Anda di halaman 1dari 48

Laporan Praktikum

Laboratorium Teknik Material III


Modul B Teori Laminat Klasik
oleh :
Kelompok

Anggota (NIM)

Afina Hasna G. T.

(13712021)

Karel Adipria (13712035)


Reyza Prasetyo

(13712050)

Iskandar Zulkarnain (13712053)


Alfiz Muhammad Q. (13712054)
Tanggal Praktikum

18 Maret 2015

Tanggal Penyerahan Laporan

23 Maret 2015

Nama Asisten (NIM)

Evan Kurnia (13711046)

Laboratorium Teknik Metalurgi dan Teknik Material


Program Studi Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2015

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Penggunaan material komposit di dunia sudah semakin berkembang
seiring dengan meningkatnya kebutuhan material teknik yang mampu menunjang
kemajuan teknologi. Komposit yang memiliki kekakuan dan kekuatan spesifik
yang tinggi mampu memenuhi kebutuhan manusia akan produk yang ramah
lingkungan untuk menyelasaikan masalah energi dan sember daya alam yang
makin menipis.
Penggunaan material komposit sekarang digunakan dalam dunia industri,
otomotif, dan lain-lain. Dalam dunia industry contohnya, pipa yang digunakan
untuk mengalirkan minyak atau gas mulai beralih ke penggunaan material
komposit. Hal tersebut dilakukan karena komposit memiliki resistensi terhadap
korosi yang tinggi, sehingga pipa yang digunakan memiliki umur penggunaan
yang panjang. Dan didalam dunia otomotif, komposit yang relatif lebih ringan
dibandingkan logam mampu menurunkan energi yang digunakan oleh kendaraan
untuk bergerak. Sehingga kendaraan menjadi ramah lingkungan dan hemat bahan
bakar sehingga lingkungan dan suplai sumber daya alam terjaga.
Namun untuk mengaplikasikan material komposit dibutuhkan pemodelan
yang mampu menunjukan perilaku material komposit ketika mendapatkan beban
atau menunjukan safety factor dari komposit tersebut. Salah satu perangkat lunak
yang dapat digunakan sebagai pemodelan untuk menunjukan perilaku komposit
adalah GENLAM.
I.2. Tujuan Praktikum
Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi konstanta teknik suatu lamina.

BAB II
TEORI DASAR
Secara umum, pembebanan pada komposit laminat terdiri dari dua jenis
pembebanan, yakni pembebanan mekanik yang terdiri dari dari longitudinal
tensile load, longitudinal compressive load, transverse tensile load, transverse
compressive load, shear load, dan pembebanan higrotermal yang diakibatkan
pengaruh kelembaban udara dan perbedaaan temperatur lingkungan yang dapat
mempengaruhi performa komposit.
Pembebanan mekanik pada dasarnya akan menghasilkan tegangan normal
dan tegangan geser pada komposit tersebut. Pada komposit, tegangan normal yang
terjadi dapat disebabkan oleh pembebanan tarik atau tekan maupun oleh beban
bending.
Tegangan normal yang disebabkan beban tarik atau tekan menghasilkan
distribusi tegangan seperti berikut :

Gambar 1. Distribusi tegangan normal akibat beban tarik.


Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Stress_(mechanics)

pada gambar diatas, tegangan terdistribusi secara merata dan besar tegangannya
homogen.

Sedangkan tegangan normal yang disebabkan oleh beban bending


menghasilkan distribusi tegangan seperti berikut :

Gambar 2. Distribusi tegangan akibat beban bending.


Sumber : Mechanics of Materials 8th edition, 2011

pada gambar diatas, perubahan secara linear regangan normal mengakibatkan


variasi linear tegangan normal, dimana tegangan bernilai nol di sumbu netral dan
bernilai maksimum di titik terjauh dari sumbu netral. Pada gambar diatas,
tegangan yang bekerja diatas sumbu netral bersifat tekan dan bersifat tarik
dibawah sumbu netral bila arah bending berlawanan arah jarum jam.
Tegangan geser yang terjadi pada laminat komposit terdistribusi seperti
gambar berikut :

Gambar 3. Distribusi tegangan geser pada material


Sumber : http:// www.ecourses.ou.edu/ebook/mechanics/ch04/sec043/media/d4329.gif

Tegangan geser yang dialami oleh laminat komposit umumnya dapat


menyebabkan matrix shear failure ataupun debonding antara matriks dan serat.

Pembebanan higrotermal juga berpengaruh terhadap komposit seperti


mempengaruhi sifat-sifat elastis seperti elastisitas. Higrotermal lebih sensitif
diterima oleh matriks sehingga komposit yang didominasi matriks lebih sensitif
terhadap pembebanan higrotermal.
Pada laminat, tegangan normal yang dialami tidak terdistribusi secara
linear.

Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa pembebanan pada laminat

menyebabkan regangan bersifat linear. Namun, karena modulus elastisitas antar


tiap laminat dapat berbeda, maka tegangan yang dialami tiap lamina berbeda.

Gambar 4. Contoh distribusi tegangan pada laminat


Sumber : Slide Mata Kuliah Material Komposit

Perbedaan modulus elastisitas antar lamina disebabkan antara lain oleh


perbedaan material penyusun tiap lamina ataupun disebabkan perbedaan orientasi
tiap lamina meskipun material penyusunnya sama.

Fibre type

E
longitudinal
(GPa)

E
transversal
(GPa)

Kevlar 49 (Aramid)
122
0.76
Carbon (LM)
230
40
Carbon (HM)
380-390
21
E glass
70
70
Tabel 1. Data kekakuan beberapa macam serat
Sumber : Slide Mata Kuliah Material Komposit

Sebagai contoh lamina yang tersusun atas serat aramid memiliki modulus
elastisitas yang lebih besar dari serat gelas sehingga distribusi tegangan antara
lamina serat aramid akan berbeda dengan lamina serat gelas (122 GPA berbanding
70 Gpa). Pada lamina dengan material penyusun yang sama, perbedaan orientasi
antar lamina juga mempengaruhi distribusi tegangan karena pada umumnya
modulus elastisitas arah longitudinal berbeda dengan arah transversalnya, sebagai
contoh pada serat aramid (122 Gpa berbanding 0,76 GPa).
Kriteria kegagalan pada teori laminat klasik ditentukan berdasarkan
tegangan yang dialami oleh lamina. Cara untuk menunjukkannya digunakan
skema perhitungan Teori Laminat Klasik oleh diagram alir berikut ini:

Gambar 5. Skema

Untuk menentukan sifat mekanik pada lamina, maka perlu diketahui


terlebih dahulu sifat mekanik penyusun lamina. Sifat yang dibutuhkan meliputi
Modulus Elastisitas fiber, Modulus Elastisitas matriks, poisson ratio fiber, poisson
ratio matriks, Modulus Geser fiber, Modulus Geser matrix, dan fraksi volume
fiber. Sifat tersebut bisa didapat dari literatur atau melalui pengujian mekanik.

Data sifat mekanik yang sudah didapatkan kemudian digunakan untuk


menentukan sifat mekanik lamina yaitu Modulus Elatisitas arah longitudinal,
Modulus Elastisitas arah transversal, Modulus Geser lamina, dan poisson ratio
lamina. Setelah mengetahui sifat mekanik lamina, dapat ditentukan matriks
kekakuan lamina [Q] searah sumbu lamina. Kemudian dari setiap lamina
memberikan kontribusi pada matriks kekakuan dalam laminat. Matriks kekakuan
yang sudah diperoleh dan faktor z (dimensi) dapat memengaruhi kekakuan bidang
[A], kekakuan bending [D], dan kekakuan kopel [B] yang ada pada laminat.

[ ] (z
1
B = [Q ] (z
2
1
D = [Q ] (z
3
N

Aij = Q ij
k=
1

zk

ij

ij

k=
1

ij

k=
1

z k2

3
k

z k3

ij

2
k

Data [A], [D], [B] kemudian sesuai dengan gaya dan momen yang bekerja
pada laminat tersebut, sesuai dengan persamaan:

Maka dapat ditentukan nilai regangan bidang dan kelengkungan bidang.


Dari data kelengkungan, regangan bidang dan faktor z yang ada pada lamina,
maka dapat diperoleh nilai

regangan yang terjadi pada lamina. Berdasarkan

=Ee, dengan e merupakan regangan lamina dan E merupakan matriks kekakuan


lamina maka dapat diketahui tegangannya. Tegangan yang dihasilkan kemudian
digunakan untuk memperkirakan kriteria gagal untuk setiap lamina yang terjadi
berdasarkan kriteria kegagalan Tresca dan Von Mises

BAB III
DATA PERCOBAAN
Latihan 1. Sifat sifat Elastis
a. AS-3501 (02,902)s dengan AS-3501 (0,90)2s

Orientasi 0;0;90;90 simetri

Orientasi 0;90;0;90 simetri

b. Scotch-ply UD dengan Scotch-ply (0,90)2

Scotch-ply UD (0,0)4

Scotch-ply (0,90)4

Latihan 2. Pembebanan dan Tegangan

1. Pembebanan hygrothermal pada temperatur ruang (25C)


a. Scotch-ply UD
Stress

Strain

b. Scotch-ply (0, 45, 90, 0, 45, 90)


Stress

Strain

c. IM6 epoxy (0, 45, 90, 0, 45, 90)


Stress

Strain

2. Pembebanan mekanik Scotch-ply UD

a. Pembebanan tarik biaksial masing-masing sebesar 10 N/mm (0.01


MN/m)
Stress

Strain

b. Pembebanan geser sebesar 10 N/mm (0.01 MN/m)


Stress

Strain

c. Momen bending M1 sebesar 10N (0.01 MN)


Stress

Strain

d. Momen torsi sebesar 5 N (0.005 MN)


Stress

Strain

3. Perbandingan 3 material pada soal nomor 1 jika diberi beban


tarik biaksial 10 N/mm (0.01 MN/m)
a. Scotch-ply UD

Stress

Strain

b. Scotch-ply (0, 45, 90, 0, 45, 90)

Stress

Strain

c. IM6 epoxy (0, 45, 90, 0, 45, 90)

Stress

Strain

Latihan 3. Kegagalan pada laminat

1. Pembebanan biaksial sebesar 50 N/mm (0.05 MN/m) tarik-tarik,


tarik-tekan, tekan-tarik, dan tekan-tekan
a. B-N5505 UD
Tarik-tarik

Nilai 1/R

Tarik-tekan

Nilai 1/R

Tekan-tarik

Nilai 1/R

Tekan-tekan

Nilai 1/R

b. B-N5505 (45)s
Tarik-tarik

Nilai 1/R

Tarik-tekan

Nilai 1/R

Tekan-tarik

Nilai 1/R

Tekan-tekan

Nilai 1/R

c. IM6-epoxy (30, 60)s


Tarik-tarik

Nilai 1/R

Tarik-tekan

Nilai 1/R

Tekan-tarik

Nilai 1/R

Tekan-tekan

Nilai 1/R

2. Cross-ply Kevlar-epoxy laminat pada temperatur kamar (25C)

Nilai 1/R

Tugas Setelah Praktikum


1. Dua T300 Epoxy dengan susunan berbeda tetapi Engineering Constant
sama
Komposit T300 epoxy dengan stacking sequence (0,0,60,60)s

Komposit T300 epoxy dengan stacking sequence (0,60,0,60)s

2. AS3501 (0, 0, 45, -45, 90)s dengan tiga jenis pembebanan

Case 1

Case 2

Case 3
3. Analisis tercantum pada BAB IV.

BAB IV
ANALISIS

Latihan 1
a. AS-3501 (0,0,90,90)s dengan AS-3501 (0,90)2s
Pada kedua laminat tersebut, inplane constants untuk keduanya
memiliki nilai yang sama. Hal ini disebabkan karena kedua lamina tersebut
memiliki jumlah lamina yang sama pada setiap orientasinya, hanya saja
memiliki perbedaan cara penyusunan lamina yang tidak berpengaruh
terhadap nilai E. Akibatnya kedua laminat tersebut memiliki nilai E1, E2,
dan E6 yang sama. Berbeda dengan nilai Flexural Constants, pada laminat
AS-3501 (0,0,90,90)s arah pembebanan 1 memiliki nilai modulus
elastisitas 122.2967 GPa, sementara laminat AS-3501 (0,90)2s modulus
elastisitasnya 98.1017 GPa. Nilai modulus elastisitas laminat AS-3501
(0,0,90,90)s yang lebih besar pada arah 1 dikarenakan terdapat 2 lapis
lamina terluar yang orientasinya sejajar yaitu 0. Sedangkan pada laminat
AS-3501 (0,90)2s, lapisan terluarnya sejajar namun lapisan kedua dari luar
memiliki orientasi yang tegak lurus sehingga kemampuan menahan
tegangan tarik/tekannya lebih rendah dibandingkan dengan laminat AS3501 (0,0,90,90). Sehingga pada kasus tersebut, diarah 1 laminat yang 2
lapisan terluarnya memiliki lamina yang orientasinya sejajar 0 akan lebih
kaku daripada laminat yang 2 lapisan lamina terluarnya saling tegak lurus.
Hal demikian dapat terjadi karena pada flexural strength, distribusi
tegangan tarik/tekan material semakin ke permukaan semakin besar.
Kemudian pada arah 2, laminat AS-3501 (0,0,90,90)s memiliki nilai
modulus elastisitas 25.1778 GPa, sementara Laminat AS-3501 (0,90)2s
memiliki modulus elastisitas 49.5003 GPa. Sebaliknya untuk arah 2,
laminat AS-3501 (0,0,90,90)s memiliki nilai modulus elastisitas lebih kecil
karena pada arah 2, dua lapisan lamina terluar dari laminat ini memiliki

orientasi tegak lurus dengan arah pembebanan sehingga orientasi tersebut


lebih lemah menahan tegangan dibanding laminat AS-3501 (0,90)2s yang
2 lapisan terluarnya terdapat salah satu yang berorientasi sejajar sehingga
untuk arah 2 kemampuan untuk menahan tegangan dibagian permukaan
lebih besar laminat AS-3501 (0,90)2s.
b. Scotch-ply UD (0,0)4 dengan Scotch-ply (0,90)2
Pada arah 1, nilai modulus elastisitas pada Scotch-ply UD (0,0)4 =
38.6 GPa sedangkan untuk Scotch-ply (0,90)4 = 23.1125 GPa. Hal
tersebut karena arah orientasi pada Scotch-ply UD (0,0)4 semuanya searah
dengan arah pembebanan, sehingga Scotch-ply UD (0,0)4 akan lebih kaku
dibandingkan dengan Scotch-ply (0, 90)2 yang orientasinya ada yang
tegak lurus dengan arah pembebanan sehingga menurunkan nilai modulus
elastisitasnya. Kemudian pada arah 2, Scotch-ply UD (0,0)4 nilai modulus
elastisitasnya lebih kecil karena seluruh orientasinya tegak lurus arah
pembebanan, sehingga kemampuan menahan distribusi tegangan akan
lebih kecil daripada Scotch-ply (0,90)2 yang memiliki lamina searah
dengan arah pembebanan. Dapat dilihat bahwa inplant constant dan
flexural constant untuk lamina dengan susunan yang sama bernilai sama.
Hal ini bisa terjadi karena pembebanan pada setiap lamina sama dalam
satu laminat namun sesuai dengan distribusi tegangan maka untuk flexural,
semakin ke permukaan maka nilai tegangan semakin besar.

Latihan 2.1.
a. Scotch-ply UD

Pada hasil di atas dapat dilihat bahwa laminat mengalami tegangan tekan di arah
longitudinal dan tegangan tarik di arah transversal. Distribusi tegangan yang
dialami laminat seragam karena tidak ada perbedaan orientasi dan susunan pada
lamina. Sehingga dapat disimpulkan bahwa beban higrothermal yang diberikan
pada laminat dapat menyebabkan terjadinya tegangan normal pada laminat
meskipun nilainya sangat kecil.

Laminat yang sama mengalami perubahan dimensi berupa pengurangan dimensi


di arah longitudinal dan penambahan dimensi di arah transversal. Distribusi
regangan yang terjadi pada laminat seragam karena tidak ada perbedaan orientasi
dan susunan pada lamina. Dapat disimpulkan, bahwa pembebanan higrothermal
menyebabkan terjadinya perubahan dimensi pada laminat.
b. Scotch-ply (0, 45, -45, 90, 0, 45, -45, 90)

Dari laminat di atas, distribusi tegangan yang terjadi pada tiap lamina berbeda.
Hal ini dapat terjadi karena perbedaan orientasi dan susunan lamina. Lamina
keempat dengan orientasi 900 mengalami tegangan arah longitudinal terbesar, di
arah transversal yang mengalami tegangan terbesar adalah lamina kelima dengan
orientasi 00, dan pada tegangan geser yang mengalami tegangan geser terbesar
adalah pada lamina ketiga dengan orientasi -450 lamina keenam dengan orientasi
450. Adanya kemiringan pada grafik tegangan arah 1, disebabkan karena interface
yang terjadi pada antar lamina. Pada gambar di atas juga terlihat adanya gradien
tegangan yang menunjukkan bahwa tegangan di setiap lamina tidak sama.

Dari regangannya, dapat dilihat distribusi regangan yang berbeda tiap laminanya.
Hal ini terjadi karena perbedaan orientasi dan sususan lamina. Dari grafiknya
dapat dilihat bahwa regangan yang terjadi pada lamina arah 1, arah 2, dan arah 6
berbeda-beda. Tanda positif pada gambar di atas menunjukan adanya
penambahan dimensi dan negatif menunjukan adanya pengurangan dimensi.
Kemiringan pada grafik diatas bersifat continue, hal ini dapat terjadi karena setiap
ujung mengalami regangan yang berbeda yang dipengaruhi oleh lamina diatas dan
dibawahnya. Kemiringan continue pada regangan terjadi karena laminat belum
terpisah, deformasi yang terjadi belum mengakibatkan material rusak.

c. IM6 epoxy (0, 45, -45, 90, 0, 45, -45, 90)

Pada gambar di atas terlihat bahwa distribusi tegangan tiap lamina berbeda-beda.
Hal ini terjadi karena orientasi dan susunan lamina yang berbeda-beda. Lamina
yang menerima tegangan terbesar di arah longitudinal terdapat pada lamina
keempat dengan orientasi 900, di arah transversal pada lamina kelima dengan
orientasi 00, tegangan geser pada lamina ketiga dengan orientasi -450 dan lamina
keenam dengan orientasi 450. Pada gambar di atas juga terlihat adanya gradien
tegangan yang menunjukkan bahwa tegangan di setiap lamina tidak sama.
Penjelasan grafik sama dengan yang sebelumnya, hanya saja perbedaan grafik
terjadi karena perbedaan sifat lamina IM6 epoxy dengan skotch ply.
Latihan 2.2
Pembebanan mekanik Scotch-ply UD
a. Pembebanan tarik biaksial masing-masing sebesar 10 N/mm
Berdasarkan grafik, tegangan yang terjadi adalah sama, baik pada
arah 1 (longitudinal) maupun pada arah 2 (transversal) karena orientasi
nya hanya pada arah 0 sehingga tegangan yang terjadi pada arah 1 dan 2
sama besar.,Selain itu, dalam laminat ini tidak terjadi tegangan geser
karena memang hanya diberikan pembebanan tarik biaksial.

Dalam laminat ini juga terjadi pertambahan panjang pada arah


longitudinal, sedangkan pada arah transversal terjadi penyusutan. Hal
ini terjadi karena orientasi yang ada pada laminat ini hanya pada arah 0
(unidirectional) sehingga regangan akan terjadi ke arah longitudinal
dan saja pada arah transversal akan terjadi penyusutan.
b. Pembebanan geser sebesar 10 N/mm
Dalam grafik yang dihasilkan dapat dilihat bahwa tegangan dan
regangan terbesar terjadi pada arah 6 (geser). Hal ini terjadi karena
pembebanan yang diberikan merupakan pembebanan geser sehingga
hasil tegangan regangan terbesar akan ada pada arah gesernya. Pada
arah 1 dan 2 juga terjadi distribusi tegangan, namun regangan lebih
kecil dibandingkan pada arah 6.
c. Momen bending M1 sebesar 10 N
Jika terdapat suatu material dan dikenai pembebanan bending maka
akan timbul distribusi tegangan pada penampangnya. Hal ini juga
terjadi pada laminat yang diberikan pembebanan bending. Pembebanan
bending yang diberikan ada pada arah 1 sehingga distribusi tegangan
dan regangan terbesar terjadi pada arah 1. Daerah permukaan laminat
memiliki nilai distribusi tegangan yang paling besar sehingga pada
lapisan atas terjadi tegangan tarik yang paling besar dan akan terus
mengecil hingga mencapai 0 pada bagian tengah dan lapisan bawah
akan terjadi tegangan tekan.
d. Momen torsi sebesar 5 N
Berdasarkan grafik yang dihasilkan, distribusi tegangan dan
regangan yang paling besar ada pada arah 6 (geser) karena
pembebanan yang diberikan merupakan momen torsi sehingga akan
paling banyak berpengaruh pada arah gesernya. Nilai distribusi
tegangan terbesar terdapat pada permukaan laminat. Pada arah 1 dan 2
juga terjadi regangan, tetapi dikarenakan laminat simetris sehingga
nilainya lebih kecil dari regangan gesernya.
Latihan 2.3

a. Scotch-ply UD

Stress

Strain

Analisis : Sesuai dengan kurva diatas, dapat dibuktikan bahwa laminat memiliki
orientasi searah, dengan menerima pembebanan yang homogen dari lapis pertama
hingga terakhir pada sigma-1 dan sigma-2, hal tersebut berlaku pada tegangan dan
regangan.

Dan pembebanan pada sigma-6 bernilai nol karena tidak ada

pembebanan bending yang diberikan.


b. Scotch-ply (0, 45, 90, 0, 45, 90)

Stress

Strain

Analisis : Sesuai dengan kurva diatas, tegangan atau regangan yang diterima tidak
homogen ketika diberi beban bi-axial, diakibatkan oleh orientasi yang berbedabeda pada laminat. Lapis paling bawah dan atas menerima regangan paling besar,
dan tegangan yang diterima tidak teratur karena adanya perbedaan orientasi. Pada
sigma-1 dan sigma-2 regangan, beban yang diterima berbentuk kebalikannya, hal
ini akibat adanya fenomena coupling sehingga adanya beban bending. Fenomena
tersebut juga menyebabkan adanya regangan dan tegangan pada sigma-6 yang
seharusnya nol. Pada tegangan, tegangan maksimum yang diterima paling besar
berada di tengah, hal tersebut dikarenakan lamina bagian tengah terikat dengan
baik sehingga menerima tegangan dari lapisan lainnya.
c. IM6 epoxy (0, 45, 90, 0, 45, 90)

Stress

Strain

Analisis : Berdasarkan kurva diatas, ketika epoxy diberikan beban aksial yang
sama dengan diberikan kepada scotch-ply, kurva tegangan dan regangannya
berbeda. Hal tersebut disebabkan oleh kekuatan material yang berbeda, walaupun
orientasinya sama. Untuk tegangan, lapisan tengah menerima tegangan paling
besar karena terikat secara kuat dan menerima tegangan dari lapisan lain. Untuk
regangan, dapat dilihat bahwa regangan menurun pada sigma-1 karena adanya
penurunan kekakuan, tetapi tidak bernilai 0 ditengah seperti pada scotch-ply.
Terjadi regangan dan tegangan pada sigma-6 disebabkan karena fenomena
coupling, seperti pada scotch-ply, yang menyebabkan adanya beban bending. Lalu
coupling juga menyebabkan bentuk keterbalikan pada tegangan sigma-1 dan
sigma-2.

LATIHAN 3
a. Latihan 3.1.a
Komposit yang digunakan adalah B-N5505 unidirectional. Ketika
diberikan pembebanan berupa beban tarik dan beban tekan sebesar 50N/mm,
dengan kombinasi tarik-tarik, tarik-tekan, tekan-tarik, dan tekan-tekan. Dapat
dilihat komposit mengalami tegangan tarik pada dua sumbu dan tidak mengalami
tegangan geser.
Berdasarkan simulasi pada genlam komposit tidak mengalami kegagalan
karena nilai 1/R dari komposit tidak mencapai nilai 1. Namun komposit tersebut
tidak tahan terhadap beban tarik. Hal tersebut ditunjukan dengan nilai 1/R dari
komposit tersebut yang mendekati nilai 1. Dari grafik 1/R dapat dilihat nilai inkal
dan degrade memiliki nilai yang hampir sama sehingga saat terjadi FPL akan
terjadi pula LPL.
b. Latihan 3.1.b
Pada latihan ini digunakan komposit B-N5505 dengan orientasi simetric
regular angle ply (45)s. Pembebanan yang dilakukan sama dengan latihan 3.1.a.
Bila dilihat dari fraksi 1/R komposit dengan orientasi ini tidak tahan terhadap
beban tarik-tekan atau tekan-tarik. Hal ini ditunjukan dengan nilai 1/R yang
mendekati nilai 1. Pada komposit ini juga nilai dari1/R nilai inkal dan degrade
memiliki nilai yang hampir sama, sehingga ketika FPL terjadi maka LPL terjadi
pula.
Selain itu bila dilihat dari tegangan geser yang diterima. Komposit yang
diberikan beban tarik-tekan dan tekan-tarik mendapatkan tegangan geser terbesar.
Nilainya yang melebihi nilai tegangan tarik yang diterimanya dapat menunjukan
bahwa material akan gagal sesuai dengan Tresca dan Von-Mises criteria karena
tegangan geser yang diterima komposit tinggi.
c. Latihan 3.1.c
Pada latihan ini, komposit yang digunakan adalah komposit IM6-epoxy dengan
orientasi lamina (30, 60) simetri dengan pembebanan yang diberikan dengan

latihan 3.1.a.Pada semua jenis pembebanan, terdapat perbedaan besar tegangan


yang terdistribusi antara lamina 30 dan 60 , hal ini disebabkan adanya
perbedaan kekakuan antara lamina 30 dan 60. Pada teori makromekanik,
regangan yang dialami tiap lamina diasumsikan sama sehingga akibat adanya
pembebanan, tegangan didistribusikan tidak sama besar akibat perbedaan
kekakuan.
Selain itu, dapat dilihat bahwa disetiap jenis pembebanan, lamina dengan
orientasi 60o mengalami distribusi tegangan lebih besar di arah 2. Sedangkan
lamina dengan orientasi 30o mengalami distribusi tegangan lebih besar di arah 1.
Dari simulasi yang dilakukan, keempat jenis pembebanan masih dalam
batas aman karena nilai 1/R yang ditunjukkan kurang dari 1.
d. Latihan 3.2
Pada soal latihan 3.2 ini, laminat komposit yang tersusun atas lamina serat
Kevlar dan matriks Epoksi dengan susunan lamina cross-ply diberi beban termal sebesar
temperatur kamar yakni 25 oC. Berdasarkan pengolahan data, dapat dilihat bahwa
pembebanan termal yang diberikan pada tiap lamina sama besar dan masih dalam batas
aman karena nilai 1/R masih dibawah 1.

TUGAS SETELAH PRAKTIKUM

1. Konstanta teknik pada bidang dan bending dari laminat dapat dibuat sama
meskipun susunan dari laminat berbeda. Yang harus diperhatikan adalah
jumlah lamina dari laminat harus sama dan arahnya mempunyai perbedaan
yang sama tiap lapisan.
2. Pada laminat (0,0,45,-45,90)2 AS-3501 yang diberikan beban, analisis
bebannya adalah
a. Load case 1 menerima beban torsi dan bending sesuai dengan
bentuk grafik yang dihasilkan berbentuk runcing
b. Load case 2 menerima beban higrotermal, yang umumnya
membebani di lapisan pertama dan terakhir.
c. Load case 3 menerima beban torsi dan beban tarik sesuai dengan
bentuk sigma-1 dan sigma-2 yang berbeda tetapi searah.
3. a. Pada load case no 1, lamina yang akan mengalami kegagalan pertama
kali (FPF) adalah lapisan 1 bottom hal ini dapat dilihat dari nilai R yang
kecil sehingga nilai 1/R dari lamina tersebut akan besar.
b. Pada load case no 3, lamina yang akan mengalami kegagalan pertama
kali (FPF) adalah lapisan 4 dan 7 baik bottom dan top hal ini dapat dilihat
dari nilai R yang kecil sehingga nilai 1/R dari lamina tersebut akan besar.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Pada percobaan kali ini, dapat disimpulkan bahwa material penyusun
lamina dan orientasi lamina menyebabkan kekuatan sebuah komposit laminat,
berdasarkan hasil tegangan dan regangan pada kurva genlam.

5.2 Saran
Seharusnya diberikan tutorial menggunakan Genlam pada modul, bukan
hanya teori mengenai komposit laminat saja, sehingga ketika praktikum
berlangsung dapat lebih efisien.

PUSTAKA
Judawisastra, Hermawan. 2011. Micromechanics 2 : Classical Lamination
Theory [PowerPoint slides].
Judawisastra, Hermawan. 2011. Material Komposit-Rev.04 [PowerPoint
slides].
Hibbeler, R. C.. 2011. Mechanics of Materials 8th Edition. Singapore
:Prentice Hall
http://www.ecourses.ou.edu/ebook/mechanics/ch04/sec043/media/d4329.g
if diakses pada 23 Maret 2015 pukul 12.34 WIB
http://en.wikipedia.org/wiki/Stress_(mechanics) diakses pada 23 Maret
2015 pukul 11.43 WIB