kellumpuhan pada otot-otot penggerak bola mata, umumnya disertai
proptosis dan pupil yang midriatik
Gangguan Pendengaran
Biasannya disertai vertigo dan nistagmus kaena adannya hubungan erat antara koklea,
vestibula dan saraf
Paresis Fasialis
Merupakan gangguan pengecapan lidah, hilangnya kerutan dahi, kesulitan menutup
mata dan mulut
Disfasia
Kesulitan memahami bahasa disebabkan oleh kerusakan Sistem Saraf Pusat
Hemiparesis
Kelumpuhan anggota gerak pada satu sisi yang merupakan akibat dari perdarahan

g.

otak, empiema subdural dan herniasi transtentorial


Sindrom Pasca Trauma Kepala
Merupakan gejala yang kompleks yang meliputi nyeri kepala, vertigo,gugup, mudah
tersinggung, gangguan konsentrasi, penurunan daya ingat,mudah lelah, sulit tidur dan

ganguan fungsi seksualitas


h. Fistula Karotiko Kavernosus

Hubungan tidak normal antar karotis interna

dengan sinus kavernosus, umumnya

disebabkan karena cedera pada dasar tengkorak yang sering ditandai dengan
hipereremia, pembengkakan konjungtiva, diplopia dan penurunan visus, nyeri kepala an
orbita, dan kelumpuhan otot penggerak bola mata

REFERENSI :
Doengoes, M. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Hudak & Gallo. Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Volume II. Jakarta: EGC; 1996
Smeltzer, Suzanne C, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC, Jakarta
Batticaca Fransisca B, 2008, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Persarafan, Jakarta : Salemba Medika
Pierce A. Grace & Neil R. Borley, 2006, Ilmu Bedah, Jakarta : Erlangga
Brunner & Suddart, 2001. Buku Ajar Medikal Keperawatan vol 3. EGC, Jakarta

Hipotesa Monro-Kellie
Teori ini menyatakan bahwa tulang tengkorak tidak dapat meluas sehingga bila salah satu
dari ketiga komponennya membesar, dua komponen lainnya harus mengkompensasi
dengan mengurangi volumenya ( bila TIK masih konstan ). Mekanisme kompensasi intra
kranial ini terbatas, tetapi terhentinya fungsi neural dapat menjadi parah bila mekanisme ini
gagal. Kompensasi terdiri dari meningkatnya aliran cairan serebrospinal ke dalam kanalis
spinalis dan adaptasi otak terhadap peningkatan tekanan tanpa meningkatkan TIK.
Mekanisme kompensasi yang berpotensi mengakibatkan kematian adalah penurunan aliran
darah ke otak dan pergeseran otak ke arah bawah ( herniasi ) bila TIK makin meningkat.
Dua mekanisme terakhir dapat berakibat langsung pada fungsi saraf. Apabila peningkatan
TIK berat dan menetap, mekanisme kompensasi tidak efektif dan peningkatan tekanan
dapat menyebabkan kematian neuronal (Lombardo, 2003).