Anda di halaman 1dari 57

LAPORAN

PRAKTIKUM PENGOLAHAN AIR PROSES DAN LIMBAH INDUSTRI TEKSTIL

PENGOLAHAN AIR PROSES


Disusun oleh
Nama

: NUR INDAH WAHYUNI

NPM

: 13050009

Grup

: 3B1

Jurusan

: DIII Teknologi Produksi Tekstil

Dosen

: Juju J., A.T., M.Si


Ika Natalia M., S.S.T
Andri S.

POLITEKNIK STT TEKSTIL


BANDUNG
2015

BAB I
ANALISA KUALITATIF AIR PROSES

I.
1.1.

PENDAHULUAN
MAKSUD DAN TUJUAN
MAKSUD
Menganalisa adanya zat-zat kimia yang dapat mempengaruhi atau mengganggu proses
pemeriksaan yang terkandung dalam air.
TUJUAN
Melakukan analisa atau pengujian-pengujian dalam air proses tekstil.
Mengetahui zat-zat yang terkandung dalam air proses tekstil.
Menganalisa kotoran-kotoran dari ion-ion yang terkandung dalam air proses tekstil

1.2.

TEORI DASAR
a. Karakteristik dan kegunaan air proses
Air proses atau biasa kita kenal sebagai process water memiliki fungsi yang
berbeda satu sama lainnya, oleh karena itu karakter serta spesifikasi air yang diperlukan
juga berbeda satu dengan yang lain, misalnya standar air untuk boiler tentu berbeda dengan
standar air untuk produksi hydrogen.
Ada beberapa peralatan proses yang membutuhkan air secara terus-menerus dan
dengan sifat tertentu, seperti :
1. Air proses (Process Water) untuk hydrolysis, boiler dan destilasi. Kebutuhan process
water untuk boiler, hydrolisis serta produksi H2, dimana diperlukan air yang terlebih
dahulu di oleh melalui ion exchange untuk meminimalisir timbulnya karat serta sumbatan
pada pipa api dan jalur distribusi uap dan kondensatnya. Produk air yang dihasilkan
melalui ion exchange kemudian disebut sebagai soft water bahkan untuk produksi
hydrogen diperlukan demineralized water (demin water) agar H2 yang diproduksi betulbetul 99,9 % murni.
2. Air untu pendingin (Cooling Water) pada cooling tower, mesin, heat exchanger,
condenser dll. Kebutuhan akan air pendingin (cooling water) bisa di kategorikan
kebutuhan umum dalam setiap mesin penggerak, pengolahan air pendingin biasanya
kurang diperhatikan oleh operator pabrik karena persepsi yang salah dimana setiap air
bersuhu rendah bisa digunakan. Tetapi mereka lupa bahwa air pendingin disalurkan
melalui pipa-pipa yang diameternya terkadang cukup kecil, panjang dan melingkar-lingkar
sehingga rawan terhadap karat dan sumbatan tentunya.
3. Air untuk kebutuhan domestik dan umum. Air yang akan digunakan sebagai air untuk
keperluan domestik seperti memasak, toilet dan cuci-cuci lain biasanya digunakan air dari
sumber terdekat seperti Perusahaan air Minum (PAM) lokal maupun dari sumber sumur

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

dalam. Pengolahan biasanya dilakukan secara terbatas seperti penjernihan dan aerasi
terutama untuk mengurangi kadar besi yang biasanya berasosiasi dengan air dari sumber
sumur dalam (deep well).
Sumber air baku industri yang memerlukan pembahasan lebih lanjut adalah
kebutuhan air dan sifat yang diperlukan untuk keperluan proses dan sebagai pendingin
pada cooling tower di pabrik.Ion Exchange untuk Process dan Cooling.
Kebutuhan untuk air proses dan pendinginan sangat mendominasi kebutuhan air
untuk pabrik karena lebih dari 80% kebutuhan akan air di pabrik dikonsumsi oleh kedua
proses tersebut, sementara untuk kebutuhan domestik relatif kecil.
Penggunaan kolom atau tabung ion exchange untuk air baku untuk boiler (boiler
feed water)dan sistim pendinginan (cooling system) akan meningkatkan efisiensi kedua
sistim peralatan tersebut dengan cara membebaskan pipa-pipa saluran air dan uap pada
sistem tersebut dari karat dan endapan yang mengganggu yang dapat menimbulkan
kebocoran maupun tersumbatnya saluran pada kedua sistim tersebut.
Pabrik kelapa sawit (PKS), kernel crushing plant (KCP), pabrik minyak goreng
dan oleochemical adalah pabrik-pabrik yang banyak menggunakan prinsip thermodinamik
pada proses produksinya terutama pada sistim fraksinasi dan destilasi dari bahan baku
menjadi produk. Peralatan yang digunakan pada proses, hidrolisa, fraksinasi, dan destilasi
pada dasarnya adalah ketel uap bertekanan yang semuanya menggunakan air sebagai
media dan bahan baku pada proses mereka.
Boiler untuk menghasilkan uap baik basah, kering maupun yang bertekanan
menurut kebutuhan prosesnya, selain digunakan sebagai media thermodinamik, uap yang
dihasilkan juga dapat digunakan untuk menggerakkan turbin pada generator listrik.
Penggunaan boiler sebagai peralatan utama membawa konsekuensi pada pemilihan
kualitas air baku (feed water) untuk menjaga kontinyuitas operasi serta efisiensi peralatan
tersebut, secara umum untuk menjaga agar boiler bisa bekerja dengan maksimum serta
awet maka diperlukan air yang baik dalam arti air selalu dijaga agar tidak menjadi
penyebab sistem saluran pipa pada boiler menjadi berkarat ataupun tersumbat oleh
endapan-endapan organik yang biasanya dibawa oleh air baku.

b. AIR PROSES
1. Air Hujan
Dalam hal ini termasuk semua air yang berasal langsung dari atmosfer. Karakteristiknya
antara lain : relatif bersih, 65-75% merupakan air yang tidak mantap, sangat tergantung
pada lingkungan, mengandung gas CO 2 dan O2, dan tidak mengandung mineral dan zat
beracun.
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

2. Air Permukaan (Surface)


Merupakan air hujan yang telah berkumpul dalam danaudanau atau sungai-sungai.
Kandungan air permukaan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Air hujan atau
mata air yang terkumpul dalam rawa, sungai, danau alam, danau buatan, air dari
pengumpulan atau reservoir. Air permukaan banyak mengandung zat organik dan beberapa
mineral, tergantung asal mata airnya, jenis musim dan lingkungannya.
3. Air Tanah Permukaan (Sub Soil)
Merupakan air yang telah meresap kedalam lapisan sub soil dan terkumpul dalam sumur
dangkal (<150m). dalam sumur dangkal ini banyak mengandung mineral dan zat-zat
organik.
4. Air Tanah Dalam (Dref Weil)
Merupakan air yang terdapat pada lapisan yang lebih dalam yang terpisah dari air subsoil
oleh lapisan impermeable. Air jenis ini mengalir melintasi bumi sambil mendapatkan
penucian alami. Disebut juga sumur dalam (>150m), dalam sumur dalam ini banyak
mengandung mineral dan logam-logam.
c. AIR UNTUK INDUSTRI TEKSTIL
Pada industri tekstil terutama pada proses pencelupan sampai dengan penyempurnaan
tekstil diperlukan air yang cukup banyak. Untuk memenuhi kebutuhan air proses pada bagian
finishing umumnya digunakan air dari sumber alam misalnya mengandung zat yang beraneka
jenis maupun jumlah ion-ion dan kotoran yang terkandung didalamnya, tergantung darimana
sumber airnya. Untuk keperluan proses pada bagian finishing, air yang digunakan memerlukan
persyaratan tertentu, karena adanya ion-ion dan kotoran tertentu dapat mempengaruhi hasil
proses. Kotoran-kotoran dari ion-ion yang biasanya berpengaruh diantaranya adalah :
Warna dan kekeruhan
Warna air biasanya dikarenakan adanya zat-zat organik yang terlarut dan berikatan dengan
Besi dan Mangan, sedangkan kekeruhan disebabkan karena adanya partikel yang
tersuspensi, baik yang berasal dari bahan organik maupun anorganik misalnya kotoran

tumbuhan, lumpur, dan sebagainya.


Derajat keasaman / pH
Derajat keasaman / pH merupakan kadar asam atau basa didalam larutan dengan melihat
konsentrasi hidrogen (H+) suasana asam dalam air akan mempengaruhi beberapa proses
dan akan merusak beberapa jenis bahan tekstil terutama bahan selulosa. Suasana alkali
misalnya NaOH akan merusak pipa logam, menyebabkan kerapuhan yang dikenal dengan

istilah kerapuhan kostik.


Alkalinitas
Alkalinitas dalam air alam sebagian besar disebabkan oleh adanya bikarbonat dan sisanya
oleh karbonat dan hidroksida. Jika kadar alkalinitas terlalu tinggi akan menyababkan karat-

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

karat pada pipa sehingga pada saat proses berlangsung, karat-karat tersebut akan terbawa
air dan menodai bahan tekstil. Jika kadar alkalinitas terlalu rendah dan tidak seimbang
dengan kesadahan dapat menyebabkan kerak CaCO 3 pada dinding pipa dan dinding ketel

uap,sehingga tekanan menjadi lebih tinggi.


Besi
Garam-garam besi berpengaruh pada beberapa proses industri tekstil. Pada proses
pemasakan dan pengelantangan, garam-garam besi selain dapat menyebabkan noda-noda
kuning kecoklatan yang mengotori pada bahan tekstil juga dapat memperbesar kerusakan
pada bahan selulosa karena logam-logam berat berfungsi sebagai katalis dalam penguraian
zat pengelantang. Senyawa besi juga dapat bereaksi dengan beberapa jenis zat
warna,sehingga dalam proses pencelupan menghasilkan warna celupan yang tidak sesuai

dengan yang dikehendaki.


Silikat
Adanya silikat dalam air proses tidak dikehendaki karena endapan silikat murni sulit
dihilangkan sehingga dapat menyumbat pipa-pipa dan melapisi dinding ketel uap

bertekanan tinggi.
Klorida
Kadar klorida yang terlalu tinggi akan menyebabkan kerusakan pada peralatan yang
terbuat dari besi karena klorida bersifat korosif.

d. PEMERIKSAAN KUALITATIF AIR PROSES INDUSTRI TEKSTIL


A. SILIKAT
Terdapatnya silikat didalam air alam disebabkan adanya degradasi dari batuan yang
mengandung silikat. Hasil degradasi silikat berbentuk partikel-partikel tersuspensi dalam
koloidal. Pada umumnya kandungan silikat dalam air antara 1 30 mg/L. Untuk keperluan
industri adanya silikat dalam pipa-pipa besi dari ketel uap yang bertekanan tinggi.
B. KLORIDA
Klorida banyak ditemukan di alam, kandungan klorida alam berkisar kurang dari 1 mg/L
sampai dengan beberapa ribu mg/L di dalam air laut. Air buangan industri sebagian besar
menaikkan kadar klorida dalam air termasuk manusia dan hewan membuang kotoran yang
mengandung klorida dan nitrogen yang cukup tinggi.
C. BESI
Besi adalah suatu senyawa kimia yang dapat ditemui padahampir semua air.pada umumnya
besi yang ada didalam air dapat bersifat sebagai feri (Fe 3+) atau fero (Fe2+).
D. SULFAT
Sulfat banyak terdapat pada air alam, zat-zat organik dalam air alam dapat menyebabkan
sulfat tereduksi menjadi sulfida. Ion sulfat dalam air akan diendapkan dalam suasana asam
oleh Barium klorida membentuk Barium sulfat yang berwarna putih dan mempunyai
bentuk kristal sama besar.
e. SYARAT AIR UNTUK PROSES INDUSTRI TEKSTIL :

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

Jumlah ( mg/L)

Kesadahan
Warna (tak bewarna)
Besi (Fe3+, Fe2+)
Mangan (Mn)
Jumlah (Fe+Mn)
Logam Berat lainnya
Alumunium Oksida

3.0
5.0
0.1
0.05
0.2
0.01
0.5

Alkalinitas
Jumlah gas terlarut
Silikat (SiO2)2Sulfat (SO4)2Klorida (Cl-)
Kalsium (Ca2+)
Magnesium (Mg2+)

75.0
150.0
110.0
100.0
100.0
10.0
5.0

30.0 (30DH)

Bikarbonat (HCO3-)

200.0

(Al2O3)
Kesadahan

jumlah

Kandungan dalam Air

Jumlah (

Kandungan dalam Air

mg/L)

(sebagai CaO)
f.

REAKSI

Kandungan Zat

Reaksi

A. Silikat

B. Klorida

HCl + AgNO3

C. Besi

Fe2+ + K3Fe(CN)6
Fe3+ + K4Fe(CN)6

F. Magnesium

KFe(Fe(CN)6) + 2K+
KFe(Fe(CN)6) + 2K+

SO42- + BaCl2

D. Sulfat
E. Kalsium

AgCl

Ca2+ + (NH4)2CO

Mg2+ + O2N

NH OH
4

N=N

BaSO4 + 2Cl-

CaC2O4 + 2NH4+

OH

alkali

OH
G. Aluminium

O2N N=N MgOH Magneson


MgOH

g. PEREAKSI
Kandungan Zat
A. Silikat

B. Klorida
C. Besi

Reaksi

HCl 4 N
Ammonium molibdat 5 %
Benzidin
Natrium asetat
HNO3 4 N
AgNO3 0,1 N
HCl
K3Fe(CN)6 (Kalium feri sianida)
KCNS
K4Fe(CN)6 (Kalium fero sianida)

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

D. Sulfat

E. Kalsium
F. Magnesium
G. Aluminium
H. Zat organik

II.

PRAKTIKUM

2.1.

ALAT DAN BAHAN

HCl
BaCl2
HCl 2 N
(NH4)C2O4 (Ammonium oksalat)
NaOH 2 N
Magneson
NaOH / CH3COONa
Aluminon
H2SO4
KMnO4 0,01 N

Alat yang digunakan

2.2.

Tabung reaksi
Rak tabung reaksi
Pipet tetes
Pipet ukur 10 ml
Kertas pH

Bahan

Air contoh uji


Pereaksi
Indikator

LANGKAH KERJA
SILIKAT
Mengambil 2 ml air contoh uji dan memasukkan dalam tabung reaksi.
Menambahkan 2 3 tetes HCl 4 N.
Memasukkan 2 3 tetes Ammonium molibdat 5 %.
Dipanaskan sebentar apabila perlu kemudian didinginkan.
Jika larutan berwarna kuning berarti air mengandung silikat.
II. KLORIDA
Mengambil 2 ml air contoh uji dan memasukkan dalam tabung reaksi.
Menambahkan 2 3 tetes HNO3 4 N.
Memasukkan 2 3 tetes AgNO3 0,1 N.
Jika terjadi endapan putih yang larut dalam Amoniak berarti contoh uji mengandung
I.

klorida.
III. BESI
Penentuan Fe2+ (Fero)
Mengambil 1 ml air contoh uji dalam tabung reaksi.
Menambahkan 1 tetes HCl (sebagai pengasam).
Menambahkan 2 3 tetes K3Fe(CN)6.
Jika terjadi endapan yang berwarna biru trumbull berarti air mengandung Fe 2+.
Penentuan Fe3+ (Feri)
Mengambil 1 ml alr contoh uji dalam tabung reaksi.
Menambahkan 1 tetes KCNS.
Jika berwarna merah berarti air mengandung Fe3+.
Dilakukan uji penentuan, mengambil air contoh uji yang baru dalam tabung reaksi.
Menambahkan 1 ml HCl ( sebagai pengasam).
Menambahkan 2 3 tetes K4Fe(CN)6.

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

Jika berwarna biru berarti air mengandung ion Fe3+.


IV. SULFAT
Mengambil 2 ml air contoh uji dalam tabung reaksi.
Menambahkan 5 tetes HCl 4 N.
Menambahkan 5 tetes BaCl2 0,5 N.
Jika terjadi endapan (kekeruhan) putih berarti contoh uji mengandung sulfat.
V. KALSIUM
Mengambil 2 ml air contoh uji dalam tabung reaksi.
Menambahkan 2-3 tetes asam asetat 10%.
Menambahkan beberapa tetes larutan Ammonium oksalat dan dipanaskan.
Jika terdapat endapan putih berarti air mengandung kalsium.
VI. MAGNESIUM
Mengambil 2 ml air contoh uji dalam tabung reaksi.
Menambahkan 5-10 tetes quinaliarin alkali.
Menambahkan 5 tetes NaOH 10%, panaskan.
Jika terdapat endapan biru berarti air mengandung Magnesium.
VII.
ALUMINIUM
Mengambil 2 ml air contoh uji dalam tabung reaksi.
Menambahkan 2-3 tetes natrium asetat.
Menambahkan 2-3 tetes Aluminon.
Jika larutan berwarna merah berarti air mengandung Aluminium.
VIII.
ZAT ORGANIK
Mengambil 2 ml air contoh uji dalam tabung reaksi.
Menambahkan 5 tetes H2SO4 .
Memanaskan larutan pada suhu 60 70 oC.
Dalam kondisi panas tambahkan 1 2 tetes larutan KMnO4 0,01 N.
Jika warna KMnO4 hilang berarti air mengandung zat organik.

IX.

MANGAN
Memasukkan 2 ml air uji ke dalam tabung reaksi
Menambahkan 2- 3 tetes asam sulfat 4 N
Menambahkan sedikit KIO4 padat (bubuk), panaskan
Jika air berubah menjadi violet, maka air uji mengandung mangan

2.3.

DATA DAN PERHITUNGAN

Zat - zat

Kandungan

Bau

Warna larutan setelah

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

Kekeruhan

zat dalam air

dianalisa

proses
Tidak berbau

Kuning karena adanya

Silikat

Klorida

Fe2+ (fero)

Tidak berbau

Berwarna hijau toska

Keruh

Fe3+ (feri)

Tidak berbau

Berwarna biru

Keruh

SO42+

Tidak berbau

Endapan putih

Keruh

Ca2+

Tidak berbau

Endapan putih

Keruh

Mg2+

Tidak berbau

Terdapat endapan berwarna

Keruh

Tidak berbau

pereaksi ammonium molibdat


Terdapat endapan berwarna
putih

Keruh

Keruh

biru
Al3+

Tidak berbau

Tidak berwarna merah

Tidak keruh

Mangan

Tidak berbau

Bening

Tidak keruh

Zat organik

Tidak berbau

Bening

Tidak keruh

Keterangan : + = mengandung zat tertentu

- = tidak mengandung zat tertentu


Pengamatan air uji
-

pH air uji

= pH 5

Bau

= Anyir dan amis

Warna

= Sedikit kecoklatan

Kekeruhan

= Terdapat endapan berwarna coklat

III.

DISKUSI
Berdasarkan praktikum uji kualitatif, air uji mengandung berbagai macam zat.
Baik itu senyawa kation maupun anion. Pengujian kualitatif ini diperlukan
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

untuk mengetahui zat apa saja yang terkadung di dalam air proses yang akan
digunakan, sehingga dapat memenuhi persyaratan air proses.
Jika tidak diuji keberadaan zat zat ini akan menggangu proses basah tekstil.
Misalnya Ca dan Mg yang dapat menyebabkan sadah dan akan berpengaruh
pada saat pencelupan atau berdampak pada usia pakai perlengkapan proses
basah tekstil.
Zat organik sendiri dapat dilihat secara pengamatan langsung, dilihat dari
tingkat kekeruhan airnya. Air uji yang pada awalnya bening, berubah menjadi
kuning kecoklatan dan terdapat endapat coklat. Hal ini mengindikasikan adanya
zat organik yang terkandung dan terbukti pada saat pengujian kualitatif bernilai
(+)
Fe dalam air pun dapat dibuktikan dengan pengamatan langsung ditandai
dengan aroma amis dan anyir dari air yang mengindikasikan adanya kandungan
Fe. Terbukti pada saat uji kualitatif yang bernilai (+).

IV.

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa air uji :
-

Mengandung Ca
Mengandung Mg
Mengandung Feri dan Fero
Mengandung sulfat
Mengandung klorida
Mengadung Magnesium
Mengandung Silikat
Mengandung zat organik
pH air 5

BAB 2
ANALISA KUANTITATIF KLORIDA
I. PENDAHULUAN
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

1.1.

MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui kadar zat klorida di
dalam air proses sehingga tidak mempengaruhi proses basah tekstil. Adapun
tujuannya adalah sebagai berikut.

1.2.

Mampu menghitung kadar klorida dengan metoda titrasi

Mengetahui mekanisme analisa kuantitatif klorida

TEORI DASAR

Analisa klorida secara kuantitatif dapat dilakukan dengan beberapa cara,


diantaranya

analisa

secara

titrimetri

dengan

menggunakan

metode

argentometri. Metode yang sering digunakan pada penetapan klorida adalah


metode argentometri. Metode argentometri (titrasi pengendapan) yang
tergolong pada pemeriksaan kimia secara titrimetri/volumetric.
1)
Pengertian
Titrimetri atau analisa volumetri adalah salah satu cara pemeriksaan jumlah
zat kimia yang luas penggunaannya.Cara ini sangat menguntungkan karena
pelaksanaannya mudah dan cepat,ketelitian dan ketepatan cukup tinggi, juga
dapat digunakan untuk menentukan kadar berbagai zat yang mempunyai sifat
yang berbeda-beda.
2)
Prinsip
Dalam larutan netral atau sedikit basa,kalium kromat dapat menunjukkan titik
akhir titrasi klorida dengan perak nitrat.Perak klorida yang terbentuk
diendapkan secara kuantitatif sebelum warna merah perak kromat terbentuk.
Reaksi
AgNO3 + NaCl
AgCl + NaNO3
AgNO3 + KCl AgCl + KNO3
Dalam titrasi pengendapan zat yang ditentukan bereaksi dengan zat pentiter
membentuk senyawa yang sukar larut dalam air,syarat-syaratnya :
a)

Terjadinya kesetimbangan serbaneka harus berlangsung dengan cepat;

b)

4 zat yang akan ditentukan akan bereaksi secara stoikiometri dengan

zat pentiter;
c)

Endapan yang terbentuk harus sukar larut sehingga terjamin,harus

tersedia cara penentuan titik akhir yang sesuai;


d)

Kesempurnaan reaksi sampai 99,9 %.

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

10

Metode yang digunakan dalam percobaan penentuan kadar klorida dalam


percobaan adalah metoda titrasi , memakai prinsip argentometri yaitu
mentiter larutan sampel dengan larutan perak nitrat. Hasil yang diharapkan
adalah analit yang terkandung dalam sampel berupa klorin mengendap
dengan penambahan Ag membentuk AgCl yang berupa endapan putih.
Percobaan dilakukan dalam tahap pertama yaitu menetapkan pembakuan
larutan AgNO3. Larutan AgNO3 perlu distandarkan terlebih dahulu karena
larutan standar ini adalah larutan standar sekunder. Larutan standar sekunder
tidak mampu berthan lama, mudah berubah konsentrasinya. Pembakuan
ulang perlu dilakukan agar konsentrasi tepat. Oleh karena itu perlu
penstandarulangan agar konsentrasi pentiter terhitung secara cermat dan tidak
berubah lagi. Titrasi argentometri ini memakai prinsip Mohr. Titrasi Mohr
mengenggunakan ion kromat untuk mengendapkan Ag2CrO4 yang berwarna
coklat. Setelah pengendapan AgCl sempurna kelebihan Ion Ag bereaksi
dengan kromat membentuk perak kromat, perubahn warna ini digunakan
sebagai acuan titik akhir reaksi.
Pemeriksaan Sampel
Kandungan klorida
Kadar Cl- dalam air dibatasi oleh standar untuk berbagai pemanfaatan yaitu
air minum, irigasi dan konstruksi. Konsentrasi 250 mg/l unsure ini dalam air
merupakan batas maksimal konsentrasi yang dapat mengakibatkan timbulnya
rasa asin. Konsentrasi klorida dalam air dapat meningkat dengan tiba-tiba
dengan adanya kontak dengan air bekas. Klorida mencapai air alam dengan
banyak cara. Kotoran manusia khususnya urine, mengandung klorida dalam
jumlah yang kira-kira sama dengan klorida yang dikonsumsi lewat makanan
dan air. Jumlah ini rata-rata kira-kira 6 gr klorida perorangan perhari dan
menambah jumlah Cl dalam air bekas kira-kira 15 mg/l di atas konsentrasi di
dalam air yang membawanya, disamping itu banyak air buangan dari industri
yang mengandung klorida dalam jumlah yang cukup besar.
Klorida dalam konsentrasi yang layak adalah tidak berbahaya bagi manusia.
Klorida dalam jumlah kecil dibutuhkan untuk desinfectan. Unsur ini apabila
berikatan dengan ion Na+ dapat menyebabkan rasa asin, dan dapat merusak
pipa-pipa air.

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

11

II. PRAKTIKUM
2.1. ALAT DAN BAHAN

Alat

Buret
Erlenmeyer 250 ml
Pipet volume 10 ml

Bahan
Air suling bebas klorida
Larutan penitrat AgNO3 0,01 N
Indikator kalium kromat
MgO

2.2. DIAGRAM ALIR

Siapkan alat dan bahan

Tambahkan kalium kromat

Masukkan MgO

Titrasi dengan AgNO3 0,01 N

Hitung kadar klorida


2.3.

LANGKAH KERJA
a) Memipet 25 ml air contoh ke dalam Erlenmeyer
b) Menambahkan kalium kromat sebanyak 2-3 tetes
c) Memasukkan MgO secukupnya
d) Menitrasi dengan AgNO3 0,01 N sampai berubah warna menjadi orange
e) Menghitung kadar kloridanya

2.4. DATA DAN PERHITUNGAN

Diketahui :

N penitrat (AgNO3)
Ml penitrat (AgNO3)

= 0,01 N

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

12

Percobaan

Ml penitrat (AgNO3)

8,5 ml

8,3 ml

Rata-rata

8,4 ml

Air uji = 25 ml
Kadar Cl- = ml titrasi x N penitar x BE Cl- x 1000/25 (mg/L)
= 8, 4 ml x 0,01 N x 35,5 x 1000/25 (mg/l)
= 119, 28 mg/l

III. DISKUSI

Berdasarkan hasil praktikum uji kuantitatif klorida didapatkan hasil bahwa air uji
mengandung klorida sebanyak 119, 28 mg/l . Sedangkan menurut standar persyaratan
air untuk proses tekstil < 100 mg/l . Artinya air uji tidak memenuhi persyaratan untuk
dijadikan sebagai air proses. Jika air uji tetap digunakan maka akan mengakibatkan
kerusakan pada pipa pipa air karena klorida dalam jumlah yang banyak bersifat
korosif. Selain itu, jika klorida bertemu dengan natrium di dalam air maka akan
membentuk NaCl yang menghasilkan rasa asin dan jika dalam kadar yang banyak
akan menumpuk, membentuk endapan.
Di dalam proses pencelupan, kandungan NaCl yang berlebih dapat menyebabkan
belang karena garam garam tersebut mengendap dan menghalangi zat warna.
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

13

Oleh karena itu air yang akan digunakan untuk proses tekstil, kandungan kloridanya
harus < 100 mg/l agar memenuhi persyaratan air proses.
IV.KESIMPULAN
-

Air uji mengandungklorida sebanyak 119,28 mg/l


Persyaratan konsentrasi klorida untuk air proses adalah < 100 mg/l
Air uji tidak layak dijadikan air proses tekstil

BAB 3
ANALISA KUANTITATIF SULFAT MENGGUNAKAN
METODE SPEKTROFOTOMETRI
I.

PENDAHULUAN
I.1. Maksud dan tujuan
Maksud dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui kadar sulfat di
dalam air proses sehingga tidak menghambat pada saat proses basah tekstil.
Adapun tujuannya adalah sebagai berikut.
- Memahami mekanisme analisa sulfat dengan spektrofotometer
- Mampu menghitung kadar sulfat dalam air uji
- Mampu mengevaluasi hasil praktikum

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

14

I.2. Teori dasar


Sulfat banyak terdapat pada air alam, zat-zat organik didalam air alam dapat
menyebabkan sulfat tereduksi menjadi sulfide. Ion sulfat dapat diendapkan oleh
Barium sulfat dalam suasana asam menjadi Barium sulfat yang mempunyai
bentuk kristal sama besar. Absorbansi dari suspensi Barium sulfat dapat
ditentukan dengan alat spektofotometri pada panjang gelombang 420 nm. Warna
dan zat tersuspensi dalam jumlah besar dapat mengganggu penetapan sulfat.
Kadar zat organik yang cukup tinggi didalam air menyebabkan Barium sulfat
tidak mengendap sempurna.
Asam sulfat, H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Sulfat
merupakan sejenis anion poliatom dengan rumus SO 42- yang memiliki massa
molekul 96,06 satuan massa atom. Ion sulfat terdiri dari atom pusat sulfur yang
dikelilingi oleh empat atom oksigen dalam susunan tetrahedral. Ion sulfat
bermuatan negatif dua dan merupakan basa konjugat dari ion hidrogen sulfat
(bisulfat), HSO4-, yang merupakan basa konjugat dari asam sulfat, H2SO4
(Aprianti, 2008).
Peningkatan kadar sulfat dapat ditentukan dengan timbulnya bau, rasa tidak enak
dari air serta masalah korosi pada perpipaan. Hal ini diakibatkan oleh reduksi
sulfat menjadi hidrogen sulfida dalam kondisi anaerobik sesuai dengan persamaan
berikut.
SO42- + bahan organik

anaerobik

S2- + 2H+
H2S + 2O2

S2- + H2O + CO2


H2S

bakteria

H2SO4

H2SO4 merupakan asam kuat yang selanjutnya akan bereaksi dengan logamlogam yang merupakan bahan dari pipa yang digunakan sehingga terjadi korosi.
Sementara itu, masalah bau disebabkan karena terbentuknya H 2S yang merupakan
suatu gas yang berbau (Aprianti, 2008).
Untuk mengetahui adanya ion sulfat (SO42-) dalam sampel dapat dilakukan
dengan menambahkan larutan BaCl2 dalam suasana asam pada larutan sampel.
Pembentukan endapan putih barium sulfat (BaSO4) menunjukkan adanya ion
sulfat dalam larutan sampel (Ibnu, 2005).

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

15

Pada uji kualitatif untuk anion SO 42- dapat dilakukan dengan cara (Pooling, 1985),
sampel + barium klorida + asam klorida encer akan menhasilkan endapan putih
yang sukar larut dalam asam encer. Sampel yang akan dianalisis ini sebelumnya
ditambahkan dengan asam klorida encer kemudian barulah ditambahkan barium
klorida dan akan menghasilkan endapan putih yang berupa BaSO 4. Reaksi yang
terjadi sebagai berikut:
Na2SO4 + BaCl2
II.

BaSO4 + NaCl

PRAKTIKUM
II.1.
Alat dan bahan

II.2.

Alat
Spektrofotometer
Labu ukur 100 ml
Cuvet

Bahan
Larutan standar sulfat
Air suling
Barium klorida
Pereaksi kondisi

Diagram alir
a. Pengujian larutan standar sulfat

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

16

Hitung kebutuhan larutan sulfat

Pipet larutan standar sulfat ke dalam labu


ukur 50 ml

Tambahkan pereaksi kondisi

Tambah kristal barium klorida

Pengenceran dengan air suling sampai


50 ml

Evaluasi dengan spektrofotometer


b. Pengujian sulfat air uji
II.3.
Langkah kerja
- Pengujian larutan standar sulfat
Hitung kebutuhan larutan sulfat

Pipet 10 ml air uji ke dalam


labu ukur 50 ml

Tambahkan pereaksi kondisi

Tambah kristal barium klorida

Pengenceran dengan air suling


sampai 50 ml
Evaluasi dengan
spektrofotometer
a. Menghitung kebutuhan larutan standar dengan konsentrasi 40 ppm

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

17

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
-

V1.N1
= V2.N2
50 ml . 40 ppm = x . 100 ppm
2.000 ml
= 100 x
X
= 20 ml
Memipet 20 ml dari larutan standar sulfat 100 ppm ke dalam labu ukur 50 ml
Menambahkan 5 ml pereaksi kondisi
Menambahkan 4 gram Kristal BaCl2
Mengocok dengan cepat
Mengencerkan dengan air suling hingga 50 ml
Mengukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm
Pengukuran dilakukan setelah 3 menit. Jangan melebihi 10 menit

Pengujian sulfat menggunakan air sampel Noviantie (NPM. 13050015)


a. Memipet 10 ml air uji ke dalam labu ukur
b. Menambahkan 5 ml pereaksi kondisi
c. Menambahkan 4 gram Kristal BaCl2
d. Mengocok dengan cepat
e. Mengencerkan dengan air suling hingga 50 ml
f. Mengukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm
g. Pengukuran dilakukan setelah 3 menit. Jangan melebihi 10 menit

II.4.
Data praktikum dan perhitungan
- Mencari persamaan regresi linier standar sulfat
Ppm ( X )

Absorbansi (Y)

X2

XY

0, 307

25

1,535

10

0, 347

100

3,47

20

0, 445

400

8,9

30

0,528

900

15,84

40

0, 648

1600

25,92

105

2,275

3025

55,665

Y = ax + b

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

18

xy
x
y

5 ( 55,665 ) (105)(2,275)
=
5 ( 3025 ) ( 105 )
278,325238,875
=
1512511025

39,45
4100
= 0,0096
=

y
x
x
xy

( 2,275 )( 3025 ) (105)(55,665)


=
5 ( 3025 ) (105 )
6881,8755844,825
=
1512511025
1037,05
4100
= 0,2529
=

Sehingga persamaannya y = 0,0096 x + 0,2529

Ppm ( X )

Y = 0,0096 x + 0,2529

Hasil

= 0,0096 (5) + 0,2529

0,3009

10

= 0,0096 (10) + 0,2529

0,3489

20

= 0,0096 (20) + 0,2529

0,4449

30

= 0,0096 (30) + 0,2529

0,5409

40

= 0,0096 (40) + 0,2529

0,6369

= 0,0096 (0) + 0,2529

0,2529
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

19

Kandungan sulfat berdasarkan air uji Noviantie NPM. 13050015


Nilai absorbansi
= 0,795
Y
= ax+b
0,795
= 0,0096 (x) + 0,2529
0,0096 x
= 0,795 0,2529
0,0096 x
= 0,5421
X
= 56,47 mg/l

KURVA KALIBRASI SULFAT DALAM AIR


0.9
0.8

0.8
0.7

0.64

0.6

0.54

0.5

Absorbansi

0.44

0.4
0.3
0.3

0.35

0.2
0.1
0

10

20

30

40

56.47

Konsentrasi sulfat (ppm)

III.

DISKUSI
Berdasarkan praktikum uji kuantitatif sulfat diperoleh data bahwa air uji mengandung
sulfat sebanyak 56,47 mg/l sedangkan persyaratan air untuk proses tekstil kadar
sulfatnya < 100 mg/l . Artinya kadar sulfat air uji sudah memenuhi persyaratan karena
kadarnya tidak melebihi 100 mg/l.
Apabila kandungan sulfat dalam air melebihi 100 mg/l akan mengganggu proses basah
tekstil. Karena sulfat bersifat asam yang artinya korosif. Apabila bertemu dengan
peralatan yang terbuat dari material logam dapat menyebabkan karat. Selain itu,
apabila pada air tersebut terdapat zat-zat organik maka akan menyebabkan sulfat
tereduksi menjadi sulfida yang berbau dan berbahaya.

IV.

KESIMPULAN
Air uji mengandung sulfat sebesar 56,47 mg/l
Persyaratan konsentrasi sulfat untuk air proses sebesar < 100 mg/l
Kadar sulfat air uji memenuhi persyaratan untuk air proses

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

20

BAB 4
ANALISA ALKALINITAS AIR
I. PENDAHULUAN
I.1. Maksud dan tujuan
Maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kadar alkalinitas air yang
dapat mempengaruhi kualitas air untuk proses basah tekstil. Sedangkan tujuannya
-

adalah sebagai berikut.


Mampu menghitung kadar alkalinitas dalam air
Mengetahui faktor faktor yang berpengaruh kerhadap alkalinitas
Mampu menganalisa hasil praktikum

I.2. Teori dasar


Alkalinitas adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion
karbonat dan bikarbonat yang mengikat logam golongan alkali tanah pada perairan
tawar. Nilai ini menggambarkan kapasitas air untuk menetralkan asam, atau biasa
juga diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan
pH. Perairan.mengandung alkalinitas 20 ppm menunjukkan bahwa perairan
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

21

tersebut relatif stabil terhadap perubahan asam/basa sehingga kapasitas buffer atau
basa lebih stabil. Selain bergantung pada pH, alkalinitas juga dipengaruhi oleh
komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas alami tidak pernah
melebihi 500 mg/liter CaCO3. Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi
tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai
kesadahan yang tinggi atau kadar garam natrium yang tinggi.
Alkali ialah zat yang melepaskan ion hidroksil dalam air dan mempunyai pH lebih
besar dari 7, antara lain kapur (kalsium hidroksil) yang ditambahkan pada tanah
untuk menetralkan sifat asam yang berlebihan.
Alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pembufffer-an dari ion bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan
hidroksida dalam air. Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan ion
hidrogen sehingga menurunkan kemasaman dan menaikan pH. Alkalinitas biasanya
dinyatakan dalam satuan ppm (mg/l) kalsium karbonat (CaCO3). Air dengan
kandungan kalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai alkalin, sedangkan
air dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai lunak atau tingkat
alkalinitas sedang. Pada umumnya lingkungan yang baik bagi kehidupan ikan
adalah dengan nilai alkalinitas di atas 20 ppm. Kapasitas pem-buffer-an alam
dilengkapi dengan mekanisme pertahanan sedemikian rupa sehingga dapat bertahan
terhadap berbagai perubahan, begitu juga dengan pH air. Mekanisme pertahanan
pH terhadap berbagai perubahan dikenal dengan istilah Kapasitas pem-buffer-an
Ph.
Perairan yang mengandung mineral karbonat, bikarbonat, borat, dan silikat akan
mempunyai pH diatas netral dan dapat mencegah terjadinya penurunan pH secara
drastic. Pada perairan tertutup, penambahan karbonat dari sel-sel kerang atau
dolomite dapat memperbaiki alkalinitas dan sistem buffer perairan itu. Penambahan
sodium bikarbdonat secara periodik juga akan menghasilkan hal yang sama.
Menurut Kordi (2005), semakin tinggi konsentrasi ion H+, akan semakin rendah
konsentrasi ion OH- dan pH >7, maka perairan bersifat alkalis (basa). Perairan
umum dengan segala aktivitas fotosintesis dan respirasi organism yang hidup di
dalamnya membentuk reaksi berantai karbonat sebagai berikut :
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

22

CO2 + H2O >

H2CO3

>

H+ + HCO3

>

2H+ + CO3 2-

Kadar alkalinitas
Alkalinitas atau yang dikenal dengan total alkalinitas adalah konsentrasi total unsur
basa-basa yang terkandung dalam air dan biasannya dinyatakan dalam mg/l atau
setara dengan CaCO3. Ketersediaan ion basa bikarbonat (HCO 3) dan karbonat
(CO32-) merupakan parameter total alkalinitas dalam air tambak. Unsur-unsur
alkalinitas juga dapat bertindak sebagai buffer (penyangga) pH. Dalam kondisi basa
ion bikarbonat akan membentuk ion karbonat dan melepaskan ion hidrogen yang
bersifat asam, sehingga keadaan pH menjadi netral.sebaliknya bila keadaan terlalu
asam, ion karbonat akan mengalami hidrolisa menjadi ion bikarbonat dan
melepaskan hidrogen oksida yang bersifat basa, sehingga keadaan kembali netral.
Digambarkan dalam reaksi berikut :
HCO3- >

H+ + CO3P2

>

CO32- + H2O

>

HCO32- + OH-

Lanjut dikatakan bahwa untuk tumbuh optimal, pklankton menghendaki total


alkalinitas sekitar 80-120 ppm. Tambak yang diberi pengapuran alkalinitasnya
mencapai 150-300 ppm. konsentrasi total alkalinitas sangat erat hubungannya
dengan konsentrasi total kesadahan air. Di lahan, umumnya total alkalinitas
mempunyai konsentrasi yang sama dengan konsentrasi total kesadahan.
Kapasitas air menerima protein disebut alkalinitas. Air yang alkali atau bersifat
basa sering mempunyai pH tinggi dan umumnya mengandung padatan terlarut yang
tinggi. Alkalinitas merupakan faktor kapasitas untuk menetralkan asam. Oleh
karena kadang-kasang penambahan alkalinitas lebih banyak dibutuhkan untuk
mencegah supaya air itu tidak menjadi asam.
Hubungan alkalinitas dengan parameter lain
Tinggi atau rendahnya alkalinitas dalam suatu perairan tidak lepas dari pengaruh
parameter lain seperti pH, atau kesadahan. Di mana semakin tinggi alkalinitas,
maka kedua parameter tersebut akan mengikuti. konsentrasi total alkalinitas sangat
erat hubungannya dengan konsentrasi total kesadahan air. Umumnya total
alkalinitas mempunyai konsentrasi yang sama dengan konsentrasi total kesadahan.
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

23

Selain bergantung pada pH, alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral,
suhu, dan kekuatan ion. Unsur-unsur alkalinitas juga dapat bertindak sebagai buffer
(penyangga) pH.
Alkalinitas relatif sama jumlahnya dengan kesadahan dalam suatu perairan.
Alkalinitas juga berpengaruh terhadap pH dalam suatu perairan. Dalam kondisi
basa ion bikarbonat akan membentuk ion karbonat dan melepaskan ion hidrogen
yang bersifat asam sehingga keadaan pH menjadi netral.sebaliknya bila keadaan
terlalu asam, ion karbonat akan mengalami hidrolis menjadi ion bikarbonat dan
melepaskan hidrogen oksida yang bersifat basa, sehingga keadaan kembali netral.
Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh
organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi atau
kadar garam natrium yang tinggi.
Alkalinitas adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion
carbonat dan bicarbonat yang mengikat logam golongan alkali tanah pada perairan
tawar. Nilai ini menggambarkan kapasitas air untuk menetralkan asam, atau biasa
juga diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan
pH. Perairan.mengandung alkalinitas 20 ppm menunjukkan bahwa perairan
tersebut relatif stabil terhadap perubahan asam/basa sehingga kapasitas buffer atau
basa lebih stabil. Selain bergantung pada pH, alkalinitas juga dipengaruhi oleh
komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas alami tidak pernah
melebihi 500 mg/liter CaCO3. Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi
tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai
kesadahan yang tinggi atau kadar garam natrium yang tinggi (Effendi, 2003).
Alkalinitas menggambarkan jumlah basa ( alkali ) yang terkandung dalam air,
sedangkan alkalinitas total adalah konsentrasi total dari basa yang terkandung
dalam air yang dinyatakan dalam ppm setara dengan kalsium karbonat. Total
alkalinitas biasanya selalu dikaitkan dengan pH karena pH air ini akan
menunjukkan apakah suatu perairan itu asam atau basa. Alkalinitas juga disebut
dengan Daya Menggabung Asam (DMA) atau buffer/penyangga suatu perairan
yang dapat menunjukkan kesuburan suatu perairan tersebut. Sedangkan kesadahan
menggambarkan kandungan Ca, Mg dan ion-ion yang terlarut dalam air.

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

24

Alkalinitas merupakan

penyangga(buffer)

perubahan pH air dan

indikasi

kesuburan yang diukur dengan kandungan karbonat. Alkalinitas adalah kapasitas


air untuk menetralkan tambahan asamtanpa penurunan nilai pH larutan (Alaerts dan
Ir. S. Sumetri. S).
Alkalinitas mampu menetralisir keasaman di dalam air, Secara khusus alkalinitas
sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pembufferan dari ion
bikarbonat, dan tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air. Ketiga ion
tersebut dalam air akan bereaksi dengan ion hydrogen sehingga menurunkan
kemasaman dan menaikkan pH.
Alkalinitas optimal pada nilai 90-150 ppm. Alkalinitas rendah diatasi dengan
pengapuran dosis 5 ppm. Dan jenis kapur yang digunakan disesuaikan kondisi pH
air sehingga pengaruh pengapuran tidak membuat pH air tinggi, serta disesuaikan
dengan keperluan dan fungsinya.
Berdasarkan Effendi (2000) Nilai alkalinitas berkaitan jenis perairan yaitu perairan
dengan nilai alkalinitas kurang dari 40 mg/l CaCO3 disebut sebagai perairan lunak
(Soft water), sedangkan perairan yang nilai alkalinatasnya lebih dari 40 mg/l
CaCO3 disebut sebagai perairan keras (Hard water). Perairan dengan nilai
alkalinitas yang tinggi lebih produkstif daripada dengan perairan yang nilai
alkalinitasnya rendah.
Alkalinitas berperan dalam menentukan kemampuan air untuk mendukung
pertumbuhan alga dan kehidupan air lainnya, hal ini dikarenakan :
1.

Pengaruh system buffer dari alkalinitas;

2.

Alkalinitas berfungsi sebagai reservoir untuk karbon organik. Sehingga

alkalinitas diukur sebagai faktor kesuburan air. (Syafila, Mindriany).


Perbedaan antara basa tingkat tinggi dengan alkalinitas yang tingga adalah sebagai
berikut :
1.

Tingkat basa tinggi ditunjukkan oleh pH tinggi;

2.

Alkalinitas tinggi ditunjukkan dengan kemampuan menerima proton

tinggi.
II. PRAKTIKUM
II.1.
Alat dan bahan
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

25

Alat
Pipet volume 25 ml
Erlenmeyer 250 ml
Buret 50 ml

Bahan
Indikator PP
Indikator MO
H2SO4 0,02 N

II.2.
Diagram alir
- Alkalinitas PP
Karena tidak berwarna saat ditambahkan indikator PP tidak perlu ada proses titrasi,
Pipet air uji 25 ml ke dalam
erlenmeyer

Tambahkan indikator PP

Jika berwarna merah titrasi


dengan H2SO4

langsung ke proses analisa MO


-

Alkalinitas MO

II.3.
-

Langkah kerja
Pipet 25 ml air uji

Tambahkan indikator MO

Titrasi dengan H2SO4 0,02 N

Alkalinitas PP
a. Memipet 25 ml air uji ke dalam erlenmeyer
b. Menambahkan 2 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

26

c. Jika berwarna merah titrasi dengan H2SO4


d. Karena larutan tidak berwarna merah maka tidak perlu titrasi, langsung ke
alkalinitas MO

Alkalinitas MO
a. Memipet 25 ml air uji ke dalam erlenmeyer
b. Menambahkan 2 tetes indikator MO ke dalam erlenmeyer
c. Menitrasi air uji dengan H2SO4 sampai berwarna orange sindur

II.4.
Data praktikum dan perhitungan
Diketahui
:
Ml titrasi 1
: 0,5 ml
Ml titrasi 2
: 0,5 ml
Rata rata = 0,5 ml
Alkalinitas PP
:0
Alkalinitas MO
:?
Jawab
:
Alkalinitas MO
= Ml titrasi x N x Faktor pengencer
= 0,5 ml x 0,02 x 1.000 ml/25ml
= 0,4 mgrek/l
Tabel unsur alkalinitas
Hasil

OH-

CO32-

HCO3

P=0

2P < M

2P

M-2P

2P = 0

2P

2P > M

2P M

2 (M-P)

P=M

Maka kandungan HCO3 = 0,4 mgrek/l x Be HCO3


= 0,4 mgrek/l x 61
= 24,4 mg/l

III. DISKUSI
Berdasarkan praktikum uji alkalinitas air diperoleh data bahwa air uji mengandung ion
penyebab alkalinitas sebesar 24,4 mg/l yang hanya terdiri dari ion HCO 3. Hal ini
dikarenakan pada saat pengujian alkalinitas PP, air tidak berwarna karena alkalinitas PP
sendiri pada pH 8,3 sedangkan air uji memiliki pH 5.

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

27

Persyaratan kadar alkalinitas untuk air proses sebesar < 75 mg/l artinya air uji sudah
memenuhi persyaratan untuk dijadikan air proses karena kadarnya sebesar 24,4 mg/l.
Baku mutu air proses untuk kandungan bikarbonat sendiri < 200 mg/l, sedangkan air uji
hanya sebesar 24,4 mg/l. Hal ini membuktikan air uji memiliki tingkat alkalinitas yang
masuk persyaratan.
Apabila kadar alkalinitasnya tinggi akan menyebabkan karat pada pipa pada saat proses
berlangsung. Karat tersebut akan terbawa air dan menodai bahan tekstil. Akan tetapi
jika terlalu rendah akan menyebabkan kerak karbonat pada dinding pipa dan ketel uap
sehingga terjadi pemanasan setempat.
IV. KESIMPULAN
- Kadar alkalinitas air uji sebesar 24,4 mg/l
- Persyaratan konsentrasi alkalinitas untuk air proses sebesar < 75 mg/l
- Air uji memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai air proses tekstil.
- Ion penyebab alkalinitas pada air uji hanya HCO3

BAB 5
ANALISA KANDUNGAN Fe
I.

PENDAHULUAN
I.1. Maksud dan tujuan
Maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kadar Fe di dalam air yang
dapat menghambat proses basah tekstil. Adapun tujuannya adalah sebagai
berikut.
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

28

Mampu menghitung kadar Fe dengan menggunakan spektrofotometer


Mengetahui mekanisme analisa kandungan Fe
Mampu mengevaluasi hasil praktikum

I.2. Teori dasar


Besi adalah metal berwarna putih keperakan, liat, dan dapat dibentuk, biasanya
di alamdidapat sebagai hematit. Besi merupakan elemen kimiawi yang dapat
dipenuhi hampir di semua tempat di muka bumi, pada semua bagian lapisan
geologis dan semua badan air. Pada air permukaan, jarang ditemui kadar Fe
lebih besar dari 1 mg/L, tetapi didalam air, kadar tanah Fe dapat jauh lebih
tinggi. Konsentrasi Fe yang tinggi dapat dirasakan dan dapat menodai kain dan
perkakas dapur, selain itu juga menimbulkan pengendapan pada dinding pipa,
pertumbuhan bakteri besi, kekeruhan karena adanya koloidal yang terbentuk.
Tubuh manusia hanya mengandung besi sebanyak 4g. Adanya unsur besi di
dalam tubuh berfungsi untuk memenuhi kebutuhan akan unsur tersebut dalam
mengatur metabolisme tubuh. Dalam tubuh, sebagian besar unsur besi terdapat
dalam hemoglobin, pigmen merah yang terdapat dalam sel darah merah.
Karena itulah masukan besi setiap hari sangat diperlukan untuk mengganti zat
besi yang hilang melalui tinja, air kencing, dan kulit. Namun masukan zat besi
yang dianjurkan juga harus dipenuhi oleh dua faktor yaitu kebutuhan fisiologis
perseorangan dan persediaan zat besi di dalam makanan yang disantap
(Trianjaya, Zunaedi. 2009
Besi secara farmakologi digunakan sebagai zat penambah darah bagi penderita
anemia. Salah satu bentuk garam besi yang digunakan sebagai komponen zat
aktif dalam sediaan penambah darah adalah besi(II) sulfat, yaitu bentuk besi
bervalensi dua atau ferro. Hal ini berkaitan dengan kondisi tubuh manusia yang
lebih mudah menyerap besi dua daripada besi bervalensi tiga. Sifat kimia besi
yang sangat dikenal adalah mudah teroksidasi oleh oksigen dari udara dan
oksidator lainnya, sehingga besi umumnya dijumpai sebagai besi bervalensi
tiga. Pada kondisi tertentu dimana kurang kontak dengan udara, besi berada
sebagai besi bervalensi dua.
Metode analisis besi yang sering digunakan adalah dengan spektrofotometri
sinar tampak, karena kemampuannya dapat mengukur konsentrasi besi yang
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

29

rendah. Analisis kuantitatif besi dengan spektrofotometri dikenal dua metode,


yaitu metode orto-fenantrolin dan metode tiosinat. Besi bervalensi dua maupun
besi bervalensi tiga dapat membentuk kompleks berwarna dengan suatu reagen
pembentuk kompleks dimana intensitas warna yang terbentuk dapat diukur
dengan spektrofotometri sinar tampak. Karena orto fenantrolin merupakan
ligan organik yang dapat membentuk kompleks berwarna dengan besi(II)
secara selektif (Kartasasmita, et al. 2009).
II.

PRAKTIKUM
II.1. Alat dan bahan

II.2.

Alat
Labu ukur 100 ml
Pengaduk
Spektrofotometer
Cuvet

Bahan

KCNS
HNO3
Air suling
Larutan standar Fe 100 ppm

Diagram alir

Hitung kebutuhan larutan standar Fe

Pipet 25 ml larutan standar Fe

Tambahkan KCNS 5%

Tambahkan HNO3 4 N

Kocok dengan cepat

Ukur dengan spektrofotometer dan cari


panjang gelombang maksimum
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

30

II.3. Langkah kerja


h. Menghitung kebutuhan Fe konsentrasi 25 ppm dari larutan standar Fe 100
ppm

i.
j.
k.
l.
m.

V1.N1

= V2.N2

100 ml . 25 ppm

= x . 100 ppm

2500 ml

= 100 x

= 25 ml

Mimipet 25 ml larutan standar Fe ke dalam labu ukur


Menambahkan KCNS 5% sebanyak 5 ml
Menambahkan HNO3 4N sebanyak 5 ml
Mengocok labu ukur yang berisi larutan dengan cepat
Mengukur contoh uji dengan spektrofotometer untuk mencari panjang
gelombang maskimum

II.4. Data praktikum


Mencari panjang gelombang maksmimum () larutan standar Fe
400

410

420

430

440

450

460

470

480

490

0,04

0,04

0,05

0,05

0,05

0,06

0,06

0,05

0,05

0,05

500
0,053

Mencari persamaan regresi linier standar sulfat


Keterangan :
Karena nilai absorbansi kelompok kami pada konsentrasi 25 ppm terus
menyimpang kemungkinan dikarenakan cuvet untuk spektrofotometer sudah jenuh,
maka data kelompok kami tidak dimasukkan ke dalam tabel (diabaikan)
Ppm ( X )

Absorbansi (Y)

X2

XY

0,033

25

0,165

10

0,044

100

0,44

15

0,057

225

0,855

20

0,061

400

1,22

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

31

50

0,195

750

2,68

Y = ax + b
xy
x
y

4 ( 2,68 ) (50)(0,195)
=
4 ( 750 ) ( 50 )
10,729,75
=
30002500

=
a

0,97
500

y
x
x
xy

( 0,195 )( 750 ) (50)(2,68)


=
4 ( 750 )( 50 )
146,25134
=
30002500
=

= 0,00194
b

12,25
500

= 0,0245

Sehingga persamaannya y = 0,00194 x + 0,0245

Ppm ( X )
5

Y = 0,00194 x + 0,0245
= 0,00194 (5) + 0,0245

Hasil
0,0342

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

32

10

= 0,00194 (10) + 0,0245

0,0439

15

= 0,00194 (15) + 0,0245

0,0536

20

= 0,00194 (20) + 0,0245

0,0633

= 0,00194 (0) + 0,0245

0,0245

KURVA KALIBRASI Fe DALAM AIR


0.07

0.06

0.06

0.05

0.05

0.04

0.04

Absorbansi

0.03

0.03
0.02
0.02
0.01
0

10

15

20

Konsentrasi Fe (ppm)

III.

DISKUSI
Berdasarkan praktikum larutan standar Fe diperoleh data bahwa kurva kalibrasinya
membentuk garis lurus. Semakin tinggi konsentrasi Fe dalam larutan uji maka nilai
absorbansi semakin besar. Semakin banyak kandungan Fe dalam air, maka air
semakin jenuh.
Selain itu, dalam laporan air proses ini pada bab Analisa Kuantitatif Fe tidak
mencantumkan kandungan Fe air uji NPM. 13050015, karena pada larutan standar
Fe kelompok 5 diabaikan. Hal ini kemungkinan disebabkan cuvet pada
spektrofotometer sudah jenuh sehingga nilai absorbansi tidak sesuai. Oleh karena
itu persamaan regresi linier diperoleh dari 4 data saja dengan mengabaikan data
kelompok 5. Dengan demikian air uji NPM. 13050015 tidak dapat dicari besarnya
konsentrasi Fe dalam air.
Untuk kandungan Fe yang memenuhi persyaratan air proses sebesar < 0,1 mg/l .
Jika lebih dari itu akan mengganggu proses basah tekstil misalnya pada saat
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

33

pencelupan. Jika kadar Fe banyak bisa mengubah arah warnanya. Disamping itu,
Fe akan menyebabkan karat pada pipa pipa air.
IV.
-

KESIMPULAN
Berdasarkan data praktikum yag diperoleh, dapat disimpulkan bahwa :
Kurva kalibrasi Fe berbentuk garis lurus / linier
Semakin tinggi konsentrasi Fe dalam air, maka nilai absorbansi semakin besar
Persyaratan kadar Fe untuk air proses adalah 0,1 mg/l
Teknis praktikum dapat mempengaruhi hasil yang diperoleh
Data kelompok 5 untuk pengujian air NPM. 13050015 diabaikan

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

34

BAB 6
ANALISA KESADAHAN (Ca dan Mg) dengan
CARA KOMPLEKSOMETRI
I.

PENDAHULUAN
I.1. Maksud dan tujuan
Maksud dilakukannya kegiatan praktikum ini adalah untuk mengetahui kadar
kesadahan dari air yang dapat mempengaruhi kualitas air kadar kesadahan dari air
yang dapat mempengaruhi proses basah tekstil. Adapun tujuan dari praktikum ini
-

adalah sebagai berikut.


Mampung menghitung kadar kesadahan
Mengetahui faktor penyebab kesadahan
Mengetahui mekanisme kerja dari analisa kesadahan cara kompleksometri
Mampu menganalisa kesadahan dalam air proses
Mampu mengevaluasi hasil praktikum

I.2. Teori dasar


Titrasi

kompleksometri

adalah

salah

satu

metode

kuantitatif

dengan

memanfaatkan reaksi kompleks antara ligan dengan ion logam utamanya, yang
umum di indonesia EDTA ( disodium ethylendiamintetraasetat/ tritiplex/
komplekson, dll ). Kestabilan termodinamik (dari) suatu spesi merupakan ukuran
sejauh mana spesi ini akan terbentuk dari spesi-spesi lain pada kondisi-kondisi
tertentu, jika sistem itu dibiarkan mencapai keseimbanagan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan kompleks, yaitu :
a. Kemampuan mengkompleks logam-logam.
Kemampuan mengkompleks relatif (dari) logam-logam digambarkan dengan baik
menurut klarifikasi Schwarzenbach, yang dalam garis besarnya didasarkan atas
pembagian logam menjadi asam Lewis (penerima pasangan elektron) kelas A dan
kelas B.

b. Ciri-ciri khas ligan itu.

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

35

Di antara ciri-ciri khas ligan yang umum diakui sebagai mempengaruhi kestabilan
kompleks dalam mana ligan itu terlibat, adalah :
1.

kekuatan basa dari ligan itu.

2.

sifat-sifat penyepitan (jika ada), dan

3.

efek-efek sterik (ruang).

Keinertan atau kelabilan kinetik dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi


pengamatan umum berikut ini merupakan pedoman yang baik akan perilaku
kompleks-kompleks dari berbagai unsur, yaitu diantaranya :
1.

Unsur grup utama, biasanya membentuk kompleks-kompleks labil.

2.

Dengan kekecualian Cr(III) dan Co(III), kebanyakan unsur transisi baris-

pertama, membentuk kompleks-kompleks labil.


3.

Unsur transisi baris kedua dan baris ketiga, cenderung membentuk

kompleks-kompleks inert.
Suatu reaksi kompleks dapat dipakai dalam penitaran apabila:
-

Kompleks cukup memberikan perbedaan pH yang cukup besar pada daerah

titik setara.
-

Terbentuknya cepat.

Titrasi Kompleksometri
Banyak ion logam dapat ditentukan dengan titrasi menggunakan suatu pereaksi
(sebagai titran) yang dapat membentuk kompleks dengan logam tersebut. Salah
satu senyawa komplek yang biasa digunakan sebagai penitrasi dan larutan standar
adalah

ethylene diamine tetra acetic acid (EDTA).


EDTA merupakan asam lemah dengan empat proton. Bentuk asam dari EDTA
dituliskan sebagai H4Y dan reaksi netralisasinya adalah sebagai berikut :
Sebagai penitrasi/pengomplek logam, biasanya yang digunakan yaitu garam
Na2EDTA (Na2H2Y), karena EDTA dalam bentuk H4Y dan NaH3Y tidak larut

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

36

dalam air.EDTA dapat mengomplekkan hampir semua ion logam dengan


perbandingan mol 1 : 1 berapapun bilangan oksidasi logam tersebut.Kestabilan
senyawa komplek dengan EDTA, berbeda antara satu logam dengan logam yang
lain. Reaksi pembentukan komplek logam (M) dengan EDTA (Y) adalah :
M + Y MY
Konstanta pembentukan/kestabilan senyawa komplek dinyatakan sebagai berikut
ini :
Besarnya harga konstante pembentukan komplek menyatakan tingkat kestabilan
suatu senyawa komplek. Makin besar harga konstante pembentukan senyawa
komplek, maka senyawa komplek tersebut makin stabil dan sebaliknya makin
kecil harga konstante kestabilan senyawa komplek, maka senyawa komplek
tersebut makin tidak (kurang) stabil.
Karena selama titrasi terjadi reaksi pelepasan ion H

maka larutan yang akan

dititrasi perlu ditambah larutan bufer. Untuk menentukan titik akhir titrasi ini
digunakan indikator, diantaranya Calmagite, Arsenazo, Eriochrome Black T
(EBT). Sebagai contoh titrasi antara Mg2+ dengan EDTA sebagai penitrasi,
menggunakan indikator calmagite. Reaksi antara ion Mg 2+ dengan EDTA tanpa
adanya penambahan indikator adalah :
Mg2+ + H2Y2- ? MgY2- + 2H+
Jika sebelum titrasi ditambahkan indikator maka indikator akan membentuk
kompleks dengan Mg2+ (berwarna merah) kemudian Mg2+ pada komplek akan
bereaksi dengan EDTA yang ditambahkan. Jika semua Mg 2+ sudah bereaksi
dengan EDTA maka warna merah akan hilang selanjutnya kelebihan sedikit
EDTA akan menyebabkan terjadinya titik akhir titrasi yaitu terbentuknya warna
biru.

Kesalahan Titrasi Kompleksometri


Korbl dan Pribil telah mengkelompokkan titrasi kompleksometri. Meliputi titrasi
asam basa, demikian Ringbom. Kesalahan titrasi kompleksometri tergantung
pada cara yang dipakai untuk mengetahui titik akhir. Pada prinsipnya ada dua
cara, yaitu kelebihan titran yang pertama ditunjukkam atau berkurangnya

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

37

konsentrasi komponen tertentu sampai batas yang ditentukan, dideteksi. Pertama,


kesalahan titrasi dihitung dengan cara yang sama pada titrasi pengendapan.
Kedua, digunakan senyawa yang membentuk senyawa kompleks yang berwarna
tajam dengan logam yang ditetapkan. Warna ini hilang atau berubah sewaktu
logam telah diikat menjadi kompleks yang lebih stabil. Misalnya EDTA.
Zat yang digunakan sebagai indikator dapat diklasifikasikan menjadi dua
golongan. Pertama, senyawa senyawa yang tidak berwarna. Kedua zat warna
organik yang mempunyai sifat sebagai indikator asam-basa dan mengandung
gugus pembentuk khelat. Korbl menamakan indikator tersebut Indikator
Meakhromik. Dalam suatu titrasi dengan indikator tersebut, titik akhir ditandai
oleh perubahan dari warna kompleks indikator logam ke warna indikator bebas.
Kesalahan absolut sama dengan jumlah logam yang tidak terikat menjadi
kompleks pada titik ekivalen. Jumlah logam yang diubah menjadi kompleks,
sangat tergantung pada kepekaan indikator yang dipakai. Kepekaan ini tergantung
pada tetapan satabilitas atau tetapan pembentukan kompleks. K untuk reaksi
antara logam dengan indikator M + I MI, didefinisikan sebagai K1= [ MI ] /
[ M ] [ I ]. Dan tergantung pada konsentrasi indikator, sebab indikator bertindak
sebagai pembentuk kompleks, bersaing dengan titran. pH juga mempengaruhi
kesalahan titrasi kompleksometri.
II.

PRAKTIKUM
II.1.
Alat dan bahan

Alat
Pipet volume 25 ml
Erlenmeyer 250 ml
Buret 50 ml
Corong
Pipet ukur
Gelas piala
Kertas saring

Bahan
Larutan EDTA 0,01 M
Larutan Buffer pH 10
Indikator EBT
Indikator murexid
KCN 5%
NaOH 4N

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

38

II.2.
Diagram alir
a. Penetapan kesadahan total
b. Penetapan kesadahan Ca
Pipet air uji 25 ml ke dalam
erlenmeyer
Pipet 25 ml air uji ke dalam erlenmeyer
Tambahkan buffer pH 10
Tambahkan NaOH 4N
Tambahkan KCN 5%
Tambahkan KCN 5%
Tambahkan indikator EBT
Tambahkan indikator murexid
Titar dengan larutan EDTA 0,01 M
Titar dengan larutan EDTA 0,01 M

c. Penetapan kesadahan tetap


Pipet 200 ml air uji ke dalam erlenmeyer

Panaskan hingga mendidih

Saring endapan

Sisa kesadahan diperiksa dengan larutan


EDTA

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

39

II.3.
Langkah kerja
a. Penetapan kesadahan total
- Memipet 25 ml air uji ke dalam erlenmeyer
- Menambahkan buffer pH 10 sebanyak 1 ml
- Menambahkan 2 ml KCN 5%
- Menambahkan 3-4 tetes EBT sehingga larutan berwarna merah keunguan
- Titrasi segera dengan larutan EDTA 0,01 M sampai tepat berwarna biru
- Hitung hasil titrasi
b. Penetapan kesadahan Ca
- Memipet 25 ml air uji ke dalam erlenmeyer
- Menambahkan NaOH 4N sebanyak 1 ml
- Menambahkan 2 ml KCN 5%
- Menambahkan indikator murexid sampai larutan menjadi merah
- Titrasi segera dengan larutan EDTA 0,01 M sampai tepat berubah ungu
- Hitung hasil titrasi
c. Penetapan kesadahan tetap
- Memipet 200 ml contoh uji ke dalam erlenmeyer
- Panaskan sampai mendidih selama 15 menit lalu dinginkan
- Saring endapan yang terbentuk menggunakan kertas saring
- Sisa kesadahan diperiksa kesadahan tetapnya dengan larutan EDTA 0,01

II.4.

M seperti penetapan kesadahan total


- Hitung hasil titrasi
Data praktikum dan perhitungan

a. Kesadahan total
Diketahui :
Ml titrasi
= 4,3 ml
Kesadahan total = Ml titrasi EDTA x N x 5,6o dH x faktor pengenceran
= 4,3 ml x 0,01 x 5,6o dH x 1000 ml/25 ml
= 9,632o Dh
b. Ca total
Diketahui :
Ml titrasi
Ca total

c. Mg total
Mg total

= 1 ml
= Ml titrasi EDTA x N x 5,6o dH x faktor pengenceran
= 1 ml x 0,01 x 5,6o dH x 1000 ml/25 ml
= 2,24o dH
= Kesadahan total Ca total
= 9,632o dH 2,24o dH
= 7,392o dH

d. Kesadahan tetap
Diketahui :
Ml titrasi
Kesadahan tetap

= 3,6 ml
= Ml titrasi EDTA x N x 5,6o dH x faktor pengenceran
= 3,6 ml x 0,01 x 5,6o dH x 1000 ml/25 ml
= 8,064o dH

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

40

e. Ca tetap
Diketahui :
Ml titrasi
Ca tetap

f. Mg tetap
Mg tetap

= 2,5 ml
= Ml titrasi EDTA x N x 5,6o dH x faktor pengenceran
= 2,5 ml x 0,01 x 5,6o dH x 1000 ml/25 ml
= 5,6o dH

= Kesadahan tetap Ca tetap


= 8,064o dH 5,6o dH
= 2,464o dH

g. Kesadahan sementara
Kesadahan sementara

III.

= Kesadahan total kesadahan tetap


= 9,632o dH 8,064o dH
= 1,568o dH

DISKUSI
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh data bahwa kadar kesadahan total air uji
sebesar 9,632odH sedangkan persyaratan untuk air proses adalah 3 odH hal ini berarti
air uji tidak memenuhi syarat untuk digunakan sebagai air proses.
Besarnya sadah total dipengaruhi oleh besarnya sadah tetap dan sadah sementaranya.
Untuk kadar kesadahan tetap air uji sebesar 8,064 odH dan kesadahan sementara
sebesar 1,568odH. Berikut ada beberapa hal yang mempengaruhi besarnya kadar
kesadahan :
- Banyaknya Ca/Mg yang berikatan dengan Cl dan SO 4 yang membentuk kesadahan
-

tetap
Pengujian yang kurang tepat

Apabila air uji tetap digunakan sebagai air proses maka kesadahan ini akan
menyebabkan sabun mengendap sehingga penggunaan sabun menjadi lebih banyak,
menyebabkan kain menjadi kaku dan berwarna kelabu dikarenakan sadah yang
mengendap, pada proses pencelupan menyebabkan ketidakrataan karena garam tidak
larut yang menempel pada kain serta pada pencelupan zat warna bejana ion kalsium
dapat menyebabkan garam leuko zat warna berubah menjadi zat warna bejana yang
mengendap

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

41

IV.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa:
- Kesadahan total air uji
: 9,632odH
- Ca total air uji
: 2,24odH
- Mg total air uji
: 7,392odH
- Kesadahan tetap air uji
: 8,064odH
- Ca tetap air uji
: 5,6odH
- Mg tetap air uji
: 2,464odH
- Kesadahan sementara
: 1,568odH
- Persyaratan air proses
: 3odH (Sadah total)
- Air uji tidak memenuhi syarat untuk digunakan sebagai air proses

BAB 7
PELUNAKAN AIR SADAH
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

42

I.

PENDAHULUAN
I.1. Maksud dan tujuan
Maksud dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui mekanisme
penurunan kesadahan dalam air sehingga dapat memenuhi persyaratan untuk air
proses. Adapun tujuannya adalah sebgai berikut.
- Mengetahui metode yang dapat digunakan untuk melunakkan sadah
- Mengetahui faktor faktor yang berpengaruh terhadap pelunakan sadah
- Mampu menganalisa hasil penurunan sadah
I.2. Teori dasar
Maksud dari pelunakan air disini adalah penghilangan atau penguranganionion penyebab kesadahan dalam air. Kesadahan ir terutama disebabkan oleh ionion Ca2+ dan Mg2+. Air sadah akan mengendapkan sabun, akibatnya
penggunaan sabun akan lebih banyak. Selain itu akan merusak beberapa jenis
zat warna pada proses pencelupan. Kelebihan ion Ca 2+ serta ion CO3- juga akan
mengakibatkan kerak pada dinding ketel uap yang disebabkan oleh endapan
Calsium carbonat.
Beberapa proses yang dilakukan untuk pelunakan air sadah adalah :
a) Cara Pemanasan
Cara ini hanya dapat menghilangkan kesadahan sementara yang disebabkan
oleh bikarbonat-bikarbonat dari ion kesadahan.
b) Cara Pengendapan
Cara ini merupakan cara yang paling murah yang dapat mengendapkan
kesadahan total. Pada cara ini garam-garam Calsium dan Magnesium penyebab
kesadahan diendapkan sebagai karbonat-karbonat. Sebagai zat pengendap
dipakai campuran Na2CO3 dan Ca(OH)2 atau campuran NaOH dan Ca(OH)2.
Pengendapan garam sadah dan logam-logam dapat dilakukan dengan
menggunakan antara lain soda kapur dan soda soda :
Soda Kapur
Prinsipnya yaitu pengendapan Ca2+ oleh soda (Na2CO3) dan pengendapan
Mg2+, logam-logam dan CO2 oleh kapur (Ca(OH)2. Pelunakan dengan soda
kapur ini paling sering dipakai, murah dan sederhana. Namun sisa sadah yang
dihasilkan setelah dilunakkan masih cukup tinggi 3 oDH.

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

43

Soda soda
Prinsipnya yaitu pengendapan Ca2+ oleh soda (Na2CO3) dan pengendapan
Mg2+, logam-logam dan CO2 oleh kapur (NaOH). Penggunaan Na2CO3 sangat
kecil atau sama dengan nol (0) apabila di dalam air tersebut banyak terkandung
[HCO3] dan [CO2]. Namun sisa sadah yang dihasilkan setelah dilunakkan
masih cukup tinggi 3 oDH.

c) Cara Kompleksometri
Prinsipnya yaitu mengikat Ca2+, Mg2+ atau logam menjadi garam komplek yang
larut. Pelaksanannya sangat mudah dan cepat, dapat dilaksanakan setiap saat
dalam bentuk garam komplek yang larut, menghasilkan sadah sisa 0.1 oDH.
Namun cara kompleksometri ini membentuk larutan yang bersifat alakali dan
mudah terurai pada suhu tinggi.
d) Cara Penukar Ion
Cara ini sangat mahal tetapi efisiensinya cukup tinggi dan cocok dipakai untuk
penyediaan air ketel. Pada cara ini Calsium dan Magnesium yang terkandung
dalam air didesak dan diikat oleh senyawa penukar ion. Prinsipnya yaitu
menukar kation (Ca2+, Mg2+ dan L) dengan natrium dari penukar kation
anorganik dan penukar kation. Penukar berbentuk tabung saringan melalui
tabung dan air yang keluar berupa air lunak bebeas, karena telah mengganti ion
Na dari penukar kation. Cara ini sangat mahal tetapi efisiensi cukup tinggi
dipakai untuk penyediaan air ketel . Pada cara ini kalsium dan magnesium
yang terkandung dalam air didesak dan diikat oleh senyawa penukar ion.

Penukar kation anorganik


Dengan nama dagang Zeolit (Na2OZ).
Reaksi pelunakan :
Na2OZ

Ca2+

CaOZ + 2 Na

Na2OZ

Mg2+

MgOZ + 2 Na

Na2OZ

Fe2+

FeOZ + 2 Na

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

44

Jika zeolit yang digunakan tidak mampu lagi untuk menukarkan ion penyebab
kesadahan,dan logam logam yang ada di dalamnya, maka zeolit ini disebut
zeolit jenuh. Zeolit jenuh dapat digunakan kembali jika di regenerarasi
menggunakan larutan NaCl jenuh. Prinsipnya yaitu pengaktifan kembali
penukar zeolit yang telah jenuh mengandung kation Ca, Mg, L dengan larutan
NaCl jenuh.
Reaksi regenerasi zeolit

CaOZ

2 NaCl

Na2OZ + CaCl2

MgOZ

2 NaCl

Na2OZ + CaCl2

FeOZ

2 NaCl

Na2OZ + CaCl2

Penukar kation Organik


Dengan nama dagang Wofatit (W-Na2)
Reaksi pelunakan :
W-Na2

Ca2+

W-Ca + 2 Na

W-Na2

Mg2+

W-Mg + 2 Na

W-Na2

Fe2+

W-Fe + 2 Na

Jika Wofatit yang digunakan tidak mampu lagi untuk menukarkan ion
penyebab kesadahan,dan logam logam yang ada di dalamnya, maka Wofatit ini
disebut Wofatit jenuh. Wofatit jenuh dapat digunakan kembali jika di
regenerarasi menggunakan larutan NaCl jenuh. Prinsipnya yaitu pengaktifan
kembali penukar Wofatit yang telah jenuh mengandung kation Ca, Mg, L
dengan larutan NaCl jenuh.
Reaksi regenerasi wofatit
W-Ca

2 NaCl

W-Na2 + 2 Na

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

45

W-Mg

2 NaCl

W-Na2 + 2 Na

W-Fe

2 NaCl

W-Na2 + 2 Na

REAKSI
A. Pengendapan dengan campuran Na2CO3 dan Ca(OH)2
Ca(HCO3)2
+ Ca(OH)2
2CaCO3 + 2H2O
Mg(HCO3)2
+ Ca(OH)2
CaCO3 + Mg(OH)2 + H2O
MgCl2
+ Ca(OH)2
Mg(OH)2 + CaCl2
MgSO4
+ Ca(OH)2
Mg(OH)2 + CaSO4
CO2
+ Ca(OH)2
CaCO3 + H2O
FeCl2
+ Ca(OH)2
Fe(OH)2 + CaCl2
2FeCl3
+ 3Ca(OH)2
2Fe(OH)3 + 3CaCl2
MnSO4
+ Ca(OH)2
Mn(OH)2 + CaSO4
Al2(SO4)3
+ 3Ca(OH)2
2Al(OH)3 + 3CaSO4
CaCl2
+ Na2CO3

CaCO3 + NaCl
CaSO4
+ Na2CO3

CaCO3 + Na2SO4
B. Pengendapan dengan campuran Na2CO3 dan NaOH
Ca(HCO3)2
+ 2NaOH

CaCO3 + Na2CO3 + 2H2O


Mg(HCO3)2
+ 4NaOH

Mg(OH)2 + Na2CO3 + 2H2O


MgCl2
+ 2NaOH

Mg(OH)2 + 2NaCl
MgSO4
+ 2NaOH

Mg(OH)2 + NaSO4
CO2
+ 2NaOH

Na2CO3 + H2O
FeCl2
+ 2NaOH

Fe(OH)2 + 2NaCl
FeCl3
+ 3NaOH

Fe(OH)3 + 3NaCl
MnSO4
+ 2NaOH

Mn(OH)2 + Na2SO4
Al2(SO4)3
+ 6NaOH

2Al(OH)3 + 3Na2SO4
CaCl2
+ Na2CO3

CaCO3 + NaCl
CaSO4
+ Na2CO3

CaCO3 + Na2SO4
II.

PRAKTIKUM
II.1. Alat dan bahan

II.2.

Alat
Pipet volume 10 ml
Erlenmeyer 250 ml
Buret 50 ml
Corong
Pipet ukur
Gelas piala
Tabung resin penukar ion
Gelas piala
Kertas saring

Bahan
Larutan EDTA 0,01 M
Larutan Buffer pH 10
Indikator EBT
KCN 5%
Resin penukar ion (penukar ion

buatan dan alami)


Na2CO3 dan Ca(OH)2 ( soda

kapur)
Na2CO3 dan NaOH (soda soda)

Diagram alir
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

46

a. Cara pemanasan dengan soda kapur dan soda ash

Hitung kebutuhan soda kapur dan


soda ash
Pipet 100 ml air uji ke dalam
erlenmeyer
Masukkan soda ash dan soda kapur
ke dalam erlenmeyer tersebut

Didihkan larutan selama

15

menit

Dinginkan dan saring

Titrasi filtrat dengan larutan EDTA


0,01 M
b. Cara pengendapan dengan NaOH dan Na2CO3
Hitung kebutuhan NaOH dan
Na2CO3
Pipet 100 ml air uji ke dalam
erlenmeyer
Masukkan NaOH dan Na 2CO3 ke
dalam erlenmeyer tersebut

Didihkan larutan selama

15

menit

Dinginkan dan saring

Titrasi filtrat dengan larutan EDTA


0,01 M
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

47

c. Cara penukar ion (alamai dan buatan)

Pipet 100 ml air uji ke dalam gelas piala

Alirkan air uji melalui tabung yang berisi penukar ion

Lakukan sebanyak 3 kali aliran

Analisa air yang telah dialirkan dengan larutan EDTA 0,01 M

II.3. Langkah kerja


a. Cara pemanasan dengan soda kapur dan soda ash
- Menghitung kebutuhan soda kapur dan soda ash sesuai dengan
-

kebutuhan
Memipet 100 ml air uji ke dalam erlenmeyer
Memasukkan soda kapur dan soda ash yang telash sesuai kebutuhan ke

dalam Erlenmeyer
Didihkan larutan selama 15 menit
Mendinginkan larutan kemudian saring dengan kertas saring
Menitrasi filtrat untuk mengetahui kandungan kesadahan sisanya
dengan metode kompleksometri ( larutan EDTA 0,01 M) :
Tambahkan 1 ml larutan buffer pH 10
Tambahkan 2 ml KCN 5 %
Tambahkan 3-4 tetes indikator EBT, larutan menjadi merah
(merah anggur)
Segera dititar dengan larutan EDTA 0,01 M sampai tepat
berubah menjadi biru

b. Cara pengendapan dengan NaOH dan Na2CO3


- Menghitung kebutuhan NaOH dan Na2CO3 sesuai kebutuhan
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

48

Memipet 100 ml air uji ke dalam erlenemyer


Memasukkan NaOH dan Na2CO3 yang telash sesuai resep ke dalam

erlenmeyer
Didihkan larutan selama 15 menit
Mendinginkan larutan kemudian saring dengan kertas saring
menitrasi filtrat untuk mengetahui kandungan kesadahan sisanya
dengan metode kompleksometri ( larutan EDTA 0,01 M)
Tambahkan 1 ml larutan buffer pH 10
Tambahkan 2 ml KCN 5 %
Tambahkan 3-4 tetes indikator EBT, larutan menjadi merah
(merah anggur)
Segera dititar dengan larutan EDTA 0,01 M sampai tepat
berubah menjadi biru

c. Cara penukar ion (alami dan buatan)


- Memasukkan 100 ml air uji ke dalam gelas piala
- Alirkan air uji melalui tabung yang berisi penukar ion baik yang alami
-

maupun buatan
Tampung ke dalam gelas piala
Lakukan sebanyak 3 kali aliran
Menganalisa kesadahan air yang telah dialirkan dengan metode
kompleksometri (EDTA 0,01 M)
Tambahkan 1 ml larutan buffer pH 10
Tambahkan 2 ml KCN 5 %
Tambahkan 3-4 tetes indikator EBT, larutan menjadi merah
(merah anggur)
Segera dititar dengan larutan EDTA 0,01 M sampai tepat
berubah menjadi biru

II.4. Data praktikum dan perhitungan


A. Cara Pengendapan Dengan Soda Kapur {Na2CO3 dan Ca(OH)2}
- Diketahui
Sadah tetap
= 8,064o dH
Logam (Fe)
= 3680,4 mg/l
Sadah sementara
= 1,568o dH
Mg tetap
= 2,464 o dH
-

Kebutuhan Na2CO3 = (CaCl2) + (CaSO4) + (MgCl2) + (MgSO4) + (L)


Sadah tetap dH
Be Na2 CO 3
={
x
}+L
2,8
valensi
8,064 dH
106
={
x
} + 3680,4 mg/l
2,8
2

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

49

= 3833,04 mg/l
= 3,83304 g/l
3,83304 g
x 100 ml
1000
= 0,383304 g

Kebutuhan 100 ml =

Kebutuhan Ca (OH)2 = (Ca (HCO3)2) + (Mg (HCO3)2) + (MgCl2) + (MgSO4) + (CO2)


+ (L)
={(

Sadah sementara dH
2,8

Mg tetap dH
x
2,8

Be Ca(OH )2
}+ (CO2) + L
Valensi
1,568 dH
2,464 dH
74
x
={
+
} + 0 + 3680,4 mg/l
2,8
2,8
2

= {(0,56 dH + 0,88 dH ) x 37 } + 3680,4 mg/l


= 53,28 mg/l + 3680,4 mg/l
= 3733,68 mg/l
= 3,73368 g/l
-

3,73368 g
x 100 ml
1000
= 0,373368 g

Kebutuhan 100 ml =

Hasil praktikum :
- Ml titrasi : 0,4 ml
- Sadah tetap total : Ml titrasi x N x 5,6odH x Faktor pengencer
: 0,4 ml x 0,01 x 5,6odH x 1000 ml/10 ml
: 2,24odH
% Penurunan kesadahan :
:

Kesadahan totalkesadahan tetaptotal


kesadahan total

9,632dH 2,24 dH
9,632 dH

7,392 dH
9,632dH

x 100 %

x 100 %

x 100 %

: 76,7 %
B. Cara Pengendapan Dengan Soda Soda {Na2CO3 dan NaOH}
- Diketahui
Ca tetap
= 5,6o dH
Logam (Fe)
= 3680,4 mg/l
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

50

= 1,568o dH
= 2,464 o dH

Sadah sementara
Mg tetap
-

Kebutuhan Na2CO3 = (CaCl2) + (CaSO4) - (Ca (HCO3)2) - (Mg(HCO3)2) - (CO2)


Ca tetap dH
Sadah sementara dH
Be Na2 CO 3
)} x
={
)- (
2,8
2,8
valensi

} CO2

5,6 dH
1,568 dH
x
={
2,8
2,8

= ( 2 0,56 ) x 53
= 1,44 mgrek/l x 53
= 76,32 mg/l
= 0,07632 g/l

106
2

}-0

Karena jumlah kebutuhan g/l sedikit untuk memudahkan pengambilan, maka diambil
dari larutan Na2CO3 konsentrasi 2 g/l
V1. N1 = V2.N2
x.2
= 100 . 0,07632
100 . 0,07632
x
=
2
= 3,8 ml
-

Kebutuhan NaOH

= (Ca (HCO3)2) + (Mg (HCO3)2) + (MgCl2) + (MgSO4) + (CO2) +

(L)
={(

Sadah sementara dH
2,8

Mg tetap dH
x
2,8

Be NaOH
}+ (CO2) + L
Valensi
1,568 dH
2,464
40
x
={
+
} + 0 + 3680,4 mg/l
2,8
2,8
1

= {(0,56 dH + 0,88 dH ) x 40 } + 3680,4 mg/l


= 70,4 mg/l + 3680,4 mg/l
= 3750,8 mg/l
= 3,7508 g/l

3,7508 g
x 100 ml
1000
= 0,37508 g

Kebutuhan 100 ml =

Hasil praktikum :
Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

51

Ml titrasi : 0,2 ml
Sadah tetap total : Ml titrasi x N x 5,6odH x Faktor pengencer
: 0,2 ml x 0,01 x 5,6odH x 1000 ml/10 ml
: 1,12odH

% Penurunan kesadahan :
:

Kesadahan totalkesadahan tetaptotal


kesadahan total

9,632dH 1,12 dH
9,632 dH

1,12 dH
9,632dH

x 100 %

x 100 %

x 100 %

: 88,37 %
C. PENUKAR ION ALAMI
Hasil praktikum :
- Ml titrasi : 1 ml
- Sadah tetap total : Ml titrasi x N x 5,6odH x Faktor pengencer
: 1 ml x 0,01 x 5,6odH x 1000 ml/10 ml
: 5,6 odH
% Penurunan kesadahan :
:

Kesadahan totalkesadahan tetaptotal


kesadahan total

9,632dH 5,6 dH
9,632 dH

4,032 dH
9,632 dH

x 100 %

x 100 %

x 100 %

: 41,86 %
D. PENUKAR ION BUATAN
Hasil praktikum :
- Ml titrasi : 0,1 ml
- Sadah tetap total : Ml titrasi x N x 5,6odH x Faktor pengencer
: 0,1 ml x 0,01 x 5,6odH x 1000 ml/10 ml
: 0,56odH
% Penurunan kesadahan :
:

Kesadahan totalkesadahan tetaptotal


kesadahan total

x 100 %

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

52

9,632dH 0,56 dH
9,632 dH

9,072dH
9,632dH

x 100 %

x 100 %

: 94,18 %
E. KESADAHAN TETAP PEMANASAN BIASA
% Penurunan kesadahan :
:

Kesadahan totalkesadahan tetaptotal


kesadahan total

9,632dH 8,064 dH
9,632 dH

1, 568 dH
9,632 dH

x 100 %

x 100 %

x 100 %

: 16,27 %
F. TABEL PERSENTASE PENURUNAN SADAH

METODE

PERSENTASE (%)

PEMANASAN BIASA

16, 27

SODA KAPUR

76,7

SODA SODA

88,37

PENUKAR ION ALAMI

41,86

PENUKAR ION BUATAN

94,18

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

53

GRAFIK PENURUNAN SADAH

Persentase ( % )

100
90
80
70
60
50
40
30
16.27
20
10
0

94.18

88.37
76.7
41.86

Metode

III.

DISKUSI

GRAFIK PENURUNAN SADAH

Persentase ( % )

100
90
80
70
60
50
40
30
16.27
20
10
0

94.18

88.37
76.7
41.86

Metode

Berdasarkan praktikum pelunakan sadah dengan berbagai macam metode,


diperoleh data sebagai beirikut.
Sadah paling banyak hilang dengan menggunakan penukar ion buatan yaitu sebesar
94,18% sedangkan terendah adalah cara pemanasan biasa tanpa tambahan zat
tertentu yaitu sebesar 16,27%. Karena pada pemanasan biasa kesadahan sementara
menguap akan tetapi tidak ada yang mengendapkan hasil uap tersebut ketika
menjadi embun dan kembali menetes ke dalam air. Berikut reaksinya :

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

54

Pada

pelunakan

sadah metode

soda kapur > pemanasan biasa karena Ca2+ diendapkan oleh Na2CO3 dan Mg2+ oleh
Ca (OH)2 . Metode soda soda > soda kapur dikarenakan Ca 2+ diendapkan oleh
Na2CO3 dan Mg2+ oleh NaOH yang mempunyai konsentrasi lebih kuat
dibandingkan kapur sehingga dalam mengendapkan logamnya lebih baik.
Pelunakan sadah dengan menggunakan penukar ion alami penurunan sadahnya <
75% hal ini kemungkinan dikarenakan resin penukar ion pada tabung alir sudah
jenuh sehingga menambah kesadahan terhadap air uji dan harus diregenerasi ulang
menggunakan NaCl pekat.
Penukar ion buatan mampu menurunkan sadah hingga mencapai 94,18% karena
natrium yang tekandung didalamnya jauh lebih kuat sehingga lebih banyak Ca /
Mg yang berikatan dengan natrium tersebut.
IV.
-

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa :
Penurunan sadah metode pemanasan biasa : 16,27 %
Penurunan sadah metode sodak kapur
: 76,7 %
Penurunan sadah metode soda soda
: 88,37 %
Penurunan sadah metode penukar ion alami : 41,86 %
Penurunan sadah metode penukar ion buatan: 94,18 %
Standar penurunan sadah
: 75 %
Penurunan sadah paling baik dilakukan dengan metode penukar ion buatan
Penurunan sadah paling rendah dilakukan dengan metode pemanasan biasa tanpa
zat tambahan

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

55

DAFTAR PUSTAKA
1. Dr. Isminingsih G , S. Teks. , M.Sc., Diktat Transparant ZPT 2. Bandung: Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil
2.

. 2008. Seri Kuliah Air Proses untuk Industri


Tekstil: Pengolahan Limbah dan Produksi Tekstil. Bandung : Sekolah Tinggi

Teknologi Tekstil
3. Hariyanti Rahayu, dkk.. 2006. Bahan Ajar Air Proses dan Limbah Industri Tekstil.
Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil
4. Noerati K., S. Teks.,M.T., 2004. Diktat Praktikum Kualitas Air Proses Dan Air
5.

Limbah Industri Tekstil. Bandung: Sekolah Tinngi Teknologi Tekstil


. Penuntun Praktikum Zat Pembantu Tekstil
.Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.

Laporan Pengolahan Air Proses Tekstil

56