Anda di halaman 1dari 19

Hematoma Epidural Progresif

Oleh:
Semy farastomo
110203053

Abstrak

Hematoma epidural progresif setelah trauma kepala seringkali terlihat


pada CT scan serial. Kemajuan terkini modalitas pencitraan dan
pengobatan dapat mempengaruhi insidens dan kualitas luarannya. Pada
penelitian ini, hematoma epidural progresif diamati pada 9,2% dari 412
pasien trauma di mana dua CT scan-nya diperoleh dalam 24 jam setelah
trauma, dan pada sebagian besar kasus hematoma epidural progresif
berkembang 3 hari setelah trauma.

Kesimpulannya, hematoma epidural memiliki kecenderungan yang lebih


besar segera setelah trauma, seringkali dalam bentuk yang dramatis dan
cepat. Pengenalan penyebab cedera otak sekunder yang dapat ditangani
ini dan faktor risiko terkait dapat membantu mengidentifikasi kelompok
yang berisiko dan memberikan penanganan pasien dengan cedera otak
traumatik yang sesuai.

Pendahuluan

Cedera otak traumatik merupakan penyebab kematian dan kecacatan


yang umum terjadi, juga merupakan salah satu masalah kesehatan dan
sosial yang paling penting di sebagian besar negara, termasuk Cina.
Akibat sekunder cedera otak traumatik yang diketahui adalah hematoma
epidural, yang secara klasik dianggap komplikasi akut cedera otak
traumatik yang perkembangan maksimumnya terjadi segera setelah
trauma

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan insidens dan waktu


kejadian hematoma epidural progresif pada pasien dengan trauma
kepala, dan juga untuk mengidentifikasi faktor risiko hematoma epidural
progresif dan akibatnya terhadap kualitas luaran.

Bahan dan Metode Klinis

Populasi Pasien :
Dilakukan sebuah kajian retrospektif dari 667 pasien cedera otak
traumatik yang terdaftar di institusi kami antara tahun 2007 dan 2009

Penanganan Pasien

Semua pasien dievaluasi dengan CT scan awal dan dilanjutkan dengan


pemeriksaan neurologis serial. Setiap pasien mendapatkan CT Scan
sekurang-kurangnya dua kali dalam 24 jam pertama setelah trauma.
Untuk beberapa pasien dengan cedera otak difus, CT scan follow up
dijadwalkan pada hari ketiga, hari kelima, dan hari ketujuh setelah
trauma

Indikasi pembedahan antara lain midline shift lebih dari 5 mm, volume
hematoma yang lebih dari atau sama dengan 30/10 mL
(supratentorium/infratentorium), atau gangguan neurologis. Kraniektomi
dekompresi dilakukan dengan sebuah flap tulang besar (diameter > 10
cm) dan dilakukan durotomi di tengah flap, dan duraplasti yang diperluas
dengan autofasia atau bahan tiruan. Jaringan otak tidak diangkat secara
rutin kecuali untuk kasus dengan kontusio berat. Beberapa pasien
dengan GCS 8 atau kurang dari 8 menjalani pemantauan tekanan
intrakranial melalui kateter intraparenkim fiberoptik atau ventrikulostomi

Mendefinisikan Hematoma Epidural Progresif


dan Prediktor-Prediktornya

Kami mendefinisikan hematoma epidural progresif sebagai penampakan


hematoma baru atau peningkatan ukuran hematoma yang mencolok,
yaitu peningkatan 25% atau lebih pada sekurang-kurangnya satu
dimensi dari satu lesi atau lebih yang terlihat pada CT scan pertama
setelah trauma

Hasil

412 pasien dengan trauma kepala saat masuk rumah sakit merupakan
fokus analisis ini. Usia pasien berkisar dari 12 sampai 86 tahun, dengan
usia rata-rata 35,4 tahun; 251 pasien (61%) adalah laki-laki dan 161
pasien (39%) adalah perempuan. Mekanisme trauma antara lain 273
kecelakaan kendaraan bermotor (67,1%), 82 pasien jatuh (19,9%), 23
pasien heavy strikes (pasien yang tertimpa benda berat seperti bata,
tongkat, atau benda yang jatuh) (5,6%), dan 34 kasus penyerangan
(8,3%). GCS rata-rata saat masuk rumah sakit adalah 8,2 (berkisar
antara 3-15). Selain itu, 412 pasien menjalani total 2.765 CT scan
ulangan. Waktu rata-rata dari trauma ke CT scan pertama adalah 2,7 jam
dan waktu antara CT scan pertama dan kedua adalah 8,7 jam. 154
pasien menjalani kraniektomi dekompresi karena kontusio intrakranial
yang terkait dan hematoma serta edema serebri berat. Pemantauan
tekanan intrakranial dilakukan pada 103 pasien dengan GCS 8 atau
kurang dari 8

Dari 412 pasien yang dievaluasi, 38 pasien mengalami hematoma


epidural progresif selama dirawat di rumah sakit (9,2%). Saat masuk
rumah sakit, 23 kasus tidak mengalami hematoma epidural, hematoma
epidural kecil terdapat pada 15 kasus. Usia pasien tersebut berkisar dari
23 sampai 72 tahun dan usia rata-rata 33,5 tahun. Waktu
berkembangnya hematoma epidural progresif bervariasi dari 2 jam
hingga 7 hari dan rata-rata 23 jam. Hematoma epidural progresif tampak
setelah trauma dalam 6 jam pertama pada 11 kasus (29,0%), 7-24 jam
pada 14 kasus (36,8%), 1-3 hari pada 10 kasus (26,3%), dan 3-7 hari
pada 3 kasus (7,9%)

: Kasus 1. Hematoma epidural progresif pada laki-laki berusia 32 tahun setelah kecelakaan
kendaraan bermotor. (a), (b), dan (c): CT scan awal yang diperoleh 2 jam setelah trauma,
yang menunjukkan hematoma epidural kecil pada frontalis sinistra. (d), (e), dan (f): CT scan
kedua yang diperoleh 6 jam setelah trauma yang menunjukkan peningkatan ukuran
hematoma yang tidak ambigu.

Gambar 2: Kasus 2. Hematoma epidural progresif pada laki-laki


berusia 51 tahun setelah kecelakaan kendaraan bermotor. (a) dan
(b): CT scan awal yang menunjukkan hematoma subdural akut
sinistra dengan kompresi ventrikel dan midline shift ke kanan. (c) dan
(d): CT scan ulangan 16 jam setelah trauma dan 13 jam setelah
kraniektomi frontal-temporal; hematoma epidural kontralateral terlihat.

Diskusi

Sebuah kebijakan CT scan follow up rutin untuk pasien dengan trauma


kepala umumnya diadopsi di banyak pusat trauma. Diketahui dengan
baik bahwa CT scan ulangan dini berpotensi penting untuk mendeteksi
perdarahan progresif dan memicu intervensi medis atau bedah tepat
pada waktunya, untuk mencegah berkembangnya kerusakan sekunder
serius pada pasien dengan cedera otak traumatik. Lebih lanjut, CT scan
telah meninjukkan bahwa hematoma yang terlambat atau bersifat
progresif setelah trauma kepala lebih sering terjadi daripada hematoma
yang dicurigai sebelumnya. Beberapa penelitian melaporkan bahwa
perdarahan progresif dini terjadi pada sekitar 30-42,3% pasien trauma
kepala, dan terjadi paling seirng pada kontusio atau hematoma
intraparenkim

Hematoma epidural progresif juga sering terlihat pada CT scan serial


pada pada pasien trauma kepala. Hal ini didefinisikan pada dasar kriteria
radiologi: hematoma epidural yang tidak tanpak, atau yang hanya
berukuran kecil pada CT scan pertama setelah trauma tetapi hematoma
tampak atau ukurannya membesar signifikan pada CT scan ulangan
selama evaluasi pasien. Akan tetapi, jumlah peningkatan hematoma dan
waktu terjadinya progresi perdarahan bersifat ambigu. Pada penelitian
kami, hematoma epidural progresif didefinisikan sebagai penampakan
hematoma baru, atau peningkatan tegas 25% atau lebih ukuran
hematoma selama dirawat di rumah sakit. Insidens hematoma epidural
yang terlambat yang dilaporkan bervariasi dari 5,6%-13,3% [8, 14, 15].
Serupa dengan hal tersebut, kami mengamati hematoma epidural
progresif pada 9,22% pasien trauma kepala.

Pada penelitian ini, hematoma epidural progresif terjadi di awal


perjalanan klinis, dan dua puluh lima pasien mengalami hematoma
epidural progresif dalam 1 hari setelah trauma. Hematoma epidural
progresif jarang terjadi lebih dari tiga hari setelah trauma. Akan tetapi,
pada beberapa keadaan, hematoma epidural kadang-kadang
berkembang lebih lambat. Pada penelitian kami, seorang pasien laki-laki
berusia 39 tahun mengalami peningkatan ukuran hematoma epidural
yang signifikan 7 hari setelah trauma dan pada akhirnya memerlukan
pembedahan. Borovich dkk melaporkan seorang pasien dengan interval
11 hari antara terjadinya trauma kepala dengan diagnosis hematoma
epidural yang terlambat

Kami menemukan bahwa usia rata-rata pasien dengan hematoma


epidural progresif lebih muda dari pasien tanpa hematoma epidural
progresif dalam penelitian ini, walaupun tidak ada hubungan signifikan
antara perbedaan usia dan hematoma epidural progresif dengan analisis
statistik. Telah dibuat hipotesis bahwa pembuluh darah berbasis dura
dapat lebih mudah mengalami robekan atau avulsi akibat deformasi
tengkorak pada pasien muda, karena dura menjadi semakin melekat
pada tengkorak seiring bertambahnya usia, yang mengurangi risiko
hematoma epidural. Walaupun hasil penelitian menunjukkan tidak ada
hubungan antara skor GCS dengan hematoma epidural progresif, skala
ini berguna untuk mengevaluasi status pasien dengan cedera otak
traumatik dan meningkatkan kualitas luaran. Ono dkk menganalisis
secara retrospektif 272 pasien dengan trauma kepala berat dan
menunjukkan bahwa skor GCS merupakan satu-satunya faktor
prognostik yang signifikan pada kelompok hematoma epidural

Waktu pengambilan CT scan pertama jelas merupakan faktor penting


untuk memprediksi terjadinya hematoma epidural progresif. Tidak
diragukan bahwa makin cepat CT scan dilakukan setelah trauma, makin
besar kemungkinan progresi perdarahan pada CT scan selanjutnya.
Temuan yang sama dilaporkan oleh Oertel dkk. Pada penelitian mereka
dengan 107 pasien yang CT scan pertamanya dilakukan dalam 2 jam
pertama setelah trauma, 48,6% mengalami trauma hemoragik progresif,
dibandingkan dengan 22,9% pasien yang menjalani CT scan trauma
mereka dalam 2-10 jam setelah trauma [8]. Adalah hal yang
memungkinkan bahwa pasien trauma tersebut menjalani CT scan kepala
mereka apabila interval waktu dari trauma ke CT scan awal lebih singkat,
pembentukan hematoma epidural tidak mencapai ukuran hampir
maksimum. Selama periode awal ini, cedera intrakranial dapat
berkembang pesat. Selain itu, CT scan ulangan selanjutnya dapat
menunjukkan peningkatan ukuran hematoma dibandingkan dengan
temuan CT awal.

Temuan signifikan lain pada penelitian ini adalah kraniektomi dekompresi


tampaknya memiliki nilai prediktif hematoma epidural progresif secara
independen. Hematoma intrakranial pasca operasi telah diamati pada
laporan sebelumya dengan insidens yang berkisar dari 7,8%-61% [18].
Pada peneitian ini, kami menemukan bahwa hampir 16% pasien yang
menjalani kraniektomi dekompresi mennjukkan progresi perdarahan
epidural. Kraniektomi dekompresi telah terbukti bermanfaat untuk
mengurangi tekanan intrakranial, dan biasanya dilakukan sebagai usaha
terakhir pada pasien dengan edema maligna karena hematoma
intrakranial. Walaupun mudah secara teknis, prosedur ini bukan tanpa
komplikasi signifikan. Akan tetapi, berkurangnya tekanan pembuluh
darah serebral yang terjadi secara tiba-tiba setelah kraniektomi
dekompresi kadang-kadang dapat menyebabkan perdarahan progresif
[19]. Mohindra dkk melaporkan dua kasus hematoma ekstradural
kontralateral setelah kraniektomi dekompresi untuk hematoma subdural
akut [20]. Su dkk juga melaporkan 12 pasien trauma dengan hematoma
subdural akut yang mengalami hematoma epidural kontralateral yang
terlambat setelah evakuasi hematoma, dan hanya tiga pasien dengan
trauma kepala yang tidak begitu berat yang mengalami pemulihan yang
baik [21]. Dengan demikian, kami mengemukakan bahwa CT scan rutin
pasca operasi harus dilakukan segera setelah pembedahan kranial untuk
trauma kepala, khususnya pada pasien dengan fraktur tulang tengkorak
yang kontralateral dengan hematoma asal. Hal ini dapat membantu
deteksi dan terapi komplikasi tersebut tepat pada waktunya.

pasien dengan hematoma epidural progresif rata-rata mengalami


peningkatan tekanan intrakranial beberapa jam selama periode trauma
akut dibandingkan dengan pasien tanpa hematoma epidural progresif,
meskipun setelah menjalani terapi intensif tekanan intrakranial.
Sebaliknya, follow up kualitas luaran 3 bulan setelah trauma tampaknya
tidak dipengaruhi oleh adanya hematoma epidural progresif. Walaupun
demikian, kami masih sangat merekomendasikan CT scan follow up dini
dan pemantauan intensif dijamin pada pasien trauma kepala sedang dan
berat yang CT scan awalnya menunjukkan bukti trauma hemoragik
intrakranial.

Kesimpulan

Kami melakukan CT scan serial pada 412 pasien rumah sakit dengan
trauma kepala. Hematoma epidural progresif ditemui pada 38 pasien
(9,2%), yang dapat berkembang dalam tiga hari pertama setelah trauma
kepala. Identifikasi awal dan keberhasilan penanganan komplikasi ini
memerlukan kecurigaan klinis berindeks tinggi. Penelitian ini
menunjukkan bahwa tekanan darah yang rendah, adanya koagulopati,
kraniektomi dekompresi, dan interval antara trauma dengan CT scan
pertama yang lebih singkat merupakan faktor risiko berkembangnya
hematoma epidural progresif. Pasien dengan hematoma epidural
progresif memiliki derajat peningkatan tekanan intrakranial yang lebih
besar, dan hampir 80% psien tersebut memerlukan kraniektomi untuk
pengangkatan hematoma. Berdasarkan temuan tersebut, kami
merekomendasikan CT scan follow up rutin yang dilakukan segera untuk
semua pasien dengan perburukan kondisi, atau 12-24 jam setelah
masuk rumah sakit jika terdapat hipotensi atau koagulopati.

TERIMA KASIH