Anda di halaman 1dari 15

Dampak pendanaan melalui modal (equity financing)

Pendanaan dalam bentuk modal dilakukan oleh perusahaan melalui


penjualan kepemilikan saham biasa perusahaan tersebut, baik kepada
pemegang saham baru maupun pemegang saham yang sudah ada.
Contoh lain, seperti CV yang menjual bagian kemitraannya kepada
investor baru (atau menerima kontribusi modal baru dari kemitraan
yang sudah ada).
Pembiayaan modal juga ada dalam berbagai bentuk, seperti kontribusi
kepada modal-selalu dalam bentuk kas tetapi terkadang dalam bentuk
properti-oleh para mitra dalam persekutuan atau pemilik dari
perusahaan terbatas, bersama dengan penerbitan modal saham
(capital stock) oleh perusahaan. Untuk selanjutnya, selalu hanya
saham biasa yang diterbitkan. Pemilik saham biasa seringkali memiliki
kontrol suara (voting control) dari perusahaan, dan mereka mempunyai
keuntungan (dan kerugian) dari memiliki kepemilikan sisa (residual
ownership). Sebagai contoh, pembayaran kepada pemegang saham
biasa dilakukan hanya setelah semua permohonan pembiayaan
eksternal lain dibayarkan. Semua yuridiski membolehkan deviden
dibayarkan hanya di luar penerimaan bersih dan melalui kebijakan dari
manajemen.
Pemilik saham istimewa selalu tidak mempunyai hak suara (voting
right) tetapi mereka harus dibayar pada jumlah deviden tertentu yang
dihitung dengan bunga. Sekuritas hybrid (Hybrid Securities) adalah
beberapa kombinasi di atas, yang biasanya dalam bentuk utang yang
dapat dikonversi menjadi modal.
Dalam perencanaan strategis, manajer mencari struktur modal optimal
dalam jangka panjang. Perpaduan optimal dari utang dan modal untuk
organisasi tergantung dari tujuan perusahaan. Untuk organisasi
nirlaba, utang dapat dicegah untuk menjaminkelangsungan program
selama penurunan ekonomi, dimana dapat mengurangi kontribusi yang
tidak diharapkan. Sama halnya, seperti organisasi yang berorientasi
keuntungan, perpaduan utang atas modal yang dicari oleh manajemen
adalah satu yang memaksimalkan ekuitas pemilik. Ini adalah fungsi
dari risiko dan pegambilan yang diharapkan.
Untuk bentuk paling umum dari bisnis, perusahaan, tujuannya adalah
meningkatkan nilai pemegang saham. Jika saham perusahaan secara
public diperjualbelikan, teori keuangan saat ini seperti model harga
barang modal (Capital Asset Pricing Model) mengindikasikan bahwa
harga pasar yang mereka perdagangkan secara implisit diperhitungkan
atas kedua risiko dan pengembaliannya.

Dalam menambah pemilihan waktu, aspek nilai waktu dari keuntungan


pajak adalah penting dalam keputusan struktur modal. Untuk para
investor, pemilihan waktu pembayaran dapat direkayasa sehingga
pembayaran dilakukan dalam meminimalisasi pajak. Dividen dapat
dibayarkan ketika tariff pajak menurun, atau deviden terbatas dapat
dibayarkan, sehingga pengembalian saham dilakukan dalam rangka
pemberian penghargaan. Dengan demikian, pajak ditunda dan
kemudian ditransformasi ke dalam penghasilan dari keuntungan modal
yang dipajaki dengan tariff rendah.
Para investor bebas pajak dapat menginginkan distribusi saat ini,
seperti deviden, untuk menunda arus kas, seperti menunggu untuk
menjual saham, dihargai untuk mentransformasi penghasilan menjadi
keuntungan modal (capital gain). Mereka juga dapat mengabaikan
kepada bunga terhadap deviden. Jika perusahaan mengetahui bahwa
para kliennya dapat dibebaskan dari pajak, perusahaan dapat
menerbitkan utang atau ekuitas berdasarkan kebutuhannya, tanpa
memperhatikan status pajak dari investor.
Dari perspektif perusahaan, nilai utang saat ini dari arus kas pajak dari
utang melawan ekuitas adalah fungsi dari status pajak perusahaan dan
biaya modal (cost of capital) sebelum pajak. Dengan demikian, jika
pemegang saham perusahaan menginginkan untuk menerima nominal
deviden dalam pengembalian untuk saham yang dihargai, perusahaan
dapat secara dramatis meningkatkan nilai uang saat ini dari saham
untuk membiayai pembayaran deviden hanya setelah jangka waktu
tertentu.
Dengan menerbitkan saham atau sekuritas yang dapat dikonversi ke
ekuitas, perusahaan dapat mengaktifkan baik mereka sendiri atau para
investor mereka untuk mengubah penghasilan sesungguhnya (ordinary
income) menjadi keuntungan modal (capital gain) atau penghasilan
kena pajak menjadi penghasilan tidak kena pajak.

Penerbitan saham mengisyaratkan adanya pengembalian yang diharapkan


oleh pemodal. Terkait dengan unsur pajak dalam dividen, Miller dan Scholes
(1978) dalam Fama dan French (1997), beranggapan bahwa kebijakan
atas pembayaran dividen yang tinggi akan memindahkan harga saham karena
dividen dikenakan pajak yang tinggi daripada keuntungan modal (Brennan 1970
dalam Fama dan French 1997). Bagi perusahaan yang membagikan dividen,
apapun bentuknya (dividen tunai dan dividen saham), bukan merupakan
pengurang beban pajak perusahaan. Pengembalian yang diharapkan investor
tidak hanya berupa dividen saja melainkan juga keuntungan modal. Pajak atas

keuntungan modal dapat ditunda hingga penjualan saham yang sesungguhnya


(ketika direalisasi).

Selain itu, dengan menjual saham untuk merealisir keuntungan modal,


pemodal membayar biaya transaksi tertentu dan (seharusnya) membayar pajak.
Tetapi dengan menerima dividen (tidak perlu membayar biaya transaksi), pemodal
justru hanya membayar pajak. Hal ini dapat menyebabkan pajak atas keuntungan
modallebih kecil dari dividen (Husnan dan Pudjiastuti, 2004).

Terdapat dua sumber pendanaan eksternal yaitu investor ekuitas (disebut


juga pemilik atau pemegang saham) dan kreditor (pemberi pinjaman). Investor
ekuitas merupakan sumber utama pendanaan. Investor menyediakan pendanaan
dengan harapan untuk mendapatkan pengembalian atas investasi mereka. Setelah
mempertimbangkan pengembalian yang diharapkan (expected return) dan resiko
pengembalian adalah bagian investor ekuitas atas laba perusahaan dalam bentuk
distribusi laba atau reinvestasi laba. Distribusi laba adalah pembayaran dividen
kepada pemegang saham. Dividen dapat dibayar langsung dalam bentuk tunai atau
deviden saham, atau secara tidak langsung melalui pembelian kembali saham.

Pembayaran dividen mengacu pada proporsi laba yang didistribusikan,


yang sering dinyatakan dalam ratio atau presentase yaitu ratio, pembayaran
dividen reinvestasi laba atau laba ditahan mengacu pada penahanan laba dalam
perusahaan untuk digunakan dalam bisinis perusahaan : yang disebut pula
pendanaan internal. Reinvestasi laba sering diukur dengan ratio penahanan.
Reinvestasi laba juga diukur dengan pertumbuhan ekuitas. Earning retention ratio.
(Sering diukur dengan rasio penahanan/rasio laba di tahan= 1dividen payout rasio)

Investor memberikan pendanaan dengan harapan mendapatkan


pengembalian atas investasi mereka, setelah mempertimbangkan pengembalian
yang di harapkan dan resiko.

Dilihat dari bentuk dividen yang dibagikan kepada pemegang saham, dividen
dibedakan menjadi:
1.

Dividen tunai (Cash Dividend), yaitu dividen yang dibagikan kepada

pemegang saham dalam bentuk uang tunai (kas).


2.

Dividen Skrip (Script Dividend), yaitu dividen yang dibagikan kepada

pemegang saham dalam bentuk skrip (surat tanda hutang).


3.

Dividen saham (Stock Dividend), yaitu dividen yang dibagikan dalam

bentuk modal saham perusahaan tersebut.


4.

Dividen Barang (Property Dividend), yaitu dividen yang dibagikan tidak

berupa uang tunai atau modal saham tetapi dalam bentuk barang (aktiva tetap)
atau investasi (surat-surat berharga).
5.

Dividen Likuidasi (Liquidation Dividend), yaitu dividen yang dibagikan

sebagai akibat dilikuditaskannya perusahaan. dividen ini dibagikan dengan tujuan


pengembalian modal penyertaan kepada para pemegang saham. Dividen yang
dibagikan adalah selisih antara nilai realisasi aset perusahaan dikurangi dengan
semua kewajibannya.
Ada 3 macam tanggal yang relevan dengan dividen yaitu, tanggal pengumuman
yaitu tanggal direksi mengumumkan akan membagikan dividen, tanggal
pencatatan yaitu tanggal registrasi para pemegang saham, dan tanggal pembayaran
yaitu tanggal pembayaran dividen.
c. Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen merupakan hal yang penting bagi perusahaan karena
mempengaruhi kesempatan investasi, harga saham, struktur finansial, arus

pendanaan dan posisi likuiditas. Menurut Intan (2009 : 21) kebijakan dividen
(dividend policy) adalah keputusan pihak manajemen untuk menentukan
perlakuan terhadap earning after tax(EAT), apakah dibagikan sebagai dividen,
diinvestasikan kembali, atau sebagian dividen, sebagian lagi diinvestasikan
kembali ke dalam perusahaan. Pengalokasian laba yang tepat, sangat penting
bagi suatu perusahaan sehingga pertumbuhan perusahaan (rate of growth) dan
kesejahteraan para pemegang saham dapat terjamin. Aspek utama dalam
kebijakan dividen adalah penentuan alokasi laba (earning) sebagai dividen atau
laba ditahan (retained earning). Menurut Purwanti (2009: 2) dividen merupakan
bagian dari laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa dalam bentuk
tunai. Dan laba ditahan adalah bagian dari laba yang tersedia bagi para pemegang
saham biasa yang ditahan oleh perusahaan untuk diinvestasikan kembali
(reinvestment) dengan tujuan untuk mengejar pertumbuhan perusahaan (rate of
growth). Laba sebaiknya tidak dibagikan seluruhnya sebagai dividen, sebagian
harus disisihkan atau ditahan.

d. Teori Kebijakan dividen

Dalam dunia keuangan, pada dasarnya terdapat 3 konsep tentang kebijakan


dividen, yaitu: irrelevance theory, bird in the hand theory, dan tax preference
theory.
a. Irrelevance theory
Irrelevance theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa kebijakan dividen
tidak mempunyai pengaruh baik terhadap nilai perusahaan maupun terhadap biaya
modalnya. Menurut teori ini, kebijakan dividen tidak mempengaruhi harga saham
ataupun cost of capital perusahaan. Oleh karena itu, kebijakan dividen menjadi
tidak relevan (irrelevant). Teori ini dikembangkan oleh Miller dan Modigliani
(1961), yang menyatakan bahwa nilai perusahaan hanya ditentukan oleh expected
earnings dan risiko perusahaan. Nilai perusahaan hanya tergantung pada laba

yang diekspektasikan dari aktiva, bukan dari pemisahan laba menjadi dividen dan
laba ditahan. Teori ini menganggap bahwa kebijakan dividen tidak membawa
dampak apa-apa bagi nilai perusahaan. Jadi, peningkatan atau penurunan dividen
oleh perusahaan tidak akan mempengaruhi nilai perusahaan.

b. Bird in the hand theory


Teori dari Lintner (1962), Gordon (1963), dan Bhattacharya (1979) menjelaskan
bahwa investor menyukai pendapatan dividen yang tinggi karena pendapatan
dividen yang diterima seperti burung di tangan (bird in the hand) yang
mempunyai nilai yang lebih tinggi dan risiko yang kecil daripada pendapatan
modal (bird in the bush) karena dividen lebih pasti dari pendapatan modal. Teori
ini juga berpendapat bahwa investor menyukai dividen karena kas di tangan lebih
bernilai daripada kekayaan dalam bentuk lain. Konsekuensinya, harga saham
perusahaan akan sangat ditentukan oleh besarnya dividen yang dibagikan.
Peningkatan dividen akan meningkatkan harga saham yang akan berdampak pula
pada nilai perusahaan.

c. Tax preference theory


Teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy. Mereka berpendapat bahwa
karena adanya pajak, maka pendapatan yang relevan adalah pendapatan setelah
pajak. Teori ini merujuk kepada pengenaan pajak yang diberlakukan bagi setiap
investor yang mendapat capital gain atau dividen. Pada umumnya besarnya pajak
yang diberlakukan berbeda, dimana pajak untuk dividen lebih besar dibandingkan
pajak untuk capital gain. Para investor lebih menyukai capital gain karena dapat
menunda pembayaran pajak. Sudah tentu present value (PV) pembayaran
pajaknya akan turun. Dengan dua alasan ini (pajak lebih rendah serta dapat
ditundakan) maka Litzenberger dan Ramaswamy menyatakan pandangan negatif
dividen bagi nilai (value) perusahaan.

Meskipun tiga konsep tersebut dianggap sebagai teori-teori utama mengenai


kebijakan dividen, perkembangan ilmu keuangan modern memunculkan
pendekatan baru yang lebih relevan dan lebih mampu menjelaskan kebijakan
dividen dalam dunia bisnis praktis, yaitu:
a. Signalling theory
Signalling theory is based on the assumption that information is not equally
available to all parties at same time, and that information asymmetry is the rule.
Information asymmetries can result in very low valuations or a suboptimum
investment policy. Signalling theory states that corporate financial decisions are
signals sent by the companys managers o investors in order to shake up these
asymmetries. These signals are the cornerstone of financial communications
policy.
(www.vernimmen.com/html/glossary/gl_s.html)
Ada kecenderungan harga saham akan naik jika ada pengumuman kenaikan
dividen dan harga saham akan turun jika ada pengumuman penurunan dividen.
Tetapi ada argumen lain yang lebih masuk akal yaitu dividen itu sendiri tidak
menyebabkan kenaikan/penurunan harga, tetapi prospek perusahaan yang
ditunjukkan oleh meningkat/menurunnya dividen yang dibayarkan, yang
menyebabkan perubahan harga saham. Teori tersebut kemudian dikenal sebagai
teori signal atau isi informasi dari dividen (Information Content of Dividend).
Menurut teori tersebut, dividen mempunyai kandungan informasi, yaitu prospek
perusahaan di masa mendatang. Prinsip signalling ini mengajarkan bahwa setiap
tindakan mengandung informasi. Hal ini disebabkan karena adanya asymmetric
information. Asymmetric information adalah kondisi dimana suatu pihak memiliki
informasi yang lebih banyak daripada pihak lain. Misalnya, pihak manajemen
perusahaan memiliki informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan pihak
investor di pasar modal.

b. Teori Dividen Residual (Residual Theory of Dividends)


Menurut teori dividen residual, perusahaan menetapkan kebijakan dividen setelah
semua investasi yang menguntungkan habis dibiayai. Dengan kata lain, dividen

yang dibayarkan merupakan sisa (residual) setelah semua usulan investasi yang
menguntungkan habis dibiayai.

1.

2.

3.

4.

5.

Dividen yang dibagikan oleh perusahaan bisa mempunyai beberapa bentuk


sebagai berikut :
Dividen Kas
Dividen yang paling umum dibagikan oleh PT adalah dividen kas. Yang perlu
diperhatikan oleh pimpinan perusahaan sebelum membuat pengumuman adanya
dividen kas ialah apakah jumlah uang yang ada mencukupi untuk pembagian
dividen tersebut.
Dividen Aktiva Selain Kas ( Property Dividends )
Aktiva yang dibagikan bisa berbentuk surat-surat berharga perusahaan lain yang
dimiliki oleh PT, barang dagangan atau aktiva-aktiva lain. Pemegang saham akan
mencatat dividen yang diterimanya ini sebesar harga pasar aktiva tersebut
Dividen Utang ( Scrip Dividends )
Dividen utang timbul apabila laba tidak dibagi itu saldonya mencukupi untuk
pembagian dividen, tetapi saldo kas yang ada tidak cukup. Sehingga pimpinan PT
akan mengeluarkan scrip dividends yaitu janji tertulis untuk membayar jumlah
tertentu di waktu yang akan datang.
Dividen Likuidasi
Dividen likuidasi adalah dividen yang sebagian merupakan pembagian modal.
Apabila perusahaan membagi dividen likuidasi, maka para pemegang saham harus
diberitahu mengenai berapa jumlah pembagian laba dan berapa yang merupakan
pengembalian modal, sehingga para pemegang saham bisa mengurangi rekening
investasinya.
Dividen Saham
Dividen saham adalah pembagian tambahan saham, tanpa dipungut pembayaran
kepada para pemegang saham, sebanding dengan saham-saham yang dimilikinya.
2.2 Kebijakan Deviden
Kebijakan deviden merupakan bagian yang tidak dapat dipisahan
dengan keputusan pendanaan perusahaan. Secara definisi, kebijakan deviden
adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan
dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk deviden atau akan ditahan untuk
menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Ada

1.

2.

1.

2.

3.

beberapa pendapat tentang pengambilan keputusan atau kebijakan deviden, antara


lain sebagai berikut :
Pendapat tentang ketidakrelevanan deviden (irrelevant theory)
Pendapat ini dikemukakan oleh Modigliani dan Miller, yang memberikan
argumentasi bahwa pembagian laba dalam bentuk deviden tidak relevan dengan
peningkatan kemakmuran atau kekayaan pemegang saham. Karena deviden pay
out ratio hanya merupakan bagian kecil dari keputusan pendanaan perusahaan,
nilai perusahaan ditentukan tersendiri oleh kemampuan aktiva perusahaan untuk
menghasilkan laba atau kebijakan investasi.
Pendapat tentang relevansi deviden (relevant theory)
Deviden adalah relevan untuk kondisi yang tidak pasti, investor dapat dipengaruhi
oleh kebijakan deviden.
Selain itu ada teori tentang kebijakan deviden yang dikemukakan oleh
Brigham (1989), beliau menyatakan bahwa dalam kebijakan deviden terdapat 3
teori :
Deviden irrelevance theory,
Teori ini menyatakan bahwa kebijakan dividen perusahaan tidak merupakan
pengaruh terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya. Pendukung utama
teori ketidakrelevanan dividen (dividends irrelevance theory) ini adalah Merton
Miller dan Franco Modigliani (2001). Mereka berpendapat bahwa nilai suatu
perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan dasarnya untuk menghasilkan laba
dan risiko bisnisnya. Dengan kata lain, nilai perusahaan tergantung hanya pada
pendapatan yang dihasilkan oleh aktivanya, bukan pada bagaimana pendapatan
tersebut dibagi antara dividen dan laba yang ditahan. Keon et. al (2000)
menyatakan bahwa pada teori ketidakrelevanan dividen, tak ada hubungan antara
kebijakan dividen dan nilai saham. Satu kebijakan dividen sama bagusnya dengan
lainnya. Secara agregat investor hanya mementingkan pengembalian total
keputusan investasi, tak peduli apakah pengembalian berasal dari perolehan modal
atau pendapatan dividen.
Teori Bird in The Hand
Kebanyakan pemilik saham lebih menyukai pembayaran dividen saat ini daripada
menundanya untuk direalisir dalam bentuk capital gain nanti. Tarif pajak untuk
capital gain memang sering lebih rendah daripada untuk dividen, namun para
pemilik saham banyak yang lebih menyukai dividen saat ini, karena dengan
pembayaran dividen sekarang maka penerimaan uang tersebut sudah pasti,
sedangkan apabila ditunda ada kemungkinan bahwa apa yang diharapkan meleset.
Teori ini dianut oleh Myron Bordon dan John Lintner (Husnan, 1993).
Tax preference theory
Suatu teori yang menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap deviden dan
capital gains maka para investor lebih menyukai capital gains karena dapat
menunda pembayaran pajak dengan alasan :

a) Keuntungan modal dikenakan tarif pajak yang lebih rendah daripada untuk
pembagian dividen, karena itu investor yang kaya mungkin lebih suka perusahaan
menahan dan menanamkan kembali laba di dalam perusahaan.
b) Pajak atas keuntungan tidak dibayarkan sampai saham terjual, karena adanya
nilai efek waktu, satu dolar pajak yang dibayarkan di masa mendatang
mempunyai biaya efektif yang lebih rendah daripada satu dolar yang dibayarkan
hari ini.
c) Jika selembar saham dimiliki oleh seseorang sampai ia meninggal, sama sekali
tidak ada pajak keuntungan modal yang terutang, ahli waris dapat terhindar dari
pajak keuntungan modal.
Berdasarkan ketiga konsep teori tersebut, perusahaan dapat melakukan hal-hal
sebagai berikut :

Jika manajemen percaya bahwa deviden irrelevence theori dari


modigliani dan Miller ( M-M) itu benar maka perusahaan tidak perlu
memperhatikan besarnya deviden yang harus dibagikan.

Jika perusahaan menganut Bird In The Hand Theory, maka


perusahaan harus membagi selurus EAT ( Earning After Tax ), dalam bentuk
deviden.

Sedangkan jika perusahaan lebih cenderung mempercayai Tax


Preference Theory , maka perusahaan harus menahan seluruh keuntungan.
Selain pendapat tentang kebijakan deviden ada beberapa factor-faktor yang
memepengaruhi kebijakan deviden. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan
deviden adalah sebagai berikut
1. Kebutuhan dana bagi perusahaan
Semakin besar kebutuhan dana perusahaan berarti semakin kecil kemampuan
untuk membayar deviden. Penghasilan perusahaan akan digunakan terlebih dahulu
untuk memenuhi kebutuhan dananya (semua proyek investasi yang
menguntungkan) baru sisanya untuk pembayaran deviden.
2. Likuiditas perusahaan
Likuiditas perusahaan merupakan salah satu pertimbangan utama dalam kebijakan
deviden. Karena deviden merupakan arus kas keluar, maka semakin besar jumlah
kas yang tersedia dan likuiditas perusahaan, semakin besar pula kemampuan
perusahaan untuk membayar deviden. Apabila manajemen ingin memelihara
likuiditas dalam mengantisipasi adanya ketidakpastian dan agar mempunyai
fleksibilitas keuangan, kemungkinan perusahaan tidak akan membayar deviden
dalam jumlah yang besar.
3. Kemampuan untuk meminjam
Apabila perusahaan mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mendapatkan
pinjaman, hal ini juga merupakan fleksibilitas keuangan yang tinggi sehingga
kemampuan untuk membayar dividen juga tinggi. Jika perusahaan memerlukan

pendanaan melalui hutang, manajemen tidak perlu mengkhawatirkan pengaruh


dividen kas terhadap likuiditas perusahaan.
4. Pembatasan dalam perjanjian hutang
Pembatasan digunakan oleh para kreditur untuk menjaga kemampuan perusahaan
tersebut membayar hutangnya.
5. Pengendalian Perusahaan
Apabila suatu perusahaan membayar deviden yang sangat besar, maka perusahaan
mungkin menaikkan modal di waktu yang akan datang melalui penjualan
sahamnya untuk membiayai kesempatan investasi yang menguntungkan. Dengan
bertambahnya jumlah saham yang beredar, ada kemungkinan kelompok
pemegang saham tertentu tidak lagi dapat mengendalikan perusahaan karena
jumlah saham yang mereka kuasai menjadi berkurang dari seluruh jumlah saham
yang beredar.
2.3 Alternatif Pembayaran Deviden
Perusahaan harus memutuskan berapa besarnya keuntungan yang ditahan
dan berapa besarnya yang akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai
dividen. Keputusan ini penting karena menyangkut tanggung jawab terhadap
pemegang saham yang telah menanamkan dananya dan juga terhadap
pertumbuhan perusahaan.
Ada tiga macam alternatif pembayaran dividen:
a. Divident pay out yang konstan.
Divident pay out yang konstan merupakan penetapan pembagian rasio yang tetap
terhadap keuntungan yang didapat perusahaan. Berapapun keuntungan yang
diperoleh persentase keuntungan yang dibagikan selalu sama. Sebagai akibat
maka jumlah uang yang dibayarkan akan berbeda tergantung pada keuntungan
yang diperoleh.
b. Jumlah yang stabil.
Kebijakan ini akan menyebabkan perusahaan membayarkan jumlah yang tetap
untuk beberapa periode. Pembayaran ini akan dinaikan apabila perusahaan merasa
yakin bahwa kenaikan itu dapat dipertahankan untuk periode selanjutnya.
Perusahaan juga tidak akan melakukan penurunan dividen sampai benar-benar
terbukti bahwa perusahaan tidak sanggup lagi membayarkan.
c. Jumlah yang kecil ditambah dividen ekstra.
Perusahaan membayarkan dividen dalam jumlah yang kecil dan apabila ada
keuntungan yang melonjak maka pada akhir periode perusahaan menambahkan
dividen extra. Tujuan manajemen melakukan hal ini adalah untuk menghindari
konotasi dividen permanen.
2.4 Pertimbangan dalam menentukan deviden pay out ratio
Dividend payout ratio adalah persentase dari pendapatan yang akan
dibayarkan kepada pemegang saham sebagai cash dividend. Dividend

payout
ratio merupakan
perbandingan
antara dividend
per
share dengan earning per share pada periode yang bersangkutan Di dalam
komponen dividend per share terkandung unsur dividen, sehingga jika
semakin besar. dividend yang dibagikan maka semakin besar pula dividend
payout rationya. Pembagian dividen yang besar bukanya tidak diinginkan oleh
investor, tetapi jikadividend payout ratio lebih besar dari 25% dikuatirkan
akan terjadi kesulitan likuiditas keuangan perusahaan dimasa yang akan datang.
Banyak perusahaan berusaha untuk mempertahankan dividend payout
ratio, pendapatan yang diinginkan untuk suatu periode yang panjang, artinya
terdapat target dividend payout ratio untuk jangka panjang atau mempertahankan
pendapatan. Hasilnya, dividen biasanya dipertahankan pada jumlah konstan dan
dinaikkan hanya jika manajer yakin bahwa relatif mudah untuk mempertahankan
kenaikan pembayaran tersebut di masa depan.
Dalam pembayaran dividen oleh emiten, maka emitan selalu akan
mengumumkan secara resmi jadwal pelaksanaan pembayaran deviden. Tanggaltanggal yang perlu diperhatikan dalam pembayaran dividen adalah sebagai berikut
:

Tanggal Pengumuman (Declaration Date)


Yaitu tanggal pada saat direksi perusahaan mengeluarkan pernyataan berisi
pengumuman pembagian divisi.

Tanggal Cum Dividen (Cum Dividend Date)


Merupakan tanggal hari terakhir perdagangan saham yang masih melekat hak
untuk mendapatkan dividen baik dividen tunai maupun dividen saham.

Tanggal Pencatatan Dalam Daftar Pemegang Saham (Date of


Record)
Tanggal dimana seorang investor harus terdaftar sebagai pemegang saham
perusahaan publik atau emiten sehingga ia mempunyai hak yang diperuntukkan
bagi pemegang saham.

Tanggal ex. Dividen (Ex. Dividend Date)


Tanggal pada saat hak atas dividen periode berjalan tidak lagi menyertai saham
tersebut, jangka waktunya adalah 4 hari kerja sebelum tanggal pencatatan
pemegang saham.

Tanggal Pembayaran (Payment Date)


Tanggal dimana pemegang saham dapat mengambil dividen sesuai dengan dividen
yang diumumkan oleh emiten.
Ada beberapa faktor-faktor yang memepengaruhi kebijakan devident
payout rasio(DPR). pada perusahaan manufaktur yang telah go public. .
Yaitu arus kas, profitabilitas, growt ( pertumbuhan perusahaan )
dan size ( ukuran perusahaan ).
1.
Arus Kas

Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas. Kas yang
dimaksud terdiri dari saldo kas dan rekening giro. Dengan demikian laporan arus
kas merupakan catatan yang melaporkan sumber- sumber utama penerimaan kas
perusahaan serta penggunaan (pengeluaran) utama pembayaran kasnya untuk satu
periode. Laporan arus kas harus disusun perusahaan sesuai persyaratan dalam
pernyataan dan harus menyajikan laporan tersebut sebagai bagian yang tidak
terpisahkan (integral) dari laporan keuangan setiap dalam pernyataan dan harus
menyajikan laporan tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari
laporan keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan.
Pada dasarnya perusahaan memerlukan kas dengan alasan yang sama meskipun
terdapat perbedaan dalam aktivitas penghasil pendapatan utama (revenue
producing activities). Perusahaan membutuhkan kas untuk melaksanakan
usaha, melunasi kewajiban dan untuk membagikan deviden kepada para investor.
Hubungan Arus Kas Terhadap Deviden Payout Ratio.
CP adalah cash position atau posisi kas yang merupakan rasio kas akhir tahun
dengan earning after tax. Bagi emiten yang memiliki posisi kas yang semakin
kuat akan semakin besar kemampuannya untuk membayar deviden. Faktor ini
merupakan faktor internal yang dapat dikendalikan oleh manajemen sehingga
pengaruhnya dapat dirasakan secara langsung bagi kebijakan deviden. Deviden
merupakan cash out flow dengan demikian makin kuatnya posisi kas perusahaan
akan makin besar kemampuannya untuk membayar deviden.
Arus kas adalah pergerakan ataupun aliran kas atau yang setara dengan kas, baik
aliran kas masuk maupun aliran kas keluar dari suatu perusahaan dan mencakup
transaksi kas yang dimasukan dalam penentuan laba bersih (Manurung, 1998).
Laporan arus kas dinilai banyak memberikan informasi tentang kemampuan
emiten dalam mendapatkan laba dan likuiditas dimasa yang akan datang. Laporan
aruskas memberikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran
kas dari suatu emiten pada suatu periode tertentu, dengan mengklasifikasikan
transaksi berdasarkan pada kegiatan operasi pembiayaan dan investasi.
PSAK No. 2 menyatakan bahwa tujuan arus kas adalah memberikan informasi
tentang arus kas suatu emiten berguna bagi para pemakai laporan keuangan
sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan
setara kas dan menilai kebutuhan emiten untuk menggunakan arus kas tersebut.
Sri Sudarsih (2002) menyatakan bahwa arus kas mempunyai pengaruh positif
yang signifikan terhadap Deviden Payout Ratio.
Ha1
: Arus
kas mempunyai
pengaruh
positif
yang
signifikan
terhadap Deviden Payout Ratio.
2.
Profitabilitas
Profitabilitas adalah tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih oleh
perusahaan pada saat menjalankan operasinya. Profitabilitas mencerminkan
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas pengelolaan asset

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

perusahaan yang merupakan perbandingan antara earning after tax dengan


Total assets. profitabilitas dapat digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan
didalam menghasilkan profit untuk setiap assets yang ditanam.
Hubungan Profitabilitas Terhadap Deviden Payout Ratio.
Profitabilitas mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
atas pengelolaan asset perusahaan yang merupakan perbandingan antara earning
after taxdengan Total Assets. Profitabilitas adalah tingkat keuntungan bersih
yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan operasinya. Faktor ini
juga memiliki pengaruh terhadap kebijakan deviden. Deviden adalah laba bersih
yang diperoleh perusahaan, oleh karena itu deviden akan dibagikan apabila
perusahaan memperoleh keuntungan. Keuntungan yang layak dibagikan kepada
pemegang saham adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi kewajiban kewajiban tetapnya yaitu bunga dan pajak. Oleh karena itu deviden yang
diambilkan dari keuntungan bersih akan mempenengaruhi deviden payout
ratio. Perusahaan yang semakin besarkeuntungannya akan membayar porsi
pendapatan yang semakin besar sebagai deviden. Dengan kata lain semakin besar
keuntungannya yang diperoleh maka akan semakin besar kemampuannya bagi
perusahaan untuk membayar deviden.
Laba adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam
bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang
mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman
modal.
Tujuan utama pelaporan laba adalah untuk memberikan informasi yang berguna
bagi mereka yang berkepentingan dengan.
laporan keuangan. Tujuan yang lebih khusus meliputi penggunaan laba sebagai
pengukuran efisiensi manajemen, penggunaan angka, laba historis untuk
membantu meramalkan keadaan sebagai pengukuran keberhasilan serta pedoman
pengambilan keputusan manajerial di masa yang akan datang.
Informasi tentang laba perusahaan dapat digunakan antara lain, sebagai berikut :
Indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang
diwujudkan dalam tingkat kembalian.
Pengukur prestasi manajemen
Dasar penentuan besarnya pengenaan pajak
Alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomi suatu negara
Dasar kompensasi dan pembagian bonus
Alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan
Dasar kenaikan kemakmuran
Dasar pembagian dividen
Salah satu konsep perilaku adalah kemampuan ramal. Laba bersih selama periode
berguna untuk meramalkan laba operasi perusahaan yang akan datang, jika faktor-

faktor lainnya ikut dipertimbangkan para investor mungkin tertarik dalam


meramalkan laba atau dividen.
Fisher dan Bedford (Anis Chairiri dan Imam Ghozali, 2001) menyatakan bahwa
pada dasarnya ada 3 konsep laba yang umumdibicarakan dan digunakan dalam
ekonomi. Konsep laba tersebut ialah :
1. Pysical Income, yang menunjukkan konsumsi barang atau jasa yang dapat
memenuhi kepuasan dan keinginan individu.
2. Real Time, yang menunjukkan kenaikkan dalam kemakmuran ekonomi yang
ditunjukkan oleh kenaikan cost of living.
3. Money Income, yang menunjukkan kenaikan nilai moneter sumber ekonomi
yang digunakan untuk konsumsi dengan biaya hidup (cost of living)
Laba terutama dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : harga jual produk, biaya dan
volume penjualan. Biaya menentukan harga jual untuk mencapai tingkat laba yang
dikehendaki, harga jual mempengaruhi volume penjualan, sedangkan volume
penjualan langsung mempengaruhi volume produksi dan volume produksi
mempengaruhi biaya. Tiga faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain
(Mulyadi, 1993:223).
Pembayaran dividen sangat bergantung pada laba yang diperoleh perusahaan.
Dividen dibayarkan kepada para pemegang saham atas daar laba yang dihasilkan
oleh perusahaan. Dengan kata lain, dividen hanya dapat dibayarkan kepada para
pemegang saham jika perusahaan memperoleh laba pada tahun yang
bersangkutan. Kepemilikan saham minoritas baru dapat mempengaruhi kebijakan
pembayaran dividen jika perusahaan tersebut memperoleh laba. Dengan demikian,
pengaruh dari kepemilikan saham minoritas sangat. bergantung dengan perolehan
laba perusahaan. Sutrisno (2000) menyatakan bahwa laba dan kepemilikan saham
merupakan determinan dividend payout ratio, namun hasil penelitiannya
menemukan bahwa laba dan kepemilikan saham yang diuji secara terpisah (bukan
interaksi) dengan menggunakan structural equation modeling menunjukkan hasil
yang tidak signifikan. Kepemilikan saham dapat mempengaurhi kebijakan
pembayaran dividend kontinjen terhadap laba yang diperoleh perusahaan. Oleh
karen aitu, interaksi antara laba yang dilaporkan dan kepemilikan saham minoritas
akan mempengaruhi dividend payout ratio.